Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts

Monday, March 23, 2015

Hasil Seminar Bersama Budi Faisal

Tulisan ini merupakan hasil corat-coret saya waktu masih di semester 3 (tiga). Sudah lama sekali sebenarnya (yakni tahun 2011), namun tak apalah. Itung-itung nambah jumlah postingan. Diambil waktu saya mengikuti seminar di kampus yang menghadirkan Budi Faisal sebagai pemateri. Budi Faisal sendiri merupakan seorang arsitek sekaligus dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Tema yang dibahas waktu itu adalah tentang Green Architecture yang difokuskan pada bambu sebagai material bangunan. Aplikasinya dicontohkan pada rumah pribadi Budi Faisal sendiri.
Dan berikut coretan-coretan kecil saya waktu seminar dulu. Oh ya, gambar diambil dari sini ya!

Sekilas tentang Green Architecture
Seiring terus berkembangnya isu lingkungan, bidang arsitekturpun terus mencari cara untuk (setidaknya) mencegah dampak negatif bagi lingkungan yang diakibatkan oleh adanya pembangunan. Salah satu upaya dalam bidang arsitektur untuk mengurangi dampak negatif tersebut adalah dengan sebuah konsep yang dinamakan dengan green architecture.
Green architecture sendiri (dikutip dari buku Arsitektur & Lingkungan oleh Dr. Sri Handayani, M.Pd.) adalah sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih sehat, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya secara optimal dan efisien. Green Architecture merupakan perwujudan dari arsitektur berkelanjutan yang menjadi jawaban atas eksistensi ekosistem dimuka bumi ini. Dengan kata lain, penerapan konsep Green Architecture memberi peluang besar terhadap keberlangsungan hidup manusia dan ekosistem lainnya secara berkelanjutan. Aplikasi dari konsep ini akan menciptakan suatu bentuk arsistektur yang berkelanjutan.
Ada berbagai macam cara untuk mewujudkan konsep Green Architecture pada sebuah bangunan. Salah satunya adalah material. Dan bambu merupakan salah satu material yang masuk kategori dalam konsep Green Architecture. Seiring bertambahnya zaman dan berkembangnya ilmu pengetahuan, bambu kini sudah bukan menjadi barang aneh untuk dijadikan material bangunan.

Bambu
Bambu merupakan sejenis rumput yang tumbuh ditempat yang beriklim tropis seperti Indonesia.  Bambu mempunyai karakteristik yang unik sebagai bahan bangunan, diantaranya:
1)      Sustainable
Bambu merupakan tumbuhan yang mudah tumbuh, kalaupun bambu ditebang selama akarnya masih ada bambu akan tetap bisa tumbuh. Berbeda dengan pohon yang menghasilkan kayu, pohon-pohon tersebut memerlukan waktu yang relatif lama untuk tumbuh dibanding bambu.
2)      Kuat
Bambu sebagai bahan material bangunan juga punya keungulan yang lebih dibanding material lain, seperti baja misalnya. Karena ternyata bambu mempunyai kuat tekan yang lebih kuat dibanding baja.


 Selain memiliki karakter yang unik, bambu juga punya kelebihan yang tidak dimiliki material lain, antara lain:
-    Meresap air sampai 240%. Artinya hutan bambu ternyata mampu menyerap air 240% lebih banyak dibanding hutan pinus. Ini bisa dijadikan alternatif buat hutan-hutan Indonesia yang perlahan-lahan semakin hilang.
-    Menjaga erosi dan kelembapan tanah. Hutan bambu juga bisa menjadi pencegah terjadinya pengikisan tanah oleh air dan menjaga kelembababan tanah sehingga tanah tetap stabil.
-    Menyerap Co2 4x lebih baik. Hutan bambu juga mempu menyerap karbon dioksida 4x lebih baik dibanding hutan-hutan lainnya, ini sangat berguna ditengah maraknya isu global warming yang menjadi perbicangan dunia saat ini.
-     Menghasilkan O2 35% lebih baik. Selain mampu menyerap karbondioksida yang baik, hutan bambu juga mampu menghasilkan oksigen yang baik, bahkan 35% lebih baik dibanding hutan lainnya.
      Dan diantara kelebihannya, ternyata bambu juga punya kelemahan. Maka dari itu, maintenance merupakan aspek yang harus diperhatikan ketika menjadikan bambu sebagai material bangunan, baik sebelum maupun sesudah digunakan. Beberapa kelemahan dari bambu tersebut yaitu:
-   Rentan terhadap jamur, bubuk bambu dan serangga
-   Tidak mudah kering
-   Mudah pecah

Budi Faisal’s House
Budi Faisal’s house adalah tempat tinggal arsitek Budi Faisal hasil rancangannya yang memiliki konsep green architecture dengan bambu sebagai komponen utama material bangunan tersebut.
Menurut Budi Faisal tempat tinggalnya ini memiliki 3 konsep yang ramah lingkungan, yaitu:
1)       Menghormati alam
Karena lahan yang akan dibuat rumah terdapat banyak pohon, maka agar pohon tersebut tetap ada tanpa harus ditebang, Budi Faisal membagi bangunan rumahnya menjadi dua bagian, ini dimaksudkan untuk menjaga pohon-pohon yang sudah ada sebelum rumah ini dibangun.
Menghormati alam juga bisa dilakukan dengan memaksimalkan view bangunan tersebut. Hal ini sangat diperhatikan oleh Budi Faisal, sehingga rumahnya mempunyai view yang sangat terlihat eksotis.


2)      Mengeksplorasi bambu
Ada dua eksplorasi yang dilakukan Budi Faisal pada material bambu. Yaitu sebagai struktur dan sebagai ornament. Sebagai struktur, Budi Faisal menjadikan bambu sebagai komponen struktur utama rumah. Hal ini didasarkan pada keunggulan bambu yang kuat terhadap gaya tarik.
Sebagai ornament, Budi Faisal sangat memperhatikan segala keunikan bambu dan sanggup memanfaatkan keunikan tersebut. Hasilnya, Budi Faisal menyulap bambu menjadi ornament rumah yang tidak kalah indah dibanding ornament yang biasa digunakan pada rumah. Bahkan punya nilai estetika yang lebih dan kesan natural yang kental.


3)      Daur ulang barang bekas
Budi Faisal memanfaaatkan material bekas sebagai penunjang kebutuhan rumahnya. Dimana Budi Fasial menggunakan kayu bekas robohan bangunan Belanda, menggunakan kaca bekas dan sebagainya untuk melengkapi kebutuhan rumahnya. Ini juga sangat bermanfaat terutama untuk pengeluaran karena dengan barang bekas tidak perlu mengeluarkan pengeluaran yang terlalu besar.


Sunday, May 26, 2013

Aquatic Centre London

Kalau dilihat lagi, ternyata saya hanya pernah memposting satu tugas kuliah saja untuk blog ini. Jadi, untuk kali ini saya mau kembali mem-posting tugas dari mata kuliah yang berbeda (Bentang Lebar dan Media Pembelajaran).
Sebagaimana kebiasaan mahasiswa abal-abal (baca: saya), ngerjain tugasnya pasti pas deadline. Makanya (terkadang) hasilnya pun tidak maksimal (baca: seadanya). Gak tugas mandiri, gak tugas kelompok. Sama saja. Mungkin yang ini masuk kategori tersebut.
 Walaupun berasal dari mata kuliah yang berbeda, tapi saya buat tugas ini seakan sama (efek malas ngerjain). Benang merahnya sama yaitu tentang Aquatic Centre London. Sebuah bangunan karya Zaha Hadid yang dirancang untuk sebuah gelanggang olahraga dan dipakai pada perhelatan olimpiade London 2012 untuk cabang olahraga air (aquatic).
                                                      
Produk untuk tugas mata kuliah ‘Bentang Lebar’

 Bisa juga lihat Disini

Produk untuk tugas mata kuliah ‘Media Pembelajaran’

Monday, April 1, 2013

Ringkasan Buku Media Pengajaran

         Postingan kali ini merupakan hasil tugas saya pada mata kuliah Media Pembelajaran. Bentuk tugasnya merupakan rangkuman/ringkasanan buku yang isinya tentang media pembelajaran dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Buku yang saya pilih untuk dirangkum dalam tugas ini adalah sebuah buku berjudul Media Pengajaran karya Basuki Wibawa & Farida Mukti tahun 1992.
         Yang saya rangkum dari buku ini hanya bab 1 & 2 saja, karena sisanya teman saya yang merangkumnya. Dan berikut tugas pertama mata kuliah ini yang langsung saya copy-paste dari word yang telah saya buat sebelumnya.

Deskripsi Buku
Judul Buku   : Media Pengajaran
Pengarang   : Basuki Wibawa & Farida Mukti
Tahun            : 1992

BAB I PENDAHULUAN
Pada dasarnya untuk bisa menggunakan media pembelajaran, seorang guru harus memahami latar belakang pemanfaatan media dalam proses pembelajaran. Dengan demikian seorang guru dapat memilih dan menggunakan media tersebut untuk membantu proses pembelajaran.
Keberhasilan kegiatan belajar siswa dapat dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
1.          Verbalisme
Hal ini terjadi apabila guru terlalu banyak menggunakan kata-kata dalam isi pelajaran, memberikan contoh dan ilustrasi yang diperlukan. Situasi tersebut dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa, apabila penggunaan kata-kata tersebut masih asing di telinga siswa. Karena tidak semua siswa mempunyai tingkat kemahiran kosakata yang sama. Apabila guru kurang memahami keadaan seperti ini dan meneruskan menyajikan materi secara verbal maka siswa akan menjadi cepat bosan dengan materi tersebut. Situasi seperti ini dapat dicegah apabila guru terlebih dulu mempelajari keadaan siswa dan menggunakan media lain seperti gambar untuk menjelaskan ilustrasi yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata saja.
2.         Kekacauan makna
Kekacauan makna terjadi apabila siswa salah menafsirkan maksud dari sebuah meteri yang diajarkan seorang guru. Hal ini bisa jadi membuat proses pembelajaran sedikit terhambat. Kesulitan belajar bertambah besar bila siswa tersebut merupakan seorang yang pemalu dan tidak punya keberanian bertanya pada guru. Bila situasi ini terjadi maka makna yang keliru dari konsep akan terus terbawa dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu, pemanfaatan media ini dapat membantu guru dalam proses pembelajaran.
3.         Kegemaran berangan-angan
Didalam sebuah kelas kadang ada satu atau dua siswa yang tampak tenang memperhatikan pelajaran tapi kadang mereka suka hilang konsentrasi belajarnya, karena mereka mengangakan sesuatu hal. Hal ini juga mampu menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, media pembelajaran dapat berfungsi untuk memberi penyajian pelajaran dan menciptakan suasan belajar yang menarik.
4.        Persepsi yang kurang tepat
Proses pemahaman serta persepsi siswa yang kurang tepat terhadap sebuah objek pelajaran dapat dipengaruhi latar belakang pengalaman, pengetahuan dan tingkat kemahiran kosakata. Untuk mengatasi hal ini, pemanfaatan media sangat membantu. Karena media membpunyai kelebihan secara teknis, mampu menyajikan suatu peristiwa secara terpadu atau menyajikan konsep secara utuh dan benar.

Proses belajar-mengajar sebagai proses komunikasi
Proses belajar-mengajar bisa juga disebut proses komunikasi. Dan layaknya proses komunikasi, guru berperan sebagai sumber pesan, dan siswa berperan sebagai penerima pesan. Sebagai sumber pesan, guru perlu mengolah informasi supaya dapat diterima dengan baik oleh siswanya. Ia harus mengubah isi pesan yang bersumber dari kurikulum menjadi hal yang dapat dimengerti siswa berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan kebudayaan siswanya. Sebagai penerima pesan, siswa bertugas menafsirkan pesan pelajaran sesuai dengan yang dimaksud guru.
Pada prakteknya, komunikasi dalam pembelajaran ini tidak hanya berjalan hanya guru sebagai sumber pesan melainkan bisa sebaliknya. yaitu disaat siswa memberi tanggapan, menjawab pertanyaan dsb. Sehingga komunikasi ini terjadi dalam dua arah yang membuat aktivitas dikelas menjadi semakin variatif dan hal ini dapat membuat kualitas belajar menjadi semakin baik.
Dalam hal ini, media dapat membantu guru dalam menyampaikan pesannya. Media yang dirancang dengan baik dapat menentukan keberhasilan siswa dalam menangkap pesan yang disampaikan oleh seorang guru.

Pengertian media pengajaran
Mc Luhan, media adalah semua saluran pesan yang dapat digunakan sebagai saran komunikasi dari seseorang ke orang lain yang tidak ada dihadapannya. Meliputi surat, televisi, fil, dan telepon.
Romizowski, media adalah pembawa pesan yang berasal suatu sumber pesan kepada penerima pesan. Dalam proses belajar mengajar, sumber pesan adalah guru sedangkan penerima pesan adalah siswa. Siswa dirangsang oleh media untuk menggunakan inderanya untuk menerima informasi atau pesan. Pesan itu ialah isi pelajaran yang berasal dari kurikulum yang disampaikan guru kepada siswa. Pesan ini dapat bersifat rumit dan mungkin harus dirancang dengan cermat supaya dapat dikomunikasikan dengan baik kepada siswa.

Peran dan kegunaan media
Media dalam proses pembelajaran dapat digunakan dalam dua arah cara, yaitu sebagai alat bantu mengajar (dependent media) dan sebagai media belajar siswa yang dapat digunakan oleh siswa itu sendiri (independent media). Sebagai alat bantu, efektivitas media itu sangat tergantung pada cara dan kemampuan guru yang memakainya. Sedangkan untuk media yang dipakai oleh siswa dirancang, dikembangakan dan diproduksi secara sistematik serta dapat menentukan informasi secara terarah untuk mencapai tujuan instruksional tertentu.
Media dapat membantu guru memberikan informasi lebih baik:
1.         Media mampu memperlihatkan gerakan cepat yang sulit diamati dengan cermat oleh mata biasa.
2.       Media dapat memperbesar benda-benda kecil yang tak dapat dilihat oleh mata telanjang.
3.         Dapat mewakili objek yang besar yang tak  dapat dibawa ke dalam kelas.
4.        Objek yang terlalu kompleks dapat disajikan dengan model yang disederhanakan.
5.         Media dapat menyajikan suatu proses atau pengalaman hidup yang utuh.

BAB II PENGENALAN DIRI SISWA DAN EFEKTIVITAS MEDIA
Pemberian pengalaman belajar atau penyampaian pesan pengajaran dari sumber belajar kepada siswa seharusnya melalui media yang tepat. Agar media tersebut efektif penggunaannya dan dapat mengurangi distorsi informasi dari sumber ke penerima pesan. Namun media pengajaran yang efektif untuk kelompok A belum tentu efektif untuk kelompok B. Untuk itu, diperlukan upaya untuk mengenali karakteristik siswa yang menjadi sasaran program media akan sangat membantu pemilihan dan penggunaan media secara efektif.

Mengenal karakteristik siswa
Dalam kegiatan pembelajaran, media digunakan untuk membantu siswa mempelajarai objek, suara, proses, peristiwa atau lingkungan yang sulit dihadirkan ke dalam kelas. Dari hal itu siswa diharapkan mampu memperoleh persepsi yang tepat yang dapat berpengaruh terhadap pemahaman siswa.
Pemanfaatan media pengajaran dapat membantu guru maka pemilihannya harus memperhatikan:
1.          Kesesuaian media pengajaran dengan tujuan yang ingin dicapai
2.         Kesesuaian karakteristik media dengan karakteristik pelajaran
3.         Kecanggihan media pengajaran
4.         Kesesuaian media pengajaran dengan minat, kemampuan dan wawasan siswa
5.         Kesesuaian karakteristik media dengan latar belakang sosial budaya
6.         Kemudahan memperoleh dan menggunakan media pengajaran
7.         Kualitas teknis media pengajaran
Terkadang dalam pembelajaran terdapat perbedaan individual diantara siswa walaupun terdapat kesamaan kebutuhan antara siswa dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut antara lain dalam hal:
1.          Kemampuan awal dan wawasannya
2.         Kebiasaan belajar
3.         Kedewasaan
4.         Kondisi fisik
5.         Latar belakang sosial budaya
6.         Faktor akademik
7.         Kondisi belajar siswa
Dalam kelas terdapat beberapa karakter siswa dalam proses pembelajaran, misalnya ada siswa yang lebih mudah belajar sendiri maka ia akan lebih mudah belajar menggunakan modul sedangkan siswa yang yang lebih suka belajar kelompk dapat disediakan simulator atau permainan. Mengenal kebiasaan siswa akan sangat membantu dalam memanfaatkan media dengan tepat. Pemanfaatan media akan berkurang efektivitasnya bila kondisi fisik siswa tidak mendukung. Misalnya gizi, mobilitas siswa dsb. Siswa yang mengalami hambatan fisik aka mengalami kesulitan belajar. Begitu pula siswa yang mudah gelisah dan terganggu konsentrasinya. Pada dasarnya, siswa-siswa semcam itu hanya perlu lebih banyak perhatian dan bantuan selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, hubungan antara sesama siswa juga dapat memicu prestasi belajar siswa bahkan dapat menghambat pruduktivitasnya.
Kondisi belajar siswa yang meliputi sejumlah faktor itu mempengaruhi kemampua belajar siswa. Ada empat kondisi belajar yang dapat mengingat pelajaran, yaitu:
1.          Lingkungan fisik, seperti penerangan, suara, temperatur dan tatanan perabot diruang kelas.
2.         Suasana emosional lingkungan siswa, seperti motivasi, ketekunan dan rasa tanggub jawab siswa.
3.         Lingkungan sosial, seperti kecendrungan siswa untuk lebih menyukai bekerja sendiri atau tim.
4.         Keadaan fisik, seperti kelengkapan dan fungsional inderanya, mobilitasnya, cara atau kebiasaan menggunakan waktu dan pucak produktivitasnya.

Kerucut pengalaman Edgar Dale
Edgar Dale dengan model kerucut pengalamannya mencoba menunjukkan rentang derajat kekonkretan dan keabstrakan dari berbagai pengalaman. Untuk memahaminya, dapat dimulai dari siswa sebagai peserta dengan pengalaman langsung, kemudian siswa sebagai pengamat kejadian nyata, selanjutnya siswa sebagai pengamat kejadian tiruan atau yang dimediakan (ediated event) dan berakhir ke siswa yang mengamati simbol yang menghadirkan suatu peristiwa tertentu. Dengan demikian makin kebawah suatu jenis pengalaman dalam kerucut Edgar ini makin besar derajat kekonkretannya.


Bila derajat kekonkretan ini dikaitkan dengan media audiovisual, menguti pendapat Hoban dan Zissman, Heinich (1989) mengemukakan bahwa nilai suatu media audiovisual adalah sebagai fungsi derajat kekonkretannya.


Dengan demikian, Dale juga menunjukkan bahwa makin tinggi letak suatu jenis media dalam kerucut tersebut makin tinggi derajat keabstrakannya dan dengan demikian makin sempit atau kecil totalitas realita yang disajikan.
Dale menekankan bahwa siswa bisa mengambil manfaat dari berbagai kegiatan pengajaran yang lebih abstrak bila kegiatan tersebut mempunyai relevansi dengan pengalaman langsung (direct, purposeful experince), pengalaman terbatas (contrived experience), pengalaman yang diperankan (dramatizeds experince), demonstrasi atau karya wisata. Pengalaman belajar yang diperoleh dari pengalaman tersebut sangat efektif, tetapi pelaksanaannya menuntut banyak persiapan, waktu, dana dan tenaga.
Media berupa gambar diam, gambar bergerak, film, rekaman video atau audio mampu menyajikan pengalaman nyata secara integratif, sehingga apat membantu siswa dalam mengintegrasikan pengalaman tersebut dengan pengalaman yang sudah ada sebelumnya. Dan dalam proses pembelajaran, pemanfaatan media ini harus dilakukan dengan teliti dengan berjaga-jaga dan bersiap mengatasi kemungkinan terjadinya persepsi yang keliru dari para siswa.
Di puncak kerucut pengalaman Dale ini dapat dilihat penggunaan media yang menggunakan simbol visual dan verbal yang kadar keabstrakannya sangat tinggi. Cara penyajian pelajaran dan penjelasan dengan menggunakan media tersebut memang terasa ekonomis dipandang dari segi waktu da tenaga. Namun karena tingginya derajat keabstrakan, maka peanfaatannya untuk membantu proses pembelajaran perlu dilakukan dengan hati-hati dan perlu persiaspan yang cermat. Intinya, guru harus tahu pasti bahwa kata-kata, kalimat atau istilah asing yang dipakai untuk menjelaskan pelajaran mempunyai relevansi dengan pengalaman dan pengetahuan yang ada pada siswa.