Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Saturday, February 17, 2018

Black Panther (2018)



Secara keseluruhan, sy bisa bilang Black Panther adalah film bagus (sy kurang tahu di mata orang film ini “rame” atau nggak). Yang jelas kehadiran Black Panther semakin menunjukkan kepiawaian Marvel dalam memperlakukan universe-nya, membuatnya terlihat semakin solid dalam melanjutkan visi MCU. Chadwick Boseman juga main bagus sebagai Black Panther di sini.

Sy pikir ada beberapa hal menarik yang turut menjadi headline dalam Black Panther itu sendiri. Selain fakta bahwa ini adalah film ke-18 dari MCU sekaligus film solo terakhir sebelum Infinty War (can’t wait).

Pertama, tema yang relatable.

Black Panther mempunyai tema besar yang relevan dengan kondisi sekarang. Konfliknya lebih personal dengan menyoroti isu internal di dalam negara Wakanda. Sy pikir, karena kejadian di Black Panther terjadi setelah Civil War, konfliknya akan lebih kompleks dengan yang terjadi dalam MCU, namun sepertinya hal tersebut disimpan untuk Infinity War nanti. Dengan isu relevan dan tema besar yang diangkat tersebut, Black Panter lebih terasa relatable dan menjadikannya sebagai film MCU yang memiliki banyak pesan moral sejauh ini. Terlebih ketika adegan di mid-credit scene muncul. Kamu bisa buat quote bagus setelah nonton film ini.

Kedua, desain produksi yang oke.

MCU mempunyai semesta yang luas. Mereka mempunyai dunia angkasa dimana Thor dan Guardians of the Galaxy beraksi. Mereka mempunyai dunia dari dimensi lain milik Doctor Strange. Bahkan sampai dunia mikroskopis ala Ant-Man. Dan sekarang Wakanda. Ya, Wakanda memang bertempat di bumi, tak berbeda dengan tempat Iron Man atau Captain America. Meski begitu, Wakanda terasa sangat spesial ketika diekspos begitu kentara. Wakanda digambarkan sebagai negara maju dan modern dengan sumber daya melimpah. Di sisi lain, Wakanda adalah negera tradisional yang masih mempertahankan tradisi-tradisi khas serta kearifan lokal yang ada. Mungkin sepintas terasa begitu kontradiktif namun keduanya (modern dan tradisional) berdampingan begitu dinamis dan menciptakan harmoni alam yang seimbang. Unsur lansekap, aspek budaya, sosial, bahasa, musik, tata kostum dan segala pernak-pernik ala Wakanda merupakan perpaduan menarik sebagai salah satu ciri khas Black Panther.

Ketiga, villain multidimensi.

Semenjak phase 3 bergulir, MCU banyak menghadirkan villain multidimensi seperti Helmut Zemo (Captain America: Civil War) atau Adrian Toomes (Spider-Man: Homecoming). Keduanya bukanlah villain yang mampu menghancurkan dunia dengan tangannya. Bukan pula villain yang mengancam eksistensi seluruh umat manusia di bumi. Ya, keduanya memang jahat tapi rasanya tidak mudah juga untuk mengklasifikasikan mereka sebagai orang jahat. Ini yang dimaksud multidimensi, dimana seorang villain diberi karakterisasi yang humanis sehingga kejahatan mereka bukan semata karena keserakahan saja. Pendekatan ini yang juga diberlakukan kepada villain utama Black Panther yaitu Erik Stevens aka Killmonger. Didukung penampilan Michael B. Jordan yang surpsringly sangat meyakinkan dan menjanjikan sebagai Killmonger, menjadikannya sebagai salah satu villain kharismatik di MCU.

Keempat, women power.

Ada sebuah trend di perfilman hollywood era sekarang dimana banyak dari mereka menjadikan perempuan sebagai main leading character. Contoh paling mudah adalah Star Wars. Di Black Panther, meski tak serupa trend ini tetap dipakai dan sedikit dimodifikasi dengan pendekatan berbeda. Sehingga meskipun karakter utama tetap pria, para karakter perempuan mempunyai suara dominan yang mencuri perhatian. Kredit paling besar disematkan kepada Lupita Nyong’o, Danai Gurira, Letitia Wright dan Angela Basset sebagai yang terdepan mewakili kaumnya.

*Seperti biasa ada dua adegan tambahan pada mid-credit dan post-credit scene*

Sunday, February 11, 2018

20 Film Terbaik 2017


Upss, sudah lama sekali blog ini vakum alias sudah lama saya tidak nge-post. Tak terasa tahun 2017 sudah berlalu, sekarang sudah tahun 2018 saja. Dan sebagaimana tahun yang sudah-sudah, di awal tahun memang selalu ada daftar film terbaik yang telah dihimpun sepanjang tahun sebelumnya (walaupun agak telat). Tak banyak sebenarnya film yang saya tonton tahun kemarin (rasanya semakin tahun kuantitas nonton semakin turun), tapi sisi positifnya, saya jadi lebih selektif dalam memilih film yang akan ditonton.
Hasilnya, ternyata memang banyak film yang berkesan meski kuantitas sedikit. Mungkin itu pula yang membuat daftar tahun membengkak menjadi 20 (dua puluh0, bukan sepuluh seperti tahun-tahun sebelumnya. Lumayan susah juga ketika ingin menjadikannya dalam urutan sistematis seperti ini. Sampai akhirnya selesai, dan saya puas dengan ini. Perlu ditekankan lagi bahwa terbaik di sini tentu sifatnya sangat subjektif dan personal. (keterangan lebih lanjut, baca post daftar film terbaik sebelumnya)
Seperti biasa, ada beberapa film yang memang tidak sempat ditonton seperti 'A Taxi Driver', ‘I, Tonya’, ‘Lady Bird’, ‘Call Me by Your Name’ atau ‘Three Bilboards Outside Ebbing, Missouri’ (dan beberapa film 'worthed' lainnya). Jadi, sudah dipastikan jika film-film tersebut tidak akan masuk list. Dan, oh ya, untuk film terjelek tahun ini? Hmm.., ‘The Emoji Movie’! So, buat yang pernah nonton, selamat karena anda telah membuang waktu anda yang berharga. Hahaha.
Karena daftar film ini ada 20 (dua puluh) jadi tidak ada daftar honorable mentions. Karena itu, langsung saja, inilah 20 film terbaik tahun 2017 versi sy.

#20 Pengabdi Setan (Joko Anwar)

Seperti kehadiran ‘The Raid’ bagi film action Indonesia, seperti itu pula keberadaan ‘Pengabdi Setan’ bagi wajah film horor Indonesia. Standar baru bagi para sineas yang ingin bermain-main di area ini.

#19 Split (M. Night Shyamalan)

Shyamalan is back! Kembali bermain di zona yang melambungkan namanya, sang raja plot twist tak menyia-nyiakan kisah kepribadian ganda ekstrim dengan cerita yang begitu intens. Ditambah bonus akan penyatuan dengan karya lamanya.

#18 It (Andres Muschietti)

Keberadaan para bocah dengan chesmistry meyakinkan menjadi daya tarik terbesar bagi ‘It’. Pun begitu dengan kehadiran Pennywise modern yang akan menghantui rasa takutmu.

#17 The Lost City of Z (James Gray)

Memang tidak pernah ada jalan yang mudah. Apalagi perjalanan mengejar mimpi, dan membungkam mulut penuh kenyinyiran dengan bukti nyata. Perjalanan berat yang realistis.

#16 The Killing of a Sacred Deer (Yorgos Lanthimos)

Dongeng modern tentang balas dendam yang mempertanyakan keadilan sejati.  Mencengkram. Absurditas penuh adiksi.

#15 A Ghost Story (David Lowery)

“Kau sebut apa aku? Horor? Bukan, aku bukan horor. Dan aku datang bukan untuk menakutimu. Aku hanya seseorang yang telah mati, yang memandangi kehidupan dari sudut kematian.”

#14 The Salesman (Asghar Farhadi)

Drama pasutri yang sepintas terasa sederhana, namun lambat laun mulai menunjukkan taring ketegangan. Dibasuh isu-isu berdaya relevansi tinggi yang akan membuatmu turut ambil bagian memberi persepsi.

#13 The Battleship Island (Ryoo Seung-wan)

Bahkan di tengah dentuman bom, bisingnya senapan, gelimpangan mayat dan kekacauan dalam neraka dunia berwujud perang, sineas Korea Selatan masih saja lihai menunjukkan sensitivitas tinggi.
p.s. saya baru tahu ternyata film ini dibintangi Song Jong-ki, shishishishi

#12 Blade Runner 2049 (Dennis Villeneuve)

Tentang humanisme. Tentang eksistensi. Perjalanan laun penuh kesunyian akan hal itu. Dibuai audio-visual yang meditatif.

#11 Wonder (Stephen Chbosky)

Kenyataannya, dunia selalu bergerak didekatmu. Entah jika itu menyudutkanmu atau sebaliknya, meninggikanmu. Kau harus menyelesaikannya, bahkan untuk hal yang tidak kau mulai.

#10 Baby Driver (Edgar Wright)

Karena film hiburan tak selalu datang lalu pergi tanpa bekas. ‘Baby Driver’ adalah film paling menghibur tahun ini. Duduk manis saja, lalu nikmati pedal gas yang berpacu dengan musik dan romantika muda mudi yang kasmaran.

#9 Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya)

Feminisme yang kental perjuangan dibalik gersang dan eksotisnya Sumba. Didukung penampilan memukau Marhsa Timothy yang menaikkan level dimensi aktingnya.

#8 Get Out (Jordan Peele)

Sentilan diskriminasi ras yang jadi pesan tak lantas menjadikannya urung tampil keras sebagai sajian horor-thriller. Justru menambah kekayaan yang akan membuatmu candu.

#7 Okja (Bong Joon-ho)

Satir akan kapitalisme, konsumerisme, politik pencitraan dan begitu tamaknya mahkluk bernama manusia. Dihantarkan dengan lugas, lucu, getir namun penuh kehangatan dibalik persahabatan bocah manis dan seekor babi super.

#6 Mother! (Darren Aronofsky)

Pernah dengar jika film ini merupakan interpretasi dari salah satu part dalam alkitab, tapi saya tidak tahu pasti. Yang jelas ‘Mother!’ adalah kegilaan manusia fana yang haus akan sanjungan dan puja-puji insan lainnya.

#5 Dunkirk (Christopher Nolan)

Cita rasa baru sebuah film perang. Meski bukan yang terbaik darinya, perjalanan non-linear tiga babak yang dikemasnya akan tetap membuatmu terkagum dengan karya barunya ini.

#4 The Shape of Water (Guillermo del Toro)

Romantika fantasi kelam yang menghantarkan kisah cinta tak biasa yang tak berbatas. Laksana air, mengalir, hangat, puitis.

#3 Coco (Lee Unkrich)

Sial! Pixar melakukannya lagi, lagi dan lagi untuk ke sekian kalinya. DAMN! I LOVE IT!! Siapkan tisu yang banyak!!!

#2 Silence (Martin Scorsese)

Berujar dalam tentang keimanan. Terlepas dari satu agama yang dijadikan dasar cerita, Scorsese menantangmu merenungkan kesetiaan pada Tuhanmu.

#1 La La Land (Damien Chazelle)

Film tentang hidup, mimpi, cinta dan cita yang akan membuka matamu lebar-lebar sembari berbisik,
“Inilah hidup! Realita yang harus terus berjalan meski itu bukan inginmu!”

Sunday, February 5, 2017

10 Film Terbaik 2016

Tahun 2016 adalah tahun dimana saya berada di titik terjenuh menonton film. Tak banyak film yang saya tonton di tahun tersebut. Bahkan untuk film-film hiburan dan populer ala blockbuster, boxoffice, dsj, bisa diitung dengan jari. Mungkin itu pula yang membuat saya sedikit terlambat membuat post tahunan ini. Tapi meski begitu saya masih sempat menonton film-film bagus yang mungkin kurang populer di kalangan awam, tapi cukup populer di kalangan para penikmat film.
Seperti post yang sudah-sudah, kata terbaik mungkin lebih tepat disebut sebagai terfavorit. Tapi apapun itu, jangan harapkan ada judul ‘La La Land’ dalam daftar ini. Atau juga ‘Manchester by the Sea’, ‘Moonlight’, ‘Jackie’ ataupun ‘Fences’. Karena saya sama sekali belum menonton film tersebut. Dan oh, saya ingin sekali nonton ‘A Man Called Ove’. Bisa saja film tersebut masuk 10 besar. Karena entah sejak kapan saya sangat menyukai film-film asal Swedia. Film-film internasional (non-bahasa inggris) lain yg saya rasa menarik juga belum sempat saya tonton. Ada beberapa judul, seperti Toni Erdmann (Jerman), Things to Come (Perancis), Land of Mine (Denmark), The Club (Chili), The Wailing (Korea Selatan) dan Our Little Sister (Jepang).
Seperti biasa ada Honorable Mentions yang terdiri dari 10 (sepuluh) film yang kurang beruntung karena hanya jadi runner-up. Dan entah kebetulan atau tidak, saya selalu menempatkan urutan sepuluh daftar film terbaik dengan film horor seperti tahun-tahun sebelumnya (cek daftar film terbaik tahun 2014 dan 2015). Untuk film terjelek tahun 2016 versi saya adalah ‘Allegiant’.
So, langsung saja, inilah film-film terbaik tahun 2016 versi saya.

Honorable Mentions:
Spotlight (Tom McCarthy), Son of Saul (Laszlo Nemes), Anomalisa (Charlie Kaufman, Duke Johnson), Eye in the Sky (Gavin Hood), Captain Fantastic (Matt Ross), Everybody Wants Some! (Richard Linklater), Hell or High Water (David MacKenzie), Hacksaw Ridge (Mel Gibson), Elle (Paul Verhoeven), The Witch (Robert Eggers).

#10 Under the Shadow (Babak Anvari)


Ibu dan anak ditambah horor. Kombinasi apik yang selalu menarik untuk memberikan teror. Dan sekali lagi, Babak Anvari membuktikan keberhasilan kombinasi itu.

#9 Surat dari Praha (Angga Dwimas Sasongko)


Sebuah surat cinta untuk mereka yang terbuang. Untuk mereka yang ditinggalkan. Untuk mereka yang merelakan. Surat cinta untuk semua kisah yang belum usai.

#8 A Monster Calls (J. A. Bayona)


Fantasi gelap yang menghantarkan proses pendewasaan diri dalam menghadapi realita yang pahit. Realita memang tak bisa dihindari tapi kehidupan ini sendiri harus tetap berjalan. Berdamailah dengan keadaan.

#7 The Neon Demon (Nicolas Winding Refn)


Warna-warna muram dalam lantunan musik nan suram. Pekat. Pelan. Menyimpan misteri penuh simbol surealis dibalik setiap langkahnya. Menjadi seorang bintang memang tidaklah mudah.

#6 The Handmaiden (Park Chan-Wook)


Mengandung unsur feminisme yang begitu kental. Tampak begitu erotis namun unsur thriller-nya juga kental kentara. Ini adalah film tentang mereka, para wanita.

#5 The Lobster (Yorgos Lanthimos)


Yorgos Lanthimos selalu datang dengan visi unik dan nyelenehnya, tak terkecuali dengan ‘The Lobster’. Ke-absurd-an nya penuh adiksi menggugah rasa. Tidakkah kalian resah, wahai para singel?

#4 Arrival (Dennis Villeneuve)


Film alien yang sesungguhnya bercerita banyak sekali tentang manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Lintasan waktu yang menyajikan fase demi fase kehidupan yang indah dan sentimentil. Bukankah hidup itu anugerah? Maka, bersyukurlah kawan!

#3 Kimi no Na wa (Makoto Shinkai)


Kala waktu membolak-balik jiwa dua insan nun jauh disana. Dan siapa yang tak terpesona menikmati setiap unsur fantasi, mitologi, romansa, komedi, juga musik yang dihadirkannya. Begitu pula hubungan tali takdir yang mengikat mereka.

#2 Sing Street (John Carney)


Nostalgia termanis bagi siapapun yang pernah merasakan masa sekolah dengan nge-band, jamming bareng, bikin lagu bareng sampai yang paling personal, “nulis lagu karena seseorang dan untuk seseorang.” Ditemani referensi musik yang keren, John Carney akan membawamu menyelami ruang nostalgia paling manis sekaligus paling personal kala melalui masa-masa naif itu.

#1 Room (Lenny Abrahamson)


‘Room’ adalah dimana satu ruangan sempit bisa memberikan pengalaman seluas dunia. Pengalaman sinematik yang kaya akan luapan emosi menyentuh. Sebuah film yang terlampau sulit untuk dilupakan.

Thursday, August 18, 2016

Suicide Squad (2016): A Melancholic Bad Guys


“We’re bad guys, it’s what We do.”
– Harley  Quinn –

Rasanya semua setuju jika ‘Suicide Squad’ adalah film yang paling dinantikan kehadirannya semenjak teaser trailer-nya mulai diperkenalkan ke publik pada ajang comic-con. Selepas itu, berturut-turut trailer keren yang diiringi lagu klasik dari Bee Gees dan Queen yang seakan membuncahkan antusiasme itu. Tak ketinggalan sosok Joker versi Jared Leto yang ditengarai mampu melanjutkan estafet pemeran Joker berikutnya setelah Heath Ledger. Harapan dan ekspektasi tinggi membumbung tinggi disematkan pada Suicide Squad agar menjadi titik balik DCEU yang dianggap kurang berhasil dalam membangun universe-nya.
Awalnya, semua terlihat baik-baik saja. Sampai akhirnya ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ yang dianggap tidak berhasil menggoyahkan idealisme mereka. Pihak studio kalang kabut melihat respon masyarakat pada ‘BvS’. Mereka menjadi tidak percaya diri dengan apa yang mereka buat dan rencanakan pada DCEU sebelumnya. ‘Suicide Squad’ pun jadi tumbalnya. Proses syuting ulang dilakukan untuk menambahkan adegan-adegan yang dianggap mampu menjaring animo masyarakat lebih banyak. Rating R pun dirubah menjadi PG-13 agar semakin memperluas jangkauan pasarnya. Hasilnya?
Bertubi-tubi kritikan menghujam film arahan David Ayer ini. Saking gerahnya, para fans fanatik sampai tak terima dan sempat membuat petisi untuk menutup situs rottentomatoes yang dikenal tanpa ampun melempar tomat busuk untuk film yang tak disukainya. Banyak desas-desus tentang permasalahan yang mengiringi proses produksi ‘Suicide Squad’. Seperti deadline script yang terlalu mepet dengan proses syuting, test screening, editing dsb. Gosipnya, setidaknya ada 6 (enam) versi cut dari Suicide Squad. Pada saat test screening, pihak studio menguji dua versi Suicide Squad (versi dark dan versi fun). Daripada memilih salah satu versi, pihak studio malah menyatukan dua versi tersebut secara paksa dengan proses editing yang terburu-buru. Entah berita ini benar atau tidak, tapi editing yang sedikit kacau cukup terasa saat filmnya sudah rilis. Bahkan tak sedikit yang menyebut bila editing trailer-nya jauh lebih baik daripada editing versi bioskopnya.
Ditengah tempaan kritik yang menghujam, perolehan boxoffice ‘Suicide Squad’ justru cukup menjanjikan. Selama dua minggu berturut-turut tangga boxoffice pertama masih diduduki oleh ‘Suicide Squad’. Apakah ini yang diinginkan pihak studio? Mungkin saja. Bila dilihat sekilas, memang ‘Suicide Squad’ punya kans besar untuk menjaring penonton lebih banyak. Filmnya sendiri ringan dan fun. Tipikal film hiburan seru-seruan yang tak perlu pusing berpikir mengenai hukum sebab akibat atau logika. Cukup lihat bagaimana para penjahat yang menjadi jagoan melawan ancaman yang mengancam bumi. Tapi sebaliknya, bila dilihat lebih dalam, kritikan yang disematkan pada ‘Suicide Squad’ sepertinya bukan tanpa alasan.
Secara konsep, ‘Suicide Squad’ punya keunikan yang tak dimiliki film sejenis. Membuatnya menjadi antitesis dari film-film bertema superhero yang sudah jamak kita saksikan. Ke-nyelenehan-nya dalam menjadikan para supervillain DC menjadi pasukan yang akan menyelamatkan dunia dari ancaman sangat dinanti. Menjanjikan. Namun konsep hanyak tinggal konsep jika tak mampu mengolah atau mengembangkannya dengan benar. Dan inilah yang terjadi dengan ‘Suicide Squad’. David Ayer selaku nahkoda utama seolah kebingungan meramu racikan yang tepat dalam memperlakukan Task Force X secara layak. Yang terasa adalah kelabilan yang begitu terasa disemua aspek. Agak disayangkan sebenarnya, mengingat Ayer pernah menyajikan film perang keren sekelas ‘Fury’ tahun lalu.
Introducing awal ‘Suicide Squad’ pada dasarnya sangat menarik. Masalah muncul justru setelahnya. Kelabilan memang menjadi akar permasalahan dari ‘Suicide Squad’. Entah itu pada tone cerita, editing sampai karakterisasi para karakternya. Nomor-nomor lagu klasik nan populer hanya sekedar nyanyian yang hanya terlihat keren semata, tapi tidak memiliki esensi dengan adegan dan cerita secara utuh. Adegan-adegan yang pernah ditampilkan di trailer banyak dibuang. Joker yang paling dinantikan kehadirannya tak lebih dari sekedar pengganggu yang annoying. Bahkan apa yang diperihatkan Jared Leto pada kita sejatinya bukanlah Joker musuh bebuyutan Batman. Joker disini hanya seorang penjahat gila dan menakutkan saja tapi tidak pernah menjadi Joker yang sebenarnya. Dan ya, screen-time Leto sebagai Joker banyak yang dibuang karena satu dan lain hal. Tapi itu bukan alasannya.
Membawa banyak karakter dalam satu frame membuatnya terlihat gemuk. Dan sudah lumrah bila semua individu harus berbagi satu sama lain dan menonjolkan beberapa diantaranya. Hal ini yang juga coba ditampilkan disini. Ada karakter yang diekspos lebih seperti Harley Quinn dan Deadshot. Sementara sisanya tampil sebagai pelengkap. Pada dasarnya, bukan masalah seberapa besar porsi karakter yang banyak itu berperan, melainkan tingkat keberkesanan mereka. Dan inilah yang tidak didapat karakter lain selain Harley Quinn dan Deadshot. Terlepas dari sedikit atau tidaknya peran mereka, karakter mereka benar-benar tidak memberi kesan yang dalam. Bahkan ada yang kehadirannya tidak terlalu berguna sama sekali. Untuk ukuran film yang memasang karakter yang sudah memiliki karakteristik unik sedari awal, ‘Suicide Squad’ amat mengecewakan.
Barisan Task Force X sendiri tampil cukup melankolis untuk ukuran supervillain. Padahal mereka adalah penjahat-penjahat kelas kakap yang bahkan harus ditangani superhero seperti Batman dan The Flash untuk memenjarakannya. Dan lebih menggelikan lagi, perubahan karakter mereka yang terlalu berubah drastis. Bahkan mereka terlihat seperti hero yang bersahabat daripada supervillain yang jahat. Padahal dalam komiknya, mereka tetaplah villain badass yang tak kehilangan jati dirinya sebagai penjahat. Ucapan para karakternya bahwa mereka adalah “bad guys” hanya bentuk penegasan yang kosong agar kita sebagai penonton tidak salah paham. Tapi ujung-ujungnya, kita seolah dibuat harus memihak mereka sebagai pahlawan. Terlepas bahwa sebenarnya mereka adalah penjahat. 
Adalah kelabilan yang sedang dialami DCEU ditangan Warner Bros dan DC saat ini. DCEU terlalu ambisius untuk segera menyusul MCU. Terlalu ambisius agar filmnya disukai semua orang. ‘Suicide Squad’ adalah korban dari kelabilan mereka sendiri. Beruntung mereka memiliki ensemble cast yang tampil teramat baik. Yang mampu menolong kualitas 'Suicide Squad' secara keseluruhan. Tanpa mereka, entah akan seperti apa hasilnya. Padahal, apa salahnya membangun DCEU sedikit demi sedikit? Setahap demi setahap? Apa salahnya tetap berpegang pada niat awal untuk membuat DCEU yang berbeda dengan MCU? Apa salahnya jika film-film DCEU lebih kelam dan dewasa? Sejujurnya, saya sangat ingin menyukai DCEU melebihi MCU. Saya sangat ingin menyukai ‘Suicide Squad’ melebihi film lain yang rilis tahun ini. Tapi melihat keadaan bertolak belakang seperti ini. Apa mau dikata. Semoga ‘Wonder Woman’ dan ‘Justice League’ tahun depan tak berakhir sama seperti ini. Dan ‘Suicide Squad’ bukanlah misi bunuh diri DC  dan Warner Bros.

Saturday, June 18, 2016

The Conjuring 2 (2016): Believe Me! Even If You Called “It” a Joke


Nama James Wan dan film horor menjadi kombinasi paling klop dalam satu dekade terakhir. Diawali dengan menukangi Saw (2004), kemudian Dead Silence (2007) sampai akhirnya menemukan kepopulerannya lewat Insidious (2011), nama James Wan sudah jadi pertaruhan paling menjanjikan ketika berbicara film horor. The Conjuring (2013) dan Insidious Chapter 2 (2013) adalah bukti nyata yang semakin mengukuhkan namanya sebagai filmmaker horor paling handal di era modern sekarang. Maka tak beralasan jika sekuel The Conjuring yang bertajuk ‘The Enfield Poltergeist’ disambut begitu hangat oleh khalayak.
The Conjuring sendiri adalah sebuah fenomena dalam genre horor di era sekarang. James Wan sukses membuat sebuah presentasi memikat dalam balutan formula horor klasik yang khas namun tetap berkelas. Hal yang sangat jarang ditemui dalam horor modern konvensional di zaman sekarang, dimana kualitas cerita berbanding lurus dengan tampilan visualnya. Tidak hanya itu, karena James Wan pun piawai memainkan rasa horor yang sanggup menakuti penontonnya lewat rangkaian jump scares yang tepat dan efektif. Tapi lebih dari itu, bagi saya pribadi, The Conjuring adalah alasan terbesar kenapa saya mau menengok kembali film-film horor supranatural. Sebuah genre yang sempat saya tinggalkan karena begitu membosankannya. Ya, kalau mau jujur, film horor supranatural konvensional (khususnya haunted house) hanya begitu-begitu saja. Dan The Conjuring mematahkan kebosanan itu.
Banyak yang bilang The Conjuring itu benar-benar menakutkan tapi sejauh yang saya ingat, saya tidak pernah benar-benar dibuat takut saat menontonnya. Well, ini hanya masalah persepsi saja, tapi harus saya akui bahwa The Conjuring punya kualitas yang mampu memberi pengalaman menonton film horor yang menyenangkan. Terlebih konklusi The Conjuring begitu masuk di logika saya ketika si arwah jahat yang merasuki tubuh manusia harus dilawan dengan jiwa dari dalam manusia itu sendiri. Hal seperti ini relatif jarang ditemui, karena mayoritas film horor kadung melekat dengan image perilaku bodoh para karakternya. Seperti saat ketakutan si karakter malah seringkali lari ke tempat yang lebih sepi dan gelap. Atau yang paling mudah, lihat saja bagaimana konklusi Annabelle (2014) yang tak kalah bodohnya.
Pada dasarnya, definisi menakutkan atau menyeramkan dari sebuah film horor itu sangatlah relatif dan subjektif. Kadar horor yang menakutkan atau menyeramkan bagi setiap orang pun berbeda-beda. Mungkin satu film bisa sangat horor buat sebagian orang, tapi kadang itu tidak berlaku buat sebagian yang lain. Alasan saya malas nonton film horor khususnya horor supranatural adalah karena saya tidak pernah benar-benar dibuat takut oleh film horor tersebut. Horor itu sendiri sebenarnya lebih kompleks daripada sekedar penampakan menakutkan, teror pembunuh sadis atau bentuk lainnya. Buat saya, horor itu lebih menitikberatkan pada masalah psikis dimana kita merasa tidak nyaman akan sesuatu yang mengganggu dengan sebab tertentu. Bentuknya beragam. Saya pribadi, jarang sekali merasakan sensasi horor saat menonton film horor bahkan oleh The Conjuring sekalipun. Bukan karena saya tak kenal takut, mungkin saya yang tidak sadar, atau mungkin saya memang tidak peduli dengan “hantu-hantu” begitu. Meski demikian, sensasi horor pernah benar-benar saya rasakan saat menonton We Need To Talk About Kevin (2011). Uniknya, film tersebut bukanlah film horor melainkan sebuah drama keluarga.
Secara umum, The Conjuring 2 masihlah sama dengan film-film horor James Wan yang kita kenal. Disana masih ada rumah berhantu. Disana masih ada keluarga yang diteror makhluk tak kasat mata. Disana masih bertebaran jump scares yang siap memberi kejutan. Disana masih ada penampakan-penampakan yang siap menghantui. Disana masih ada warna-warna kelam yang membuat gerah. Dengan kata lain, The Conjuring 2 masih sangat repetitif dengan horor James Wan yang lain. Namun bukan berarti The Conjuring 2 ini film yang jelek. Tidak sama sekali. Memang saya sendiri lebih menyukai The Conjuring dibanding sekuelnya. Namun diantara jeda waktu semenjak Insidious Chapter 2 rilis sampai sekarang, hampir tidak ada film horor supranatural konvensional yang memiliki kualitas cukup ok. Dan The Conjuring 2 masuk mengisi kekosongan itu.
Embel-embel kisah nyata masih melekat dengan The Conjuring 2 tatkala Wan meminjam peristiwa supranatural terseram yang menimpa keluarga Hodgson di London. Peristiwa yang begitu terkenal sekitar tahun 1977-1979 dan tercatat sebagai peristiwa supranatural yang paling banyak didokumentasikan hingga saat ini. Yang membuatnya menarik adalah bahwa rumah Hodgson sendiri bukanlah bangunan yang terletak sendirian ditengah hutan. Tak seperti rumah keluarga Perron di seri sebelumnya atau Amityville House yang jadi segmen pembuka, rumah Hodgson terletak dalam lingkungan yang cukup ramai dalam sebuah komplek perumahan. Dari sini, The Conjuring 2 sudah punya pembeda dibanding predesesornya.
The Conjuring 2 memberi ikatan drama yang lebih emosional pada hubungan Ed dan Lorraine sebagai pasangan suami istri. Hal yang belum sempat di-push lebih dalam dari seri sebelumnya. Beruntung, chemistry Patrick Wilson dan Vera Farmiga masih sangat ampuh sebagai pasangan. Dan disaat Patrick Wilson dan Vera Farmiga mempertontonkan chemistry apik, Madison Wolfe menjelma menjadi bintang dari The Conjuring 2. Berperan sebagai Janet yang dalam kisah aslinya menjadi anak yang paling sering mengalami kejadian gaib, Madison Wolfe berhasil memberi penampilan menawan dengan jangkauan dimensi yang luas. Mulai dari senang, sedih, tertawa, menangis, takut sampai marah sukses ia tampilkan. Penampilannya sedikit mengingatkan saya pada karakter Regan MacNeil (The Exorcist) meskipun tidak sampai seekstrim itu. Fokus yang begitu kuat terhadap karakter Janet sedikit banyak berpengaruh terhadap porsi dan relasi antarkarakter. Terutama ikatan keluarga Hodgson sendiri yang masih kalah bila dibanding ikatan keluarga Perron. 
Diawali dengan cukup menarik, The Conjuring 2 memilih menurunkan tensinya di pertengahan. Durasi yang lebih panjang dari sebelumnya terasa lama yang berujung melelahkan dan membosankan. Mungkin plotnya akan lebih padat dan berisi jika durasinya sedikit dipangkas. Hal ini pun sedikit berimbas terhadap klimaksnya yang terasa kurang menggigit. Terlebih karakter film horor James Wan sudah mudah ditebak karena terasa sangat repetitif. Untungnya, karakter hantu The Conjuring 2 itu menarik dan ikonik. Meski akhirnya Valak malah jadi bulan-bulanan netizen dalam buaian meme-meme lucu. Haha. Satu hal yang tak dipunyai The Conjuring adalah The Conjuring 2 memiliki lagu klasik populer yang begitu menyenangkan setiap kali terdengar. Seolah memberi warna ceria ditengah suasana yang suram. Sebut saja London Calling dari The Clash atau I Started a Joke dari Bee Gees. Patrick Wilson malah sempat menyumbangkan suaranya lewat lagu Can’t Help Fallin’ in Love with You. Salah satu moment manis ditengah teror Bill Wilkins.
Untuk kadar horornya saya tidak bisa berbicara banyak karena ini amatlah relatif dan subjektif. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya lebih menyukai The Conjuring dibanding sekuelnya ini. Seperti yang sudah-sudah, saya sendiri pun belum benar-benar merasakan sensasi horor yang benar-benar kuat saat menonton film ini. Mungkin ini efek menonton siang-siang di bulan ramadhan atau bagaimana, saya kurang tahu. Mungkin akan lain ceritanya jika saya menontonnya malam-malam. Ah, saya tidak tahu. Sensasi horornya mungkin tidak berada dalam taraf maksimal tapi moment mengangetkannya masih cukup bekerja. Dan ditengah sepinya horor supranatural konvensional yang mampu memberi kesenangan menonton film horor akhir-akhir ini, The Conjuring 2 muncul ke permukaan sebagai salah satu alternatif jawaban di garda paling depan.

Tuesday, June 7, 2016

X-Men: Apocalypse (2016): Derita Film Ke-3


Hadir setelah dua film superhero besar (baca: Batman v Superman: Dawn of Justice dan Captain America: Civil War) seperti menurunkan pamor ‘X-Men: Apocalypse’. Apalagi Deadpool yang tergolong film kecil sukses berat di pasaran (walaupun tidak terlalu saya sukai). Lalu apa yang hendak ditampilkan Bryan Singer untuk meramaikan jagat per-superhero-an tahun ini?
 'X-Men: Days of Future Past’ yang rilis dua tahun lalu berhasil menaikkan level X-Men pada tingkatan tertinggi dari semua film X-Men yang ada. Tak ayal, ekspektasi begitu membumbung tinggi menanti kehadiran sekuelnya. Post-credit scene yang membawa sosok mutan pertama sekaligus terkuat sebagai villain turut membawa harapan ini. Ditambah Bryan Singer yang masih bertugas sebagai nahkoda utama. Rasanya tidak ada alasan pesimis untuk ini. Sayang, harapan hanya tinggal harapan. Kenyataan kadang tak sesuai dengan yang diharapkan. Aura-aura mengecewakan santer terdengar ditelinga sebelum menonton film ini. 
Derita film ke-3. Saya menyebutnya begitu. Kenapa? Karena ‘Apocalypse’ seperti mengalami hal yang dialami ‘The Last Stand’. ‘X-Men: The Last Stand’ adalah film ketiga setelah X-Men (2000) dan X-2: X-Men United (2003). Dan seperti yang kita tahu, ‘The Last Stand’ dicap sebagai film terburuk X-Men (selain Origins Wolverine) dan mendapat kritik tajam baik dari kalangan fans maupun non-fans. Kenyataannya memang begitu sih. ‘Apocalypse’ sendiri sebenarnya masih jauh lebih baik daripada ‘The Last Stand’ namun sangat tidak beruntung karena dua film terdahulunya lebih superior.


Menonton ‘Apocalypse’ tak ubahnya menonton film blockbuster yang hobinya main hancur-hancuran tanpa esensi dan motif yang jelas. Berbekal villain paling kuat sejagat, En Sabah Nur aka Apocalypse didampingi pula ‘The Four Horsemen’ nampak tak banyak membantu. Semua terasa kosong. Kalau memang mau main hancur-hancuran, kenapa nggak bikin hancur-hancuran yang gila-gilaan sekalian? Yang ada malah klimaks nanggung. Bahkan aspek teknisnya pun tak sanggup menyajikan tontonan eyegasm yang menyenangkan.
Jangan tanya soal cerita, yang sudah sangat jelas tidak sekompleks sebelumnya. Interaksi Charles dan Erik yang sudah jadi trademark X-Men reboot tak nampak lagi. Penggalian karakter tak pernah benar-benar terjamah kecuali oleh wajah-wajah muda yang lebih mendominasi. Namun yang paling disesalkan adalah kehadiran villain utama, Apocalypse, yang tak segahar namanya. Karakternya benar-benar tidak pernah diberi waktu untuk berkembang. Atau setidaknya diberi kesempatan untuk membuat penonton benar-benar percaya bahwa dia adalah mutan paling kuat yang bisa menjadi kiamat bagi dunia. Karakter-karakter ‘The Four Horsemen’ pun seperti terabaikan begitu saja dibalik segala potensi yang dimilikinya. Padahal penampilan Psylocke sudah....ehhmm (????)
Sejujurnya, tak perlu pedulikan segala embel-embel cerita, karakter, tema, teknis dan tek-tek bengek lainnya. Lupakan tentang ‘First Class’ dan ‘Days of Future Past’ yang sebelumnya tampil menggila. Jadikan ‘X-Men: Apocalypse’ sebagai film yang berdiri sendiri. Pasang ekspektasi yang serendah-rendahnya. Niscaya, ‘X-Men: Apocalypse’ bakal tampil menghibur sebagai film entertainment khas blockbuster. Setidaknya, itu cukup efektif buat saya yang telah mendengar banyak nada kekecewaan dari orang-orang sebelumnya. Kalau masih mengecewakan juga, ya..., mau gimana lagi.