Monday, May 16, 2016

Captain America: Civil War (2016): Yang Mengubah Arah MCU


Captain America: He’s my friend
Iron Man: So was I

Tahun 2015 adalah titik terjenuh bagi saya terhadap Marvel Cinematic Universe (MCU). Padahal di tahun sebelumnya, 2014 tepatnya, mereka sanggup merilis karya terbaiknya lewat ‘Captain America: The Winter Soldier’ dan ‘Guardians of the Galaxy’. Namun saat ‘Avengers: Age of Ultron’ dan ‘Ant-Man’ dirilis, titik jenuh itu benar-benar berada pada puncaknya. Alasannya sebenarnya sederhana, Marvel itu begitu-begitu saja. Pakem yang mereka pakai semenjak ‘Iron Man’ memulai MCU tahun 2008 lalu, terus berulang dan berulang sampai phase 2 berakhir (kecuali saat Russo bersaudara dan James Gunn di belakang layar). ‘Avengers: Age of Ultron’ tak lebih dari sekedar batu loncatan. ‘Ant-Man’ tak berbeda dengan film origins Marvel yang lain. Memang kesan menyenangkan dan menghiburnya masih ada. Namun jelas itu belum cukup. Untuk tetap mempertahankan animo penonton akan MCU yang luas, Marvel jelas harus mempunyai sesuatu yang lebih segar daripada hanya sekedar tampil menyenangkan. Apalagi terus menerus memakai pola yang sama. Jelas sangat membosankan. Kecuali mereka siap kehilangan penonton.
Beruntungnya Marvel memiliki Russo bersaudara yang sadar akan hal ini. Meski gayung tak langsung bersambut, titik terang justru muncul dari sang rival. Keinginan Russo bersaudara untuk mengubah arah MCU tanpa kehilangan rasanya diamini Kevin Feige setelah Feige mendengar pengumuman ‘Batman v Superman’. Sebuah kebetulan yang menguntungkan karena phase 3 dimulai lewat film Russo bersaudara. Dan benar saja, ‘Captain America: Civil War’ sukses melaksanakan tugasnya mengubah MCU ke arah yang lebih baik (IMO). Kehadiran ‘Civil War’ jelas membawa perubahan yang drastis bagi MCU. Buktinya, kita tak akan mendengar lagi embel-embel ‘Infinity War’ Part I dan Part II yang sudah digemborkan sebelumnya. Meski saat ini belum ditemukan judul yang pas untuk dua film Avengers, tapi saya pribadi kembali menaruh perhatian penuh pada MCU karena ini.
Tahun 2016 ini bisa dibilang ajang duel bagi dua studio pencetak superhero terbesar yaitu Marvel dan DC. Aroma persaingan sudah menyeruak saat mereka memperlakukan jagoannya dengan cara yang sama dengan jadwal rilis yang bersamaan pula. Meski akhirnya tidak terwujud karena DC memilih memajukan jadwal film mereka (saya tidak tahu apa jadinya jika ini benar-benar terjadi, kasihan nanti yang kalah, hehe). Baik Marvel maupun DC, keduanya sama-sama menyajikan pertarungan antar superhero untuk disuguhkan kepada penonton. Seperti yang kita tahu, DC telah terlebih dulu menyajikan ‘Dawn of Justice’ yang berujung kekecewaan. Padahal saya berharap banyak pada film itu. Dan harus diakui, dalam hal ini DC telah dikalahkan oleh Marvel. Mungkin DC memang terlalu dini untuk membuat superhero-nya saling bertarung, tapi kemenangan ‘Civil War’ juga semata-mata bukan karena MCU telah berlangsung lama. Meski sebagian lain faktor berasal dari situ. Tapi yang jelas, ‘Civil War’ berada ditangan yang tepat disaat yang tepat.


Menilik premis yang sama, secara umum, ‘Dawn of Justice’ dan ‘Civil War’ memiliki pola penceritaan yang sama. Bila dilihat, alasan para superhero saling berbeda paham adalah karena sepak terjang mereka yang berimbas negatif pada masyarakat sipil yang tak berdosa. DC punya pertarungan masif Superman dan General Zod yang meluluhlantakkan kota. Dan Batman tak terima akan hal ini. Marvel lebih banyak lagi, New York, Washington DC, Sokovia sampai yang terbaru Lagos, Nigeria adalah saksinya. Dan diantara perseteruan tersebut, ada manusia lain yang turut mendalangi panasnya konfrontasi antar masing-masing kubu. Dibalik perseteruan Batman dan Superman ada si cerewet Lex Luthor. Sedangkan dibalik perselisihan Captain America dan Iron Man ada nama Helmut Zemo yang diam-diam menghanyutkan.
Yang membedakan keberhasilan perseteruan superhero di ‘Civil War’ dibanding ‘Dawn of Justice’ adalah latar belakangnya. Perbedaan prinsip dan ideologi masih menjadi dasar. Tapi ‘Civil War’ punya latar belakang yang lebih jelas, bertahap dan tertata. Semua karakter di ‘Civil War’ punya alasan dan motif yang lebih logis sebelum akhirnya memutuskan memilih yang mana. Semuanya disampaikan secara runut dan teratur, tidak serta merta terjadi begitu saja. Dan kitapun dibuat percaya akan alasan dan keputusan yang dipilih masing-masing mereka. Terlepas dari siapa yang benar dan salah atau siapa yang menang dan yang kalah, itu bukanlah sesuatu yang penting. Pondasi inilah yang menyebabkan ‘Civil War’ tampil lebih superior dibanding ‘Dawn of Justice’. Bahkan motif seorang Helmut Zemo pun terlihat logis untuk membuat para superhero saling bertarung dibandingkan Lex Luthor. Bila dilihat lebih dalam, motifnya pun cukup sentimentil untuk ukuran seorang villain. Dan konklusinya tentu tidak semudah dan sesederhana menyebut nama seseorang untuk mengakhiri perselisihan sebesar ini.
‘Civil War’ sukses meneruskan estafet keberhasilan suksesornya ‘The Winter Soldier’. Meski tidak sesolid dan seintens ‘The Winter Soldier’, ‘Civil War’ tetap punya warnanya sendiri. Sekuens pertama diisi dengan adegan yang mengingatkan kita pada ‘The Winter Soldier’, terlebih ada nama Brock Rumlow aka Crossbones disana. Tapi itu hanyalah hidangan pembuka sebelum masuk ke menu utamanya. Plotnya menyajikan tingkat kerumitan dan kompleksitas yang diisi dengan berbagai subplot yang tidak bertele-tele namun saling terikat. Sehingga memperkuatnya sebagai satu kesatuan yang utuh meski cakupannya menjadi melebar. Duo penulis Christopher Markus dan Stephen McFeely juga tidak membiarkan semua kerumitan itu menjadi tampak rumit namun tetap berkenan dibenak semua orang. Ya, ‘Civil War’ adalah contoh bagaimana sebuah cerita yang rumit dan kompleks cenderung kelam tapi tetap menyajikan unsur yang fun dan menghibur tanpa harus menjadi sulit untuk dicerna.


Melihat bagaimana bejibunnya karakter yang hadir, tidak lantas menjadikannya saling tumpah tindih satu sama lain. Fokus utama masih dipegang Steve Rogers bersama kisah bromance-nya dengan Bucky Barnes dan Tony Stark dengan segenap pergulatan batin yang menyelimutinya, tetap mendapat porsi yang paling besar. Meski begitu, hal ini tidak menjadikan karakter lainnya urung tampil bersinar. Semuanya mendapat perlakuan yang layak untuk terlibat. Puncaknya adalah pertarungan di bandara ketika konfrontasi antar kubu berakhir menjadi baku hantam. Bisa dibilang ini adalah gong ‘Civil War’ yang juga menjadi salah satu moment terbaik disini. Dan bagaimana Russo bersaudara dengan lihai menyajikan sekuens aksi yang menarik dan seru dengan tetap mempertimbangkan porsi masing-masing karakter yang ada. Hasilnya semua anggota dari masing-masing kubu sukses menancapkan kesan tersendiri dimata penonton. Lebih dari itu, Russo bersaudara tetap menyuntikkan DNA Captain America yang besar bagi ‘Civil War’ meski deretan superhero mengisi line-up layaknya ‘The Avengers’. Jadi jangan khawatir ini film Captain America atau bukan.
Scene stealer layak disematkan pada 3 (tiga) karakter yang baru saja bergabung dengan tim. Ant-Man kembali meneruskan track record di film pertamanya. Black Panther dengan penampilan, aksi dan aura misteriusnya yang terlihat cool. Dan yang paling ditunggu, Spider-Man. Ya, Spider-Man seperti mendapat perlakuan yang benar-benar layak ketika ditangani oleh Marvel. Terima kasih, Sony! Untuk mengizinkan Spidey kembali ke Marvel. Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana penampilannya. Tapi saya rasa, mayoritas orang akan suka dengan Spider-Man versi Tom Holland ini. Mungkin ini versi terbaik yang paling mendekati komiknya. Eitts, jangan lupakan juga sosok Aunt May yang lebih muda yang tak pernah kita lihat di film Spider-Man sebelum-sebelumnya.
 Semua kesenangan di bandara memang menjadi puncak ‘Civil War’ yang pada akhirnya mengendurkan tensinya. Cukup terasa bagaimana tone-nya berangsur-angsur berubah secara signifikan semenjak pertarungan gila-gilaan di bandara. Seolah-olah bahan bakarnya benar-benar diporsir habis disana. Klimaks sebenarnya justru berada di ujung Siberia. Mungkin tidak menyajikan sekuens aksi dengan aroma grande bersama kehancuran dan ledakan dimana-mana. Namun satu hal yang saya rasakan disini. Aroma keintiman yang sarat emosi ketika membenturkannya dengan masalah yang lebih personal. Ideologi, prinsip atau apapun itu menjadi kurang berarti lagi ketika urusan personal menjadi pembatasnya. Pada akhirnya semua tindakan menjadi pembenaran akan apa yang dipercayainya. Helmut Zemo meski tak terlihat membahayakan sebagai villain tapi kehadirannya justru mampu menjadi pelecut pertarungan emosional antara Iron Man dengan Captain America dan Winter Soldier. Kalimat "So was I" seperti berbicara banyak disini. Pertarungan terakhir ini sedikit banyak telah mendefinisikan arti ‘Civil War’ yang sebenarnya dimata saya.
Overall, ‘Civil War’ adalah film yang sangat memuaskan. Levelnya sedikit dibawah ‘The Winter Soldier’ namun menjadi salah satu yang terbaik dijajaran Marvel Cinematic Universe. Kehadirannya benar-benar membawa angin segar dan arah yang lebih benar bagi MCU. Setidaknya, saya masih tertarik dan memiliki motivasi serta minat untuk kembali mengikuti perjalanan Marvel Cinematic Universe. Sebagai penonton awam, saya pun dibuat tertarik dengan bagaimana Black Panther akan beraksi di film solonya nanti. Tak terkecuali pula buat Spider-Man yang ternyata masih menimbulkan harapan walaupun filmnya banyak dengan jarak yang berdekatan. Yang terdekat ada ‘Dr. Strange’ yang rupanya terlalu sayang untuk dilewatkan. So, sejauh ini ternyata MCU masih cukup menjanjikan untuk disimak. Kalau sudah begini, DC dan Warner Bros. dengan DC Extended Universe-nya harus segera belajar dari kesalahan mereka agar tak kalah dari rivalnya ini.

0 comments