Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Showing posts with label Sisi Lain. Show all posts
Showing posts with label Sisi Lain. Show all posts

Friday, July 21, 2017

Yang Berakhir dan Berujung

Sekelumit cerita hidup dalam kehidupan manusia selalu menjadi bagian yang misterius. Apa yang terjadi hari ini belum tentu sama dengan apa yang terjadi esok. Kita manusia yang tak abadi ini mengalami berbagai proses bertahap pada setiap masing-masing kita. Segala keruwetan dan permasalahan yang ada menjadi bekal untuk setiap kelanjutan hidup.
Segala hal yang terjadi takkan selamanya terjadi. Atau takkan selalu sama seperti waktu yang sudah-sudah. Entah dimana, terdapat ujung tempat manusia mengakhirinya. Yang perlu dilakukan hanyalah melalui setiap detail proses dengan sebaik-baiknya. Sebelum kita benar-benar menemui ujung itu.
Ujung itu seperti sebuah hadiah atas apa yang telah dilewati. Layaknya kilatan pelangi sehabis hujan. Bernafaslah sejenak. Rasakanlah udara sebelum memulai kembali. Karena yang berakhir dan berujung hanya bersifat sementara. Karena selalu ada awal baru lagi setelah kita melewati sebuah ujung. Selalu ada permulaan baru setelah kita mengakhirinya.


Saturday, March 7, 2015

Karena ‘Rice Cooker’ Tidak Hanya Untuk Memasak Nasi Saja

Anak kosan memang mempunyai banyak keterbatasan. Keterbatasan ruang, keterbatasan uang dan berbagai keterbatasan lainnya. Tapi keterbatasan itu tidak lantas memberi ruang sempit bagi anak kosan untuk beraktivitas dan berkreativitas. Ya, buktinya dengan satu ruangan segede kamar tidur saja, kita bisa melakukan banyak hal. Dari bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi, semuanya dilakukan di satu ruangan itu saja.
Selain ruang yang hanya segitu-gitunya, tidak banyak juga peralatan yang bisa dimiliki dan disimpan oleh anak kosan. Tak terkecuali peralatan memasak. Bagi sebagian besar anak kosan, rice cooker memang pilihan alat masak tepat yang wajib dimiliki. Selain cara pemakaiannya yang mudah, barangnya yang relatif tidak terlalu besar membuatnya tidak terlalu memakan banyak ruang.
Fungsi utama rice cooker adalah untuk memasak nasi dan menghangatkannya. Biasanya, kita-kita anak kosan memasak nasi sementara lauk pauknya dibeli dari luar. Hal itu memang lumrah, awal-awal nge-kost saya juga melakukan hal yang sama. Namun ternyata, semakin kesini saya mulai tahu bahwa rice cooker menyimpan sebuah rahasia. Konon katanya, selain memasak nasi, rice cooker juga bisa dipakai memasak yang lain. Contohnya masak air. Biar matang! LOL
Seperti yang saya bilang, bahwa anak kosan itu punya keterbatasan, namun itu bukanlah hambatan. Tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada kompor dan peralatan masak lainnya, rice cooker pun bisa. Mungkin sudah banyak yang tahu juga bahwa rice cooker bisa digunakan untuk memasak makanan lain selain nasi. Sayapun tidak mau ketinggalan untuk mencobanya. Walaupun sejatinya saya tidak bisa memasak, tapi dengan sedikit usaha dan iseng-iseng mencoba, saya akhirnya bisa memasak makanan lain selain nasi lewat rice cooker. Walaupun hasilnya memang lebih sederhana bila dibanding makanan yang dimasak dari peralatan masak pada umumnya, tapi makanan versi rice cooker pun cukup layak untuk dinikmati.
Berikut adalah beberapa makanan yang telah saya masak lewat rice cooker. Yang belum pernah mungkin bisa mencobanya. Saya juga masih terus bereksperimen tentang makanan apa lagi yang bisa dimasak lewat rice cooker. Namun patut diingat juga, bahwasanya berkreasi boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu over juga menggunakan rice cooker. Pada hakikatnya, fungsi rice cooker sudah jelas untuk apa. Jadi jangan gunakan rice cooker diluar batas kemampuannya. Bisa-bisa malah jadi rusak. So, this is it!

Telur
Dengan rice cooker kita bisa memasak berbagai varian telur seperti yang biasa kita masak. Mulai dari telur rebus, dadar, ceplok, orak-arik dsb. Teknik pembuatannya (baik rebus atau goreng) juga sederhana saja, seperti masak telur pada umumnya. Tapi biasanya, saya menggoreng telur di rice cooker tidak menggunakan minyak goreng melainkan margarin. Selain lebih sehat dan hemat, juga membuat panci rice cooker lebih mudah dibersihkan.


Mie Instan
Mie instan jadi makanan yang paling sering dimasak di rice cooker. Cara memasaknyapun sederhana dan relatif mudah. Apalagi dalam kemasan mie instan sudah ada petunjuk/cara memasaknya. Jadi, kita tinggal mengikuti petunjuk yang tertera dalam kemasan sampai akhirnya bisa disajikan. Mie rebus atau mie goreng sama saja, hanya saja disini, medium kompor diganti dengan rice cooker. Ya, daripada beli mie diluar ternyata lebih mahal dan rasanya sama saja, mending masak sendiri kan?


Jelly
Awalnya terinspirasi dari seorang teman dan setelah saya coba sendiri, membuat jelly ternyata tidak terlalu sulit. Memasak jelly di rice cooker, sama halnya seperti memasak mie instan. Kita hanya tinggal mengikuti petunjuk yang tertera dalam kemasan. Kalau sudah matang bisa langsung dimasukkan dalam cetakan atau kalau tidak ada masukkan saja pada wadah yang besar. Kalau sudah siap disantap, bisa ditambahin susu kental biar rasanya tambah seru.


Roti Bakar/Panggang
Pertama kali saya membuat roti bakar di rice cooker hanya iseng saja. Terus karena rasanya lumayan, akhirnya jadi ketagihan. Cara membuatnya juga cukup mudah. Kita tinggal menyiapkan bahan-bahannya. Roti sudah pasti, dia bahan utamanya. Bisa pakai roti tawar yang biasa atau roti sejenis lainnya. Isiannya bisa pakai cokelat, susu, keju atau apapun bahkan gula pasir saja sudah cukup. Dan jangan lupa siapkan margarin atau mentega.
Pertama-tama, olesi permukaan panci rice cooker dengan margarin. Panaskan panci dengan menekan tombol cook. Sembari menunggu, kita siapkan roti yang akan dipanggang. Olesi seluruh sisi permukaan roti dengan margarin, kemudian masukkan isian roti yang sudah disiapkan. Ketika panci rice cooker sudah panas, masukkan roti yang tadi. Tekan tombol cook lagi, jangan terlalu lama biar tidak terlalu gosong. Kemudian roti dibalik. Lakukan hal yang sama pada sisi lainnya. Tingkat kematangan sesuai selera saja. Roti bakar versi rice cooker yang sudah bisa disantap, rasanya tidak kalah koq sama yang dijual abang-abang dijalan-jalan. Bahkan lebih mantap karena yang membuatnya kita sendiri. Oh ya, selain roti bakar, pisang bakar juga bisa dibuat disini.


Kolak Pisang
Eksperimen saya pada rice cooker selanjutnya setelah roti bakar adalah kolak. Berbekal waktu KKN dulu pernah melihat teman membuat kolak untuk buka puasa (tapi bukan di rice cooker). Saya jadi punya sedikit gambaran tentang cara membuat kolak. Kolak yang saya buat pertama kali di rice cooker adalah kolak pisang. Karena bahan-bahannya memang mudah didapat. Begini cara membuatnya.
Bahan-bahan:
1.     3-5 buah pisang (atau sesuai selera), jenis pisangnya terserah.
2.     Gula merah / gula jawa.
3.     Gula pasir.
4.    Santan cair.
Cara membuat:
1.     Panaskan panci rice cooker.
2.    Masukkan air secukupnya. Tekan cook.
3.    Larutkan gula merah / gula jawa sambil sesekali diaduk.
4.   Sambil menunggu panas dan gula merah larut bersama air. Potong pisang yang telah disiapkan menjadi bagian-bagian kecil (sesuai selera).
5.   Setelah gula merah larut, masukkan gula pasir secukupnya. Aduk-aduk. Untuk yang suka dan biasa, bisa ditambah sedikit garam. Kalau saya tidak pernah.
6.  Setelah beberapa saat, masukkan potongan pisang ke dalam larutan gula tadi. Tunggu sampai warnanya agak sedikit berubah sambil sesekali diaduk.
7.    Masukkan santan cair. Aduk hingga merata.
8.    Setelah matang, matikan rice cooker.
9.    Dan kolak pisang versi rice cooker pun telah siap dihidangkan.


Pancake
Membuat pancake di rice cooker juga tidak sesulit yang dibayangkan. Kita hanya tinggal membeli adonan pancake instan di supermarket. Dan seperti makanan instan lainnya, kitapun hanya cukup mengikuti petunjuk yang tertera dalam kemasan. Tak sampai 5 (lima) menit, pancake ala rice cooker sudah bisa dihidangkan.



Nasi Goreng
Memasak nasi putih biasa di rice cooker sudah terlalu mainstream, biar sedikit berbeda, ternyata nasi goreng pun bisa dihasilkan dari sebuah rice cooker. Cara membuatnya sama saja seperti nasi goreng pada umumnya. Hanya saja (sepertinya) membuat nasi goreng dalam rice cooker jangan terlalu sering, karena nasi goreng lumayan meninggalkan bekas 'bandel' pada panci rice cooker.  



Sampai saat ini, baru 7 (tujuh) makanan diatas yang sempat saya coba buat pakai rice cooker. Sebenarnya masih ada lagi makanan-makanan yang bisa dimasak pakai rice cooker seperti sayur, sup, bubur dll. Tapi sampai post ini dibuat, saya belum mencobanya. Next time, mungkin. Nanti kalau sudah ada hasilnya, post ini saya update lagi.

Tuesday, February 24, 2015

Nyinyir

Nyinyir. Dimanapun berada, entah kenapa saya sering sekali nyinyir melihat tingkah laku orang sekitar yang saya lihat. Saking seringnya, tanpa saya sadari, nyinyir itu telah menjadi sebuah kebiasaan yang sudah melekat dan sulit untuk dihilangkan. Seperti sebuah skill terlatih yang mubazir kalau tidak digunakan.
Bibit-bibit tumbuhnya kebiasaan nyinyir dalam diri saya dimulai waktu saya masih SMP (walaupun saya sekolah di MTs). Entah kenapa semenjak saat itu saya sering melihat hal-hal yang mengundang kenyinyiran dari orang-orang sekitar dan seringkali jadi bahasan bersama teman-teman ngobrol saya. Waktu itu saya belum sadar hingga kebiasaan nyinyir itu terus hinggap dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Sebelum memasuki inti dari post kali ini, saya akan mengajak flash back dulu ke masa dimana dan bagaimana nyinyir menjadi kebiasaan yang sering saya lakukan. Mungkin ini bukanlah tindakan yang terpuji dan sebaiknya tidak ditiru. Tapi biarpun begitu, saya percaya bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang mempunyai kebiasaan nyinyir. Oh ya, saya tambahin sedikit bahwasanya orang nyinyir itu berbeda dengan yang disebut orang sebagai haters.
Saya mulai dari zaman SMP. Hal pertama yang mengundang kenyinyiran saya adalah sekolah. Dimana saya sering melihat anak-anak perempuan yang kulit mukanya beda warna dengan kulit lehernya a.k.a kulit muka lebih putih dari kulit leher. Yang membuat nyinyir, warna putihnya itu lho, apa ya? Palsu gitu lah. Atau mungkin mereka memang suka gradasi warna kulit yang palsu? Saya tidak tahu. Selain itu, saya suka tak habis pikir ketika ada anak-anak perempuan yang disekolahnya biasa-biasa saja, cenderung tak terekspos malah, tapi bisa begitu liar dan menor kalau lagi diluar sekolah. Memang sih tidak semua anak seperti itu tapi yang saya sebutkan tadi juga tidak sedikit.
Sepintas saya berpikir, kenapa sih ke sekolah saja mesti dandan dan membuat kulit muka kayak perasan air beras? Kenapa nggak tampil biasa saja, apa adanya? Toh disekolah juga kerjanya gitu-gitu doang! Tapi saya laki-laki, tidak mengerti jalan pikiran mereka. Mungkin apa yang saya pikirkan tidak sesederhana seperti yang mereka pikirkan. Bisa saja dengan begitu mereka merasa lebih baik dari kelihatannya. Tapi tetap saja, saya malah nyinyir dibuatnya.
Saya mencoba berpikir lagi, mungkinkah ini ada hubungannya dengan definisi cantik dimasyarakat yang salah kaprah tapi sudah menjadi pakem yang mutlak bahwa cantik harus seperti ini, harus seperti itu? Putih misalnya. Karena alasan itulah mungkin remaja dan perempuan berlomba-lomba membuat kulit mereka putih seputih-putihnya agar mereka menjadi lebih cantik walaupun hanya berupa kamuflase guna menutupi kodrat warna kulit yang dikasih Tuhan.
Kemudian saya berpikir lagi. Menurut saya ada kesalahan dengan konsep iklan produk-produk kecantikan yang bertebaran dimasyarakat. Dimana yang sering saya lihat adalah iklan-iklan produk kecantikan di Indonesia berlomba-lomba memasang wajah-wajah cantik dan putih sebagai modelnya. Seolah mengintimidasi remaja atau perempuan di Indonesia bahwa dengan memakai produknya mereka bisa seputih dan secantik model tersebut. Saya suka merasa aneh melihat Raisa, Chelsea Islan dll jadi model iklan produk kecantikan. Ya, mereka mah sudah cantik dan putih dari sananya. Mau digimanain juga mereka mah sudah cantik (tssah!). Seharusnya produk-produk kecantikan itu berebut menjadikan perempuan-perempuan seperti Nam di ‘Crazy Little Thing Called Love’ menjadi model/bintang iklan. Atau Aurel (mungkin) pada saat ia merilis single+klip ‘Dimarahi Tuhan’. Itu justru lebih logis menurut saya.
Ok, kita kita tinggalkan kenyinyiran yang pertama, kita lanjut pada kenyinyiran yang kedua. Ini terjadi saat saya SMA. Hal yang membuat saya nyinyir di SMA adalah soal musik. Sebagai seorang yang dulunya anak band (ngakunya), saya seringkali melakukan kebiasaan nyinyir melihat orang-orang yang dalam playlist lagu dihandphone-nya mengoleksi lagu-lagu dari band macam Salju, Mahkota dan sebangsanya. Lebih nyinyir lagi kalau mereka memutar lagu-lagu itu keras-keras. Ingin sekali rasanya menghapusnya. Saya pernah melihat ada orang naik motor yang dipasangin speaker terus muter-muter gak jelas dijalan sambil mutarin lagu Mahkota. Itu sungguh sangat menyiksa. Selera musik orang ternyata membuat saya nyinyir.
Waktu itu saya termasuk orang yang nyinyir sama musik dangdut (mungkin juga sampai sekarang). Bukan karena apa, musik dangdut yang saya kenal waktu kecil sangat jauh berbeda dengan musik dangdut saat itu (SMA) dan saat ini. Musik dangdut dalam era baru kebanyakan absurdnya. Mulai dari judul, lirik sampai goyangan, sama absurdnya. Banyak lirik-lirik lagu yang absurd menurut saya. Lirik-lirik macam, “susu yang inilah, susu yang itulah”, “wanita punya lubang buaya”. Woi! Itu apaan? Absurd! Sumpah! Dan parahnya itu hanya sebagian kecil saja. Karena masih banyak lirik-lirik dan judul lain yang tak kalah absurd.
Terus goyangan, entah para penyanyi dangdut zaman sekarang terlampau kreatif atau gimana sampai bisa menemukan goyangan yang sangat absurd bahkan membuat saya speechless. Ambil contoh goyang dribble. Itu apaan lagi? Absurd! Sumpah! Kenapa dangdut ‘is the musik of country’ menjadi begini? Kemana musik dangdut yang saya kenal waktu kecil dulu? Saya rindu musik dangdut yang dulu.
Tak berhenti sampai disitu, para pencipta lagu dangdut zaman sekarang juga sama kreatifnya sampai bisa bikin lagu persis seperti lagu yang sudah ada. Coba deh dengerin ‘Pusing Pala Barbie’-nya Putri Bahar terus dengerin ‘All About That Bass’-nya Meghan Trainor! Dijamin terkagum. Kabar baiknya, lagu ‘Pusing Pala Barbie’ bukanlah satu-satunya lagu dangdut yang mirip dengan lagu lain.
Lanjut!
Saya menjalani periode SMA kira-kira kisaran tahun 2007-2010. Pada periode itu, happening banget yang namanya social media. Nah socmed inilah yang mengundang kenyinyiran saya berikutnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tingkah laku orang-orang di socmed itu sendiri. Saya sendiri pernah membuat akun facebook waktu itu namun hanya berumur satu hari, saya langsung tinggalkan, non-aktifkan dan tak pernah dibuka-buka lagi. Karena saya tak tahan untuk tidak nyinyir melihat tingkah polah pengguna socmed. Mulai dari masang nama yang aneh-aneh. Sampai saya merasa bodoh karena tak bisa membacanya. Bahkan sampai mulut saya berbusa. Entah nama mereka dikasih nama seperti itu sama orang tua mereka atau bagaimana, saya tidak mengerti. Terus majang profil picture yang sama anehnya. Pose-pose absurd dan saya tidak tahu menyebutnya itu apa. Ada juga yang masang foto selebritis sebagai profil picture. Mau ngapain coba? Emang situ nggak punya muka?
Itu hanya sebagian kecil, masih ada kenyinyiran yang saya dapat dari socmed. Entah kenapa, adanya istilah update status menjadi begitu mengundang kenyinyiran. Masalahnya adalah adanya update status justru membuat banyak orang menjadi hobi mengeluh. Kayaknya hidup sebagai anak SMA itu berat banget buat mereka. Apa-apa yang terjadi mengeluh. Ujian sedikit, mengeluh. Remidial sedikit, mengeluh. Dan masih banyak hal lain yang dikeluhkan seolah itu cobaan hidup yang berat sekali. Yang membuat saya semakin nyinyir adalah orang yang berdoa di socmed. Saya bukanlah orang religius, tapi itu, apa maksudnya? Apakah dengan berdoa di socmed Tuhan semakin mendengar doa kita? Itu belum ditambah gaya penulisannya. Entah menemukan dari literatur mana dan siapa pencetusnya tapi tata cara penulisan bahasa Indonesia yang mereka buat membuat mata saya sakit.
Kenyinyiran-kenyinyiran yang terjadi karena socmed membuat saya memutuskan untuk tidak mendekati socmed lagi. Saya cukup idealis untuk hal itu. Dan selama SMA saya berhasil melakukannya (hore!) dan itu berlanjut sampai saya kuliah. Dengan idealisme yang saya anut, saya adalah satu-satunya mahasiswa baru yang tak punya akun facebook atau twitter. Waktu perkuliahan bergulir saya masih idealis untuk tidak mendekati socmed. Hingga setahun berlalu, idealisme sayapun luluh. Berbedanya kehidupan sekolah dan kuliah menuntut saya harus punya akun socmed. Dan pada akhirnya, dengan alasan “kebutuhan” sayapun membuat akun facebook untuk kedua kalinya, namun yang ini tidak akan saya tinggalkan dan non-aktifkan seperti yang dulu. Satu pelajaran yang saya dapat dari situ adalah “KEBUTUHAN MERUNTUHKAN IDEALISME”.
Mungkin itulah beberapa hal yang membuat saya nyinyir. Dan daripada terus panjang-panjang tak ada juntrungan, sebaiknya saya lanjutkan pada inti dari post kali ini. Jadi, intinya adalah nggak ada! LOL.
Ok jadi begini, faktor bertambahnya usia, sedikit banyaknya mampu berpengaruh dan membuat pola pikir kita berubah. Bukan hanya tentang apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Tapi tentang bagaimana cara kita memandang kehidupan dengan segala problema dibaliknya. Kehadiran orang-orang baru dan berbeda turut menghadirkan pemikiran,  pandangan dan pengalaman baru. Hal itu berjalan beriringan bersama apa yang terjadi disekitar kita. Darisana mungkin kita bisa tahu ada diposisi mana kita seharusnya.
Apa yang telah saya sebutkan diatas perlahan memuat mata saya terbuka, terutama soal kebiasaan saya yang suka nyinyir. Saya sadar bahwa banyak hal yang menurut saya tidak menarik, menyebalkan, ngeselin dan ujung-ujungnya membuat nyinyir, justru itulah (mungkin) yang membuat orang lain bahagia. Ya, kita harus mengerti kebahagiaan orang lain walaupun itu tidak menarik untuk kita (Ernest Prakasa). Karena seringnya, orang lain yang bahagia, kita nggak terganggu, tapi kita yang nyinyir (Ernest Prakasa). Dan itu memang sering terjadi pada diri kita, termasuk saya.
Oleh karena itu, saya sedang belajar untuk nggak nyinyir lagi atau setidaknya mengurangi nyinyir itu sendiri. Karena saya menyadari, bahwa apa yang saya lakukan didunia nyata maupun maya, selera musik atau film saya, penampilan, dandanan atau cara berjalan saya, mungkin juga sebenarnya mengundang kenyinyiran buat orang-orang. 
Dan terkadang, kita nyinyir karena kita tidak berada pada posisi dari apa yang kita nyinyirkan. Misalkan. Senyinyir-nyinyirnya anda sama sinetron GGS kalau anda ditawari jadi pemerannya terus dibayar mahal, berpikir untuk menolakkah anda? Atau senyinyir-nyinyirnya anda sama acara pernikahan live atau lahiran di TV, kalau anda justru yang ada diposisi itu, bagaimana sikap anda? Senyinyir-nyinyirnya musisi sama acara musik (katanya) pagi, buktinya masih ada saja yang mau tampil disitu. Sedikitnya hal itu menjadi bahan pemikiran buat saya. Memang masih banyak diantara kita yang idealis tapi tak sedikit juga yang munafik.
Pada akhirnya, saya sering berpikir dua kali untuk melakukan nyinyir. Ya, karena cara orang-orang untuk bahagia memang berbeda dan kadang kita tak mengerti karenanya. Tapi kita juga harus menghargai dan menghormatinya. Terserah orang mau berbuat apa dan bagaimana, kalau memang tidak mengganggu, buat apa kita nyinyir. Tapi kalau memang masih ingin nyinyir dan tak tahan untuk tidak nyinyir, ya bebaslah mau nyinyir atau nggak. Karena saya juga masih sering gagal untuk tidak nyinyir melihat apa yang terjadi. Tapi tulisan ini, setidaknya mengingatkan saya untuk tidak nyinyir sama orang atau apapun yang memang mengundang kenyinyiran.

Thursday, February 5, 2015

Nanti. Nanti saja. Lalu nanti. Nanti lagi. Kemudian nanti. Masih nanti. Akhirnya nanti. Terus nanti. Nanti terus. Dan nanti. Sampai nanti.

Seperti sebuah kebiasaan lumrah ketika banyak dari kita (termasuk yang nulis) menunda-nunda sesuatu untuk dikerjakan. Berjuta-juta alasan A-Z seringkali menyelimuti penundaan-penundaan yang tiada henti berlandaskan “nanti dan nanti”. Entah karena terlalu mudah atau terlalu sukar. Entah kita yang tak berbakat atau kurang percaya diri. Entah kita yang mudah menyerah atau justru malah terlalu perfeksionis terhadap hasil. Atau kita sendiri yang tidak tahu harus bagaimana.
Pada dasarnya menunda-nunda sesuatu yang harus kita kerjakan tidak lantas membuatnya menjadi lebih mudah. Atau lebih kecil dari seharusnya. Ditunda sampai kapanpun wujudnya akan tetap sama. Bukit yang akan kita daki takkan pernah menjadi datar dengan kita menunggu. Jadi kenapa masih berpikir untuk menunda? Toh apa yang kita tunda tetap harus dikerjakan juga. Dengan menunda, justru kita memberi kesempatan hasil pekerjaan kita tidak maksimal. Yang lebih parah malah tidak selesai bahkan tidak terjamah sama sekali.
Kebiasaan menunda adalah sebuah stimulus pada otak agar kita terus melakukan hal yang sama. Ketika otak terus dijejali stimulus yang sama, secara otomatis organ-organ tubuhpun akan merespon hal yang sama. Pada akhirnya, jika terus-terusan dibiarkan, pekerjaan menunda adalah pilihan tepat yang kita lakukan setiap kali kita harus mengerjakan sesuatu. Kebiasaan menunda memang seperti sebuah penyakit yang akan terus menggerogoti penderitanya. Semakin didiamkan ia akan terus menjalar ke seluruh tubuh.
Nanti dan nanti...
Hanyalah sebuah pelarian diri dari ketidakmampuan melawan diri sendiri yang selalu bersandar pada alasan-alasan abstrak. Seolah bergemuruh suara-suara pikiran yang menyuruh untuk bilang “nanti dan nanti”. Seolah semua indera tak bisa bergerak untuk memulai karena dihalangi bisikan “nanti dan nanti”. Atau begitu mudahnya teralihkan dengan hal-hal tak substansial karena godaan “nanti dan nanti”.
Daripada kita terus berkutat pada “nanti dan nanti” yang menjadikan semuanya tertunda. Kenapa tidak kita buat semua hal itu sederhana. Pertama, kita ganti waham “nanti dan nanti” dengan ‘sekarang dan sekarang’. Itu jauh lebih baik. Selanjutnya segeralah memulai. Memang berat untuk memulai, sayapun mengakuinya. Berat sekali. Butuh tenaga penuh dan ekstra untuk melakukannya. Tapi percayalah, mau berusaha sedikit dengan hal kecil saja, dampaknya sudah luar biasa. Yang perlu kita lakukan hanya satu, memulainya.
Jadi sampai kapankah kita mau menunda-nunda sesuatu yang harus kita kerjakan? Nanti? Sampai kapan?

Wednesday, September 17, 2014

(Ternyata) On Time Itu Keren!!!

[...] Sebelum masuk ke tulisan utama, saya baru sadar ternyata tulisan ini, tulisan lama dan udah dari tahun 2012 lalu nyempil di draft dan nggak pernah saya publish.

Berbicara mengenai ‘on time’ tentu tak akan pernah lepas dari lawan katanya yaitu terlambat. Dan berbicara soal keterlambatan, beberapa waktu lalu saya pernah lewat depan SD dan saya melihat ada beberapa anak yang menunggu diluar dengan wajah begitu murung seakan penuh penyesalan karena gerbang sekolah ditutup dan mereka tak bisa masuk. Saya berpikir bahwa anak-anak tersebut terlambat datang sehingga mereka tidak langsung dimasukkan gurunya saat siswa lain tengah berbaris di lapangan upacara. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada saya saat itu yang juga datang terlambat ke kampus. Tapi berbeda dengan anak SD tadi, seperti tak ada perasaan menyesal, saya berjalan dengan santainya tanpa merasa bahwa sebenarnya saya sudah terlambat. Alasannya sederhana saja, karena kebiasaan dosen yang datang terlambat makanya sayapun berbuat demikian dengan keyakinan bahwa dosen tsb tidak akan lebih ‘on time’ dari saya.
Keterlambatan bukan hal aneh bagi saya, mungkin juga buat orang lain yang ada didunia ini. Pada awalnya, rasa keterlambatan saya mulai ada pas saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu setiap saya berangkat ke sekolah, saya selalu melihat anak-anak SMA yang nongkrong dengan santainya (padahal jelas-jelas mereka sudah terlambat ke sekolah), ngobrol, tertawa, bercanda, bersenda gura dan itu terlihat keren menurut saya. Sehingga pernah terlintas di pikiran bahwa kalau sudah SMA maka saya akan seperti itu. Dan akhirnya, pas saya SMA semua itu terbukti.
Sejak SMA mulailah rasa keterlambatan itu muncul. Sebelum benar-benar berangkat  ke sekolah saya selalu nongkrong, ngumpul sama teman-teman dan ketika waktu menunjukkan keterlambatan barulah saya berangkat. Dan akhirnya, hal-hal seperti berdiri didepan sekolah, diceramahi guru, dihukum, dapat catatan merah absensi, tidak masuk kelas jam pertama atau lari keliling lapangan sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan yang paling ekstrem adalah disuruh pindah sekolah gara-gara keseringan datang terlambat.
Sebenarnya saya bukanlah termasuk orang yang parah dalam urusan keterlambatan, masih banyak orang yang lebih parah dalam urusan keterlambatan dibandingkan saya. Tapi pada dasarnya mau kita terlambat sedetik, semenit, sejam atau seharianpun, terlambat ya terlambat dan tak ada alasan untuk itu. Walaupun kadang ada alasan yang sangat logis untuk terlambat, tapi kadang hal itu tidak begitu berarti.
Banyak faktor sebenarnya yang membuat orang mengalami keterlambatan. Latar belakang sosial, lingkungan, pola pikir, kebiasaan dan keadaan hidup orang saat itu bisa membuat orang mengalami keterlambatan. Dan semua itu berujung pada satu kata, alasan. Alasan tentu ada yang memang benar-benar logis dan bisa dipertanggungjawabkan, ada pula yang dibuat-buat demi menutupi kesalah diri. Yang menyedihkan adalah orang menjadikan hal itu sebagai kebiasaan, karena mau buat alasan macam apapun, alasannya tetap tidak akan diterima siapapun.
Dan hari dimana saya lewat depan SD tadi itulah yang saat ini merubah pandangan saya. Saya yang dulu merasa bahwa keterlambatan itu adalah hal yang biasa dan cenderung menganggap hal itu keren (terutama pas SMA) sedikit demi sedikit saya rubah.
‘On Time’ itu ternyata jauh lebih baik daripada kita terlambat. Dengan ‘On Time’ kita bisa jauh lebih menghargai waktu bahkan kita bisa sangat menghargai diri kita sebagai seorang individu. On Time dalam hal apapun bisa menjadikan diri kita disiplin, bertanggung jawab dan penuh ketaatan terhadap suatu aturan yang mengikat kita dimanapun kita berada, kitapun tak akan merasa terbebani dengan apapun yang akan mengikat kita nanti.
Ketika kita memilih ‘on time’ untuk setiap hal maka itu adalah pilihan yang benar. Walaupun pada kenyataannya ketika kita berkomitmen untuk ‘on time’, lingkungan tempat dimana harus ‘on time’-pun kadang tidak seperti yang diharapkan. Seperti saya datang terlambat kuliah karena dosen yang sering terlambat pula. Dengan alasan, “buat apa saya datang tepat waktu, kalau dosennya selalu datang terlambat?”. Kadang hal-hal seperti itulah yang menyurutkan komitmen kita untuk selalu ‘on time’. Tapi satu hal yang saya garisbawahi adalah bahwa ketika kita memilih sesuatu pilihan tentu akan ada hal yang selalu menghalangi kita memilih hal tersebut, apalagi kalau hal itu baik.
‘On time’ adalah sebuah tekad, komitmen diri tanpa perlu men-judge orang lain yang tidak berlaku sama. Karena kalau kita selalu men-judge orang maka hanya akan ada kekesalan dan kekecewaan saja yang akan kita dapatkan. Kita ‘on time’ untuk diri sendiri, ‘on time’ karena ini adalah tanggung jawab individu kepada individu lain dalam sebuah aturan tertulis maupun tidak tertulis. Dan kita tak perlu mengharapkan apapun dari ‘on time’-nya kita, karena hal itu tidak berguna sama sekali. Hal itu tidak perlulah diharapkan atau dinantikan, karena hal itulah yang akan mendatangi kita dengan sendirinya.
Tentunya sebagai manusia kitapun tak bisa melakukan sesuatu secara utuh dan sempurna. Begitupun dengan ‘on time’. Karena suatu saat pasti akan ada hal yang membuat kita untuk tidak ‘on time’ (termasuk yang nulis). Tapi setelah itu, justru kita harus semakin berusaha untuk ‘on time’. Ya, minimal ketika kita terlambat ada raut kekecewaan atau penyesalan yang menyelimuti diri ketika kita terlambat. Walaupun ada istilah “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”, maka hal itu jangan dijadikan kebiasaan atau alasan untuk kita selalu melakukan keterlambatan dalam setiap hal. Karena ada hal yang jauh lebih baik, lebih keren daripada keterlambatan. Dan hal itu adalah ‘ON TIME’. 

Sunday, November 17, 2013

Yang Saya Keluhkan Dari ‘Social Media’



‘Social Media’ bukanlah sebuah hal yang aneh dan baru di dunia manusia saat ini. Bahkan sekarang, semakin banyak saja jenis ‘Social Media’ yang ada. Penggunanya? Sudah tak diragukan lagi. BANYAK!
Pencetus atau orang yang membuat ‘Social Media’ pada awalnya mungkin mempunyai tujuan yang baik salah satunya mungkin, agar jarak yang jauh tak lagi jadi masalah untuk orang saling terhubung. Tapi faktanya, sesuatu yang ada didunia ini tentunya memiliki 2 (dua) unsur yang tak akan bisa dipisahkan. Sepertinya halnya magnet, ‘Social Media’-pun punya sisi positif dan negatifnya.
Ada banyak cara orang menggunakan ‘Social Media’. Semuanya itu mencerminkan karakter manusia sendiri yang memang sudah banyak dan beragam. Tak ada salahnya memang menggunakan ‘Social Media’ itu dengan cara apa atau mau nulis apa. Yang terpenting kan tidak melanggar hukum.
Menurut sebuah sumber, jika diperhatikan, memang semakin kesini pengguna ‘Social Media’ ini sudah mengalami pergeseran makna penggunaan dari yang seharusnya. Dan kadang hal itu menjadi bahan pemikiran tersendiri bagi saya. Dengan kata lain, saya mengeluhkannya.

Kenapa harus mengeluh soal kehidupan di ‘Social Media’?
Saya suka bingung, kenapa orang-orang harus selalu menumpahkan semua keluh kesah hidupnya di ‘Social Media’. Hal ini sebenarnya tidak begitu mengganggu buat saya walaupun terkadang bikin risih juga. Sesekali mungkin wajar tapi kalau terus-terusan ngeluh, apakah ini wajar? Memang dengan begitu semua permasalahan hidup selesai seketika? Tidak kan? Lalu kenapa tidak cari solusi konkret dan pasti saja? Daripada harus ngeluh di ‘Social Media’. Masalah ‘kan memang akan selalu ada selama manusia itu masih hidup. Jadi, tak harus setiap keluh kesah hidup kita tumpahkan di ‘Social Media’, karena buat apa? Demi mendapat simpati banyak orang?

Kenapa harus berdo’a di ‘Social Media’?
Ini yang menurut saya parah, orang yang berdo’a di ‘Social Media’. Kenapa ya? Padahal menurut saya berdo’a adalah sebuah ritual sakral dan sangat pribadi. Sifatnyapun private. Memang harus ya do’a kita diketahui sama semua orang? Bukankah berdo’a itu urusan manusia sama Tuhan-nya? ‘Social Media’-kan bukan Tuhan. Jadi, kenapa harus menuliskan barisan doa’a di ‘Social Media’? Lebih baik, kita bangun di malam hari, bersihkan diri kita, bersimpuh dan bersujud di hadapan-Nya, sampaikanlah semua keluh kesah hidup dan keinginan kita pada-Nya. Disanalah kita berdo’a dan memang seharusnya begitu. Bukan di ‘Social Media’.

Kenapa harus nyindir orang di ‘Social Media’?
Ini yang paling saya benci. Nyindir orang di ‘Social Media’ padahal dalam kehidupan nyata dia itu kenal. Bukan apa-apa, gak penting banget, sumpah! Ya, dalam beberapa kesempatan memang ada tulisan di ‘Social Media’ itu dibuat untuk nyindir seseorang dengan alasan tertentu. Entah karena kesal atau apa. Buat saya, kenapa harus ditulis di ‘Social Media’? Kenapa tidak bilang saja langsung? Siapa tahu itu cuma salah paham. Kalau ditulis di ‘Social Media’, berapa banyak orang yang lihat tulisan tersebut? Apa tanggapan mereka? Belum lagi, kalau ada orang yang gak tahu apa-apa ikut-ikutan komentar. Ujung-ujungnya nanti malah ngomongin aib orang lain. Bukankah ngomongin orang itu tidak baik? Apalagi ini yang diomongin kejelekannya. Mending kalau orang disindir itu gak nanggepin, kalau ikutan komentar bisa jadi ribut, berantem dsb. Itu ‘kan bukan perbuatan yang baik. Lebih baik ngomong langsung sama orangnya. Komunikasikan saja apa yang mengganjal tentang sikap seseorang. Karena bisa saja hal itu cuma prasangka buruk ketika itu saja, ketika diobrolkan bisa jadi semua itu salah. Dan dengan bicara langsung dan ngobrol baik-baik permasalahan bisa selesai. Itu ‘kan jauh lebih baik.

Pada akhirnya, semua memang kembali lagi pada diri masing-masing, bagaimana cara kita menggunakan ‘Social Media’ tersebut. Pada dasarnya memang tak ada kriteria khusus mengenai cara mengisi atau apa yang harus diisi pada kotak ‘What’s on your mind?’, ‘What happened?’ atau yang lainnya. Semua orang bebas menuliskan apa saja yang dia mau. Tapi sebagai pengguna, kita juga harus tahu apa yang dirasa baik dan pantas untuk diisi di kotak tersebut. Harus pandai memilih dan memilah hal apa saja yang memang harus dibagi di ‘Social Media’ dengan pengguna lainnya.

Saturday, May 25, 2013

Tidak Cukup Hanya Sekedar Santai

Ada dua kejadian yang melatarbelakangi saya membuat postingan ini. Pertama, naik bis. Kedua, milih lokasi KKN. Dan kedua hal tersebut benar-benar menyadarkan saya tentang satu hal bahwa dunia ini ‘Tidak Cukup Hanya Sekedar Santai’. Mengapa?
Saya termasuk orang-orang yang masuk kategori terlalu santai dalam menghadapi hal-hal yang ada didunia ini. Punya prinsip ‘Slow But Sure’, ‘Alon-alon Asal Kelakon’, dsb. Tidak salah sebenarnya kita puya prinsip demikian, hanya saja kalau kita tidak bisa me-manage diri kita terhadap prinsip tersebut, hal itu hanya akan jadi alibi bagi diri kita yang sesungguhnya telah mengkhianati prinsip tersebut. Dan dalam beberapa hal, itu terjadi pada saya. Dua pengalaman yang telah saya sebut diatas mungkin jadi hal paling konkrit untuk menjelaskannya.
Naik bis. Kita tahulah bagaimana keadaannya, apalagi pas hari-hari besar. Kalau gak buru-buru pasti ketinggalan dan karena terlalu santai hampir sering saya ketinggalan (efek terlalu santai).
Milih lokasi KKN. KKN itu salah satu program kuliah dikampus. Di kampus lain juga ada hanya mungkin sistemnya saja yang berbeda. Dan yang menarik dikampus saya (gak tahu kampus lain) untuk memilih lokasi KKN kita harus rebutan dengan peserta lain agar kita berada di lokasi yang kita inginkan. Dan kalau terlalu santai kita pasti akan terlempar jauh dari apa yang kita harapkan. Dan ternyata itu sudah terjadi pada saya, bahkan lebih parah. Siapa cepat, dia dapat.
Dua peristiwa diatas mungkin masih belum bisa dimengerti maksudnya. Intinya sih gini. Ada hal didunia ini yang harus kita sikapi dengan santai dan ada juga yang tidak boleh disikapi dengan santai.
Banyak orang bilang bahwa menghadapi hidup itu santai saja, ikuti alur yang ada, yang penting tujuannya tercapai. Benar sebenarnya. Tapi tanya pada saat kapan, dimana dan bagaimana kita harus berbuat demikian. Karena tidak mungkin ketika kita sedang lomba lari, kita hanya berlari santai tanpa punya hasrat untuk sampai pertama kali ke garis finish. Sementara pelari lain berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai finish. Walaupun nanti pada akhirnya kita sampai di garis finish tapi apakah kita pemenangnya? Jawaban saya tidak.
Karena didunia ini memang ada hal yang harus kita kejar dengan sungguh-sungguh. Ada hal yang harus diusahakan, tidak bisa disikapi cuma sekedar santai. Harus cepat-cepat kalau tidak mau ketinggalan kereta. Harus sesegera mungkin kalau tidak ingin ada penyesalan di ujung. Untuk itu, kita tidak bisa hanya bersikap santai saja, karena tentu kita akan tertinggal dan semakin tertinggal. Bahkan hanya dalam hitungan detik. Kita harus berlari sekencang-kencangnya, menjadi yang terdepan dan semakin terdepan.
Santai boleh saja, ketika tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Santai boleh saja ketika keadaannya tepat. Santai boleh saja, tapi jangan terlalu santai juga. Kalau masih sanggup berlari kenapa harus berjalan. Karena tidak selamanya pelan itu pasti. Dan tidak selamanya pelan itu menjamin sebuah hal untuk dapat terlaksana.

Friday, May 3, 2013

Yang Susah Itu: Memulai?


Title diatas sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan kondisi saya akhir-akhir ini. Kondisi dimana saya benar-benar sulit memulai sesuatu. Sulit banget malah. Bahkan untuk hal yang berpredikat ‘KEWAJIBAN’ bagi saya. Tak heran, begitu banyak hal yang terlewatkan, seakan waktu terbuang begitu saja. Sia-sia. Percuma. Sialnya, semua itu terjadi terus dan terus, lagi dan lagi. Oh, No!!! It’s so damn. Very, very DAMN!!
Memulai. Ya, kalau dipikir-pikir semua hal didunia ini memang awalnya berasal dari proses memulai. Dunia dan segala isinya ini tercipta dari proses memulai. Bahkan kita-kita inipun tercipta dari proses memulai. Karena memang semua ini ada permulaannya, tidak serta merta. Dan permulaan itu berawal dari proses memulai.
Tapi mengapa memulai itu begitu sulit?
Kita hidup didunia ini dengan segala problematika random-nya mengajarkan kita sebuah pelajaran. Kita punya peran yang harus kita perankan. Kita harus mengkaji semua hal didunia ini sebagai wujud PERUBAHAN untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan itu semua gak terjadi begitu saja alias butuh proses. Dan proses itu takkan terjadi bila tidak dimulai.
‘No Action = Daydreaming’. Karena tanpa perbuatan, semuanya cuma omong kosong (mimpi aja di siang bolong!). Seperti berharap dalam doa dan saat membuka mata semua yang diharapkan sudah ada didepan mata. Atau mengharapkan kertas-kertas kosong yang numpuk berserakan tiba-tiba udah keisi penuh dan rapi sama gambar denah, potongan dan tampak (curhat). Haha, bullshit!
Ada banyak alasan kenapa memulai itu jadi sulit. Mungkin karena kita terlalu banyak berpikir dan berencana. Terlalu banyak memikirkan resiko-resiko yang sebenarnya masih belum terjadi sehingga kita jadi phobia untuk memulai. Pada kenyataannya apa yang kita pikirkan hanya sebuah teori usang saja. Mungkin juga karena kita terlalu nyaman berada di comfortzone-nya sehingga sulit memulai sesuatu hal yang baru. Atau mungkin, bukan mungkin ini pasti. Kita punya penyakit MALAS stadium akhir. Hingga semuanya begitu sulit dimulai. Dan sepertinya alasan yang satu ini memang yang paling berbahaya. ‘Cause lazy is better danger than cancer and so cruel, man!!!
Memulai perubahan atau memulai melakukan sesuatu memang perlu mental baja. Butuh keberanian ekstra. Perlu kesungguhan dan totalitas yang tanpa batas. Tentunya niat yang bulat serta tekad yang kuat. Karena godaannya juga dahsyat, apalagi penyakit malas sialan itu. What the hell are you doing to me?
Memulai memang tidak perlu harus dengan hal-hal yang besar, cukup dengan hal-hal kecil saja. Nantinya juga akan berproses dan perlahan menjadi besar. Seperti kata-kata bijak Aa Gym: Mulailah dari hal yang terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini. Semuanya memang dimulai kan?
Ada juga sebuah kalimat yang bagus menurut saya bunyinya seperti ini: “Apabila kamu menunggu sesuatu untuk terjadi, maka itu tidak akan terjadi”. Kalimat itu mengindikasikan bahwa kita harus segala memulai. Tak perlu lagi berpikir dan menunggu. Karena gak ada yang turun dari langit dengan cuma-cuma. So, Do it now and let’s BEGIN! Because if not now, WHEN?
Mudah atau sulitnya memulai, actually masih kabur dimata saya dan masih jadi tanda tanya besar. Kalimat diatas memang terdengar klise. Mudah diungkapkan tapi sulit dilakukan. Karena memang saat ini, kenyataannya saya sendiri sulit sekali untuk memulai sesuatu. Bahkan hanya untuk sekedar ngambil air minum, susahnya minta ampun. Terus ngapain nulis beginian?
Ya, pada akhirnya semua balik lagi pada pribadi kita masing-masing. Hidup memang tidak melulu bicara tentang bagaimana kita memulai. Tapi memulai adalah hal yang penting. Dari sanalah kita bisa mendapatkan apa yang sebenarnya kita cari. Memulai itu memang terkadang hanya sulit diawalnya saja, kesananya percaya atau tidak kita akan menikmatinya, justru kita akan sangat menyesal dan bilang “kenapa gak dari dulu kayak gini?”
So, masih sulitkah bagi kita untuk memulai?

Wednesday, April 17, 2013

Masalah Adalah...


Masalah, masalah dan masalah. Kayaknya kata yang satu ini selalu ada dalam hidup kita. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan bisa jadi saat tertidurpun masih ada yang namanya masalah itu. Emang makhluk apa masalah itu?
Orang bilang: Masalah itu keadaan. Masalah itu proses. Masalah itu anugerah. Masalah itu berat. Masalah itu pembelajaran. Masalah itu introspeksi. Masalah itu latihan. Masalah itu tantangan. Masalah itu hidup. Sederhananya, banyak yang bilang bahwa masalah adalah ketika keinginan tak sesuai dengan kenyataan. It’s so simple.
Semua orang didunia ini, siapapun dia. Tak peduli orang mana, profesinya apa, pendidikannya gimana. Pasti dia punya masalah. Masalahnya apa, terserah si masalah itu sendiri. Mau masalah berat, kecil, ringan, sedang atau apapun. Datangnya darimana, gimana, kapan yang pasti masalah itu selalu ada. Sadar atau tidak. Dan karena masalah selalu ada disekitar kita, maka apa yang seharusnya kita lakukan untuk si masalah ini?
Ada sebuah pepatah mengatakan: “Bersahabatlah dengan masalah maka masalahpun akan bersahabat dengan kita”. Mungkin ini juga disadari Lenka lewat lagunya yang berjuduk ‘Trouble Is A Friend’ yang berarti masalah adalah teman. Dua kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa masalah adalah bagian dari hidup kita. Kita pasti bisa membayangkan bagaimana jika kita hidup tanpa teman, hanya sendiri didunia ini. Pasti hidup kita akan terasa hampa. Begitu juga dengan masalah, bagaimana jika hidup tanpa masalah? Masih berartikah hidup kita?

Trouble he will find you, no matter where you go
No matter if you're fast, no matter if you're slow
The eye of the storm or the cry in the morn
You're fine for a while but you start to lose control...
He's there in the dark. He's there in my heart
He waits in the wings. He's gotta play a part
_Lenka_

Setiap orang punya masalahnya sendiri. Plus kadarnya. Karena memang kadar permasalahan yang dihadapi seseorang pasti berbeda. Bisa jadi untuk orang yang satu masalah itu adalah masalah yang besar, tapi untuk sebagian yang lain bisa jadi itu cuma hal kecil yang numpang lewat saja, padahal akar permasalahannya sama. Ya, berat atau tidaknya sebuah masalah itu tergantung kita. Karena setiap orang memang punya pandangan sendiri tentang masalahnya. Tapi yang pasti Tuhan telah menetapkan bahwa tidak akan ada satu masalahpun yang Dia berikan melainkan kita bisa mengatasinya.
Pada dasarnya, saat kita dihadapkan pada sebuah masalah, sesungguhnya kita bisa memilih. Kita memilih lari atau menghadapinya. Lari berarti kita lari dari kenyataan terhadap masalah itu sendiri. Tapi bisa jadi hal itu bukanlah solusi yang tepat. Karena sesungguhnya kita tak akan pernah bisa lari dari masalah. Malah masalah akan terus menghantui kita. Memilih menghadapinya mungkin langkah yang paling bijak. Menghadapinya berarti kita mencari solusi untuk menyelesaikannya. Memang kadang tak bisa semua diselesaikan karena akan selalu ada masalah baru setelah masalah lain pergi. Memang terkadang berat juga untuk menyelesaikannya, bahkan bisa sangat sulit. Tapi seperti kata ‘Last Child’ bahwa kita bisa anggap semua itu adalah satu langkah untuk mendewasakan diri kita dan menjadi pribadi lebih baik dari yang sebelumnya. Walaupun tentu semua itu tidaklah mudah. Semua butuh proses. Dan dari proses itulah kita akan dapatkan sesuatu yang hanya kita yang akan mendapatkannya.
Kita bisa belajar dari masalah dan memperbaiki diri karenanya. Karena masalah akan membuat jati diri kita yang sesungguhnya. Seperti yang saya kutip dari film ‘The Amazing Spiderman’ berikut ini.
Well, take it from an old man:
Those things send us down a road
They make us who we are
_Richard Parker_

Masalah pada hakikatnya bukanlah masalah. Mungkin itu adalah hal yang memang dipersiapkan demi kebaikan kita. Hanya kita yang harus benar-benar menyadari dan menerimanya sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan setelahnya. Seperti kata puisi yang diambil dari buku ‘Kisah Lainnya’ berikut.

Pada saat masalahmu menghampirimu, janganlah berkecil hati
Itu adalah pasangan hidupmu
Itu adalah takdirmu
Sesuatu yang sudah dipersiapkan untukmu
Bahkan sebelum kau dilahirkan
Itu adalah pelengkap hidupmu
Itu adalah gurumu, maka cintailah dia
Penilaian Tuhan tidak dimulai saat kau menerimanya
Karena semua orang akan menerimanya, tanpa terkecuali
Selayaknya seperti orang-orang sebelumnya

Jangan pernah berusaha menolak kesalahanmu
Terimalah itu sebagai bekalmu, untuk perjalanan panjangmu
Justru kesalahanmu dimulai ketika kau menolak menerima kesalahanmu
Sedangkan kau menyadarinya

Lapangkanlah dadamu, sehingga luas, tempat untuk ilmu yang berguna
Penilaian Tuhan dimulai saat kau memperbaikinya

- Ariel -