Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Friday, October 17, 2014

About Movie: Annabelle (2014)



Kalau bukan karena ajang ngumpul sama teman-teman, saya nggak akan pernah mau nonton film ini. Bahkan tak pernah terbesit sedikitpun untuk menonton film ini. Apalagi setelah melihat review-review buruk terhadap film ini yang membuat saya semakin tak ingin menontonnya. Untuk genre horor, tahun ini saya sebenarnya lebih tertarik nonton ‘The Babadook’ (yang ternyata sudah saya lewatkan) daripada ‘Annabelle’. Namun apa daya, ternyata saya bukanlah orang yang mudah menolak ajakan teman. Merasa nggak enak? Mungkin. (Ah, Dasar!)
Saya nonton film ini sudah lama sebenarnya, 6 Oktober lebih tepatnya. Biasanya kalau ada film yang saya tonton di bioskop saya langsung buat reviewnya. Namun nggak tahu kenapa, saya sangat, sangat, sangat malas membuat ulasan tentang film ‘Annabelle’ ini.
Jujur saya tak habis pikir kenapa banyak sekali orang yang penasaran sama boneka ‘Annabelle’ ini dan berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk memuaskan hasrat kepenasarannya. Apa menariknya coba? Dan apa yang sebenarnya mereka harapkan dari boneka yang ternyata di versi nyatanya tidak seperti filmnya? Walaupun pada akhirnya saya nonton juga. Nyesel sebenarnya, tapi ya sudahlah.
Ok, tak perlu panjang lebar-lebar pada intinya apa yang saya pikirkan tentang film ‘Annabelle’ sudah saya tuliskan di timeline facebook saya, bunyinya kira-kira begini:
“Mungkin inilah jadinya ketika sebuah film dibuat terlalu terburu-buru. Hanya demi meraih pundi-pundi dolar dari hype masyarakat lewat popularitas boneka ikonik di 'The Conjuring'. Tanpa pemilihan Director dan Script Writer yg tepat, hasilnya adalah sebuah tontonan datar. Co-pas sini, co-pas sana tanpa kreativitas. Terlalu mudah untuk dilupakan. Bahkan utk tampil lebih menyeramkan dari film induknyapun 'Annabelle' tak mampu. Malah kehadiran 'Annabelle' yang jadi tajuk utama sekaligus alasan kenapa orang rela pergi ke bioskop menjadi tidak berarti sama sekali krna script yg melebar kemana-mana. Lebih parahnya lagi, 'Annabelle' ditutup dgn ending paling bodoh yg pernah sy temukan dlm film horor”.
Ya, garis besarnya kira-kira begitu. Saya sudah malas untuk membuat catatan-catatan lainnya. Memang sih filmnya nggak mutlak jelek. Masih ada moment yang cukup menegangkan disini. Lumayan membuat beberapa penonton perempuan menjerit kaget. Meskipun jump scare yg sudah disiapin beberapa malah terlihat lucu daripada menyeramkan. 
Pada dasarnya, kenapa ‘Annabelle’ mendapat nada negatif, mungkin karena sosok ‘Annabelle’ sendiri yang kehadirannya sangat ditunggu justru tidak mampu berbuat banyak. Terlepas dari apakah cerita aslinya memang seperti yang kita lihat di filmnya. Dia hanya ada sebagai pajangan saja. Dibandingkan film solonya ini, kehadiran Annabelle di ‘The Conjuring’ justru lebih menarik padahal dia bukan fokus utama. Judulnya ‘Annabelle’ tapi ‘Annabelle’ sendiri tidak pernah tereksplor dengan baik. Ironis? Ini justru membuat ‘Annabelle’ sesungguhnya tak perlu dibuat. Tapi ya, namanya juga industri. Selama ada kesempatan meraup untung, apalagi terbuka lebar. Sikat aja! Betul tidak?

Sunday, October 5, 2014

Happy 2nd Anniversary! My ‘One Story, About...’


Tanggal 5 Oktober menandai saya membuat blog yang  saya beri nama ‘One Story, About...’ Sebuah blog sederhana dari orang yang ‘biasa-biasa saja’. Tempat saya menulis dan bercerita. Karena memang banyak hal, yang ternyata lebih nyaman ditulis lewat kalimat daripada diungkapkan lewat kata-kata. Lebih nyaman diceritakan lewat tulisan daripada lewat lisan. Mulai dari cerita musik, film sampai cerita (ngelantur, ngalor-ngidul) soal kehidupan dari kacamata diri sendiri. Entah itu yang terlihat, terdengar ataupun yang terasa. Disinilah mungkin makna nama ‘One Story, About...’ ini.

Dan tepat hari ini, tanpa terasa ‘One Story, About...’ sudah memasuki tahun kedua sejak saya memulai semuanya. Walaupun blog ini bukan apa-apa. Dan yang punyanya juga bukan siapa-siapa. Tapi yang pasti, saya pribadi sangat senang punya blog ini, apalagi sekarang sudah berumur dua tahun. Ya, karena dari sinilah saya bisa mengungkapkan hal-hal yang mungkin tak bisa saya ungkapkan lewat lisan.

Selain merasa senang, saya juga mau mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk orang-orang diluar sana yang sudah mau mampir ke blog ini. Ya, entah itu sekedar melihat atau mungkin membaca apa yang ada disini. Walaupun terkadang kontennya kurang berisi dan terkesan sesukanya, tapi rasanya senang juga ada mereka-mereka yang melihat.

Tak ada harapan khusus di tahun kedua ini, hanya semoga blog ini tidak mati begitu saja dan mudah-mudahan ke depan isinya bisa lebih berisi.

So, Happy 2nd Anniversary! My ‘One Story, About...!!!’

Wednesday, October 1, 2014

Catatan Nonton #September’14


Bulan Agustus kemarin saya sempat menghentikan dulu aktivitas ngereview film di facebook seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya. Makanya postingan ‘Catatan Nonton’ yg selalu saya tulis setiap bulan absen untuk bulan Agustus. Ya, itung-itung penyegaran, biar gak bosen. Namun biarpun begitu aktivitas menonton tetap saya lakukan. Meskipun intensitasnya tidak sebanyak dulu, karena sekarang ada kesibukan baru yang harus saya lakukan dan itu memang menyita waktu. Makanya sekarang, memang agak susah untuk nyuri waktu buat nonton film. Hehehe.
Dan di bulan September ini saya kembali lagi melakukan hal yang sama seperti bulan yang sudah-sudah. Sebagai tambahan yang baru saya akan memberikan reward pada satu film yang saya tonton sebagai movie of the month. Dan ini akan berlanjut di edisi-edisi selanjutnya. Sifatnya pasti subjektif, ya intinya sesuka-sukanya saya saja! hehe. Dan untuk kali ini, sebagai reward pertama saya memilih ‘Frank’ sebagai movie of the month.
Ok, jadi tanpa basa-basi lagi, dengan nama baru. This is it! ‘Catatan Nonton #September’14’.

A Million Ways to Die in the West (2014) (04/09/14)


Short review:
Lewat tema western dan pemakaian judul yang cukup unik, ‘A Million Ways to Die in the West’ sebenarnya lumayan menarik perhatian saya. Sejujurnya, saya sangat menantikan film ini akan menyajikan kejutan-kejutan gila tentang kematian yang tiba-tiba seperti yang saya lihat di trailernya. Namun yang saya lihat hanya kebodohan-kebodohan dan lelucon-lelucon konyol dari seorang Seth MacFarlane. Memang masih ada beberapa yang sanggup mengundang senyum. Tapi selebihnya, ya biasa saja (terkesan garing malah). Tapi untungnya melihat sosok Charlize Theron berperan sebagai Anna, kekurangan tadi sedikit terobati. Ya, entah karena alasan apa saya suka sekali dengan Charlize Theron disini.
Skor: 3/5

Maleficent (2014) (12/09/14)


Short review:
Membuat versi live action dr dongeng2 klasik memang bukan tren yg baru dewasa ini. Dan mengambil kisah dongeng tsb lewat perspektif seorang villain merupakan sebuah ide yg segar sekaligus poin tersendiri buat 'Maleficent'. Sbg sutradara debutan, Robert Stromberg tidak sampai membuat 'Malefcent' ada dilevel yg mengecewakan, masih dlm taraf lumayan namun tdk terlalu spesial. Hanya saja keputusan membuat dongeng ‘Sleeping Beauty’ menjadi sedikit berbeda terutama soal karakterisasi Maleficent itu sendiri memang masih menyisakan ambiguitas interpretasi buat beberapa kalangan. Tp terlepas dr itu semua, nyawa terbesar 'Maleficent' ada pada performa apik seorang Angelina Jolie.
Skor: 3,25/5

Frank (2014) (18/09/14)


Short review:
Banyak yg bilang film ini aneh dan mungkin itu memang benar adanya. Tapi terlepas dari itu semua, saya cukup senang melihat bagaimana sebuah band bernama aneh ‘The Soronprfbs’, yg diisi karakter2 yg juga tidak kalah anehnya ini (especially for Frank! Michael Fasbender? Hahaha), mengeskplor musikalitas mereka jauh dari ide-ide mainstream musisi kebanyakan. Mencoba melanggar batasan-batasan lewat komposisi musik yang mereka buat. Dan itu adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan buat saya. Sampai akhirnya, ‘Frank’ tiba pada sebuah drama tentang krisis identitas yg mungkin juga dialami oleh musisi yg berada di jalur “GAK MAINSTREAM” seperti mereka. Kemudian ditutup sebuah closing manis tanpa jawaban pasti. I Love U All!!!
Skor: 3,75/5

Edge of Tomorrow (2014) (19/09/14)


Short review:
Selain memasang wajah Tom Cruise, template time loop yg diusung ‘Edge of Tomorrow’ juga sudah menjadi daya tarik. Meskipun bukan barang baru, (krna sudah pernah dipakai film-film sebelumnya, sebut saja ‘Groundhdog Day’, ‘Timecrimes’, ‘Triangle’ dll), tapi tetap saja template semacam itu selalu punya daya magisnya tersendiri. Dibawah arahan Doug Liman, film yg diadaptasi dr karya Hiroshi Sakurazaka berjudul ‘All You Need is Kill’ ini mampu tampil menghibur (setidaknya lebih baik dr film sci-fi Cruise sebelumnya, ‘Oblivion’). Berjalan pelan di awal namun semakin menarik ketika element time loop itu mulai dihadirkan. Semakin lama, intensitas kesenangannya semakin terasa. Dan disana kita bisa menikmati bagaimana transformasi karakter yg diperankan Cruise dgn baik. Sebuah kolaborasi apik pula bersama Emily Blunt yg tampil bad-ass disini.
Skor: 3,5/5

Wednesday, September 17, 2014

(Ternyata) On Time Itu Keren!!!

[...] Sebelum masuk ke tulisan utama, saya baru sadar ternyata tulisan ini, tulisan lama dan udah dari tahun 2012 lalu nyempil di draft dan nggak pernah saya publish.

Berbicara mengenai ‘on time’ tentu tak akan pernah lepas dari lawan katanya yaitu terlambat. Dan berbicara soal keterlambatan, beberapa waktu lalu saya pernah lewat depan SD dan saya melihat ada beberapa anak yang menunggu diluar dengan wajah begitu murung seakan penuh penyesalan karena gerbang sekolah ditutup dan mereka tak bisa masuk. Saya berpikir bahwa anak-anak tersebut terlambat datang sehingga mereka tidak langsung dimasukkan gurunya saat siswa lain tengah berbaris di lapangan upacara. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada saya saat itu yang juga datang terlambat ke kampus. Tapi berbeda dengan anak SD tadi, seperti tak ada perasaan menyesal, saya berjalan dengan santainya tanpa merasa bahwa sebenarnya saya sudah terlambat. Alasannya sederhana saja, karena kebiasaan dosen yang datang terlambat makanya sayapun berbuat demikian dengan keyakinan bahwa dosen tsb tidak akan lebih ‘on time’ dari saya.
Keterlambatan bukan hal aneh bagi saya, mungkin juga buat orang lain yang ada didunia ini. Pada awalnya, rasa keterlambatan saya mulai ada pas saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu setiap saya berangkat ke sekolah, saya selalu melihat anak-anak SMA yang nongkrong dengan santainya (padahal jelas-jelas mereka sudah terlambat ke sekolah), ngobrol, tertawa, bercanda, bersenda gura dan itu terlihat keren menurut saya. Sehingga pernah terlintas di pikiran bahwa kalau sudah SMA maka saya akan seperti itu. Dan akhirnya, pas saya SMA semua itu terbukti.
Sejak SMA mulailah rasa keterlambatan itu muncul. Sebelum benar-benar berangkat  ke sekolah saya selalu nongkrong, ngumpul sama teman-teman dan ketika waktu menunjukkan keterlambatan barulah saya berangkat. Dan akhirnya, hal-hal seperti berdiri didepan sekolah, diceramahi guru, dihukum, dapat catatan merah absensi, tidak masuk kelas jam pertama atau lari keliling lapangan sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan yang paling ekstrem adalah disuruh pindah sekolah gara-gara keseringan datang terlambat.
Sebenarnya saya bukanlah termasuk orang yang parah dalam urusan keterlambatan, masih banyak orang yang lebih parah dalam urusan keterlambatan dibandingkan saya. Tapi pada dasarnya mau kita terlambat sedetik, semenit, sejam atau seharianpun, terlambat ya terlambat dan tak ada alasan untuk itu. Walaupun kadang ada alasan yang sangat logis untuk terlambat, tapi kadang hal itu tidak begitu berarti.
Banyak faktor sebenarnya yang membuat orang mengalami keterlambatan. Latar belakang sosial, lingkungan, pola pikir, kebiasaan dan keadaan hidup orang saat itu bisa membuat orang mengalami keterlambatan. Dan semua itu berujung pada satu kata, alasan. Alasan tentu ada yang memang benar-benar logis dan bisa dipertanggungjawabkan, ada pula yang dibuat-buat demi menutupi kesalah diri. Yang menyedihkan adalah orang menjadikan hal itu sebagai kebiasaan, karena mau buat alasan macam apapun, alasannya tetap tidak akan diterima siapapun.
Dan hari dimana saya lewat depan SD tadi itulah yang saat ini merubah pandangan saya. Saya yang dulu merasa bahwa keterlambatan itu adalah hal yang biasa dan cenderung menganggap hal itu keren (terutama pas SMA) sedikit demi sedikit saya rubah.
‘On Time’ itu ternyata jauh lebih baik daripada kita terlambat. Dengan ‘On Time’ kita bisa jauh lebih menghargai waktu bahkan kita bisa sangat menghargai diri kita sebagai seorang individu. On Time dalam hal apapun bisa menjadikan diri kita disiplin, bertanggung jawab dan penuh ketaatan terhadap suatu aturan yang mengikat kita dimanapun kita berada, kitapun tak akan merasa terbebani dengan apapun yang akan mengikat kita nanti.
Ketika kita memilih ‘on time’ untuk setiap hal maka itu adalah pilihan yang benar. Walaupun pada kenyataannya ketika kita berkomitmen untuk ‘on time’, lingkungan tempat dimana harus ‘on time’-pun kadang tidak seperti yang diharapkan. Seperti saya datang terlambat kuliah karena dosen yang sering terlambat pula. Dengan alasan, “buat apa saya datang tepat waktu, kalau dosennya selalu datang terlambat?”. Kadang hal-hal seperti itulah yang menyurutkan komitmen kita untuk selalu ‘on time’. Tapi satu hal yang saya garisbawahi adalah bahwa ketika kita memilih sesuatu pilihan tentu akan ada hal yang selalu menghalangi kita memilih hal tersebut, apalagi kalau hal itu baik.
‘On time’ adalah sebuah tekad, komitmen diri tanpa perlu men-judge orang lain yang tidak berlaku sama. Karena kalau kita selalu men-judge orang maka hanya akan ada kekesalan dan kekecewaan saja yang akan kita dapatkan. Kita ‘on time’ untuk diri sendiri, ‘on time’ karena ini adalah tanggung jawab individu kepada individu lain dalam sebuah aturan tertulis maupun tidak tertulis. Dan kita tak perlu mengharapkan apapun dari ‘on time’-nya kita, karena hal itu tidak berguna sama sekali. Hal itu tidak perlulah diharapkan atau dinantikan, karena hal itulah yang akan mendatangi kita dengan sendirinya.
Tentunya sebagai manusia kitapun tak bisa melakukan sesuatu secara utuh dan sempurna. Begitupun dengan ‘on time’. Karena suatu saat pasti akan ada hal yang membuat kita untuk tidak ‘on time’ (termasuk yang nulis). Tapi setelah itu, justru kita harus semakin berusaha untuk ‘on time’. Ya, minimal ketika kita terlambat ada raut kekecewaan atau penyesalan yang menyelimuti diri ketika kita terlambat. Walaupun ada istilah “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”, maka hal itu jangan dijadikan kebiasaan atau alasan untuk kita selalu melakukan keterlambatan dalam setiap hal. Karena ada hal yang jauh lebih baik, lebih keren daripada keterlambatan. Dan hal itu adalah ‘ON TIME’. 

Tuesday, September 16, 2014

Cerpen: LDR?


Tepat di sudut ini, sebuah sudut yang selalu akan aku datangi. Didepan sebuah meja. Tembus pandang terhalang lapisan bening, lamunanku melayang. Hinggap pada seraut wajah yang selalu memberi cerita dan khayal tanpa pernah bisa terjamah lewat kata. Tertulis dalam pikiran. Terukir dalam ingatan. Di tempat yang paling tinggi ia berada.
Dunia seakan berhenti sejenak kala ia tersenyum. Dan saat itu pulalah merasa dekat dengannya. Menggenggam tawanya. Berpura-pura memiliki dunianya. Semuanya terasa begitu dekat. Tanpa sehelai bataspun memisahkan.
Melihatnya sangat mengagumkan namun tak jarang pula menghancurkan. Melemahkan sukma setiap kali menatapnya. Menyisakan ruang hampa yang dalam. Membekas perih terbalut luka. Merasakan sesuatu yang sebenarnya tak pernah terjadi.   
Mungkin ia tak akan pernah tahu dan sebaiknya memang tak harus tahu. Jika ada satu sudut dimana selalu terkirim doa tulus untuknya. Jika ada bayang yang selalu memperhatikan setiap hembusan nafasnya. Mengawasi setiap jejaknya. Dari sudut yang tak pernah ia sadari. Tersimpan satu tempat indah untuk namanya.
Dan masih di sudut ini. Tempatku akan selalu kembali. Mengulang luka dan lara kala merasakan indahnya dibalik gelap. Setiap waktu. Seterusnya begitu.

P.S.
"Karena LDR itu 'Loe Doang Relationship'. Jadi cuman loe aja yang ngerasa pacaran, dianya nggak. Jadi, hubungannya jauh gitu!" – (Agus) Jomblo Keep Smile