Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Tuesday, October 21, 2014

10 Rekomendasi Film Horor untuk Halloween Kali Ini

Sekarang udah bulan oktober ya? Udah hampir memasuki minggu terakhir pula. Nah, konon katanya sih diluar negeri sana ada istilah yang disebut dengan ‘halloween’. Biasanya sih setiap tanggal 31 Oktober. Halloween sendiri apa, bisa searching sendiri lah, karena saya tidak akan membahasnya disini. Namun yang pasti halloween itu sendiri identik dengan nuansa horor. Dan untuk kali ini, saya cuma share beberapa film horor yang bisa jadi rekomendasi untuk menemani suasana halloween kali ini. Selain ‘Annabelle’ yang telah meneror di bioskop awal Oktober lalu, beberapa film dibawah rasanya bisa dijadikan pilihan dan layak dicoba.

Honorable mentions:
Triangle: Bukan pure genre horor, cenderung thriller malah. Tapi sangat direkomendasikan untuk yang ingin tontonan mencekam sekaligus bikin otak rada mikir.

1.          The Shining


Apapun genrenya, film-film Stanley Kubrick emang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Dan untuk genre horor maka Kubrick punya The Shining (1980). Film ini berjalan dengan tempo yang terbilang lamban + durasinya yang lumayan lama memang berpotensi menimbulkan kebosanan. Tapi bersabarlah sampai teror itu muncul dan menimbulkan ketegangan yang semakin intens setiap detiknya.

2.        The Exorcist


The Exorcist (1973) adalah bagaimana sebuah horor supranatural tanpa kemunculan sosok hantu bekerja menghantui penontonnya. Bermain dengan tema pengusiran setan, kita bisa melihat bagaimana sosok gadis kecil bertransformasi menjadi sosok yang begitu menyeramkan. Disini pula kita diajak untuk melihat hal-hal mistis dari dua sisi yang berbeda.

3.        The Evil Dead


The Evil Dead itu klasik banget. Selain karena ini film jadul (1981), ceritanya juga klasik banget. Sekelompok remaja berlibur, tiba disebuah hutan kemudian mulailah teror yang menghantui itu muncul. Film ini juga pernah di-remake, jadi kalau ingin Evil Dead versi yang modern tengok aja filmnya yang rilis tahun 2013 lalu. Tapi biarpun begitu yang klasiknya sebenarnya jauh lebih oke.

4.        The Others


Saya suka sekali film ini. Aura film ini sudah mistis banget. Set rumah besar, tua, yang dihuni keluarga yang misterius. Walaupun katanya mirip The Sixthsense (1999) (oh, ya ini juga sangat recommended) tapi The Others (2001) juga punya sisi tersendiri buat saya. Film horor ini mempermainkan psikologis kita dan itu yang saya suka.

5.        Shaun of the Dead


Ingin sesuatu yang menegangkan, sedikit menyeramkan namun juga lucu disaat bersamaan. Maka Shaun of the Dead (2004) jawabannya. Sebuah film zombie yang digawangi trio Simon Pegg, Nick Frost dan Edgar Wright ini, memang menyajikan sebuah film zombie yang beda dari yang lain. Dengan kegilaan yang terjadi disini, moment halloween kali ini mungkin tidak akan terlalu menyeramkan.

6.        The Orphanage


Selain nuansa horor yang berhasil dibangun, The Orphanage (2007) juga sanggup mempermainkan emosi kita disaat bersamaan. Tidak hanya punya kualitas yang baik film ini juga punya twist yang keren banget. Very recommended.

7.         The Conjuring


Sebuah formula klasik di era modern. Temanya memang bukan barang baru, keluarga pindah ke rumah dan di rumah barunya itulah hal-hal mistis mulai bermunculan. Memanfaatkan element jump scare sebagai salah satu daya tariknya, The Conjuring sukses mencuri perhatian sekaligus menebar ketakutan tahun 2013 lalu.

8.        The Cabin in the Woods


The Cabin in the Woods adalah sebuah pesta horor lengkap dengan semua subgenrenya. Sekaligus sebuah kesenangan dimana kita bisa menemukan hal-hal mungkin atau rasanya pernah kita temukan dalam film-film horor sebelum ini. You think you know what story?

9.        Trick ‘r Treat


Salah satu istilah yang sering kita dengar disaat moment halloween. Dipakai judul oleh Michael Dougherty untuk sebuah tontonan horor yang mengangkat urban legend terkait halloween itu sendiri. Walaupun film ini langsung dirilis lewat DVD (tanpa tayang di bioskop terlebih dulu) tapi jangan tanya kualitas horornya.

10.     Halloween


Judulnya yang sudah sangat sesuai dengan tema dan moment-nya, Halloween (1978) karya John Carpenter ini memang tontonan wajib disaat moment halloween tiba. Termasuk salah satu horor klasik terbaik yang pernah ada.

Ya, itulah 10 (sepuluh) film yang saya rekomendasikan untuk ditonton dalam suasana halloween kali ini. Sebenarnya, masih banyak film-film horor bagus yang juga sangat direkomendasikan. Namun untuk kali ini saya hanya memilih sepuluh film saja. So, happy watching!

Friday, October 17, 2014

About Movie: Annabelle (2014)



Kalau bukan karena ajang ngumpul sama teman-teman, saya nggak akan pernah mau nonton film ini. Bahkan tak pernah terbesit sedikitpun untuk menonton film ini. Apalagi setelah melihat review-review buruk terhadap film ini yang membuat saya semakin tak ingin menontonnya. Untuk genre horor, tahun ini saya sebenarnya lebih tertarik nonton ‘The Babadook’ (yang ternyata sudah saya lewatkan) daripada ‘Annabelle’. Namun apa daya, ternyata saya bukanlah orang yang mudah menolak ajakan teman. Merasa nggak enak? Mungkin. (Ah, Dasar!)
Saya nonton film ini sudah lama sebenarnya, 6 Oktober lebih tepatnya. Biasanya kalau ada film yang saya tonton di bioskop saya langsung buat reviewnya. Namun nggak tahu kenapa, saya sangat, sangat, sangat malas membuat ulasan tentang film ‘Annabelle’ ini.
Jujur saya tak habis pikir kenapa banyak sekali orang yang penasaran sama boneka ‘Annabelle’ ini dan berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk memuaskan hasrat kepenasarannya. Apa menariknya coba? Dan apa yang sebenarnya mereka harapkan dari boneka yang ternyata di versi nyatanya tidak seperti filmnya? Walaupun pada akhirnya saya nonton juga. Nyesel sebenarnya, tapi ya sudahlah.
Ok, tak perlu panjang lebar-lebar pada intinya apa yang saya pikirkan tentang film ‘Annabelle’ sudah saya tuliskan di timeline facebook saya, bunyinya kira-kira begini:
“Mungkin inilah jadinya ketika sebuah film dibuat terlalu terburu-buru. Hanya demi meraih pundi-pundi dolar dari hype masyarakat lewat popularitas boneka ikonik di 'The Conjuring'. Tanpa pemilihan Director dan Script Writer yg tepat, hasilnya adalah sebuah tontonan datar. Co-pas sini, co-pas sana tanpa kreativitas. Terlalu mudah untuk dilupakan. Bahkan utk tampil lebih menyeramkan dari film induknyapun 'Annabelle' tak mampu. Malah kehadiran 'Annabelle' yang jadi tajuk utama sekaligus alasan kenapa orang rela pergi ke bioskop menjadi tidak berarti sama sekali krna script yg melebar kemana-mana. Lebih parahnya lagi, 'Annabelle' ditutup dgn ending paling bodoh yg pernah sy temukan dlm film horor”.
Ya, garis besarnya kira-kira begitu. Saya sudah malas untuk membuat catatan-catatan lainnya. Memang sih filmnya nggak mutlak jelek. Masih ada moment yang cukup menegangkan disini. Lumayan membuat beberapa penonton perempuan menjerit kaget. Meskipun jump scare yg sudah disiapin beberapa malah terlihat lucu daripada menyeramkan. 
Pada dasarnya, kenapa ‘Annabelle’ mendapat nada negatif, mungkin karena sosok ‘Annabelle’ sendiri yang kehadirannya sangat ditunggu justru tidak mampu berbuat banyak. Terlepas dari apakah cerita aslinya memang seperti yang kita lihat di filmnya. Dia hanya ada sebagai pajangan saja. Dibandingkan film solonya ini, kehadiran Annabelle di ‘The Conjuring’ justru lebih menarik padahal dia bukan fokus utama. Judulnya ‘Annabelle’ tapi ‘Annabelle’ sendiri tidak pernah tereksplor dengan baik. Ironis? Ini justru membuat ‘Annabelle’ sesungguhnya tak perlu dibuat. Tapi ya, namanya juga industri. Selama ada kesempatan meraup untung, apalagi terbuka lebar. Sikat aja! Betul tidak?

Sunday, October 5, 2014

Happy 2nd Anniversary! My ‘One Story, About...’


Tanggal 5 Oktober menandai saya membuat blog yang  saya beri nama ‘One Story, About...’ Sebuah blog sederhana dari orang yang ‘biasa-biasa saja’. Tempat saya menulis dan bercerita. Karena memang banyak hal, yang ternyata lebih nyaman ditulis lewat kalimat daripada diungkapkan lewat kata-kata. Lebih nyaman diceritakan lewat tulisan daripada lewat lisan. Mulai dari cerita musik, film sampai cerita (ngelantur, ngalor-ngidul) soal kehidupan dari kacamata diri sendiri. Entah itu yang terlihat, terdengar ataupun yang terasa. Disinilah mungkin makna nama ‘One Story, About...’ ini.

Dan tepat hari ini, tanpa terasa ‘One Story, About...’ sudah memasuki tahun kedua sejak saya memulai semuanya. Walaupun blog ini bukan apa-apa. Dan yang punyanya juga bukan siapa-siapa. Tapi yang pasti, saya pribadi sangat senang punya blog ini, apalagi sekarang sudah berumur dua tahun. Ya, karena dari sinilah saya bisa mengungkapkan hal-hal yang mungkin tak bisa saya ungkapkan lewat lisan.

Selain merasa senang, saya juga mau mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk orang-orang diluar sana yang sudah mau mampir ke blog ini. Ya, entah itu sekedar melihat atau mungkin membaca apa yang ada disini. Walaupun terkadang kontennya kurang berisi dan terkesan sesukanya, tapi rasanya senang juga ada mereka-mereka yang melihat.

Tak ada harapan khusus di tahun kedua ini, hanya semoga blog ini tidak mati begitu saja dan mudah-mudahan ke depan isinya bisa lebih berisi.

So, Happy 2nd Anniversary! My ‘One Story, About...!!!’

Wednesday, October 1, 2014

Catatan Nonton #September’14


Bulan Agustus kemarin saya sempat menghentikan dulu aktivitas ngereview film di facebook seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya. Makanya postingan ‘Catatan Nonton’ yg selalu saya tulis setiap bulan absen untuk bulan Agustus. Ya, itung-itung penyegaran, biar gak bosen. Namun biarpun begitu aktivitas menonton tetap saya lakukan. Meskipun intensitasnya tidak sebanyak dulu, karena sekarang ada kesibukan baru yang harus saya lakukan dan itu memang menyita waktu. Makanya sekarang, memang agak susah untuk nyuri waktu buat nonton film. Hehehe.
Dan di bulan September ini saya kembali lagi melakukan hal yang sama seperti bulan yang sudah-sudah. Sebagai tambahan yang baru saya akan memberikan reward pada satu film yang saya tonton sebagai movie of the month. Dan ini akan berlanjut di edisi-edisi selanjutnya. Sifatnya pasti subjektif, ya intinya sesuka-sukanya saya saja! hehe. Dan untuk kali ini, sebagai reward pertama saya memilih ‘Frank’ sebagai movie of the month.
Ok, jadi tanpa basa-basi lagi, dengan nama baru. This is it! ‘Catatan Nonton #September’14’.

A Million Ways to Die in the West (2014) (04/09/14)


Short review:
Lewat tema western dan pemakaian judul yang cukup unik, ‘A Million Ways to Die in the West’ sebenarnya lumayan menarik perhatian saya. Sejujurnya, saya sangat menantikan film ini akan menyajikan kejutan-kejutan gila tentang kematian yang tiba-tiba seperti yang saya lihat di trailernya. Namun yang saya lihat hanya kebodohan-kebodohan dan lelucon-lelucon konyol dari seorang Seth MacFarlane. Memang masih ada beberapa yang sanggup mengundang senyum. Tapi selebihnya, ya biasa saja (terkesan garing malah). Tapi untungnya melihat sosok Charlize Theron berperan sebagai Anna, kekurangan tadi sedikit terobati. Ya, entah karena alasan apa saya suka sekali dengan Charlize Theron disini.
Skor: 3/5

Maleficent (2014) (12/09/14)


Short review:
Membuat versi live action dr dongeng2 klasik memang bukan tren yg baru dewasa ini. Dan mengambil kisah dongeng tsb lewat perspektif seorang villain merupakan sebuah ide yg segar sekaligus poin tersendiri buat 'Maleficent'. Sbg sutradara debutan, Robert Stromberg tidak sampai membuat 'Malefcent' ada dilevel yg mengecewakan, masih dlm taraf lumayan namun tdk terlalu spesial. Hanya saja keputusan membuat dongeng ‘Sleeping Beauty’ menjadi sedikit berbeda terutama soal karakterisasi Maleficent itu sendiri memang masih menyisakan ambiguitas interpretasi buat beberapa kalangan. Tp terlepas dr itu semua, nyawa terbesar 'Maleficent' ada pada performa apik seorang Angelina Jolie.
Skor: 3,25/5

Frank (2014) (18/09/14)


Short review:
Banyak yg bilang film ini aneh dan mungkin itu memang benar adanya. Tapi terlepas dari itu semua, saya cukup senang melihat bagaimana sebuah band bernama aneh ‘The Soronprfbs’, yg diisi karakter2 yg juga tidak kalah anehnya ini (especially for Frank! Michael Fasbender? Hahaha), mengeskplor musikalitas mereka jauh dari ide-ide mainstream musisi kebanyakan. Mencoba melanggar batasan-batasan lewat komposisi musik yang mereka buat. Dan itu adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan buat saya. Sampai akhirnya, ‘Frank’ tiba pada sebuah drama tentang krisis identitas yg mungkin juga dialami oleh musisi yg berada di jalur “GAK MAINSTREAM” seperti mereka. Kemudian ditutup sebuah closing manis tanpa jawaban pasti. I Love U All!!!
Skor: 3,75/5

Edge of Tomorrow (2014) (19/09/14)


Short review:
Selain memasang wajah Tom Cruise, template time loop yg diusung ‘Edge of Tomorrow’ juga sudah menjadi daya tarik. Meskipun bukan barang baru, (krna sudah pernah dipakai film-film sebelumnya, sebut saja ‘Groundhdog Day’, ‘Timecrimes’, ‘Triangle’ dll), tapi tetap saja template semacam itu selalu punya daya magisnya tersendiri. Dibawah arahan Doug Liman, film yg diadaptasi dr karya Hiroshi Sakurazaka berjudul ‘All You Need is Kill’ ini mampu tampil menghibur (setidaknya lebih baik dr film sci-fi Cruise sebelumnya, ‘Oblivion’). Berjalan pelan di awal namun semakin menarik ketika element time loop itu mulai dihadirkan. Semakin lama, intensitas kesenangannya semakin terasa. Dan disana kita bisa menikmati bagaimana transformasi karakter yg diperankan Cruise dgn baik. Sebuah kolaborasi apik pula bersama Emily Blunt yg tampil bad-ass disini.
Skor: 3,5/5