Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Sunday, December 28, 2014

Letter to My First Students


Untuk 55 siswa yang setiap hari kamis selalu saya ceramahi,
Apa kabar kalian sekarang? Gimana nilai raportnya? Bagus?
Mungkin diantara kalian tidak ada yang membaca tulisan ini atau mungkin tidak pernah tahu bahwa saya membuat tulisan ini. Namun yang pasti, hari ini, saya ingin kalian tahu sesuatu. Bahwasanya tulisan ini dibuat untuk kalian.
Rasanya aneh menulis ini, namun saya tak bisa bohong jika rentang waktu singkat bertemu kalian telah memberikan suatu hal yang berharga. Menjadikan hari-hari lalu yang begitu-begitu saja menjadi sedikit lebih berwarna dengan kehadiran kalian 5 bulan terakhir ini.
Pertama kalinya mendapat sebutan Bapak adalah suatu hal yang tak biasa. Pun ketika bersalaman yang diteruskan mencium tangan. Ada tanggung jawab yang besar yang tersemat dari panggilan yang kalian ucapkan. Begitu pula dengan yang kalian lakukan. Seolah menyadarkan saya bahwa saya seharusnya bukan seperti saya yang dulu lagi. Saya harus bisa menjadi seperti apa yang kalian panggil. Bahkan lebih.
Pertama kalinya berbicara didepan dan menyampaikan pelajaran ternyata bukanlah sesuatu yang mudah. Bertatapan dengan anak-anak remaja dengan gejolak kawula mudanya yang masih bergelora. Berhadapan dengan kepala yang entah isinya sedang terbang kemana. Saya tidak tahu apa yang ada di benak kalian saat itu. Wajah-wajah lelah dan bosan dengan rutinitas sehari-hari melingkar dalam sorot matanya. Ada tugas besar menanti ke depan. Pekerjaan ini memang tidaklah mudah.
Seiring berjalannya waktu, mulai ada ritme yang kita ciptakan bersama. Mungkin tidak selalu baik dalam perjalanannya tapi ritme itu tetap terjaga. Perlahan tapi pasti nama-nama yang selalu saya baca sebelum memulai semuanya, mulai terpatri di kepala. Pun dengan wajah-wajah muda yang awalnya begtu asing buat saya.
Suasana menjadi semakin hangat tatkala waktu terus berjalan. Saya masih ingat suara, senyum, tawa, canda, tanya, celotehan nakal dan apa yang terjadi selama waktu bergulir. Terkadang membuat senyum-senyum sendiri, namun tak jarang membuat kesal. Namun yang pasti saya tidak pernah membenci kalian. Sedikitpun.
Semakin lama dan semakin lama lagi. Irama yang telah kita rangkai telah menjadi suatu hal besar yang menyadarkan saya. Ternyata saya hanyalah sosok yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Lemah dan tak punya kemampuan apa-apa untuk bisa mengajar kalian. Terlebih mendidik.  
Sampai tiba pada sebuah pengakuan, saya bukanlah “guru” yang baik untuk kalian. Tidak bisa membimbing dan mengajari kalian sesuatu yang tidak tahu menjadi tahu. Sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa. Dibandingkan yang lain, mungkin  saya bukanlah pribadi yang menyenangkan. Saya membosankan. Cara penyampaian saya tidak menarik. Saya gugup dan salah tingkah. Ilmu saya masih sebesar tahi kuku.
Namun tanpa pernah kalian sadari, selama yang saya bisa, saya terus berusaha dan mencoba membuat semuanya menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya, yang kalian rasakanlah, yang bisa saya beri.
Maaf dan terima kasih,
Maaf karena tidak bisa menjadi sosok yang baik dan mengerti kalian.
Tapi terima kasih telah memberikan warna untuk beberapa waktu terakhir ini. Terima kasih karena telah menjadi yang pertama. Serta memberi pelajaran dan pengalaman yang berharga. Terima kasih telah menjadi siswa yang baik. Hari-hari yang telah kita lewati takkan begitu saja dilupakan. Pertemuan singkat yang telah kita alami semoga jadi sesuatu yang baik kelak.
Terima kasih juga untuk surat-suratnya yang rame.
Semoga apa yang kalian impikan di masa depan bisa terwujud.
Oh ya, kata kalian, saya itu pelit nilai. Maaf ya! Habis gimana, saya juga bingung. Hehe.
Semoga kita berjumpa lagi ya, nak!



Sunday, December 14, 2014

Selamat Jalan, Bu Een!


Kamis malam kemarin, seorang teman mengirim sms ke saya dan memberi kabar bahwa Bu Een sedang dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit di Sumedang. Dalam sms tersebut dia mengajak saya beserta teman-teman yang lain untuk menjenguk Bu Een ke Sumedang. Dengan berat hati, saya menolak. Bukan tanpa alasan memang, saya juga sedang tidak sehat saat itu. Ingin rasanya mengamini ajakan teman tadi, namun apa daya kondisi sedang tidak memungkinkan. Jum’at sorenya, teman saya mengirim sms lagi dan mengabarkan kalau Bu Een telah dipanggil Yang Maha Kuasa.
Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un
Antara percaya dan tidak ketika mendengar kabar tersebut, namun saya pikir tidak ada hal yang lebih baik selain saya mengirim doa untuk almarhumah yang sempat saya kenal selama 40 hari tersebut (kurang lebih).
Saya mengenal beliau kira-kira setahun yang lalu, waktu saya sedang menjalani program KKN di Sumedang. Nah kebetulan, kelompok saya kebagian lokasi di tempat Bu Een berada. Bahkan rumah yang kita tempati waktu itu cukup dekat dengan rumah Bu Een. Jadinya tetanggaan. Dan karena tetanggaan itulah kelompok kami sering berjumpa dengan Bu Een dan mulai mengenal pribadi beliau secara perlahan.
Sebenarnya, jauh sebelum program KKN dimulai saya tidak pernah tahu tentang Bu Een, sama sekali. Sedikitpun. Siapa Bu Een? Saya juga tidak tahu. Padahal disaat bersamaan, Bu Een pernah ngasih kuliah umum gitu di kampus dan dapat penghargaan dari salah satu stasiun TV swasta yang membuat namanya menggaung dan menebar jutaan inspirasi dan semangat di tanah air. Lalu waktu itu saya kemana aja? Hingga ketika program KKN sudah mulai mendekat, saya mulai mencari tahu tentang beliau di google. Dan ternyata ada sesuatu yang berbeda ketika membaca tentang beliau atau melihat foto beliau di internet dengan bertemu dan berbincang langsung dengan beliau. Ada kesan yang lain.
Singkat saya mengenal sosok Bu Een, beliau itu merupakan pribadi yang hangat. Pribadi lembut khas wanita yang religius dan berpegang teguh pada agamanya. Berjiwa dan berhati besar, penuh semangat, pantang menyerah, tak mudah putus asa, tak pernah mengeluh walaupun dengan kondisi yang tidak baik. Senantiasa bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Tanpa sedikitpun berburuk sangka dengan takdir-Nya.
Sebagai seorang guru, sosok Bu Een buat saya adalah tipikal ideal dari seorang guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa. Jiwa yang dalam hatinya menyadari bahwa guru adalah profesi mengabdi bukan profesi mencari rezeki. Jiwa dengan segenap hatinya yang tulus memberikan ilmu yang dimiliki kepada murid-muridnya tanpa pernah mengharapkan imbalan apapun. Terlebih beliau juga tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Nah ini yang suka dilupakan sama guru-guru zaman sekarang. Mendidik. Guru memang dituntut tidak hanya harus bisa mengajar tapi juga harus pandai mendidik. Dan ternyata mendidik anak itu memang bukan pekerjaan mudah. Dan kalau saya boleh berpendapat, mendidik itu justru lebih sulit daripada mengajar.
Secara fisik, Bu Een mungkin kurang ideal untuk jadi seorang guru. Tapi beliau punya semangat, tekad dan niat yang kuat untuk jadi seorang guru, yang memang telah menjadi cita-cita beliau sejak kecil. Tanpa mengenal lelah, sekuat yang beliau mampu memberi pendidikan buat anak-anak disekitarnya. Bahkan Bu Een sampai bela-belain belajar materi pelajaran lagi, supaya bisa memberi pengajaran kepada anak-anak yang bertanya kepada beliau. Tujuannya sederhana, agar anak-anak bisa.
Satu hal lagi yang melekat dari sosok Bu Een adalah kasih sayangnya. Buat Bu Een kasih sayang itu penting dalam pendidikan. Itu juga jadi hal paling mendasar yang harus dimiliki seorang guru. Satu kalimat yang terngiang-ngiang sampai sekarang ditelinga saya adalah perkataan beliau, bahwa pendidikan itu harus berbasis kasih sayang. Kenapa tidak katanya kalau kurikulum pendidikan kita berbasis kasih sayang. Nah Pak Kemendikbud, kalau masih bingung nentuin kurikulum 2006 atau 2013, kenapa tidak dicoba saja saran Bu Een untuk menggunakan kurikulum berbasis kasih sayang dalam pendidikan di Indonesia. Hehe.  
Mungkin rentang waktu 40 hari (kurang lebih) mengenal beliau bukanlah waktu yang lama untuk benar-benar secara deskriptif menjelaskan kebaikan-kebaikan beliau. Tapi kesempatan mengenal yang sebentar itulah justru yang terasa berharga. Seperti menampar sisi diri saya yang masih kurang bersyukur dengan apa yang telah dikasih Tuhan. Yang masih suka suka malas-malasan padahal kondisi fisik baik-baik saja. Yang bisanya cuma bicara, tanpa pernah ada tindakan nyata yang benar-benar bermanfaat buat sekitar.
Tapi lihat Bu Een, apa yang telah diperbuatnya selama ini? Ditengah kondisinya yang tidak seperti kita-kita yang sehat wal’afiat ini. Beliau justru mampu berbuat lebih banyak dari kita. Lebih dari sekedar lebih. Mungkin pernah mendengar salah satu istilah bunyinya seperti ini, bahwa salah satu ciri manusia yang baik adalah ia mampu bermanfaat untuk sekitarnya. Dan Bu Een adalah salah satu contoh diantaranya.
Saat ini, mungkin jasad beliau telah tiada. Dan tak bisa kita sapa lagi secara langsung lewat ucapan "Assalamu’alaikum!" Tapi namanya, semangatnya, jasanya takkan pernah terlupakan. Apa yang telah diperjuangkannya selama ini. Petuah-petuah bijak khas seorang guru yang selalu terurai lembut dari beliau kala berbincang dengannya. Semoga memberi aura-aura positif untuk semua orang. Senantiasa memberi inspirasi untuk seluruh guru di Indonesia.
Selamat jalan, Bu Een!


P.S. Beberapa potret yang sempat terdokumentasikan ketika saya sedang menjalani program KKN bersama teman-teman setahun yang lalu.

Ini kunjungan pertama kita ke kediaman Bu Een, tepatnya di kamarnya. Sebuah ruangan yang tidak begitu luas sebenarnya, tapi disinilah semangat dan inspirasi dari sosok yang terbaring lemah ini berasal.

Beberapa anak yang sering main sekaligus belajar ke tempat Bu Een. Sedang berfoto ria bersama kakak-kakak mahasiswa didepan rumah Bu Een.


 
Percaya atau tidak, bersamaan dengan gambar ini, ada mata kamera yang meliput kegiatan mengobrol kita dengan Bu Een disini. Dan memang adegan ini beneran muncul di salah satu TV nasional (saya lupa nama acaranya). Walaupun sebenarnya, kemunculannya sendiri tidak lebih dari 30 detik. LOL.
  
Anak-anak didik Bu Een sedang mempersembahkan lagu di pembukaan acara peletakkan batu pertama renovasi kamar belajar dan pembangunan rumah pintar Bu Een.

Acara peletakan batu pertama renovasi kamar belajar dan pembangunan rumah pintar Bu Een yang dinamai Al Barokah ini, turut dihadiri Ustadz Yusuf Mansyur (yang pake peci, pegang mic) sebelahnya ada Retno Pinasti (News Anchor Liputan6) yang juga meliput acara tersebut.

Wednesday, December 3, 2014

Anime Review: Another (2012)

WHO IS DEAD?


‘Another’ adalah sebuah TV seri asal Jepang (anime) berjumlah 12 (dua belas) episode yang rilis tahun 2012. Kisahnya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Yukio Ayatsuji. Plotnya mengambil kisah tentang sebuah kelas dalam sebuah sekolah (setingkat SMP) di kota Kecil di Jepang yang terkena kutukan menyeramkan. Dimana setiap tahunnya selalu ada kejadian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang-orang yang terhubung dengan kelas yang bersangkutan. Konon katanya, kejadian tersebut sangat erat hubungannya dengan kematian seorang siswa kelas tersebut 26 tahun lalu. Kejadian itu terus berulang setiap tahunnya sampai pada akhirnya sebuah misteri besar terkuak disini.
        Salah satu keberhasilan sebuah tontonan yang mempunyai genre horor atau thriller adalah keberhasilan membangun atmosfer horor atau thriller itu sendiri. Dan untuk ukuran anime, ‘Another’ sudah melakukannya dengan sangat baik. Dimana setiap episode yang bergulir, ‘Another’ tidak sekalipun kehilangan sentuhan atmosfernya. Tone-nya selalu sama, mencekam bahkan ketika suasana sedang bahagia. Bisa dibilang atmosfer inilah yang menjadi kekuatan terbesar ‘Another’. Membuat anime ini menjadi anime berbeda dan sangat recommended.
Melihat opening songnya, seperti sudah bisa menebak ‘Another’ bukanlah anime biasa. Entah disengaja atau tidak opening song Kyomu Densen yang dinyanyikan oleh ALI PROJECT ini sudah mengisyaratkan aura creepy yang tidak mengenakan. Belum lagi kalau kita lihat gambar-gambar random yang ditampilkan saat lagu diputar. Dan kalau dilihat video klipnya aslinya, itu juga kental sekali nuansa horornya. Lantas seperti apa sebenarnya ‘Another’ ini?
Kalau saya bilang, ‘Another’ adalah kombinasi horor dan thriller yang disatukan dalam satu ikatan misteri. Saya bisa merasakan separuh awal ‘Another’ adalah horor sedangkan separuh akhirnya adalah thriller. Pada akhirnya, terciptalah sebuah atmosfer seperti yang saya sebutkan di paragaraf sebelumnya. Tentunya pembangunan atmosfer tersebut tidak terjadi begitu saja. Banyak elemen yang turut berperan menghidupkan atmosfer itu sendiri. Mulai dari set, musik, tone sampai karakternya.
Dan berbicara soal karakter, saya sangat suka dengan karakter Misaki Mei. Seorang anak perempuan yang misterius, dingin dan berekspresi datar ini juga yang turut berperan serta menghidupkan atmosfer ‘Another’ secara keseluruhan. Ketika pertama kali ia muncul, aura misterius sudah terpancar jelas dalam dirinya. Tanpa kehadirannya, mungkin ingredients ‘Another’ terasa kurang.
Selain karena atmosfernya, yang membuat ‘Another’ terasa mencekam adalah ‘Another’ punya unsur gore didalamnya. Disini kita bisa melihat adegan sadis dan berdarah-darah bahkan ada yang ditampilkan secara implisit. Adegan hara-kiri disini mungkin yang paling tidak menyenangkan untuk dipandang. Saya jadi mengerti kenapa anime-anime Jepang zaman sekarang sulit untuk masuk layar kaca Indonesia. Dan ternyata itu memang bukan tanpa alasan. Anak-anak sangat tidak disarankan untuk nonton anime yang satu ini.
Dalam perjalanannya, ‘Another’ memulai semuanya dengan pelan dan hati-hati. Dengan jumlah episode yang terbilang cukup pendek + tempo yang pelan, ‘Another’ buat saya cukup padat dalam menguraikan ceritanya. Walaupun karena episode pendek tadi, beberapa hal menjadi kurang tergali seperti karakter pendukung. Namun itu tidak menjadi masalah. Karena buat saya, 12 episode adalah jumlah yang pas untuk ‘Another’. Saya bisa membayangkan bertele-telenya ‘Another’ dengan potensi membosankannya jika dibuat lebih dari 12 episode.
Bagian terbaik dari ‘Another’ mungkin part akhirnya (2 epsidoe terakhir).  Karena inilah part yang paling menegangkan diantara yang lainnya. Melihatnya seperti melihat ‘Battle Royale’ yang di-combine sama ‘Final Destination’. Hasilnya, sebuah parade berdarah yang cukup gila. Disana kita bisa melihat bagaimana ketakutan dan rasa tidak saling percaya antar sesama berujung pada hal-hal yang menakutkan.
Semua yang dimulai tentu harus ada akhirnya, begitu pula rantai kutukan ‘Another’ yang telah terjadi bertahun-tahun itu. Sebuah twist ending pun telah disiapkan guna menjawab seluruh konklusi misteri yang terjadi. Memang bukanlah twist yang dibilang cerdas sekali, tetapi cukup untuk menghentikan misteri yang menyelimuti penonton selama 12 episode berlangsung. Terlebih twist tersebut punya kadar emosional tersendiri.
         Skor: 9/10



Tuesday, December 2, 2014

Anime Review: Psycho-Pass (2012)


Mungkin tidak sepopuler anime lain, tapi 'Psycho-Pass' berhasil membuat kesan yg baik ketika pertama kali melihat judulnya. Premisnya yg menarik menjadi alasan utk kembali menikmati euforia menonton anime yg sudah lama tidak dirasakan. 'Psycho-Pass' juga bukan tipikal anime yg menyajikan pertarungan seru dgn berbagai elemen fantasinya. Ini adalah drama kriminal-misteri layaknya film atau serial TV hollywood yg sudah mempengaruhi selera menonton sebelumnya. Akan ada banyak dialog A-Z yg keluar dari mulut karakter-karakternya. Tentang apa, siapa, bagaimana dan mengapa. Sampai dialog yg sedikit menyentuh tentang Rosseau, Plato hingga Shakespeare menjadi point tersendiri buat 'Psycho-Pass' (https://www.facebook.com/iim.alimran, November 19, 2014)
Paragaraf diatas adalah kesan pertama ketika saya nonton ‘Psycho-Pass’ (waktu itu masih 4-5 episode). Saya nonton Psycho-Pass tanpa pernah tahu sebelumnya tentang anime ini, tanpa rekomendasi siapapun, tanpa searching, lihat rating atau baca review-nya dulu. Saya hanya tak sengaja lihat judulnya terus tanpa pikir panjang langsung menontonnya. Dan hasilnya sangat memuaskan. Feeling saya ternyata tidak salah. Bekal jadi penikmat film (yang lumayan good taste) selama 2 tahun terakhir punya pengaruh juga. Haha. Saat ini saya memang sedang menikmati anime-anime Jepang yang sudah lama tidak saya nikmati. Ya, sekedar berdamai dengan masa kecil yang pernah didoktrin anime Jepang. Maklum 2-3 tahun terakhir, film-film luar Asia telah menjamah selera menonton saya. Hehe. Ok, balik lagi ke ‘Psycho-Pass’.
Psycho-Pass adalah salah satu serial anime Jepang yang diproduksi Production I.G. Season pertamanya yang berjumlah 22 episode mulai mengudara di tahun 2012. Mengambil set dunia di masa depan, premis ‘Psycho-Pass’ sangat menarik. Dimana dimasa depan ditemukan sebuah sistem yang mampu mendefinisikan tingkat kecendrungan tindak kriminal seseorang.
Pengisahan awal Psycho-Pass sangat sederhana sebenarnya. Sekumpulan agen keamanan pemerintah (polisi, detektif dan semacamnya) ditugaskan untuk membasmi kejahatan kota. Bisa dibilang, episode-episode awal ‘Psycho-Pass’ adalah sebuah perkenalan tentang istilah future world dalam dunia ‘Psycho-Pass’. Seperti Psycho-Pass, coefficient criminal, SiByL system dan lainnya.


Sebagai sebuah perkenalan, episode-epsiode awalnya sudah berhasil mengejawantahkan apa yang ingin diungkap ‘Psycho-Pass’. Dan kalau sebelumnya saya bilang sederhana, maka semua itu menjadi semakin kompleks ketika episode demi episode terus bergulir. Karena semakin episode berlanjut, maka konflikpun menjadi tidak sederhana lagi. Apalagi setelah villain utama mulai melakukan aksinya. Cakupannya menjadi semakin luas. Tidak lagi sekedar bercerita tentang membasmi orang-orang jahat. Ada konspirasi besar didalamnya. Sebagai penonton, kita dibawa masuk ke dunia ‘Psycho-Pass’, mencoba menerka dan memecahkan sendiri tentang apa yang terjadi.
Tidak banyak adegan aksi yang dipertontonkan disini, justru banyak dialog-dialog yang terkesan berat yang terlontar dari setiap karakter. Untuk yang tidak terbiasa mungkin ini agak membosankan. Tapi saya sangat menikmatinya. Apalagi ketika dialog bermuatan filosofis dari tokoh-tokoh dunia macam Rosseau, Plato hingga Shakespeare (dan masih banyak lagi) menjadi kenikmatan tersendiri. Dialog tersebut juga bukan hanya sekedar tempelan biar punya kesan keren. Tapi memang benar-benar dibutuhkan. Jarang sekali melihat anime berkonsep seperti ini. Anime berating R ini juga bukan tontonan anak kecil. Selain dialognya yang berat, ‘Psycho-Pass’ juga memuat adegan sadis walau ditampilkan secara eksplisit.
Ada yang bilang keberhasilan sebuah tontonan bisa dilihat dari siapa tokoh antagonisnya. Dan ‘Psycho-Pass’ punya Makishima Shougo yang idem dengan pernyataan diatas. Berbekal kecerdasan dan kemampuan analitis serta retorikanya, Makishima menjadi tokoh antagonis yang keren disini. Dibalik kharisma dan ketenangan yang ditampilkannya, tak sungkan pula ia melakukan hal-hal sadis.
Seorang antagonis tentu membutuhkan seorang lawan. Dan lawan Makishima adalah Kougami Shinya. Seorang mantan inspektur yang punya naluri detektif yang sangat kuat. Karakternya sendiri mengingatkan saya pada sosok Ichigo di ‘Bleach’. Melihat mereka berdua saya seperti melihat Batman dan Joker dalam The Dark Knight. Keduanya seperti saling melengkapi. Ingat kata-kata manis Joker pada Batman, “What can I do without you? ___ You complete Me!” Begitulah hubungan Kougami dan Makishima.


Namun kalau ditarik benang lebih jauh, sebenarnya tidak ada yang benar-benar protagonis atau antogonis disini. Semuanya serba abu-abu. Bahkan saya tidak menyalahkan persepsi Makishima atapun persepsi Kougami sendiri mengenai apa yang mereka hadapi. Dalam konteks ini, kita bisa melihat bagaimana tokoh protagonis dan antagonis menjadi bias.
Selain konflik yang berkembang, tokoh-tokoh dalam ‘Psycho-Pass’ juga mengalami pengembangan karakter yang cukup baik. Kita bisa menjadi saksi transformasi karakter yang berkembang setiap episodenya. Yang paling terasa sekali adalah karakter inspektur muda Tsunemori Akane. Dia berkembang sangata jauh dari episode awal sampai akhir.
Separuh akhir ‘Psycho-Pass’ adalah episode-episode yang paling seru menurut saya. Meskipun sempat rada kecewa di episode 11 karena berasa turun tensinya. Tapi setelahnya adalah moment-moment yang mengejutkan dan menegangkan. Berbagai twist mulai bermunculan mengisi kepingan puzzle yang telah disebar sebelumnya. Insting kita sebagai penonton pun diuji disini.
Overall, terlepas dari hal apapun, saya suka sekali sama ‘Psycho-Pass’. Salah satu anime favorit saya sepanjang masa. Sebuah anime dewasa yang serius. Sangat jarang memunculkan hal-hal bodoh dan konyol yang biasa dilakukan di anime-anime lain. Yang ada justru humor-humor satir yang terucap. Dan nuansa kelam dunia masa depanpun tergambar begitu apik disini. Very good!
Skor: 9.4/10