Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Wednesday, November 12, 2014

About Movie: Interstellar (2014)




“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars,
now we just look down and worry about our place in the dirt”
- Cooper -

Christopher Nolan sudah mempatenkan namanya sebagai salah satu sutradara yang karyanya selalu ditunggu para penikmat film dekade terakhir ini. Dan itu semua memang bukan tanpa alasan. Filmography-nya yang belum mencapai 10 (sepuluh) itu sudah menjadi saksinya. Karya-karya yang telah ditelurkannya bisa dibilang tidak ada yang gagal. Bahkan terbilang spektakuler. ‘Memento’, The Prestige’, ‘The Dark Knight’ sampai ‘Inception’ adalah sebagian dari karyanya yang takkan sungkan kita puji setinggi-tingginya. Dengan ciri khasnya, nama Christopher Nolan memang jadi salah satu Director yang jadi favorit para pecinta film.
Setelah bermain-main dengan dimensi alam mimpi dengan pendekatan sci-fi yang bisa dibilang rada masuk akal a.k.a. mendekati realitas. Christopher Nolan kembali menantang dirinya melampaui batas-batas yang pernah dilaluinya. Dalam sebuah film bernada ambisius bertajuk ‘Interstellar’, kita akan diajak menjelajahi angkasa raya. Melintasi galaksi. Melintasi dimensi ruang dan waktu.
Tahun kemarin, tema survival di angkasa telah membawa nama Alfonso Cuaron jadi sutradara terbaik. Karena sukses menyajikan sebuah pengalaman sinematik yang luar biasa tentang angkasa dalam ‘Gravity’. Dan kali ini, Christopher Nolan membawa premis yang kurang lebih sama namun lebih luas. Menghadirkan sisi lain tentang premis tersebut. Lebih kompleks dari ‘Gravity’-nya Alfonso Cuaron. Berawal dari kondisi bumi yang sudah tidak bersahabat, sebuah misi berat diemban Cooper bersama timnya demi menyelamatkan ras manusia dari kepunahan dimasa depan. 

- The end of earth will not be the end of us -

Seperti kebiasan film-filmnya Nolan yang ingin segala sesuatunya punya kesan real yang kuat, walaupun pada intinya fiksi-fiksi juga. Nolan memberi pendekatan sci-fi pada ‘Interstellar’ yang kalau dilihat cukup terasa nuansa science-nya dibanding fiction-nya. Dengan kata lain, walaupun ini karya fiksi namun penjelasan-penjelasan tentang science-nya sangat bisa diterima dan masuk akal. Jadi jangan heran kalau ‘Interstellar’ akan menceramahi kita dengan teori-teori fisika yang jujur saya awam sekali soal ini. Kip Thorne theroy, Murphy’s law, quantum physics, relativity, singularity, wormhole, blackhole dan seabrek theoritical physics lainnya. Tapi hebatnya, Nolan menjejali teori rumit tersebut dengan penuturan yang terdengar nyaman lewat naskah yang ditulisnya bersama sang adik, Jonathan Nolan.
‘Interstellar’ yang bisa diartikan “perjalanan antar bintang” memang tidak hanya berbicara tentang bagaimana sekelompok manusia yang menjelajahi angkasa guna mencari tempat tinggal lain selain bumi. Karena memang ‘Interstellar’ menyajikan sisi yang lain. Ada sebuah drama ayah-anak mengharukan yang tersaji indah berkat chemistry Matthew McConaughey dan McKenzie Foy. Yang memang tidak hanya berfungsi sebagai tempelan atau bumbu drama semata. Nanti akan tahu sendiri jawabannya.
Dari sisi teknis, saya tidak berhenti untuk terkagum menikmati sinematografi indah nan megah. Berbaur dengan scoring sang maestro Hans Zimmer yang tak pernah gagal mengaduk-ngaduk emosi dan membuat saya tidak bisa berkata-kata lagi. Sayang sekali di Bandung tidak ada studio IMAX. Film seperti ini memang akan semakin maksimal dan terasa makin megah jika ditonton di IMAX.
Sepertinya tak perlu dibahas lebih jauh lagi, karena menontonnya langsung adalah pilihan paling tepat saat ini. Akhir kata, ‘Interstellar’ memang bukan yang paling terbaik dari Christopher Nolan. Namun tetap saja kualitasnya tak kalah mentereng dari karya-karya Nolan yang lainnya. Dan tak bisa dipungkiri ini adalah salah satu sajian sci-fi terbaik tahun ini bahkan juga untuk beberapa tahun ke belakang. Apalagi film-film yang mengusung tema original sudah semakin jarang ditengah maraknya adaptasi novel dan komik akhir-akhir ini. Karena itulah ‘Interstellar’ menjadi pilihan yang sangat recommended. Durasinya yang hampir 3 jam tidak akan terasa lama dan lelah untuk diikuti. Salah satu film terbaik di tahun ini.
P.S. Film-filmnya Nolan adalah sebuah lingkaran. Lingkaran yang tak pernah putus dan menghubungkan keseluruhan isinya menjadi satu kesatuan dalam bentuk esensi. Menantang nalar. Menyelipkan misteri dan plot twist. Kemudian memberikan misteri lagi dan membiarkan penonton berimajinasi, menjawab dan membuktikan sendiri tentang apa yang mereka lihat.
Menonton ‘Interstellar’ seperti membawa sebuah aura positif untuk film sci-fi, khususnya yang mempunyai tema luar angkasa. Jadi ingin menonton ulang ‘2001: A Space Odyssey’-nya Stanley Kubrick, ‘Close Encounters of the Third Kind’-nya Steven Spielberg, ‘Contact’-nya Robert Zemeckis, ‘Gravity’-nya Alfonso Cuaron dan film-film tentang angkasa lainnya.

Tentang Mini Drama Ada Apa Dengan Cinta?


Sudah kurang lebih seminggu Mini Drama Ada Apa Dengan Cinta? 2014 menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Sejak di upload di youtube 6 November lalu, viewer-nya saat ini sudah mencapai 3 jutaan lebih. Bukan hanya di media-media online, media-media lain pun (seperti televisi) juga ikut-ikutan terkena demam nostalgia kisah belum usai Rangga dan Cinta. Belum lagi meme-meme dan parodi-parodi yang juga turut meramaikan kehadiran mereka. Melihat respon yang cukup positif, banyak kalangan yang mengharapkan sekuel asli berbentuk film panjang dari AADC? yang dirilis tahun 2002 ini. Tapi haruskah AADC? dibuat sekuelnya?



Sedikit flashback ke belakang, Ada Apa Dengan Cinta? adalah film Indonesia yang rilis tahun 2002 yang  disturadarai oleh Rudy Soedjarwo. Film ini disebut-sebut sebagai tonggak kebangkitan film Indonesia dan jadi pelopor film remaja romantis modern di Indonesia. Kisahnya yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan cara bertuturnya yang terasa nyaman untuk diikuti memang menjadi alasan kenapa film AADC? jadi tontonan wajib remaja Indonesia dari berbagai generasi. Tak hanya itu, AADC? juga punya element-element yang selalu nempel diingatan penonton. Buku ‘Aku’-nya Sumandjaya, tarian geng Cinta, soundtrack-soundtrack keren (yang terbaik yang pernah dibuat Mely Goeslow) dan pastinya puisi-puisi Rangga. “Pecahkan saja gelasnya biar ramai”, sudah ikonik banget tuh! Dan masih banyak hal-hal lain yang membuat AADC? meninggalkan kesan di benak penontonnya.

Tahun ini, lewat sebuah ajang perkenalan fitur baru dari salah satu perusahaan instant messaging asal Jepang. Sebuah mini drama Ada Apa dengan Cinta? (2014) dirilis. Sebelum menonton AADC? 2014, saya belum tahu kalau ternyata sekuel AADC? yang heboh dibicarain orang-orang adalah untuk keperluan komersial. Pertamanya merasa janggal ketika lihat scene-nya diawal, yang langsung terpatri dalam otak saya, “Ini iklan banget!”. Dan ketika durasi 10 menitannya berakhir, praduga saya ternyata benar. Namun, biarpun untuk kepentingan komersial, AADC? 2014 punya sesuatu yang tidak hanya dibuat untuk sekedar urusan promosi/iklan. Ada keseriusan yang bisa kita lihat dalam eksekusinya yang tertata dengan baik dan sangat rapi. Karena penggarapannya yang serius itu pula, AADC? 2014 tidak hanya sukses membuat kita kangen dan terjebak nostalgia, tapi berharap benar-benar akan ada sekuel dari AADC? Btw, para pemerannya udah pada gendut ya? Hehe.

Memang banyak orang yang mengharapkan dibuatkan sekuel Ada Apa dengan Cinta? namun saya sendiri tidak terlalu mengharapkan demikian. Alasannya jelas, saya takut kalau film sekuelnya nanti tidak sebagus predesesornya. Ya kalau benar dibuat sekuelnya nanti, kalau bagus sih, gak apa-apa, terus bagaimana kalau hasilnya jelek? Itu semua akan menghancurkan image film Ada Apa dengan Cinta? sendiri yang sudah 12 tahun lebih meninggalkan bekas dihati para penonton. Memang akan jadi PR berat jika AADC? benar-benar akan dibuat sekuelnya. Orang-orang yang ada dibalik film tersebut memang harus orang yang tepat, dibuat dengan serius dan dibuat bukan hanya sekedar melihat animo masyarakat saja apalagi untuk meraih keuntungan. Sekuel ini dibuat memang karena ceritanya sendiri akan berlanjut. Bukan karena apa-apa. Bukan untuk kepentingan apa-apa.

Kalau buat saya sih, AADC? itu mending gak usah dibuat sekuelnya. Biar saja AADC? tetap seperti yang kita lihat, yang apa adanya, tak berlebihan tapi meninggalkan kesan dibenak setiap orang yang menontonnya. Biarlah kisah Cinta dan Rangga yang belum usai tak pernah terjawab. Biarlah satu purnama yang ditunggu-tunggu tak pernah datang. Biarlah semuanya menggantung. Dan biarkan penonton berimajinasi sendiri tentang akhir dari pertanyaan yang belum sempat terjawab. 



Saturday, November 8, 2014

Puisi Pesenan


“Ya ampun, Dinda! Mana ada orang bikin puisi pake tender, pake pesenan. Puisi itu keindahan kehidupan, keindahan kata-kata. Pokoknya banyak deh definisinya”, Zafran berujar kesal pada Dinda (5 cm).

Puisi pakai pesenan. Memang rada aneh kedengarannya. Tapi percaya atau tidak saya pernah bikin puisi pesenan. Waktu itu, ada seorang ibu guru yang sudah saya kenal selama kurang lebih 4 bulan terakhir ini. Dia meminta saya untuk membuat puisi buat suaminya. Bingung juga sebenarnya, toh saya gak pinter-pinter amat membuat puisi (Ini bener! Serius!). Walaupun akhirnya tergerak juga untuk membuat. Dan hasilnya? Sebuah rangkaian kata (sebut saja itu puisi) yang direka-reka tercipta. Meski saya merasa puisi ini adalah puisi dari laki-laki untuk perempuan (bukan sebaliknya). Tapi Mudah-mudahan yang mesen puas dan beneran bisa jadi kado untuk orang yang dimaksud.

Puisi pesenan? Saya juga bingung ngasih judulnya apa. Hehe....



Saat kau memilihku

Aku sadar aku bukan yang paling baik

Terlebih untukmu

Namun aku yakin

Janji yang telah kita ikrarkan

Ada dalam goresan pena Sang Kuasa

Untuk menunjukkan cinta-Nya

Dan aku percaya

Bahwa engkaulah alasan

Untuk menjadi yang pertama kulihat

Saat pertama ku membuka mata

Dan menjadi yang terakhir kulihat

Sesaat sebelum memejamkan mata

Tak pernah tahu hari seperti apa yang akan kita lalui

Selama apa pula kita harus berjalan

Tapi bersamamu

Aku takkan ragu

Selama bersamamu

Aku mau...


Friday, October 31, 2014

Catatan Nonton #Oktober’14


Sepert biasa, kumpulan short review film ‘One Story, About...’ kembali hadir. Beberapa film dalam ‘Catatan Nonton’ kali ini adalah film horor. Mungkin karena ini bulan Oktober yg punya moment halloween kali ya? Entahlah. Tapi yang pasti nikmati saja edisi ‘Catatan Nonton #Oktober’14’ ini. Tak lupa “Movie of the Month” untuk edisi kali ini. Ada ‘The Orphanage’ yang sukses membuat saya merasa tegang sekaligus membuat dada saya sesak. Oh satu lagi, seperti biasa gambar diambil dari sini ya!



Annabelle (2014) (06/10/14)



Short review:

Mungkin inilah jadinya ketika sebuah film dibuat terlalu terburu-buru. Hanya demi meraih pundi-pundi dolar dari hype masyarakat lewat popularitas boneka ikonik di 'The Conjuring'. Tanpa pemilihan Director dan Script Writer yg tepat, hasilnya adalah sebuah tontonan datar. Co-pas sini, co-pas sana tanpa kreativitas. Terlalu mudah untuk dilupakan. Bahkan untuk tampil lebih menyeramkan dari film induknyapun 'Annabelle' tak mampu. Malah kehadiran 'Annabelle' yang jadi tajuk utama sekaligus alasan kenapa orang rela pergi ke bioskop menjadi tidak berarti sama sekali karena script yg melebar kemana-mana. Lebih parahnya lagi, 'Annabelle' ditutup dengan ending paling bodoh yang pernah saya temukan dalam film horor.

Skor: 2/5



The Girl with the Dragon Tattoo (2011) (10/10/14)




Short review:

Sedikit mengobati kekecewaan karena 'Gone Girl' tidak jadi tayang di Indonesia, 'The Girl with the Dragon Tattoo' jadi pilihan. Lucunya, film ini juga mengalami hal yang sama dengan 'Gone Girl' waktu perilisannya dulu. David Fincher memang sutradara yang tak mau ada sedetikpun scene yang dipotong dari filmnya, namun karena ini negara Indonesia yg masih memegang teguh norma moral dan budaya. Tentu ketika ada scene yang memang dianggap tak layak oleh LSF maka sudah pasti scene tersebut harus dipotong. Dan karena tak ada kesepakatan antara kedua belah pihak maka pilihan untuk tidak ditayangkan adalah tepat. Hanya saja, saya harus gigit jari karena tak bisa menyaksikan 'Gone Girl' yg memang sudah saya tunggu dari tahun lalu.

Skor: 3,75/5



22 Jump Street (2014) (12/10/14)



Short review:

Overall, formula '22 Jump Street' masih sama dengan predesesornya '21 Jump Street'. Bahkan sangat terasa nuansa copy-paste-nya. '22 Jump Street' masih menawarkan kegilaan-kegilaan duo Tatum-Hill yg semakin terasa chemistry-nya, dialog2 kasar, kotor dan jorok, lelucon dan joke-joke konyol serta adegan aksi khas buddy-cop movie. Namun karena hanya berupa pengulangan, hal-hal tersebut menjadi terkesan biasa saja (tidak terlalu mengejutkan). Walaupun tak bisa dipungkiri '22 Jump Street' sebenarnya tampil cukup menghibur. Plus sebuah parade gila di after credit scene yang tak boleh dilewatkan.

Skor: 3/5



The Purge: Anarchy (2014) (14/10/14)



Short review:

Setelah kehadirannya yang cukup mencuri perhatian tahun lalu. Sebuah premis orisinil dan gila yang diterapkan James DeMonaco. 'The Purge' kembali menebar teror 12 jam dilegalkannya aksi kriminal. 'Anarchy' yg jadi subjudul kali ini, membawa skala 'The Purge' lebih besar dari hanya sekedar sebuah rumah. Film pertamanya memang agak mengecewakan dan di 'Anarchy' James DeMonaco seperti ingin belajar dari kesalahan sebelumnya. Memang 'Anarchy' sedikit mengalami perbaikan. Tampil cukup meyakinkan diawal terutama ketika gerombolan pria bertopeng muncul. Namun selebihnya saya masih belum bisa merasakan konsep gila 'The Purge' yang saya harapkan. Kehadiran 'The Purge 3' yang rumornya bakal dibuat semoga bisa memuaskan hasrat akan konsep 'The Purge' yang sesungguhnya

Skor: 3,25/5



V for Vendetta (2005) (14/10/14)



Short review:

Rumornya kondisi politik kita dalam kondisi aneh ditengah fase pergantian rezim. Berbagai isu muncul menimbulkan pro-kontra dimana-mana. Sampai bermunculan hasthag-hashtag yang jadi trend. Selalu jadi topik hangat ketika dua koalisi bersaing memperebutkan kursi pemerintahan. Lalu apa jadinya ketika dua unsur utama dalam pemerintahan (eksekutif dan legislatif) dikuasai dua blok yang sudah saling bersaing sejak awalnya. Saya jadi ingat film yang diadaptasi dari komik karya Alan Moore yang ini. Memang kondisinya berbeda dan terlalu jauh berbicara politik Indonesia akan sama dengan London "imajiner" tahun 2020 ini. Namun tidak ada salahnya sejenak kita merenungi sebuah pergerakan revolusi lewat film ini.

Ketika sebuah rezim pemerintahan berbuat seenaknya dan membatasi kebebasan rakyatnya, tentu hal itu akan sangat dibenci. Namun apa daya, sebagai rakyat tak bisa berbuat apa-apa. Maka yang diperlukan adalah simbol yang mampu menginspirasi pergerakan rakyat untuk sebuah revolusi. 'V for Vendetta' adalah sebuah film revolusioner yang menggugah. Simbol revolusi dalam sosok misterius bertopeng Guy Fawkes yg menamai dirinya 'V'. Memang tindakannya menimbulkan ambiguitas moral dgn caranya yg ekstrim guna meraih simpati masyarakat untuk bersatu. Namun harus dengan cara apalagi untuk menampar pikiran rakyat saat sistem totalitarian dianut pemerintahan sehingga semua hal diatur oleh negara, bahkan sampai cara bertingkah laku yg sesuai keinginan mereka?

Skor: 4/5



Trick ‘r Treat (2007) (22/10/14)



Short review:

Film ini memang langsung rilis lewat DVD, tapi hal itu tidak menurunkan kualitasnya. Justru yang jadi pertanyaan adalah kenapa film bagus seperti ini tidak rilis di bioskop? Michael Dougherty yg bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis naskah tahu betul cara memperlakukan suasana halloween seperti yg seharusnya. Layaknya sebuah dongeng, 'Trick 'r Treat' mengajak kita menelusuri kumpulan cerita yg entah kenapa walaupun ceritanya berdiri sendiri-sendiri tapi sangat terasa sebagai satu kesatuan yang utuh.Terlebih lagi karena setiap cerita punya twist-nya sendiri. Dan kemunculan sosok kecil misterius dgn kepala tertutupi karung bernama Sam yg selalu muncul seakan jadi benang merah dr kumpulan cerita 'Trick 'r Treat'.

Skor: 3,75/5



The Orphanage (2007) (26/10/14)



Short review:

Nuansa creepy-nya sedikit mengingatkan 'The Others'-nya Alejandro Amenábar, tapi tentu saja 'The Orphanage' tidak berakhir sprti 'The Others'. Ada sebuah misteri tak terduga, yang lebih dari hanya sekedar bangunan tua yang menunjukkan gelagat horornya. 'The Orphanage' adalah tipikal film horor yang saya suka. Tak perlu tampil sok-sok menyeramkan dgn memunculkan sosok yang tampil malu-malu, datang, pergi, datang lagi, pergi lagi, begitu seterusnya, Sok-sok mengejutkan. Film Spanyol garapan J. A. Bayona ini punya jalinan cerita yang cerdas, script yang membawa imajinasi penonton menelusuri fakta2 yg terjadi, aura creepy yang kelam + sebuah twist yg menanti.

Skor: 4/5