Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Saturday, August 1, 2015

Begin Again (2014): Memupus Lara Lewat Musik

Saya suka film yang menjadikan musik sebagai penggerak cerita. Beberapa judul sudah banyak yang mencuri perhatian saya. Sebut saja Inside Llewyn Davis (Coen Brothers) yang muram namun hangat dengan alunan folk-nya. Frank (Lenny Abrahamson) dengan musik super anehnya. Whiplash (Damien Chazelle) yang ambisius. Atau Once (John Carney) yang manis romantis itu.
Cinta dan musik memang satu paket, setidaknya bagi John Carney. Ia sepertinya sadar betul bahwa tak perlu mengumbar kata-kata cinta sok puitis untuk membuat kisah cinta yang indah. Dengan musik, hubungan dua insan bisa menjadi begitu manis. Itulah yang saya rasakan lewat Once (2006). Masih terpatri jelas dalam benak jamming session Glen Hansard dan Marketa Irglova menyanyikan soundtrack paling manis sedunia, Falling Slowly. That’s sweet moment and romantic movie scene. Lalu setelah tujuh tahun, John Carney kembali dengan konsep yang sama dalam ‘Begin Again’.
Musik adalah bahasa universal. Tak peduli hal apapun, musik masihlah bahasa yang bisa menyatukan seluruh manusia dibumi ini. Tak terkecuali buat dua orang yang tengah gundah gulana dengan problem-nya masing-masing. Ada Gretta (Keira Knightley) yang galau setelah putus dengan pacarnya, Dave Kohl -not Dave Grohl- (Adam Levine) yang ketahuan selingkuh. Kemudian ada Dan (Mark Ruffalo), pria paruh baya dengan permasalahan lebih kompleks yang melibatkan keluarga dan pekerjaan. Keduanya lalu bertemu,.. karena musik.
Tidak seperti ‘Once’ yang sederhana, ‘Begin Again’ memang terasa lebih besar disemua aspek. Mulai dari cast, plot, set, musik sampai dana yang lebih besar. Karena hal itu pula (mungkin) kita tidak merasakan keintiman yang sama di ‘Begin Again’ seperti yang dirasakan dalam ‘Once’. Namun bukan berarti ‘Begin Again’ tak bagus. Ia masih tetap bagus dan,.. indah tentunya. Nyatanya, meski tak sepersonal ‘Once’, ‘Begin Again’ masih menyisakan ‘sisi dekat’ tersebut kepada penontonnya dengan cara lain.


Mengalir dengan lembut. Seperti itulah ‘Begin Again’ bergulir. Seperti halnya imajinasi Dan yang mengalir begitu saja setelah mendengar ‘A Step You Can’t Take Back’ pada sesi open mic di sebuah bar. Kecintaannya terhadap musik dan insting produsernya langsung bekerja secara naluriah. Lagu yang dinyanyikan Gretta hanya dengan gitar akustik terdengar semakin easy listening ketika piano, biola, cello dan drum membentuk sebuah harmoni bersama suara lembut Knightley.
Seperti pula hubungan Dan dan Gretta yang terjalin begitu saja. Tidak terasa cheesy walau sesungguhnya memiliki potensi untuk itu. Namun ditangan Carney semuanya bisa diminimalisir tanpa sedikitpun kehilangan sisi emosional. Acara jalan-jalan malam berdua ditemani playlist random classic ala Gretta tetap menjadi yang termanis disini. Oh ya, dalam film hollywood, genre apapun, setelah dua orang menikmati moment-moment manis, rasanya penonton akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu pula dengan Dan dan Gretta. Untungnya itu semua tidak terjadi. Thank you so much, Carney! Walaupun mereka berdua sempat kikuk juga ketika Steve menyapa. Haha.
Musik masih menjadi nyawa bagi Carney. Berbeda dengan ‘Once’ yang minimalis lewat gitar akustik dan piano. ‘Begin Again’ memang terdengar lebih nge-band dengan melibatkan banyak instrumen didalamnya. Track-track yang dinyanyikan Knightley maupun Levine masih akan terngiang ditelinga. Terutama lagu yang dinyanyikan Knightley. Nomor-nomor macam ‘A Step You Can’t Take Back’, ‘Coming Up Roses’, ‘Like a Fool’, ‘Lost Stars’ sampai yang paling keren ‘Tell Me If You Wanna Go Home’ yang dinyanyikan diatas rooftop depan gedung Empire Estate. Konsep outdoor recording yang diambil keduanya turut memberi fun unsure didalamnya. ‘Lost Stars’ yang dibawakan Adam Levine memang tidak semagis ‘Falling Slowly’, namun nyanyiannya di ending seolah ungkapan pahit-manis hubungan Gretta dan Dave, terasa menyatu bersama filmnya.


Romansa yang paling jelas tentu bisa dilihat dari Gretta dan Dave. Namun nyatanya bukan kisah romansa mereka yang menjadi fokus. Akan tetapi lihatlah bagaimana hubungan Dan dan Gretta. Bertemu tanpa sengaja, berbincang, berjalan-jalan, menghabiskan waktu bersama-sama, marahan, berbaikan lagi sampai mereka membuat moment manisnya sendiri. Siapapun tak menyangkal jika ada getar-getar cinta antara mereka berdua tanpa perlu saling berkata “I Love U”. Pelukan terakhir, dimana Dan memegang tangan Gretta sebelum berpisah, mereka bertatapan dalam. Dalam sekali. Seakan masing-masing mereka saling bicara, “kemesraan ini janganlah cepat berlalu...” (Bukankah itu cinta?)
Memang akhirnya mereka tak bersatu. Namun kita tahu bahwa kecintaan keduanya terhadap musiklah yang membuat semuanya terjadi. Lewat musik keduanya bisa tertawa lepas tanpa beban, bisa bersenang-senang, bahkan lupa kalau sesungguhnya mereka tengah terluka. Dan saling membagi rasa lewat musik lebih besar artinya daripada sekedar menuangkan hasrat ingin memiliki satu sama lain.
So let’s, Begin Again!

Thursday, July 30, 2015

Catatan Nonton #Juli’15

Edisi ke-20 dari Catatan Nonton di bulan Juli ini. Daftar filmnya masih bisa dihitung jari, tapi bertambah sedikit daripada bulan lalu. Movie of the month kali ini adalah ‘The Guest’ yang dibintangi Dan Stevens. Memang, masih ada yang lebih bagus dibanding ‘The Guest’, namun pesona Dan Stevens seperti masih membekas, mengingatkan saya akan Ryan Gosling di ‘Drive’. Selain karena ‘The Guest’ menghibur tentunya.

It Follows (2014) (03/07/15)
Short review:
Opening mencekam sekaligus penuh misteri telah sukses membuat penonton untuk tetap terjaga menyaksikan bagaimana sosok “It” yang mem-“Follows”. Seolah “It” itu ikut-ikutan mengikuti kita dan membawa kita masuk pada dunianya. Membangun suasana horor lewat atmosfernya memang terasa lebih mengerikan dibanding jump scare berlebihan yang banyak ditemui di film-film horor lain. Dan Robert Mitchells tahu benar akan hal ini. Seiring alur yang terus melaju, ‘It Follows’ tak henti-hentinya menebarkan aura creepy bersama sisi teknisnya yang apik. Premisnya mungkin terkesan bodoh dan menggernyitkan dahi, namun bila ditarik perspektif lain, ada sebuah kritik sosial yang coba disampaikan Robert Mitchells terkait kehidupan seks bebas di zaman sekarang ini.
Skor: 3,75/5

The Guest (2014) (03/07/15)
Short review:
Nuansa ’80-an begitu mewarnai film garapan Adam Wingard ini. Semuanya terasa begitu menyenangkan bersama kehadiran sesosok pria kharismatik yang menjadi “tamu” misterius. Selayaknya sosok David (Dan Stevens) yang langsung mempesona keluarga Peterson di perjumpaan pertamanya, seperti itu pulalah pesona ‘The Guest’ yang langsung menghipnotis kita untuk terus mengikuti alurnya. Moment-moment santai, tegang, sadis, lucu sampai romantis dihadirkan silih berganti namun tanpa sedikitpun mengurangi tensi yang ada. Hingga tiba pada sebuah klimaks di sebuah set pesta dansa dengan gemerlap lampu berwarna-warni lengkap dengan iringan lagu eighties-nya yang tetap keren di tangan Wingard. Dan, Dan Stevens, memang dialah alasan utamanya.
Skor: 3,75/5

Deliver Us From Evil (2014) (04/07/15)
Short review:
‘Deliver Us From Evil’ mungkin akan menjadi berbeda dengan horor kebanyakan, ketika sebuah dunia kriminal dihubungkan dengan dunia supranatural. Seolah kekuatan gelap dunia supranatural tidak bisa dipisahkan dari kejahatan dalam kehidupan sehari-hari. Diilhami kisah nyata, dari seorang mantan polisi Ralph Sarchie yang harus berhadapan dengan kasus yang tak pernah ditemukan sebelumnya. Scott Derrickson meramu kisahnya dengan tema pengusiran setan yang sudah sering diangkat dari film horor. Namun tidak seperti yang dilakukannya di ‘The Exorcism of Emily Rose’,  Scott Derrickson memperlakukan ‘Deliver Us From Evil’ dengan sangat ngepop alias terlalu pasaran. Memang ciri khasnya masih bisa dirasakan, namun tidak terlampau berkesan seperti ‘Sinister’ yang dulu mencuri perhatian saya.
Skor: 3/5

Locke (2013) (05/07/15)
Short review:
Mungkin tidak semua orang akan senang melihat seorang Tom Hardy yang menyetir mobil dimalam hari dari Birmingham ke London dan hanya berbicara via telepon dengan orang-orang yang berurusan dengannnya. Perjalanannya pun bisa dibilang normal-normal saja, tidak ada hal-hal mengejutkan yang berpotensi membuat ‘Locke’ menjadi dramatis. Ya, sepanjang durasinya, kita memang hanya akan melihat sosok Ivan Locke dalam wujud Tom Hardy ditemaramnya malam. Yang terus berbicara via telepon dan sesekali mengumpat. Tak ada orang lain, hanya dirinya seorang. Bukan drama berlebihan memang yang ditawarkan Steven Knight, kita hanya diajak untuk melihat bagaimana seorang pria dengan dilema hatinya harus membuat keputusan penting dalam hidupnya meskipun ia harus kehilangan segalanya. Ada dosa yang ingin ditebus. Ada keinginan yang kuat untuk tidak menjadi apa yang dia benci. Dialog-dialog Ivan Locke di telepon juga bukan tanpa arti, sisi humanisnya terasa related dengan kehidupan.
Skor: 4/5

You’re Next (2011) (18/07/15)
Short review:
‘You’re Next’ telah menandai Adam Wingard bersama kompatriotnya Simon Barret sebagai kreator horor/thriller yang patut diperhitungkan kehadirannya saat ini. Kesenangannya menghadirkan tontonan gore/slasher terlihat begitu jelas disini. Mengusung tema home invasion, ‘You’re Next’ hadir dengan segala element gore yang layak dinikmati. Tidak terlampau sadis sampai terasa disturbing namun tidak pula tampil murahan. Tidak hanya menampilkan kesadisan dan ketegangan, Adam Wingard juga menyajikan beberapa kejutan yang cukup potensial untuk menghentak penontonnya. Tapi lebih dari itu semua, kesenangan sesungguhnya hadir pada sosok cantik Erin Harson (Sharni Vinson) sebagai heroine kuat yang tak kalah brutalnya. Dari tangannya lah, peralatan rumah tangga bertransformasi menjadi alat membunuh yang mengerikan.
Skor: 3,75/5

Shutter Island (2010) (21/07/15)
Short review:
Seperti melihat film klasik dalam balutan modern melihat karya Martin Scorsese yang menandai kerja sama keempat kalinya bersama Leonardo Di Caprio. Mulai dari gambar, pergerakan kamera, dialog-dialog antar karakter sampai scoring nyaring yang menghantui. Semuanya terasa begitu klasik, mengingatkan saya akan film-film thriller zaman dulu yang memang memiliki ciri seperti yang saya sebutkan. Bermain dalam ranah psikologis, Scorsese seperti enggan to the point, ia lebih memilih menebarkan kepingan puzzle misterinya dengan tempo yang begitu lambat. Pulau misterius yang berisi karakter yang tak kalah misteriusnya ini seolah mengajak kita untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi di pulau tersebut. Twist ending pun telah disiapkan Scorsese guna mengungkap semua yang terjadi. Mungkin tidak sampai mengejutkan tapi cukup efektif untuk menjawabnya.
Skor: 4/5

The Strangers (2008) (22/07/15)
Short review:
Sejumlah orang tak dikenal menyatroni sebuah rumah. Meneror penghuninya tanpa motif yang jelas, selain memberi ketakutan kepada para korbannya, sebelum membunuhnya tentunya. Terdengar familiar untuk sebuah premis home invasion thriller, tapi memang begitulah adanya. Dan ‘The Strangers’ yang katanya terinspirasi dari kisah nyata ini adalah bagaimana sebuah film home invasion thriller bekerja. Ya, semua kenikmatan genre ini bisa dirasakan dari ‘The Strangers’. Meskipun tidak menawarkan sesuatu yang baru, tapi ‘The Strangers’ tetap menyajikan kegeriannya sendiri. Dibuka dengan pelan bersama dua sejoli yang sedang galau, namun tidak sampai terlalu melankolis karena setelah suara ketukan pintu terdengar, ‘The Strangers’ pun mulai menunjukkan gelagatnya.
Skor: 3,5/5

Thursday, July 9, 2015

Mereka yang Membawa Al Qur’an

Waktu saya masih praktik industri disebuah perusahaan kontraktor, saya satu kelompok dengan seorang teman perempuan. Bisa dibilang dia termasuk golongan yang saya sebut dengan ‘akhwat’. Tak perlu lah saya jelaskan definisi ‘akhwat’ itu sendiri. Tapi yang pasti, menurut saya, mereka itu hebat-hebat. Satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah kemana-mana mereka suka membawa Al Qur’an dan membacanya dimanapun mereka berada.
Kembali lagi ke masa praktik industri saya dulu. Waktu itu memang kita sedang menunggu (entah menunggu apa, saya lupa) di kantor kontraktor tersebut. Awalnya saya terkejut melihat dia tiba-tiba mengeluarkan Al Qur’an yang ada terjemahannya yang dilanjutkan dengan membacanya. Saya terkejut bukan tanpa alasan, karena memang jarang saya temui orang yang membawa Al Qur’an kemana-mana bahkan membacanya ditempat umum seperti ini. Bahkan teman saya yang ngakunya hobi membaca Al Qur’an pun tak pernah saya lihat dia membawa Al Qur’an kemana-mana dan membacanya seperti teman ‘akhwat’ satu ini.
Orang memang cenderung terkejut akan hal yang jarang dilakukan olehnya. Tak terkecuali buat saya. Entah darimana asalnya, tapi saya punya stigma bahwa membaca Al Qur’an itu harus dibaca di mesjid atau musholla. Paling tidak di rumah atau di kamar sendiri. Namun setelah melihat teman ‘akhwat’ tadi, saya mulai tersadar, bahwa pandangan saya soal ini ternyata masih sangat sempit sekali. Al Qur’an memang bisa dibaca dimana saja. Bisa dipelajari dimana saja. Bahkan di tempat umum yang penuh sesak dengan keramaian sekalipun.
Al Qur’an itu pedoman. Al Qur’an itu pengingat. Al Qur’an itu obat. Al Qur’an itu pembeda. Al Qur’an itu ilmu. Al Qur’an itu segalanya yang dibutuhkan manusia. Semuanya ada disana. Tinggal kita saja manusia bagaimana harus memperlakukannya. Dan saya pikir apa yang dilakukan oleh teman ‘akhwat’ itu tepat. Lebih tepat dan lebih baik dari saya yang kemana-mana malah membawa novel terjemahan. Hehe.
Sebagai seorang muslim, tentu harus dekat dengan pedomannya. Dan karena itulah Al Qur’an ada. Namun tak jarang diantara kita menjadikan Al Qur’an sebagai hiasan tanda bahwa kita orang Islam saja. Saya yakin bahwa semua orang mempunyai Al Qur’an nya masing-masing, namun tak jarang Al Qur’an hanyalah sekedar tumpukan kertas semata. Seolah tak berbeda dengan tumpukan-tumpukan kertas lainnya. Lantas, seberapa seringkah kita menyentuhnya? Seberapa seringkah kita membacanya? Seberapa seringkah kita mempelajari dan memahaminya? Seberapa seringkah kita mencoba dekat dengannya?
Tak berhenti sampai disitu, karena tak jarang pula ada orang yang ‘nyinyir’ jika ada orang yang membawa dan membaca Al Qur’an ditempat umum (seperti teman ‘akhwat’ tadi). Mereka itu kadang dianggap sok suci lah. Sok religius lah. Sok agamis lah. Lebih parah lagi jika yang ‘nyinyir’ itu sama-sama muslim. Padahal Al Qur’an memang bisa dibawa dan dibaca dimana saja. Sesederhana itu. Setidaknya, daripada kita ‘nyinyir’, mending kita renungkan kembali atas apa yang kita lakukan.
Jika orang muslim sendiri saja sudah ‘nyinyir’ sama saudaranya yang lain yang membawa dan membaca Al Qur’an di tempat umum, kalau sudah begitu, lalu bagaimana?

Wednesday, July 8, 2015

Rindu

Mungkin (atau memang sebenarnya) sedang rindu. Rindu masa dimana masih belajar ngaji seperti waktu kecil dulu. Belajar pelajaran agama di MD dan MTs. Dari Aqidah Akhlaq, Fiqih, Tarikh sampai Bahasa Arab. Belajar Al Qur’an dan kitab-kitab kuning “gundul” di tempat pengajian sehabis maghrib. Dan sekarang, semua seolah terhapus waktu.
Mungkin (atau memang sebenarnya) sedang rindu. Rindu masa dimana terdapat banyak ketakutan ketika meninggalkan shalat. Rindu masa dimana terdapat begitu banyak penyesalan ketika tidak melaksanakan shalat. Dan sekarang, semua terasa seperti menjauh.
Mungkin (atau memang sebenarnya) sedang rindu. Rindu masa dimana diri terasa lebih baik daripada diri yang sekarang. Rindu masa dimana diri masih seperti yang dulu. Dan sekarang, sepertinya... Bukan! Seharusnya. memang sudah seharusnya untuk berusaha kembali.
Maka ingatkanlah kawan! Agar kelak tidak menjadi gelap dan hitam.

Tuesday, July 7, 2015

Kapalan

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah maka gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal”(Q.S. Al-Anfal: 8: 2)
Kapalan (cullus – istilah kedokteran) adalah kondisi dimana terjadi penebalan dan pengerasan pada kulit (telapak tangan, telapak kaki, dsb). Kapalan terjadi karena proses terus menerus yang diterima kulit baik berupa gesekan maupun tekanan yang berulang-ulang. Contoh. Tangan petani akan menjadi kapalan karena intensitas petani yang memegang dan menggunakan cangkul setiap hari. Kapalan sendiri merupakan respon alami tubuh sebagai akibat tekanan atau gesekan untuk menghindari luka.
Kapalan memang tidak berbahaya namun kapalan membuat struktur kulit menjadi lebih keras dan menjadikannya mati rasa. Bagian tubuh yang mengalami kapalan akan secara otomatis mengeras dan kehilangan rasa dan peka. Karena hilangnya rasa dan peka, bagian kulit yang kapalan sudah tidak bisa lagi membedakan bahkan tidak bisa lagi merasakan panas, dingin, sakit, geli, lembut, keras, dsb. Bagian fisik yang mengalami kapalan mayoritas terjadi pada bagian yang tidak terlalu penting sehingga seringkali kita tak mempedulikannya. Namun masihkah kita tidak peduli jika yang terkena kapalan adalah hati nurani kita? Rohani kita? Qalbu kita?
Manusia menjalani kehidupan yang hampir sama setiap harinya. Dari mulai bangun pagi sampai tertidur kembali. Semuanya seperti pengulangan aktivitas yang rutin dilakukan setiap hari. Aktivitas rutin ‘hampir sama’ tersebut terus dilakukan berulang-ulang setiap harinya tanpa tahu kapan akan berhenti. Tak jarang aktivitas rutin tersebut menjadi tameng yang disembunyikan dibalik alasan bernama kesibukan. Lantas apakah kita pernah menyadari jika aktivitas rutin tersebut tidak memiliki nilai tambah pada kualitas rohani kita? Atau justru malah semakin mengurangi kualitas rohani kita? Atau tanpa kita sadari rutinitas tersebut membuat rohani kita menjadi kapalan?
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kapalan terjadi akibat proses yang terus menerus. Kita bisa sebut itu sebagai kebiasaan. Dan sebelum semua terjadi dan membentuk pola kebiasaan, ada hal yang sesungghnya sering kita lakukan, yaitu mengabaikan. Pada awalnya kita akan merasa bersalah ketika melakukan kesalahan. Namun kita mengabaikannya. Kemudian kita melakukan hal yang sama, masih ada sedikit rasa bersalah disitu, namun juga kita abaikan. Sampai teramat seringnya diabaikan, kita sudah tidak merasa bersalah lagi ketika melakukan kesalahan.
Mungkin pada awalnya kita hanya sekali mengabaikan suara adzan dengan alasan kesibukan. Hingga suara adzan berikutnya, kita pun mengabaikannya. Suara adzan berikutnya demikian. Begitu seterusnya. Sampai lama kelamaan kita menjadi terbiasa mengabaikan suara adzan. Dengan kata lain, kita terbiasa menunda shalat setiap waktu. Atau justru malah terbiasa meninggalkannya.
Tulisan ini dibuka dengan ayat Al Qur’an surat Al Anfal ayat 2. Disebutkan dari ayat tersebut bahwa orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah maka gemetar hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya. Lalu apakah kita pun demikian? Bergetarkah qalbu kita ketika disebutkan nama-Nya? Bertambah kuatkah keimanan kita ketika dibacakan ayat-ayat-Nya? Atau sesungguhnya kita sudah tidak merasa lagi? Atau mungkin selama ini qalbu kita sudah kapalan? Atau mungkin saking membatunya, qalbu kita sudah tak bisa bisa lagi merasakan kehadiran-Nya?

Monday, July 6, 2015

Sok Tahu

“Apa Rosyid sudah paham bener agama Rosyid? Tuhan Rosyid?”
“Jangankan Rosyid, Ami yang sudah seumuran begini, belum berani jawab sih. Ami terus mencari. Belajar memperbaiki diri. Karena masya Allah syid, kita belum ada seujung kuku pun ngejalanin perintah agama kita ini dengan bener.”
“Maksud Ami syid, kalau Rosyid belum paham benar, jangan dulu sok pintar, sok tahu atau buat kesimpulan sendiri tentang agama kita.”
Sepenggal dialog Abu Hanif kepada Rosyid di film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta

Sunday, July 5, 2015

Surat dari Kekasih

Untukmu yang selalu Kucintai,

Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada Ku
Bercerita, meminta pendapat Ku, mengucapkan sesuatu untuk Ku walaupun hanya sepatah kata
Atau berterima kasih kepada Ku atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja
Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa Ku
Tetapi engkau terlalu sibuk
Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu
Aku berpikir engkau akan datang kepada Ku, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk sekadar berbual-bual
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari
Namun dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada Ku

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling
Mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapa Ku
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut nama Ku dengan lembut sebelum menjamah makanan yang Kuberikan, tetapi engkau tidak melakukannya
Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan
Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-waktu untuk Ku dilupakan

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut nama Ku dan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan
Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa sepatahpun namaKu kau sebut
Tidak mengapa karena mungkin engkau masih belum menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain
Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba

Baiklah... engkau bangun kembali
Dan kembali Aku menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi Ku sedikit waktu untuk menyapa Ku
Tapi yang Kutunggu, ah tak juga kau menyapa Ku
Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya
Subuh lagi kau masih tidak mempedulikan Aku
Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada pula harapan dan keinginan untuk sujud kepada Ku
Apakah salah Ku padamu?
Rezeki yang Kulimpahkan, kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan, Keselamatan yang Kukaruniakan, kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada Ku?
Percayalah, Aku selalu mengasihimu,
Dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa Ku, memohon perlindungan Ku, bersujud menghadap Ku
Kembali kepada Ku

Yang selalu bersamamu setiap saat,
Tuhanmu


Sebuah sajak karya Kahlil Gibran

Saturday, July 4, 2015

Cinta?

Saya ingat waktu SMA, ada seseorang yang mengirim sms. Isi pesannya kira-kira seperti ini, “Love means to give, not to take”. Artinya, cinta berarti memberi bukan menerima. Saya juga ingat saat Remi mengucapkan kata-kata terakhir menjelang perpisahannya dengan Kugi di film ‘Perahu Kertas 2’ dengan kalimat seperti ini, “Cari orang yang bisa ngasih kamu segala-galanya, apapun itu, tanpa harus kamu minta!”
Ada satu benang merah yang bisa saya tarik tentang cinta dari dua kutipan diatas. Yakni cinta itu tentang memberi. Masalahnya adalah jika cinta itu memberi maka berapa banyak didunia ini yang harus kita berikan cinta. Belum lagi kita juga dituntut untuk memberi cinta sepenuh hati alias tidak setengah-setengah. Cinta yang full 100%.
Sudah jelas bahwa kita harus mencintai Allah. Disamping itu kita juga harus mencintai Rasul-Nya. Mencintai agama. Mencintai negara. Mencintai keluarga. Mencintai pasangan. Mencintai teman. Mencintai sesama. Mencintai lingkungan. Mencintai pekerjaan. Mencintai makhluk lainnya. Dan mencintai semua hal yang harus kita cintai. Terasa begitu rumit ketika terlalu banyak yang harus dicintai, sementara yang dicintai juga harus dicintai sepenuh hati dengan kadar 100%. Kalau sudah begitu, bagaimana cara kita memberi cinta pada semua yang harus dicintai itu?
Cinta pada dasarnya bersifat abstrak. Sesuatu yang abstrak tentu berbeda dengan sesuatu yang konkrit. Memberi dan membagi cinta tidak akan sama dengan membagi sepotong roti yang bagiannya akan semakin mengecil ketika semakin banyak orang yang harus diberi. Lantas bagaimana agar semua mendapat jatah cinta yang sama?
Mengenai hal ini, saya jadi teringat ucapan seorang anak kecil bernama Delisa dalam film ‘Hafalan Surat Delisa’. Dengan polos namun tulus ia berkata kepada ibunya, “Delisa cinta umi karena Allah!” Ucapan sederhana tadi seolah memberi sedikit persepsi akan hakikat memberi dan berbagi cinta.
Pada akhirnya, semua berujung pada Pencipta cinta itu sendiri. Ketika kita mencintai Sang Pencipta yakni Allah swt, maka dengan sendirinya, cinta kita kepada pihak lain akan mengalir tanpa harus memusingkan pembagian cinta seperti tadi. Dengan kata lain, kita mencintai pihak lain yang harus dicintai, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memenuhi rasa cinta kita kepada Allah semata. Kita mencintai itu semua karena Allah. Memberi cinta yang tulus kepada Allah laksana anugerah yang semakin bertambah. Mencintai sepenuh hati kepada Allah, turut membawa cinta bagi yang lainnya. Ini terdengar lebih ringan dari sebelumnya.
 Jadi, sudah seberapa besarkah rasa cinta kita kepada Allah? Sudah sejauh manakah rasa cinta kita kepada Allah?