Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Saturday, October 5, 2013

When You Love Movies

Film adalah salah satu karya seni yang telah berkembang menjadi sebuah industri. Hampir setiap negara memproduksi puluhan bahkan ratusan film setiap tahunnya. Tak heran kalau industri film merupakan salah satu industri hiburan terbesar didunia selain musik.
Sama seperti musik, berbicara tentang film tentu tidak akan jauh dari hollywood. Maklum. Karena saat ini, tanpa meng-under-estimate-kan pihak manapun bisa dibilang industri film hollywood-lah yang merajai industri perfilman dunia. Dengan berbagai hal, kita pasti sudah tahu alasannya kenapa.
Orang menonton film tentu dengan berbagai alasan. Ada yang hanya sekedar nyari hiburan ditengah kepenatan, ada yang cuma senang lihat aktor atau aktrisnya yang kece-kece, ada yang bingung mau ngabisin uangnya dengan cara apa, ada juga karena memang orang tsb suka nonton. Dan tentunya ada orang yang memang cinta banget sama film, butuh bahkan gak bisa hidup tanpa film.
Menonton film pun bisa dengan berbagai cara. Tak hanya di bioskop, DVD original pun bisa jadi pilihan. Bisa juga lewat download-an. Paling parah lewat DVD bajakan. Ya, karena faktor ekonomipun berperan disini. Haha.
Sama seperti mencintai hal-hal lainnya didunia ini, mencintai film pun bisa sampai pada tahap gila, addict, maniac & freak. Sampai-sampai menasbihkan diri sebagai pecinta film sejati, bahkan mungkin lebih dari itu. Master-nya lah. Dan kalau ada orang yang seperti itu, saya ingin belajar lebih banyak tentang film pada anda.
Mencintai adalah naluri manusia dan memutuskan menjadi seorang pecinta film adalah hak semua orang. Ketika kita mulai mencintai film, tentu kita akan selalu update seputar dunia film. Lihat perkembangan beritanya setiap hari, baca-baca review diberbagai situs film dan mulai mencoba me-review sendiri film yang sudah ditonton. Melihat perolehan Box Office-nya, melihat rating setiap film, melihat trailer-trailer film terbaru, hafal sutradara, produser dan daftar pemain filmnya, tahu jadwal rilis dan tayang film di bioskop, tahu studio-studio yang memproduksi film, mengoleksi film-film favorit dsb. Mereka sangat menyukai semua hal yang berhubungan dengan film baik fisik maupun non-fisik. Orang-orang seperti ini akan sangat  senang dan antusias ketika berbicara tentang film apalagi dengan tipe orang yang sama. Tapi sayangnya tidak semua orang demikian alias tak banyak orang seperti ini. Ambil contoh lingkungan kelas, tentu tak banyak orang yang mau ngobrol seluk beluk tentang film bahkan sampai berdebat soal film, paling cuma 2 atau 3 orang. Itupun kalau ada. Kalau tidak, anda harus terima kalau anda sendirian. Poor YOU, Im!
Seorang pecinta film tentu tidak akan pilih-pilih, stuck ataupun mengkotak-kotakan sebuah genre film. Dia tidak akan menganggap bahwa satu genre akan lebih baik dari genre lainnya. Karena belum tentu demikian. Banyak orang yang beranggapan bahwa film bergenre action lebih bagus dan lebih layak tonton daripada film genre drama. Oh man, please! It’s wrong. Anda salah besar kalau punya pemikiran seperti ini. Saya ambil contoh, Trilogy Transformers garapan Michael Bay. Bagi sebagian orang mungkin film itu adalah film keren. Bagaimana tidak, dengan adegan spektakulernya Transformers mampu membuat mata penonton melongo apalagi kalau lihat versi 3D-nya (terutama yang ke-3). Ya, bisa saja begitu karena secara komersilpun film ini memang cukup berhasil meraup keuntungan. Tapi hal itu bukanlah hal utama. Saya sendiri bukanlah orang yang terkesan dengan trilogy Transformers. Bukan berarti film tsb jelek, saya lebih menyukai film seperti The Tree of Life-nya Terrance Malick daripada film si Michael (Le)Bay ini. Yang sudah nonton pasti tahu alasannya kenapa.
Intinya, bahwa dalam sebuah film tidak hanya satu aspek saja yang menjadi pertimbangan, banyak aspek lainnya yang membuat film menjadi terlihat kuat. Dalam hal ini, adegan aksi, ledak-ledakan dsb tidak lantas menjadikan sebuah film terlihat bagus. Aspek-aspek seperti penokohan, dialog, naskah, plot, akting, penyutradaraan dsb juga turut memberi andil kekuatan sebuah film. Sederhananya, tidak hanya cover-nya yang bagus, isinyapun harus bagus. Tidak hanya cantik luarnya, tapi inner beauty-nya juga. Satu hal yang pasti adalah ketika kita tidak mengkotak-kotakan genre film, secara tidak langsung dan dengan sendirinya, dalam setiap genre film kita akan tahu sendiri mana film yang bagus dan tidak. Mana film yang kuat dan tidak.
Ketika kita mulai mencintai film, kita juga tidak hanya mempertimbangkan hype sebuah film untuk ditonton. Maksudnya, menonton film bukan hanya karena film tersebut sedang ramai dibicarakan. Hal-hal seperti sutradara, jajaran cast, produser, komposer dsb juga jadi bahan pertimbangan dalam menonton film.
Sutradara misalnya. Sutradara (Director) adalah orang yang bertugas mengarahkan sebuah film sesuai dengan manuskrip. Dialah orang yang bertanggung jawab atas aspek-aspek kreatif pembuatan film, baik interpretatif maupun teknis (wikipedia). Gaya penyutradaraan setiap Director berbeda-beda. Seorang pecinta film, tanpa memperhatikan genre, jajaran cast atau apapun ketika tahu film tsb di-direct sutradara favoritnya maka tanpa ragu film tsb sudah ada dalam list film yang akan ditontonnya. Dan setiap orang punya sutradara favoritnya masing-masing.
Jajaran cast + akting di film juga jadi perhatian bagi para pecinta film. Mereka akan lebih senang dengan aktor atau aktris berkualitas yang mampu memerankan sebuah karakter dan menghidupkan tokoh tsb sehingga berkesan dihati penonton dibandingkan aktor/aktris yang hanya bermodalkan tampang. Dengan sendirinyapun, kita akan tahu bagaimana aktor/aktris memerankan dan menghidupkan seorang tokoh dengan baik atau tidak. Saya ambil contoh film Before Sunrise (1995) yang menurut saya jajaran cast-nya tampil dengan kuat. Kita pasti tahu bagaimana akting Ethan Hawke dan Julie Delpy dalam memerankan tokoh Jesse dan Celine yang mampu menjalin chemistry yang sangat solid sehingga mereka terlihat benar-benar natural, bahkan tidak seperti sedang berakting. Penontonpun tak dibuat bosan dengan kehadiran mereka yang hampir merampok semua durasi film ini. Tak heran pula kalau Before Sunrise adalah salah satu film paling romantis yang pernah ada.
Ketika anda mencintai film, tentu anda tidak akan ragu untuk menonton film-film klasik alias jadul. Tak peduli film itu rilis tahun beberapa. Jangan dulu skeptis terhadap nuansa hitam-putih, oldest, klasik dsb. Adapun pada zaman itu teknologi film belum secanggih sekarang, itu bukanlah menjadi alasan karena film-film tsb mampu memberi kenikmatan menonton lewat jalan cerita, akting, dialog, naskah dll. Kecuali jika anda adalah orang yang lebih mementingkan action dan visual effect film seperti di zaman sekarang dibandingkan hal-hal tadi. Yang jelas dan yang saya tahu film-film zaman dululah yang menginspirasi film-film zaman sekarang. Selain itu, kalau kita lihat daftar film-film terbaik sepanjang masa (versi manapun), urutan teratas hampir dipastikan diisi oleh film yang rilis sebelum tahun 2000-an. Ini membuktikan bahwa film jadul lebih ngena dan berkesan dihati penonton. Agree?
Hal-hal lain tentang ‘When You Love Movies’ adalah ketika kita sedang nonton di bioskop. Ya, tak peduli bila kita harus nonton sendiri, tentunya sebisa mungkin kita sudah nangkring di kursi bioskop beberapa menit sebelum film diputar karena kita tidak mau melewatkan sedetikpun moment film yang akan kita tonton. Yang paling membuat risih adalah orang yang seenaknya datang telat dan JELAS-JELAS itu mengganggu padangan kita. Hal lain yang membuat risih ketika nonton di bioskop adalah ketika orang malah asyik-asyikan ngobrol, keras lagi (mau ngerumpi, Neng?), teriak, ketawa-ketawa gak jelas apalagi orang-orang yang SOK-SOK-an tahu tentang alur ceritanya. Belum lagi, orang-orang yang sibuk sama gadget-gadget-nya yang super ribet itu. Bisa kali ya, sebentar saja disimpan dan mari kita menonton film dengan penuh konsentrasi dan fokus pada setiap adegan yang tertera di layar yang lebar itu.
Dan, ketika anda mulai mencintai film, mungkin anda pernah mengalami hal-hal seperti diatas (setidaknya itu yang saya rasakan).

Friday, September 6, 2013

Tentang Film The Truman Show (1998)


“In case I don’t see you. Good afternoon, Good evening and Goodnight”
Truman Burbank
 Apa yang membuat hidup manusia begitu menarik?
Seperti yang dikatakan Forrest Gump, salah satunya adalah karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya ke depan. Manusia selalu ingin tahu dan mencari hakikat hidup yang sesungguhnya. Tetapi bagaimana kalau hidup kita diatur dan sudah dikontrol dalam acara reality show yang disaksikan seluruh dunia tanpa kita pernah menyadarinya? Hal itu benar-benar terjadi tapi dalam film. Judulnya “The Truman Show”. Dan saat menonton film ini, lupakan tentang segala hal yang logis. Karena di film ini begitu banyak hal yang tidak masuk akal. Tapi dengan premis cerita yang unik, hal itu tidak akan terlalu dirasa annoying saat kita menontonnya.
Cristof, penggagas acara ini awalnya merasa bosan dengan acara TV ataupun film yang menurut dia semua itu hanyalah bentuk kepalsuan. Berangkat dari hal itu, ia membuat acara reality show dengan keyakinan bahwa inilah tontonan yang benar-benar real dan jauh dari unsur kepalsuan. Nama acaranya The Truman Show, sebuah acara TV yang tayang selama 24 jam penuh tanpa jeda tanpa iklan. Sehingga iklan dilakukan oleh para pemain didalam acara ini. Truman Burbank (Jim Carrey) adalah aktor utama dari acara reality show ini. Sementara orang-orang disekitar Truman adalah aktor-aktris pendukung yang memang sudah disetting untuk kehidupan Truman.
Berlokasi di Seaheaven sebuah tempat yang sesungguhnya tak pernah ada karena tempat tersebut adalah studio raksasa dimana acara ini berlangsung. Lengkap dengan segala kejadian alamnya, Seaheven tampak seperti tempat dibumi pada umumnya. Kehidupan Truman dari mulai ia masih dalam kandungan sampai ia dewasa berjalan. Direkam oleh sekitar 5000 kamera disetiap sudut Seaheaven dan disaksikan oleh jutaan umat manusia didunia.
Kehidupan yang dirasa normal bagi Truman perlahan luntur ketika dia banyak mengalami kejadian yang janggal dalam hidupnya. Seperti kamera yang jatuh dari langit, istri Truman yang tiba-tiba mempromosikan sebuah produk dan pola hidup warga Seaheven yang membuat ia curiga. Kecurigaan tersebut terus memuncak seiring dengan mimpi berpetualang dan keinginannya pergi suatu tempat bernama Fiji yang selalu gagal. Wajar, karena sang sutradara tidak mau Truman kabur, hingga dengan berbagai cara ia lakukan untuk menggagalkan usaha Truman.
Dan pada suatu hari dengan kecerdikannya dia berhasil lolos dari mata kamera dan melarikan diri dengan berlayar ke laut walaupun laut sungguh menakutkan baginya. Dan perjuangan Truman untuk keluar dari dunia kepalsuan ini adalah bagian terbaik dari film ini. Kita akan dibawa kedalam sisi yang cukup emosionil disini. Membayangkan seakan yang ada disana adalah diri kita.
 Performa Jim Carrey juga terbilang apik dalam memerankan tokoh Truman yang mudah dicintai ini. Sehingga penonton dibuat begitu simpatik pada tokoh yang satu ini. Dalam hal ini, Peter Weir mampu memberikan jembatan pemisah antara tokoh yang mampu membuat penonton simpatik dan antipati bahkan cenderung dibenci. Cristof mungkin adalah tokohnya. Bagaimana tidak secara tidak langsung dia telah merenggut kebebasan hidup seorang manusia. Selain itu, dia adalah orang yang muak dengan kepalsuan, tapi apa yang dia lakukan pada orang-orang disekitar Truman. Bukankah mereka juga ada dalam ranah kepalsuan yang dimaksud Cristof. So, what the hell are you talking about ‘FAKE’, Cristof?
Menonton film ini seperti memberikan persepsi lain terhadap acara reality show TV yang ada didunia nyata. Di Indonesia saja contohnya, banyak reality show yang menurut saya nggak penting (SERIUS!). Bahkan yang lebih parah ada reality show yang seakan mengumbar aib-aib orang untuk dikonsumsi khalayak ramai. Anehnya banyak orang yang menontonnya. Damn it! Untungnya sekarang perlahan semua itu sedikit demi sedikit berkurang.
Film ini juga seperti sebuah sindiran untuk dunia pertelevisian dengan penceritaannya yang thought-provoking itu. Berharap saja semoga kejadian yang dialami Truman hanya ada di film dan takkan pernah ada didunia nyata.

Tentang Film 10 Things I Hate About You (1999)



“But mostly I hate the way I don’t hate you. Not even close, not even a little bit, not even at all”
Katarina Stratford
 
Sebelumnya, saya tidak pernah tahu tentang film ini. Maklum, jarang nonton film romantic comedy (romcom) kayak gini. Dan karena gak sengaja pas liat full filmography-nya Heath Ledger disini, saya menemukan film ini. Karena judulnya yang cukup thought-provoking buat ditonton + ada Joseph Gordon-Levitt nya juga. Jadi penasaran ingin melihat si Joker dan Si Johny Blake (a.k.a Robin) di masa lalu.
 “10 Things I Hate About You” merupakan sebuah film adaptasi dari karya Shakespeare berjudul "The Taming of the Shrew". Film ini bercerita tentang kisah romansa dua kakak beradik Kat dan Bianca. Cerita nya si Cameron (Joseph Gordon-Levitt) naksir Bianca (Larisa Oleynik) cewek populer disekolahnya. Selain masalah persaingan dengan Joey Donner (Andrew Keegan), hal lain yang harus dihadapi Cameron untuk mendekati Bianca adalah kenyataan bahwa Bianca harus mengikuti peraturan Ayahnya yang overprotective. Bianca tidak boleh pacaran, pergi kencan, atau apapun itu sebelum kakaknya Kat (Julia Stiles) melakukan hal yang sama. Nah, masalahnya si Kat ini justru orang yang gak suka dengan hal-hal seperti itu. Dia tidak punya banyak teman bahkan cenderung dianggap anti-sosial. Akhirnya dengan akal-akalan Cameron dan temannya Michael (David Krumhultz), mereka mencoba memanfaatkan ketajiran Joey dengan membayar Patrick Verona (Heath Ledger) agar bisa mengencani Kat. Joey tentu mau saja karena dengan begitu dia bisa berkencan dengan Bianca.
Yang menarik disini buat saya adalah kisah si Kat dan Patrick. Saya suka karakter keduanya. Kat yang super cuek dan kayak udah ilfeel sama cowok ini memang bukan tipikal yang mudah untuk didekati. Begitupun dengan Patrick Verona, cowok yang juga cuek, urakan dan gak peduli sama hal disekitar. Seperti perpaduan yang pas. Bagaimana tingkah polah si Patrick yang dimotivasi uang agar bisa menaklukan hati seorang Kat. Yang paling diingat tentu kelakukan si Patrick di lapangan football saat menyanyikan lagu Can’t Take My Eyes of You. GILA! Begitupun dengan Kat yang juga pernah melakukan hal gila saat ia mencoba mengalihkan perhatian gurunya agar Patrick bisa kabur dari kelas. Seorang Kat ternyata bukanlah seorang yang anti-sosial sesungguhnya, ia hanya sedang membatasi dirinya saja karena kejadian di masa lalunya. Hingga ia menemukan orang yang ia percayai dan akhirnya jatuh cinta. Pun begitu dengan Patrick. Klise memang.


 Actually, premis yang ditawarkan film ini bukanlah hal baru. Simple. Sekolah, cinta, suka-sukaan, marah-marahan dsb jelas bukanlah hal tabu untuk film-film romcom seperti ini. Dan saat ini sudah banyak film sejenis yang juga memakai formula yang sama. But especially, buat film ini saya merasa enjoy ketika menontonnya. Filmnya ringan, romance-nya dapet, tidak berlebihan, dialog dan humornya juga OK. Faktor tahun film inipun menurut saya turut memberi andil terhadap kekuatan film ini. Sehingga cerita, suasana dan nuansa film ini menjadi satu kesatuan utuh yang cerdas.
Departemen casting-nya juga memberikan performa cukup apik untuk menghidupkan masing-masing karakter. Dan buat Heath Ledger (walaupun sudah tiada) saya suka aktingnya disini. Keren dan mengejutkan. Ada pula hal yang membuat saya tertawa geli disini. Ya, melihat si Joseph Gordon-Levitt yang terlihat masih kecil. Cupu dan culun. Haha.
Oh iya, kalau penasaran dengan yang apa dimaksud 10 Things I Hate About You, kita akan tahu jawabannya dibagian ending film ini. Waktu Kat membacakan tulisannya didepan kelas. Dan tentunya kita tahu isi tulisan itu untuk siapa.
Kalau dilihat saat ini, 10 Things I Hate About You” mungkin akan terlihat biasa saja. Tapi kalau coba melihat dari sisi tahun film ini dirilis, 10 Things I Hate About You”akan jadi film romcom yang enak buat ditonton. Apalagi buat remaja tahun 90-an, tentu akan jadi nostalgia tersendiri. Sebuah pilihan film romcom yang cukup reccomended.


Tuesday, June 25, 2013

Tentang Film Hello Ghost (2010)


Kalau saya ditanya film Asia mana yang saya suka? Jawabannya tidak banyak.
Entah kenapa saya tidak begitu tertarik dengan film-film Asia (terutama drama) darimanapun itu asalnya (Korea, Jepang, Thailand, China dsb). Walaupun sesungguhnya tidak jarang juga saya menonton film Asia, tapi hanya sedikit yang memberi kesan dan membekas di otak saya. Mungkin selama ini film-film Hollywood telah terlanjur memenuhi memory otak yang membentuk mindset saya tentang film. Hal itu membuat saya menjadi cenderung skeptis menilai film-film Asia. Sejak saya kuliah, You Are The Apple of My Eye (2011) mungkin adalah film yang membuat saya terlanjur suka sama film drama Asia dan cukup membekas di otak.
Dan atas rekomendasi teman, beberapa waktu lalu saya sempat menonton film Asia (Korea) berjudul Hello Ghost (2010). Maksain nonton film ini sungguh adalah hal yang paling membosankan, bahkan saya sempat menundanya beberapa hari. Sampai akhirnya saya mencoba bertahan dengan kebosanan yang hadir dalam film ini. Hello Ghost ini sendiri bercerita tentang seseorang, Sang Man diperankan oleh Cha Tae-Hyun yang ingin bunuh diri tapi selalu gagal pada pelaksanaannya hingga akhirnya ia diikuti empat hantu beda usia yang entah darimana datangnya.
Hello Ghost bisa dibilang film drama khas Korea kebanyakan yang kadang kita sudah tahu premisnya apa tanpa harus kita tonton sampai akhir. Di beberapa bagian cenderung predictable dan terkesan biasa. Bagian-bagian yang seharusnya menjadi moment-moment lucu menjadi terasa hambar. Hal yang saya maksud membosankan dalam film ini karena film ini terlalu memaksa penontonnya untuk mengikuti alur serta plot film ini. Kita terlalu dipaksa mengerti keadaan Sang Man yang terlanjur sebatang kara, kesepian, sendirian dan harus bertemu dengan hantu-hantu yang juga tidak jelas asalnya darimana. Membosankan sekali ketika harus terus menerus melihat orang yang tak punya semangat hidup dan desperate sepeti itu. Dan semua itu berlangsung hampir 80% bagian dari film ini walaupun pas perjalanannya perlahan mencair seiring karakter yang semakin jelas dan bermunculan.
Spekulasi awal saya tentang film ini berhenti di 15 menit terakhir. Hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Semua kebosanan dan ke-absurd-an film ini menjadi jelas dibagian ini. Kim Young Tak benar-benar memberi kejutan dan efeknya benar-benar terasa. Saya kesal, kenapa endingnya bisa begitu gloomy dan menyedihkan sampai membuat saya berkaca-kaca. Apalagi ingatan-ingatan tentang Ibunya! Dialog dengan Ibunya! Banyak film yang sedih, tapi kenapa film ini begitu menyedihkan? Sialan!!!


That’s Sweet Twist and Perfect Moment!
Entah harus bilang apa, alur cerita, plot, akting, karakter dan segala tektek bengek film ini  menjadi tidak penting lagi dan terkesan dikesampingkan gara-gara ending yang membuat saya sadar ternyata saya adalah pria yang melankolis. Premis yang diungkap film ini benar-benar membuat saya menarik sebuah pelajaran sederhana yang berarti tapi terkadang terlupakan dalam kehidupan.
Keluarga. Ya keluarga. Orang-orang yang paling dekat dengan kehidupan kita. Sadarilah bahwa mereka selalu ada buat kita. Mereka selalu menerima kita bagaimanapun keadaannya. Teman, rekan, kekasih atau apapun bisa datang dan pergi dari kehidupan kita sesuka hati mereka. Tapi tidak dengan keluarga. Mereka selalu peduli pada kita dengan apapun caranya. Seperti yang dialami Sang Man, walaupun dia menganggap dirinya sendirian tapi sesungguhnya tanpa ia sadari keluarganya selalu memperhatikan dan menemani dirinya.
Oh man...!
Menonton film ini membuat pola pikir baru bagi saya bahwa film Asia memang layak ditonton. Mungkin tidak se-spektekuler Blockbuster Hollywood tapi film ini saja sudah cukup memberi persepsi lain. Kabar lainnya, Hollywood-pun akan me-remake film ini dengan Adam Sandler sebagai Sang Man.

Tentang Film Man of Steel (2013)

Satu film yang paling saya tunggu kehadirannya di 2013. Bukan tanpa alasan memang, kehadiran orang-orang hebat dibalik layar (Snyder, Nolan, Goyer dan Zimmer – especially for Nolan), promosi yang jor-joran serta trailer-trailer spektakuler yang terus menerus mengiringi film ini sampai akhirnya rilis. Benar-benar membuat ekspektasi tentang film ini menjadi begitu tinggi. Tapi apakah ekspektasi dan hype yang terlanjur tinggi tersebut sesuai dengan kenyataannya?
Man of Steel dimulai dari kelahiran seorang anak laki-laki (Kal-El) sesaat sebelum planet Krypton hancur. Bayi Kal-El kemudian dikirim kebumi oleh Jor-El (Russel Crowe) - Lara Lor-Van (Ayelet Zurrer). Dan ditemukan suami-istri Jonathan Kent (Kevin Coustner) - Martha Kent (Diane Lane). Kal-El/Clark Kent (Henry Cavill) tumbuh di bumi dengan keterasingan (kalau kata Stings “Englishman In New York”). Tidak banyak yang bisa menerima keberadaannya, dia tahu dia berbeda tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sampai akhirnya ia harus berkelana ke seluruh belahan dunia untuk mencari tahu jati diri yang sesungguhnya. Saat dia mulai mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya, General Zod (Michael Shannon) mengetahui keberadaan Clark Kent yang telah dicarinya selama bertahun-tahun. Dan dari sanalah semua inti dari film ini dimulai.
Proyek Man of Steel arahan Zack Snyder ini adalah proyek yang ambisius. Bagaimana tidak? Segala tuntutan dan beban seperti ditanggung oleh film yang satu ini. Kenyataan bahwa Man of Steel ingin sesukses Trilogi Batman, ingin mengalahkan saingan utamanya Marvel, ingin mengobati seluruh fans Superman yang kecewa dengan kehadiran Superman Returns (2006) dan tentunya sebagai tonggak awal proyek besar DC, Justice League membuat film ini seperti ingin hadir dengan taste yang se-spektaluer mungkin tanpa cela sedikitpun. Tak apa memang ketika semua formula yang telah dirancang mampu dieksekusi dengan baik, tapi sayangnya untuk film ini semuanya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Man of Steel hadir dengan pencitraan dan penceritaan yang serba tanggung. Penonton seakan terlalu banyak dijejali cerita dan adegan yang berlalu begitu cepat tanpa meninggalkan kesan yang berarti bagi penonton. Pendeskripsian karakter, alur cerita, adegan dan aksi ledak-ledakan yang gila seakan dipaksakan berjubel dalam satu frame. Terlalu banyak hal yang ingin diceritakan dan diungkapkan Snyder dalam film ini. Akhirnya penonton yang tidak pernah tahu Superman sebelumnya malah jadi bertanya-tanya. Memang kalau bicara adengan aksi, begitu banyak adegan aksi yang gila-gilaan, ledak-ledakan dimana, efek CGI yang pastinya membuat terkagum-kagum. Tapi apakah hanya itu? Tentu tidakkan? Hal ini mengingatkan saya dengan apa terjadi di Transformers (terutama 3) yang kurang lebih sama dengan film ini.

Walaupun begitu, pemilihan aktor dan aktris yang mengisi cast Man of Steel ini terbilang tepat. Karakter yang diperankan mereka terbilang berhasil mereka perankan sesuai kadar dan porsinya masing-masing (kalau lebih digali lagi tentu lebih bagus). Henry Cavill yang berperan sebagai Superman mampu menempatkan dirinya sebagai orang yang mempunyai dua dunia yang berbeda. Amy Adams-pun mampu menjadikan Lois Lane sebagai wartawan Dialy Planet yang berbeda meski karakter ini tidak begitu tergali sempurna. Pun dengan yang lainnya. Dan point lainnya adalah kedua ayah Clark Kent/ Kal-El dari dunia yang berbeda, Russel Crowe dan Kevin Coustner yang mampu menampilkan figur seorang ayah yang bijkasana dengan sosok ke-bapak-an yang kental. Satu hal lagi adalah olahan musik arahan Hans Zimmer yang cukup mewakili setiap adegan dari film ini.
Film ini memang memiliki konsep dan pondasi yang kuat sebagai reebot dari Superman. Premisnyapun bisa ditentukan sendiri. Tapi satu hal yang menarik bagi saya adalah tentang makna huruf S itu sendiri. S yang didunia manusia adalah Super di Krypton berarti harapan. Muatan-muatan filosofis tentang makna S itu sendiri yang menarik bagi saya. Sedikit mengobati ekspektasi tentang banyaknya muatan filosofis dalam dialog Man of Steel yang memang tidak begitu nampak.
Pada akhirnya semua dikembalikan lagi pada penilaian penonton. Mungkin ada yang bilang bahwa film ini sangat bagus tapi ada juga kemungkinan yang menilai film ini biasa-biasa saja. Pada dasarnya kan sudah jelas bahwa penilaian manusia itu seperti melihat gumpalan awan, kita bebas menentukan bentuk awan itu apa, bisa orang, hewan, pesawat atau apapun. Begitu pula dengan Man of Steel walaupun pada awalnya saya sangat berharap bisa menemukan sesuatu yang saya temukan dalam film-film garapan Cristopher Nolan.