Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Saturday, November 2, 2013

Nostalgia Lagu Masa Kecil


Fenomena sekarang bahwa banyak anak-anak Indonesia yang menyanyikan lagu dewasa buat saya bukanlah hal aneh. Karena waktu saya masih kecilpun saya sering mendengarkan dan (mencoba) menyanyikan lagu dewasa pada saat itu. Hanya bedanya, kalau dulu masih banyak lagu anak-anak yang muncul sehingga lagu dewasa yang nempel di otak tidak kalah dengan lagu anak yang memang banyak juga waktu itu. Dan menurut saya, menyukai musik orang dewasa adalah hal yang wajar, karena disanalah selera terhadap musik yang bagus dimulai. Seperti judulnya, ini adalah tentang lagu yang pada masa kecil nempel sekali di ingatan hingga saat ini + band-ya.

1.          Risalah Hati – Dewa
Dari pertama tahu Dewa, lagu ini adalah lagu favorit saya. Bahkan sampai sekarang. Judulnya, liriknya, lagunya, semuanya keren. Lirik lagu ini selalu jadi inspirasi saya buat nulis waktu teman-teman saya nyuruh buatin surat cinta. Waktu lagi rame-ramenya radio lokal di daerah saya,  ‘Risalah Hati’ adalah lagu yang paling sering saya request.


2.         Sebuah Kisah Klasik – Sheila On 7
Tak heran ‘Sheila On 7’ masuk list, karena zaman dulu band ini fenomenal banget. Generasi 2000-an pasti tahu band ini. ‘Sebuah Kisah Klasik’ adalah lagu yang cukup berkesan buat saya. Saya pernah dua kali nyanyiin lagu ini didepan orang-orang. Pertama, didepan teman-teman kelas saat pelajaran kesenian. Kedua didepan anak-anak pramuka + kakak-kakaknya, pas saya dihukum dalam sebuah permainan.


3.         Semua Tak Sama – Padi
‘Padi’ adalah band favorit kakak saya. Sayapun jadi ikut-ikutan suka sama ‘Padi’. Band yang tak pernah ganti personil ini memang salah satu band keren di Indonesia. Musik dan live perform-nya selalu membuat saya terkagum sama band asal Surabaya ini. 


4.        Foto Dalam Dompetmu – Slank
Siapa yang tak kenal band legend yang satu ini. Dari yang muda sampai yang tua. Tak terkecuali saya. Banyak lagu ‘Slank’ yang manis seperti ‘Terlalu Manis’, tapi entah kenapa ‘Foto Dalam Dompetmu’ begitu memorable diotak saya. Saya inget banget waktu lagi suka-sukanya sama ‘Slank’, lagu ini sering banget saya putar, terutama pas pulang sekolah. 


5.         Perihal Cinta – Gigi
Lagu ini mungkin bukanlah lagu yang hits banget dari ‘Gigi’. Dalam beberapa penampilan live-nya pun ‘Gigi’ terbilang jarang bawain lagu ini. Tapi saya inget banget, lagu ini selalu diputar setiap hari menemani saya sebelum berangkat sekolah di siang hari.


6.        Pelangi di Matamu – Jamrud
‘Pelangi di Matamu’ jadi fenomena tersendiri buat band cadas yang satu ini. ‘Pelangi di Matamu’ yang ada di album ‘Ningrat’ yang fenomenal menjadikan ‘Jamrud’ sebagai salah satu band yang dikenal semua kalangan. Pak SBY pun bawain lagu ini waktu nyalonin presiden tahun 2004.


7.         Kesepian Kita – Pas Band
Lagu yang juga ada di Film fenomenal Indonesia ‘Ada Apa Dengan Cinta’ ini, juga tak lepas dari pendengaran saya. Salah satu lagu ‘Pas Band’ yang easy listening. Sederhana tapi manis. 


8.        Radja – /rif
Awal tahu /rif, waktu itu di sebuah acara musik malam di TV, saya inget banget /rif lagi live bawain lagu ‘Radja’ dan ‘Andy’ sang vokalis didandani bak raja, duduk di singgasana, dibopong para pengawal. Band ini emang Rock abis! Saya jadi makin suka sama musik rock gara-gara sering dengerin lagu /rif. 

 
Beberapa band diatas adalah band-band yang dulu mengisi waktu-waktu saya SD (1998-2004), selain itu mungkin ada beberapa nama macam Stinky, Base Jam, Boomerang, Naif, Tipe-X dan band-band yang muncul di akhir 90-an & awal 2000-an yang gak kalah kerennya. Saya juga mengenal ‘Iwan Fals’ di masa itu.
Awalnya saya bukanlah penggemar musik luar. Karena, saat itu saya merasa bahwa musik Indonesia keren-keren dan emang gak kalah sama musik luar. Tak banyak yang saya tahu soal musik luar, mungkin saya hanya tahu beberapa nama macam Nirvana, Radiohead, Linkin Park yang waktu itu lagi jaya-jayanya dan beberapa nama lainnya.
Tahun 2006, saya masih merasa musik Indonesia keren. Sampai masuk tahun 2007, waktu itu konon ada sebuah band yang lagu-lagunya terkenal tapi pas main live kacau. Alhasil, demi satu kepentingan kualitaspun jadi terabaikan. Saya beranggapan dari sinilah awal mula musisi Indonesia membudayakan lip-synch, belum lagi di tahun tersebut muncul acara-acara musik yang kita kenal sampai sekarang. Dari sana saya mulai bosen sama musik Indonesia dan langsung lari ke musik-musik luar.
Kalau dibandingkan, band atau musisi zaman dulu dengan zaman sekarang jelas sekali perbedaannya. Band saja misalnya, band zaman sekarang memang lebih banyak daripada band-band zaman dulu. Tapi yang memorable tak banyak di zaman sekarang. Bahkan ada yang muncul dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Soal kualitaspun, saya merasa band-band zaman dulu masih lebih bagus dari zaman sekarang. Selain itu, dulu kayaknya banyak TV swasta yang punya acara musik yang keren-keren dan tentu perform-nya live. Beda sama sekarang, bahkan di acara yang musik yang cukup besarpun terkadang masih ada band yang lip-synch. Menyedihkan. Makin menyedihkan lagi anak-anak zaman sekarang. Udah gak ada lagu anak-anaknya, dikasih lagi lagu-lagu zaman sekarang yang...??? Ya seperti itulah.

One Last Night



“When you feel so tired but you can't sleep. Stuck in reverse”
Fix You – Coldplay

Duduk ditepian atap, menengadah ke langit, mainkan gitar sambil chating-an sama bintang
Petikan gitar mengalun menyanyikan suara dari setiap lara kehidupan, mengisi dingin dan gelapnya malam
Suara yang diterbangkan hembusan angin ke langit menembus batas jangkauan khayal

Melukis langit dengan rasi bintang terindah
Berharap ada kilatan pelangi di atas sana, Iris-nya Goo Goo Dolls mengalun pelan
“And I’d give up forever to touch you, ‘cause I know that you feel me somehow”
“And I don’t want the world to see me, ‘cause I don’t think that they’d understand”

Chord A untuk Fake Plastic Tree-nya Radiohead lalu terdengar, mengalir begitu saja
Sampai akhirnya...
“If I could be who you wanted, if I could be whou wanted all the time, all the time”
...Semoga saja dunia dan segala isinya ini bukanlah ‘Fake Plastic Tree’...

Malam tetap gelap dan semakin pekat, hanya kucing liar yang mencoba mendekat
Medley Anyer 10 Maret dan Terbunuh Sepi-nya Slank, menambah sendunya malam
“Malam ini kembali sadari ku sendiri...” “...Sepi membunuhku”

Bertanya dalam hati, adakah dimensi dimana diri kita yang lain melakukan hal berbeda dari yang dilakukan sekarang? Sedang apakah diri ini disana?
“Katakan, katakan awal semula. Karena akhirnya begitu berat terasa”
 “Aku tak ingin terbangun, terbangun sendiri. Aku tak ingin terjaga, terjaga tanpaMu”
Terbangun Sendiri – Noah

Malam tetaplah malam. Dan sesekali bulan mengintip ditengah gumpalan awan hitam
I'm a silhouette asking every now and then
But the more I try to move on, the more I feel alone
So I watch the summer stars to lead me home
Silhouette – Owl City

Flashback masa lalu. Terbenam dalam ingatan dan kenangan
Gravity is working against me
And gravity wants to bring me down
Gravity – John Mayer

Melewati saat-saat seperti ini di malam hari, sejenak meringankan beban dan merasakan indahnya bernafas
Waktu terus berlalu, matapun tak bisa melawan letih saat Sleeping Pills-nya Suede bergulir lembut dalam temaram
“Angels don’t take those sleeping pills. You don’t need them”

Merenungi makna kehidupan, menghayati kesunyian malam
I Won’t Give Up - Jason Mraz menjadi sebuah penutupan manis untuk satu malam ini

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up

I won't give up on us
God knows I'm tough, He knows
We got a lot to learn
God knows we're worth it

Wednesday, October 16, 2013

Tentang Film Buried (2010)



Bagaimana bila kita tak sadarkan diri lalu terbangun dan menemukan diri kita berada dipeti mati yang terkubur? Apa yang akan kita lakukan?
Buried berkisah tentang Paul Conroy (Ryan Reynolds) seorang supir truk perusahaan kontraktor CRT Amerika di Irak. Dan pada satu saat ia terbangun dan menemukan dirinya terikat disebuah peti mati mati yang terkubur. Harapan hidupnya hanyalah sebuah ponsel, pisau, alat tulis dan beberapa alat penerangan. Dalam film ini kita akan dibawa pada kisah perjuangan seorang manusia yang berusaha menyelamatkan hidupnya di sebuah peti mati yang terkubur.
Perlu diketahui bahwa film ini hanya menawarkan seseorang tokoh di satu lokasi yang kita lihat disepanjang film. Scene pertamanya saja, warna hitam gelap (kurang lebih satu menitan). Tak ada apa-apa. Baru berikutnya mulai terdengar suara desahan nafas dan percikan cahaya pemantik api. Jadi, buat orang-orang yang biasa menonton film dengan banyak tokoh, adegan aksi serta visual efek yang memanjakan mata, dan tak biasa menonton film-film seperti ini, sepertinya film ini bukanlah film pilihan. Apalagi film ini bergerak cukup lambat. Bayangkan selama 90-an menit durasinya, kita hanya melihat satu tokoh dan satu lokasi, itupun dalam keadaan gelap.
Tapi terlepas dari itu semua, film ini adalah satu film yang pasti disukai buat kalangan pecinta film. Banyak faktor yang membuat film ini menjadi begitu berkesan saat ditonton. Yang pertama, tentu sang tokoh utama Paul Conroy yang diperankan Ryan Reynolds. Akting Reynolds disini sangat memukau, kuat dan sarat emosi. Cara bicaranya, sorot matanya, gerak tubuhnya serta semua elemen dalam dirinya mampu mencerminkan sosok yang benar-benar sedang frustasi, ketakutan, desperate, hopeless dan gak tahu mau ngapain disebuah kotak sempit dan gelap. Disisi lain, ia juga berjuang bertahan hidup dan berusaha keluar agar bisa selamat dari tempat yang memuakkan tanpa harapan itu. Saya tak lelah mengikuti apa yang terjadi dan bagaimana nasib Conroy berikutnya, padahal di film ini cuma dia satu-satunya tokoh yang bisa kita lihat.
Ketegangan dan emosi yang dibawa Buried memberikan efek psikologis yang kuat bagi penontonnya, mungkin inilah faktor berikutnya. Emosi yang membawa penonton mengimajinasikan dirinya bahwa dialah yang ada diposisi Paul Conroy. Permasalahan-permasalahan yang terus timbul dalam usaha Conroy menyelamatkan hidupnya diolah dengan sangat cerdas oleh Cortes. Sayapun tak hentinya-hentinya membayangkan diri saya yang terkubur disana, saking kuatnya efek psikologis yang dibawakan film ini. Dan pastinya sangat menyentuh.
Yang berikutnya adalah naskah yang kuat yang ditulis Chris Sparling. Tak heran jika pada saat film ini belum diproduksi, naskah Buried masuk dalam daftar naskah terbaik dari film yang belum diproduksi. Tak hanya itu, ditahun Buried rilis pulalah, Chris Sparling mendapaat penghargaan Best Original Screenplay dari National Board of Review Awards atas naskahnya yang satu ini. Ya, karena naskah sangat berperan untuk film yang hanya mempertontonkan satu tokoh dan satu lokasi ini. Karena tanpa support naskah yang kuat film ini akan jadi cheesy dan membosankan.
Dan beberapa faktor tersebut bersatu membentuk satu kesatuan utuh yang membuat presentasi Buried menjadi begitu menarik. Sayapun sangat menyukai film arahan Rodrigo Cortes yang satu ini. Musik arahan Victor Reyes juga turut membawa suasana semakin dramatis. Apalagi melihat endingnya yang dijamin bakal bikin kita melongo dan shock. Cool twist, Cortes!

Saturday, October 5, 2013

When You Love Movies

Film adalah salah satu karya seni yang telah berkembang menjadi sebuah industri. Hampir setiap negara memproduksi puluhan bahkan ratusan film setiap tahunnya. Tak heran kalau industri film merupakan salah satu industri hiburan terbesar didunia selain musik.
Sama seperti musik, berbicara tentang film tentu tidak akan jauh dari hollywood. Maklum. Karena saat ini, tanpa meng-under-estimate-kan pihak manapun bisa dibilang industri film hollywood-lah yang merajai industri perfilman dunia. Dengan berbagai hal, kita pasti sudah tahu alasannya kenapa.
Orang menonton film tentu dengan berbagai alasan. Ada yang hanya sekedar nyari hiburan ditengah kepenatan, ada yang cuma senang lihat aktor atau aktrisnya yang kece-kece, ada yang bingung mau ngabisin uangnya dengan cara apa, ada juga karena memang orang tsb suka nonton. Dan tentunya ada orang yang memang cinta banget sama film, butuh bahkan gak bisa hidup tanpa film.
Menonton film pun bisa dengan berbagai cara. Tak hanya di bioskop, DVD original pun bisa jadi pilihan. Bisa juga lewat download-an. Paling parah lewat DVD bajakan. Ya, karena faktor ekonomipun berperan disini. Haha.
Sama seperti mencintai hal-hal lainnya didunia ini, mencintai film pun bisa sampai pada tahap gila, addict, maniac & freak. Sampai-sampai menasbihkan diri sebagai pecinta film sejati, bahkan mungkin lebih dari itu. Master-nya lah. Dan kalau ada orang yang seperti itu, saya ingin belajar lebih banyak tentang film pada anda.
Mencintai adalah naluri manusia dan memutuskan menjadi seorang pecinta film adalah hak semua orang. Ketika kita mulai mencintai film, tentu kita akan selalu update seputar dunia film. Lihat perkembangan beritanya setiap hari, baca-baca review diberbagai situs film dan mulai mencoba me-review sendiri film yang sudah ditonton. Melihat perolehan Box Office-nya, melihat rating setiap film, melihat trailer-trailer film terbaru, hafal sutradara, produser dan daftar pemain filmnya, tahu jadwal rilis dan tayang film di bioskop, tahu studio-studio yang memproduksi film, mengoleksi film-film favorit dsb. Mereka sangat menyukai semua hal yang berhubungan dengan film baik fisik maupun non-fisik. Orang-orang seperti ini akan sangat  senang dan antusias ketika berbicara tentang film apalagi dengan tipe orang yang sama. Tapi sayangnya tidak semua orang demikian alias tak banyak orang seperti ini. Ambil contoh lingkungan kelas, tentu tak banyak orang yang mau ngobrol seluk beluk tentang film bahkan sampai berdebat soal film, paling cuma 2 atau 3 orang. Itupun kalau ada. Kalau tidak, anda harus terima kalau anda sendirian. Poor YOU, Im!
Seorang pecinta film tentu tidak akan pilih-pilih, stuck ataupun mengkotak-kotakan sebuah genre film. Dia tidak akan menganggap bahwa satu genre akan lebih baik dari genre lainnya. Karena belum tentu demikian. Banyak orang yang beranggapan bahwa film bergenre action lebih bagus dan lebih layak tonton daripada film genre drama. Oh man, please! It’s wrong. Anda salah besar kalau punya pemikiran seperti ini. Saya ambil contoh, Trilogy Transformers garapan Michael Bay. Bagi sebagian orang mungkin film itu adalah film keren. Bagaimana tidak, dengan adegan spektakulernya Transformers mampu membuat mata penonton melongo apalagi kalau lihat versi 3D-nya (terutama yang ke-3). Ya, bisa saja begitu karena secara komersilpun film ini memang cukup berhasil meraup keuntungan. Tapi hal itu bukanlah hal utama. Saya sendiri bukanlah orang yang terkesan dengan trilogy Transformers. Bukan berarti film tsb jelek, saya lebih menyukai film seperti The Tree of Life-nya Terrance Malick daripada film si Michael (Le)Bay ini. Yang sudah nonton pasti tahu alasannya kenapa.
Intinya, bahwa dalam sebuah film tidak hanya satu aspek saja yang menjadi pertimbangan, banyak aspek lainnya yang membuat film menjadi terlihat kuat. Dalam hal ini, adegan aksi, ledak-ledakan dsb tidak lantas menjadikan sebuah film terlihat bagus. Aspek-aspek seperti penokohan, dialog, naskah, plot, akting, penyutradaraan dsb juga turut memberi andil kekuatan sebuah film. Sederhananya, tidak hanya cover-nya yang bagus, isinyapun harus bagus. Tidak hanya cantik luarnya, tapi inner beauty-nya juga. Satu hal yang pasti adalah ketika kita tidak mengkotak-kotakan genre film, secara tidak langsung dan dengan sendirinya, dalam setiap genre film kita akan tahu sendiri mana film yang bagus dan tidak. Mana film yang kuat dan tidak.
Ketika kita mulai mencintai film, kita juga tidak hanya mempertimbangkan hype sebuah film untuk ditonton. Maksudnya, menonton film bukan hanya karena film tersebut sedang ramai dibicarakan. Hal-hal seperti sutradara, jajaran cast, produser, komposer dsb juga jadi bahan pertimbangan dalam menonton film.
Sutradara misalnya. Sutradara (Director) adalah orang yang bertugas mengarahkan sebuah film sesuai dengan manuskrip. Dialah orang yang bertanggung jawab atas aspek-aspek kreatif pembuatan film, baik interpretatif maupun teknis (wikipedia). Gaya penyutradaraan setiap Director berbeda-beda. Seorang pecinta film, tanpa memperhatikan genre, jajaran cast atau apapun ketika tahu film tsb di-direct sutradara favoritnya maka tanpa ragu film tsb sudah ada dalam list film yang akan ditontonnya. Dan setiap orang punya sutradara favoritnya masing-masing.
Jajaran cast + akting di film juga jadi perhatian bagi para pecinta film. Mereka akan lebih senang dengan aktor atau aktris berkualitas yang mampu memerankan sebuah karakter dan menghidupkan tokoh tsb sehingga berkesan dihati penonton dibandingkan aktor/aktris yang hanya bermodalkan tampang. Dengan sendirinyapun, kita akan tahu bagaimana aktor/aktris memerankan dan menghidupkan seorang tokoh dengan baik atau tidak. Saya ambil contoh film Before Sunrise (1995) yang menurut saya jajaran cast-nya tampil dengan kuat. Kita pasti tahu bagaimana akting Ethan Hawke dan Julie Delpy dalam memerankan tokoh Jesse dan Celine yang mampu menjalin chemistry yang sangat solid sehingga mereka terlihat benar-benar natural, bahkan tidak seperti sedang berakting. Penontonpun tak dibuat bosan dengan kehadiran mereka yang hampir merampok semua durasi film ini. Tak heran pula kalau Before Sunrise adalah salah satu film paling romantis yang pernah ada.
Ketika anda mencintai film, tentu anda tidak akan ragu untuk menonton film-film klasik alias jadul. Tak peduli film itu rilis tahun beberapa. Jangan dulu skeptis terhadap nuansa hitam-putih, oldest, klasik dsb. Adapun pada zaman itu teknologi film belum secanggih sekarang, itu bukanlah menjadi alasan karena film-film tsb mampu memberi kenikmatan menonton lewat jalan cerita, akting, dialog, naskah dll. Kecuali jika anda adalah orang yang lebih mementingkan action dan visual effect film seperti di zaman sekarang dibandingkan hal-hal tadi. Yang jelas dan yang saya tahu film-film zaman dululah yang menginspirasi film-film zaman sekarang. Selain itu, kalau kita lihat daftar film-film terbaik sepanjang masa (versi manapun), urutan teratas hampir dipastikan diisi oleh film yang rilis sebelum tahun 2000-an. Ini membuktikan bahwa film jadul lebih ngena dan berkesan dihati penonton. Agree?
Hal-hal lain tentang ‘When You Love Movies’ adalah ketika kita sedang nonton di bioskop. Ya, tak peduli bila kita harus nonton sendiri, tentunya sebisa mungkin kita sudah nangkring di kursi bioskop beberapa menit sebelum film diputar karena kita tidak mau melewatkan sedetikpun moment film yang akan kita tonton. Yang paling membuat risih adalah orang yang seenaknya datang telat dan JELAS-JELAS itu mengganggu padangan kita. Hal lain yang membuat risih ketika nonton di bioskop adalah ketika orang malah asyik-asyikan ngobrol, keras lagi (mau ngerumpi, Neng?), teriak, ketawa-ketawa gak jelas apalagi orang-orang yang SOK-SOK-an tahu tentang alur ceritanya. Belum lagi, orang-orang yang sibuk sama gadget-gadget-nya yang super ribet itu. Bisa kali ya, sebentar saja disimpan dan mari kita menonton film dengan penuh konsentrasi dan fokus pada setiap adegan yang tertera di layar yang lebar itu.
Dan, ketika anda mulai mencintai film, mungkin anda pernah mengalami hal-hal seperti diatas (setidaknya itu yang saya rasakan).