Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Tuesday, January 7, 2014

Catatan Nonton #Desember'13

OK, jadi ceritanya gini. Akhir-akhir ini saya cukup sering nonton film, film apa aja, tahun berapa aja. Yang penting saya punya praduga bagus tentang film yang akan saya tonton, tentunya dengan beberapa referensi yg saya dapat. Dan krna saya terlalu malas buat me-review film secara keseluruhan untuk diposting di blog ini. Akhirnya, jadi punya kebiasaan share tentang film apa yang saya tonton berikut review singkat tentang film tsb di facebook, krna kalau di twitter terbatas. Dan satu lagi, daripada blog ini mati gara-gara gak pernah posting sesuatu, mending yang telah saya tulis di facebook saya copy-paste disini. Itung-itung nambah postingan (alibi: padahal lagi males nulis di blog)
Check this out!

The Hunger Games: Catching Fire (2013) (03/12/13)


Short review:
“Membawa satu tingkat diatas film pertamanya (Gary Ross), Francis Lawrence berhasil mengeksekusi Catching Fire menjadi lebih kompleks & emosional. Adegan aksi, romansa + muatan2 sosial politik yg diusung jadi presentasi memikat sbg jembatan menuju instalment terakhir, 'Mockingjay'. So, see you in 'Mockingjay' (2014 & 2015)”.
Long review: here
Skor: 3,75/5

Se7en (1995) (05/12/13)


Short review:
“David Fincher memang terkenal lewat kemampuannya menghadirkan twist2 keren & shocking ending dalam setiap filmnya. Selain 'Fight Club', 'Se7en' adalah salah satu yg terbaik diantaranya. Makin menjanjikan dgn memasang Brad Pitt & Morgan Freeman dlm departemen cast-nya”.
Skor: 4,5/5

The Sixth Sense (1999) (06/12/13)


Short review:
“Salah satu masterpiece-nya M. Night Shyamalan yg sempat membuatnya disebut 'The Next Spielberg'. Tak heran memang, krna 'The Sixth Sense' adalah sebuah drama misteri psikologis dgn semua hal yg dapat membuat penonton tak mampu berpaling darinya, apalagi twist-nya yg keren itu”.
Skor: 4/5

Insomnia (2002) (06/12/13)


Short review:
“Bisa dibilang 'Insomnia' adalah karya Cristopher Nolan yg (terasa) paling biasa. Bukan berarti jelek, hanya saja gaya penceritaan 'Insomnia' memang (terasa) lebih linear bila dibandingkan dgn karya Nolan macam 'Memento', 'The Prestige', 'Inception' atau 'Trilogi Batman'. Walaupun begitu, film ini tetaplah sebuah sajian menarik dan pastinya, keren”!
Skor: 3/5

Insidious: Chapter 2 (2013) (08/12/13)


Short review:
“Salah satu alasan kenapa seorang 'James Wan' mampu membuat film horror yg menakutkan adalah bahwa dia mampu menggunakan atmosfer horror yg tepat dan menjaganya dgn intens sepanjang durasi film. Sayangnya formula dlm 'Insidious: Chapter 2' tidak mengalami perkembangan yg berarti, hanya berupa pengulangan yg sudah kita lihat dlm 'The Conjuring' atau 'Insidious' pertama, walaupun kadar kengeriannya masih tetap bisa dirasakan”.
Skor: 2,5/5

Fast & Furious (2009) (13/12/13)


Short review:
“FYI, walaupun sempat stress pasca meninggalnya Paul, akhirnya James Wan bersama pihak Universal Studio kembali akan melanjutkan produksi 'Fast & Furious 7' yg sempat tertunda. Sayangnya jadwal rilis semula tgl 11 Juli 2014 sepertinya akan berubah. Tgl tsb malah diisi film dari 20th Century Fox, 'Dawn of the Planet of the Apes'”.
Skor: 3/5

Prisoners (2013) (13/12/13)


Short review:
“Sebuah thriller mystery yg tampil apik selama 153 menit tanpa terasa membosankan. Denis Villeneuve mampu menghadirkan jalinan cerita sarat emosi dlm balutan atmosfer kelam nan muram. Apalagi departemen cast-nya yg tampil baik dlm porsinya. ANGKAT TOPI BUAT JACKMAN & GYLLENHAAL!”
Skor: 4/5

The Purge (2013) (17/12/13)


Short review:
“Tidak ada alasan bagi saya utk tidak suka sama premis cerita 'The Purge'. Tapi entah ekspektasinya yg terlalu tinggi, James DeMonaco sepertinya terlalu bermain aman dlm mengeksekusi cerita sepotensial 'The Purge'. Kritik sosial yg seharusnya bisa dieksplor lebih ternyata tidak. Adegan bunuh-bunuhan yg seharusnya jadi tontonan gore yg asyik juga kurang dieksplor. Sayang ya, padahal pondasi film ini sudah menjanjikan”.
Skor: 2,5/5

The Machinist (2004) (18/12/13)


Short review:
“Daya tarik 'The Machinist' adalah totalitas Christian Bale dlm memerankan Trevor Reznik yg menderita insomnia akut sampai tubuhnya begitu kurus. Bale hrs rela kehilangan 28 kg dari bobot tubuhnya demi perannya. Bicara filmnya, ini tipe film yg saya suka, phsycological thriller bernuansa kelam. 'The Machinist' berhasil menyentuh sisi terdalam psikologis manusia yg dialami Trevor Reznik. Cool!”.
Skor: 3,5/5

Submarine (2010) (23/12/13)


Short review:
“Debut filmnya Richard Ayoade, bernafaskan Wes Anderson yg kental nuansa gloomy-nya. Coming of age yg sedikit satir lengkap dgn segala permasalahan yg dialami si karakter utama dgn masanya. Semakin terasa sendu dgn iringan suara mellow Alex Turner, vokalisnya Arctic Monkeys yg didapuk jadi pengisi soundtrack film ini. P.S. 'Jangan lupakan angle-angle gambar yg indah di film ini'”.
Skor: 3/5

Home Alone 3 (1997) (26/12/13)


Short review:
“Film keluarga yg akan selalu tayang di Tv. Dari zamannya SD sampai sekarang, Home Alone gak pernah absen menemani waktu liburan. Ssstt... (spoiler) Scarlett Johansson-nya masih kecil”.
Skor: 2,5/5

Following (1998) (31/12/13)


Short review:
“Sebuah titik awal kelahiran seorang sutradara yg sangat berpengaruh di industri perfilman dunia di masa depan. Dari tangan dinginnyalah lahir karya-karya masterpiece sprti 'Memento', 'Inception' dan reebot 'Batman' yg fenomenal itu. Menonjolkan sisi realistik dlm setiap filmnya, atmosfer gelap yg selalu diusung + gaya penceritaan non-linear adalah ciri khasnya. AND THIS IS FIRST (LONG) MOVIE FROM MY FAVORITE DIRECTOR, CHRISTOPHER NOLAN”.
Skor: 3/5

The Shawsank Redemption (1994) (31/12/13)


Short review:
“IMHO, salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. No 1 di IMDB top 250. Kaya akan pesan moral dengan dialog-dialog cerdas bermuatan filosofis yang dalam + inspiratif. Tapi lucunya film garapan Frank Darabont ini tidak mendapatkan satupun piala Oscar karena kalah dari 'Forrest Gump' padahal dinominasikan sampai 7 (tujuh) kategori”.
Skor: 4,5/5

Gambar diambli dari sini.

Monday, December 9, 2013

Tentang Film ‘The Hunger Games: Catching Fire’

 
“If you die, and I live, I'd have nothing. Nobody else that I care about” – Peeta Melark

Tahun 2012 lalu, awalnya saya tidak begitu tertarik dengan ‘The Hunger Games’. Pasalnya film ini sering kali dibandingkan dengan ‘Twilight’, sehingga interpretasi saya pada film ini luntur. Maklum saya kurang begitu tertarik sama film-film bertipe seperti ‘Twilight’ begitu. Tapi setelah saya cari tahu lebih jauh dan tahu premis ceritanya (Yes, I Love It!). Apalagi melihat beberapa review yang positif + plus pendapatan box-office-nya yang cukup gila. Tanpa basa basi saya menonton film ini dan hasilnya, cukup MEMUASKAN!
‘The Hunger Games: Catching Fire’ masih melanjutkan kisah pertamanya. Dimana Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Melark (Josh Hutcherson) yang memenangkan pertandingan The Hunger Games ke-74 melakukan tur kemenenangan mereka pada semua distrik di Panem. Sejatinya hal itu jadi hal yang menyenangkan, tapi tidak bagi Katniss dan Peeta. Mereka berdua mengalami pergolakan batin yang amat sangat rumit. Kisah cinta palsu dan kebohongan-kebohongan yang mereka buat akan membuat kehidupan di Panem menjadi lebih baik dan normal, ternyata tidak. Pemberontakan-pemberontakan rakyat pada Capitol malah semakin menjadi. Presiden Snow (Donald Sutherland) yang sadar akan hal ini, berupaya menyingkirkan Katniss yang ia anggap sebagai ancaman terbesar yang akan menggulingkan kekuasannya. Dengan bantuan gamemaker baru Plutarch Heavensbee (Phillip Seymour Hoffman), presiden Snow akhirnya melanjutkan seri ke-75 The Hunger Games yang bertajuk Quarter Quell. Quarter Quell ini terasa istimewa karena mengumpulkan semua pemenang-pemenang dari seri The Hunger Games sebelumnya dan membuat game kali ini menjadi lebih mematikan.
Perpindahan sutradara dari Gary Ross ke tangan Francis Lawrence (Constantine, I Am Legend) dan penulisan naskah yang digarap dua penulis kelas oscar Simon Beaufoy (Slumdog Millionaire, 127 Hours) dan Michael Arndt (Little Miss Sunshine, Toy Story 3) sepertinya memberi banyak dampak signifikan pada THGCF. Dari tangan-tangan mereka THGCF dibawa ke tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. THGCF mampu tampil lebih kuat dari pendahulunya, seakan menepis sebuah stigma bahwasanya sebuah sekuel tidak akan lebih baik dari film pertamanya.


Di film pertamanya yang lebih menekankan pada kisah survival-nya Katniss, THGCF memberi gaya penceritaan yang lebih kompleks. Banyak hal yang diungkap disini. Intrik-intrik politik dan sosial diungkap lebih dalam. Hampir separuh film berkutat disini. And I like it. Kisah cinta segitiga Katniss, Peeta dan Gale (Liam Hemsworth) mendapat porsi lebih tapi juga tidak berlebihan (walaupun scene kissing-nya berlebihan). Terlebih lagi karena jalinan romansa ini bukan hanya sekedar pemanis tapi justru jadi salah satu elemen penting dan berkesinambungan dengan cerita yang semakin membuat film tampil lebih emosional. Adegan aksi yang berbalut sinematografi indah arahan Joe Willems juga tampil begitu memukau. Walaupun sebagai film bunuh-bunuhan hampir tidak ada adegan yang bisa dibilang brutal atau sadis. Tapi itu bukanlah masalah, karena THGCF jauh lebih dari itu.
Menilik pada departemen cast-nya, semua actor dan actrees bermain apik sesuai porsinya. Ditambah karakter-karakter pendukung yang mendapat ruang lebih banyak untuk mendalami karakter yang mereka mainkan sebelumnya. Dan ngomongin departemen casting, tentu tak bisa lepas dari bintang utama film ini, Jennifer Lawrence. Dan lagi-lagi Jennifer Lawrence tampil gemilang layaknya seorang bintang. Cool. Apalagi karakter Katniss terasa lebih humanis dan manusiawi disini. Sosok wanita yang terkadang rapuh menghadapi berbagai permasalahan walaupun dari luar terlihat kuat.
Overall, sebagai sebuah sekuel THGCF mampu tampil lebih baik dari sebelumnya. Walaupun terlihat seperti pengulangan dari film pertamanya, formula THGCF tetap tampil memikat dengan berbagai elemen dan rasa baru yang dihadirkan disini. Lebih kaya, padat dan berisi. Francis Lawrence berhasil membuat THGCF sebagai jembatan perantara sebelum bagian final yang tampil kuat diberbagai sisi. Lawrence juga berhasil memvisualisasikan novel Suzanne Collins ini menjadi sebuah presentasi hiburan yang berbobot. Tampil meriah dengan joke-joke ringan, kejutan-kejutan yang intens dan tensi ketegangan yang terjaga sepanjang durasi film. Menyentuh penonton secara emosi. Dan tanpa sadar bahwa film sepanjang dua jam lebih itu telah selesai.
So, see you in Mockingjay!