Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Saturday, March 21, 2015

Apatis

Menurut KBBI versinya kamusbahasaindonesia.org, apatis berarti acuh tak acuh, masa bodoh atau tidak peduli. Menurut wikipedia, apatis (apati) diartikan sebagai kurangnya emosi, motivasi atau entusiasme. Sebuah istilah psikologis untuk keadaan cuek atau acuh tak acuh, dimana seseorang tidak tanggap terhadap aspek emosional, sosial atau kehidupan fisik. Wikipedia menggunakan kata apati (bukan apatis) untuk menunjukkan sikap acuh tak acuh ini. Ini ada benarnya, karena kata apatis bisa merujuk pada sebuah subjek bukan sifat. Seperti halnya marhaenis atau borjuis yang juga menunjukkan subjek, bukan kata sifat. Saya memaknai kata ini sendiri dengan level yang sedikit lebih tinggi daripada hanya sekedar cuek, masa bodoh, acuh tak acuh atau tidak peduli.
Beberapa waktu lalu, dalam post bertajuk 'Nyinyir', saya banyak bercerita tentang hal-hal yang mengundang kenyinyiran dari sekitar saya. Yang berujung pada sebuah kesimpulan, bahwa saya harus belajar untuk tidak langsung nyinyir terhadap hal-hal disekitar. Walaupun terkadang terlihat tidak menarik tetapi harus bisa mengerti bahwa cara orang berbahagia dengan kehidupannya masing-masing itu berbeda-beda. Dan hampir mirip dengan post berjudul ‘Nyinyir’ kemarin, kali ini saya kembali bercerita ngalor-ngidul, ngelantur tentang hal-hal yang kadang membuat saya menjadi ‘Apatis’ akhir-akhir ini. Terutama ketika berbicara soal pemerintahan periode sekarang ini.
Semenjak dulu, dalam urusan yang berbau politik, saya memang agak kurang memiliki awareness. Saya malah cenderung awam mengenai persoalan seperti ini. Hingga pada tahun 2014 lalu, ketika negara ini menggelar sebuah pesta rakyat bertajuk pilpres, yang diluar dugaan sanggup mencuri perhatian saya. Hegemoni yang begitu besar di masyarakat membuat saya menjadi lebih care terhadap hal ini. Seakan terbawa euforia yang besar saat itu, saya yang tadinya biasa-biasa aja dan terkesan cuek lantas menjadi rajin mengikuti update dan perkembangan terbaru tentang apa yang terjadi. Dan semakin antusias ketika teman-teman sejawat menjadikannya sebagai bahan obrolan. Hingga seiring waktu berjalan, antusiasme saya perlahan memudar.
Rasa antusias yang perlahan mulai luntur bukan tanpa alasan. Melihat media (terutama TV) yang seharusnya menjadi bahan informasi, edukasi dan referensi bagi masyarakat, justru menjadi begitu memuakkan bagi saya. Alih-alih bersikap netral, secara tersirat dan tersurat mereka malah saling memojokkan satu sama lain. Seperti saling melempar kotoran antar satu dengan yang lainnya. Sikut sana, sikut sini. Sindir sana, sindir sini. Seakan menanamkan doktrin bahwa anda harus memilih A karena B bla, bla, bla. Begitu pula sebaliknya. Dan media-media tersebut begitu cerewet mengumbar pemberitaan yang selalu menimbulkan spekulasi liar bagi pemirsanya. Mungkin beginilah jadinya jika media dikuasai politisi. Kepentingan-kepentingan pihak tertentu telah merenggut apa yang seharusnya diperlihatkan pada khalayak.
Belum selesainya kemuakan saya sama kelakuan media, muncul lagi bibit-bibit yang akan membuat saya menjadi apatis. Adalah perilaku orang-orang di socmed yang membuat gerah. Entah datang angin darimana, beberapa pengguna socmed tiba-tiba menjadi politisi, pengamat dan juru kampanye dadakan. Saya sebenarnya fine-fine saja ketika melihat hal itu, malah justru senang karena anak-anak muda zaman sekarang sudah aware sama perpolitikan negara. Hanya saja yang jadi masalah adalah perilaku mereka-mereka di socmed yang terkesan menjengkelkan. Sama halnya dengan media-media yang cerewet, mereka-mereka di socmed juga sama cerewetnya mengagung-agungkan pilihan mereka dan menjelek-jelekan yang lainnya. Mulai dari update status sampai muncul meme-meme yang isinya kadang membuat saya muak. Padahal kalau memang sudah punya pilihan, ya sudah. Tinggal tunaikan pilihan tersebut pada waktunya. Tak perlu menjelek-jelekan calon yang bukan pilihannya. Politisi bukan. Pengamat politik bukan. Juru kampanye juga bukan. Memangnya dibayar berapa sih?
Contoh diatas mungkin hanya berupa efek dari media saja. Di dunia real-nya, juga ada hal yang membuat saya jengkel. Seperti para juru kampanye yang dengan “sekarep-dewek” nempelin-nempelin stiker, poster, dsb dirumah-rumah tanpa seizin yang punya rumah. Masalahnya adalah apa yang ditempel bukan menambah estetika rumah melainkan membuat kaca jendela kotor, cat tembok rusak, dsb. Kalau sudah mendapat izin pemilik rumah, itu tidak masalah. Nah seringnya, oknum-oknum tersebut berbuat seenaknya tanpa sepengetahuan yang punya rumah.
Tidak hanya itu, spekulasi-spekulasi akan adanya bentuk kampanye terselubung bertajuk ‘black campaign’ juga sering menyeruak ke permukaan. Permainan-permainan beralas materi didalamnya bisa saja terjadi. Tapi tenang, yang ini hanya spekulasi saja karena kita tidak tahu apa yang benar-benar terjadi saat itu, dimana dan bagaimana. Walaupun berbagai kemungkinan bisa terjadi. Namun harapannya, secara de facto itu semua tidak terjadi.
Sepintas, mengingat hal-hal diatas membuat saya muak. Sebagai orang awam, saya masih tidak mengerti. Ketika berbagai cara ditempuh untuk meraih tujuan yang ingin dicapai, tak peduli hitam atau putih. Sehingga warna hitam tak nampak hitam. Begitu pula putih yang tak nampak putih. Terasa abu. Semua menjadi bias karenanya. Atau mungkin harus saya sadari bahwa memang cara-cara seperti itulah yang harus ditempuh ketika harus bersaing dalam ranah politik. Sebuah rule of game tak tertulis tapi harus diikuti semua pesertanya. Saya jadi teringat omongan guru PKn saya waktu SMA yang bilang bahwa politik itu kotor. Ketika kepentingan sudah memihak, tak peduli aral apa yang melintang, semua diterjang. Kawan jadi lawan. Lawan jadi kawan.
Apa yang dilihat bercampur dengan spekulasi-spekulasi random tak berkesudahan, membuat saya lelah dan merasa menjadi ‘Apatis’ dibuatnya. Hingga hari H tiba, antusiasme tak seperti saat pesta demokrasi mulai dibuka. Menjelang pengumuman resmi, masih ada terdengar bisik-bisik senyap seperti yang saya sebutkan diatas. Walaupun sesungguhnya peraturan sudah menyuruhnya diam. Ditengah keheningan yang tak benar-benar hening, satu moment lucu dan mengundang kenyinyiran menguap. Jujur, saya nyinyir sekali melihat dengan bangganya para calon pasangan mengklaim kemenangan masing-masing. Di TV masing-masing. LOL.
Singkat cerita, pemenang pilpres telah resmi diketahui. Walaupun masih terdengar kontroversi mengiringi kemenangan pemenang sampai meja hijaupun harus ikut turun tangan. Namun keputusan tetaplah keputusan. Tanggal 20 Oktober 2014, Republik Indonesia mempunyai presiden dan wakil presiden baru. Rakyat Indonesia bergembira menatap hari baru dimasa depan.
Walaupun saya bukanlah pemilih presiden yang sekarang tapi saya cukup senang karena kita punya presiden baru. Saya punya harapan besar pada sosok presiden yang baru ini. Bahkan majalah ‘Time’ pun memberi headline tentang presiden baru ini dengan tajuk ‘A New Hope’ seperti judul Star Wars Episode IV. Ya, seperti yang kita tahu sosok presiden kita ini telah membuat figur yang baik dimata masyarakat. Sosok yang sederhana, bersahaja dan dekat dengan rakyat seperti telah melekat dalam dirinya. Citra dan image yang telah dibangunnya selama ini telah memenangkan hati rakyat. Membuat ekspektasi yang tinggi buat masyarakat. Motto bekerja dan bekerja untuk masyarakat telah disematkan dalam dirinya. Dan kini telah menjadi orang nomor 1 di negara ini. Memiliki kuasa penuh atas negara ini.
Awalnya semua berjalan baik dengan diiringi nada yang cukup positif. Ketika presiden melakukan seleksi ketat terhadap proses pemilihan menteri dengan melibatkan KPK dan PPATK. Ini jelas sebuah terobosan konkrit ketika presiden dengan tegas akan membentuk sebuah sistem pemerintahan yang bersih. Walaupun masih terdengar selentingan-selentingan abcd terhadap hal ini, tapi masih bisa diterima. Dan pidato internasional presiden di KTT APEC yang menuai banyak pujian dan respon positif. Semakin menambah daftar panjang nada positif pada sosok satu ini. Sampai para pembuat filmpun telah siap memanfaatkan momentum untuk mempromosikan film baru tentang sosoknya. Berjudul sama seperti tagline-nya waktu kampanye dulu.
Waktu terus berjalan sampai sebuah keputusan kontroversial yang paling dibenci rakyat ditetapkan (Kenaikan BBM) merubah persepsi masyarakat. Belum genap seratus hari masa pemerintahan, presiden telah membuat sesuatu yang sedikit merusak citranya sendiri. Bukan apa-apa, isu kenaikan BBM adalah isu paling sensitif di negeri ini. Mungkin akan lain ceritanya jika bukan kenaikan BBM yang diputuskan. Namun kenaikan BBM, sekecil apapun itu, tetap saja bukanlah hal yang disukai rakyat. Sebagian rakyat merasa terluka dibuatnya. Apalagi kenaikan harga yang ditetapkan relatif besar. Hal ini semakin diperparah dengan dengan fakta bahwa tren minyak dunia sedang turun. Ironis memang.
Saat itu saya masih tidak apa-apa sebelum akhirnya saya merasakan sendiri dampaknya. Terutama ketika sering naik transportasi umum. Itu benar-benar terasa sekali beratnya buat saya. Dan ketika saya pulang kampung, tak sedikit orang-orang terutama ibu-ibu disana (termasuk ibu saya sendiri) yang mengeluhkan kenaikan BBM berikut dampaknya. Karena kenaikan BBM, langsung atau tidak langsung akan berdampak pada kenaikan harga yang lainnya. Yang paling terasa saat itu adalah harga gas elpiji 12 kg yang juga begitu drastis kenaikannya. Saya menjadi marah karena hal itu. Namun saya bisa apa??? Sadar dan tak bisa apa-apa.
Pada akhirnya, memang BBM telah diturunkan namun itu tidak terlalu mempunyai pengaruh yang apa-apa (bahkan ada wacana akan naik lagi). Sekarang-sekarang, harga beras naik, bahan-bahan pokok lainnya juga ikutan naik. Yang tak kalah hebat adalah kurs dolar yang semakin melambung tak terbendung. Dan film yang telah direncanakan tayang untuk merayakan momentum kemenangan hanya bertahan satu hari dan langsung ditarik peredarannya di semua bioskop. Saya berharap semoga film itu tidak akan pernah tayang dinegeri ini.
Biarpun begitu, saya masih mencoba untuk tetap berpikir positif walaupun rasa empati saya turun dan mulai menyimpan kekesalan. Dan masih saja mencoba menaruh harapan pada pemerintahan baru agar bisa membawa angin segar bagi negeri ini. Bahwa keputusan yang diambil pemerintah adalah keputusan terbaik untuk rakyatnya. Bukan untuk mengkhianati rakyatnya. #husnudzon
Namun apa yang terjadi setelah itu adalah episode-episode panjang yang mempertanyakan pemerintahan saat ini. Berawal dari keputusan pencalonan tunggal KAPOLRI baru. Perang cicak vs buaya yang kembali naik ring. Dan permasalahan-permasalahan lain yang turut menyeruak bersamaan dengan hal tersebut. Sampai DKI Jakarta yang notabene pernah berada dibawah pimpinanannya juga ikut larut dalam peta permasalahan yang terjadi. Sampai rakyat dibuat geram dengan langkah presiden yang dinilai kurang tegas dan lamban menyikapi permasalahan yang ada (namun masih saja sanggup tersenyum terkekeh). Ramai trending topic dengan hashtag macam #ShameOnYou... atau #WhereAreYouMrPresident yang timbul sebagai efek dari penantian akan langkah yang akan diambil orang nomor 1 tersebut. Permasalahan-permasalahan tersebut semakin berlarut-larut. Kemudian teralihkan begitu saja dengan isu lain yang mengundang empati. Seperti kasus Illegal Logging yang menjerat nenek Asyani. Kasihan si nenek, diusia tuanya justru harus berhadapan dengan pengadilan dan penjara. Dari sanalah hadir sebuah kesangsian dan pertanyaan besar. Dimana janji pemerintah baru untuk menciptakan pemerintahan yang bersih? Pemerintahan yang tidak diintervensi pihak manapun? Pemerintahan yang bekerja untuk rakyatnya? Dimana?
Mungkin karena saya hanyalah orang awam yang tak tahu apa-apa, makanya saya merasa kesal melihat dan mendengar yang terjadi di negara ini. Merasa lelah dengan semua itu, saya kembali merasa menjadi ‘Apatis’ dibuatnya. Mungkin headline majalah ‘Time’ tempo hari adalah TYPO karena editornya lupa ngedit. Yang dimaksud mungkin bukan ‘A New Hope’ tapi ‘Hopeless’. Mungkin ya. Sekali lagi, mungkin. Biar tidak salah paham.
Dan pada suatu hari, saya mendengar selentingan kabar burung tentang adanya kelompok yang berupaya menurunkan posisi rezim saat ini. Gosip jalanan simpang siur yang tak jelas sumber dan kebenarannya. Kabar lalu yang tak jelas darimana juntrungannya. Tapi yang saya tahu, presiden saat ini memang memilki track record menjabat dalam periode yang tak selesai. Seperti saat menjabat walikota Solo di periode keduanya. Dan saat menjabat gubernur DKI Jakarta 2012 lalu. Mungkinkah track record itu akan berlanjut dimasa jabatan presiden-nya kali ini?
Rasa muak dan marah telah berubah menjadi rasa lelah. Kesal dan geram namun tidak bisa berbuat apa-apa telah berbuah kemalasan. Semua itu berujung menjadi merasa ‘Apatis’ karenanya. Mungkin sebaiknya saya harus mengembalikan diri saya yang dulu yang memang kurang memiliki awareness sama persoalan yang menyangkut negara. Namun tidak berarti menutup hati, mata dan telinga mengenai berbagai persoalan yang menimpa negeri ini. Hanya meyimpan dan menjadikannya pada tahap sekedar tahu saja. Atau penambah wawasan jikalau suatu saat obrolan waktu senggang bersama teman merambah hal-hal yang serius.
Karena permasalahan dan persoalan negara terlalu kompleks untuk dipikirkan terlalu mendalam. Apalagi untuk orang seperti saya yang tidak punya kualifikasi apa-apa (saya mah mikirin skripsi aja dululah). Masalahnya adalah mau kita marah, kesal atau apapun tetap saja tidak memberi efek apapun. Bahkan ketika harus turun ke jalanpun, seringnya tidak merubah apa-apa. Keputusan pemerintah tak bisa diganggu gugat. BBM naik, ya naik. Walaupun usaha seperti itu (kadang) juga perlu dilakukan. Tapi tentu akan lain cerita jika kejadiannya seperti ’98. Namun yang pasti adalah bahwa ketika ada diantara kita benar-benar ingin menjadi 'Agent of Change', maka terjun ke dalam peta permasalahan dan persoalan sampai akarnya adalah jawabannya. Apalagi bekal harta dan kuasa sudah dimiliki. Karena dua hal itu juga masuk hitungan. Lantas bagaimana kita yang tak berharta, tak berkuasa dan bukan siapa-siapa ini?
Satu hal yang saya yakini dari dulu adalah bahwa kita tak perlu terlalu ribet memikirkan persoalan dan permasalahan negara. Menjadi diri yang lebih baik saja itu sudah cukup. Menjalankan hak dan kewajiban serta tanggung jawab yang sedang kita emban saat ini juga  sudah lebih dari cukup. Atau kalau memang masih tergerak untuk melakukan perubahan, maka lakukanlah perubahan disekitar. Kalau merubah sekitar tak bisa, maka rubahlah diri sendiri ke arah yang lebih baik. Bukankah sebelum merubah orang lain, kita harus merubah diri kita dulu?
Siapa tahu perubahan-perubahan kecil yang kita lakukan setiap harinya akan menjadi perubahan besar dimasa mendatang. Lebih bagus kalau dampaknya baik untuk negara. Apa yang saya yakini dari dulu ini diperkuat dengan pernyataan seseorang waktu saya menghadiri acara sebuah forum pertemuan disebuah tempat. Bahkan dicontohkan pada sebuah profesi. Jadi misalkan, kalau anda adalah seorang guru, maka berusahalah memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Siapa tahu, diantara murid tersebut ada satu yang muncul membawa perubahan positif dimasa depan.
Tak ada batasan pasti tentang bagaimana seharusnya kita dalam menyikapi persoalan yang menyangkut negara. Karena memang semua orang punya sudut pandang dan caranya masing-masing. Namun jika seandainya rezim pemerintahan sudah diambang batas dalam menjalankan kuasanya, dan jika tak ada pilihan bagi rakyat selain meruntuhkan tirani pemerintahan. Kenapa tidak? Bukankah jalan yang ditempuh saat menuju reformasipun (kurang lebih) demikian.

Saturday, March 7, 2015

Karena ‘Rice Cooker’ Tidak Hanya Untuk Memasak Nasi Saja

Anak kosan memang mempunyai banyak keterbatasan. Keterbatasan ruang, keterbatasan uang dan berbagai keterbatasan lainnya. Tapi keterbatasan itu tidak lantas memberi ruang sempit bagi anak kosan untuk beraktivitas dan berkreativitas. Ya, buktinya dengan satu ruangan segede kamar tidur saja, kita bisa melakukan banyak hal. Dari bangun tidur sampai akhirnya tidur lagi, semuanya dilakukan di satu ruangan itu saja.
Selain ruang yang hanya segitu-gitunya, tidak banyak juga peralatan yang bisa dimiliki dan disimpan oleh anak kosan. Tak terkecuali peralatan memasak. Bagi sebagian besar anak kosan, rice cooker memang pilihan alat masak tepat yang wajib dimiliki. Selain cara pemakaiannya yang mudah, barangnya yang relatif tidak terlalu besar membuatnya tidak terlalu memakan banyak ruang.
Fungsi utama rice cooker adalah untuk memasak nasi dan menghangatkannya. Biasanya, kita-kita anak kosan memasak nasi sementara lauk pauknya dibeli dari luar. Hal itu memang lumrah, awal-awal nge-kost saya juga melakukan hal yang sama. Namun ternyata, semakin kesini saya mulai tahu bahwa rice cooker menyimpan sebuah rahasia. Konon katanya, selain memasak nasi, rice cooker juga bisa dipakai memasak yang lain. Contohnya masak air. Biar matang! LOL
Seperti yang saya bilang, bahwa anak kosan itu punya keterbatasan, namun itu bukanlah hambatan. Tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada kompor dan peralatan masak lainnya, rice cooker pun bisa. Mungkin sudah banyak yang tahu juga bahwa rice cooker bisa digunakan untuk memasak makanan lain selain nasi. Sayapun tidak mau ketinggalan untuk mencobanya. Walaupun sejatinya saya tidak bisa memasak, tapi dengan sedikit usaha dan iseng-iseng mencoba, saya akhirnya bisa memasak makanan lain selain nasi lewat rice cooker. Walaupun hasilnya memang lebih sederhana bila dibanding makanan yang dimasak dari peralatan masak pada umumnya, tapi makanan versi rice cooker pun cukup layak untuk dinikmati.
Berikut adalah beberapa makanan yang telah saya masak lewat rice cooker. Yang belum pernah mungkin bisa mencobanya. Saya juga masih terus bereksperimen tentang makanan apa lagi yang bisa dimasak lewat rice cooker. Namun patut diingat juga, bahwasanya berkreasi boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu over juga menggunakan rice cooker. Pada hakikatnya, fungsi rice cooker sudah jelas untuk apa. Jadi jangan gunakan rice cooker diluar batas kemampuannya. Bisa-bisa malah jadi rusak. So, this is it!

Telur
Dengan rice cooker kita bisa memasak berbagai varian telur seperti yang biasa kita masak. Mulai dari telur rebus, dadar, ceplok, orak-arik dsb. Teknik pembuatannya (baik rebus atau goreng) juga sederhana saja, seperti masak telur pada umumnya. Tapi biasanya, saya menggoreng telur di rice cooker tidak menggunakan minyak goreng melainkan margarin. Selain lebih sehat dan hemat, juga membuat panci rice cooker lebih mudah dibersihkan.


Mie Instan
Mie instan jadi makanan yang paling sering dimasak di rice cooker. Cara memasaknyapun sederhana dan relatif mudah. Apalagi dalam kemasan mie instan sudah ada petunjuk/cara memasaknya. Jadi, kita tinggal mengikuti petunjuk yang tertera dalam kemasan sampai akhirnya bisa disajikan. Mie rebus atau mie goreng sama saja, hanya saja disini, medium kompor diganti dengan rice cooker. Ya, daripada beli mie diluar ternyata lebih mahal dan rasanya sama saja, mending masak sendiri kan?


Jelly
Awalnya terinspirasi dari seorang teman dan setelah saya coba sendiri, membuat jelly ternyata tidak terlalu sulit. Memasak jelly di rice cooker, sama halnya seperti memasak mie instan. Kita hanya tinggal mengikuti petunjuk yang tertera dalam kemasan. Kalau sudah matang bisa langsung dimasukkan dalam cetakan atau kalau tidak ada masukkan saja pada wadah yang besar. Kalau sudah siap disantap, bisa ditambahin susu kental biar rasanya tambah seru.


Roti Bakar/Panggang
Pertama kali saya membuat roti bakar di rice cooker hanya iseng saja. Terus karena rasanya lumayan, akhirnya jadi ketagihan. Cara membuatnya juga cukup mudah. Kita tinggal menyiapkan bahan-bahannya. Roti sudah pasti, dia bahan utamanya. Bisa pakai roti tawar yang biasa atau roti sejenis lainnya. Isiannya bisa pakai cokelat, susu, keju atau apapun bahkan gula pasir saja sudah cukup. Dan jangan lupa siapkan margarin atau mentega.
Pertama-tama, olesi permukaan panci rice cooker dengan margarin. Panaskan panci dengan menekan tombol cook. Sembari menunggu, kita siapkan roti yang akan dipanggang. Olesi seluruh sisi permukaan roti dengan margarin, kemudian masukkan isian roti yang sudah disiapkan. Ketika panci rice cooker sudah panas, masukkan roti yang tadi. Tekan tombol cook lagi, jangan terlalu lama biar tidak terlalu gosong. Kemudian roti dibalik. Lakukan hal yang sama pada sisi lainnya. Tingkat kematangan sesuai selera saja. Roti bakar versi rice cooker yang sudah bisa disantap, rasanya tidak kalah koq sama yang dijual abang-abang dijalan-jalan. Bahkan lebih mantap karena yang membuatnya kita sendiri. Oh ya, selain roti bakar, pisang bakar juga bisa dibuat disini.


Kolak Pisang
Eksperimen saya pada rice cooker selanjutnya setelah roti bakar adalah kolak. Berbekal waktu KKN dulu pernah melihat teman membuat kolak untuk buka puasa (tapi bukan di rice cooker). Saya jadi punya sedikit gambaran tentang cara membuat kolak. Kolak yang saya buat pertama kali di rice cooker adalah kolak pisang. Karena bahan-bahannya memang mudah didapat. Begini cara membuatnya.
Bahan-bahan:
1.     3-5 buah pisang (atau sesuai selera), jenis pisangnya terserah.
2.     Gula merah / gula jawa.
3.     Gula pasir.
4.    Santan cair.
Cara membuat:
1.     Panaskan panci rice cooker.
2.    Masukkan air secukupnya. Tekan cook.
3.    Larutkan gula merah / gula jawa sambil sesekali diaduk.
4.   Sambil menunggu panas dan gula merah larut bersama air. Potong pisang yang telah disiapkan menjadi bagian-bagian kecil (sesuai selera).
5.   Setelah gula merah larut, masukkan gula pasir secukupnya. Aduk-aduk. Untuk yang suka dan biasa, bisa ditambah sedikit garam. Kalau saya tidak pernah.
6.  Setelah beberapa saat, masukkan potongan pisang ke dalam larutan gula tadi. Tunggu sampai warnanya agak sedikit berubah sambil sesekali diaduk.
7.    Masukkan santan cair. Aduk hingga merata.
8.    Setelah matang, matikan rice cooker.
9.    Dan kolak pisang versi rice cooker pun telah siap dihidangkan.


Pancake
Membuat pancake di rice cooker juga tidak sesulit yang dibayangkan. Kita hanya tinggal membeli adonan pancake instan di supermarket. Dan seperti makanan instan lainnya, kitapun hanya cukup mengikuti petunjuk yang tertera dalam kemasan. Tak sampai 5 (lima) menit, pancake ala rice cooker sudah bisa dihidangkan.



Nasi Goreng
Memasak nasi putih biasa di rice cooker sudah terlalu mainstream, biar sedikit berbeda, ternyata nasi goreng pun bisa dihasilkan dari sebuah rice cooker. Cara membuatnya sama saja seperti nasi goreng pada umumnya. Hanya saja (sepertinya) membuat nasi goreng dalam rice cooker jangan terlalu sering, karena nasi goreng lumayan meninggalkan bekas 'bandel' pada panci rice cooker.  



Sampai saat ini, baru 7 (tujuh) makanan diatas yang sempat saya coba buat pakai rice cooker. Sebenarnya masih ada lagi makanan-makanan yang bisa dimasak pakai rice cooker seperti sayur, sup, bubur dll. Tapi sampai post ini dibuat, saya belum mencobanya. Next time, mungkin. Nanti kalau sudah ada hasilnya, post ini saya update lagi.

Friday, March 6, 2015

Tentang Film Fifty Shades of Grey (2015)

Gambar dari sini.
“You’re the complete serial killer!”
 -  Anastasia Steele -

Manusia memang punya hasrat penasaran sama sesuatu hal yang ramai dibicarakan orang. Apalagi kalau sesuatu itu melabeli dirinya dengan kata “kontroversial”. Tak peduli apakah kita sudah bisa menerka apa yang akan terjadi, tapi tetap saja rasa penasaran itu seringkali menggiring jalan kita menuju kesana. Walaupun terkadang, kita punya praduga kurang baik pada hal tersebut. Dalih sekedar ingin tahu atau ingin membuktikan apa yang sebenarnya terjadi memang sudah cukup menjadi alasan kita membuat negasi atas praduga tadi.
‘Fifty Shades of Grey’ adalah sebuah film yang mempunyai kriteria diatas. Jauh sebelum filmnya rilis, novelnya memang telah banyak mencuri perhatian orang. Premisnya yang ‘nakal’ telah mengundang rasa penasaran. Tak pelak, rasa penasaran tadi turut membawa kesukesesan bagi ‘Fifty Shades of Grey’. Novel dan filmnya laku keras di pasaran. Namun kesuksesan tadi tidak terlalu berjalan mulus. Premisnya yang (mungkin) kelewat ‘nakal’, turut memancing pertentangan dari berbagai kalangan. Termasuk dari kalangan aktivis pembela hak perempuan, karena ‘Fifty Shades of Grey’ dianggap merendahkan derajat kaum perempuan.
Saya menjadikan ‘Fifty Shades of Grey’ sebagai salah satu film yang saya tunggu tahun ini (baca: Daftar Film yang (Saya) Tunggu di 2015). Bukan karena alasan film ini drama romantis-erotis. Saya hanya ingin tahu saja film yang dari masa pembuatan sampai akhirnya tayang ini selalu dibicarakan banyak orang. Selalu jadi bahan pemberitaan media-media online. Dari promosi sampai kontroversi yang mengiringinya. Sebagai penikmat film, saya hanya ingin tahu, sekontroversial apakah ‘Fifty Shades of Grey’ itu?

Gambar dari sini.
‘Fifty Shades of Grey’ merupakan sebuah novel yang ditulis E.L. James yang konon katanya menjadikan ‘Twilight’ sebagai inspirasi menulisnya. Jadi jangan heran bila ada kesan ‘Twilight’ dalam ‘Fifty Shades of Grey’. Berbicara soal filmnya, ‘Fifty Shades of Grey’ adalah sebuah drama romantis dengan cerita yang sebenarnya sudah sangat usang. Sudah banyak sekali cerita dongeng, film, serial drama yang mengusung premis seperti ini. Seorang wanita biasa yang jatuh cinta pada sosok pria sempurna bak seorang pangeran. Namun yang beda dari ‘Fifty Shades of Grey’ adalah muatan erotis lewat unsur BSDM-nya. BSDM itu apa? Cari sendiri sajalah. Tapi kalau saya boleh bilang, itu membuat ‘sakit’.
Ya, alih-alih menghadirkan aksi pemancing fantasi liar, ‘Fifty Shades of Grey’ justru hadir dengan moment-moment sensual pesakitan. Mengundang rasa iba melihat si cantik Dakota Johnson harus dicambuki dalam keadaan tanpa busana. Terlebih lagi, sensualitas yang dihadirkanpun hanya berupa visual tak bernyawa. Tak ada keintiman yang terjalin disana.
Nilai minus ‘Fifty Shades of Grey’ dari aspek diatas juga ditambah dari bumbu romansanya. Entah kenapa, buat saya romantisme yang dihadirkan disini terlalu standar, cliche dan cheesy. Atau memang ceritanya juga yang sudah standar, cliche dan cheesy? Adegan terbang disini mungkin bisa jadi pembeda. Tetapi tetap saja hal itu tidak membuatnya menjadi spesial. Beruntung Sam Taylor-Johnson masih bisa menyajikan gambar-gambar yang lumayan artistik.
Terlepas dari banyaknya kekurangan film ini, harus diakui bahwa dua pemerannya sudah melakukan yang terbaik. Jamie Dornan walaupun masih terasa kurang kharismatik tapi tetap mampu membawakan karakter Christian Grey yang perfect. Dakota Johnson dengan wajah cantiknya juga sanggup menunjukkan totalitas akting yang mumpuni. Walaupun ia harus tampil tanpa sehelai benangpun menutupi kulit putihnya. Pernah membayangkan tidak betapa risih dan tak nyamannya bila harus beradegan “seperti itu”? Kalau pernah menonton film ‘Boogie Nights’-nya Paul Thomas Anderson pasti tahu betapa kompleksnya pembuatan film-film “seperti itu”. Atau setidaknya, film yang memuat adegan “seperti itu”.
Pada akhirnya, ‘Fifty Shades of Grey’ hanyalah sebuah drama romantis biasa yang hanya mencoba tampil berbeda lewat premis sensualnya. Kehebohan yang mengiringi perjalanan ‘Fifty Shades of Grey’ tak sejalan dengan hasil akhirnya. Terlalu standar. Tidak ada yang spesial dan berkesan. Konsep nakalnya pun juga terkesan tempelan semata. Beruntung dua pemeran utamanya tampil dengan cukup baik. 
Melihat hasil film pertamanya, masihkah menanti sekuelnya?

Note: Tentang Christian Grey
Christian Grey adalah sosok pria biasa. Atau lebih tepatnya, lebih dari sekedar biasa. Melihat sosok dan pencapaiannya, wanita mana yang tidak meleleh dibuatnya. Namun ungkapan ‘‘don’t judge a book by its cover” mungkin ada benarnya. Dan sepertinya itu berlaku buat Christian. Ya, sosok Christian Grey yang perfect dari luar justru menyimpan bagian lain dalam dirinya. Sebuah rahasia yang sangat tak biasa untuk manusia normal pada umumnya. Perilaku seksualnya menyimpang.
Melihat filmnya kita bisa tahu bahwa dia adalah sosok yang dominan dan intimidatif. Bahkan dalam urusan seksualitas. Kegemarannya terhadap BDSM, hobi bermainnya dengan barang-barang aneh mulai dari tali, penutup mata, selotip, borgol, flogger dsb. Semua itu tersimpan begitu rapi dalam sebuah ruangan. Ruangan khusus yang ia siapkan tidak hanya untuk menyimpan koleksinya, tapi juga untuk memenuhi hasratnya.

Salah satu adegan dalam film 'Fifty Shades of Grey'.
Gambar dari sini.
Perilaku menyimpang seperti ini memang selalu membuat saya tidak habis pikir dan tidak mengerti. Saya suka kesal sebenarnya kalau ada berita di TV tentang pelecehan seksual. Di Indonesia, berita-berita semacam ini kerap kali muncul. Yang paling membuat saya kesal adalah ada pria dewasa (bahkan ada oknum Ustadz) yang tega melakukan hal-hal tak “senonoh” pada anak-anak kecil. Mungkin dulu kita pernah dengar nama “Emon” yang sempat menggemparkan Indonesia dengan perbuatannya. Saya kesal karena, kenapa mereka mesti melakukan perbuatan itu? Come on, man! Memangnya apa yang didapat dari anak-anak umur 7-8 tahun? Laki-laki pula! Bahkan dari anak perempuan pun, apa yang bisa didapat? Memangnya apa yang sebenarnya diperbuat? Saya suka tak habis pikir kenapa ada orang yang bisa melakukan hal itu. Dan sampai saat inipun saya masih tidak mengerti.
 Mungkin saya memang tak bisa mengerti tentang hal itu, tapi disisi lain saya juga tak bisa seenaknya mengadili dan menghakimi. Karena bisa jadi ada alasan (yang juga sama saya tak mengertinya) yang membuat ada orang-orang berperilaku seperti itu. Christian Grey disini mencontohkannya. Perilaku seksual menyimpangnya memang bukan tanpa alasan. Dalam filmnya, kita sedikit mendapat penjelasan bahwa perilaku Christian memang tidak terjadi serta merta begitu saja. Ada masa dimana ia berumur 15 tahun, seorang teman ibunya melakukan sesuatu tidak mengenakan padanya selama 6 tahun. Belum lagi background kehidupan keluarga yang juga sama tak enaknya turut dirasakannya. Trauma masa lalu telah merubah kepribadiannya. Contoh lainnya, kita bisa lihat dari sosok Alan Turing dalam film ‘The Imitation Game’. Perilaku homoseksualnya juga bukan tanpa alasan.
Terlepas dari itu, ada sisi lain yang cukup menarik dari Christian Grey. Menurut saya dia adalah tipikal orang yang punya prinsip. Prinsip yang ia anut dibuktikan lewat sebuah kontak resmi yang tertulis lengkap dengan butir-butir peraturan yang bisa dinegosiasikan dan disepakati oleh kedua belah pihak. Dia juga berujar bahwa ia melakukannya hanya pada wanita yang bersedia saja. Walaupun pada kasus hubungannya dengan Ana, kontrak belum ditandatangani, tapi Christian justru melakukan kebiasaanya, itu juga atas permintaan Ana. Di awal, Christian sebenarnya telah memperingatkan Ana untuk menjauh darinya karena ia bukanlah pria yang tepat untuk Ana. Dalam hal ini, saya tidak mentolelir apa yang diperbuat Christian. Tapi prinsipnya, membuatnya berkesan lebih elegan sebagai seorang berperilaku menyimpang.
Di dunia nyata, saya belum pernah melihat langsung fenomena perilaku menyimpang tersebut. Yang saya tahu hanya ada banci yang saya juga tak mengerti kenapa banci itu ada. Lebih seringnya, saya dengar dari pemberitaan di TV saja. Walaupun masih tak mengerti, namun kalau ditarik sedikit benang sejarah, awal mula perilaku menyimpang memang pernah terjadi pada zaman Nabi Luth, yang mana Alloh SWT telah memberi hukuman atas mereka. Dan ditengah ketidakmengertian ini, tanpa bermaksud mengutuk “orang-orang tersebut” atau mentolelir perbuatannya, saya pikir bahwa memang hanya Tuhan lah yang bisa menilai keberadaan mereka. Kita-kita manusia hanya bisa menerka dan menilai keberadaan mereka dengan kekuatan manusia yang tak sempurna.

Tuesday, March 3, 2015

Tentang Serial You’re Beautiful


Dalam dunia hiburan, Korea Selatan memang sudah sejak lama menapakkan kakinya di Indonesia. Tidak tahu persis kapan, tapi invasi Korean Wave “hallyu” memang sudah mengalihkan perhatian orang Indonesia. Mulai dari musik, film, serial TV, boyband & girlband sampai Running Man. Tidak hanya perempuan, lelakipun sama (teman saya juga banyak). Tidak hanya remaja dan dewasa, ibu-ibu juga tak ketinggalan untuk ikut menggemari hiburan dari negeri ginseng ini. Anak-anak? Mungkin juga sama. Dan tak sedikit pula diantara mereka yang dibuat “addict” karenanya.
Berbeda dengan yang lain, saya bukanlah penggemar Korea. Saya tidak tahu tentang Running Man. Saya tidak tahu girlband baru yang sedang nge-hits saat ini. Saya tidak tahu kalau SNSD merilis video klip baru. Saya tidak tahu serial TV apa yang sedang booming di masyarakat. Saya tidak terlalu tahu tentang hal itu. Tapi biarpun begitu, saya tak lantas menutup mata begitu saja sama dunia hiburan Korea ini, baik musik, film ataupun serial TV. Buktinya, saya tidak ketinggalan menonton film Korea seperti ‘Oldboy’, ‘A Tale of Two Sisters’ atau ‘Hello Ghost’. Beberapa lagu 2NE1 juga suka saya dengarkan (I Don’t Care, Love is Ouch, Lonely & Ugly). Meski begitu, musik, film atau serial TV Korea masih belum banyak yang bisa saya gemari seperti halnya saya menggemari dunia barat.
Post kali ini saya akan sedikit bercerita / berbicara / mengulas satu-satunya (atau satu dari dua) serial TV Korea yang saya suka yaitu ‘You’re Beautiful’. ‘You’re Beautiful’ sendiri saya tonton pertama kali pada tahun 2010 lalu di sebuah stasiun TV swasta dengan judul ‘He’s Beautiful’. Dan saat ini, drama yang pertama kali mengudara di SBS pada tahun 2009 ini juga sedang tayang di Indonesia, namun dengan stasiun TV yang berbeda. Kalau saya tidak keliru, berarti sudah tiga kali ‘You’re Beautiful’ tayang di Indonesia dengan 3 (tiga) stasiun TV yang berbeda.
Mungkin ‘You’re Beautiful’ adalah drama Korea yang sedikit kalah tenar bila dibandingkan ‘Boys Before Flowers’, ‘The Heirs’ atau drama terkenal lainnya. Tapi pertama kali nonton drama Korea ini, saya langsung tertarik dan merasa tak perlu menonton drama Korea yang lain lagi. Alasannya sederhana, drama Korea itu stereotype. Dengan kata lain, secara garis besar, inti dari hampir semua drama Korea itu kurang lebih sama. Ceritanya tak jauh dari kisah cinta dengan bumbu perbedaan. Beda status, beda kasta, beda kepribadian, beda alam, beda planet atau beda dunia. Dan entah mengapa jalinan cintanya selalu tidak mudah untuk disatukan. Selalu ada alasan dan pihak-pihak yang mencoba menghalangi. Mulai dari orang ketiga, orang tua, saudara, rekan atau sahabat. Layaknya cerita dongeng, drama-drama Korea juga (mungkin) menjadi angan-angan tersendiri bagi penontonnya. Dan tak lupa, formula tearjaker yang memang selalu jadi andalan dan menjadi alasan kenapa drama Korea disukai banyak orang. Kalau mau sedikit terbuka, drama Indonesia sebenarnya juga tak jauh-jauh dari yang saya sebut tadi. Tapi di Indonesia, tak jarang para pembuatnya suka terlalu kreatif, saking kreatifnya malah jadi antiklimaks (baca: Ngalor Ngidul Seputar Sinetron Indonesia Zaman Sekarang).
Saya tidak menggemari Korea bukan tanpa dasar. Waktu Korean Wave sedang booming-booming-nya di Indonesia. Sayapun mencoba untuk ikut menikmati hegemoni tersebut. Namun sebegitu hebohnya teman-teman saya sama Korea atau sekeras apapun saya mencoba untuk suka, harus saya sadari bahwa itu bukanlah selera saya. Lalu kenapa saya mau repot-repot nulis tentang drama Korea kalau itu bukanlah selera saya? Khusus untuk ‘You’re Beautiful’ memang saya buat pengecualian. Seperti yang saya sebut di awal, hanya inilah drama Korea yang saya suka dan sampai saat inipun, tak ada seri drama lain yang sanggup menarik perhatian saya selain ini. Buat saya, ‘You’re Beautiful’ sendiri sudah jadi prototype untuk drama Korea kebanyakan. Itulah kenapa saya bilang tak perlu menonton drama Korea lain setelah menonton ‘You’re Beautiful’.


Ada beberapa alasan yang membuat saya menyukai ‘You’re Beautiful’. Pertama, mari kita bicara plotnya. ‘You’re Beautiful’ mengangkat sebuah cerita yang agak sedikit berbeda dengan menyoroti perjalanan karir sebuah grup band (fiktif) yang terkenal di Asia. Ini saja sudah menjadi poin tersendiri (maklum waktu dulu pernah ngeband juga). Setidaknya grup band itu lebih menarik daripada boyband atau girlband (walaupun terkadang Hwang Tae Kyung memakai baju berbelahan dada rendah yang bikin geli). Terus diberi sedikit konflik dengan menceburkan seorang calon biarawati yang masih belum mengenal dunia untuk bergabung dalam grup band tersebut. Sontak itu menjadi keseruan tersendiri mengingat dia juga harus menyamar sebagai seorang lelaki. Ya, bayangkan saja seorang perempuan baik-baik, calon biarawati pula, harus masuk dalam dunia dan kehidupan lelaki. Walaupun pada perjalanannya kita menemukan plot hole (maklumi saja, namanya juga drama), tapi setidaknya premis ini lebih down to earth daripada cerita tentang si kaya dan si miskin.
 ‘You’re Beautiful’ adalah drama romantic-comedy, sudah barang tentu kisah cinta adalah suguhan utama disini. Saya senang karena tak ada kisah cinta antara orang kaya dan miskin yang ditentang orang tuanya karena perbedaan status sosial. Kisah cinta yang dihadirkan disini buat saya lebih realistis. Karena bagaimana benih-benih suka tidak tumbuh andaikata kita tinggal seatap dan setiap hari selalu bertemu, melihat dan memperhatikan tingkah seorang perempuan ditengah gerombolan lelaki. Bukankah cinta bisa datang karena terbiasa? Apalagi kalau wanita itu selucu Go Mi Nam/Nyu. Terlebih lagi kisah cinta yang digulirkan disini adalah cinta diam-diam. Tentang para pemuja rahasia yang diam-diam menaruh hati, memperhatikan, membantu dan sesekali mengisyaratkan isi hati pada yang disukainya dengan caranya masing-masing. Konflik asmara tersebut terasa lebih intim dan personal menurut saya.
Untuk urusan komedi, lumayanlah. Melihat tingkah laku Go Mi Nam yang polos dan lugu itu sudah cukup membuat tersenyum. Sudah cukup berhasil dalam menghadirkan unsur komedi sebagai penawar diantara acara tangis-tangisan. Apalagi karakter macam Manager Ma atau reporter Kim juga ikut membawa aura komedi dengan tingkah polahnya.
Hal lain yang saya suka dari ‘You’re Beautiful’ adalah soundtrack-nya. Baru dalam ‘You’re Beautiful’ saya menemukan soundtrack drama Korea yang 90% lagu-lagunya punya materi bagus. Biasanya dalam sebuah drama, lagu-lagu yang menurut saya enak paling cuma satu atau dua lagu. Paling banter opening/closing saja. Namun hampir semua lagu soundtrack ‘You’re Beautiful’ itu bermateri bagus dan sangat easy listening. Tidak hanya enak didengar, lagu-lagu itu juga mampu menjadi latar yang tepat dan mewakili suasana setiap plot yang dihadirkan.
‘You’re Beautiful’ juga mempunyai jajaran cast yang ok menurut saya. Setiap cast yang ada (terutama anggota band) mampu memerankan karakter dan tokoh yang dimainkannya dengan baik. Jung Yong Hwa yang cool atau Lee Hong Ki yang rame. Pemilihan Jang Geun Suk sebagai leading role juga terasa tepat buat saya. Park Shin Hye juga tidak terasa annoying seperti dalam ‘The Heirs’. Dan untungnya tidak ada Lee Min Ho disini. Mungkin penilaian saya akan berbeda jika dia ada.


Selanjutnya adalah karakter dan penokohan. Dalam drama Korea, bentuk karakter dan penokohan memang seringkali terasa familiar. Ini juga salah satu alasan kenapa saya bilang drama Korea itu stereotype. Maka tak heran jika karakter dan penokohan dalam ‘You’re Beautiful’ pun terasa begitu familiar.
Pertama adalah Hwang Tae Kyung. Dia adalah pemain utama sekaligus pemimpinannya. Dalam drama Korea, karakter seperti ini selalu mempunyai sifat yang perfeksionis, serius, sombong/arogan (apalah namanya), tapi entah kenapa karakter inilah yang selalu berhasil mendapatkan hati pemeran utama perempuannya. 
Kedua adalah Go Mi Nam/Nyu yang merupakan karakter dari pemeran utama perempuan. Pemeran utama perempuan adalah pusat dari segala konflik yang ada. Biasanya karakter perempuan ini selalu jadi rebutan banyak pihak. Dan selalu punya keunikan sendiri baik dari fisik, sifat ataupun latar belakang. Pokoknya pemeran utama perempuan itu berbeda dari perempuan kebanyakan. 
Karakter selanjutnya adalah Kang Shin Wu. Saya menyebut karakter seperti ini sebagai Second Man. Karakter ini menurut saya yang paling sial dalam sebuah drama. Padahal apa kurangnya, dia itu keren, baik, selalu ada buat si perempuan, tapi dengan segala alasan, cintanya selalu bertepuk sebelah tangan. Seakan menjadi keharusan kalau Second Man itu selalu “Tak Bisa Memiliki” hati yang diinginkannya. 
Berikutnya adalah Jeremy yang rame. Karakter yang easy going & fun seperti ini memang harus selalu ada untuk mencairkan suasana. Dan tak lupa ada Yoo He Yi sebagai pihak ketiga. Orang ketiga ini memang selalu punya seribu cara dan ide untuk masuk dalam konflik karakter utama. Dan walaupun Yoo He Yi ini adalah pihak ketiga yang bertugas mengganggu, dalam ‘You’re Beautiful’ karakter Yoo He Yi ini sendiri tidak terlalu menyebalkan dan annoying seperti pada umumnya. Selebihnya adalah karakter-karakter pendukung yang turut meramaikan jalannya cerita.
Selayaknya sebuah drama romantis, ‘You’re Beautiful’ juga punya moment manis dan tangis dalam setiap episodenya. Buat saya, moment yang berkesan dari ‘You’re Beautiful’ adalah moment-moment yang dihasilkan oleh Kang Shin Wu. Tanpa mengesampingkan yang lain, karakter Shin Wu memang telah mencuri perhatian dan memberi kesan tersendiri. Saat ia diam-diam mengawasi Go Mi Nam yang sedang jalan-jalan. Saat dia menyiapkan sebuah kejutan spesial untuk Go Mi Nam. Saat dia bernyanyi yang sebenarnya untuk Go Mi Nam. Saat ia mengarang cerita tentang seorang perempuan bodoh dan tak berguna. Saat akhirnya ia sadar dan harus menyerah. Dan masih banyak lagi moment lainnya. Walaupun moment tersebut berujung kepedihan tapi justru itulah yang selalu terngiang dalam ingatan saya.
Sekiranya itulah beberapa hal yang membuat saya suka sama ‘You’re Beautiful’. Kecuali anda adalah penggemar Korea, tentunya jauh lebih tahu dari saya. Tapi seandainya anda adalah laki-laki seperti saya yang tidak menggemari Korea, namun (jika memang) harus menonton serial drama romcom Korea. Maka ‘You’re Beautiful’ adalah pilihannya. 
Recommended! [IMHO]

Friday, February 27, 2015

Catatan Nonton #Februari’15

Masih melanjutkan edisi ‘Catatan Nonton’ seperti biasanya, kali ini kita berada pada bulan dimana ajang bergengsi Oscar di gelar. Dan tentunya, beberapa film yang masuk nominasi Oscar tak luput dari santapan saya di bulan ini. Andaikata beberapa film dibawah (Birdman & Whiplash) sudah saya tonton tahun lalu, besar kemungkinan masuk list daftar film terbaik saya tahun lalu. Namun itu tidaklah menjadi masalah karena pada akhirnya saya bisa nonton juga. Movie Of The Month edisi kali ini jatuh pada Best Picture Oscar tahun 2015, ‘Birdman’.
Ajang Oscar memang telah digelar beberapa hari yang lalu, tapi tidak ada salahnya jika pada edisi ‘Catatan Nonton’ kali ini saya kembali me-list daftar pemenang Oscar tahun 2015 seperti tahun lalu (Catatan Nonton #Februari'14). Dan berikut daftar lengkapnya. Selamat buat para pemenang!

Best Picture : Birdman
Best Actor : Eddie Redmayne (The Theory of Everything)
Best Actress : Julianne Moore (Still Alice)
Best Supporting Actor : J.K. Simmons (Whiplash)
Best Supporting Actress : Patricia Arquette (Boyhood)
Director : Alejandro González Iñárritu (Birdman)
Original Screenplay : Birdman
Adapted Screenplay : The Imitation Game
Animated Feature : Big Hero 6
Foreign Language Film : Ida
Cinematography : Birdman
Editing : Whiplash
Production Design : The Grand Budapest Hotel
Costume Design : The Grand Budapest Hotel
Make-up and Hairstyling : The Grand Budapest Hotel
Original Score : The Grand Budapest Hotel
Original Song : Glory (Selma)
Sound Mixing : Whiplash
Sound Editing : American Sniper
Visual Effects : Interstellar
Documentary Feature : Citizenfour
Documentary Short Subject : Crisis Hotline: Veterans Press 1
Animated Short Picture : Feast
Live Action Short Film : The Phone Call

Selanjutnya adalah kumpulan short review film yang saya tonton dalam ‘Catatan Nonton #Februari’15’. Check this out!

Birdman (2014) (05/02/15)
Short review:
Apa yang telah dilakukan Alejandro González Iñárritu dalam 'Birdman' adalah sesuatu yang langka. Pencapaian luar biasa juga ketika ia mampu menuangkan narasi sederhananya bersama teknik oner/long take rumit ala Emmanuel Lubezki. Pergerakan kamera yang sanggup menangkap setiap angle dan moment menjadi lebih hidup. Seperti versi upgrade dari teknik yang dipakai Alfred Hitchcock dalam 'Rope'. Sebuah komedi satir nan miris mengenai kehidupan seorang aktor yang tengah berjuang membangun karirnya kembali dalam pementasan Broadway. Supporting cast yang sanggup menunjukkan performa terbaiknya masing-masing. Kemiripan kisah Michael Keaton yang notabene adalah Batman era Tim Burton dengan sosok Riggan memberi keintiman sendiri dalam 'Birdman'. Sebuah film yang memang pantas bersaing di ajang sekaliber Oscar. Bahkan bisa saja 'Birdman' jadi juaranya.
Skor: 4,5/5

3 Idiots (2009) (09/02/15)
Short review:
Ada begitu banyak rasa ketika menyaksikan '3 Idiots'. Disatu saat kita bisa tertawa terbahak-bahak tapi disisi lain kita juga bisa ikut hanyut dalam perasaaan haru. Ada motivasi besar yang coba disebar dibalik kekonyolan dan kekocakan yang dihadirkan bersama template khas bollywood yang tak hilang disini (tari dan nyanyi). Plot dan narasinya yang mudah dicerna membuat '3 Idiots' terasa enjoyable walaupun punya durasi yang cukup panjang. Pemegang rekor box office di zamannya ini memang tontonan ringan yang sangat menghibur yang mampu memberi energi positif kepada penontonya disaat bersamaan.
Skor: 4/5

PK (2014) (11/02/15)
Short review:
Sudah menjadi resiko jika film yang memuat isu sensitif akan mengundang pergunjingan. Namun jika mau terbuka sedikit saja, sejatinya 'PK' adalah sebuah tipikal film komedi pengundang tawa biasa dengan nuansa bollywood-nya yang kental. Namun dengan isu sensitifnya, 'PK' memang membawa pesan satir yang menyentil kita-kita (manusia) dalam hubungannya dengan Tuhan. Dialog-dialog cerdas dan thought-provoking-nya (namun tak jarang menghadirkan kekonyolan) seakan memberi celah buat kita untuk sedikit merenung dan menertawakan diri sendiri. Menonton 'PK' juga seperti mengajak kita untuk melihat kembali fenomena-fenomena berdalih agama yang terjadi di negara kita. 'PK' menambah daftar panjang film bollywood bagus yang dibintangi Aamir Khan.
Skor: 4/5

Whiplash (2014) (17/02/15)
Short review:
Sepintas mungkin 'Whiplash' akan terlihat sebagai drama biasa. Tipikal from zero to hero yang mengambil perspektif seorang pemuda yang ingin menjadi drummer hebat. Dan beruntunglah, karena 'Whiplash' tidak berakhir demikian. Alih-alih menebarkan aura inspiratif, 'Whiplash' justru mencengkram sisi psikologis kita dalam balutan ketegangan yang emosional. Menelanjangi mindset kita tentang apa arti sebuah perjuangan. Kesederhanaan yang coba ditampilkannya menjadi begitu kompleks, sekompleks dan serumit musik jazz itu sendiri. Masih ada nilai plus dari sisi teknis yang ciamik disini. Dan tak lupa sisi musikalitasnya yang berhasil menyajikan persembahan musik jazz yang keren. Namun tentunya itu semua kurang berarti tanpa penampilan hebat dua pemerannya, Milles Teller dan J.K. Simmons.
Skor: 4,25/5

The Hunger Games: Mockingjay – Part I (2014) (18/02/15)
Short review:
Apakah menjadi sebuah tradisi ketika sebuah adaptasi young adult yang sudah memasuki bagian finalnya untuk dibagi menjadi dua bagian? Memang tidak ada salahnya ketika hal ini dimaksudkan untuk memperpanjang umur sebuah franchise sukses macam 'The Hunger Games' atau meraup pundi-pundi dolar. Namun agak sedikit disayangkan karena 'Mockingjay: Part 1' telah jauh menurunkan intensitas yang telah dibangun dalam 'Catching Fire'. Merubah semua tone yang telah tersemat menjadi depresif bermuatan politis. Walaupun tak berarti jelek namun ada ketidaksesuaian dengan apa yang diharapkan. Untungnya Jennifer Lawrence masih sanggup menunjukkan performa terbaiknya sebagai Katniss Everdeen.
Skor: 2,85/5

The Theory of Everything (2014) (18/02/15)
Short review:
Dan ini bukanlah sebuah biopik tentang bagaimana sepak terjang fisikawan jenius sekaligus atheist, Stephen Hawking dalam mengejawantahkan setiap jengkal buah pikirnya. 'The Theory of Everything' adalah drama romansa pahit-manis yang bisa membuka pandangan baru tentang cinta. Ada rasa hangat yang kentara dibalik getirnya kenyataan hidup Stephen & Jane Hawking. Hadir bersama visual & score cantik yang memberi nafas pada setiap moment yang ada. Sebuah drama yang punya kekuatan dari kualitas akting pemainnya. Nuansanya sedikit mengingatkan saya pada 'A Beautiful Mind'-nya Ron Howard. Hanya perjuangan menghilangkan halusinasi efek skizofrenia berganti menjadi usaha keras mencari "teori tentang segalanya" dibalik vonis motor neuron disease.
Skor: 3,75/5

Gambar dari sini.