Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Friday, March 6, 2015

Tentang Film Fifty Shades of Grey (2015)

Gambar dari sini.
“You’re the complete serial killer!”
 -  Anastasia Steele -

Manusia memang punya hasrat penasaran sama sesuatu hal yang ramai dibicarakan orang. Apalagi kalau sesuatu itu melabeli dirinya dengan kata “kontroversial”. Tak peduli apakah kita sudah bisa menerka apa yang akan terjadi, tapi tetap saja rasa penasaran itu seringkali menggiring jalan kita menuju kesana. Walaupun terkadang, kita punya praduga kurang baik pada hal tersebut. Dalih sekedar ingin tahu atau ingin membuktikan apa yang sebenarnya terjadi memang sudah cukup menjadi alasan kita membuat negasi atas praduga tadi.
‘Fifty Shades of Grey’ adalah sebuah film yang mempunyai kriteria diatas. Jauh sebelum filmnya rilis, novelnya memang telah banyak mencuri perhatian orang. Premisnya yang ‘nakal’ telah mengundang rasa penasaran. Tak pelak, rasa penasaran tadi turut membawa kesukesesan bagi ‘Fifty Shades of Grey’. Novel dan filmnya laku keras di pasaran. Namun kesuksesan tadi tidak terlalu berjalan mulus. Premisnya yang (mungkin) kelewat ‘nakal’, turut memancing pertentangan dari berbagai kalangan. Termasuk dari kalangan aktivis pembela hak perempuan, karena ‘Fifty Shades of Grey’ dianggap merendahkan derajat kaum perempuan.
Saya menjadikan ‘Fifty Shades of Grey’ sebagai salah satu film yang saya tunggu tahun ini (baca: Daftar Film yang (Saya) Tunggu di 2015). Bukan karena alasan film ini drama romantis-erotis. Saya hanya ingin tahu saja film yang dari masa pembuatan sampai akhirnya tayang ini selalu dibicarakan banyak orang. Selalu jadi bahan pemberitaan media-media online. Dari promosi sampai kontroversi yang mengiringinya. Sebagai penikmat film, saya hanya ingin tahu, sekontroversial apakah ‘Fifty Shades of Grey’ itu?

Gambar dari sini.
‘Fifty Shades of Grey’ merupakan sebuah novel yang ditulis E.L. James yang konon katanya menjadikan ‘Twilight’ sebagai inspirasi menulisnya. Jadi jangan heran bila ada kesan ‘Twilight’ dalam ‘Fifty Shades of Grey’. Berbicara soal filmnya, ‘Fifty Shades of Grey’ adalah sebuah drama romantis dengan cerita yang sebenarnya sudah sangat usang. Sudah banyak sekali cerita dongeng, film, serial drama yang mengusung premis seperti ini. Seorang wanita biasa yang jatuh cinta pada sosok pria sempurna bak seorang pangeran. Namun yang beda dari ‘Fifty Shades of Grey’ adalah muatan erotis lewat unsur BSDM-nya. BSDM itu apa? Cari sendiri sajalah. Tapi kalau saya boleh bilang, itu membuat ‘sakit’.
Ya, alih-alih menghadirkan aksi pemancing fantasi liar, ‘Fifty Shades of Grey’ justru hadir dengan moment-moment sensual pesakitan. Mengundang rasa iba melihat si cantik Dakota Johnson harus dicambuki dalam keadaan tanpa busana. Terlebih lagi, sensualitas yang dihadirkanpun hanya berupa visual tak bernyawa. Tak ada keintiman yang terjalin disana.
Nilai minus ‘Fifty Shades of Grey’ dari aspek diatas juga ditambah dari bumbu romansanya. Entah kenapa, buat saya romantisme yang dihadirkan disini terlalu standar, cliche dan cheesy. Atau memang ceritanya juga yang sudah standar, cliche dan cheesy? Adegan terbang disini mungkin bisa jadi pembeda. Tetapi tetap saja hal itu tidak membuatnya menjadi spesial. Beruntung Sam Taylor-Johnson masih bisa menyajikan gambar-gambar yang lumayan artistik.
Terlepas dari banyaknya kekurangan film ini, harus diakui bahwa dua pemerannya sudah melakukan yang terbaik. Jamie Dornan walaupun masih terasa kurang kharismatik tapi tetap mampu membawakan karakter Christian Grey yang perfect. Dakota Johnson dengan wajah cantiknya juga sanggup menunjukkan totalitas akting yang mumpuni. Walaupun ia harus tampil tanpa sehelai benangpun menutupi kulit putihnya. Pernah membayangkan tidak betapa risih dan tak nyamannya bila harus beradegan “seperti itu”? Kalau pernah menonton film ‘Boogie Nights’-nya Paul Thomas Anderson pasti tahu betapa kompleksnya pembuatan film-film “seperti itu”. Atau setidaknya, film yang memuat adegan “seperti itu”.
Pada akhirnya, ‘Fifty Shades of Grey’ hanyalah sebuah drama romantis biasa yang hanya mencoba tampil berbeda lewat premis sensualnya. Kehebohan yang mengiringi perjalanan ‘Fifty Shades of Grey’ tak sejalan dengan hasil akhirnya. Terlalu standar. Tidak ada yang spesial dan berkesan. Konsep nakalnya pun juga terkesan tempelan semata. Beruntung dua pemeran utamanya tampil dengan cukup baik. 
Melihat hasil film pertamanya, masihkah menanti sekuelnya?

Note: Tentang Christian Grey
Christian Grey adalah sosok pria biasa. Atau lebih tepatnya, lebih dari sekedar biasa. Melihat sosok dan pencapaiannya, wanita mana yang tidak meleleh dibuatnya. Namun ungkapan ‘‘don’t judge a book by its cover” mungkin ada benarnya. Dan sepertinya itu berlaku buat Christian. Ya, sosok Christian Grey yang perfect dari luar justru menyimpan bagian lain dalam dirinya. Sebuah rahasia yang sangat tak biasa untuk manusia normal pada umumnya. Perilaku seksualnya menyimpang.
Melihat filmnya kita bisa tahu bahwa dia adalah sosok yang dominan dan intimidatif. Bahkan dalam urusan seksualitas. Kegemarannya terhadap BDSM, hobi bermainnya dengan barang-barang aneh mulai dari tali, penutup mata, selotip, borgol, flogger dsb. Semua itu tersimpan begitu rapi dalam sebuah ruangan. Ruangan khusus yang ia siapkan tidak hanya untuk menyimpan koleksinya, tapi juga untuk memenuhi hasratnya.

Salah satu adegan dalam film 'Fifty Shades of Grey'.
Gambar dari sini.
Perilaku menyimpang seperti ini memang selalu membuat saya tidak habis pikir dan tidak mengerti. Saya suka kesal sebenarnya kalau ada berita di TV tentang pelecehan seksual. Di Indonesia, berita-berita semacam ini kerap kali muncul. Yang paling membuat saya kesal adalah ada pria dewasa (bahkan ada oknum Ustadz) yang tega melakukan hal-hal tak “senonoh” pada anak-anak kecil. Mungkin dulu kita pernah dengar nama “Emon” yang sempat menggemparkan Indonesia dengan perbuatannya. Saya kesal karena, kenapa mereka mesti melakukan perbuatan itu? Come on, man! Memangnya apa yang didapat dari anak-anak umur 7-8 tahun? Laki-laki pula! Bahkan dari anak perempuan pun, apa yang bisa didapat? Memangnya apa yang sebenarnya diperbuat? Saya suka tak habis pikir kenapa ada orang yang bisa melakukan hal itu. Dan sampai saat inipun saya masih tidak mengerti.
 Mungkin saya memang tak bisa mengerti tentang hal itu, tapi disisi lain saya juga tak bisa seenaknya mengadili dan menghakimi. Karena bisa jadi ada alasan (yang juga sama saya tak mengertinya) yang membuat ada orang-orang berperilaku seperti itu. Christian Grey disini mencontohkannya. Perilaku seksual menyimpangnya memang bukan tanpa alasan. Dalam filmnya, kita sedikit mendapat penjelasan bahwa perilaku Christian memang tidak terjadi serta merta begitu saja. Ada masa dimana ia berumur 15 tahun, seorang teman ibunya melakukan sesuatu tidak mengenakan padanya selama 6 tahun. Belum lagi background kehidupan keluarga yang juga sama tak enaknya turut dirasakannya. Trauma masa lalu telah merubah kepribadiannya. Contoh lainnya, kita bisa lihat dari sosok Alan Turing dalam film ‘The Imitation Game’. Perilaku homoseksualnya juga bukan tanpa alasan.
Terlepas dari itu, ada sisi lain yang cukup menarik dari Christian Grey. Menurut saya dia adalah tipikal orang yang punya prinsip. Prinsip yang ia anut dibuktikan lewat sebuah kontak resmi yang tertulis lengkap dengan butir-butir peraturan yang bisa dinegosiasikan dan disepakati oleh kedua belah pihak. Dia juga berujar bahwa ia melakukannya hanya pada wanita yang bersedia saja. Walaupun pada kasus hubungannya dengan Ana, kontrak belum ditandatangani, tapi Christian justru melakukan kebiasaanya, itu juga atas permintaan Ana. Di awal, Christian sebenarnya telah memperingatkan Ana untuk menjauh darinya karena ia bukanlah pria yang tepat untuk Ana. Dalam hal ini, saya tidak mentolelir apa yang diperbuat Christian. Tapi prinsipnya, membuatnya berkesan lebih elegan sebagai seorang berperilaku menyimpang.
Di dunia nyata, saya belum pernah melihat langsung fenomena perilaku menyimpang tersebut. Yang saya tahu hanya ada banci yang saya juga tak mengerti kenapa banci itu ada. Lebih seringnya, saya dengar dari pemberitaan di TV saja. Walaupun masih tak mengerti, namun kalau ditarik sedikit benang sejarah, awal mula perilaku menyimpang memang pernah terjadi pada zaman Nabi Luth, yang mana Alloh SWT telah memberi hukuman atas mereka. Dan ditengah ketidakmengertian ini, tanpa bermaksud mengutuk “orang-orang tersebut” atau mentolelir perbuatannya, saya pikir bahwa memang hanya Tuhan lah yang bisa menilai keberadaan mereka. Kita-kita manusia hanya bisa menerka dan menilai keberadaan mereka dengan kekuatan manusia yang tak sempurna.

Tuesday, March 3, 2015

Tentang Serial You’re Beautiful


Dalam dunia hiburan, Korea Selatan memang sudah sejak lama menapakkan kakinya di Indonesia. Tidak tahu persis kapan, tapi invasi Korean Wave “hallyu” memang sudah mengalihkan perhatian orang Indonesia. Mulai dari musik, film, serial TV, boyband & girlband sampai Running Man. Tidak hanya perempuan, lelakipun sama (teman saya juga banyak). Tidak hanya remaja dan dewasa, ibu-ibu juga tak ketinggalan untuk ikut menggemari hiburan dari negeri ginseng ini. Anak-anak? Mungkin juga sama. Dan tak sedikit pula diantara mereka yang dibuat “addict” karenanya.
Berbeda dengan yang lain, saya bukanlah penggemar Korea. Saya tidak tahu tentang Running Man. Saya tidak tahu girlband baru yang sedang nge-hits saat ini. Saya tidak tahu kalau SNSD merilis video klip baru. Saya tidak tahu serial TV apa yang sedang booming di masyarakat. Saya tidak terlalu tahu tentang hal itu. Tapi biarpun begitu, saya tak lantas menutup mata begitu saja sama dunia hiburan Korea ini, baik musik, film ataupun serial TV. Buktinya, saya tidak ketinggalan menonton film Korea seperti ‘Oldboy’, ‘A Tale of Two Sisters’ atau ‘Hello Ghost’. Beberapa lagu 2NE1 juga suka saya dengarkan (I Don’t Care, Love is Ouch, Lonely & Ugly). Meski begitu, musik, film atau serial TV Korea masih belum banyak yang bisa saya gemari seperti halnya saya menggemari dunia barat.
Post kali ini saya akan sedikit bercerita / berbicara / mengulas satu-satunya (atau satu dari dua) serial TV Korea yang saya suka yaitu ‘You’re Beautiful’. ‘You’re Beautiful’ sendiri saya tonton pertama kali pada tahun 2010 lalu di sebuah stasiun TV swasta dengan judul ‘He’s Beautiful’. Dan saat ini, drama yang pertama kali mengudara di SBS pada tahun 2009 ini juga sedang tayang di Indonesia, namun dengan stasiun TV yang berbeda. Kalau saya tidak keliru, berarti sudah tiga kali ‘You’re Beautiful’ tayang di Indonesia dengan 3 (tiga) stasiun TV yang berbeda.
Mungkin ‘You’re Beautiful’ adalah drama Korea yang sedikit kalah tenar bila dibandingkan ‘Boys Before Flowers’, ‘The Heirs’ atau drama terkenal lainnya. Tapi pertama kali nonton drama Korea ini, saya langsung tertarik dan merasa tak perlu menonton drama Korea yang lain lagi. Alasannya sederhana, drama Korea itu stereotype. Dengan kata lain, secara garis besar, inti dari hampir semua drama Korea itu kurang lebih sama. Ceritanya tak jauh dari kisah cinta dengan bumbu perbedaan. Beda status, beda kasta, beda kepribadian, beda alam, beda planet atau beda dunia. Dan entah mengapa jalinan cintanya selalu tidak mudah untuk disatukan. Selalu ada alasan dan pihak-pihak yang mencoba menghalangi. Mulai dari orang ketiga, orang tua, saudara, rekan atau sahabat. Layaknya cerita dongeng, drama-drama Korea juga (mungkin) menjadi angan-angan tersendiri bagi penontonnya. Dan tak lupa, formula tearjaker yang memang selalu jadi andalan dan menjadi alasan kenapa drama Korea disukai banyak orang. Kalau mau sedikit terbuka, drama Indonesia sebenarnya juga tak jauh-jauh dari yang saya sebut tadi. Tapi di Indonesia, tak jarang para pembuatnya suka terlalu kreatif, saking kreatifnya malah jadi antiklimaks (baca: Ngalor Ngidul Seputar Sinetron Indonesia Zaman Sekarang).
Saya tidak menggemari Korea bukan tanpa dasar. Waktu Korean Wave sedang booming-booming-nya di Indonesia. Sayapun mencoba untuk ikut menikmati hegemoni tersebut. Namun sebegitu hebohnya teman-teman saya sama Korea atau sekeras apapun saya mencoba untuk suka, harus saya sadari bahwa itu bukanlah selera saya. Lalu kenapa saya mau repot-repot nulis tentang drama Korea kalau itu bukanlah selera saya? Khusus untuk ‘You’re Beautiful’ memang saya buat pengecualian. Seperti yang saya sebut di awal, hanya inilah drama Korea yang saya suka dan sampai saat inipun, tak ada seri drama lain yang sanggup menarik perhatian saya selain ini. Buat saya, ‘You’re Beautiful’ sendiri sudah jadi prototype untuk drama Korea kebanyakan. Itulah kenapa saya bilang tak perlu menonton drama Korea lain setelah menonton ‘You’re Beautiful’.


Ada beberapa alasan yang membuat saya menyukai ‘You’re Beautiful’. Pertama, mari kita bicara plotnya. ‘You’re Beautiful’ mengangkat sebuah cerita yang agak sedikit berbeda dengan menyoroti perjalanan karir sebuah grup band (fiktif) yang terkenal di Asia. Ini saja sudah menjadi poin tersendiri (maklum waktu dulu pernah ngeband juga). Setidaknya grup band itu lebih menarik daripada boyband atau girlband (walaupun terkadang Hwang Tae Kyung memakai baju berbelahan dada rendah yang bikin geli). Terus diberi sedikit konflik dengan menceburkan seorang calon biarawati yang masih belum mengenal dunia untuk bergabung dalam grup band tersebut. Sontak itu menjadi keseruan tersendiri mengingat dia juga harus menyamar sebagai seorang lelaki. Ya, bayangkan saja seorang perempuan baik-baik, calon biarawati pula, harus masuk dalam dunia dan kehidupan lelaki. Walaupun pada perjalanannya kita menemukan plot hole (maklumi saja, namanya juga drama), tapi setidaknya premis ini lebih down to earth daripada cerita tentang si kaya dan si miskin.
 ‘You’re Beautiful’ adalah drama romantic-comedy, sudah barang tentu kisah cinta adalah suguhan utama disini. Saya senang karena tak ada kisah cinta antara orang kaya dan miskin yang ditentang orang tuanya karena perbedaan status sosial. Kisah cinta yang dihadirkan disini buat saya lebih realistis. Karena bagaimana benih-benih suka tidak tumbuh andaikata kita tinggal seatap dan setiap hari selalu bertemu, melihat dan memperhatikan tingkah seorang perempuan ditengah gerombolan lelaki. Bukankah cinta bisa datang karena terbiasa? Apalagi kalau wanita itu selucu Go Mi Nam/Nyu. Terlebih lagi kisah cinta yang digulirkan disini adalah cinta diam-diam. Tentang para pemuja rahasia yang diam-diam menaruh hati, memperhatikan, membantu dan sesekali mengisyaratkan isi hati pada yang disukainya dengan caranya masing-masing. Konflik asmara tersebut terasa lebih intim dan personal menurut saya.
Untuk urusan komedi, lumayanlah. Melihat tingkah laku Go Mi Nam yang polos dan lugu itu sudah cukup membuat tersenyum. Sudah cukup berhasil dalam menghadirkan unsur komedi sebagai penawar diantara acara tangis-tangisan. Apalagi karakter macam Manager Ma atau reporter Kim juga ikut membawa aura komedi dengan tingkah polahnya.
Hal lain yang saya suka dari ‘You’re Beautiful’ adalah soundtrack-nya. Baru dalam ‘You’re Beautiful’ saya menemukan soundtrack drama Korea yang 90% lagu-lagunya punya materi bagus. Biasanya dalam sebuah drama, lagu-lagu yang menurut saya enak paling cuma satu atau dua lagu. Paling banter opening/closing saja. Namun hampir semua lagu soundtrack ‘You’re Beautiful’ itu bermateri bagus dan sangat easy listening. Tidak hanya enak didengar, lagu-lagu itu juga mampu menjadi latar yang tepat dan mewakili suasana setiap plot yang dihadirkan.
‘You’re Beautiful’ juga mempunyai jajaran cast yang ok menurut saya. Setiap cast yang ada (terutama anggota band) mampu memerankan karakter dan tokoh yang dimainkannya dengan baik. Jung Yong Hwa yang cool atau Lee Hong Ki yang rame. Pemilihan Jang Geun Suk sebagai leading role juga terasa tepat buat saya. Park Shin Hye juga tidak terasa annoying seperti dalam ‘The Heirs’. Dan untungnya tidak ada Lee Min Ho disini. Mungkin penilaian saya akan berbeda jika dia ada.


Selanjutnya adalah karakter dan penokohan. Dalam drama Korea, bentuk karakter dan penokohan memang seringkali terasa familiar. Ini juga salah satu alasan kenapa saya bilang drama Korea itu stereotype. Maka tak heran jika karakter dan penokohan dalam ‘You’re Beautiful’ pun terasa begitu familiar.
Pertama adalah Hwang Tae Kyung. Dia adalah pemain utama sekaligus pemimpinannya. Dalam drama Korea, karakter seperti ini selalu mempunyai sifat yang perfeksionis, serius, sombong/arogan (apalah namanya), tapi entah kenapa karakter inilah yang selalu berhasil mendapatkan hati pemeran utama perempuannya. 
Kedua adalah Go Mi Nam/Nyu yang merupakan karakter dari pemeran utama perempuan. Pemeran utama perempuan adalah pusat dari segala konflik yang ada. Biasanya karakter perempuan ini selalu jadi rebutan banyak pihak. Dan selalu punya keunikan sendiri baik dari fisik, sifat ataupun latar belakang. Pokoknya pemeran utama perempuan itu berbeda dari perempuan kebanyakan. 
Karakter selanjutnya adalah Kang Shin Wu. Saya menyebut karakter seperti ini sebagai Second Man. Karakter ini menurut saya yang paling sial dalam sebuah drama. Padahal apa kurangnya, dia itu keren, baik, selalu ada buat si perempuan, tapi dengan segala alasan, cintanya selalu bertepuk sebelah tangan. Seakan menjadi keharusan kalau Second Man itu selalu “Tak Bisa Memiliki” hati yang diinginkannya. 
Berikutnya adalah Jeremy yang rame. Karakter yang easy going & fun seperti ini memang harus selalu ada untuk mencairkan suasana. Dan tak lupa ada Yoo He Yi sebagai pihak ketiga. Orang ketiga ini memang selalu punya seribu cara dan ide untuk masuk dalam konflik karakter utama. Dan walaupun Yoo He Yi ini adalah pihak ketiga yang bertugas mengganggu, dalam ‘You’re Beautiful’ karakter Yoo He Yi ini sendiri tidak terlalu menyebalkan dan annoying seperti pada umumnya. Selebihnya adalah karakter-karakter pendukung yang turut meramaikan jalannya cerita.
Selayaknya sebuah drama romantis, ‘You’re Beautiful’ juga punya moment manis dan tangis dalam setiap episodenya. Buat saya, moment yang berkesan dari ‘You’re Beautiful’ adalah moment-moment yang dihasilkan oleh Kang Shin Wu. Tanpa mengesampingkan yang lain, karakter Shin Wu memang telah mencuri perhatian dan memberi kesan tersendiri. Saat ia diam-diam mengawasi Go Mi Nam yang sedang jalan-jalan. Saat dia menyiapkan sebuah kejutan spesial untuk Go Mi Nam. Saat dia bernyanyi yang sebenarnya untuk Go Mi Nam. Saat ia mengarang cerita tentang seorang perempuan bodoh dan tak berguna. Saat akhirnya ia sadar dan harus menyerah. Dan masih banyak lagi moment lainnya. Walaupun moment tersebut berujung kepedihan tapi justru itulah yang selalu terngiang dalam ingatan saya.
Sekiranya itulah beberapa hal yang membuat saya suka sama ‘You’re Beautiful’. Kecuali anda adalah penggemar Korea, tentunya jauh lebih tahu dari saya. Tapi seandainya anda adalah laki-laki seperti saya yang tidak menggemari Korea, namun (jika memang) harus menonton serial drama romcom Korea. Maka ‘You’re Beautiful’ adalah pilihannya. 
Recommended! [IMHO]

Friday, February 27, 2015

Catatan Nonton #Februari’15

Masih melanjutkan edisi ‘Catatan Nonton’ seperti biasanya, kali ini kita berada pada bulan dimana ajang bergengsi Oscar di gelar. Dan tentunya, beberapa film yang masuk nominasi Oscar tak luput dari santapan saya di bulan ini. Andaikata beberapa film dibawah (Birdman & Whiplash) sudah saya tonton tahun lalu, besar kemungkinan masuk list daftar film terbaik saya tahun lalu. Namun itu tidaklah menjadi masalah karena pada akhirnya saya bisa nonton juga. Movie Of The Month edisi kali ini jatuh pada Best Picture Oscar tahun 2015, ‘Birdman’.
Ajang Oscar memang telah digelar beberapa hari yang lalu, tapi tidak ada salahnya jika pada edisi ‘Catatan Nonton’ kali ini saya kembali me-list daftar pemenang Oscar tahun 2015 seperti tahun lalu (Catatan Nonton #Februari'14). Dan berikut daftar lengkapnya. Selamat buat para pemenang!

Best Picture : Birdman
Best Actor : Eddie Redmayne (The Theory of Everything)
Best Actress : Julianne Moore (Still Alice)
Best Supporting Actor : J.K. Simmons (Whiplash)
Best Supporting Actress : Patricia Arquette (Boyhood)
Director : Alejandro González Iñárritu (Birdman)
Original Screenplay : Birdman
Adapted Screenplay : The Imitation Game
Animated Feature : Big Hero 6
Foreign Language Film : Ida
Cinematography : Birdman
Editing : Whiplash
Production Design : The Grand Budapest Hotel
Costume Design : The Grand Budapest Hotel
Make-up and Hairstyling : The Grand Budapest Hotel
Original Score : The Grand Budapest Hotel
Original Song : Glory (Selma)
Sound Mixing : Whiplash
Sound Editing : American Sniper
Visual Effects : Interstellar
Documentary Feature : Citizenfour
Documentary Short Subject : Crisis Hotline: Veterans Press 1
Animated Short Picture : Feast
Live Action Short Film : The Phone Call

Selanjutnya adalah kumpulan short review film yang saya tonton dalam ‘Catatan Nonton #Februari’15’. Check this out!

Birdman (2014) (05/02/15)
Short review:
Apa yang telah dilakukan Alejandro González Iñárritu dalam 'Birdman' adalah sesuatu yang langka. Pencapaian luar biasa juga ketika ia mampu menuangkan narasi sederhananya bersama teknik oner/long take rumit ala Emmanuel Lubezki. Pergerakan kamera yang sanggup menangkap setiap angle dan moment menjadi lebih hidup. Seperti versi upgrade dari teknik yang dipakai Alfred Hitchcock dalam 'Rope'. Sebuah komedi satir nan miris mengenai kehidupan seorang aktor yang tengah berjuang membangun karirnya kembali dalam pementasan Broadway. Supporting cast yang sanggup menunjukkan performa terbaiknya masing-masing. Kemiripan kisah Michael Keaton yang notabene adalah Batman era Tim Burton dengan sosok Riggan memberi keintiman sendiri dalam 'Birdman'. Sebuah film yang memang pantas bersaing di ajang sekaliber Oscar. Bahkan bisa saja 'Birdman' jadi juaranya.
Skor: 4,5/5

3 Idiots (2009) (09/02/15)
Short review:
Ada begitu banyak rasa ketika menyaksikan '3 Idiots'. Disatu saat kita bisa tertawa terbahak-bahak tapi disisi lain kita juga bisa ikut hanyut dalam perasaaan haru. Ada motivasi besar yang coba disebar dibalik kekonyolan dan kekocakan yang dihadirkan bersama template khas bollywood yang tak hilang disini (tari dan nyanyi). Plot dan narasinya yang mudah dicerna membuat '3 Idiots' terasa enjoyable walaupun punya durasi yang cukup panjang. Pemegang rekor box office di zamannya ini memang tontonan ringan yang sangat menghibur yang mampu memberi energi positif kepada penontonya disaat bersamaan.
Skor: 4/5

PK (2014) (11/02/15)
Short review:
Sudah menjadi resiko jika film yang memuat isu sensitif akan mengundang pergunjingan. Namun jika mau terbuka sedikit saja, sejatinya 'PK' adalah sebuah tipikal film komedi pengundang tawa biasa dengan nuansa bollywood-nya yang kental. Namun dengan isu sensitifnya, 'PK' memang membawa pesan satir yang menyentil kita-kita (manusia) dalam hubungannya dengan Tuhan. Dialog-dialog cerdas dan thought-provoking-nya (namun tak jarang menghadirkan kekonyolan) seakan memberi celah buat kita untuk sedikit merenung dan menertawakan diri sendiri. Menonton 'PK' juga seperti mengajak kita untuk melihat kembali fenomena-fenomena berdalih agama yang terjadi di negara kita. 'PK' menambah daftar panjang film bollywood bagus yang dibintangi Aamir Khan.
Skor: 4/5

Whiplash (2014) (17/02/15)
Short review:
Sepintas mungkin 'Whiplash' akan terlihat sebagai drama biasa. Tipikal from zero to hero yang mengambil perspektif seorang pemuda yang ingin menjadi drummer hebat. Dan beruntunglah, karena 'Whiplash' tidak berakhir demikian. Alih-alih menebarkan aura inspiratif, 'Whiplash' justru mencengkram sisi psikologis kita dalam balutan ketegangan yang emosional. Menelanjangi mindset kita tentang apa arti sebuah perjuangan. Kesederhanaan yang coba ditampilkannya menjadi begitu kompleks, sekompleks dan serumit musik jazz itu sendiri. Masih ada nilai plus dari sisi teknis yang ciamik disini. Dan tak lupa sisi musikalitasnya yang berhasil menyajikan persembahan musik jazz yang keren. Namun tentunya itu semua kurang berarti tanpa penampilan hebat dua pemerannya, Milles Teller dan J.K. Simmons.
Skor: 4,25/5

The Hunger Games: Mockingjay – Part I (2014) (18/02/15)
Short review:
Apakah menjadi sebuah tradisi ketika sebuah adaptasi young adult yang sudah memasuki bagian finalnya untuk dibagi menjadi dua bagian? Memang tidak ada salahnya ketika hal ini dimaksudkan untuk memperpanjang umur sebuah franchise sukses macam 'The Hunger Games' atau meraup pundi-pundi dolar. Namun agak sedikit disayangkan karena 'Mockingjay: Part 1' telah jauh menurunkan intensitas yang telah dibangun dalam 'Catching Fire'. Merubah semua tone yang telah tersemat menjadi depresif bermuatan politis. Walaupun tak berarti jelek namun ada ketidaksesuaian dengan apa yang diharapkan. Untungnya Jennifer Lawrence masih sanggup menunjukkan performa terbaiknya sebagai Katniss Everdeen.
Skor: 2,85/5

The Theory of Everything (2014) (18/02/15)
Short review:
Dan ini bukanlah sebuah biopik tentang bagaimana sepak terjang fisikawan jenius sekaligus atheist, Stephen Hawking dalam mengejawantahkan setiap jengkal buah pikirnya. 'The Theory of Everything' adalah drama romansa pahit-manis yang bisa membuka pandangan baru tentang cinta. Ada rasa hangat yang kentara dibalik getirnya kenyataan hidup Stephen & Jane Hawking. Hadir bersama visual & score cantik yang memberi nafas pada setiap moment yang ada. Sebuah drama yang punya kekuatan dari kualitas akting pemainnya. Nuansanya sedikit mengingatkan saya pada 'A Beautiful Mind'-nya Ron Howard. Hanya perjuangan menghilangkan halusinasi efek skizofrenia berganti menjadi usaha keras mencari "teori tentang segalanya" dibalik vonis motor neuron disease.
Skor: 3,75/5

Gambar dari sini.

Secuil Cerita dari Pantai Sawarna

Ini adalah sebuah rekaman waktu saya dan ketiga teman saya jalan-jalan ke Pantai Sawarna yang berlokasi di Bayah, Lebak, Banten. Sebuah video sederhana (becanda, nggak niat, tanpa konsep) yang mencoba merekam (secuil) keindahan Pantai Sawarna. Lokasi tepatnya disebut sebagai ‘Karang Taraje’.
Pantai Sawarna sebenarnya memiliki lokasi-lain yang tak kalah indah, hanya saja karena waktu itu sudah mau memasuki bulan puasa, kami menjadi sedikit terburu-buru sehingga tidak semua tempat disana bisa kami jamah. Selain pantai, Sawarna juga menyajikan wisata gua yang memang cukup banyak disana.
‘Karang Taraje’ sendiri merupakan lokasi yang lumayan sepi dan memang itu menjadi tujuan kami yang ingin mencari suasana pantai yang sepi dan eksklusif. Awalnya kami kaget karena ketika pertama kali tiba di Sawarna suasananya sangat ramai, seperti pantai wisata pada umumnya. Dan itu bukanlah tujuan kami. Namun setelah kami cari tahu, ternyata di Sawarna ada banyak opsi pantai yang bisa dipilih. Akhirnya, kami memilih ‘Karang Taraje’ sebagai objek pantai Sawarna yang ingin kami nikmati. Walaupun jalan menuju kesana tidak mudah. Ada jembatan yang sedikit horor dan trek yang lumayan berat, tapi pada akhirnya semua itu terbayar ketika tiba disana. FYI, lokasi pertama yang saya maksud adalah PasPut (Pasir Putih).
Dan inilah sebuah video yang -sengaja-tak-sengaja- kami buat saat kami berada di pantai Sawarna tahun lalu.

Tuesday, February 24, 2015

Nyinyir

Nyinyir. Dimanapun berada, entah kenapa saya sering sekali nyinyir melihat tingkah laku orang sekitar yang saya lihat. Saking seringnya, tanpa saya sadari, nyinyir itu telah menjadi sebuah kebiasaan yang sudah melekat dan sulit untuk dihilangkan. Seperti sebuah skill terlatih yang mubazir kalau tidak digunakan.
Bibit-bibit tumbuhnya kebiasaan nyinyir dalam diri saya dimulai waktu saya masih SMP (walaupun saya sekolah di MTs). Entah kenapa semenjak saat itu saya sering melihat hal-hal yang mengundang kenyinyiran dari orang-orang sekitar dan seringkali jadi bahasan bersama teman-teman ngobrol saya. Waktu itu saya belum sadar hingga kebiasaan nyinyir itu terus hinggap dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Sebelum memasuki inti dari post kali ini, saya akan mengajak flash back dulu ke masa dimana dan bagaimana nyinyir menjadi kebiasaan yang sering saya lakukan. Mungkin ini bukanlah tindakan yang terpuji dan sebaiknya tidak ditiru. Tapi biarpun begitu, saya percaya bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang mempunyai kebiasaan nyinyir. Oh ya, saya tambahin sedikit bahwasanya orang nyinyir itu berbeda dengan yang disebut orang sebagai haters.
Saya mulai dari zaman SMP. Hal pertama yang mengundang kenyinyiran saya adalah sekolah. Dimana saya sering melihat anak-anak perempuan yang kulit mukanya beda warna dengan kulit lehernya a.k.a kulit muka lebih putih dari kulit leher. Yang membuat nyinyir, warna putihnya itu lho, apa ya? Palsu gitu lah. Atau mungkin mereka memang suka gradasi warna kulit yang palsu? Saya tidak tahu. Selain itu, saya suka tak habis pikir ketika ada anak-anak perempuan yang disekolahnya biasa-biasa saja, cenderung tak terekspos malah, tapi bisa begitu liar dan menor kalau lagi diluar sekolah. Memang sih tidak semua anak seperti itu tapi yang saya sebutkan tadi juga tidak sedikit.
Sepintas saya berpikir, kenapa sih ke sekolah saja mesti dandan dan membuat kulit muka kayak perasan air beras? Kenapa nggak tampil biasa saja, apa adanya? Toh disekolah juga kerjanya gitu-gitu doang! Tapi saya laki-laki, tidak mengerti jalan pikiran mereka. Mungkin apa yang saya pikirkan tidak sesederhana seperti yang mereka pikirkan. Bisa saja dengan begitu mereka merasa lebih baik dari kelihatannya. Tapi tetap saja, saya malah nyinyir dibuatnya.
Saya mencoba berpikir lagi, mungkinkah ini ada hubungannya dengan definisi cantik dimasyarakat yang salah kaprah tapi sudah menjadi pakem yang mutlak bahwa cantik harus seperti ini, harus seperti itu? Putih misalnya. Karena alasan itulah mungkin remaja dan perempuan berlomba-lomba membuat kulit mereka putih seputih-putihnya agar mereka menjadi lebih cantik walaupun hanya berupa kamuflase guna menutupi kodrat warna kulit yang dikasih Tuhan.
Kemudian saya berpikir lagi. Menurut saya ada kesalahan dengan konsep iklan produk-produk kecantikan yang bertebaran dimasyarakat. Dimana yang sering saya lihat adalah iklan-iklan produk kecantikan di Indonesia berlomba-lomba memasang wajah-wajah cantik dan putih sebagai modelnya. Seolah mengintimidasi remaja atau perempuan di Indonesia bahwa dengan memakai produknya mereka bisa seputih dan secantik model tersebut. Saya suka merasa aneh melihat Raisa, Chelsea Islan dll jadi model iklan produk kecantikan. Ya, mereka mah sudah cantik dan putih dari sananya. Mau digimanain juga mereka mah sudah cantik (tssah!). Seharusnya produk-produk kecantikan itu berebut menjadikan perempuan-perempuan seperti Nam di ‘Crazy Little Thing Called Love’ menjadi model/bintang iklan. Atau Aurel (mungkin) pada saat ia merilis single+klip ‘Dimarahi Tuhan’. Itu justru lebih logis menurut saya.
Ok, kita kita tinggalkan kenyinyiran yang pertama, kita lanjut pada kenyinyiran yang kedua. Ini terjadi saat saya SMA. Hal yang membuat saya nyinyir di SMA adalah soal musik. Sebagai seorang yang dulunya anak band (ngakunya), saya seringkali melakukan kebiasaan nyinyir melihat orang-orang yang dalam playlist lagu dihandphone-nya mengoleksi lagu-lagu dari band macam Salju, Mahkota dan sebangsanya. Lebih nyinyir lagi kalau mereka memutar lagu-lagu itu keras-keras. Ingin sekali rasanya menghapusnya. Saya pernah melihat ada orang naik motor yang dipasangin speaker terus muter-muter gak jelas dijalan sambil mutarin lagu Mahkota. Itu sungguh sangat menyiksa. Selera musik orang ternyata membuat saya nyinyir.
Waktu itu saya termasuk orang yang nyinyir sama musik dangdut (mungkin juga sampai sekarang). Bukan karena apa, musik dangdut yang saya kenal waktu kecil sangat jauh berbeda dengan musik dangdut saat itu (SMA) dan saat ini. Musik dangdut dalam era baru kebanyakan absurdnya. Mulai dari judul, lirik sampai goyangan, sama absurdnya. Banyak lirik-lirik lagu yang absurd menurut saya. Lirik-lirik macam, “susu yang inilah, susu yang itulah”, “wanita punya lubang buaya”. Woi! Itu apaan? Absurd! Sumpah! Dan parahnya itu hanya sebagian kecil saja. Karena masih banyak lirik-lirik dan judul lain yang tak kalah absurd.
Terus goyangan, entah para penyanyi dangdut zaman sekarang terlampau kreatif atau gimana sampai bisa menemukan goyangan yang sangat absurd bahkan membuat saya speechless. Ambil contoh goyang dribble. Itu apaan lagi? Absurd! Sumpah! Kenapa dangdut ‘is the musik of country’ menjadi begini? Kemana musik dangdut yang saya kenal waktu kecil dulu? Saya rindu musik dangdut yang dulu.
Tak berhenti sampai disitu, para pencipta lagu dangdut zaman sekarang juga sama kreatifnya sampai bisa bikin lagu persis seperti lagu yang sudah ada. Coba deh dengerin ‘Pusing Pala Barbie’-nya Putri Bahar terus dengerin ‘All About That Bass’-nya Meghan Trainor! Dijamin terkagum. Kabar baiknya, lagu ‘Pusing Pala Barbie’ bukanlah satu-satunya lagu dangdut yang mirip dengan lagu lain.
Lanjut!
Saya menjalani periode SMA kira-kira kisaran tahun 2007-2010. Pada periode itu, happening banget yang namanya social media. Nah socmed inilah yang mengundang kenyinyiran saya berikutnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tingkah laku orang-orang di socmed itu sendiri. Saya sendiri pernah membuat akun facebook waktu itu namun hanya berumur satu hari, saya langsung tinggalkan, non-aktifkan dan tak pernah dibuka-buka lagi. Karena saya tak tahan untuk tidak nyinyir melihat tingkah polah pengguna socmed. Mulai dari masang nama yang aneh-aneh. Sampai saya merasa bodoh karena tak bisa membacanya. Bahkan sampai mulut saya berbusa. Entah nama mereka dikasih nama seperti itu sama orang tua mereka atau bagaimana, saya tidak mengerti. Terus majang profil picture yang sama anehnya. Pose-pose absurd dan saya tidak tahu menyebutnya itu apa. Ada juga yang masang foto selebritis sebagai profil picture. Mau ngapain coba? Emang situ nggak punya muka?
Itu hanya sebagian kecil, masih ada kenyinyiran yang saya dapat dari socmed. Entah kenapa, adanya istilah update status menjadi begitu mengundang kenyinyiran. Masalahnya adalah adanya update status justru membuat banyak orang menjadi hobi mengeluh. Kayaknya hidup sebagai anak SMA itu berat banget buat mereka. Apa-apa yang terjadi mengeluh. Ujian sedikit, mengeluh. Remidial sedikit, mengeluh. Dan masih banyak hal lain yang dikeluhkan seolah itu cobaan hidup yang berat sekali. Yang membuat saya semakin nyinyir adalah orang yang berdoa di socmed. Saya bukanlah orang religius, tapi itu, apa maksudnya? Apakah dengan berdoa di socmed Tuhan semakin mendengar doa kita? Itu belum ditambah gaya penulisannya. Entah menemukan dari literatur mana dan siapa pencetusnya tapi tata cara penulisan bahasa Indonesia yang mereka buat membuat mata saya sakit.
Kenyinyiran-kenyinyiran yang terjadi karena socmed membuat saya memutuskan untuk tidak mendekati socmed lagi. Saya cukup idealis untuk hal itu. Dan selama SMA saya berhasil melakukannya (hore!) dan itu berlanjut sampai saya kuliah. Dengan idealisme yang saya anut, saya adalah satu-satunya mahasiswa baru yang tak punya akun facebook atau twitter. Waktu perkuliahan bergulir saya masih idealis untuk tidak mendekati socmed. Hingga setahun berlalu, idealisme sayapun luluh. Berbedanya kehidupan sekolah dan kuliah menuntut saya harus punya akun socmed. Dan pada akhirnya, dengan alasan “kebutuhan” sayapun membuat akun facebook untuk kedua kalinya, namun yang ini tidak akan saya tinggalkan dan non-aktifkan seperti yang dulu. Satu pelajaran yang saya dapat dari situ adalah “KEBUTUHAN MERUNTUHKAN IDEALISME”.
Mungkin itulah beberapa hal yang membuat saya nyinyir. Dan daripada terus panjang-panjang tak ada juntrungan, sebaiknya saya lanjutkan pada inti dari post kali ini. Jadi, intinya adalah nggak ada! LOL.
Ok jadi begini, faktor bertambahnya usia, sedikit banyaknya mampu berpengaruh dan membuat pola pikir kita berubah. Bukan hanya tentang apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Tapi tentang bagaimana cara kita memandang kehidupan dengan segala problema dibaliknya. Kehadiran orang-orang baru dan berbeda turut menghadirkan pemikiran,  pandangan dan pengalaman baru. Hal itu berjalan beriringan bersama apa yang terjadi disekitar kita. Darisana mungkin kita bisa tahu ada diposisi mana kita seharusnya.
Apa yang telah saya sebutkan diatas perlahan memuat mata saya terbuka, terutama soal kebiasaan saya yang suka nyinyir. Saya sadar bahwa banyak hal yang menurut saya tidak menarik, menyebalkan, ngeselin dan ujung-ujungnya membuat nyinyir, justru itulah (mungkin) yang membuat orang lain bahagia. Ya, kita harus mengerti kebahagiaan orang lain walaupun itu tidak menarik untuk kita (Ernest Prakasa). Karena seringnya, orang lain yang bahagia, kita nggak terganggu, tapi kita yang nyinyir (Ernest Prakasa). Dan itu memang sering terjadi pada diri kita, termasuk saya.
Oleh karena itu, saya sedang belajar untuk nggak nyinyir lagi atau setidaknya mengurangi nyinyir itu sendiri. Karena saya menyadari, bahwa apa yang saya lakukan didunia nyata maupun maya, selera musik atau film saya, penampilan, dandanan atau cara berjalan saya, mungkin juga sebenarnya mengundang kenyinyiran buat orang-orang. 
Dan terkadang, kita nyinyir karena kita tidak berada pada posisi dari apa yang kita nyinyirkan. Misalkan. Senyinyir-nyinyirnya anda sama sinetron GGS kalau anda ditawari jadi pemerannya terus dibayar mahal, berpikir untuk menolakkah anda? Atau senyinyir-nyinyirnya anda sama acara pernikahan live atau lahiran di TV, kalau anda justru yang ada diposisi itu, bagaimana sikap anda? Senyinyir-nyinyirnya musisi sama acara musik (katanya) pagi, buktinya masih ada saja yang mau tampil disitu. Sedikitnya hal itu menjadi bahan pemikiran buat saya. Memang masih banyak diantara kita yang idealis tapi tak sedikit juga yang munafik.
Pada akhirnya, saya sering berpikir dua kali untuk melakukan nyinyir. Ya, karena cara orang-orang untuk bahagia memang berbeda dan kadang kita tak mengerti karenanya. Tapi kita juga harus menghargai dan menghormatinya. Terserah orang mau berbuat apa dan bagaimana, kalau memang tidak mengganggu, buat apa kita nyinyir. Tapi kalau memang masih ingin nyinyir dan tak tahan untuk tidak nyinyir, ya bebaslah mau nyinyir atau nggak. Karena saya juga masih sering gagal untuk tidak nyinyir melihat apa yang terjadi. Tapi tulisan ini, setidaknya mengingatkan saya untuk tidak nyinyir sama orang atau apapun yang memang mengundang kenyinyiran.

Tuesday, February 17, 2015

Lagu Asli di Parodi Lagu ‘Ini Talkshow’

Gambar dari sini
Ok, kali ini saya mau sedikit bicara tentang acara talk show yang sangat hits selama kurang lebih setahun terakhir ini. Sebuah acara talk show berbalut komedi yang ditayangkan stasiun TV dengan tagline ‘Telivisi Masa Kini’ (NET.). Mengudara setiap hari mulai pukul 19.30-21.00 WIB. Digawangi Sule (host) dan Andre (co-host) yang didukung pula oleh Mang Saswi, Mami Yurike, Maya Septha, H. Bolot, Ujang (baca: YuJeng) sampai Haruka JKT48 (beberapa juga pernah ikut nimbrung disini).
‘Ini Talkshow’ adalah acara talk show yang dikemas dengan suasana santai. Membahas persoalan hangat yang ada di masyarakat dengan cara sederhana. Di acara ini juga akan memperlihatkan suasana rumah dan karakter-karakter yang ada di rumah tersebut. Di dalam acara ini, pemain-pemain juga bermain peran atau berakting sekaligus menanyakan bintang tamu dan persoalan di masyarakat. Acara ini merupakan garapan konsep dari acara talk show Comedy Nights with Kapil yang ditayangkan di India. ‘Ini Talkshow’ memiliki izin dari produksi Comedy Nights with Kapil untuk ditayangkan. (wikipedia)
Dengan konsep yang santai, segar dan lucu, Ini ‘Talk Show’ memang menjadi acara TV favorit ditengah membosankannya performa acara di stasiun TV lain. Komedinya benar-benar bisa membuat kita tertawa tanpa harus melihat ledek-ledekan garing atau pukul-pukulan pakai sterofoam. Bahkan acara ini juga sempat masuk nominasi ‘Best Comedy’ di ajang penghargaan Televisi Asia ke-19 tahun 2014 lalu walaupun tidak menang.
Salah satu hal yang unik dan membedakan ‘Ini Talkshow’ dengan acara talk show lain adalah disini ada parodi-parodi lagu yang sering dinyanyikan sama Sule, Andre dan Mang Saswi. Mayoritas lagunya biasanya seputar makanan-makanan tradisional Indonesia, terutama Sunda. Ya, faktor dua orang disini (Sule dan Mang Saswi) membuat ‘Ini Talkshow’ mempuyai nuansa Sunda yang cukup kental. Kita kadang sering melihat candaan-candaan khas Sunda yang mungkin hanya orang Sunda yang mengerti. Bahasa dan budaya khas Sunda juga lumayan sering nongol disini. Ya, minimal bahasa Sunda ‘disini aja’ mah tau apa ya! Hehe.
Nah, mungkin ada beberapa pertanyaan atau ada yang ingin tahu lagu asli yang sering diparodikan di ‘Ini Talkshow’. Kalau diitung-itung memang sudah banyak lagu-lagu yang dirubah jadi lagu makanan dan minuman. Sebagai salah satu penonton ‘Ini Talkshow’, kali ini saya mau sedikit share tentang lagu asli dari lagu-lagu parodi di ‘Ini Talkshow’. So, check this out!

Oh ya, sebelumnya ini beberapa lagu parodi di ‘Ini Talkshow’.



Dan pernah di-medley di opening episode 15 Februari 2015.



Nah yang ini baru lagu aslinya!

#1 Maya (Khana – Mansyur S.)


#2 Kopi (Gangster of Love – Johnny Watson) / (Jingle Iklan Kopi)


#3 Bala-Bala (Baby Baby Balla Balla – The Rainbows)


#4 Cendol (Bamboleo – Gipsy Kings)


#5 Bandrek (Volare – Gipsy Kings)


#6 Leupeut (Love Hurts – Nazareth)


#7 Kupat Tahu (Sway – Dean Martin)


Yang paling heboh dan bikin cape!
#8 Teh Bohay (Cintaku Terbagi 2 – Yenni Eria S.)


#9 Jagung Bakar (Kidung – Chrisye, Rafika Duri & Trio Libels)


#10 Bubur Kacang Ijo (La Bamba – Ritchie Valens)


#11 Seblak (Doris Day – Perhaps, Perhaps, Perhaps)


#12 Sate (Sakitnya Tuh Disini – Cita Citata)


#13 Rujak (Di Reject – Jenita Janet)


#14 Bawa Map (Vanilla Ice – Roll ‘em Up)


#15 Lotek (Tek Kotek – Lagu Anak)


#16 Siomay (Jingle Iklan Sosis)


#17 Cingcau (Cinta Karet – Gadis Manja Group)


#18 Sukun (Mbah Dukun – Alam)


#19 Gudeg Jogja (Koi Mil Gaya – OST Kuch Kuch Hota Hai)


#20 Kedongdong + Semangka (Tak Gendong – Mbah Surip)


#21 Combro (A Sing Sing So – Lagu Daerah)


#22 Lumpia (Panggung Sandiwara – Achmad Albar)


#23 Asin Sepat (In the End – Linkin Park)


#24 Jus Pepaya (Chaiyya Chaiyya – OST Dil Se)


#25 Lemper dan Bakwan (Forever And One – Helloween)


#26 Jengkol & Pete (All About That Bass – Meghan Trainor)



#27 Teh Demplon (Boneka India – Ellya Kadam)



Itulah beberapa lagu yang sering jadi bahan parodi di ‘Ini Talkshow’. Sebenarnya masih banyak lagi lagu-lagu parodi lainnya yang sering dinyanyikan. Beberapa lagu macam Bajigur, Teh Asoy Geboy atau Ketan, saya belum tahu lagu aslinya. Hehe. Mungkin ada yang tahu?