Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Tuesday, March 29, 2016

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016): Korban Movie Universe yang Terburu-buru


We know better now, don’t we?
Devils don’t come hell beneath us. They come from the sky.
– Lex Luthor –

Ada rasa senang bercampur khawatir ketika DC memutuskan membuat proyek universe untuk film superhero mereka (seperti halnya Marvel membuat MCU). Proyek yang kemudian dikenal sebagai DC’s Extended Universe (DCEU) ini jelas bukan proyek abal-abal. Tak main-main, DC dan Warner Bros. sudah merencanakan proyek besarnya hingga 2020 mendatang. Film-film apa saja yang akan muncul pun kita sudah mengetahuinya. ‘BvS: Dawn of Justice’ secara resmi membuka DCEU lewat pertarungan dua superhero ikonik DC yakni Batman dan Superman. Satu hal yang langsung disambut gembira oleh hampir seluruh fans diseluruh dunia semenjak pertama kali diumumkan Zack Snyder.
Kekhawatiran saya bukan tanpa alasan. Jika menilik jadwal film DCEU, ‘Justice League’ yang merupakan gong DCEU terlalu berdekatan dengan ‘BvS: Dawn of Justice’. Hanya diselang ‘Suicide Squad’ dan ‘Wonder Woman’. ‘Suicide Squad’ pun bisa dibilang tidak terhubung secara langsung dengan ‘Justice League’ (IMO). Lalu bagaimana akhirnya line-up Justice League bisa berkumpul? Karena dua film bukan waktu yang ideal untuk memberi perkenalan serta latar belakang yang pasti dalam rangka mengumpulkan 6 (enam) karakter besar dalam satu frame (IMO). Bandingkan dengan Marvel yang setidaknya butuh 5 (lima) film sampai akhirnya ‘The Avengers’ hadir ditengah-tengah kita. Lalu bagaimanakah peran ‘BvS: Dawn of Justice’ dalam membuka DCEU?
Berbicara mengenai universe film yang memang sedang trend dewasa ini, saya jadi teringat dengan kasus yang dialami ‘The Amazing Spider-Man 2’. Tentu kita masih ingat bagaimana Sony sesumbar akan memperluas dunia Spider-Man lewat pembangunan universe-nya sendiri yang dimulai dengan ‘The Amazing Spider-Man 2’ tahun 2014 lalu. Namun apa yang terjadi, sebelum benar-benar terwujud, proyek universe Spider-Man pun berhenti ditengah jalan. ‘The Amazing Spider-Man 2’ pun flop dipasaran. Permasalahan paling mendasar terletak pada perencanaan yang bisa dibilang kurang matang. Membuat sebuah semesta film yang saling berhubungan satu sama lain jelas bukan perkara mudah. Butuh rencana yang matang untuk menjalankan visi serta orang yang benar-benar tepat untuk menanganinya.
Kasus yang menimpa ‘The Amazing Spider-Man 2’ adalah karena konsep universe tersebut terlalu membebani buat ‘The Amazing Spider-Man 2’. Idealnya, sebuah film hanya menceritakan isi filmnya sendiri secara mandiri. Namun dalam kasus universe, sebuah film punya tugas dan tanggung jawab yang lebih yakni menjadi jembatan untuk fim-film lain dimasa depan yang nantinya akan terhubung dalam universe tersebut. Dengan kata lain, ‘The Amazing Spider-Man 2’ harus menceritakan isi filmnya secara mandiri. Ditambah harus menjadi jembatan untuk film lainnya atau setidaknya memberi petunjuk untuk film-film yang akan datang. Belum lagi, film tersebut akan mempunyai sekuel yang sedikit banyak juga harus disinggung dalam cerita. Pengalaman sebelumnya dari 'Spiderman 3' yang gagal dikarenakan (salah satunya) karena memiliki villain lebih dari satu. Dan ini dialami juga oleh ‘The Amazing Spider-Man 2’.
Secara umum, apa yang dialami ‘BvS: Dawn of Justice’ hampir tak berbeda dengan yang dialami ‘The Amazing Spider-Man 2’. Setidaknya setelah saya menontonnya, saya jadi mengerti kenapa banyak sekali komentar-komentar dunia maya bernada kekecewaan yang mengiringi perilisan ‘BvS: Dawn of Justice’. Isu mengenai sulitnya membuat sebuah universe film tanpa rencana yang matang serta visi yang jelas (seperti yang saya singgung sebelumnya), memang cukup terasa pada ‘BvS: Dawn of Justice’. Hasilnya, sebagai pembuka DCEU, ‘BvS: Dawn of Justice’ pun menderita banyak dari segi cerita. Plotnya diisi dengan begitu banyak subplot yang begitu ambisius namun terasa kurang berisi dan tumpang tindih. Beberapa malah terasa dipaksakan, salah satu contohnya easter egg yang memperkenalkan line-up Justice League. Karakternya tidak diberikan kesempatan yang banyak untuk dieksplorasi. Motif Lex Luthor sebagai villain pun terasa setengah matang jika tak mau dibilang gak jelas. Konfrontasi dua superhero yang digadang-gadang menjadi sajian duel superhero terbesar pun kurang begitu mengena karena plotnya tidak benar-benar sampai memfokuskan kesana. Atau lebih tepatnya plotnya melompat-lompat. Meski masih menyajikan sekuen aksi yang seru dan menegangkan.  
‘BvS: Dawn of Justice’ disutradarai oleh Zack Snyder. Yang saya tahu dari Snyder bila melihat film-film yang pernah ia buat adalah bahwa dia salah satu sutradara artistik yang mampu memanfaatkan potensi CGI secara maksimal. Sehingga adegan-adegan bombastis terasa sangat tepat bila ditangani oleh Snyder. Namun ada sedikit kelemahan yang cukup kentara bila melihat filmografinya. Selain ‘Watchmen’, kita bisa merasakan kelemahan Snyder yang satu ini, yaitu ia kurang pandai dalam bertutur dan bercerita. Dan ini kembali terjadi di ‘BvS: Dawn of Justice’. Mungkin ia belum belajar banyak dari apa yang telah ia buat di ‘Man of Steel’. Patut disayangkan pula karena David S. Goyer dan Chris Terrio sebagai penulis naskah tidak bisa berbuat banyak untuk membuat alurnya lebih terkesan rapi.
Dibalik segala penderitaan cerita yang dialami, ‘BvS: Dawn of Justice’ masih memiliki banyak keunggulan ditengah setting gelapnya yang mendominasi. Kekuatan terbesar terletak pada ensemble cast-nya. Trinitas DC yang diisi Superman, Batman dan Wonder Woman berhasil ditampilkan secara apik oleh masing-masing pemerannya. Henry Cavill sukses menjadi superhero dilematis ditengah kekuatannya yang terlalu besar. Ben Affleck menjadikan kejutan sebagai Bruce Wayne dan Batman walaupun sempat diragukan banyak pihak. Ben sukses menampilkan sosok Batman yang lain dari pemeran sebelumnya. Menjadi versinya sendiri tanpa harus dibandingkan dengan Christian Bale atau Michael Keaton. Dan Gal Gadot? Tidak hanya karena ia cantik. Ia adalah scene stealer yang kehadirannya selalu dinanti. Bahkan saya sudah suka ketika fotonya sebagai Diana Prince muncul pertama kali. Hayo! Siapa yang dulu meragukan perannya sebagai ratu Amazon ini? Amy Adams sebagai Louis Lane, Jeremy Irons sebagai Alfred Pennyworth dan Jesse Eisenberg sebagai Lex Luthor juga menampilkan penampilan yang tak kalah memikat.
Klimaksnya adalah pertarungan puncak yang mempertemukan Superman, Batman & Wonder Woman melawan Doomsday. Seperti yang pernah diperlihatkan sedikit di trailernya, ketiganya bahu membahu mengalahkan mahkluk ciptaan Lex Luthor dari jasad General Zod ini. Pertarungan yang tersaji begitu besar, kehancuran yang  eksplosif, membawa keseruan yang menjadikannya salah satu part terbaik dalam ‘BvS: Dawn of Justice’. Sebelum akhirnya ending menutupnya dengan manis. Tak lupa scoring Hans Zimmer yang senantiasa menjadikan setiap moment terasa lebih hidup.
Secara keseluruhan, ‘BvS: Dawn of Justice’ tidak jatuh pada taraf buruk seperti yang banyak diperbincangkan orang. Saya menikmatinya dari awal sampai akhir. Diantara dua setengah jam durasinya, saya tak pernah benar-benar terjerumus kedalam jurang kebosanan. Meski diawal-awal tak banyak sekuen aksi yang membuat jantung berdebar. Meski tak banyak unsur komedi yang dihadirkan. Meski setting-nya tak pernah benar-benar terang alias selalu gelap. Saya cukup menikmatinya atau mungkin memang itu yang saya cari dari film ini. Dua setengah jamnya terasa pas, tidak terasa sebentar, tidak pula terasa lama. Tak seperti saat saya menonton ‘Transformers: Age of Extinction’ yang terasa sekali lamanya.
Apakah terlalu prematur menilai masa depan DCEU menilik hasil akhir ‘BvS: Dawn of Justice’, sementara disaat yang sama sang pesaing sudah melangkah jauh? Bisa iya, bisa tidak. Saya sendiri masih ingin menyaksikan bagaimana kelanjutan DCEU dimasa depan. Hanya saja, jika DC dan Warner Bros mau sedikit bersabar untuk mengizinkan universe-nya berkembang secara bertahap tanpa harus terkesan terburu-buru. Untuk memberi banyak ruang yang lebih bagi setiap karakter maupun konfliknya berkembang. Sehingga penonton pun lebih mudah terkoneksi dengan plot besarnya. Mungkin cerita ‘BvS: Dawn of Justice’ akan lain. ‘BvS: Dawn of Justice’ bisa saja menjadi pembuka universe superhero yang mengasyikkan baik dari sisi cerita maupun teknisnya.

Monday, February 29, 2016

Catatan Nonton #Februari’16

Sebelum memasuki menu utama Catatan Nonton kali ini, beberapa jam yang lalu telah dihelat ajang bergengsi bagi insan perfilman dunia yakni pagelaran Oscar ke-88 yang mungkin menjadi gelaran Oscar paling istimewa bagi seorang Leonardo di Caprio. Karena akhirnya, setelah sekian lama, Leo dapat Oscar juga! Hahaha. Hal yang paling mengejutkan dalam Oscar kali ini adalah kemenangan ‘Spotlight’ pada kategori Best Picture mengalahkan favorit pemirsa, ‘The Revenant’. Dicap sebagai kuda hitam paling kuat, ‘Spotlight’ sukses memberi kejutan di kategori ini, walaupun saya sangat berharap bahwa ‘Room’ yang akan menang. Tapi biarpun begitu saya masih senang karena Alicia Vikander menang sebagai aktris pendukung terbaik lewat film ‘The Danish Girl’. She's my favorite. Beberapa kategori juga memunculkan pemenang yang sesuai prediksi seperti Best Actress: Brie Larson (Room), Best Animated Feature: Inside Out dan Best Director: Alejandro G. Inarritu (The Revenant) yang menandai 2 (dua) kemenangan berturut-turut Inarritu di kategori ini. Selamat buat ‘Mad Max: Fury Road’ yang menang banyak dengan meraih 6 (enam) piala. Dan untuk lebih jelasnya, berikut daftar lengkap peraih piala Oscar ke-88 tahun 2016.  

Best Picture: Spotlight
Best Director: Alejandro G. Inarritu (The Revenant)
Best Actor: Leonardo DiCaprio (The Revenant)
Best Actress: Brie Larson (Room)
Best Supporting Actor: Mark Rylance (Bridge of Spies)
Best Supporting Actress: Alicia Vikander (The Danish Girl)
Best Adapted Screenplay: The Big Short
Best Original Screenplay: Spotlight
Best Cinematography: The Revenant
Best Costume Design: Mad Max: Fury Road
Best Film Editing: Mad Max: Fury Road
Best Makeup and Hairstyling: Mad Max: Fury Road
Best Original Score: The Hateful Eight
Best Original Song: Writings on the Wall – Sam Smith (Spectre)
Best Production Design: Mad Max: Fury Road
Best Sound Editing: Mad Max: Fury Road
Best Sound Mixing: Mad Max: Fury Road
Best Visual Effects: Ex Machina: Fury Road
Best Animated Feature Film: Inside Out
Best Foreign Language Film: Son of Saul
Best Documentary Feature: Amy
Best Documentary Short Subject: A Girl in the River: The Price of Forgiveness
Best Animated Short Film: Bear Story
Best Live Action Short Film: Stutterer

Dan berikut menu utama Catatan Nonton edisi ke-26, berisi kumpulan review pendek dari film yang saya tonton selama sebulan yang menobatkan ‘Room’ sebagai Movie of the Month kali ini. So, check this out!

The Good Dinosaur (2015) (06/02/16)

Short review:
Untuk pertama kalinya Pixar merilis dua filmnya dalam satu tahun. Meski begitu, prestasi kedua filmnya tidak sama satu sama lain. Jika film pertamanya yang bercerita tentang lima emosi manusia, ‘Inside Out’ banyak menuai pujian dan perolehan box office yang besar. Hal berbeda justru dialami sang adik ‘The Good Dinosaur’. Melihat judulnya, premis besarnya sudah bisa ditebak akan ke arah mana. Dan ketika mulai menggulirkan kisahnya, ‘The Good Dinosaur’ seperti terlalu sederhana dan klise. Garis besarnya, bisa dibilang perpaduan antara ‘The Lion King’ dan ‘Finding Nemo’. Tidak hanya itu, karena kenyataan bahwa ‘The Good Dinosaur’ dirilis setelah ‘Inside Out’ membawa dampak yang kurang baik juga. Walau begitu, ‘The Good Dinosaur’ masih menyisakan apresiasi lebih lewat kualitas animasinya yang harus diakui menjadi salah satu yang terbaik di genrenya.
Skor: 3/5

The Gift (2015) (11/02/16)

Short review:
Debut Joel Edgerton yang ini memang layak diberi pujian. Bagaimana tidak, ‘The Gift’ sukses menjadi sajian drama thriller yang menegangkan dan membuat tak nyaman tanpa harus melibatkan darah. ‘The Gift’ bergerak sebagaimana sebuah film yang mengambil tema home invasion, dan di tangan Edgerton, ‘The Gift’ menjadi kisah home invasion yang tak seperti biasanya. Seorang teman lama hadir ditengah-tengah biduk rumah tangga Simon dan Robyn, mengusik ketenangan pasangan tersebut. Ada misteri besar yang menyelimuti ketiga karakter tersebut. Dan Edgerton sanggup mempermainkan emosi dan psikis penonton tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan lebih dari itu, kita sadar bahwa bullying apapun bentuknya (fisik, verbal, dsb), apapun alasannya (becanda, iseng, dsb) bukanlah suatu hal yang pantas untuk dibenarkan.
Skor: 3,75/5

The Lobster (2015) (14/02/16)

Short review:
‘The Lobster’ itu aneh. Semua aspek di film ini aneh. Mulai dari tema, plot, latar, karakter, sampai cara para karakter mengucapkan dialognya pun terasa aneh. Melihat segala keanehannya, mungkin film ini bukanlah film yang bisa dinikmati semua orang. Tapi justru saya sangat menyukai dan menikmatinya. Teramat sangat malah. Keanehan yang ada disini merupakan efek penyutradaraan Yorgos Lanthimos yang memang agak nyentrik. ‘The Lobster’ menyoroti kisah tentang para kaum jomblo yang mencoba mencari pasangan. Mungkin juga kehadiran ‘The Lobster’ ini akan menjadi semacam momok bagi kaum jomblo. Namun bila ditarik garis besarnya, lebih dari itu, ada observasi mendalam tentang cinta dan pencarian tentang cinta itu sendiri. Hanya perspektifnya saja yang diambil sedikit berbeda oleh Yorgos. Hadir pula selipan komedi hitam yang terasa begitu satir dan mengundang tawa kenyinyiran.
Skor: 4,25/5

Spotlight (2015) (14/02/16)

Short review:
Kegelapan yang berhasil ditutup-tutupi dibawah payung agama selama kurang lebih tiga puluh tahun berhasil diungkap oleh tim wartawan khusus The Boston Globe, Spotlight. Peristiwa ini merupakan peristiwa besar yang menggemparkan dunia dan dianggap sebagai sebuah kejahatan tingkat tinggi yang pernah terjadi. Ya, bagaimana tidak, sebuah skandal keji pelecehan seksual yang melibatkan anak-anak oleh para aparatur keagamaan tidak terendus sama sekali. Dan bagaimana pihak gereja lewat pengaruhnya menutupi segala kebobrokan topengnya. ‘Spotlight’ menghadirkan sebuah studi investigasi jurnalistik yang bagus di penyutradaraan, narasi dan penampilan cast-nya. Yang akan membuat kita marah dan kesal dengan apa yang terjadi. Bisa-bisanya hal sekeji itu ditutup-tutupi begitu lama oleh semua orang. Sebobrok itukah para manusia?
Skor: 4,25/5

Creed (2015) (15/02/16)

Short review:
Olahraga tinju seperti mendapat tempat terhormat di ranah film. Karena entah sudah berapa banyak film yang mengangkat tinju sebagai penggerak alurnya. Saking banyaknya, timbullah sebuah kesan lewat formula yang hampir pasti jadi menunya. Menang dramatis atau kalah terhormat. Sudah begitu kental dengan nuansa olahraga. Lalu apa lagi yang akan ditawarkan Ryan Coggler lewat ‘Creed’? Tampilan luar ‘Creed’ memang tak berbeda dengan film-film sejenis. Namun dengan narasi yang melibatkan salah satu franchise tinju paling terkenal, ‘Rocky’, ‘Creed’ terasa punya keistimewaan tersendiri. Karena ‘Creed’ seolah meneruskan estafet ‘Rocky’ yang sempat dikira tak akan hidup kembali. Relasi kedua karakter lintas generasinya menjadi poin penting yang membuat ‘Creed’ memiliki emosi lain dibanding film sejenis. Belum lagi, Coggler sukses menyuntikkan adegan final fight beroktan tinggi, seolah kita benar-benar menyaksikan pertarungan tinju yang sebenarnya secara langsung.
Skor: 4/5

Room (2015) (18/02/16)

Short review:
Yang terbaik dari ‘Room’ adalah.... SEMUANYA! OF COURSE! YOU MUST WATCH! BEFORE YOU DIE! Sebuah ruangan sempit yang sanggup memberi pengalaman menonton luar biasa. Begitu banyak film dengan konsep dan plot yang unik, tapi ‘Room’ tetap akan menjelma menjadi sebuah film yang hinggap lama dihati. Tak akan pernah mudah untuk dilupakan. Memang tak ada satu hal pun yang sempurna, begitu pula dengan ‘Room’. Namun biar bagaimanapun, saya suka dan cinta sekali dengan film ini. Jadi salah satu favorit juga. Terima kasih Lenny Abrahamson, untuk penyutradaraannya. Terima kasih Emma Donoghue, untuk ceritanya. Dan pastinya, duet Brie Larsson – Jacob Tremblay yang paling juara.
Skor: 5/5

The Danish Girl (2015) (19/02/16)

Short review:
Serius! Kalau bukan karena Alicia Vikander, saya nggak bakalan nonton film ini. Tema LGBT memang (mungkin) menjadi alasannya. Bukan apa, akhir-akhir ini, LGBT dan segala tektek bengeknya yang semakin booming ini seringkali membuat saya resah. Oleh karena itu, sempat agak ragu juga untuk menonton ‘The Danish Girl’. Tapi karena ada Alicia Vikander, saya pun membuat pengecualian. Dengan kata lain, saya menonton ‘The Danish Girl’ hanya untuk melihat Alicia Vikander doang. Beruntung, dia masih tetap terlihat cantik. Mainnya juga bagus. Keren. Tapi sialan nih si Eddie Redmayne, bisa-bisanya membuat Alicia Vikander menangis. Nggak tega lihatnya. Haha. Dan entah kenapa, saya nggak rela Alicia Vikander melakukan adegan telanjang disini. Damn you! Tom Hooper! Saya suka paruh pertama ‘The Danish Girl’ yang menyoroti kisah manis-romantis pasangan suami istri Einar-Gerda. Tentunya sebelum kehadiran si Lili itu. Berasa pengen jadi suami Gerda. Wkwkwk.
Skor: 3,5/5

Thursday, February 18, 2016

Anime Review: Shiki


‘Shiki’ yang rilis tahun 2010 ini merupakan seri anime bergenre horor berjumlah 22 episode yang diadaptasi dari grafik novel karya Fuyumi Ono. ‘Shiki’ atau dalam versi Inggris disebut juga ‘Corpse Demon’ bercerita tentang sebuah desa kecil yang tenang dan damai namun perlahan berubah menjadi desa penuh kematian semenjak kedatangan penduduk baru yang misterius. Kematian demi kematian terus menghampiri para warga tanpa pandang bulu. Tua, muda, orang tua, anak-anak, semuanya tak luput jadi korban. Fenomena besar dan tak biasa ini membuat para warga resah namun tak banyak yang menyadari keanehan dari apa yang terjadi. Sampai diantara mereka mulai mencium bau tak biasa dari fenomena tersebut.
‘Shiki’ menggulirkan kisahnya dengan pace yang amat lambat. Bagi yang tidak terbiasa, mungkin akan terasa sedikit membosankan. Malah kalau dilihat kulit luarnya, ‘Shiki’ hanya berputar-putar disekitar situ saja. Meski begitu, tanpa disadari misteri ‘Shiki’ sesungguhnya sudah mencengkram sejak awal. Pace-nya yang lambat tak mengurungkan wajah muram desa Sotoba yang penuh aroma kematian. Atmosfer horornya sudah nampak kentara lewat tone-nya yang dingin. Sedingin tubuh mereka yang telah mati. Atmosfer seperti ini berhasil dijaga disetiap episodenya dengan tetap memberi clue dan misteri baru sampai ‘Shiki’ menemui babak pamungkasnya.
Daripada membuka tabir misteri yang terburu-buru, ‘Shiki’ memang lebih banyak mengenalkan para karakter dengan segala konflik didalamnya. ‘Shiki’ mungkin menjadi terasa sesak dengan penuhnya karakter yang hadir sampai saya tak bisa mengingat namanya satu persatu. Bukan tanpa alasan, kehadiran banyak karakter inilah yang justru berperan penting terhadap plot ‘Shiki’ secara utuh. Beruntung tim penulisnya mampu memperlakukan para karakter tersebut dengan porsi yang berimbang. Sehingga masing-masing karakter punya jatah untuk memberi kedalaman emosi tersendiri dibenak penonton. Meski karakternya relatif banyak, tapi kita tahu bahwa bagian sentralnya ada pada diri Seishin Muroi sebagai biksu muda, Toshio Ozaki sebagai dokter dan Yuuki Natsuno seorang remaja pindahan dari kota. Ketiganya lah yang menghubungkan setiap benang terputus tentang fenomena aneh desa Sotoba. Tentang makhluk mitos yang disebut Okiagari.
Dan seiring episode yang terus bergulir, ‘Shiki’ pun mulai menunjukkan titik terangnya. Tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentang penyebab kematian yang terus menerus tanpa henti. Yang menarik adalah misteri yang sedari awal disimpan rapat-rapat tersebut menjadi cukup berkesan berkat investigasi para karakter lewat masing-masing perspektifnya. ‘Shiki’ pun tak lagi menjadi arena tebak-tebakan lagi. Tapi menjadi arena eksekusi bagaimana menyelesaikan permasalahan ini. Dan disinilah peran ketiga karakter sentral mulai terasa.
Toshio Ozaki dengan segala pemikiran logisnya sebagai dokter tentu tak pernah terpikir akan berurusan dengan mahkluk yang ia yakini hanya ada dalam mitos dan film. Sampai akhirnya ia mulai mengerti dan membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Keputusan tersebut tidaklah serta merta dan tak mudah untuk diambil. Bagaimana ia melewati fase kelam yang membuatnya frustasi sampai puncaknya ia menjadikan istrinya sendiri sebagai sebuah objek percobaan. Salah satu moment memilukan disini. Seishin Muroi dengan segala keyakinannya sebagai biksu muda ternyata tak mudah untuk mempercayai apa yang ia yakini. Bahwa membunuh, apapun alasannya, siapapun korbannya, bukanlah suatu hal yang harus dibenarkan. Keyakinannya pun menjadi bersebrangan dengan sahabatnya Toshio saat ia tahu bahwa didepan matanya Toshio telah membunuh istrinya. Dan Yuuki Natsuno dengan segala kegundahannya menjadi orang yang berada diantara dua sisi, manusia dan shiki itu sendiri. Dan pada akhirnya, semuanya telah memutuskan apa yang dipilihnya. Toh memang begitu seharusnya. Memilih pada apa yang diyakini.
Perspektif ketiga karakter tersebut memunculkan tanda tanya besar tentang dilema moral dalam kapasitas manusia sebagai makhluk manusiawi. Disatu sisi, manusia perlu mempertahankan hidup dan menghindari kematian-kematian yang tidak perlu. Menjadi logis ketika akhirnya para warga setuju dengan usul Toshio untuk membasmi para shiki. Namun para manusia akhirnya menjadi gila dengan apa yang ditakutinya. Menjadi brutal dan tak terkendali. Ada saat dimana mereka membunuh manusia lain yang terkena gigitan shiki tanpa ampun. Pada moment ini (entah kenapa) saya menjadi sedikit bersimpati pada kaum shiki. Mungkin itu salah satu alasan kenapa scene yang melibatkan pembunuhan Megumi Shimizu menjadi begitu menggetarkan.
Disisi lainnya, kaum shiki pun ingin bertahan hidup dan tak ada pilihan lain selain membunuh manusia. Ini sudah banyak diungkap Sunako Kirishiki mengenai bagaimana eksistensinya didunia. Kenapa ia menjadi shiki padahal ia tak pernah memilih untuk menjadi makhluk tersebut. Kenapa akhirnya ia membunuh banyak orang adalah karena hasrat tak tertahankan agar ia tetap bertahan hidup. Mungkin itulah alasan kenapa Muroi membantu Sunako. Mencoba memahami sudut pandang yang berbeda. Mencoba memahami apa yang ia tulis. Meski sampai saat terakhir pun ia belum menemukan jawaban pastinya tapi ia sadar akan keputusan yang telah diambilnya. Tema besar ‘Shiki’ pun menjadi terasa relatif ketika disandingkan. Yang mana yang benar masih terasa kabur walaupun ada satu sisi yang (mungkin) lebih baik untuk diambil. Tapi kita semua sudah tahu bahwa dua mahkluk yang saling memusnahkan satu sama lain tak akan pernah bisa hidup berdampingan. Begitu pula manusia dan shiki.
Secara keseluruhan, ‘Shiki’ cukup berhasil menjadi sajian horor penuh misteri yang tidak hanya menawarkan atmosfer horor didalamnya. Ada campur aduk emosi yang berhasil disuntikkan dibalik tone-nya yang kelam dan dingin. Tempo pelan yang dipilih sedari awal menjadi gundukan ketegangan yang cukup mengena ketika pergerakan plotnya mulai terlihat jelas. Punya warna berbeda dengan anime dalam genre sejenis. Ending-nya mungkin tidak akan memuaskan banyak orang yang berharap semuanya berakhir dengan mudah. Tapi bukankah setiap misteri selalu menyimpan misteri lainnya? Bukankah setiap jawaban selalu menimbulkan pertanyaan lainnya?

Sunday, January 31, 2016

Catatan Nonton #Januari’16

Selang sebulan setelah tahun baru 2016 dimulai, masih cukup awal, tapi masih banyak hal yang akan terjadi di bulan-bulan ke depan. Menjelang akhir bulan, ‘Catatan Nonton’ pun kembali hadir menutup episode akhir bulan Januari ini. Dalam edisi ke-25 ini hanya empat 4 (empat) judul yang masuk ‘Catatan Nonton’. Terbilang sedikit, tapi setidaknya masih ada film yang sempat saya tonton dan diberi short review dalam sebulan ini. Movie of the month kali ini jatuh pada pemenang Golden Globe Awards 2016, ‘The Revenant’ karya Alejandro Gonzalez Inarritu. Dan berikut daftar film yang masuk edisi Catatan Nonton bulan Januari 2016. Check it out!
Gambar dari sini.

Everest (2015) (01/01/16)


Short review:
‘Everest’ adalah contoh bahwa pekerjaan menaklukan alam itu bukanlah yang mudah. ‘Everest’ berhasil memvisualkan keganasan alam yang indah pula menyimpan kengerian. Bisa dibilang, Baltasar Kormakur berhasil mereka ulang kejadian naas pendakian puncak Everest pada tahun 1996 silam dengan setia pada sumbernya. Namun ada satu hal yang kurang dari ‘Everest’, yaitu emosi. Mungkin Baltasar Kormakur bermaksud membuat acara pendakian puncak tertinggi dunia bersama tragedinya ini terlihat lebih realistis dibenak penonton. Namun karena itu pula, ‘Everest’ menjadi minim emosi. Ya, terkadang dramatisasi dalam sebuah tontonan juga penting untuk memberi dampak emosional bagi penonton.
Skor: 3/5

The Revenant (2015) (13/01/16)


Short review:
‘The Revenant’ adalah bagaimana sebuah kisah drama survival mencengkram emosi lewat kebrutalan alamnya. Kebrutalan alam liar yang begitu menusuk sedingin tone-nya. Sekali lagi, duet Alejandro Gonzalez Inarritu dan Emanuel Lubezki menunjukkan tajinya setelah sebelumnya sukses lewat ‘Birdman’ lewat gambar-gambar dingin, sunyi, kelam nan mencekam namun menyimpan keindahan dibaliknya. Dan performa terbaik Leonardo DiCaprio sebagai Hugh Glass yang sukses membawa penonton seolah ikut merasakan apa yang dialami Hugh Glass. Mungkin sudah saatnya sang Leo menggenggam piala Oscar.
Skor: 4,25/5

Goosebumps (2015) (20/01/16)


Short review:
‘Goosebumps’ berhasil memunculkan makhluk-makhluk menyeramkan nan ikonik rekaan R. L. Stein yang sangat banyak tersebut dalam satu frame. Namun jika menganggap bahwa ‘Goosebumps’ akan memberikan sajian horor lewat serangkaian teror mencekam, mungkin anggapan tersebut harus segera dihapuskan. Pasalnya, ‘Goosebumps’ memilih jalan yang ringan lewat ranah komedi dalam balutan drama remaja. Tidak sampai terlalu spesial tapi masih menyenangkan dan menghibur. Seperti menonton ‘Jumanji’ versi makhluk seram. Terlebih buat para penonton yang terlebih dulu akrab dengan novelnya akan dibawa bernostalgia dengan karya-karya Stein yang sudah terjual lebih dari 350 juta kopi diseluruh dunia tersebut.  
Skor: 3/5

Spetre (2015) (20/01/16)


Short review:
Entahlah, tapi mungkin ekpektasi terhadap ‘Spectre’ terlalu tinggi setelah sebelumnya bertemu ‘Skyfall’. Premis ‘Spectre’ sebenarnya menarik, apalagi Mendes membuat naskah ‘Spectre’ seperti menjadi jawaban dari semua kepingan puzzle yang ditebar di 3 (tiga) film sebelumnya. Dan membawa karakter Ernst Stravo Blofeld (musuh bebuyutan Bond) sebagai villain utama sekaligus dalang dibalik semua peristiwa yang ada. Namun ketika plotnya mulai berjalan, ‘Spectre’ seperti kurang amunisi untuk membuatnya lebih emosional. Padahal Ernst Stravo Blofeld merupakan orang di masa lalu sang agen 007 yang bisa dikulik lebih dalam terkait hubungannya dengan Bond. Sebagai otak dari semua kejahatan pun, Blofeld seperti terlalu mudah untuk dikalahkan. Kecuali untuk itu, adegan aksi ‘Spectre’ cukup menggembirakan dengan sekuens yang lebih banyak dibanding ‘Skyfall’. Dan yang tak akan pernah hilang dari seri ‘James Bond’ yaitu Bond Girl pada diri Lea Seydoux yang begitu memanjakan mata. Salah satu Bond Girl terfavorit di era Daniel Craig.
Skor: 3/5

Friday, January 15, 2016

Anime Review: Kuroko no Basuke


SMP Teikou memiliki klub basket terkuat yang sangat ditakuti seantero Jepang dan telah menjuarai kejuaraan nasional 3 (tiga) tahun berturut-turut. SMP Teikou menjadi begitu kuat karena memiliki 5 (lima) pemain paling berbakat yang dijuluki “Kiseki no Sedai” (Generasi Keajaiban) yang hanya ditemukan 10 tahun sekali. Setelah lulus SMP, mereka memilih jalan sendiri-sendiri di SMA berbeda. Disamping Kiseki no Sedai, ternyata ada satu pemain yang tak tercatat, pemain keenam, seorang bayangan, Kuroko Tetsuya. Dan ‘Kuroko no Basuke’ akan berfokus pada kisah Kuroko dengan permainan basketnya yang khas bersama klub barunya di SMA, Seirin.
‘Kuroko no Basuke’ merupakan seri anime yang diadaptasi dari manga berjudul sama karya Tadatoshi Fujimaka keluaran tahun 2008. Seri animenya sudah menghabiskan 3 (tiga) musim yang berjumlah total 75+1 episode semenjak memulai musim pertamanya pada 7 April 2012.
Merujuk pada genre-nya yang ber-genre sport, premis ‘Kuroko no Basuke’ tentu tak akan jauh dari formula klasik khas olahraga, kisah perjuangan from zero to hero yang dibangun lewat latar “menang dramatis atau kalah terhormat”. Dan pada akhirnya memang seperti itulah kenyataannya. Bahkan dari jauh-jauh hari kita sendiri sudah bisa menebak hasil akhir atau ending-nya akan seperti apa. Namun ‘Kuroko no Basuke’ tetap menjadi sebuah anime yang menyenangkan untuk ditonton. Bahkan semenjak episode pertamanya bergulir, kesan menyenangkan sudah sangat terasa. Apa alasannya?
Dalam beberapa kasus, terkadang hasil akhir bukanlah tujuan utama, tapi proses bisa jadi segalanya. ‘Kuroko no Basuke’ membuktikan itu disini. Meski sudah bisa menebak tentang apa yang akan terjadi pada hasil akhir setiap pertandingannya, namun ‘Kuroko no Basuke’ berhasil mengemas prosesnya menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan (setidaknya buat saya). Setiap pertandingan basket yang digelar berhasil menonjolkan keseruan yang sangat (meskipun sempat kedodoran juga). Berbagai moment pun berhasil menumpahkan perasaan emosi yang membuncah. Seolah-olah kita benar-benar menyaksikan secara langsung setiap pertandingan yang ada. Ungkapan lawan adalah kawan setelah pertandingan juga disinggung cukup kentara disini.
Mengenai karakter, saya suka bagaimana Tadatoshi Fujimaka memilih karakter utama seperti Kuroko. Ini seperti antitesis dari mayoritas karakter utama anime pada umumnya. Karena karakter seperti Kagami yang ambisius dan tak mau mengalah sebenarnya lebih umum dipakai dalam seri anime/manga. Sebagai contoh, Kurosaki Ichigo ‘Bleach’ atau Eren Jaeger ‘Attack on Titan’ punya karakteristik yang sama dengan Kagami. Tapi Fujimaka memilih karakter yang sering terlupakan oleh sekitarnya bahkan keberadaannya pun dianggap tidak ada seperti Kuroko. Ya, Kagami memang punya peranan vital tapi kendali tetap ada pada Kuroko. Terlebih Kuroko punya gaya dan visi bermain yang unik. Sebuah gaya yang jarang ditemukan dalam permainan basket, dimana seorang pemain hanya punya kemampuan mengoper bola saja. Fujimaka juga memakai konsep menarik untuk memberi penekanan pada karakter utamanya lewat simbol cahaya dan bayangan. Sebuah tagline yang berbunyi, “semakin terang cahaya, semakin gelap dan pekat bayangannya” seakan memberi gambaran sepenuhnya tentang ‘Kuroko no Basuke’.
Berbeda dengan ‘Slam Dunk’ yang memiliki kesan realistis yang cukup kental, ‘Kuroko no Basuke’ justru lebih punya unsur fantasi dan berkesan imajinatif. Sama seperti ‘Captain Tsubasa’, ‘Kuroko no Basuke’ juga banyak menampilkan kekuatan dan jurus-jurus basket yang mungkin terkesan tak logis didunia nyata. Namun dengan beberapa penjelasan yang cukup gamblang dan meyakinkan, kekuatan dan jurus-jurus yang ditampilkan para pemain tidak sampai terlalu menggernyitkan dahi dan cukup bisa diterima logika. Masalahnya, terlalu realistis juga kadang tidak seru. Jadi tak usah gusar bila para pemain sempat-sempatnya bicara panjang lebar dan bola tiba-tiba bergerak melambat sebelum masuk ring. Dramatisasi seperti ini (kadang) menjadi penting untuk menciptakan suasana yang dramatis. Karena efeknya buat penonton juga.
Selain menampilkan unsur drama dan ketegangan yang penuh emosi, ‘Kuroko no Basuke’ juga menampilkan unsur komedi yang cukup menghibur. Tidak banyak tapi beberapa justru sangat efektif memancing tawa berkat penempatan dan timing yang tepat. Karena tidak banyaknya pula membuat unsur komedinya berada dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Ini bagus karena unsur komedi yang terlalu banyak dengan formula yang sama kadang menjadi kurang efektif untuk tampil lucu. Dan sebuah anime tanpa soundtrack pastinya kurang bertenaga. Beruntung ‘Kuroko no Basuke’ punya kumpulan lagu soundtrack yang asyik. Baik lagu yang terdapat di opening maupun ending, semuanya mampu membawa mood yang pas untuk menemani keseluruhan plot yang ada.
Berbekal karakter-karakter menarik dan loveable, ditambah formula klasik from zero to hero khas olahraga yang tak kalah asyik, tidak sulit rasanya bagi ‘Kuroko no Basuke’ untuk meninggalkan kesan dibenak penontonnya. Ya, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan sensasi menonton anime sport yang membuat merinding seperti ini. Dan saya menemukannya kembali di ‘Kuroko no Basuke’.
Skor: 8/10

Wednesday, January 13, 2016

10 Film Terbaik 2015

Tahun 2015 telah berlalu, seakan dejavu, saya merasa terpanggil kembali untuk membuat daftar film terbaik tahun 2015. Seperti tahun lalu, dimana saya juga membuat daftar film terbaik tahun 2014 versi saya. Dibandingkan tahun 2014, tahun 2015 memang menjadi semacam penurunan kuantitas menonton film bagi saya. Biarpun begitu, saya masih sempat menonton beberapa judul sebelum menyelesaikan post ini. Beberapa diantaranya pun masuk daftar pada saat-saat terakhir. Kecuali untuk ‘The Big Short’, ‘Steve Jobs’, 'Spotlight', ‘Room’, ‘Carol’, ‘Joy’ dan beberapa judul lainnya belum saya tonton.
Membuat daftar seperti ini memang sifatnya sangat subjektif dan personal. Tentunya perspektif setiap orang akan berbeda satu sama lain. Dan seperti yang sudah saya tekankan pada post sama tahun lalu, bahwa “Terbaik” disini bukan berarti secara harfiah benar-benar terbaik (emang siapa saya sok-sok-an menentukan film terbaik). Sederhananya, “Terbaik” disini adalah film yang paling saya suka tahun lalu yang berhasil memberi kesan mendalam dan kepuasan tingkat tinggi selama menonton. Pun setelahnya. Oleh karena itu, saya tak akan memasukkan judul Seventh Son (Sergey Bodrov) dalam daftar ini. Karena menurut saya itu adalah film terburuk yang pernah saya tonton di tahun 2015. I’m sorry to say that, Alicia Vikander! But.., you always look so sweet in every your movie! Seriously!
Dan berikut 10 film terbaik tahun 2015 versi saya.

Honorable Mentions:
Ex-Machina (Alex Garland), Wild Tales (Damian Szifron), Filosofi Kopi (Angga Dwimas Sasongko), Sicario (Dennis Villeneuve), Crimson Peak (Guillermo del Toro), Bridge of Spies (Steven Spielberg), The Gift (Joel Edgerton), Star Wars: The Force Awakens (J.J. Abrams), The Hateful Eight (Quentin Tarantino), Brooklyn (John Crowley).

#10 It Follows (David Robert Mitchell)


Adegan pembukanya sudah sangat mengejawantahkan kengerian. Konsep horornya mungkin terasa aneh, tapi ada pesan menarik dibalik premisnya bila mau dicermati. Terutama mengenai kehidupan bebas ala remaja dewasa ini.

#9 The Revenant (Alejandro Gonzalez Inarritu)


Puisi tragis tentang bagaimana alam menunjukkan sisi liarnya yang brutal yang juga kontradiktif disaat bersamaan. Dingin menusuk menembus tulang. Membuncahkan emosi disetiap bait kegetiran. Namun indah disela-sela keheningannya.

#8 Clouds of Sils Maria (Olivier Assayas)


Seakan mengaburkan batasan realita dan fiksi. Seorang aktris paruh baya tengah mencoba berdamai dengan diri dan masa lalunya. Menyenangkan bisa melihat performa akting terbaik salah satu aktris favorit disini.

#7 Me and Earl and the Dying Girl (Alfonso Gomez-Rejon)


Cara memperlakukan premis penyakit mematikannya terasa tak biasa. Namun begitu hangat menghantarkan drama coming of age-nya. Pada setiap sisi getir, ditanaminya benih positif. Plot kecilnya yang berbicara banyak tentang film, masih jadi bagian terfavorit. [Review]

#6 Mencari Hilal (Ismail Basbeth)


Lupakan sejenak tentang ‘Le Grand Voyage’-nya Ismael Ferroukhi. Kemudian tengoklah bagaimana Pak Mahmud dan anaknya Heli menyusuri jalanan spiritual. Menebarkan aroma introspeksi dan refleksi diri dalam nafas religi tanpa harus memaksanya menerobos relung hati. Sederhana tapi manis.

#5 Mad Max: Fury Road (George Miller)


Begitu gahar. Begitu kacau. Begitu gila. Entah apa yang ada dibenak pria tua George Miller saat mencoba menghidupkan kembali franchise lamanya. Karena kegaharan, kekacauan dan kegilaannya ini, padang pasir tandus menjadi panggung aksi dengan ketegangan tingkat tinggi.

#4 Whiplash (Demian Chazelle)


Ambisi dan kesempurnaan seolah tak berbatas bagi manusia. Besar pula harganya. Sampai titik mana itu berhenti, tidak ada yang tahu. Stick drum Andrew telah menelanjangi mindset kita tentang falsafah berjuang sampai titik darah penghabisan. Darinya, (mungkin) kita jadi (sedikit) mengerti.

#3 Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (Alejandro Gonzalez Inarritu)


Saat parade teater menyertakan kritiknya pada panggung hiburan. Cerdas nan menggelitik. Salah satu pencapaian tinggi dalam dunia sinematik lewat aspek teknisnya. One long take yang rumit itu begitu mempesona.

#2 A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence (Roy Andersson)


Apa jadinya jika seekor burung merpati yang bertengger pada sebatang dahan pohon merenungkan kehidupan? Roy Andersson menerjemahkannya dalam sketsa kaya absurditas yang kental aroma kenyinyiran dan kejenakaan yang khas. Tentang hidup, manusia dan eksistensinya.

#1 Inside Out (Pete Docter)


Ketika ide brilian dieksekusi dengan brilian pula. Imajinatif. Namun tak hilang unsur “hati”-nya. Petualangan menyelami isi kepala manusia yang begitu menyenangkan sekaligus mengharukan. Sekali lagi, Pixar menambah deretan panjang karya terbaiknya. [Review]