Wednesday, October 14, 2015

Me and Earl and the Dying Girl (2015): Kematian yang Mendewasakan


Dari judulnya tertulis kata “dying”. Dari premisnya terpatri sebuah penyakit mematikan. Sepintas, kita sudah bisa menebak film ini akan berjalan seperti apa. Polanya mungkin tak jauh dari eksploitasi rasa sakit si penderita yang mengharap belas kasih penonton. Berdepresif ria menunggu ajal menjemput. Formula khas tearjaker pun rasanya sudah pasti dalam genggaman. Namun tenanglah karena sang pencuri perhatian Sundance sebagai Grand Jury Prize dan the Audience Award ini berbeda dari yang kita kira.
Sebagaimana judulnya, film yang disadur dari novel karya Jesse Andrews ini akan lebih banyak bercerita tentang ketiga tokoh utamanya yaitu Greg, Earl dan Rachel dan bagaimana relasi diantara ketiganya. Semenjak scene dibuka pertama kali, kesan yang terlintas adalah quirky. Buat yang akrab dengan karya-karya Wes Anderson, tak ragu rasanya menambatkan film garapan Alfonso Gomez-Rejon pada nama Wes Anderson. Karena memang begitulah adanya. ‘Me and Earl and the Dying Girl’ seperti versi ringan film-film Wes Anderson tanpa menghilangkan jati diri si sutradara.
Ke-quirky-an di awal rupanya berlanjut pada ke-quirky-an lainnya. Yang paling nyata terlihat adalah pada karakter-karakternya. Terutama Greg Gaines (Thomas Mann) sebagai “Me” sang karakter utama yang notebene adalah siswa SMA tingkat akhir yang terlalu takut dengan kehidupan sekolahnya. Punya permasalahan dengan diri sendiri (insecure, self-loathing, socially awkward) dan hubungan sosialnya. Sampai ia terlalu paranoid untuk menyebut teman sebagai “teman”. Greg menjalin persahabatan dengan Earl (Ronald Cyner II) yang tidak terlalu mempermasalahkan sebutan rekan kerja yang disandang Earl dari Greg. Tapi pastinya kita tahu bahwa mereka berdua sahabat baik yang bisa menerima satu sama lain. Kemudian ada Rachel Kusnher (Olivia Cooke) si penderita leukimia stadium empat yang tak sungkan menertawai nasibnya bersama Greg daripada harus terus meratapinya. Karakter pendukung lainpun tak kalah quirky-nya.
Karakter nyentrik Greg turut berkontribusi pada selera menonton filmnya yang anti-mainstream. Bersama Earl ia sering menghabiskan jam makan siangnya menonton film-film klasik dan arthouse. Bersama Earl pula ia sering membuat film-film nyentrik yang merupakan versi sweded dari film-film klasik lainnya. Menyenangkan sekaligus menggelitik melihat judul-judul macam ‘Anantomy of a Murder’ dirubah menjadi ‘Anatomy of a Burger’, ‘A Clockwork Orange’ menjadi ‘A Sockwork Orange’, ‘Eyes Wide Shut’ menjadi ‘Eyes Wide Butt’ dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal ini menjadi hiburan tersendiri terutama buat yang akrab dengan film-film tersebut.
Alih-alih menyajikan tontonan yang depresif, ‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang lebih banyak menyoroti potensi itu dengan cara yang lain. Seringnya malah kita tersenyum dan tertawa melihat celotehan-celotehan masing-masing karakter beserta tingkah polah mereka. Namun disamping itu, film ini tidak sedikitpun kehilangan emosi dan moment dramatisnya. Malah Alfonso Gomez-Rejon memiliki cara yang elit dalam memberi koneksi emosi kepada penontonnya. Dan berhasil menyajikan moment mengharu biru tanpa harus mendramatisirnya secara over. Tapi semuanya terjadi begitu saja, mengalir apa adanya dan kitapun terhanyut akannya. Ditambah scoring Brian Eno dan Nico Muhly yang begitu mengena dalam menghidupkan setiap scene-nya.
‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang bukan seperti drama remaja pada umumnya yang menjadikan penyakit mematikan sebagai premisnya. Sebenarnya semua elemen khas tema seperti ini masih ada, hanya caranya saja yang berbeda dan tak biasa. Dan itu menyenangkan, sekaligus menghangatkan. Terlebih ‘Me and Earl and the Dying Girl’ membawa aura positif dibalik semua getir yang ada. Sisi gloomy kematian dibawanya pada sebuah pelajaran berharga buat karakternya. Menjadikannya lebih dewasa dalam menghadapi hidup dan menghargainya.

0 comments