Saturday, October 31, 2015

Catatan Nonton #Oktober’15

Setelah beberapa waktu agak mulai menurun, sepertinya bulan ini saya mulai menemukan kembali mood menonton film seperti biasanya. Terbukti di edisi ke-22 dari ‘Catatan Nonton’ kali ini jari tangan saya sudah tak bisa menghitungnya. Triwulan terakhir dalam setahun biasanya selalu menghadirkan film-film yang worhted buat ditonton. Dengan kata lain, banyak film-film bagus (yang tidak hanya sekedar hiburan) yang rilis di periode ini. Film-film ramah Oscar pun selalu bermunculan diperiode ini. Khusus bulan Oktober saja, ada cukup banyak film-film yang nongol di bioskop. Sebut saja The Martian, Sicario, The Walk, Crimson Peak dan Bridge of Spies. Film-film tersebut sebenarnya juga muncul dalam daftar film yang saya tunggu tahun ini dipostingan awal tahun. Meski begitu, kenyataannya saya tidak bisa menyaksikan semua film-film itu. Tentunya ada berbagai alasan kenapa itu bisa terjadi. Tapi apapun itu, ini adalah ‘Catatan Nonton’ yang berisi review-review pendek film yang saya tonton selama sebulan ini. Movie of the Month kali ini adalah Crimson Peak-nya Guillermo del Toro yang sukses menyajikan tontonan tercantik sekaligus termegah tahun ini. Dan seperti biasa gambar diambil dari sini.

Tomorrowland (2015) (01/10/15)


Short review:
Diilhami dari salah satu wahana Disneyland, 'Tomorrowland' memang terasa begitu ambisius dengan segala remeh temeh tentang masa depan dan dunia futuristik. Dari luar, 'Tomorrowland' tampak begitu megah dengan visual futuristik yang memanjakan mata. Menghibur? Ya. Menyenangkan? Ya. Namun ketika kita melihat lebih dalam lewat caranya bercerita. 'Tomorrowland' seperti terseok-seok dalam bertutur soal konsep dan ide yang imajinatif yang digelontorkan bersama isu kehancuran bumi dimasa depan. Pesan besarnya mungkin kurang begitu tersampaikan, walaupun Brad Bird telah banyak menceramahi penonton dengan berbagai pikiran positif dan optimis. Eksekusi memang menjadi permasalahan disini.
Skor: 3,25/5

Terminator: Genisys (2015) (01/10/15)


Short review:
Bukan salah penonton jika harus kebingungan sendiri menyaksikan installment terbaru sekaligus reboot dari franchise yang melambungkan nama Arnold Schwarzenegger. Mengusung elemen time travel dan alternate timeline yang bertabrakan menjadi sebuah paradoks memang terlihat cerdas dan rumit disaat bersamaan. Namun itu hanya akan jadi omong kosong belaka jika skrip yang ditulis tidak sebagaimana mestinya. Duo Laeta Karogridis dan Patrick Lussier terlihat malas dalam menjelaskan hukum sebab-akibat yang pasti guna memaparkan bla-bla-bla tersebut. Dan terkesan menggampangkan semuanya dengan dalih "masa lalu telah berubah, begitupun masa depan". Beruntung Alan Taylor masih menyisakan unsur hiburan yang cukup bekerja (meski tidak istimewa) dan menebar homage-homage kecil yang membawa kita bernostalgia dengan ‘Terminator’. Setidaknya, itu menyenangkan (ditambah Emilia Clarke tentunya).
Skor: 3,25/5

Paper Towns (2015) (04/10/15)


Short review:
Ada kehangatan yang begitu kentara melihat adaptasi novel young adult John Green ini. 'Paper Towns' tidak hanya berbicara tentang kisah cinta masa SMA saja, ada kisah persahabatan yang diulik disini. Jika itu belum cukup, tenang, karena 'Paper Towns' memberi selipan misteri dan sebuah perjalanan menyenangkan bersama iringan musik indie yang catchy. Seperti kisah young adult pada umumnya, 'Paper Towns' pun akan membawa unsur pendewasaan yang kalau saya bilang lebih related disini. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tapi ada muatan filosofis yang membuat kitapun ikut merenungkannya bersama ending bittersweet itu. Moment-moment yang terjadi disinipun sedikit banyak membawa kita ikut berkontemplasi ke masa putih-abu dulu. Pun ketika mereka menyanyikan opening song ‘Pokemon Indigo League’ yang seru, lucu dan bikin kangen.
Skor: 3,5/5

The Martian (2015) (05/10/15)


Short review:
‘The Martian’ mungkin agak kurang sesuai dengan ekspektasi awal saya, dimana saya mengharapkan ini akan menjadi tontonan serius dan kelam layaknya ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Dan kalau mau dibandingkan pesona ‘The Martian’ memang masih kalah dari keduanya menurut saya. Tapi jalan berbeda yang ditempuh Ridley Scott adalah jalan yang sangat tepat, terlepas dari novelnya yang juga demikian atau tidak. Setidaknya itu bisa membuat ‘The Martian’ berdiri sendiri tanpa harus terus dikaitkan dengan ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Caranya itu pula yang membuat ‘The Martian’ menyisakan perasaan puas di benak penontonnya. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 3,75/5

Pixels (2015) (10/10/15)


Short review:
Premis ‘Pixels’ memang sudah menjanjikan sesuatu yang menarik ketika pertama kali film ini diumumkan. Meski ada kekhawatiran ketika nama Adam Sandler didapuk sebagai pemeran utama. Maklum akhir-akhir ini nama Adam sudah terdengar sangat ‘membosankan’ melalui judul-judul yang dibintanginya. Dan ditangan Chris Colombus nama Adam Sandler (sepertinya) mulai agak naik lagi nih. Hehe. ‘Pixels’ memang bukanlah tipikal tontonan yang bagus di cerita ataupun karakter, tapi Chris Colombus berhasil menyulap premisnya yang sudah menarik itu menjadi sajian menghibur dan menyenangkan. Terlebih saya belum pernah menyaksikan versi short movie yang menjadi dasar pembuatan film ini. Visualnya juga sangat layak diapresiasi. Dan satu hal lagi (mungkin ini point-nya) bahwa ‘Pixels’ sukses menyajikan moment nostalgia yang manis untuk siapapun yang pernah hidup dengan arcade game.
Skor: 3,5/5

Minions (2015) (11/10/15)


Short review:
I think, siapapun sudah tahu jika ‘Minions’ adalah perwujudan kebiasaan hollywood yang suka mengekploitasi karakter pendukung yang mencuri perhatian penonton. Dan setelah jadi scene stealer di dua seri ‘Despicable Me’ (yang kedua malah mendapat porsi lebih) Minion pun akhirnya mendapat jatah peran utama. Sesungguhnya, selalu ada kekhawatiran terkait hal-hal seperti ini. Menjadikannya sebuah prekuel sekaligus spin-off, ‘Minions’ hadir membawakan origin story-nya. Lantas apalagi yang ingin ditawarkan Illuminations Studios dari si kuning imut ini? Kekhawatiran yang sebelumnya ada memang menjadi terbukti dan beralasan. Pada akhirnya, ‘Minions’ pun tidak menawarkan sesuatu apapun. Kemunculan film inipun semakin menyiratkan secara tegas jika para pembuatnya sengaja meraup pundi-pundi dolar dari makhluk kecil tersebut. Selain memperpanjang usia franchise-nya tentunya.
Skor: 2,75/5

Me and Earl and the Dying Girl (2015) (11/10/15)


Short review:
‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang bukan seperti drama remaja pada umumnya yang menjadikan penyakit mematikan sebagai premisnya. Sebenarnya semua elemen khas tema seperti ini masih ada, hanya caranya saja yang berbeda dan tak biasa. Dan itu menyenangkan, sekaligus menghangatkan. Terlebih ‘Me and Earl and the Dying Girl’ membawa aura positif dibalik semua getir yang ada. Sisi gloomy kematian dibawanya pada sebuah pelajaran berharga buat karakternya. Menjadikannya lebih dewasa dalam menghadapi hidup dan menghargainya. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 4/5

Cop Car (2015) (13/10/15)


Short review:
Opening yang teramat menarik disebuah padang gersang membawa dua bocah yang sedang berjalan-jalan. Melontarkan kata-kata umpatan yang terasa salah tapi juga menggelikan disaat bersamaan. Sebuah mobil polisi tergeletak begitu saja, lengkap dengan kuncinya. Namanya juga anak-anak mereka langsung saja bermain-main dengannya. Membawa mereka pada perjalanan mengemudi pertama yang mungkin juga menjadi yang terakhir. Di tempat lain ada seorang polisi yang sedang melakukan perbuatan yang juga terasa salah dan akhirnya harus kehilangan mobilnya. Dan mulailah pencarian si polisi akan mobilnya sementara para bocah asyik bermain dengan mobil yang ditemukannya. Semua yang terasa salah tapi juga menggelikan disaat bersamaan seperti menjadi fokus utama disini. Dan Joan Watts cukup efektif dalam mengungkapnya. Filmnya memiliki tempo yang lambat tapi entah kenapa tiba-tiba sudah mendekati ujungnya saja. Dengan kata lain, saya menikmatinya.
Skor: 3,75/5

Assasination Classroom (2015) (14/10/15)


Short review:
Apa yang dilakukan Eiichiro Hasumi pada ‘Assasination Classroom’ terbilang cukup tepat. Dia tak sampai hati untuk memodifikasi secara ekstrim fokus dan tone-nya. Menyederhanakannya, mungkin kata yang lebih tepat. Walaupun diluar sana masih banyak yang merasakan perbedaan, itu tidak terlalu bermasalah. Karena memang diperlukan beberapa penyesuaian dari serial 22 episode menjadi film berdurasi 110 menit. Saya pikir, versinya ini masih bisa diterima (dan disukai) baik oleh kalangan fans maupun non-fans. Apalagi modal “menyenangkan” sudah dipunyai ‘Assasination Classroom’ sedari awal. Sayapun menikmatinya. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 3,75/5

Crimson Peak (2015) (19/10/15)


Short review:
Terlepas dari rasa horornya yang kurang menggigit atau romansanya yang kurang emosional, saya sangat menikmati ‘Crimson Peak’ secara utuh. Nama Guillermo del Toro sebenarnya sudah sangat mengisyaratkan bahwa ini bukanlah film horor komersil macam ‘Insidious’ atau ‘The Conjuring’. Lagipula, saya juga tidak pernah mengharapkan tontonan seperti itu saat menonton ‘Crimson Peak’. Justru ‘Crimson Peak’ berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Walaupun memang harus diakui ada beberapa bagian yang kurang. Tapi semua itu seolah begitu mudahnya termaafkan ketika tak henti-hentinya kecantikan dan kemegahan tersaji indah dilayar. Kembali saya terhipnotis oleh karya del Toro seperti yang pernah saya rasakan dalam ‘Pan’s Labyrinth’. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 4/5

Fantastic Four (2015) (27/08/15)


Short review:
Permasalahan internal yang menimpa reboot ‘Fantastic Four’ memang berimbas penuh pada hasil akhir filmnya. Josh Trank yang pernah mengejutkan dunia lewat ‘Chronicle’ ternyata membuat para fanboy naik pitam dengan merevolusi penuh ‘Fantastic Four’. Mulai dari pemilihan cast, pembuatan origin story, sampai tone yang dibuat berbeda. Pun dengan kesenangan yang selalu hadir pada warna bendera Marvel yang kita kenal tak kita temukan disini. Sesungguhnya separuh awalnya masih bisa dinikmati oleh saya ketika Trank membawa sisi drama berbau sci-fi dalam penceritaannya (terlepas dari berbagai kekurangan yang masih terasa). Namun setelahnya adalah sebuah kesalahan yang membuat film ini seolah terpisah antara bagian awal dan bagian akhirnya. Parahnya lagi, bagian akhir inilah yang paling fatal. Bagaimana tidak, Dr Doom yang notabene adalah salah satu villain terkuat dijagat Marvel dibuat lemah tak berdaya dengan membuat pertarungan bodoh semacam itu? Selebihnya, tonton sendiri saja! Karena masih banyak kekonyolan dan kebodohan lainnya.
Skor: 2,25/5

0 comments