Monday, October 5, 2015

The Martian (2015): Humanisme Dibalik Misi Penyelamatan dan Bertahan Hidup


Waktu kecil seringkali kita diajukan pertanyaan dari sekitar tentang cita-cita jika sudah dewasa nanti mau jadi apa? Astronot mungkin menjadi salah satu profesi yang paling diidolakan zaman anak-anak dulu. Astronot itu keren, bisa menjelajahi angkasa raya. Menggapai bintang-bintang. Namun setelah kita mulai besar dan mulai agak mengerti, kita pun tahu dan sadar bahwa menjadi astronot itu tidak semudah seperti yang dibayangkan. Sisi kerennya memang masih ada. Tapi ada konsekuensi mahaberat yang siap menanti tanpa pernah bisa diprediksi. Beberapa film sci-fi telah banyak mengungkapkan kengerian bernama luar angkasa tersebut. Sebut saja Gravity (2013) Alfonso Cuaron dan Interstellar (2014) Christopher Nolan [Review].
Dua film yang saya sebut diatas adalah dua film yang sanggup membawa sisi lain luar angkasa dengan pendekatan yang realistis. Dari keduanya, saya menjadi semakin sadar bahwa menjadi astoronot bukanlah pekerjaan mudah. Teramat sangat mengerikan malah. Kadang saya suka berpikir bagaimana jika harus terombang-ambing di antah berantah itu, sendirian, dengan berbagai kemungkinan buruk yang masih bisa terjadi. Bahkan jika harus meninggal pun entah akan kemana mayatnya nanti.
‘Gravity’ dan ‘Interstellar’ adalah dua film yang sama-sama mengagumkan lewat tangan dingin sutradaranya. Dan setelah berturut-turut dari ‘Gravity’ ke ‘Interstellar’, tahun ini kitapun disuguhi menu yang hampir sama. Ada Ridley Scott, sutradara gaek yang punya track record bagus dalam film sci-fi bertema luar angkasa yang kali ini meminjam kisah dari novel Andy Weir, The Martian. Bukan tentang kecelakaan luar angkasa lagi. Bukan pula tentang perjalanan melintasi galaksi mencari planet yang bisa dihuni manusia. Scott akan menyoroti perjuangan survival seorang manusia yang harus terdampar di planet Mars seorang diri.
Diantara delapan planet dalam tata surya kita, planet Mars mungkin menjadi planet terdepan yang dianggap paling bisa ditinggali setelah bumi. Sejumlah ilmuwan dan peneliti telah acap kali mengemukakan berbagai konsep dan teori yang berkaitan dengan itu. Mulai dari struktur planet Mars yang diperkirakan hampir sama dengan bumi, adanya kehidupan di Mars lewat ditemukannya cairan yang diperkirakan sebagai air, dsb. Walaupun sesungguhnya itu semua masih harus perlu dikaji lebih dalam lagi, tapi kita semua sudah sering berimajinasi dan bertanya-tanya tentang kehidupan disana. Seorang Bob Dylan pun tak ketinggalan mempertanyakannya dalam salah satu lirik lagunya yang berbunyi, is there ilfe on Mars? Dan dalam medium film, sudah bukan hal baru jika planet merah telah mendapat tempat tersendiri dimata mata para sineas.


‘The Martian’ memulai semuanya tanpa basa-basi. Kita langsung diperlihatkan pada sejumlah awak tim dalam misi bernama Ares 3 di Mars yang gersang. Tanpa diduga sebuah badai besar menghadang mengharuskan sang komandan Melissa Lewis (Jessica Chastain) membatalkan misi seketika. Mark Watney (Matt Damon) yang punya pendapat berbeda soal keputusan sang komandan malah mengalami kecelakaan yang membuat dirinya dianggap tewas oleh seluruh rekannya. Dengan berat hati para awak pun meninggalkan mayat Watney terdampar di Mars. Namun apa yang terjadi setelahnya, kita tahu bahwa Mark Watney masih hidup, lebih ironis lagi karena masih hidupnya Mark adalah berkat kecelakaan yang menimpanya.
Dalam pembukaannya, Ridley Scott seolah ingin menunjukkan kembali betapa kejam dan mengerikannya kehidupan diluar bumi. Adegan dalam badai tersebut sangat bisa mendefinisikan pernyataan tadi. Kengerian, keriuhan, hadir bersama dentuman keras dan visual yang ikut membawa suasana menegangkan. Bahkan sampai saat Mark Watney selamat pun kita masih harus menyaksikan pemandangan yang tak menyenangkan. Tak pelak lagi ingatan saya langsung dibawa pada ‘Gravity’ dan ‘Interstellar’. Dan harus saya akui sedikit banyak hal itu membawa ekspektasi yang sama. Meski kenyataannya film ini sangatlah berbeda dengan keduanya.
Mungkin sedari awal Ridley Scott memang sudah sadar bahwa filmnya yang bertema luar angkasa, berurutan pula dengan ‘Gravity’ dan ‘Interstellar’ (yang sudah punya standar sendiri), akan di-compare penonton dengan karya Cuaron dan Nolan. Maka dari itu, terlepas dari sumber aslinya, Ridley memillih mengambil jalan berbeda dengan para pendahulunya. Meninggalkan kesan kelam dan serius yang dilakukan Cuaron dan Nolan, ‘The Martian’ dibawanya pada sajian yang ringan, santai, lucu, sarkastik tanpa sedikitpun menghilangkan unsur sains dan ketegangannya.
Keberhasilan Ridley Scott yang paling terasa disini adalah bagaimana ia bisa membuat timing yang tepat dalam menciptakan setiap moment yang sanggup menarik atensi penonton sebelum jatuh pada jurang kebosanan. Moment-moment santai yang ia ciptakan langsung ditimpa suasana mencekam penuh ketegangan sebelum benar-benar membosankan. Pun begitu ketika urat nadi mulai menegang, Ridley Scott membawanya pada suasana canda penuh tawa yang datang tanpa kita duga. Berulang kali silih berganti. Semuanya terasa tepat waktu. Dan itu menyenangkan.
Matt Damon ternyata tidak sedepresif itu ketika harus tertinggal sendiri di Mars. Berbekal kepintarannya, Mark Watney memang bisa hidup sol demi sol (hari versi Mars) lebih dari dugaan awalnya. Namun dibalik itu, ia adalah seseorang yang selalu berpikir positif, gaya bicara dan guyonannya selalu bisa membuat suasana menjadi sedikit lebih menenangkan. Ia masih sanggup menari-nari disko tatkala orang bumi begitu mengkhawatirkan keadaannya. Ia juga masih sempat berpose ketika diminta Annie Montrose memberikan gambarnya. Performa Matt disini juga layak mendapat apresiasi walaupun ia masih kurang memberi koneksi emosi yang dalam bagi penonton.


‘The Martian’ tidak hanya melulu tentang perjuangan bertahan hidup seorang anak manusia di Mars. Kita juga bisa melihat bagaimana kondisi yang terjadi dibumi ketika tahu bahwa ada saudara mereka yang tertinggal 35 juta km jauhnya dari mereka. Bagaimana mereka juga ikut memperjuangkan keselamatan Mark di Mars sampai bisa kembali ke bumi dengan berbagai cara serta upaya. Meski mereka sendiri sadar bahwa masih ada resiko besar menanti dibalik itu. NASA, media sampai masyarakat luas pun ikut memberi dukungannya. Tak ketinggalan pula rekan Mark di Hermes ikut ambil bagian dalam ini. Pada akhirnya kitapun akan berkesimpulan bahwa ‘The Martian’ itu sangat kaya akan sisi humanisme didalamnya. Menurut saya, malah itulah fokus utamanya.
Berjubelnya karakter disini sedikit banyak memang memberi nilai minus buat ‘The Martian’. Yang paling terasa adalah peran karakter pendukung yang kurang begitu mengena. Saya kadang suka lupa nama mereka siapa dan kepentingan mereka disitu untuk apa. Interaksi yang terjalin antar karakter pun masih kurang mengena menurut saya. Beruntung di bumi masih ada Jeff Daniels, Sean Bean dan Chiwetel Ejiofor, ditambah Donald Glover yang lumayan mencuri perhatian. Sementara di Hermes ada lima orang yang hampir tidak memberikan koneksi apapun ketika mereka berinteraksi satu sama lain. Bahkan saat mereka membuat keputusan untuk menjemput kembali Mark. Sedangkan di garda terdepan kita memiliki Matt Damon yang tanpa performa baiknya, mungkin ‘The Martian’ akan menjadi sajian yang kosong semata.
So, ‘The Martian’ mungkin agak kurang sesuai dengan ekspektasi awal saya, dimana saya mengharapkan ini akan menjadi tontonan space-thriller serius dan kelam layaknya ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Dan kalau mau dibandingkan pesona ‘The Martian’ masih kalah dari keduanya menurut saya. Tapi jalan berbeda yang ditempuh Ridley Scott adalah jalan yang sangat tepat, terlepas dari novelnya yang juga demikian atau tidak. Setidaknya itu bisa membuat ‘The Martian’ berdiri sendiri tanpa harus terus dikaitkan dengan ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Caranya itu pula yang membuat ‘The Martian’ masih bisa menyisakan perasaan menyenangkan di benak penontonnya.