Tuesday, October 20, 2015

Crimson Peak (2015): A Beautiful-Gothic "Love" Story

“Ghosts are real, that much I know. I’ve seen them all my life...”
– Edith Cushing –

Hantu itu nyata. Setidaknya itu yang dipercaya Edith Cushing (Mia Wasikowska). Semenjak kematian sang ibu selagi ia kecil, Edith mulai bisa merasakan kehadiran “mereka” disekitarnya. Keberadaan “mereka” tidak hanya mengganggu ketenangan hidup Edith, lebih dari itu, ada peringatan besar yang sayangnya tak diindahkan Edith. Peringatan yang belakangan akan diketahui berhubungan dengan Sir Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) dan Lady Lucille Sharpe (Jessica Chastain), kakak beradik misterius asal Inggris. Penghuni kastil tua bernama Crimson Peak.
Guillermo del Toro adalah sekian dari sutradara yang memiliki ciri khas dalam karyanya. Film-filmnya selalu diisi dengan desain produksi yang kaya imajinasi bersama karakter-karakter yang unik. Diawal karirnya, ia banyak menampilkan film-film horor yang dipenuhi fantasi imajinatif dengan sentuhan gothic yang kental. Tidak hanya sajian horor pembawa rasa takut semata, ada tema lain yang selalu dihadirkan del Toro dalam film-filmnya. Rasa gothic del Toro memang seperti sudah mendarah daging, ini juga menular pada film-film non-horor del Toro seperti Blade II (2002), Hellboy I & II (2004 & 2008).


Setting dan sinematografi adalah dua hal yang selalu saya suka dari del Toro. Entah kenapa, dua hal ini ditangan del Toro selalu membawa cita rasa yang lain daripada yang lain. Gelap, kelam, gothic, old-fashioned, klasik, unik, aneh, absurd tapi cantik, secantik-cantiknya. Pan’s Labyrinth (2006) adalah contoh paling mudah untuk mendefinisikan itu. Memang selain itu, del Toro pernah membuat Pacific Rim (2013) yang sejujurnya tidak terlalu saya sukai. Tapi aspek visualnya jelas sangat tak layak disebut buruk. Dan seperti ingin kembali ke masa dimana orang-orang mulai mengenal dirinya. Del Toro kembali membawa unsur horor dengan mengedepankan dua aspek tadi dalam ‘Crimson Peak’.
‘Crimson Peak’ jelas bukan sajian horor seperti yang orang-orang umum duga. Ini bukanlah ‘The Conjuring’-nya James Wan yang bisa meneror dan mengejutkan anda dengan beragam jump scare. Walaupun memiliki formula yang sama sebagai haunted house movie dalam wujud kastil tua misterius di Allardale Hall,  tapi sekali lagi ditekankan ini bukanlah horor yang seperti itu. Bahkan unsur horornya sendiri tidak sampai mendominasi walaupun kesannya masih sangat terasa. Bisa dibilang, unsur horor bukanlah tajuk utama disini. Berkaca pula pada dialog Edith yang memuat cerita hantu yang ditulisnya hanya berupa metafora untuk masa lalunya. Dari jauh-jauh hari pun del Toro sudah berujar bahwa ‘Crimson Peak’ lebih tepat disebut sebagai gothic-romance dibandingkan pure horor.


 Kesan yang langsung terlintas dibenak setelah menonton ‘Crimson Peak’ adalah betapa cantik dan megahnya film ini. Bahkan hal ini sudah tercium sedari awal. Lagi dan lagi, Guillermo del Toro sukses menghipnotis mata dengan sajian visual termanis di tahun ini. Dimulai dengan New York abad 19 yang dihiasi temaram kuning keemasan yang terasa begitu melankolik mengiringi permulaan kisah. Kemudian ketika lokasi berpindah ke Cumbria yang semakin mengejawantahkan kata cantik dan megah tadi. Kemegahan terpancar jelas dari kastil tua yang tidak hanya menyimpan aura gelap dan misterius yang kuat tapi juga keindahan disaat bersamaan. Rasa horor pun terpancar jelas dari berbagai simbolisme yang disajikan sisi visualnya. Seperti halnya warna merah pekat yang seringkali bercampur dengan putihnya salju. Bersanding bersama atmosfer kelamnya yang turut diisi lantunan musik yang menghantui.
Sama seperti karya-karya del Toro yang lain, ‘Crimson Peak’ pun masih setia menampilkan karakter-karakter unik dari makhluk rekaannya. Dan yang kebagian jatah kali ini adalah para hantu. Desain para hantu yang memang didominasi CGI ini terasa berbeda dengan hantu versi film horor yang biasanya. Terlihat lebih keren dan saya menyukainya. Apalagi ada satu moment yang mengingatkan saya pada detik terakhir pertarungan Ichigo Kurosaki dan Ulquiorra Schiffer di ‘Bleach’ (anime). Ketika akhirnya Ulquiorra berdispersi menjadi butiran debu sesaat sebelum tangan Inoue menyentuhnya.
Maksimal dan gila-gilaan disisi visual ternyata tidak berbuah manis pada narasi dan plotnya. Seolah dikorbankan, aspek yang satu ini memang seperti terpinggirkan. Tidak buruk sebenarnya, saya pun masih menikmatinya. Namun untuk yang berekspektasi lebih, mungkin akan sedikit kecewa. Terlebih aura horor yang mungkin sudah terpatri dibenak penonton diawal (mengingat film inipun berlabel horor) terasa kurang menggigit. Sisi drama yang terjalin lewat romansanya sebenarnya tidak terlalu buruk juga, hanya kurang maksimal saja. Sehingga emosi yang ingin dihadirkan kurang begitu mengena dihati. Twist psikologis-nya juga sedikit mudah ditebak. Dan tak seperti yang saya kira, Mia Wasikowska dan Tom Hiddleston ternyata tidak menunjukkan performa terbaiknya. Beruntung, Jessica Chastain menambalnya dengan penampilan memukau penuh kesan.


Tiga perempat babak ‘Crimson Peak’ memiliki tempo dan tone yang cukup lambat. Faktor ini pula yang (mungkin) membuat para penonton lain teralihkan fokusnya dari layar dengan tak sungkan berlalu lalang, ngobrol atau main smartphone. Mungkin mereka mulai sadar bahwa ‘Crimson Peak’ bukanlah film horor yang diekspektasikan mereka. Tentu, ini tidak berlaku buat saya yang sedari awal sudah terhipnotis oleh ini. Pace yang lumayan lambat itu akhirnya berubah haluan diseperempat babak akhirnya. Simbol merah pekat yang sedari awal muncul mulai bertransformasi menjadi tragedi menegangkan penuh darah. Unsur gore dan kesadisan sangat terasa lewat tusukan-tusukan benda tajam yang cukup memberi perasaan ngeri dalam benak. Anak-anak dibawah umur tidak disarankan menonton film ini.
Terlepas dari rasa horornya yang kurang menggigit atau romansanya yang kurang emosional, saya sangat menikmati ‘Crimson Peak’ secara utuh. Nama Guillermo del Toro sebenarnya sudah sangat mengisyaratkan bahwa ini bukanlah film horor komersil macam ‘Insidious’ atau ‘The Conjuring’. Lagipula, saya juga tidak pernah mengharapkan tontonan seperti itu saat menonton ‘Crimson Peak’. Justru ‘Crimson Peak’ berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Walaupun memang harus diakui ada beberapa bagian yang kurang. Tapi semua itu seolah begitu mudahnya termaafkan ketika tak henti-hentinya kecantikan dan kemegahan tersaji indah dilayar. Kembali saya terhipnotis oleh karya del Toro seperti yang pernah saya rasakan dalam ‘Pan’s Labyrinth’.

0 comments