Tuesday, August 25, 2015

Inside Out (2015): Melihat Isi Pikiran, Merenungkannya Kemudian

Do you ever look at someone and wonder,
“What’s going on inside their head?”

‘Inside Out’ adalah film animasi yang paling saya tunggu tahun ini (dan wajib hukumnya untuk ditonton). Tapi saya sangat kecewa ketika tahu jadwal tayang ‘Inside Out’ di Indonesia mengalami penundaan, bahkan sampai dua bulan lamanya (Oh, why?). Yang lebih mengecewakan lagi adalah ‘Minions’ yang jelas-jelas hanya mau mengambil keuntungan dari kepopuleran namanya malah mengambil jatah tayang lebih awal di Indonesia (ah, kenapa film bagus selalu kalah dari film populer?).
Pixar is BACK! Ya, studio penghasil animasi berkualitas dan inovatif ini telah kembali setelah 5 (lima) tahun lamanya. Waktu lima tahun memang bukan berarti Pixar tanpa karya, kita sudah menyaksikan Cars 2 (2011), Brave (2012) dan Monster University (2013). Namun bisa dibilang film tersebut seperti penurunan kualitas dari nama sebesar Pixar yang seperti kehabisan ide out of the box-nya. Toy Story 3 (2010) praktis jadi paling terakhir yang membuat kita benar-benar berteriak, “yeah, that’s Pixar!” Dan tahun 2015 ini, mereka kembali dengan sebuah premis segar tentang emosi manusia. Dibawah komando Pete Docter (Monster Inc., Up) dan kolega, Del Carmen kita diajak berpetualang dan menjelajahi isi pikiran manusia dari kacamata anak 11 tahun.


Manusia mengalami berbagai fase dalam hidupnya sebelum ia benar-benar membentuk identitasnya sendiri sebagai seorang manusia atau biasa disebut dewasa. Fase remaja menjadi fase paling riskan dalam hidup manusia. Fase dimana secara pola pikir sudah bukan anak-anak lagi tapi disisi lain masih belum matang secara emosi. Pergolakan-pergolakan batin terhadap berbagai hal sering terjadi pada fase ini. Pete Docter mencoba menggambarkannya dengan gamblang dalam ‘Inside Out’, meski kalau dilihat lagi ‘Inside Out’ lebih menitikberatkannya pada fase pra-puber.
Pete Docter memperoleh ide ‘Inside Out’ ketika melihat anak(baru gede)-nya mengalami perubahan drastis secara emosional. Ide yang kompleks dan rumit seperti ini terasa ambisius disaat bersamaan, maka tak heran bila Pete butuh waktu setidaknya lima tahun untuk benar-benar mematangkan idenya menjadi bentuk animasi. Butuh riset terus-menerus untuk bisa menuangkan isi pikiran manusia yang begitu rumit menjadi sesuatu yang menyenangkan tapi juga tidak terlampau absurd. Dan setelah periode panjang itu, lahirlah Joy, Sadness, Fear, Anger & Disgust yang mewakili emosi dasar dalam diri manusia.
 Sebuah pertanyaan provokatif memulai narasi ‘Inside Out’ diikuti penampakan bayi mungil nan lucu. Bayi yang kemudian diberi nama Hely Riley ini mengalami masa anak-anak yang menyenangkan. Berbagai moment telah ia lewati bersama keluarga, teman dan hal-hal yang disukainya. Dibawah kendali Joy, semua terasa indah dan baik-baik saja. Hingga di usianya yang ke-11, Ayah Riley memutuskan untuk pindah rumah. Dan sudah bisa ditebak, dari sinilah semua bermula.
Ada dua plot yang dihadirkan disini. Plot utama adalah isi pikiran Riley sedangkan subplot-nya adalah kehidupan Riley sendiri didunia nyata. Isi pikiran Riley mulai mengalami kekacauan semenjak keluarga Riley pindah rumah. Hal ini secara langsung berimbas pada tingkah laku Riley di kehidupan sehari-hari. Kelompok emosi pimpinan Joy ini mulai kebingungan ditengah keadaan yang ada, permasalahan-permasalahan mulai menghadang jiwa Riley yang masih dalam usia labil. Belum lagi Sadness mulai merasa terisolasi dari kelompoknya dan merasa kehadirannya tak berguna. Membuatnya berusaha untuk tampak berguna dan lebih berperan dimata teman-temannya. Sampai sebuah insiden membawa kita pada petualangan menjelajahi isi kepala manusia.


Menonton ‘Inside Out’ seperti sedang mengikuti satu mata kuliah psikologi yang dibawakan dosen bernama Pete Docter dan asistennya Del Carmen. Yang menjabarkan isi pikiran manusia dengan teori-teori yang imajinatif. Imajinatif karena kita tidak akan menemukan struktur otak, sel-sel syaraf, atau apapun yang tampak rumit itu. Yang ada adalah sebuah semesta penuh warna dalam kepala manusia yang tetap masuk akal dalam mengejawantahkan setiap detail prosesnya. Inti ingatan, ingatan terlupakan, khayalan, imajinasi, proses mimpi, alam bawah sadar, dsb menjadi ajang travelling yang fun untuk diikuti. Soal kualitas gambar, jelas Pixar bukanlah nama yang pantas untuk diragukan. Semakin terasa hidup dengan para pengisi suara yang berhasil menghidupkan karakter emosi yang ada. Terutama untuk Amy Poehler (Joy) dan Phyllis Smith (Sadness) yang memang punya peran lebih disini.
Mungkin premis ‘Inside Out’ akan terasa berat bagi anak-anak. Namun bukan berarti tak ramah untuk mereka. Melihat keseruan yang tersaji bersama desain karakter yang lucu rasanya sudah cukup menyenangkan bagi anak-anak. Toh para penonton dewasa juga bisa dengan mudah menjelaskan tanya dibenak para penonton cilik. Berlainan dengan hal itu, ‘Inside Out’ terasa lebih personal bagi penonton dewasa. Karena lewat ‘Inside Out’ kita tidak hanya diajak melihat isi pikiran manusia. Kita diajak memahami, menyelaminya lebih dalam dan merenungkannya kemudian. Bahwasanya ketika masih kecil imajinasi kita tak tak terbatas dan kitapun bersengan-senang dengannya. Namun seiring beranjak dewasa semua itu perlahan terlupakan. Bahwasanya pergolakan batin ketika mulai beranjak dewasa sering menghinggapi diri yang labil. Tak jarang kita menutup-nutupi perasaan dan emosi yang ada. Padahal tak ada salahnya bersedih sementara sebelum senang datang kemudian. Bahwasanya semua emosi itu adalah harmoni dalam diri manusia. Yang mana itu semua merupakan karunia Tuhan yang wajib kita syukuri.
‘Inside Out’ adalah alasan kenapa Pixar telah kembali. Karenanya, Pixar berhasil mengembalikan hakikatnya sebagai studio animasi spesialis pengaduk emosi dan perasaan, yang kaya akan pesan moral namun ramah untuk semua usia. Disinilah kita kembali merasakan pengalaman menonton yang luar biasa. Bisa tertawa dengan guyonan-guyonannya, entah bagian verbal ataupun bagian slapstick-nya. Mencintai karakter-karakternya yang colourful. Kagum dengan apa yang tersaji di layar. Dan seperti diajak naik roller coaster, kitapun diajak bermellow-mellow ria ketika layar membawa aura melankolis yang tak bisa disangkal rasa. Pixar memang selalu punya hati untuk film-filmnya. Awesome!

0 comments