Thursday, August 27, 2015

Catatan Nonton #Agustus’15 (Spesial Film Indonesia)

Siapa bilang film Indonesia itu gak layak tonton, jelek atau apalah. Siapa bilang Indonesia ‘gak punya film bagus?
Walaupun memang (dan gak bisa bohong) masih ada film Indonesia yang jeleknya ‘gak ketulungan’ (bahkan kita pernah mengalami masa suram ini, film-film yang berhasil membunuh, merusak, menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap film-film Indonesia, dan anehnya ntu film bisa tayang di bioskop tanah air, lebih anehnya lagi koq ada yang nonton ya?). Beberapa diantaranya juga masih ada yang berasa FTV yang setiap hari nongol di TV. Tapi makin kesini (kelihatannya) kadar kejelekan yang pernah dialami di masa suram itu mulai berkurang (walaupun masih ada, tapi setidaknya berkurang kan?).
Ok cukup, jadi post ‘Catatan Nonton’ edisi kali ini sedikit berbeda dengan biasanya. Edisi yang saya sebut sebagai edisi spesial. Asik! Sebelumnya saya juga pernah membuat edisi spesial yang saya dedikasikan untuk Kristen StewartTssahh! Dan kali ini, bukan untuk Kristen Stewart atau aktris yang saya suka lainnya, kali ini saya mau ngobrolin film Indonesia. Saya tahu hari film nasional jatuh pada tanggal 30 Maret namun tidak ada salahnya jika di bulan kemerdekaan RI ini kita juga mulai semangat baru untuk mencintai film-film nasional.
Seperti yang saya singgung di awal, siapa bilang Indonesia nggak punya film bagus. Kalau kita jeli dan mau berusaha nyari jarum dalam tumpukan jerami, sebenarnya banyak koq film-film Indonesia yang masuk kategori bagus. Hanya saja, kadang kita sendiri sering tutup mata, hati dan telinga akan film-film Indonesia. Sehingga film-film Indonesia yang bagus hanya nongol selewat saja. Kita ambil contoh beberapa waktu lalu, ‘Mencari Hilal’ yang bisa dibilang paling bagus secara kualitas kalah dari film-film yang rilis berbarengan dengannya (tanpa mendeskreditkan film lainnya, tentunya). Bahkan jatah tayangnya paling sebentar, penontonnya sudah pasti, paling sedikit. Selain juga karena kalah pamor dari film-film luar, apalagi kemarin ada ‘Ant-Man’.
Fenomena yang terjadi pada ‘Mencari Hilal’ memang bukan barang baru. Beberapa tahun ke belakang kasus seperti ini sering dialami film yang masuk kategori bagus di Indonesia. Ambil contoh, Minggu Pagi di Victoria Park (2010) atau Sang Penari (2011) yang ternyata tidak mendapat apresiasi positif dari para penonton (dengan jumlah penonton yang sedikit), dan kalah dari film-film horor yang tidak berperikehantuan. Beberapa pengalaman teman nonton ‘Minggu Pagi di Victoria Park’ malah lebih parah, satu studio hanya diisi 5 orang saja. Dalam kasus ‘Mencari Hilal’, saya tidak menyalahkan film yang rilis berbarengan dengannya, toh ‘Comic 8: Casino Kings Part 1’ masih menghibur. ‘Surga Yang Tak Dirindukan’, film drama dengan embel-embel religi stereotype ini tetap layak ditonton. Hanya saja, film-film macam ‘Mencari Hilal’ seharusnya juga mendapat respon yang lebih dari masyarakat Indonesia. Katanya ingin tontonan bagus, giliran dikasih malah dibiarkan lewat saja.
Hasrat menonton film Indonesia yang kurang memang bukan tanpa alasan. Saya yakin salah satunya adalah karena masa suram yang pernah kita alami, dimana pelaku industri film yang tak bertanggungjawab dengan sekarep dewek mengeksploitasi hantu-hantu Indonesia,  membawa aktris p****o populer dari luar, menyajikan komedi *esek-esek* yang sudah tidak ada lucunya selain kebodohan-kebodohan yang membodohi para penontonnya. Tapi anehnya ketika saya cari jumlah penontonnya, ternyata lumayan juga. Lah?
Efek dari masa suram itu tentunya membuat otak kita tereksploitasi karena skeptis terhadap film nasional. Ujung-ujungnya adalah dengan tanpa alasan yang jelas kita sudah men-judge dari awal bahwa film Indonesia itu jelek tanpa pernah kita riset dahulu. Kita juga menjadi takut dikecewakan sama film Indonesia. Jadi buat apa nonton film Indonesia bila tidak memuaskan, mending nonton film luar yang setidaknya bisa menghibur dari sisi visual, toh bayarnya juga sama. Lagipula jika kita ingin nonton film Indonesia tinggal menunggu slot tayangnya di TV yang nggak nyampe setahun dari perilisannya di bioskop.
 Permasalahan film Indonesia yang sepi penonton memang sudah menjadi bahasan di industri ini. Dari data yang ada, jumlah penonton Indonesia juga semakin berkurang setiap tahunnya. Satu-satunya prestasi penonton paling banyak adalah tahun 2008 yang menobatkan ‘Laskar Pelangi’ sebagai film terlaris Indonesia dengan 4.63.841 penonton. Diapit ‘Ayat-ayat Cinta’ dengan 3.581.947 penonton. Dari situs filmindonesia.or.id tercatat film yang mampu menembus angka 3 juta penonton hanya ada 4 buah. Termasuk yang dua tadi, sisanya adalah Habibi & Ainun (2012) dengan 4.488.889 penonton dan Ketika Cinta Bertasbih (2009) dengan 3.100.906 penonton. Ada satu hal yang didapat dari keempat film ini yakni tema. Ya mungkin tema seperti keempat film tersebut masih menjadi favorit penonton Indonesia. Tak heran bila ‘Surga Yang Tak Dirindukan’ menjadi yang terlaris tahun 2015 sejauh ini.
Permasalahan penonton yang sepi di Indonesia juga bukan lah perkara sederhana. Kalau dibilang jaringan bioskop Indonesia yang diskriminatif terhadap film Indonesia tidak bisa dibilang salah juga. Bioskop itu bisnis. Dimana-mana bisnis inginnya untung, tentu mereka harus bisa untung dengan menayangkan film-film yang diminanti penonton. Mereka juga kan harus membayar para karyawan, membayar listrik, merawat studio, dsb. Maka dari itu, akan menjadi logis ketika film yang sepi penonton akan segera tutup layar. Walaupun ya film-film bagus juga yang harus jadi korbannya???
Lebih lanjut, banyak para penonton film yang tidak bisa menyaksikan film di bioskop karena bioskopnya memang tak ada. Seperti daerah saya. Sebelum saya kuliah di Bandung, saya jarang sekali nonton film di bioskop. Saya masih ingat waktu SMA harus bela-belain ke luar kota hanya untuk nonton film, itupun harus masa libur sekolah. Lebih jauh lagi, permasalahan kenapa masyarakat Indonesia tidak mau nonton film Indonesia adalah faktor ekonomi. Ya, masyarakat kita belum sejahtera. Jangankan untuk nonton film, buat makan saja susah. Menonton film itu bayar dan bayarnya lumayan mahal, minimal Rp 25.000,00. Itupun masih terbilang jarang bioskop yang memasang tarif demikian.
 Cerita ngalor-ngidul tentang film Indonesia dan permasalahannya memang sangatlah kompleks dan tak akan ada habisnya. Apalagi dari kacamata awam seperti saya yang tak punya kualifikasi sama sekali soal ini. Namun biarpun begitu, saya mau mendedikasikan ‘Catatan Nonton’ kali ini untuk ngobrolin film Indonesia. Bukan untuk apa, saya hanya ingin mengajak para penonton untuk membuka matanya sama film Indonesia. Sayapun dulu demikian, skeptis sama film Indonesia. Namun setelah dicari, banyak juga ternyata film bagus di Indonesia, hanya saja gaungnya yang tidak terlalu terdengar buat masyarakat kebanyakan. Di edisi 21 ‘Catatan Nonton’ kali ini, saya merangkum film-film yang menurut saya masuk kategori bagus dalam film Indonesia di era 2000-an. Jadi sudah jelas ini adalah versi saya (selera saya). Siapa tahu jika film-film yang saya sebut dibawah ini bisa memberi wawasan buat para penonton dan membentuk selera menonton itu sendiri. Sehingga nantinya bisa selektif dalam memilih film dan bisa apresiatif terhadap film-film Indonesia yang memang bagus dan berkualitas. Jadinya tidak terulang lagi film macam ‘Mencari Hilal’ buru-buru tutup layar.
Dan berikut daftarnya.

Honorable Mentions:
Puisi Tak Terkuburkan (2001), Ca-Bau-Kan (2002), Eliana, Eliana (2002), Gie (2005), Belahan Jiwa (2005), Ruang (2006), Kamulah Satu-Satunya (2007), Kuntilanak 2 (2007), 3 Doa 3 Cinta (2008), Claudia/Jasmin (2008), Laskar Pelangi (2008), Cin(T)a (2009), Identitas (2009), Jamilah dan Sang Presiden (2009), Perempuan Berkalung Sorban (2009), Ruma Maida (2009), Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010), Hari Untuk Amanda (2010), 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011), ? (2011), Batas (2011), The Mirror Never Lies (2011), Modus Anomali (2012), Tanah Surga, Katanya (2012), Soegija (2012), 9 Summers 10 Autumns (2013), Belenggu (2013), Sokola Rimba (2013), Tampan Tailor (2013), Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014), Mari Lari (2014), Killers (2014), The Raid 2: Berandal (2014), Hijab (2015), Kapan Kawin (2015), Toba Dreams (2015).

#1 Petualangan Sherina (2000) – Riri Riza


Masa dimana Lembang begitu asri. Masa dimana Bosscha menjadi tempat yang ingin dituju. Masa dimana masa kecil begitu menyenangkan. Petualangan seru berpadu bersama iringan musik yang menyenangkan.

#2 Pasir Berbisik (2001) – Nan Achnas


Kegetiran dibalik personifikasi indah dalam balutan visual tak kalah indah. Dian Sastro mempersembahkan penampilan terbaiknya yang penuh pesona.

#3 Jelangkung (2001) – Rizal Mantovani


Ritual etnik asli Indonesia yang mampu menjadi sajian paling horor dimasanya. Ikut ambil bagian dalam generasi kebangkitan film nasional.

#4 Ada Apa dengan Cinta? (2002) – Rudi Soedjarwo


Seberapa seringnya menonton AADC, rasanya tak pernah sekalipun rasa bosan melanda, melihat geng cinta dan Rangga dengan puisinya. Film romantis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

#5 Arisan! (2003) – Nia Dinata


Saya sebenarnya hampir muntah melihat Tora Sudiro dan Surya Saputra beradegan .... (ehhm), ah sudahlah. Tapi bukan itu point-nya, karena Nia Dinata ingin bernyinyir-nyinyir ria pada kehidupan sosialita kota besar yang terlihat bahagia diluar namun menyimpan kepahitan didalamnya. Dan berhasil. Well done!

#6 Janji Joni (2005) – Joko Anwar


Film memang dunianya Joko Anwar. ‘Janji Joni’ seolah menjadi bukti kecintaannya pada film. Membawa cerita film dari sisi yang tak terpikirkan. Film menyenangkan dengan kumpulan cameo-nya yang bejibun.

#7 Catatan Akhir Sekolah (2005) – Hanung Bramantyo


Film tentang film yang sangat menyenangkan. Seru dan sangat menghibur. Trio Agni, Alde & Arian akan selalu terkenang sebagai trio putih-abu paling “kongkrit” sepanjang masa.

#8 Realita, Cinta & Rock ‘n Roll (2006) – Upi Avianto


“Ngeband itu bukan hobi tapi cita-cita!” Ah, saya masih ingat saja kalimat itu sampai saat ini. Satu sisi dimana warna putih-abu masih begitu bergolak menyuarakan teriakannya. Let’s Rock!

#9 Berbagi Suami (2006) – Nia Dinata


Omnibus tentang isu yang mungkin sangat dibenci mayoritas kaum hawa, poligami. Namun disini Nia Dinata bukan untuk meneriakkan ketidaksetujuan pada poligami, tapi lebih mengajak kita untuk melihat lebih dalam lagi tentang poligami itu sendiri. Satirikal.

#10 Opera Jawa (2006) – Garin Nugroho


Sebuah kasus langka dalam dunia perfilman tanah air. Teatrikal eksotis menyoroti kebudayaan masyarakat Jawa. Cantik.

#11 Jomblo (2006) – Hanung Bramantyo


Di awal karirnya, Hanung Bramantyo banyak menghadirkan film-film ringan menghibur namun tetap memiliki kesan tak terlupakan. Salah satunya ini. Yang  jomblo mana suaranya???

#12 3 Hari untuk Selamanya (2007) – Riri Riza


Perjalanan sederhana 3 hari Jakarta-Jogja bersama dua anak muda baru gede yang mengasyikan. Obrolan ngalor-ngidul yang jujur dan begitu dekat dengan keseharian, membuat kitapun ikut berpikir.

#13 Naga Bonar Jadi 2 (2007) – Deddy Mizwar


Tanpa harus berceramah soal nasionalisme, ‘Naga Bonar Jadi 2’ sudah bisa menyentuh sisi nasionalisme itu sendiri dimata penonton. Inspiratif. Dan tak hilang unsur hiburannya.

#14 Kala (2007) – Joko Anwar


Sebuah kemasan neo-noir di antah berantah dengan balutan mitologi lokal. Drama kriminal yang begitu menarik hati.

#15 The Photograph (2007) – Garin Nugroho


Potret-potret emosionil balada dua anak manusia kesepian berbeda latar. Touching!

#16 Quickie Express (2007) – Dimas Djayadiningrat


Film komedi dewasa yang vulgar tapi tidak vulgar (nah lho?!). Konyol tapi tetap elit dengan naskahnya. Sangat menghibur. Btw, Sandra Dewi cantik banget disini!

#17 Mereka Bilang, Saya Monyet! (2007) – Djenar Maesa Ayu


Penuh simbolisme dan metafor. Dan Titi Sjuman.., ternyata tidak hanya pandai membuat musik, dia juga bisa menunjukkan performa akting yang prima.

#18 Fiksi. (2008) – Mouly Surya


Eksplorasi sisi tergelap dan terdalam manusia. Begitu dingin, begitu sepi, begitu suram, begitu menghantui.

#19 Under the Tree (2008) – Garin Nugroho


Giliran magisnya Bali yang menjadi perhatian Garin Nugroho untuk menunjukkan sisi metafornya. Pesan tersirat pada sebuah ‘pohon’. Filosofis.

#20 Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) – Edwin


Film yang menyentil isu diskriminasi agama dan ras dengan begitu satir. Menelanjangi bobroknya sebuah moralitas.

#21 Pintu Terlarang (2009) – Joko Anwar


Saya tidak bisa berbicara apapun tentang ‘Pintu Terlarang’ selain film ini “GW BANGET!!!” Salah satu film favorit saya.

#22 Jermal (2009) – Ravi Bharwani, Rayya Makarim, Utawa Tresno


‘Jermal’ menerjemahkan hubungan ayah-anak yang membumi dalam balutan nuansa lokal yang kentara. Mengharukan dengan segala hal didalamnya.

#23 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010) – Benni Setiawan


Isu yang cukup sensitif tidak menjadikannya menjadi tontonan berat. Meski konfliknya kurang begitu dalam, namun sanggup membawa sedikit renungan ketika menontonnya.
P.S. film ini rilis waktu saya masih SMA dan saat itu saya sedang senang-senangnya sama Laura Basuki, aktris utama film ini. Tak ada hubungannya juga sih sebenarnya. Haha.

#24 Minggu Pagi di Victoria Park (2010) – Lola Amaria


Tema yang jarang diangkat para sineas tanah air. Dibalik cerita drama kakak-adiknya yang menawan, ada pesan besar yang ingin disampaikan Lola Amaria kepada semua orang dari para pahlawan devisa dinegeri orang.

#25 Sang Penari (2011) – Ifa Isfansyah


Seperti halnya tari ronggeng itu sendiri, ‘Sang Penari’ menyajikan liukan gemulai penuh keindahan, namun menyimpan kepedihan dibaliknya. Kisah pahit dua insan yang tak bersatu.

#26 The Raid (2012) – Gareth Evans


Keterbatasan yang dipunyai film ini justru sanggup memaksimalkan aspek lainnya. Premis boleh sederhana, tapi sebelum ini, kita tak pernah menonton film action Indonesia segahar ini. Film action Indonesia telah naik level dengan ini.

#27 What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013) – Mouly Surya


Sebuah drama romansa pahit-manis para penyandang disabilitas. Karenanya kita menjadi semakin sadar bahwa cinta memang milik semua orang.

#28 Tabula Rasa (2014) – Adriyanto Dewo


Sederhana tapi manis. Begitulah adanya. Film yang sanggup menggoyang lidah. Gulai kepala ikan kakap.., rasanya pernah tak berhenti menggugah selera.

#29 Filosofi Kopi (2015) – Angga Dwimas Sasongko


Adaptasi karya Dewi Lestari paling mumpuni, dalam racikan tangan dingin barista Angga Dwimas Sasongko. Seperti menikmati sensasi secangkir kopi tiwus Pak Seno yang dibuat dengan penuh cinta. Perfecto!

#30 Mencari Hilal (2015) – Ismail Basbeth


Seolah masih terhipnotis oleh pesonanya ketika layar mulai menghitam. Perjalanan spiritual yang emosional. Begitu mengesankan.

0 comments