Thursday, September 3, 2015

Resensi Buku: Catatan Akhir Kuliah 2.0


Sebelumnya, ‘Catatan Akhir Kuliah’ telah selesai saya baca dan sudah di review pula secara amatir (lihat disini). Buku yang mencurahkan kegalauan seorang mahasiswa telat lulus dengan skripsinya yang tak selesai-selesai ini (walaupun pada kenyataannya lebih banyak curhat soal cewek idamannya dibanding urusan skripsi) telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul sama beberapa waktu lalu. Namun maaf saya tidak menontonnya (walau sudah baca bukunya). Maklum saja, saya memang masih pilih-pilih untuk urusan nonton film di bioskop.
Mungkin benar adanya jika hidup ini adalah tentang pertanyaan “kapan?” Dan hidup ini adalah tentang bagaimana kita berani dan bisa menjawab serta membuktikan pertanyaan “kapan?” tersebut. Sam (@maulasam) kembali membawa ide ini dalam buku keduanya. Setelah berhasil menjawab pertanyaan kapan lulusnya dengan wisuda. Kini ia kembali dihadapkan pada pertanyaan tingkat lanjut yang sudah naik level dari sebelumnya.
Menjadi seorang fresh graduate memang bukan perkara sederhana. Menjadi fresh graduate bukan berarti hidup kita akan lebih terjamin karena telah lulus dari universitas. Justru inilah awal dari kita memulai segalanya. Disinilah kita dihadapkan pada berbagai dilema dan problematika hidup yang akan kita hadapi. Lika-liku hidup pada fase ini menurut saya sangat menarik dan potensial. Tak salah bila Sam membawa premis ini untuk buku keduanya. Dengan genre humornya, harusnya buku ini bisa jadi bacaan menyenangkan.
Harus saya akui, saya cukup senang dan terhibur ketika membaca sepertiga bagian awal buku ini. Selain kembali diajak bernyinyir-nyinyir ria dan menertawakan diri sendiri, kita juga diajak merenung dan berpikir tentang pilihan apa yang akan kita pilih selepas lulus nanti. Cukup menyenangan buat saya. Quotable pula. Gaya penulisannya mungkin tidak berbeda jauh dengan yang pertama. Namun di ‘Catatan Akhir Kuliah 2.0’, saya merasa penulis telah mengalami banyak perubahan. Seperti ada pendewasaan dalam tulisannya. Saya merasakan sekali hal itu. Setidaknya di sepertiga bagian awal yang boleh saya bilang sebagai bagian terbaik dari ‘Catatan Akhir Kuliah 2.0’.
Namun seperti yang saya sesalkan dari buku pertamanya. Penulis kembali membawa kisah asmaranya yang selalu membuat interest saya menurun. Dan lagi, kisah asmara ini bertindak lebih seperti inti isi buku dibanding bertindak sebagai pendukungnya. Kembali merasa dejavu dengan ketidakkonsistenan bertutur jika melihat premisnya. Kadang saya berpikir, jangan-jangan premis galau sebelum lulus dan galau sesudah lulus disini hanya kamuflase untuk menutupi premis besarnya, galau soal asmara. Beruntungnya penulis begitu mengagung-agungkan status jomblo. Salute for u, man!
Actually, saya tidak benci kisah asmara dalam sebuah buku. Tapi.., nggak tahu ya, saya tidak terlalu tertarik dengan kisah asmara di buku ini. Mungkin terasa kurang pas saja dengan materi dan premis bukunya yang sesungguhnya begitu potensial. Dan jujur, saya tidak pernah ingin tahu kelanjutan hubungan Sam dan kodok yang kata orang membuat penasaran. Malah saya tak peduli sama sekali untuk urusan itu. Tapi memang harus saya sadari jika kisah asmara masih jadi primadona jualan paling ampuh dinegeri ini.
Permasalahan-permasalahan umum selepas lulus kuliah yang diangkat disini adalah bagian paling menyenangkannya. Sederhana tapi begitu personal. Permasalahan susahnya mencari kerjaan (apalagi dengan IPK seadanya), ketakutan akan menjadi pengangguran, permasalahan batin sama diri sendiri karena harus mengadu idealisme dan realitas, permasalahan dengan orang tua mainstream yang suka berekspektasi sekenanya, permasalahan dengan lingkungan sekitar tatkala melihat sarjana baru, permasalahan dengan timeline socmed yang isinya kesuksesan teman-teman yang bikin ngenes dan seabrek permasalahan lain selepas resmi menyandang gelar sarjana, sangatlah menarik untuk diangkat. Sayang itu hanya diawal saja. Seandainya buku ini lebih memfokuskan problematika itu, menggalinya lebih dalam dan mengesampingkan asmara penulis hanya sebagai pemanis saja, saya yakin ‘Catatan Akhir Kuliah 2.0’ akan jauh lebih menyenangkan. Apalagi dengan gaya humor sekarepdeweknya (yang tak pernah saya pedulikan garing atau nggak-nya).
Overall, ‘Catatan Akhir Kuliah 2.0’ tidak jauh berbeda seperti buku pertamanya. Tetap ringan dan santai. Masih menawarkan curhatan random seorang Sam Maulana dengan gaya humornya. Bedanya, ‘Catatan Akhir Kuliah 2.0’ tidak berurusan lagi dengan skripsi, melainkan setelahnya, persoalan yang jauh lebih gede. Premisnya (sesungguhnya) begitu potensial untuk menjadi bacaan yang menyenangkan. Namun sayang kisah asmara kembali merampok potensi itu. Sepertiga awal adalah bagian terbaiknya.

0 comments