Sunday, August 2, 2015

Crazy Little Thing Called Love (2010): Balada Pemuja Rahasia

Saya sebenarnya sudah lama nonton film ini, bahkan lebih dari sekali (What? Are you serious?). Ya memang begitulah adanya. Secara genre maupun asal negaranya, memang bukan termasuk golongan film incaran untuk ditonton. Awalnya malah sempat tak tuntas karena ceritanya terasa begitu membosankan. Setelah menguatkan hati, akhirnya ‘Crazy Little Thing Called Love’ bisa saya selesaikan. Malah sempat saya tonton kembali tatkala bosan melanda. Makanya, saya tak tahan untuk menuliskan sesuatu tentang film ini. Terlebih ‘Crazy Little Thing Called Love’ bercerita tentang secret admirer. Tema yang #hufft banget!
Di Indonesia, film-film Thailand itu cukup digemari. Terutama film romcom dan horor. Letak geografis yang dekat menyebabkan budaya dan tradisinya tidak jauh berbeda dengan negara kita, membuat film Thailand lebih relate dengan masyarakat Indonesia. Ditambah Thailand punya cukup faktor menyenangkan dalam film-filmnya. Kecuali aksennya yang kadang bikin ilfeel. Judul-judul macam ‘SuckSeed’, ‘ATM Error’, ‘Hello Stranger’, ‘I Fine Thank You Love You’ dan ‘Crazy Little Thing Called Love’ sendiri, pasti tak asing ditelinga orang-orang. Saya sendiri baru nonton ‘SuckSeed’, ‘Crazy Little Thing Called Love’ dan ‘Timeline’ (yang harus saya bilang membosankan).


Kapan pertama kalinya jatuh cinta? Kapan pertama kali dada mulai terasa sesak karena orang lain yang menarik hati? Kapan mulai tidak bisa tidur karena memikirkan seseorang? (walaupun pada akhirnya tidur juga, haha). Kapan persisnya mulai melakukan berbagai macam cara untuk menarik perhatian orang yang diperhatikan? Jatuh cinta itu lucu, apalagi untuk yang pertama. Namun tidak semua cinta pertama itu bak gayung bersambut. Ada kalanya cinta itu tak terbalas. Ada kalanya cinta itu cuma jadi milik diri seorang. Karena hanya berani mencintai dalam diam, mengagumi dari jauh, memiliki dalam angan. Nam (Pimchanok Luewisetpaiboon – ribet banget sih namanya –), mungkin paling tahu perasaan ini. Siswi kelas M-I yang mulai merasakan getar-getar rasa tak biasa yang kita sebut “C.I.N.T.A” pada kakak seniornya, Shone (Mario Maurer).
Bukan tanpa alasan bagi Nam menjadi pengagum rahasia Kak Shone. Secara fisik, Nam pasti menjadi golongan paling terakhir yang mau dilirik lawan jenisnya. Makanya ia tidak percaya diri, terlalu takut, malu dan tidak berani untuk menunjukkan perasannya. Hal-hal semacam ini memang jadi problem dan alasan kenapa orang menjadi pemuja rahasia. Permasalahan Nam juga tidak berhenti sampai disitu, karena Kak Shone punya banyak alasan yang membuat anak perempuan tertarik padanya. Atas bantuan teman satu geng-nya, Nam pun berusaha untuk membuat Shone tahu bahwa dia menyukainya. Berbekal buku panduan 9 Resep Cinta (Untuk Pelajar), Nam mulai melancarkan aksinya. Berbagai metode dari berbagai belahan negara telah ia terapkan. Tapi tetap saja Kak Shone dimatanya hanya menjadi ketidakmungkinan yang disemogakan. Hingga dua permintaan guru Inn yang mengharuskannya menjadi putri salju dan mayoret marching band sekolah yang secara perlahan menjadi titik tolak perubahan dirinya.
Sebagaimana sebuah film romcom, ‘Crazy Little Thing Called Love’ memang masih akan menghadirkan komedi dan romansa dalam satu frame. Komedinya berjalan seiring lika-liku para karakter dalam usahanya mengejar cinta. Mulai dari yang sedikit romantis seperti melukis nama orang disayang dari bintang-bintang dilangit (tsah!). Sampai yang paling bodoh dengan diam-diam nyimpan es krim di motor yang sedang diparkir. Dari Nam sendiri sampai Guru Inn dengan segala tingkah konyolnya.  
‘Crazy Little Thing Called Love’ itu cheesy, cliche & predictable. Namun biarpun begitu, kita semua masih saja mau menikmatinya dan memaafkan segala ke-cheesy-an itu. Seperti halnya kita memaafkan transformasi Nam yang begitu drastis, sementara lingkungan dan orang-orang disekitarnya tak menampakkan perubahan sama sekali. Memang tidak ada yang tidak mungkin, namun tetap saja, masih terlalu aneh rasanya bila Nam yang terlihat ‘seperti itu’ di awal tiba-tiba menjadi sangat cantik bak ratu sekolah.


Bukan romcom namanya jika tak menghadirkan moment bittersweet love. Hampir di separuh akhir kita merasakannya. Walaupun agak sedikit membosankan (untungnya si Nam jadi cantik), namun saya tak bisa memungkiri jika ending yang melibatkan sebuah buku tempel itu begitu manis. Tatkala buku berjilid hitam itu dibuka, halaman penuh tempelan gambar dan tulisan mulai membawa kita pada moment sentimentil atas semua yang terjadi. Menggiring kita menikmati prosesnya dan ikut hanyut kedalamnya. Jangan lupakan juga, konflik persahabatan yang memang tak pernah lepas dari film-film seperti ini turut membawa rasa mengharu biru.
Cinta. Memang aneh ya kedengarannya. Bagaimana sesuatu yang tak nampak ini bisa memberi sensasi yang luar biasa. Kadang gila, kadang tak butuh logika (benar kata Agnes). Memberi energi bagi yang merasakannya. Bisa positif, bisa juga negatif sih. Tergantung manusianya. Dan Nam mencoba melihat ‘sesuatu kecil yang gila itu’ dari sisi positif dan memanfaatkannya. Bagaimana ia berjuang untuk semuanya. Memperjuangkan prestasi sekolah dengan belajar sungguh-sungguh dan memperjuangkan cintanya sampai penampilannya berubah total. Namun lebih dari itu semua, sesungguhnya ada hal yang sudah dilakukannya dari dulu, yaitu bicara. Bicara bahwa dia menyukai Shone. Namun percayalah, bahwa tidak semua orang bisa dengan mudah berkata suka pada orang yang disukainya. Bagi sebagian orang itu sangat berat. Berat banget!
Seperti yang Nam bilang bahwa cinta memiliki sisi positif. Seperti itu pulalah film ini menyorotinya. Bahwa itu bukan hanya sekedar gejolak hormon semata. Bahwasanya cinta itu bisa memotivasi diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mungkin ini pulalah yang disebut orang-orang sebagai proses “memantaskan diri”. Walaupun pada akhirnya dua hati tak bisa langsung menyatu. Namun falsafah orang tua bahwa jodoh tak akan kemana seyogyanya tak boleh dihiraukan begitu saja. Karena jodoh memang benar tak akan kemana, yang perlu dilakukan hanyalah memantaskan diri. Right, Nam?