Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Friday, January 15, 2016

Anime Review: Kuroko no Basuke


SMP Teikou memiliki klub basket terkuat yang sangat ditakuti seantero Jepang dan telah menjuarai kejuaraan nasional 3 (tiga) tahun berturut-turut. SMP Teikou menjadi begitu kuat karena memiliki 5 (lima) pemain paling berbakat yang dijuluki “Kiseki no Sedai” (Generasi Keajaiban) yang hanya ditemukan 10 tahun sekali. Setelah lulus SMP, mereka memilih jalan sendiri-sendiri di SMA berbeda. Disamping Kiseki no Sedai, ternyata ada satu pemain yang tak tercatat, pemain keenam, seorang bayangan, Kuroko Tetsuya. Dan ‘Kuroko no Basuke’ akan berfokus pada kisah Kuroko dengan permainan basketnya yang khas bersama klub barunya di SMA, Seirin.
‘Kuroko no Basuke’ merupakan seri anime yang diadaptasi dari manga berjudul sama karya Tadatoshi Fujimaka keluaran tahun 2008. Seri animenya sudah menghabiskan 3 (tiga) musim yang berjumlah total 75+1 episode semenjak memulai musim pertamanya pada 7 April 2012.
Merujuk pada genre-nya yang ber-genre sport, premis ‘Kuroko no Basuke’ tentu tak akan jauh dari formula klasik khas olahraga, kisah perjuangan from zero to hero yang dibangun lewat latar “menang dramatis atau kalah terhormat”. Dan pada akhirnya memang seperti itulah kenyataannya. Bahkan dari jauh-jauh hari kita sendiri sudah bisa menebak hasil akhir atau ending-nya akan seperti apa. Namun ‘Kuroko no Basuke’ tetap menjadi sebuah anime yang menyenangkan untuk ditonton. Bahkan semenjak episode pertamanya bergulir, kesan menyenangkan sudah sangat terasa. Apa alasannya?
Dalam beberapa kasus, terkadang hasil akhir bukanlah tujuan utama, tapi proses bisa jadi segalanya. ‘Kuroko no Basuke’ membuktikan itu disini. Meski sudah bisa menebak tentang apa yang akan terjadi pada hasil akhir setiap pertandingannya, namun ‘Kuroko no Basuke’ berhasil mengemas prosesnya menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan (setidaknya buat saya). Setiap pertandingan basket yang digelar berhasil menonjolkan keseruan yang sangat (meskipun sempat kedodoran juga). Berbagai moment pun berhasil menumpahkan perasaan emosi yang membuncah. Seolah-olah kita benar-benar menyaksikan secara langsung setiap pertandingan yang ada. Ungkapan lawan adalah kawan setelah pertandingan juga disinggung cukup kentara disini.
Mengenai karakter, saya suka bagaimana Tadatoshi Fujimaka memilih karakter utama seperti Kuroko. Ini seperti antitesis dari mayoritas karakter utama anime pada umumnya. Karena karakter seperti Kagami yang ambisius dan tak mau mengalah sebenarnya lebih umum dipakai dalam seri anime/manga. Sebagai contoh, Kurosaki Ichigo ‘Bleach’ atau Eren Jaeger ‘Attack on Titan’ punya karakteristik yang sama dengan Kagami. Tapi Fujimaka memilih karakter yang sering terlupakan oleh sekitarnya bahkan keberadaannya pun dianggap tidak ada seperti Kuroko. Ya, Kagami memang punya peranan vital tapi kendali tetap ada pada Kuroko. Terlebih Kuroko punya gaya dan visi bermain yang unik. Sebuah gaya yang jarang ditemukan dalam permainan basket, dimana seorang pemain hanya punya kemampuan mengoper bola saja. Fujimaka juga memakai konsep menarik untuk memberi penekanan pada karakter utamanya lewat simbol cahaya dan bayangan. Sebuah tagline yang berbunyi, “semakin terang cahaya, semakin gelap dan pekat bayangannya” seakan memberi gambaran sepenuhnya tentang ‘Kuroko no Basuke’.
Berbeda dengan ‘Slam Dunk’ yang memiliki kesan realistis yang cukup kental, ‘Kuroko no Basuke’ justru lebih punya unsur fantasi dan berkesan imajinatif. Sama seperti ‘Captain Tsubasa’, ‘Kuroko no Basuke’ juga banyak menampilkan kekuatan dan jurus-jurus basket yang mungkin terkesan tak logis didunia nyata. Namun dengan beberapa penjelasan yang cukup gamblang dan meyakinkan, kekuatan dan jurus-jurus yang ditampilkan para pemain tidak sampai terlalu menggernyitkan dahi dan cukup bisa diterima logika. Masalahnya, terlalu realistis juga kadang tidak seru. Jadi tak usah gusar bila para pemain sempat-sempatnya bicara panjang lebar dan bola tiba-tiba bergerak melambat sebelum masuk ring. Dramatisasi seperti ini (kadang) menjadi penting untuk menciptakan suasana yang dramatis. Karena efeknya buat penonton juga.
Selain menampilkan unsur drama dan ketegangan yang penuh emosi, ‘Kuroko no Basuke’ juga menampilkan unsur komedi yang cukup menghibur. Tidak banyak tapi beberapa justru sangat efektif memancing tawa berkat penempatan dan timing yang tepat. Karena tidak banyaknya pula membuat unsur komedinya berada dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Ini bagus karena unsur komedi yang terlalu banyak dengan formula yang sama kadang menjadi kurang efektif untuk tampil lucu. Dan sebuah anime tanpa soundtrack pastinya kurang bertenaga. Beruntung ‘Kuroko no Basuke’ punya kumpulan lagu soundtrack yang asyik. Baik lagu yang terdapat di opening maupun ending, semuanya mampu membawa mood yang pas untuk menemani keseluruhan plot yang ada.
Berbekal karakter-karakter menarik dan loveable, ditambah formula klasik from zero to hero khas olahraga yang tak kalah asyik, tidak sulit rasanya bagi ‘Kuroko no Basuke’ untuk meninggalkan kesan dibenak penontonnya. Ya, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan sensasi menonton anime sport yang membuat merinding seperti ini. Dan saya menemukannya kembali di ‘Kuroko no Basuke’.
Skor: 8/10

Wednesday, January 13, 2016

10 Film Terbaik 2015

Tahun 2015 telah berlalu, seakan dejavu, saya merasa terpanggil kembali untuk membuat daftar film terbaik tahun 2015. Seperti tahun lalu, dimana saya juga membuat daftar film terbaik tahun 2014 versi saya. Dibandingkan tahun 2014, tahun 2015 memang menjadi semacam penurunan kuantitas menonton film bagi saya. Biarpun begitu, saya masih sempat menonton beberapa judul sebelum menyelesaikan post ini. Beberapa diantaranya pun masuk daftar pada saat-saat terakhir. Kecuali untuk ‘The Big Short’, ‘Steve Jobs’, 'Spotlight', ‘Room’, ‘Carol’, ‘Joy’ dan beberapa judul lainnya belum saya tonton.
Membuat daftar seperti ini memang sifatnya sangat subjektif dan personal. Tentunya perspektif setiap orang akan berbeda satu sama lain. Dan seperti yang sudah saya tekankan pada post sama tahun lalu, bahwa “Terbaik” disini bukan berarti secara harfiah benar-benar terbaik (emang siapa saya sok-sok-an menentukan film terbaik). Sederhananya, “Terbaik” disini adalah film yang paling saya suka tahun lalu yang berhasil memberi kesan mendalam dan kepuasan tingkat tinggi selama menonton. Pun setelahnya. Oleh karena itu, saya tak akan memasukkan judul Seventh Son (Sergey Bodrov) dalam daftar ini. Karena menurut saya itu adalah film terburuk yang pernah saya tonton di tahun 2015. I’m sorry to say that, Alicia Vikander! But.., you always look so sweet in every your movie! Seriously!
Dan berikut 10 film terbaik tahun 2015 versi saya.

Honorable Mentions:
Ex-Machina (Alex Garland), Wild Tales (Damian Szifron), Filosofi Kopi (Angga Dwimas Sasongko), Sicario (Dennis Villeneuve), Crimson Peak (Guillermo del Toro), Bridge of Spies (Steven Spielberg), The Gift (Joel Edgerton), Star Wars: The Force Awakens (J.J. Abrams), The Hateful Eight (Quentin Tarantino), Brooklyn (John Crowley).

#10 It Follows (David Robert Mitchell)


Adegan pembukanya sudah sangat mengejawantahkan kengerian. Konsep horornya mungkin terasa aneh, tapi ada pesan menarik dibalik premisnya bila mau dicermati. Terutama mengenai kehidupan bebas ala remaja dewasa ini.

#9 The Revenant (Alejandro Gonzalez Inarritu)


Puisi tragis tentang bagaimana alam menunjukkan sisi liarnya yang brutal yang juga kontradiktif disaat bersamaan. Dingin menusuk menembus tulang. Membuncahkan emosi disetiap bait kegetiran. Namun indah disela-sela keheningannya.

#8 Clouds of Sils Maria (Olivier Assayas)


Seakan mengaburkan batasan realita dan fiksi. Seorang aktris paruh baya tengah mencoba berdamai dengan diri dan masa lalunya. Menyenangkan bisa melihat performa akting terbaik salah satu aktris favorit disini.

#7 Me and Earl and the Dying Girl (Alfonso Gomez-Rejon)


Cara memperlakukan premis penyakit mematikannya terasa tak biasa. Namun begitu hangat menghantarkan drama coming of age-nya. Pada setiap sisi getir, ditanaminya benih positif. Plot kecilnya yang berbicara banyak tentang film, masih jadi bagian terfavorit. [Review]

#6 Mencari Hilal (Ismail Basbeth)


Lupakan sejenak tentang ‘Le Grand Voyage’-nya Ismael Ferroukhi. Kemudian tengoklah bagaimana Pak Mahmud dan anaknya Heli menyusuri jalanan spiritual. Menebarkan aroma introspeksi dan refleksi diri dalam nafas religi tanpa harus memaksanya menerobos relung hati. Sederhana tapi manis.

#5 Mad Max: Fury Road (George Miller)


Begitu gahar. Begitu kacau. Begitu gila. Entah apa yang ada dibenak pria tua George Miller saat mencoba menghidupkan kembali franchise lamanya. Karena kegaharan, kekacauan dan kegilaannya ini, padang pasir tandus menjadi panggung aksi dengan ketegangan tingkat tinggi.

#4 Whiplash (Demian Chazelle)


Ambisi dan kesempurnaan seolah tak berbatas bagi manusia. Besar pula harganya. Sampai titik mana itu berhenti, tidak ada yang tahu. Stick drum Andrew telah menelanjangi mindset kita tentang falsafah berjuang sampai titik darah penghabisan. Darinya, (mungkin) kita jadi (sedikit) mengerti.

#3 Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (Alejandro Gonzalez Inarritu)


Saat parade teater menyertakan kritiknya pada panggung hiburan. Cerdas nan menggelitik. Salah satu pencapaian tinggi dalam dunia sinematik lewat aspek teknisnya. One long take yang rumit itu begitu mempesona.

#2 A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence (Roy Andersson)


Apa jadinya jika seekor burung merpati yang bertengger pada sebatang dahan pohon merenungkan kehidupan? Roy Andersson menerjemahkannya dalam sketsa kaya absurditas yang kental aroma kenyinyiran dan kejenakaan yang khas. Tentang hidup, manusia dan eksistensinya.

#1 Inside Out (Pete Docter)


Ketika ide brilian dieksekusi dengan brilian pula. Imajinatif. Namun tak hilang unsur “hati”-nya. Petualangan menyelami isi kepala manusia yang begitu menyenangkan sekaligus mengharukan. Sekali lagi, Pixar menambah deretan panjang karya terbaiknya. [Review]

Thursday, December 31, 2015

Catatan Nonton #Desember’15

FINALLY! Genap sudah dua tahun post Catatan Nonton di blog saya ini. Tak terasa ternyata post bulanan ini sudah memasuki edisi ke-24 semenjak saya memulai merangkum kumpulan review pendek dari film yang saya tonton selama satu bulan dalam post berlabel Catatan Nonton ini. Telah banyak judul-judul film yang masuk daftar ini semenjak memulainya pertama kali. Tak mudah sebenarnya untuk konsisten menulis post bulanan seperti ini (apalagi saya pemalas). Belum lagi mood nonton yang mulai fluktuatif di tahun kedua ini. Hal yang sesungguhnya berbeda di tahun pertama dimana hasrat saya menonton film sangat menggebu-gebu. Tapi untungnya itu tidak menyurutkan niat untuk bisa mem-posting Catatan Nonton di setiap akhir bulan. Meski kuantitasnya cenderung menurun beberapa waktu belakangan ini.
Dan... besok sudah mulai memasuki tahun baru, saya pun masih berharap untuk terus bisa membuat post ini lagi sampai... entah tidak tahu sampai kapan. Tapi yang pasti, demi menutup berakhirnya tahun 2015 sekaligus tanda menggenapkannya Catatan Nonton dalam kurun waktu dua tahun ini, berikut kumpulan short review film yang masuk edisi Catatan Nonton bulan Desember ini. Here it is! 
And Happy New Year!!!

Pan (2015) (22/12/15)


Short review:
Kisah Peter Pan versi Warner Bros. ini memang tak seperti yang kita dengar. Tapi itu tidak menjadi masalah jika filmnya menyenangkan. Sedikit harapan memang layak disandangkan pada seorang Joe Wright. Wright memang berhasil memberi nyawa pada ‘Pan’ lewat desain produksinya yang ok, baik dari set, kostum, karakter dan visualnya yang ciamik. Namun ‘Pan’ sendiri seolah terjangkit virus yang sama di hollywood, dimana ‘Pan’ hendak menjadi sebuah film blockbuster yang megah dan penuh kehebohan disana-sini. Namun pada akhirnya melewatkan aspek narasi yang juga harus digarap dengan baik.
Skor: 3/5

Negeri van Oranje (2015) (23/12/15)


Short review:
Review filmnya bisa dilihat disini.
Sementara review bukunya bisa dilihat disini.
Skor: 3/5

The Walk (2015) (24/12/15)


Short review:
Dalam beberapa kasus, ada film yang memang tidak difokuskan pada hasil akhir melainkan pada prosesnya. Dan ‘The Walk’ adalah salah satu diantaranya. Mungkin hampir sebagian orang didunia mengenal seorang Philippe Petit, seorang artis akrobatik Perancis spesialis berjalan diatas kawat. Petit pernah menghentak dunia saat ia melakukan hal gila, menyeberangi gedung WTC dengan seutas kawat. Apakah dia berhasil? Ya, tentu saja. Tapi seperti yang saya singgung di awal, bahwa ‘The Walk’ memang tidak berfokus pada hasil akhirnya melainkan pada prosesnya. Dan Robert Zemeckis berhasil mengemas proses itu dengan sangat apik walaupun sempat tersendat di awal-awal. Perjalanan menyeberangi gedung tertinggi saat itupun menjadi tidak mudah karena banyak faktor yang juga turut mempengaruhinya. Dan inilah bagian menariknya. Sebelum akhirnya sebuah klimaks menghantarkan kita pada sensasi mendebarkan penuh ketegangan.
Skor: 3,75/5

Hotel Transylvania 2 (2015) (26/12/15)


Short review:
Semenjak film pertamanya dirilis 2012 lalu, ‘Hotel Transylvania’ cukup berhasil memberikan sarana hiburan keluarga yang ringan. Walaupun kualitasnya tidak bisa dibandingkan dengan film seangkatannya macam ‘Wreck-It Ralph’ atau ‘Frankenweenie’, tapi perolehan box-office sudah jadi alasan kenapa sekuelnya muncul tahun ini. Kembali ditangani orang yang sama yakni Genndy Tartakovski, ‘Hotel Transylvania 2’ masih memiliki tone yang sama seperti predesesornya. Tidak ada yang banyak berubah di semua lininya. Premisnya sebenarnya bisa dibuat kaya akan konflik jika melihat sosok dilematis Dennis yang notabene merupakan seorang anak hasil perkawinan dua makhluk berbeda. Meski masih memunculkan sisi itu tapi apa yang dilakukan Genndy Tartakovski masih terlalu aman. Biarpun begitu ‘Hotel Transylvania 2’ tetap bisa menjalankan tugasnya sebagai sarana hiburan keluarga yang ringan di waktu senggang.
Skor: 3/5

Friday, December 25, 2015

Resensi Buku: Pulang


Tere Liye bisa dibilang salah satu penulis ternama di Indonesia. Telah banyak karya yang ia telurkan, beberapa diantaranya juga telah diadaptasi menjadi film. Sebut saja ‘Hafalan Shalat Delisa’, ‘Bidadari-bidadari Surga’ atau ‘Moga Bunda Disayang Allah’. Saya sendiri tidak terlalu tahu tentang karya Tere Liye, karena tak satupun bukunya pernah saya baca. Walaupun (sebenarnya) namanya terasa familiar di telinga. Hingga saat saya berkunjung ke toko buku (sudah cukup lama), saya menemukan karya Tere Liye yang ternyata lumayan banyak dan cukup variatif. Saya pikir Tere Liye hanya menulis novel yang setipe dengan judul-judul yang saya sebut sebelumnya. Tidak demikian ternyata. Pasalnya, sebuah buku bersampul manusia berdasi yang memakai topeng berhidung panjang cukup menarik perhatian saya waktu itu, judulnya ‘Negeri Para Bedebah’. Sekilas, ‘Negeri Para Bedebah’ memang terlihat berbeda dengan judul diatas atau judul macam ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’, ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’, ‘Senja Bersama Rosie’ dll. Mungkin hanya ‘Negeri di Ujung Tanduk’ yang sedikit mirip. Walaupun ‘Negeri Para Bedebah’ terlihat menarik, tak sekalipun saya mengambilnya walau dalam hati menginginkannya. Mungkin lain kali saja, kata saya dalam hati.
Beberapa waktu lalu, saya kembali ke toko buku yang sama. Saya pun kembali ke rak buku yang biasa memajang karya Tere Liye. Beberapa judul terasa asing karena baru pertama kali saya lihat. Seperti buku berwarna hijau dengan cover matahari terbit dalam kertas tersobek yang terpampang memenuhi separuh isi rak. Sebuah buku berjudul pendek tersebut seolah memanggil untuk diambil, dibawa pulang, kemudian dibaca. Sebuah karya terbaru berjudul satu kata dimana kata tersebut menurut saya memiliki muatan filosofis yang tinggi. Sarat akan makna dan arti. Buku tersebut berjudul ‘Pulang’.
Menurut orang-orang yang sudah akrab dengan karya Tere Liye, mayoritas judul yang dipakai akhir-akhir ini memang pendek dengan hanya memakai satu kata saja. Seperti ‘Bumi’ ‘Rindu’ ‘Bulan’ ‘Pulang’. Namun lewat ‘Pulang’ lah saya mencoba berkenalan dengan Tere Liye. Kenapa ‘Pulang’? Karena seperti yang saya bilang, kata pulang itu sendiri memiliki jutaan makna yang bisa merefleksikan hidup jiwa manusia beserta hakikatnya. Walaupun saya tak tahu ceritanya tapi saya tak ragu untuk mengambilnya. Karena judul ‘Pulang’ itu sendiri merupakan sebuah panggilan. Saya pikir, mungkin sensasi ‘Pulang’ akan sama seperti ‘Life of Pi’-nya Yan Martel yang sentimentil itu. Dengan caranya sendiri tentunya.
‘Pulang’ dibuka dengan satu hal yang sangat familiar. Berbicara tentang lima emosi dalam diri manusia: bahagia, sedih, jijik, marah dan takut. Sangat familiar buat saya karena itu adalah ‘Inside Out’. Sebuah film animasi Pixar rilisan tahun 2015 yang bercerita tentang lima emosi dalam diri manusia yang diwakili anak sebelas tahun. Setelahnya, cerita melompat ke sebuah hutan yang menyoroti kisah perburuan babi hutan. Perburuan babi hutan? Sungguh itu bukanlah yang saya harapkan dari buku ini. Hingga sampai di bagian ketiga yang memiliki subjudul ‘Shadow Economy’ saya mulai mengerti alur ‘Pulang’ akan kemana. Sayapun sadar bahwa plotnya tidak sesempit hutan dengan perburuan babi didalamnya. Plot ‘Pulang’ jauh lebih besar. Jauh lebih kompleks dari itu.
Saya senang karena Tere Liye banyak mengaitkan cerita dengan beberapa hal yang terindikasi dengan realita. Seperti lima emosi ‘Inside Out’ tadi. Kemudian yang tak kalah menarik adalah ketika dimunculkan sosok calon Presiden berkemeja putih bernomor urut dua. Walaupun Tere Liye tidak pernah mengungkap secara gamblang siapa sosok tersebut, tapi kita semua tahu itu mengarah ke siapa. Saya senyum-senyum saja membaca bagian ini. Berasa gimana gitu? Ckckck. Selain itu, saya juga senang ketika Tere Liye mendefinisikan perspektifnya tentang suara adzan (adzan shubuh kalau disini). Karena nyatanya masih banyak yang menganggap suara adzan (terutama adzan shubuh) sebagai suara yang mengganggu. Tere Liye menepis sekaligus mematahkan anggapan itu disini. Bahwasanya suara adzan yang dikumandangkan bukanlah untuk mengganggu manusia tapi justru memberi panggilan pada jiwanya.
Jika melihat judulnya, plot ‘Pulang’ hampir tidak terduga. Karena mungkin tak ada yang menyangka jika ‘Pulang’ akan membawa premis tentang dunia hitam. Dunia hitam yang dimaksud disini adalah dunianya para mafia / gangster / triad / yakuza / berandal atau sejenisnya (nih udah kayak menu nasi goreng dekat kampus saya aja, haha) yang menguasai tatanan ekonomi dan sosial dalam suatu negara. Sebuah pergerakan bawah tanah yang terorganisir, rapi, besar, tak terendus dunia luar yang berpengaruh (bahkan melebihi pemerintahan). Menjadi dalang dibalik semua peristiwa yang ada. Penggerak para boneka suruhan mereka. Sebuah dunia penuh kamuflase dibalik setelan rapi tuxedo dan dasi yang justru tak segan merenggut nyawa. Sebuah dunia yang memang terasa asing di telinga kita dan Tere Liye dengan senang hati membawa kita masuk ke dunia tersebut. Menyusuri setiap sudut gelapnya.
Dengan premis seperti itu, ‘Pulang’ tidak banyak membuang waktu bercerita melankolis dengan drama mendayu-dayu. Lebih dari itu, ‘Pulang’ menghadirkan banyak kekerasan, ketegangan, intrik, konspirasi dan adegan aksi. Tokoh utamanya adalah Bujang. Seorang pria perfeksionis dengan kecerdasan diatas rata-rata yang mampu memaksimalkan potensi otak dan fisik sama kuatnya. Seorang anti-hero. Dari kacamatanya, kita melihat dunia hitam yang perjalanannya tidak selalu mudah dan mulus. Selalu ada harga tinggi yang harus ditebus dibalik mahalnya kuasa. Selalu ada darah yang tumpah dibalik misi yang harus diemban. Selalu ada pengorbanan besar dibalik semua perjuangan meraih tujuan yang lebih besar. Semuanya terjalin rapi dalam satu ranah bernama ambisi manusia yang tak berbatas.
Sekilas, ‘Pulang’ seperti sebuah parade aksi yang menampilkan berbagai pertarungan, baku tembak dan hantam. Namun jika dilihat lebih dalam lagi, sesungguhnya ‘Pulang’ adalah tentang seorang Bujang. Seorang pria yang tengah mencari jati diri dalam sebuah krisis identitas yang dialaminya. Seorang pria yang tengah mencari solusi akibat konfrontasi dalam dirinya. Seorang pria yang harus berdamai dengan masa lalunya. Karakter Bujang yang multidimensional cukup berhasil dikulik Tere Liye. Hal ini tak lepas dari keberadaan para karakter pendukung yang turut memberi kedalaman karakter pada seorang Bujang. Meski tidak sampai kuat sekali tapi itu sudah lebih cukup untuk membuat Bujang berdiri di garda terdepan.
Kekuatan terbesar sebenarnya dalam ‘Pulang’ terletak pada caranya bertutur lewat alurnya. Dengan alur maju-mundur (campuran) yang tersusun rapi, Tere Liye berhasil mempresentasikan plot besarnya dengan baik. Seandainya saja Tere Liye memakai alur maju yang linear dan merunutkan semuanya secara sistematis, ‘Pulang’ pasti akan sangat membosankan. Pasalnya, garis besar cerita ‘Pulang’ tidak sampai menawarkan inovasi baru untuk genrenya meski masih menyajikan detail-detail menarik. Saya memang tidak terlalu akrab dengan buku tapi saya cukup akrab dengan film. Dan premis seperti ini tentu bukan barang baru dalam film. Maka dari itu alur yang ditempuh ‘Pulang’ sangat berperan besar dalam membuatnya menarik untuk dibaca. Selain juga karena gaya bahasa Tere Liye yang ramah dengan tetap menyajikan guratan-guratan penuh makna dimana bila diresapi lebih dalam akan menjadi sebuah bahan renungan. Tak heran ada banyak kalimat quotable yang potensial disukai dan dikutip pembaca.
Konklusi ‘Pulang’ memang dieksekusi dengan agak klise dalam ranah yang terbilang aman. Meski bukan satu-satunya jalan tapi bisa jadi itu adalah cara yang paling tepat untuk mengakhiri kisahnya. Setidaknya itu sudah cukup untuk mengguratkan perasaan puas dimata pembaca. Jika ada hal yang kurang maka itu adalah kedalaman emosinya. Sebuah epilog berjudul pulang pun masih belum cukup membawa sentuhan emosi yang punya impact dalam buat pembaca. Salah satu alasannya (mungkin) karena plotnya yang bercerita tentang dunia hitam yang memang kurang personal untuk kebanyakan orang. Esensi kata pulang pun tidak sesentimentil seperti yang terlintas dalam benak saya saat pertama kali melihat judul buku ini. Tapi ‘Pulang’ berhasil memberi persepsi lain tentang kata pulang itu sendiri. Bahwasanya pulang itu tidak selalu tentang kembali. Tapi pulang bisa berarti memulai lagi. Seperti matahari yang senantiasa terbit untuk kembali memulai hari.

Negeri Van Oranje (2015): Narsisme Si Negeri Kincir Angin


"Cukup satu kejadian. Cukup satu"
- Wicak -

Cukup satu kejadian kata untuk mengungkapkan kekuatan terbesar dari buku berjudul ‘Negeri van Oranje’. Menyenangkan. Itulah kata tepatnya. Buku bersampul orange yang ditulis oleh empat orang sekaligus ini memang mempunyai semua hal untuk bisa menjadi bacaan menyenangkan. Resensi bukunya pernah saya posting disini. Lalu bagaimana jika buku setebal 565 halaman ini diadaptasi menjadi sebuah gambar bergerak berdurasi 100 menit? Samakah sensasi menyenangkannya?
Buku dan film adalah dua elemen yang berbeda. Tentu keduanya tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya. Baik buku maupun film, dimata pembaca dan penonton keduanya mempunyai sisi menariknya masing-masing. Maka menjadi kurang fair ketika sebuah film yang diadaptasi dari sebuah buku selalu dibandingkan dengan sumber aslinya. Hal yang acap kali terjadi dan seringkali menimbulkan pertanyaan di benak orang. Koq beda sama yang di buku? Koq di film begini? Koq di film begitu?
Pada dasarnya, film membutuhkan beberapa perubahan yang harus dilakukan guna menyesuaikan dengan medium film itu sendiri. Maka perbedaan sudah pasti akan terjadi. Jadi tidak terlalu menjadi masalah jika menemukan beberapa perbedaan antara buku dan film. Selama garis besar ceritanya tidak melenceng jauh, maka itu adalah hal yang wajar.
Seperti yang kita tahu, premis dasar ‘Negeri van Oranje’ adalah persahabatan. Berfokus pada 5 (lima) orang mahasiswa Indonesia (Banjar, Wicak, Daus, Geri dan Lintang) yang kuliah di Belanda. Persahabatan yang terjalin tanpa kesengajaan hanya karena kesamaan nasib. Terjebak badai di Amersfoort dan sama-sama berasal dari  Indonesia. Persahabatan tanpa rencana inipun menjadi salah satu bagian penting dari hidup mereka berlima. Hingga seiring berjalannya waktu timbullah benih-benih cinta diantara tali pertemanan.
Daripada membuat kisah tentang hangatnya sebuah persahabatan di negeri orang sampai akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta dalamnya, Endri Pelita selaku sutradara ternyata lebih memfokuskan kisahnya pada siapa yang kelak akan menjadi pasangan Lintang. Seperti bermain tebak-tebakan dengan penonton. Hal ini tercium semenjak ‘Negeri van Oranje’ membuka narasinya, dimana kita melihat seorang Lintang (Tatjana Saphira) yang tengah mempersiapkan pesta pernikahannya. Setelah itu, penonton pun mulai digiring dalam permainan Endri yang mulai mengenalkan satu persatu dari keempat pria sang calon suami berikut interaksinya bersama Lintang.
Kendati sedari awal fokusnya sudah seperti itu, narasinya pun hanya berkutat dengan permainan tebak-tebakan siapa yang akan menjadi pasangan Lintang. Yang terasa adalah kisah persahabatannya sendiri menjadi kurang tergali secara dalam. Memang kisah persahabatan AAGABAN terlihat cukup menyenangkan, tapi naskahnya sendiri tidak memberikan cukup banyak ruang untuk membawa sentuhan emosional yang sejatinya akan berdampak pada emosi penonton. Dengan kata lain, naskahnya terlalu bersifat ringan kalau tidak mau dibilang lemah. Ini pula yang membuat proses yang harusnya menjadi fokus utama menjadi terasa setengah matang. Belum ditambah kisah perjuangan mereka sebagai mahasiswa rantau dinegeri orang yang hampir tak tersentuh sama sekali.
 ‘Negeri van Oranje’ mengambil lokasi syuting di lima kota di Belanda + Praha (Rep. Ceko). Sejak film ini dibuka (baik Praha maupun Belanda) sudah saling pamer keelokan Eropa. Eksploitasi keindahan sudut-sudut kota berhasil ditangkap dengan baik lewat sinematografi Yoyok Budi Santoso (walaupun sedikit over di lens flare). Jika ‘Negeri van Oranje’ dimaksudkan untuk memancing hasrat penonton untuk pergi kesana maka itu sudah sangat berhasil. Ya, siapapun pasti akan dibuat ngiler melihat keelokan Belanda dan Praha. Namun karena terlampau over pamer keindahan “luar negeri”, ‘Negeri van Oranje’ pun menjadi lupa bahwa mereka pun harus bercerita. Seperti tercipta sebuah kesan bahwa syuting diluar negeri harus selalu memaksimalkan potensi lansekapnya. Tidak salah, tapi lebih seringnya justru meminimalkan aspek cerita yang lebih penting. Dan inilah yang terjadi pada ‘Negeri van Oranje’.
Beruntung ‘Negeri van Oranje’ punya ensemble cast yang menjanjikan. Walaupun eksplorasi karakter masing-masing kurang berkembang. Tapi nama-nama macam Tatjana Saphira, Ciccho Jerikho, Arifin Putra, Abimana Aryasatya sampai Ge Pamungkas, jelas menjadi daya tarik terbesar ‘Negeri van Oranje’. Merekapun cukup berhasil membawakan setiap karakter dengan kekuatannya masing-masing. Tatjana Saphira sebagai Lintang sudah cantik, pantas bila diperebutkan. Ciccho Jerikho sudah sangat tepat memerankan karakter Geri yang perfect, yang menurukan pasaran standar ganteng orang Indonesia. Abimana Aryasatya mampu menampilkan sisi misterius Wicak yang pendiam namun meneduhkan. Arifin Putra pun bisa meninggalkan sisi cool-nya ketika berperan sebagai pria bar-bar tukang nyablak dalam diri Banjar, yang sukses berduet dengan Daus (Ge Pamungkas ) yang konyol.
Sedari awal memutuskan menonton ‘Negeri van Oranje’, saya memang tidak memasang ekspektasi tinggi untuk film ini. Saya hanya ingin menontonnya bareng teman-teman. Mencari hiburan. Senang-senang. Sudah. Kalau dibilang ‘Negeri van Oranje’ menghibur, ya menghibur. Kita bisa tertawa karena Banjar dan Daus. Penonton perempuan bisa sangat dimanjakan lewat perhatian Geri. Bisa dibuat melting lewat sosok Wicak. Penonton laki-laki, ah sudah cukup dengan melihat nama Tatjana Saphira saja. Gambar-gambar yang tersaji dilayar pun nyaman untuk ditonton. Namun satu bagian esensial film ini yang mengatasnamakan persahabatan menjadi kurang sentimentil dibenak saya. Karena ‘Negeri van Oranje’ terlalu bernarsis-narsis ria dengan set-nya, sementara narasi yang juga harus tampil sama baiknya harus menjadi korban. Naskahnya yang terlalu ringan, tidak berkembang dan terlalu bermain aman sehingga eksplorasi konfliknya terasa dangkal. Overall, masih bisa menyenangkan dan cukup layak dinikmati.

Monday, November 30, 2015

Catatan Nonton #November’15

Catatan Nonton bulan November ini sudah memasuki edisi ke-23. Sebentar lagi, post bulanan di blog saya ini akan genap dua tahun. Tak terasa juga ternyata sudah hampir dua tahun saya membuat post berisi kumpulan review pendek dari film yang saya tonton dalam satu bulan.  Walaupun mood nonton kadang kali naik turun terutama akhir-akhir ini, tapi saya tetap mempertahankan post Catatan Nonton ini seperti biasa. Movie of the month untuk edisi ini jatuh pada ‘The Man from U.N.C.L.E.’ Dan berikut short review film yang masuk edisi Catatan Nonton bulan November 2015. Check this out!
Gambar dari sini.

Mission: Impossible – Rogue Nation (2015) (01/11/15)


Short review:
Setelah dibuat terpesona Brad Bird di ‘Ghost Protocol’, Ethan Hunt melanjutkan petualangannya ditangan Christopher McQuarrie. Memang menjadi beban tersendiri mengingat Brad Bird pernah menghentak dunia lewat adegan fenomenal Ethan Hunt memanjat gedung tertinggi dunia, Burj Khalifa ditambah pula kualitas ‘Ghost Protocol’ yang diakui. Namun bukan berarti McQuarrie tanpa amunisi. Adegan pembuka dipesawat sedikit masih kalah dengan adegan memanjat gedung, tapi ‘Rogue Nation’ punya cara tersendirinya untuk menghibur dengan berbagai adegan aksi penuh ketegangan. Semuanya dihadirkan dengan begitu intim dan efektif. Berbagai element yang sudah menjadi ciri khas ‘Mission Impossible’ sebagai salah satu franchise espionage terkenal tidak hilang. Ada pula Rebecca Ferguson yang begitu mencuri perhatian.
Skor: 4/5

The Man from U.N.C.L.E. (2015) (01/11/15)


Short review:
Tahun 2015 bisa disebut sebagai tahunnya film spionase karena begitu banyaknya film spionase yang rilis tahun ini. Salah satu diantaranya adalah ‘The Man from U.N.C.L.E.’ garapan Guy Ritchie yang merupakan serial TV populer di era 60-an. Meski tidak menawarkan formula spionase yang baru tapi ‘The Man from U.N.C.L.E.’ muncul sebagai salah satu film spionase paling menyenangkan tahun ini. Setting asli yang dipilih Ritchie sangatlah tepat. Dengannya, kita seolah dibawa rasa dejavu kenapa kita menyukai film spionase. ‘The Man from U.N.C.L.E.’ juga mempunyai cast yang mentereng, ada Henry Cavill, Armie Hammer dan Alicia Vikander (my fav). Interaksi ketiganya turut memberi sumbangsih besar yang membawa nuansa segar ‘The Man from U.N.C.L.E.’ Terlebih Napoleon Solo (Cavill) dan Illya Kuryakin (Hammer) merupakan karakter yang bertolak belakang. Ada pula Gabriella Teller (Alicia Vikander) yang manis. Lengkap lah sudah!
Skor: 4/5

Ich Seh Ich Seh / Goodnight Mommy (2014) (02/11/15)


Short review:
Film horor Austria ini begitu ramai dibicarakan dan disebut-sebut sebagai salah satu yang terseram tahun ini. ‘Ich Seh Ich Seh’ sesungguhnya tidak memunculkan satu sosok makhluk astral pun untuk menciptakan suasana horor. Bahkan sepanjang 70 % durasinya tidak ada kengerian yang nyata untuk membuat saya begidik. Suasananya begitu tenang. Namun memunculkan aura misterius yang kental bersama sesuatu yang “tidak beres” antara si ibu dan dua orang anaknya. Ketegangan dengan rasa horor yang kentara memang baru muncul disisa durasinya. Tapi pabila ditelaah lagi, rasa horor itu sendiri sudah dibangun sejak awal lewat atmosfer-nya yang creepy, dingin dan misterius itu.  Twist yang dihadirkan disini memang bukan sesuatu yang sulit ditebak. Tapi tidak lantas menjadikannya sebuah kekurangan untuk film yang juga didaftarkan pada ajang Oscar ini.
Skor: 3,75/5

Seventh Son (2014) (03/11/15)


Short review:
Salah satu film terburuk tahun ini. Entahlah tak ada satupun aspek film yang benar-benar menarik disini. Setidaknya, ‘Fantastic Four’-nya Josh Trank yang juga dianggap film gagal masih bisa saya menikmati. Berbeda dengan ‘Seventh Son’ yang dilihat dari berbagai sisipun benar-benar tak menarik sama sekali. Membosankan. Durasinya benar-benar terasa sangat melelahkan. Jikalau ada satu hal yang saya nikmati dan menjadi nilai plus buat ‘Seventh Son’ adalah kehadiran Alicia Vikander. Itupun bukan karena penampilannya. Melainkan karena sosoknya yang manis. Sebuah alasan kenapa saya mau nonton film ini.
Skor: 1,75/5

Ant-Man (2015) (07/11/15)


Short review:
‘Ant-Man’ seperti ajang perjudian berikutnya dari Marvel. Namun Marvel yang sekarang adalah Marvel yang sudah punya nama. Dengan kata lain, meski karakter yang akan dibuatkan filmnya terkesan asing tapi nama Marvel sendiri sudah menjadi jaminan bahwa filmnya akan berhasil. Setidaknya menghibur. Begitu pula yang terjadi pada ‘Ant-Man’. Bagian menarik dari ‘Ant-Man’ adalah eksplorasi dunia mikroskopis yang jarang kita temukan dalam film superhero. ‘Ant-Man’ seperti sebuah antitesis dari kebanyakan film superhero yang selalu membawa arena pertarungan pada set yang megah, tempat terbuka, tengah kota sampai luar angkasa. Lain dengan ‘Ant-Man’, kamar tidur anak kecil pun bisa jadi arena pertarungan yang seru. Namun secara keseluruhan, formula ‘Ant-Man’ masih sama dengan film-film Marvel lainnya. Bukannya apa, ada sedikit kekhawatiran jika formula yang sama ini dipakai terus-terusan, film-film Marvel dimasa depan akan berpotensi membosankan.
Skor: 3,5/5

American Ultra (2015) (10/11/15)


Short review:
Apapun filmnya, jika ada ada nama Kristen Stewart disana sudah pasti akan saya tonton. Termasuk ‘American Ultra’ yang menandai duet kedua kalinya K-Stew dengan sang Lex Luthor baru, Jesse Eisenberg, setelah sebelumnya mereka bermain bersama di ‘Adventureland’. Beruntung saya masih bisa merasakan chemistry yang kuat antara Stewart dan Eisenberg disini. Namun jika melihat plot ‘American Ultra’ secara keseluruhan, terdapat berbagai kekurangan yang terasa sangat mengganjal. Kritik orang-orang yang sempat dialamatkan pada Nima Nourizadeh selaku sutradara film ini pun sepertinya tidak salah tempat. Karena memang ada rasa seperti itu setelah menontonnya. Namun apabila mengesampingkan hal-hal mengganjal di film ini, ‘American Ultra’ sendiri sudah cukup untuk menjadi penghibur.
Skor: 3/5

Thursday, November 5, 2015

Resensi Buku: Hypnotic Killer


Wahyu membeli sebuah mesin ketik kuno yang disebut-sebut sebagai peninggalan seorang penulis terkenal. Entah kenapa, dengan mesin ketik tersebut, Wahyu berhasil menyelesaikan cerpen-cerpen misteri yang luar biasa. Sementara itu, kematian demi kematian terjadi secara misterius hanya berselang satu pekan. Polisi kesulitan mengungkap identitas pelakunya karena tidak adanya sidik jari dan jejak serta saksi mata. Hanya ada satu petunjuk, yakni kesamaan kronologi kejadian pembunuhan dengan cerpen misteri yang ditulis oleh Wahyu.
Sebuah premis menarik berhasil dihadirkan Eko Hartono dari sinopsis yang dihadirkan. Ada indikasi kisah misteri kuat dibalut thriller dan suspense yang menyeruak disana. Sebuah genre yang memang saya sukai. Bagian menariknya memang terlihat ketika Eko menyandingkan karya tulisan berupa cerpen yang notabene merupakan karya fiksi dengan peristiwa dikehidupan nyata yang keduanya seolah memiliki keterkaitan satu sama lain. Berbagai pertanyaan pun bermunculan dan membuat penasaran, akan seperti apa Eko Hartono meramu kisah yang cukup potensial ini? Tagline bukunya yang berbunyi “Hati-hati dengan apa yang kau tulis...” pun cukup menggelitik. Lalu seperti apakah jadinya?
Sedari awal sudah saya akui bahwa premis ‘Hypnotic Killer’ itu menarik. Namun menurut saya ada satu kesalahan besar Eko Hartono yang ia buat di bagian Kata Pengantar. Disana, Eko seolah sangat percaya diri dengan kisah misterinya ini dengan menulis “pembaca akan menemukan kejutan demi kejutan”. Dengan kata lain, ada twist berlapis yang potensial mengejutkan dan mengecoh pembaca. Saya membayangkan Eko Hartono akan menebar kepingan-kepingan puzzle yang harus dirangkai para pembaca. Kemudian setelah dirangkai sedemikian rupa oleh pembaca, Eko menghancurkan rangkaian puzzle tersebut dengan twist cerdas dan gila yang tak pernah diduga sebelumnya. Tentunya hal seperti ini akan memberikan sensasi yang luar biasa buat para pembaca.
Sesungguhnya tidak terlalu bermasalah jika penulis sangat percaya diri dengan tulisannya dan memberi clue bahwa bukunya ini akan memberi kejutan demi kejutan. Namun bagaimana jika kejutan demi kejutan tersebut tidak mengejutkan dan terlampau mudah ditebak? Inilah yang terjadi dengan ‘Hypnotic Killer’. Twist-nya teramat mudah ditebak. Bahkan tak perlu pusing merangkai kepingan puzzle untuk menebak dalang dari segala kasus yang ada. Karena jika kita seksama, melihat judulnya + membaca bagian keempat buku ini (sesungguhnya) kita sudah dapat menerka-nerka jawabannya. Twist kedua yang berhubungan dengan tokoh perempuan disinipun juga sangat mudah ditebak. Sampai motif para karakternya pun mudah ditebak. Kalau sudah begitu, apakah kejutan masih disebut kejutan jika teramat mudahnya kejutan itu ditebak?
Memang (masih di bagian Kata Pengantar), Eko juga menulis, “Ada kejutan di akhir cerita yang tidak terduga”. Dan itu yang terjadi ketika cerita melompat ke masa sepuluh tahun dari setting sebelumnya. Jujur, untuk yang satu ini sayapun tidak bisa menerkanya. Namun kalau boleh saya bilang, bagian yang ini (yang disebut penulis sebagai sebuah kejutan tak terduga) tidaklah terlalu esensial dengan cerita. Karena ceritanya sendiri sudah berakhir. Dengan kata lain, siapapun bisa saja membuat alternatif cerita dengan kejutan atau apalah secara sekenanya ketika plot utamanya sendiri sudah berakhir. Dan buat saya itu bukanlah sebuah twist atau kejutan. Twist yang baik adalah ketika si penulis memberikan clue yang telah ditebar baik pada plot, set, tokoh, karakterisasi dan bagian intrinsik lainnnya, kemudian setelah pembaca mulai percaya diri terhadap dugaannya, penulis membelokan dugaan pembaca dengan cara yang tak pernah terduga, sampai akhirnya BOOM!!! Pembaca pun melongo. That’s twist!
Daripada menyebut akhir cerita ‘Hypnotic Killer’ sebagai sebuah kejutan yang tak terduga atau twist, saya lebih senang menyebutnya sebagai sebuah open ending. Biasanya ending seperti ini merupakan indikasi akan adanya cerita lanjutan atau sekuel. Atau hanya sekedar untuk mengumbar pertanyaan yang akan menjadi bahan diskusi buat para pembaca setelahnya. Atau hanya akal-akalan penulisnya saja untuk membuat pembacanya gregetan. Hehe.
Mungkin akan lain ceritanya jika penulis tidak pernah mengungkapkan bahwa bukunya ini akan mengejutkan pembaca. Karena jika melihat genre-nya, twist itu sendiri sudah sepaket dengan cerita (biasanya, walaupun tidak semua). Dengan begitu, twist atau kejutan itu tidak akan menjadi sebuah ekspektasi melainkan sebuah bonus bagi pembaca. Seandainya kejutan itu mudah ditebak pun tetap akan terasa menyenangkan, apalagi jika tidak mudah ditebak. Dan disini, penulis menyatakan dengan lugas bahwa bukunya ini akan menyajikan rangkaian kejutan. Tak ayal, hal ini menimbulkan ekspektasi dan imajinasi liar dari pembacanya. Tak akan jadi masalah jika twist itu benar-benar berhasil mengelabui pembaca. Masalahnya adalah twist ‘Hypnotic Killer’ itu sangat tidak berhasil dan membuat kita berujar, “Hah? Segitu doang?” Itulah kenapa diawal saya sebut Eko Hartono telah melakukan satu kesalahan besar.
Biarpun begitu, saya tetap mengapresiasi penulis yang secara implisit mengakui bahwa menulis cerita misteri seperti ini tidaklah mudah. Karena memang begitulah adanya. Ini bisa terlihat dari ucapan tokoh Wahyu tatkala bercakap-cakap dengan Mang Darman. Wahyu berujar bahwa tema misteri atau detektif dalam sebuah karya tulisan itu sulit. Tema-tema seperti ini butuh pemikiran yang cerdas dan cerdik.  Karena mayoritas tema seperti ini memiliki alur yang berliku, penuh teka-teki, berselimut rahasia tanpa meninggalkan rasio dan logika (hal. 32). Statement Wahyu kepada Mang Darman ini menurut saya merupakan manifestasi dari pikiran penulis ‘Hypnotic Killer’ sendiri yaitu Eko Hartono.
Element kejutnya yang sangat tidak berhasil berbanding terbalik dengan element suspense-nya. Tiga perempat bagian awal atau sebelum konklusi dihadirkan, saya merasakan ketegangan yang cukup kentara dan seolah masuk kedalam cerita ini. Hal ini tak lepas dari pengenalan karakter utama ‘Hypnotic Killer’ yang menurut saya cukup berhasil. Karakter Wahyu berhasil menghadirkan aura simpatik sehingga pembaca peduli dengan karakter ini. Deskripsi karakter Wahyu sendiri cukup related dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa dan diksi yang sederhana tapi tepat sasaran menjadikan ‘Hypnotic Killer’ juga mudah diikuti.
Overall, ‘Hypnotic Killer’ gagal total memberikan aspek kejut (twist) yang sudah sangat percaya diri ditulis sang penulis di Kata Pengantar karena terlampau mudahnya ditebak. Tapi mengesampingkan hal itu, ‘Hypnotic Killer’ cukup berhasil menggulirkan kisah misterinya yang enak diikuti. Ketegangan pun cukup terasa terutama sebelum konklusinya dihadirkan. Penggambaran karakter Wahyu sebagai tokoh utama cukup menarik simpati sehingga pembaca peduli dengan karakternya. Dan sekali lagi, bagian ending sebelum tamat itu bukanlah sebuah kejutan. That’s not twist, that’s open ending.