Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Tuesday, October 20, 2015

Crimson Peak (2015): A Beautiful-Gothic "Love" Story

“Ghosts are real, that much I know. I’ve seen them all my life...”
– Edith Cushing –

Hantu itu nyata. Setidaknya itu yang dipercaya Edith Cushing (Mia Wasikowska). Semenjak kematian sang ibu selagi ia kecil, Edith mulai bisa merasakan kehadiran “mereka” disekitarnya. Keberadaan “mereka” tidak hanya mengganggu ketenangan hidup Edith, lebih dari itu, ada peringatan besar yang sayangnya tak diindahkan Edith. Peringatan yang belakangan akan diketahui berhubungan dengan Sir Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) dan Lady Lucille Sharpe (Jessica Chastain), kakak beradik misterius asal Inggris. Penghuni kastil tua bernama Crimson Peak.
Guillermo del Toro adalah sekian dari sutradara yang memiliki ciri khas dalam karyanya. Film-filmnya selalu diisi dengan desain produksi yang kaya imajinasi bersama karakter-karakter yang unik. Diawal karirnya, ia banyak menampilkan film-film horor yang dipenuhi fantasi imajinatif dengan sentuhan gothic yang kental. Tidak hanya sajian horor pembawa rasa takut semata, ada tema lain yang selalu dihadirkan del Toro dalam film-filmnya. Rasa gothic del Toro memang seperti sudah mendarah daging, ini juga menular pada film-film non-horor del Toro seperti Blade II (2002), Hellboy I & II (2004 & 2008).


Setting dan sinematografi adalah dua hal yang selalu saya suka dari del Toro. Entah kenapa, dua hal ini ditangan del Toro selalu membawa cita rasa yang lain daripada yang lain. Gelap, kelam, gothic, old-fashioned, klasik, unik, aneh, absurd tapi cantik, secantik-cantiknya. Pan’s Labyrinth (2006) adalah contoh paling mudah untuk mendefinisikan itu. Memang selain itu, del Toro pernah membuat Pacific Rim (2013) yang sejujurnya tidak terlalu saya sukai. Tapi aspek visualnya jelas sangat tak layak disebut buruk. Dan seperti ingin kembali ke masa dimana orang-orang mulai mengenal dirinya. Del Toro kembali membawa unsur horor dengan mengedepankan dua aspek tadi dalam ‘Crimson Peak’.
‘Crimson Peak’ jelas bukan sajian horor seperti yang orang-orang umum duga. Ini bukanlah ‘The Conjuring’-nya James Wan yang bisa meneror dan mengejutkan anda dengan beragam jump scare. Walaupun memiliki formula yang sama sebagai haunted house movie dalam wujud kastil tua misterius di Allardale Hall,  tapi sekali lagi ditekankan ini bukanlah horor yang seperti itu. Bahkan unsur horornya sendiri tidak sampai mendominasi walaupun kesannya masih sangat terasa. Bisa dibilang, unsur horor bukanlah tajuk utama disini. Berkaca pula pada dialog Edith yang memuat cerita hantu yang ditulisnya hanya berupa metafora untuk masa lalunya. Dari jauh-jauh hari pun del Toro sudah berujar bahwa ‘Crimson Peak’ lebih tepat disebut sebagai gothic-romance dibandingkan pure horor.


 Kesan yang langsung terlintas dibenak setelah menonton ‘Crimson Peak’ adalah betapa cantik dan megahnya film ini. Bahkan hal ini sudah tercium sedari awal. Lagi dan lagi, Guillermo del Toro sukses menghipnotis mata dengan sajian visual termanis di tahun ini. Dimulai dengan New York abad 19 yang dihiasi temaram kuning keemasan yang terasa begitu melankolik mengiringi permulaan kisah. Kemudian ketika lokasi berpindah ke Cumbria yang semakin mengejawantahkan kata cantik dan megah tadi. Kemegahan terpancar jelas dari kastil tua yang tidak hanya menyimpan aura gelap dan misterius yang kuat tapi juga keindahan disaat bersamaan. Rasa horor pun terpancar jelas dari berbagai simbolisme yang disajikan sisi visualnya. Seperti halnya warna merah pekat yang seringkali bercampur dengan putihnya salju. Bersanding bersama atmosfer kelamnya yang turut diisi lantunan musik yang menghantui.
Sama seperti karya-karya del Toro yang lain, ‘Crimson Peak’ pun masih setia menampilkan karakter-karakter unik dari makhluk rekaannya. Dan yang kebagian jatah kali ini adalah para hantu. Desain para hantu yang memang didominasi CGI ini terasa berbeda dengan hantu versi film horor yang biasanya. Terlihat lebih keren dan saya menyukainya. Apalagi ada satu moment yang mengingatkan saya pada detik terakhir pertarungan Ichigo Kurosaki dan Ulquiorra Schiffer di ‘Bleach’ (anime). Ketika akhirnya Ulquiorra berdispersi menjadi butiran debu sesaat sebelum tangan Inoue menyentuhnya.
Maksimal dan gila-gilaan disisi visual ternyata tidak berbuah manis pada narasi dan plotnya. Seolah dikorbankan, aspek yang satu ini memang seperti terpinggirkan. Tidak buruk sebenarnya, saya pun masih menikmatinya. Namun untuk yang berekspektasi lebih, mungkin akan sedikit kecewa. Terlebih aura horor yang mungkin sudah terpatri dibenak penonton diawal (mengingat film inipun berlabel horor) terasa kurang menggigit. Sisi drama yang terjalin lewat romansanya sebenarnya tidak terlalu buruk juga, hanya kurang maksimal saja. Sehingga emosi yang ingin dihadirkan kurang begitu mengena dihati. Twist psikologis-nya juga sedikit mudah ditebak. Dan tak seperti yang saya kira, Mia Wasikowska dan Tom Hiddleston ternyata tidak menunjukkan performa terbaiknya. Beruntung, Jessica Chastain menambalnya dengan penampilan memukau penuh kesan.


Tiga perempat babak ‘Crimson Peak’ memiliki tempo dan tone yang cukup lambat. Faktor ini pula yang (mungkin) membuat para penonton lain teralihkan fokusnya dari layar dengan tak sungkan berlalu lalang, ngobrol atau main smartphone. Mungkin mereka mulai sadar bahwa ‘Crimson Peak’ bukanlah film horor yang diekspektasikan mereka. Tentu, ini tidak berlaku buat saya yang sedari awal sudah terhipnotis oleh ini. Pace yang lumayan lambat itu akhirnya berubah haluan diseperempat babak akhirnya. Simbol merah pekat yang sedari awal muncul mulai bertransformasi menjadi tragedi menegangkan penuh darah. Unsur gore dan kesadisan sangat terasa lewat tusukan-tusukan benda tajam yang cukup memberi perasaan ngeri dalam benak. Anak-anak dibawah umur tidak disarankan menonton film ini.
Terlepas dari rasa horornya yang kurang menggigit atau romansanya yang kurang emosional, saya sangat menikmati ‘Crimson Peak’ secara utuh. Nama Guillermo del Toro sebenarnya sudah sangat mengisyaratkan bahwa ini bukanlah film horor komersil macam ‘Insidious’ atau ‘The Conjuring’. Lagipula, saya juga tidak pernah mengharapkan tontonan seperti itu saat menonton ‘Crimson Peak’. Justru ‘Crimson Peak’ berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Walaupun memang harus diakui ada beberapa bagian yang kurang. Tapi semua itu seolah begitu mudahnya termaafkan ketika tak henti-hentinya kecantikan dan kemegahan tersaji indah dilayar. Kembali saya terhipnotis oleh karya del Toro seperti yang pernah saya rasakan dalam ‘Pan’s Labyrinth’.

Wednesday, October 14, 2015

Assasination Classroom (2015): Belajar Membunuh Guru Sendiri


Tahun 2015 semakin menambah daftar panjang manga dan anime yang dibuatkan versi live action. Ada ‘Attack on Titan’, ‘Bakuman’ dan ‘Assasination Classroom’. ‘Assasination Classroom’ merupakan seri manga populer rekaan Yusei Matsui. Bercerita tentang misi pembunuhan makhluk aneh kuning berwujud gurita oleh kelas 3-E. Kelas yang terisolasi di SMP Kunugigaoka. Seri animenya telah menuntaskan musim pertamanya dalam dua cour dan berakhir pada bulan Juni lalu. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Versi live action manga/anime Jepang seperti dua sisi mata uang. Selalu menghadirkan ekpektasi berbeda dikalangan fans dan non-fans. Disatu sisi memang kurang adil jika terus menerus membandingkan manga/anime dengan versi live action. Karena jelas medianya berbeda. Tapi disisi lain, cukup sulit juga membiasakan diri untuk melepas bayang-bayang manga/anime yang kadung melekat. Menyaksikan versi live action bagi yang sudah akrab dengan manga ataupun animenya bagaikan perjudian besar. Terlebih jika manga/ anime itu begitu disukai. Yang paling terasa adalah ketika beberapa waktu lalu muncul versi live action ‘Attack on Titan’ yang dimodifikasi hampir disemua aspek. Mulai dari plot, set sampai karakter. Tak pelak kritikan pun begitu tajam dialamatkan pada film garapan Shinji Higuchi ini. Karena dianggap melenceng terlalu jauh dari sumber aslinya. Lantas bagaimana dengan ‘Assasination Classroom’ sendiri?
Harus saya akui menit-menit awal film adalah moment adaptasi buat saya. Terutama mengenai penggambaran karakter. Secara penampilan, Koro-Sensei tidak terlalu bermasalah, sosoknya pun berhasil divisualisasikan dengan cukup halus sehingga tampak menyatu dengan karakter lain yang notabene adalah manusia. Kecuali suaranya yang diisi Kazunari Ninomiya. Maklum dalam anime suara Koro-Sensei itu begitu khas dan masih terngiang sampai sekarang. Kemudian berlanjut ke Nagisa (yang kurang feminin, haha), Karashuma, Irina (Bitch-Sensei), Karma, dan yang lainnya. Selang beberapa saat saya pun mulai terbiasa dan menerima penggambaran karakter yang ada. Beralih ke cerita, dan...
Harus diakui juga jika banyak konten-konten manga/anime yang hilang disini. Plot hole pun mulai bermunculan dan cukup terasa, terutama bagi yang belum bersentuhan sama sekali dengan manga/animenya. Tapi Eiichiro Hasumi sanggup membawa ‘Assasination Classroom’ versinya sendiri dengan tetap berpegang teguh pada inti ‘Assasination Classroom’ yang sudah kita kenal. Beberapa moment penting dan khas yang tercatut dalam manga/anime pun kembali dibawa. Sekaligus memberi ruang bagi beberapa karakternya untuk tampil bersinar dan meninggalkan kesan seperti di manga/animenya. Walaupun porsinya sendiri tidak terlalu banyak. Tapi itu sudah lebih dari cukup.
 Apa yang dilakukan Eiichiro Hasumi pada ‘Assasination Classroom’ terbilang cukup tepat. Dia tak sampai hati untuk memodifikasi secara ekstrim fokus dan tone-nya. Menyederhanakannya, mungkin kata yang lebih tepat. Walaupun diluar sana masih banyak yang merasakan perbedaan, itu tidak terlalu bermasalah. Karena memang diperlukan beberapa penyesuaian dari serial 22 episode menjadi film berdurasi 110 menit. Saya pikir, versinya ini masih bisa diterima (dan disukai) baik oleh kalangan fans maupun non-fans. Apalagi modal “menyenangkan” sudah dipunyai ‘Assasination Classroom’ sedari awal. Sayapun menikmatinya.

Me and Earl and the Dying Girl (2015): Kematian yang Mendewasakan


Dari judulnya tertulis kata “dying”. Dari premisnya terpatri sebuah penyakit mematikan. Sepintas, kita sudah bisa menebak film ini akan berjalan seperti apa. Polanya mungkin tak jauh dari eksploitasi rasa sakit si penderita yang mengharap belas kasih penonton. Berdepresif ria menunggu ajal menjemput. Formula khas tearjaker pun rasanya sudah pasti dalam genggaman. Namun tenanglah karena sang pencuri perhatian Sundance sebagai Grand Jury Prize dan the Audience Award ini berbeda dari yang kita kira.
Sebagaimana judulnya, film yang disadur dari novel karya Jesse Andrews ini akan lebih banyak bercerita tentang ketiga tokoh utamanya yaitu Greg, Earl dan Rachel dan bagaimana relasi diantara ketiganya. Semenjak scene dibuka pertama kali, kesan yang terlintas adalah quirky. Buat yang akrab dengan karya-karya Wes Anderson, tak ragu rasanya menambatkan film garapan Alfonso Gomez-Rejon pada nama Wes Anderson. Karena memang begitulah adanya. ‘Me and Earl and the Dying Girl’ seperti versi ringan film-film Wes Anderson tanpa menghilangkan jati diri si sutradara.
Ke-quirky-an di awal rupanya berlanjut pada ke-quirky-an lainnya. Yang paling nyata terlihat adalah pada karakter-karakternya. Terutama Greg Gaines (Thomas Mann) sebagai “Me” sang karakter utama yang notebene adalah siswa SMA tingkat akhir yang terlalu takut dengan kehidupan sekolahnya. Punya permasalahan dengan diri sendiri (insecure, self-loathing, socially awkward) dan hubungan sosialnya. Sampai ia terlalu paranoid untuk menyebut teman sebagai “teman”. Greg menjalin persahabatan dengan Earl (Ronald Cyner II) yang tidak terlalu mempermasalahkan sebutan rekan kerja yang disandang Earl dari Greg. Tapi pastinya kita tahu bahwa mereka berdua sahabat baik yang bisa menerima satu sama lain. Kemudian ada Rachel Kusnher (Olivia Cooke) si penderita leukimia stadium empat yang tak sungkan menertawai nasibnya bersama Greg daripada harus terus meratapinya. Karakter pendukung lainpun tak kalah quirky-nya.
Karakter nyentrik Greg turut berkontribusi pada selera menonton filmnya yang anti-mainstream. Bersama Earl ia sering menghabiskan jam makan siangnya menonton film-film klasik dan arthouse. Bersama Earl pula ia sering membuat film-film nyentrik yang merupakan versi sweded dari film-film klasik lainnya. Menyenangkan sekaligus menggelitik melihat judul-judul macam ‘Anantomy of a Murder’ dirubah menjadi ‘Anatomy of a Burger’, ‘A Clockwork Orange’ menjadi ‘A Sockwork Orange’, ‘Eyes Wide Shut’ menjadi ‘Eyes Wide Butt’ dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal ini menjadi hiburan tersendiri terutama buat yang akrab dengan film-film tersebut.
Alih-alih menyajikan tontonan yang depresif, ‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang lebih banyak menyoroti potensi itu dengan cara yang lain. Seringnya malah kita tersenyum dan tertawa melihat celotehan-celotehan masing-masing karakter beserta tingkah polah mereka. Namun disamping itu, film ini tidak sedikitpun kehilangan emosi dan moment dramatisnya. Malah Alfonso Gomez-Rejon memiliki cara yang elit dalam memberi koneksi emosi kepada penontonnya. Dan berhasil menyajikan moment mengharu biru tanpa harus mendramatisirnya secara over. Tapi semuanya terjadi begitu saja, mengalir apa adanya dan kitapun terhanyut akannya. Ditambah scoring Brian Eno dan Nico Muhly yang begitu mengena dalam menghidupkan setiap scene-nya.
‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang bukan seperti drama remaja pada umumnya yang menjadikan penyakit mematikan sebagai premisnya. Sebenarnya semua elemen khas tema seperti ini masih ada, hanya caranya saja yang berbeda dan tak biasa. Dan itu menyenangkan, sekaligus menghangatkan. Terlebih ‘Me and Earl and the Dying Girl’ membawa aura positif dibalik semua getir yang ada. Sisi gloomy kematian dibawanya pada sebuah pelajaran berharga buat karakternya. Menjadikannya lebih dewasa dalam menghadapi hidup dan menghargainya.

Monday, October 5, 2015

The Martian (2015): Humanisme Dibalik Misi Penyelamatan dan Bertahan Hidup


Waktu kecil seringkali kita diajukan pertanyaan dari sekitar tentang cita-cita jika sudah dewasa nanti mau jadi apa? Astronot mungkin menjadi salah satu profesi yang paling diidolakan zaman anak-anak dulu. Astronot itu keren, bisa menjelajahi angkasa raya. Menggapai bintang-bintang. Namun setelah kita mulai besar dan mulai agak mengerti, kita pun tahu dan sadar bahwa menjadi astronot itu tidak semudah seperti yang dibayangkan. Sisi kerennya memang masih ada. Tapi ada konsekuensi mahaberat yang siap menanti tanpa pernah bisa diprediksi. Beberapa film sci-fi telah banyak mengungkapkan kengerian bernama luar angkasa tersebut. Sebut saja Gravity (2013) Alfonso Cuaron dan Interstellar (2014) Christopher Nolan [Review].
Dua film yang saya sebut diatas adalah dua film yang sanggup membawa sisi lain luar angkasa dengan pendekatan yang realistis. Dari keduanya, saya menjadi semakin sadar bahwa menjadi astoronot bukanlah pekerjaan mudah. Teramat sangat mengerikan malah. Kadang saya suka berpikir bagaimana jika harus terombang-ambing di antah berantah itu, sendirian, dengan berbagai kemungkinan buruk yang masih bisa terjadi. Bahkan jika harus meninggal pun entah akan kemana mayatnya nanti.
‘Gravity’ dan ‘Interstellar’ adalah dua film yang sama-sama mengagumkan lewat tangan dingin sutradaranya. Dan setelah berturut-turut dari ‘Gravity’ ke ‘Interstellar’, tahun ini kitapun disuguhi menu yang hampir sama. Ada Ridley Scott, sutradara gaek yang punya track record bagus dalam film sci-fi bertema luar angkasa yang kali ini meminjam kisah dari novel Andy Weir, The Martian. Bukan tentang kecelakaan luar angkasa lagi. Bukan pula tentang perjalanan melintasi galaksi mencari planet yang bisa dihuni manusia. Scott akan menyoroti perjuangan survival seorang manusia yang harus terdampar di planet Mars seorang diri.
Diantara delapan planet dalam tata surya kita, planet Mars mungkin menjadi planet terdepan yang dianggap paling bisa ditinggali setelah bumi. Sejumlah ilmuwan dan peneliti telah acap kali mengemukakan berbagai konsep dan teori yang berkaitan dengan itu. Mulai dari struktur planet Mars yang diperkirakan hampir sama dengan bumi, adanya kehidupan di Mars lewat ditemukannya cairan yang diperkirakan sebagai air, dsb. Walaupun sesungguhnya itu semua masih harus perlu dikaji lebih dalam lagi, tapi kita semua sudah sering berimajinasi dan bertanya-tanya tentang kehidupan disana. Seorang Bob Dylan pun tak ketinggalan mempertanyakannya dalam salah satu lirik lagunya yang berbunyi, is there ilfe on Mars? Dan dalam medium film, sudah bukan hal baru jika planet merah telah mendapat tempat tersendiri dimata mata para sineas.


‘The Martian’ memulai semuanya tanpa basa-basi. Kita langsung diperlihatkan pada sejumlah awak tim dalam misi bernama Ares 3 di Mars yang gersang. Tanpa diduga sebuah badai besar menghadang mengharuskan sang komandan Melissa Lewis (Jessica Chastain) membatalkan misi seketika. Mark Watney (Matt Damon) yang punya pendapat berbeda soal keputusan sang komandan malah mengalami kecelakaan yang membuat dirinya dianggap tewas oleh seluruh rekannya. Dengan berat hati para awak pun meninggalkan mayat Watney terdampar di Mars. Namun apa yang terjadi setelahnya, kita tahu bahwa Mark Watney masih hidup, lebih ironis lagi karena masih hidupnya Mark adalah berkat kecelakaan yang menimpanya.
Dalam pembukaannya, Ridley Scott seolah ingin menunjukkan kembali betapa kejam dan mengerikannya kehidupan diluar bumi. Adegan dalam badai tersebut sangat bisa mendefinisikan pernyataan tadi. Kengerian, keriuhan, hadir bersama dentuman keras dan visual yang ikut membawa suasana menegangkan. Bahkan sampai saat Mark Watney selamat pun kita masih harus menyaksikan pemandangan yang tak menyenangkan. Tak pelak lagi ingatan saya langsung dibawa pada ‘Gravity’ dan ‘Interstellar’. Dan harus saya akui sedikit banyak hal itu membawa ekspektasi yang sama. Meski kenyataannya film ini sangatlah berbeda dengan keduanya.
Mungkin sedari awal Ridley Scott memang sudah sadar bahwa filmnya yang bertema luar angkasa, berurutan pula dengan ‘Gravity’ dan ‘Interstellar’ (yang sudah punya standar sendiri), akan di-compare penonton dengan karya Cuaron dan Nolan. Maka dari itu, terlepas dari sumber aslinya, Ridley memillih mengambil jalan berbeda dengan para pendahulunya. Meninggalkan kesan kelam dan serius yang dilakukan Cuaron dan Nolan, ‘The Martian’ dibawanya pada sajian yang ringan, santai, lucu, sarkastik tanpa sedikitpun menghilangkan unsur sains dan ketegangannya.
Keberhasilan Ridley Scott yang paling terasa disini adalah bagaimana ia bisa membuat timing yang tepat dalam menciptakan setiap moment yang sanggup menarik atensi penonton sebelum jatuh pada jurang kebosanan. Moment-moment santai yang ia ciptakan langsung ditimpa suasana mencekam penuh ketegangan sebelum benar-benar membosankan. Pun begitu ketika urat nadi mulai menegang, Ridley Scott membawanya pada suasana canda penuh tawa yang datang tanpa kita duga. Berulang kali silih berganti. Semuanya terasa tepat waktu. Dan itu menyenangkan.
Matt Damon ternyata tidak sedepresif itu ketika harus tertinggal sendiri di Mars. Berbekal kepintarannya, Mark Watney memang bisa hidup sol demi sol (hari versi Mars) lebih dari dugaan awalnya. Namun dibalik itu, ia adalah seseorang yang selalu berpikir positif, gaya bicara dan guyonannya selalu bisa membuat suasana menjadi sedikit lebih menenangkan. Ia masih sanggup menari-nari disko tatkala orang bumi begitu mengkhawatirkan keadaannya. Ia juga masih sempat berpose ketika diminta Annie Montrose memberikan gambarnya. Performa Matt disini juga layak mendapat apresiasi walaupun ia masih kurang memberi koneksi emosi yang dalam bagi penonton.


‘The Martian’ tidak hanya melulu tentang perjuangan bertahan hidup seorang anak manusia di Mars. Kita juga bisa melihat bagaimana kondisi yang terjadi dibumi ketika tahu bahwa ada saudara mereka yang tertinggal 35 juta km jauhnya dari mereka. Bagaimana mereka juga ikut memperjuangkan keselamatan Mark di Mars sampai bisa kembali ke bumi dengan berbagai cara serta upaya. Meski mereka sendiri sadar bahwa masih ada resiko besar menanti dibalik itu. NASA, media sampai masyarakat luas pun ikut memberi dukungannya. Tak ketinggalan pula rekan Mark di Hermes ikut ambil bagian dalam ini. Pada akhirnya kitapun akan berkesimpulan bahwa ‘The Martian’ itu sangat kaya akan sisi humanisme didalamnya. Menurut saya, malah itulah fokus utamanya.
Berjubelnya karakter disini sedikit banyak memang memberi nilai minus buat ‘The Martian’. Yang paling terasa adalah peran karakter pendukung yang kurang begitu mengena. Saya kadang suka lupa nama mereka siapa dan kepentingan mereka disitu untuk apa. Interaksi yang terjalin antar karakter pun masih kurang mengena menurut saya. Beruntung di bumi masih ada Jeff Daniels, Sean Bean dan Chiwetel Ejiofor, ditambah Donald Glover yang lumayan mencuri perhatian. Sementara di Hermes ada lima orang yang hampir tidak memberikan koneksi apapun ketika mereka berinteraksi satu sama lain. Bahkan saat mereka membuat keputusan untuk menjemput kembali Mark. Sedangkan di garda terdepan kita memiliki Matt Damon yang tanpa performa baiknya, mungkin ‘The Martian’ akan menjadi sajian yang kosong semata.
So, ‘The Martian’ mungkin agak kurang sesuai dengan ekspektasi awal saya, dimana saya mengharapkan ini akan menjadi tontonan space-thriller serius dan kelam layaknya ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Dan kalau mau dibandingkan pesona ‘The Martian’ masih kalah dari keduanya menurut saya. Tapi jalan berbeda yang ditempuh Ridley Scott adalah jalan yang sangat tepat, terlepas dari novelnya yang juga demikian atau tidak. Setidaknya itu bisa membuat ‘The Martian’ berdiri sendiri tanpa harus terus dikaitkan dengan ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Caranya itu pula yang membuat ‘The Martian’ masih bisa menyisakan perasaan menyenangkan di benak penontonnya.

(FYI) Sudah Tiga Tahun!!!

Yap! Tepat hari ini, usia 'One Story, About...' menginjak angka 3 (tiga) tahun. Tidak menyangka juga selama 3 (tiga) tahun ini saya cukup konsisten menulis. Mulai dari tulisan tentang film (yang memang sangat mendominasi), musik, anime, buku, info-info gak penting, curhatan gak penting + sharing pengalaman (yang juga gak penting), opini pribadi sama hal sekitar (walaupun kadang agak satir), sampai sok-sok-an berkata-kata sok puitis. Dan saya pikir kesemuanya itu gak bagus-bagus amat. Hahaha.
Dan terima kasih buat siapapun, dibelahan dunia manapun, yang mau berkunjung ke blog saya yang biasa-biasa saja ini. Terlebih ditahun ini jumlah viewers-nya meningkat pesat bila dibanding dua tahun sebelumnya. Thanks 2015! Mudah-mudahan tahun-tahun kedepannya bisa terus bertambah lagi, lagi dan lagi. #ngarep. Terima kasih juga untuk sebagian kecil yang mau berkomentar. Haha.
Jadi, FYI aja kalau blog ini sudah berusia tiga tahun. Udah gitu aja.
...And happy 3rd anniversary my 'One Story, About...'

Tuesday, September 29, 2015

Catatan Nonton #September’15

‘Catatan Nonton’ untuk bulan Agustus saya beri label khusus 'Spesial Film Indonesia' yang memang saya dedikasikan untuk melihat kembali betapa banyaknya film-film Indonesia yang bagus. Dan dibulan September ini ‘Catatan Nonton’ kembali ke format reguler. Merangkum catatan tentang film yang telah ditonton selama satu bulan lewat kumpulan review-review pendek. Dan dikarenakan bulan Agustus kemarin edisinya spesial, maka film-film yang sempat saya tonton di bulan Agustus akan saya masukkan disini. Berikut film-film yang masuk kantong ‘Catatan Nonton’ edisi ke-21 September 2015. Gambar dari sini ya!

The Divergent Series: Insurgent (2015) (02/08/15)


Short review:
Saya sengaja menghindari membaca ‘Insurgent’, mengingat pengalaman sebelumnya, menonton Divergent (2014) ternyata kurang begitu memuaskan setelah membaca bukunya terlebih dulu. Lalu yang terjadi dengan ‘Insurgent’ ternyata tidak jauh berbeda dengan predesesornya. ‘Insurgent’ sendiri bisa tampil menarik jika berkaca pada ending ‘Divergent’ yang menggantung dan penuh pertanyaan itu. Dan jika diluar sana banyak yang bilang ‘Insurgent’ itu membosankan, itu tidak sepenuhnya salah. Toh yang terjadi memang demikian. Yang membuatnya tetap bertahan dari kebosananan adalah karena sebagai penonton kita butuh jawaban tentang sosok Divergent yang dianggap berbahaya itu. Selain aspek visual dispersi yang begitu mendominasi yang memanjakan mata. Ya, kita tunggu saja bagaimana petualangan Tris dkk selanjutnya diluar tembok lewat ‘Allegiant’ dan ‘Ascendant’.
Skor: 3/5

We Need to Talk About Kevin (2011) (09/08/15)


Short review:
Saya kira ini film horor, ternyata bukan. ‘We Need to Talk About Kevin’ adalah film drama tentang hubungan ibu dan anak. Tapi saya merasakan nuansa yang begitu horor dari film ini bahkan semenjak detik pertama bergulir. Jujur saya jarang merasakan aura seram dalam film bahkan dari film horor sekalipun. Tapi ‘We Need to Talk About Kevin’ berhasil membuat saya begidik. Rasa horornya benar-benar mengalahkan film-film yang memang bergenre horor. Mungkin film ini akan menjadi relatif ketika menyebut kata ‘horor’ itu sendiri. Tapi saya jamin, jika sedari awal menonton sudah terkoneksi dengan film ini, rasa itu pasti terasa. Imajinasi, mungkin itulah kuncinya. Mimpi buruk para ibu.
Skor: 4,5/5

The Book of Life (2014) (13/08/15)


Short review:
Ada nama Guillermo del Toro yang duduk sebagai produser membuat kita sedikit berharap pada sisi visual yang bakalan unik dan imajinatif. Dan terbukti, aspek visual ‘The Book of Life’ itu juara. Bahkan bukan hanya visualnya saja yang unggul, ‘The Book of Life’ mampu bercerita dengan begitu menyenangkan meskipun menawarkan kisah yang sebenarnya sederhana. Sebagai penonton, saya merasa menonton ‘The Book of Life’ itu seperti mendengar dongeng bergambar yang dibacakan pendongeng bernama Jorge R. Gutierrez. Benar-benar terbawa oleh dunianya yang penuh warna dan fantasi. Temanya yang sedikit gelap pun masih ramah dan bisa dinikmati kalangan penonton cilik. Dan satu lagi yang tak boleh dilupakan yaitu soundtrack-nya yang bertaburan lagu manis nan romantis.
Skor: 4/5

Inside Out (2015) (24/08/15)


Short review:
Film ini bagus banget! Udah gitu aja.
Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 5/5

Southpaw (2015) (30/08/15)


Short review:
‘Southpaw’ mungkin tidak akan jauh berbeda dengan film bertema olahraga pada umumnya (atau tinju spesifiknya). Bagian ending pun rasanya sudah bisa ditebak akan seperti apa. Kalau tidak menang dramatis, tentu kalah dengan terhormat. Lalu apalagi yang akan ditawarkan Antoine Fuqua yang berhasil mempermak Jake Gyllenhal menjadi lebih kekar dan berotot ini? Jawabannya tidak ada yang baru sebenarnya. ‘Southpaw’ menyoroti kisah seorang petinju berlabel juara yang harus jatuh pada titik terendah yang kemudian kembali berjuang meraih kejayaannya seperti dulu. Familiar bukan? Tapi bukankah kita selalu tertarik dengan template kisah klise semacam itu? Dan ditangan Fuqua, ‘Southpaw’ tetap menjadi film olahraga keras sekeras tinju itu sendiri. Penuh pukulan menyakitkan namun tetap menyisakan harapan. Dan Jake Gyllenhal, semakin meyakinkan kita bahwa dia memang aktor berbakat.
Skor: 3,5/5

San Andreas (2015) (31/08/15)


Short review:
Sebagai disaster movie yang membawa gempa bumi sebagai biang keladinya, ‘San Andreas’ memang berhasil tampil memuaskan (baca: menghibur). Gempa bumi berskala masif ini berhasil menimbulkan kengerian dimata penonton. Potret-potret kengerian dalam pose kehancuran pun berhasil dituangkan dalam visual yang memukau. Porsi dramanya memang tidak sampai pada taraf yang spesial, tapi tak mengapa, sedari awal kita harusnya sudah sadar bahwa ‘San Andreas’ adalah film yang diperuntukkan untuk memeriahkan musim blockbuster. Menghibur lewat sajian efek visual saja rasanya sudah  jadi ekpektasi paling konkret untuk film semacam ini. Dan ‘San Andreas’ bersama sang The Rock telah melakukannya dengan baik. Btw, Alexandra Daddario disini, gimana gitu ya? Haha.
Skor: 3,5/5

Z for Zachariah (2015) (06/09/15)


Short review:
Mari kita lihat sekilas tentang ‘Z for Zachariah’ yang disutradarai Craig Zobel. Film ini hanya dibintangi 3 (tiga) orang pemain saja, Margot Robbie, Chiwetel Ejiofor dan Chris Pine. Meskipun membawa tema post-apocalypse, kita tidak akan melihat proses kepunahan manusia akibat serangan zombie, virus atau radiasi radioaktif akibat perang nuklir seperti yang diperbincangkan para tokohnya. Tidak ada konflik yang besar antarkarakter. Kita hanya akan diperlihatkan ketiga karakter yang saling bertemu, berbincang tentang eksistensinya sebagai manusia yang selamat dari bencana. Element sci-fi-nya pun tidak seperti yang umum sering kita dengar. Sepintas mungkin terdengar tidak menarik, tapi ada pesan yang ingin disampaikan lewat kesederhanaan film ini. Disitulah letak kekuatannya, kesederhanaan. Yang mungkin menjadi kekurangan adalah hubungan ketiga karakter itu sendiri. Interaksi ketiganya seperti kurang maksimal sehingga kesan emosional pun kurang sampai pada penonton.
Skor: 3,5/5

Jurassic World (2015) (11/09/15)


Short review:
Sebuah guilty pleasure buat saya. Karena saya tidak berekspektasi apapun tentang ‘Jurassic World’. Dan hasilnya, sebuah film yang benar-benar menghibur dari semua sisi. Terlebih ‘Jurassic World’ berhasil menyajikan sisi homage yang menghormati pendahulunya Jurassic Park (1993) yang mampu mengajak kita bernostalgia pada masa itu. Sekali lagi, film ini benar-benar menghibur. Salah satu contoh film summer blockbuster yang bisa menerjemahkan kata blockbuster itu sendiri.
Skor: 3,75/5

Self/less (2015) (23/09/15)


Short review:
Tarsem Singh membawa premis akan manusia-manusia lancang yang mencurangi takdir Tuhan. Konsepnya sebenarnya menarik tentang bagaimana manusia-manusia yang haus akan keabadian hidup dan menolak yang namanya kematian. Perkenalannya pun berjalan baik, kita mulai diperlihatkan tentang sistem pergantian tubuh ala dokter Albright. Dan itu menarik. Namun menginjak pertengahan sampai credit scene bergulir, ‘Self/less’ seperti kehilangan pesona awalnya dan berubah menjadi film action yang sebenarnya sudah sering kita lihat di film-film yang lain. Sangat disayangkan, padahal element sci-fi-nya bisa digali lebih dalam dibandingkan harus merubah haluannya dengan berbagai adegan aksi medioker.
Skor: 2,75/5

Wednesday, September 23, 2015

My Favorite Female Anime Characters

Selain suka nonton film, saya juga suka nonton anime. Maka dari itu, setelah kemarin sempat membahas tentang aktris favorit, saya merasa perlu untuk membahas karakter anime perempuan favorit juga, biar afdol. Kenapa yang dipilih karakter perempuan? Post sebelumnya juga perempuan kan? Aktris? YA, MASA LAKI SIH! Lagipula ini bukan tentang kualitas, peran atau apapun. Ini tentang seberapa besar daya tarik yang dimiliki karakter itu sendiri. Bisa karena penampilan fisik, bisa karena penokohannya, penggambaran karakternya atau apapun, yang pasti, yang menarik dimata saya. Dan inilah karakter anime perempuan favorit versi saya! Here they are!
Honorable MentionsNami, Nico Robin, Boa Hancock (One Piece), Kirisaki Chitoge (Nisekoi), Kiyoko Shimizu (Haikyuu), Lucy Heartfilia (Fairy Tail). 

#10 Kuroyukihime (Accel World)


Seperti yang sering disebut untuk menggambarkan karakternya, Kuroyukihime itu cantik, populer, seorang wakil ketua OSIS disekolahnya. Sosoknya kuat. Tatapan matanya tajam. Seorang level 9 Burst Linker. Salah satu dari 7 raja di dunia accelerate world. Pemilik rambut hitam panjang bergigi putih ini, kalau tertawa manis sekali. Begitulah adanya.

#9 Makise Kurisu (Steins;Gate)


Dalam anime Steins;Gate, Makise Kurisu digambarkan sebagai seorang peneliti di bidang syaraf yang sangat berbakat dan fasih berbahasa inggris. Jurnal ilmiah atas namanya telah banyak dipublikasikan. Meski digambarkan sebagai sosok yang dingin, ia sebenarnya memiliki sifat yang baik hati. Makise pun tidak sedingin karakter perempuan dingin pada umumnya, ia malah sering ribut, cekcok dan berselisih "tidak penting" dengan karaker utama, Kyoma yang suka memanggil Makise sekenanya. Mulai dari asisten, Christina sampai zombie. Makise ini tergolong sebagai karakter tsundere, salah satu tipikal karakter yang memang banyak disukai orang karena ke-khas-an karakternya.

#8 Erza Scarlet (Fairy Tail)


Erza Scarlet merupakan salah satu karakter terkuat di 'Fairy Tail'. Sang Putri Titania tampak kuat dengan baju besi yang sering dikenakannya. Kemampuan bertarung yang dimilikinya pun semakin menegaskan sosok kuat dalam dirinya. Sosoknya mungkin terlihat menyeramkan dimata orang-orang biasa (terutama di awal perkenalan), namun  sesungguhnya Erza memiliki kepribadian yang hangat dan bersahabat. Ia pun sangat peduli dengan teman-temannya. Dan dibalik baju besi untuk menunjukkan sisi kuatnya dimata orang lain, Erza masih memendam sisi rapuhnya sebagai seorang perempuan. Masa lalu yang tragis membentuk dirinya yang sekarang.


#7 Shirley Fenette (Code Geass)


Di 'Code Geass', nama CC ataupun Kallen Stadtfeld mungkin banyak disebut orang sebagai karakter perempuan yang diidolakan. Namun dimata saya, nama Shirley Fenette-lah yang muncul di garda terdepan. Karakternya yang periang, ceria dan "perempuan sekali" cukup menarik perhatian disini. Meksi tidak menjabat sebagai karakter utama, kehadiran Shirley di 'Code Geass' mempunyai peran yang cukup penting terhadap plot yang ada. Apalagi ia digambarkan sebagai sosok love interest bagi sang karakter utama, Lelouch.

#6 Akame (Akame ga Kill)


         Anggota Night Raid berjuluk ‘Akame of the Demon Sword Murasame’ ini memiliki sikap yang dingin. Sama seperti wajahnya yang juga menampakkan aura yang sama. Sama dinginnya ketika ia menghunuskan pedang pada lawannya. Meskipun sering menampakkan kesan dingin yang kental tapi wajah Akame itu juga memunculkan sisi ‘lucu’ disaat bersamaan. Dan dia jago sekali masak. Di episode awal, pemilik Teigu Murasame berambut hitam ini sering sekali bilang, Musnahkan! sebelum menebas musuhnya.

#5 Misaki Mei (Another)


Sosoknya yang terlihat misterius, dingin dan seolah tak terlihat oleh orang-orang di sekitarnya kecuali Kouichi membuat saya mengira Misaki Mei adalah hantu yang jadi legenda disekolahnya. Secara namanya juga Misaki. Namun ternyata bukan. Siswi kelas 9-3 ini sering sekali menutup sebelah matanya yang membuatnya semakin terlihat misterius. Cara berbicaranya seringkali datar, ekspresinyapun demikian. Jarang sekali ia memunculkan emosi yang membuncah. Ia masih saja terlihat dingin bagaimanapun keadaanya. Tapi justru disitulah daya tarik terbesarnya.

#4 Tsugumi Seishirou (Nisekoi)



Menjadi karakter perempuan terfavoirt dalam anime Nisekoi walaupun dia bukanlah karakter utama. Tsugumi digambarkan sebagai karakter yang tomboy. Seringkali berdandan ala pria bahkan dia dianggap sebagai pria oleh mereka yang belum tahu. Tsugumi merupakan sosok perempuan tangguh dan mandiri. Ia dilatih sebagai pembunuh profesional dibawah arahan mafia kelas kakap. Meski begitu Tsugumi tetaplah seorang perempuan yang memiliki sisi rapuh dan feminin dengan caranya sendiri. Tingkahnya yang malu-malu mau atau saat ia sedang salah tingkah menjadi hiburan tersendiri dalam kisah Nisekoi. Kesetiaannya pada Kirisaki Chitoge tak perlu diragukan, ia sangat loyal pada sang putri. Selain itu, Tsugumi juga pintar masak. 

#3 Touka Kirishima (Tokyo Ghoul)


Touka merupakan pelayan berparas menarik di kedai kopi Anteiku. Seorang ghoul dengan bentuk kagune paling keren diantara yang lainnya. Seorang ghoul yang bisa beradaptasi dalam kehidupan manusia normal. Di kehidupan manusianya, Touka terlihat seperti perempuan biasa seumurannya. Ia bersekolah, belajar dan berteman selayaknya manusia biasa. Sebagai seorang ghoul, Touka adalah sosok yang kuat dan prinsipil. Karakternya sebenarnya baik, agak sedikit dingin, cenderung galak malah (terutama untuk orang yang ia pedulikan), tapi mempunyai daya tarik yang besar dari gestur, bahasa tubuh dan mimiknya. Itu yang saya rasakan ketika ia muncul pertama kali. Dan jangan sekali-kali membuat dia marah, karena dia bisa berubah menjadi sosok yang menyeramkan. 

#2 Erina Nakiri (Shokugeki no Souma)



Cukup banyak karakter perempuan yang menarik dari 'Shokugeki no Souma'. Sebut saja Alice Nakiri, Ryoko Sakaki, Arato Hisako sampai Mito Ikumi. Namun diantara nama yang ada, Erina Nakiri menjadi yang paling bersinar diantara mereka. Namanya cukup disegani karena kemampuan memasaknya yang hebat. Siswa yang dijuluki 'Lidah Dewa' karena kemampuan perasanya yang tiada tanding ini menempati peringkat 10 dalam jajaran Elite Ten Council di Tootsuki. Sosoknya sedikit sombong dan terkesan merendahkan orang lain. Tapi meski begitu, tak jarang ia menunjukkan rasa pedulinya pada orang-orang disekitarnya. Walau seringnya Erina terlalu gengsi untuk mengakuinya. Kepribadian Erina yang angkuh sebenarnya tidak terjadi begitu saja, ada sosok yang selalu menghantui yang perlahan merubah senyuman Erina.

#1 Mikasa Ackerman (Attack on Titan)


Sangat mudah bagi saya menentukan siapa yang berhak mendapat peringkat pertama dalam deretan karakter anime perempuan favorit saya. Saya tidak bisa memikirkan nama lain lagi selain Mikasa Ackerman! She’s the best. The one and only. Secara fisik, perawakannya ok, wajahnya juga cantik. Dan yang pasti dia itu keren (Ini penting!). Aura misterius yang kental dan kentara dalam setiap gerak-geriknya yang dingin, begitu melekat dengan image-nya. Kuat namun masih tetap menyisakan sisi feminisme dibalik kerapuhannya sebagai seorang perempuan. Terkesan angkuh dan cuek namun dibalik sikapnya itu, ia mempunyai rasa empati, peduli, perhatian dan kasih sayang yang besar, terutama untuk orang-orang yang berharga dalam hidupnya. Ia bahkan rela mati untuk mereka. 

Tuesday, September 22, 2015

My Favorite Actress

Mungkin saat ini saya sedang bingung. Bingung mau ngapain. Bingung mau nulis apa. Apalagi kemarin katanya ada yang lagi sedih. Puk-puk-puk. Karena itu, sekarang saya mau sedikit refreshing dengan ngebahas yang seger-seger. Ngebahas yang cantik-cantik. Asik! Ngobrolin aktris favorit. Haha. Saya yakin mereka-mereka yang ada dalam daftar ini bukanlah aktris yang buruk aktingnya, tapi kualitas akting bukanlah patokan utama disini. Lalu apa dong? Nggak tahu. Yang pasti mereka ini harus cakep. Hahah! LOL.
Pernah nggak nonton film dimana ada satu sosok aktris yang begitu menarik? Kemudian dengan tanpa sadar kita mulai mencari film-film lain yang dibintanginya. Atau satu sosok aktris yang sebenarnya sudah kita lihat dibeberapa film, lalu lewat sebuah film yang lain satu sosok itu entah kenapa berubah menjadi lebih menarik dari sebelumnya? Kemudian kitapun mulai memaafkan peran-peran mereka sebelumnya sampai akhirnya kehadiran mereka di film-film yang lain menjadi begitu dinanti. Tak peduli filmnya bagus atau tidak, selama satu sosok tersebut hadir, itu sudah cukup menjadi alasan buat kita stand by melihat layar sampai filmnya usai. Keberadaan mereka benar-benar mempengaruhi mood selama menonton. Pernahkah? Merasa demikian?
Mungkin itulah gambaran yang melatarbelakangi pembentukan daftar aktris favorit pada post saya kali ini. Setidaknya demikian. Kurang lebih. Dan inilah aktris-aktris yang selalu berhasil memusatkan perhatian saya untuk terus tertuju pada layar.

Kristen Stewart


Menjadikannya satu bahasan khusus pada post 'Catatan Nonton' sudah sangat jelas mengisyaratkan jika Kristen Stewart memang nama yang paling difavoritkan. Tapi biarpun begitu, tolong jangan panggil saya fans ‘Twilight’ karena menyukai pemeran Bella Swan ini. Image Bella Swan memang sangat kental dengan nama Kristen Stewart, namun seperti yang pernah saya singgung sebelumnya di Catatan Nonton Spesial Kristen Stewart bahwa The Runaways (2010) lah yang menyadarkan saya bahwa perempuan 25 tahun ini memang aktris yang ok. Diluar saga ‘Twilight’ dan Snow White & the Huntsman (2012) yang sering disebut orang sebagai akting dengan ekspresi datarnya, Kristen Stewart sesungguhnya mempunyai daftar film yang bisa menunjukkan bahwa dia memang bisa berakting dan bagus mainnya. Tidak hanya pesonanya, beberapa film sudah jadi bukti akan kemampuannya. Perannya dalam Clouds of Sils Maria (2014) malah mendapat penghargaan bergengsi di Perancis.  

Lily James


Dalam short review yang pernah saya tulis, saya menyebut Cinderella (2015) sebagai film yang memberi perasaan senang dan bahagia seusai menontonnya. Selain kisahnya yang happy ending, sosok Ella yang diperankan Lily James memang teramat sulit dilupakan. Bahkan saya tak bisa membayangkan sosok lain yang pantas memerankan Cinderella selain aktris asal Inggris ini. Faktanya, si cantik pemeran Lady Rose di Downtown Abbey (2010) ini memang mampu memerankan princess yang ikonik dengan sepatu kaca ini dengan sangat baik. Maka dari itu, menjadi beralasan ketika sensasi senang dan bahagia dirasakan sehabis menonton filmnya. Jawabannya sudah pasti, satu diantaranya, tak lain dan tak bukan adalah karena ada Lily James disana.

Margot Robbie


Aktris berkebangsaan Aussie ini sudah kelihatan cantiknya walaupun cuma muncul sebentar di About Time (2013). Di The Wolf of Wall Street (2013) barulah Margot Robbie benar-benar membuat mata para pria tak mampu berpaling darinya. Tssah! Kemunculan pertamanya sebagai Naomi Lapaglia dengan dress birunya teramat sulit dilupakan. Penampilannya di film arahan Martin Scorsese tersebut memang begitu mengesankan (dari kacamata pria) dan menggoda iman sampai Jonah Hill pun harus melakukan perbuatan memalukan didepan umum, didepan istrinya pula. ROTFL. Pasca tampil di TWoWS, image sexy memang seperti melekat dengan Robbie. Hollywood pun dengan senang hati memanfaatkan potensi Margot yang satu ini. Kita bisa melihat film-film Margot setelah TWoWS. Namun jangan salah, ia juga rela dipermak kumal, tanpa make-up menor berlebihan dan menghilangkan segala image yang kadung melekat dengannya seperti di Z for Zachariah (2015).

Scarlett Johansson


Saya bertanya-tanya, ini siapa? Wanita berambut merah keriting, berpakaian lateks hitam ketat, beraksi sendirian membasmi para penjahat di Iron Man 2 (2010). Itulah pertama kali Scarlett Johansson mencuri perhatian saya dalam film. Dari situlah saya mulai mencari seluruh filmography-nya. Sampai saya menemukan sosok ScarJo yang masih muda dan cantik di Lost in Translation (2003). Tidak hanya penampilan fisiknya yang masih fresh, ia juga mampu menunjukkan performa akting yang prima disitu. Itu adalah bukti cukup bahwa ia tidak hanya punya modal wajah ‘nakal’ dan tampilan fisik yang kadang suka dieksploitasi para sineas. Oh ya, kalau pernah memperhatikan film keluarga yang tak pernah absen mengisi slot tayangan dimasa liburan dilayar kaca Indonesia, ‘Home Alone’, kita akan bertemu dengan sosok Scarlett Johansson yang masih kecil di seri ke-3 film tersebut.

Gemma Arterton


Gemma Arterton bisa dibilang memiliki image yang hampir sama dengan Margot Robbie dan Scarlett Johannson. Dibandingkan mereka berdua, Arterton malah tampak lebih manis menurut saya. Namun entah kenapa namanya kurang begitu bergaung. Film-film besar yang dibintanginya pun tidak sampai menimbulkan hype yang besar pula, padahal ia pernah menjadi Bond Girl di Quantum of Solace (2008) dan menjadi Princess Tamina di Prince of Persia (2010). Atau mungkin karena memang performanya yang kurang. Tapi tentu itu bukanlah masalah, lagipula ini bukanlah daftar aktris dengan akting terbaik. Peran Arterton yang paling saya sukai adalah waktu dia jadi Gretel di Hansel & Gretel (2013). Dia terlihat sangat keren disitu. Wajah manisnya sangat mendukung karakter Gretel yang terkesan dingin dan kuat. Tapi disaat bersamaan tak lupa akan kodratnya sebagai perempuan yang butuh dilindungi.

Elle Fanning


Menjadi anak kecil yang kelak jadi love interest Brad Pitt di The Curious Case of Benjamin Button (2008) membut saya berujar, “cantik juga ni anak!” Kesan itu masih bertahan ketika dia jadi Alice di Super 8 (2011) dan terus berlanjut ketika dia menjadi salah satu penjaga kebun binatang di We Bought a Zoo (2011). Pesona dara 17 tahun ini malah mengalahkan Scarlett Johansson yang juga tampil satu frame bersamanya. Tidak beralasan pula bila Disney pun mendaulat adik Dakota Fanning ini sebagai princess Aurora di Maleficent (2014). Aktris yang semenjak bayi sudah main film ini sudah menerima banyak menerima proyek film dimasa depan dengan berbagai peran yang beragam. Patut ditunggu kehadirannya nanti.

Zooey Deschanel


Seperti halnya Tom yang langsung kepincut dengan kecantikan Summer, perasaan para penonton (500) Days of Summer (2009) pun tak jauh berbeda ketika melihat pemerannya, Zooey Deschanel. Vokalis ‘She & Him’ ini memang memiliki apa yang disebut narator (500) Days of Summer (2009) sebagai summer effect yang membuat mata dunia seolah teralihkan perhatiannya olehnya. Di film kering macam The Happening (2008) M. Night Shyamalan dia menjelma menjadi oase di padang tandus. Kalau Tom begitu menyukai senyumnya, rambutnya, lututnya, tanda lahir berbentuk hati dilehernya, caranya menjilat bibir sebelum bicara, suara tertawanya dan caranya menghadap saat tidur, kamipun demikian, Zooey!

Emma Stone


Emma Stone itu kayak punya semacam aura yang membuatnya terlihat begitu menarik disetiap film yang dibintanginya. Film dengan genre apapun, selama disitu ada Emma Stone, keseruan sudah pasti dirasakan. Masih ingatkan perannya di Easy A (2010)? Kira-kira seperti itulah pesona keberadaannya. Jika diluar sana masih ada aktris yang lebih cantik, lebih sexy, lebih bagus aktingnya daripada Emma Stone, tak mengapa. Karena seperti yang saya bilang, Emma Stone itu selalu membawa nafas keseruan dalam setiap film yang dibintanginya. Peran yang paling saya ingat dan paling saya sukai adalah waktu Emma Stone bertahan hidup bersama Abigail Breslin di Zombieland (2009). Karakternya sedikit dingin, angkuh, namun tidak melupakan sisi femininnya sebagai seorang perempuan. Keren. Terlebih dia juga berdandan agak sedikit gothic.

Alicia Vikander



Akhir-akhir ini, namanya seringkali terdengar dan disebut-sebut sebagai rising star bermasa depan cerah. Yosh!Gadis asal Swedia ini sudah menjadi idola baru sekarang. Namanya memang baru menanjak setelah membintangi film Ex-Machina (2015), walaupun sebelumnya pernah ambil bagian di Seventh Son (2014). Alicia juga bermain di salah satu film spionase favorit saya tahun ini, The Man from U.N.C.L.E. (2015). Disamping itu, para juri ajang penghargaan sepertinya akan mulai mempertimbangkan nama Alicia berkat perannya di The Danish Girl (2015). Oh ya, saya juga baru sadar ternyata di adalah pemeran princess Kitty di Anna Karenina (2012).

Rachel McAdams



Peran Rachel McAdams sebagai Leader of Plastic Gang di Mean Girls (2004) masih menempel di benak saya. Terlepas dari perannya yang sedikit menyebalkan, kehadirannya memiliki pesona yang begitu kentara. Didukung postur tubuh yang ideal (IMO) dan wajah cantiknya yang "pas", ia mampu mengalahkan Lindsay Lohan sebagai karkater utama. Mungkin sekarang kita tak bisa melihat Rachel McAdams seperti saat di Mean Girls karena umurnya yang memang telah bertambah. Di daftar yang saya buat ini, Rachel McAdams adalah yang paling tua. Meski begitu ia masih sanggup menunjukkan performa akting yang apik. Dan meski sudah tak semuda saat di Mean Girls, Rachel McAdams menunjukkan sisi lain dalam film-filmnya. Sosok wanita yang dewasa.