Thursday, March 27, 2014

Tentang Film Divergent (2014)



   

“I don't want to be just one thing. I can't be. 
I want to be brave, and I want to be selfless, intelligent, and honest and kind. 
Well, I'm still working on kind” 
- Four - 

Pada dasarnya buku dan film adalah dua media yang sangat berbeda. Dan mengadaptasi cerita dalam sebuah buku menjadi bentuk visual memang gampang, gampang, susah. Tentunya tidak akan mudah menerjemahkan tiap lembar halaman buku menjadi sajian visual dengan durasi yg terbatas. Maka dari itu, film akan melakukan modifikasi disana-sini dan berusaha memaksimalkan durasinya yang sempit tanpa harus menghilangkan esensi dari buku itu sendiri. Nah bagaimana dengan adaptasi novel ‘Divergent’ karangan Veronica Roth ini?
Inti cerita dari ‘Divergent’ sendiri adalah tentang dunia (dalam bentuk kota Chicago) di masa depan dimana umat manusia dibagi menjadi 5 (lima) faksi berdasarkan sifat alamiahnya yaitu Dauntless (The Brave), Amity (The Peacefull), Candor (The Honest), Erudith (The Intelligent) dan Abnegation (The Selfless). Namun tidak semua orang cocok dengan ke-5 faksi tersebut, ada orang-orang tertentu yang punya sifat lebih dari satu faksi. Mereka dinamakan Divergent. Masalahnya Divergent itu dianggap mengancam, berbahaya dan harus dimusnahkan. Dan ketika proses tes pemilihan faksi dilakukan, Beatrice Prior (Shailene Woodley) menemukan dirinya adalah seorang Divergent.

 
 Adaptasi novel menjadi film memang semakin marak di kancah perfilman hollywood. Setiap tahun selalu ada film yg memang diadaptasi dari sebuh novel apalagi yg bertema young adult. Tapi entah mana yang lebih nikmat, baca novelnya dulu baru nonton filmnya atau sebaliknya. Untuk ‘Divergent’ ini, saya membaca novelnya terlebih dulu. Mungkin itu alasan terkuat kenapa saya mau nonton film ini. Tak dapat dipungkiri memang ketika menonton film yg diadaptasi dari sebuah buku sementara bukunya telah kita baca, kesan membanding-bandingkan pasti melekat di benak kita. Tapi pada kasus ini saya beruntung karena telah membaca novelnya terlebih dahulu. Kenapa?


Ya, karena bagi para penonton yg tidak membaca novelnya siap-siap untuk diajak berbingung ria. Ini terbukti dari 1-2 penonton disebelah saya yg sepertinya kebingungan mengenai arah film ini. Pertanyaan kenapa ini begini, awalnya gimana, maksudnya apa dsb tercetus dari mulut mereka. Hal ini cukup beralasan karena sepertinya Neil Burger (The Illusionist & Limitless) bersama penulis naskahnya Evan Daugherty & Vanessa Taylor seperti kurang cermat meramu bagian-bagian dari novel yang potensial sebagai aspek pembangun atensi penonton di paruh pertamanya. Temponya juga naik turun. Ketika temponya melambat Neil Burger terkesan melama-lamakan setiap scene yang justru tidak begitu penting dan bisa dipercepat. Namun disaat temponya mulai naik, justru banyak moment-moment esensial yang terlewatkan sehingga semuanya seperti berlalu begitu saja.
Masalah lainnya yang cukup mengganggu buat saya adalah film ini terlalu berfokus pada Beatrice ‘Tris’ Prior dalam perspektif yang sangat sederhana dan sempit. Hubungan keluarga, persahabatan, asmara (yang ini saya tidak peduli) & karakter2 disekitar Tris kurang begitu digali, Peter contohnya. Padahal hal itu merupakan element-element penting yang membangun kisah dari film pertama ‘Trilogi Divergent’ ini. 


Selain itu, ‘Divergent’ juga jatuh pada level yang serba tanggung. Penonton tidak diberi effort lebih untuk ikut peduli dan merasakan permasalahan yang diangkat dalam ‘Divergent’. Aspek-aspek ketegangan yang dibangun pun sangat tanggung. Padahal menurut saya, begitu banyak moment menegangkan dalam buku yang cukup potensial untuk diangkat. Sayangnya, selain banyak yang dihilangkan, ketegangan dalam ‘Divergent’ pun masih kurang menggigit. Contohnya saja, adegan-adegan pada saat proses inisiasi Dauntless berlangsung atau adegan bagaimana Tris dan Four mencoba kabur dan melakukan aksi penyelundupan yang dilakukan Tris harusnya bisa sangat menegangkan. Tapi ternyata tidak. Untungnya, scene-scene yang berfungsi mengundang tawa penonton mampu berjalan efektif. Walaupun tidak sampai gimana-gimana, setidaknya seisi bioskop cukup riuh dan terhibur. 


Dari segi cast-nya, memang lebih baik bila dibandingkan kemasan ceritanya. Shailene Woodley sebagai tokoh utama di film ini tampil cukup baik. Melihatnya mengingatkan kita akan sosok Katniss Everdeen di ‘The Hunger Games’. Gelagat sosok Tris ketika menjadi masih menjadi faksi Abnegation dan beralih menjadi faksi Dauntless mampu digambarkan Woodley dengan baik. Walaupun saya merasa sisi rapuhnya masih kurang tergali dan sosoknya malah terlihat sangat kuat. Yang cukup menarik justru Theo James yg berperan sebagai Four. Ya, di pikiran saya sosok Four itu memang seperti apa yang Theo James lakukan disini. Yang agak mengecewakan justru datang dari Jai Courtney dan Kate Winslet. Khusus untuk Jai Courtney, saya sangat mengharapkan dia menjadi sosok yang menyeramkan sebagai Eric yg terkenal dengan tatapan mata tajamnya. Kate Winslet? Kemunculannya memang sedikit tapi sebagai dalang utama dibalik semua kekacauan ini, saya merasa dia masih terlalu baik. Kurang kejam. Kurang dingin.
Sebenarnya dengan sedikit bersabar dan mencoba untuk menyatu dengan suasananya, film ini masih cukup menyenangkan. Setidaknya ini lebih baik dibanding ‘Beautiful Creatures’ atau ‘The Host’ yang rilis tahun lalu di periode yang sama dengan ‘Divergent’. Buktinya ‘Divergent’ langsung meraih posisi pertama tangga boxoffice di minggu pertamanya. Disisi lain, visualisasi kondisi Chicago dimasa depan juga lumayan, ada nuansa sendu disana. Scene-scene di detik-detik pertamanya malah tampil sangat meyakinkan menurut saya. 


Overall, film ini memang tidak jatuh pada level yang rendah (buruk). Memang masih dibawah ekpektasi, tapi tetap Ok koq. (Serius!) Cuma nggak luar biasa aja. Film ini hanya terjebak di bagaimana pemilihan element-element penting dalam buku diangkat dalam film. Dan bagaimana cara mengeksekusi cerita tanpa harus terkesan tanggung, dipaksakan dan terburu-buru dalam durasi yang sebenarnya cukup panjang, 139 menit.
Sebagai sebuah adaptasi novel dan pembuka sebuah trilogi, saya rasa ‘Divergent’ kurang berhasil membawa dunia ‘Divergent’ ini menjadi sesuatu yang akan menjadi hype di seri berikutnya (setidaknya buat saya). Ceritanya mungkin saja akan lain kalau saya langsung nonton filmnya saja tanpa membaca bukunya terlebih dulu. Akan menjadi tugas yang cukup berat untuk sekuelnya nanti, ‘Insurgent’. Semoga akan lebih baik.
Kita tunggu saja!!!

0 comments