Tuesday, April 1, 2014

Catatan Nonton #Maret’14



Masih melanjutkan postingan yang sudah-sudah. Catatan nonton kali ini berlanjut di edisi bulan Maret. Untuk bulan ini beberapa film yg saya tonton adalah film yg dapat nominasi Oscar beberapa waktu lalu dan film-film Peter Jackson yg mengadaptasi buku J.R.R. Tolkien. Ada ‘Divergent’ juga yang saya tonton di bioskop + review singkat tentang bukunya. Sisanya bisa dilihat selanjutnya.
Check it out!

Saw (2004) (04/03/14)


Short review:
“10 tahun lalu, sebelum nama James Wan mencuat lewat film2 horrornya. Bersama Leigh Wannel, Wan membuat sebuah kisah horror-gore sadis yg berkembang jd sebuah franchise sukses yg digemari dan telah berakhir di seri ke-7 tahun 2010 lalu, 'Saw'. Dan seri pertamanya ini adalah seri terbaik dr franchise 'Saw'. Tidak hanya jualan kesadisan + darah. Ada sentuhan2 psikologis dlm balutan misteri & thriller yg membuat setiap scene jd begitu menegangkan + twist yg membuat film ini jd shocking movie ending
Skor: 3,75 / 5

American Hustle (2013) (05/03/14)


Short review:
'American Hustle' boleh saja kalah telak saat perhelatan Oscar 2014 kemarin. Tapi walaupun begitu, 'American Hustle’ tetaplah sebuah film khas David O. Rossell yg keren, berkualitas Oscar sprti film2 Rossell sebelumnya. Mengambil tema con-artist, tentunya dgn berbagai intrik & penipuan disana-sini, dibumbui dark comedy & humor2 satir lengkap dgn twist-nya, menjadikannya sebuah rangkaian cerita yg tertata rapi. Semakin berhasil krna diisi taburan bintang yg tampil sangat2 baik. Studi masing2 karakter & chemistry yg terjalin apik. Dandanan yg sangat nyentrik, musik khas '70-an, semakin menambah keeksentrikan film ini. Cool!
Skor: 4 / 5

Dallas Buyers Club (2013) (06/03/14)


Short review:
'Dallas Buyers Club' berhasil menempatkan dua aktornya menjadi yg terbaik di ajang Oscar kemarin, Matthew McCounaghey & Jared Leto. Tapi bukan hanya performa cast-nya saja yg kuat, plot yg dibangun 'Dallas Buyers Club' jg tampil sama baiknya. Berkisah mengenai perjuangan seseorang yg divonis mati krn mengidap virus HIV. Inspiratif, pastinya. Tapi sangat berbeda dgn film2 sejenis. Dgn aura depresif yg kental, studi karakter yg dalam dan sedikit sentilan isu sosial yg tengah berkembang di masyarakat dlm bidang kesehatan. Film ini bukanlah kisah biopik yg berujung tentang kepedihan semata, banyak unsur yg akan membuat penonton menyukainya. P.S. Walaupun berhasil mencuri perhatian, agak geli juga melihat si vokalis '30 Seconds to Mars' jd waria.
Skor: 3,75 / 5

Oldboy (2003) (07/03/14)


Short review:
Sbg seseorang yg sangat tdk menggemari Korea, saya berani menyebut 'Oldboy' sbg salah satu film Korea terbaik yg pernah saya tonton. Bahkan remake hollywoodnyapun 2013 lalu tdk sanggup melampaui film ini. Dirilis tahun 2003, seri kedua dr 'Vengeance Trilogies' ini punya kelas ala film2 hollywood baik dr sisi teknis maupun non-teknis. Kisah balas dendam yg sangat apik, mengeksplor sisi tergelap manusia, begitu memorable (apalagi mimik Dae-Su di ending film), menyakitkan, sadis, mengejutkan dgn berbagai twist-nya dan pastinya menyesakkan bahkan sampai film ini telah berakhir. Shocking movie ending!
Skor: 4 / 5

The Silence of the Lambs (1991) (18/03/14)


Short review:
Para juri Oscar di tahun 1992 punya alasan yg cukup kuat ketika menobatkan 'The Silence of the Lambs' sbg Best Picture Oscar di tahun tsb. Padahal film ini bukanlah tipikal film2 pemenang Oscar (baca: thriller). Sbg genre film favorit, 'The Silence of the Lambs' memberikan semua hal yg menjadi kenikmatan saat menonton film thriller. Ketegangan, plot dan karakter memorable yg hanya dgn gestur, tatapan mata & cara dia berbicara sudah sangat mengerikan (Hannibal Lecter). Dgn sedikit sentuhan horror, pola2 khas psikopat dan pastinya darah, serta dukungan aspek teknis dan non-teknis yg bekerja efektif, film ini adalah film thriller terbaik di era 90-an.
Skor: 4,5 / 5

Fantastic Mr. Fox (2009) (20/03/14)


Short review:
Bukan hanya dr segi kuantitasnya saja, film2 animasi di thn 2009 juga mampu berbicara lewat kualitas. Salah satunya animasi stop-motion arahan Wes Anderson, 'Fantastic Mr. Fox' ini. Dgn gaya nyentriknya, Wes Anderson menyulap cerita dr buku anak2 karya Roald Dahl menjadi tontonan yg menyegarkan. Plotnya lumayan, tdk terlalu spesial tapi asyik, cukup imajinatif. Tampilan grafis yg ok, para pengisi suara yg keren, dialog2 humor + komedi yg lucu, musik2 yg catchy dan tentunya pesan2 moral khas film animasi yg memang selalu ada dlm genre film ini.
Skor: 3,5 / 5

The Wolf of Wall Street (2013) (20/03/14)


Short review:
Lupakan durasinya yg menyentuh 3 jam dan berpotensi melelahkan untuk diikuti. Tapi percaya hal ini tdk terjadi kalau Martin Scorsese yg ada dibelakangnya. Kolaborasi ke-5 kalinya bersama Leonardo Di Caprio ini mungkin akan menjadi yg paling gila, segila-gilanya. Tak ada lagi gangster2 eranya Robert De Niro. Berganti menjadi penjahat kriminal berdasi, rapi & berambut klimis. Narasinya cukup thought-provoking mengenai kehidupan kaum hedonis yg mendewakan uang. Masih tetap dgn unsur black comedy yg kental, satir & lucu.
Skor: 4 / 5

The Hobbit: An Unexpected Journey (2012) (22/03/14)


Short review:
Memutuskan membuat adaptasi bukunya yg hanya setebal 300-an halaman menjadi sebuah trilogi film mungkin menjadi keputusan kontroversialnya, tp sepertinya Peter Jackson punya pendapat lain. Ya, walaupun dibeberapa bagian film terasa membosankan dan terkesan dipanjang-panjangkan. 'An Uexpected Journey' tetaplah sebuah perjalanan yg menyenangkan. Dunia fantasi imajinasi J. R. R. Tolkien beserta makhluk2 unik didalamnya mampu divisualisasikan dgn indah & detail. Dan 'An Unexpected Journey' mungkin saja hanya dimaksudkan sbg pengantar utk petualangan2 seru & mengejutkan diseri selanjutnya.
Skor: 3 / 5

The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013) (23/03/14)


Short review:
Sebuah peningkatan ketika membandingkan seri pertamanya yg lebih mengedepankan adventure ride dibanding action scene-nya. 'The Desolation of Smaug' juga mempunyai penceritaan yg lebih kelam dibanding predesesornya yg terkesan kekanak-kanakan. Membuat plot semakin kompleks dgn berbagai sub-plot yg hadir, walaupun tidak sampai mencapai klimaks. Mungkin hal ini memang disengaja krna puncaknya 'Battle of Five Armies' akan hadir di installment ketiga 'There & Back Again'. Semoga saja film ketiganya nanti akan tampil spektakuler sprti pendahulunya, 'The Lord of The Rings'.
Skor: 3,5 / 5

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001) (23/03/14)


Short review:
Siapapun tak akan menyangkal kalau LOTR adalah salah satu trilogi film terhebat yg pernah ada. Menyaksikannya lg dlm versi extended, yg durasinya lebih lama masih menjadi pengalaman menonton yg menyenangkan. (Hobbit, dwarf, elf, wizard, etc) dan keindahan middle earth masih tetap segar dimata. Sinematografi & scoring yg membuat semuanya terasa epik. Peter Jackson memang orang yg tepat menerjemahkan tiap lembar halaman karya J. R. R. Tolkien menjadi bentuk visual. Ibarat makanan, 'The Fellowship of the Ring' adalah appetizer lezat sebelum menyantap menu utamanya.
Skor: 4 / 5

The Lord of the Rings: The Two Towers (2002) (25/03/14)

Short review:
Filmnya memang berdurasi sangat lama apalagi versi extendednya. Filmnya juga sudah lebih dari satu dekade lalu. Tapi tetap saja hal itu tdk menyurutkan kesenangan menonton film ini kembali. Kesan kolosal & megah sangat terasa di 'The Two Towers'. Siapapun pasti ingat betapa epiknya pertempuran melawan Orc / Uruk-Hai itu. Peter Jackson jg kembali berhasil meramu film ini menjadi lebih memorable dibanding yg pertama. Scene2 yg manis + selipan2 humor yg catchy jg turut andil membuat film ini tdk membosankan. Terus ada Gollum yg diperankan Andy Serkis yg tampil keren
Skor: 4 / 5

Divergent (2014) (26/03/14)


Short review:
Mungkin sedikit dibawah ekspektasi bagi yg sudah membaca novelnya. Walau Neil Burger punya track record yg cukup bagus lewat 'The Illusionist' & 'Limitless', tp disini dia justru seperti kebingungan mengemas cerita 'Divergent' itu sendiri. Selain banyak element2 penting dlm buku yg ia hilangkan, eksekusi yg ia lakukan juga terkesan dipaksakan dan terburu-buru. Hasilnya, semua jadi terasa tanggung. Overall, tdk buruk juga sebenarnya dan 'Divergent' juga tdk jatuh pd level yg rendah & mengecewakan. Masih cukup layak utk disimak. Hanya saja, film ini tdk cukup kuat utk memberi hype yg besar di sekuelnya nanti. Ya, 'Insurgent' punya tugas yg cukup berat memang. Review lengkapnya bisa dilihat  disini
Book review (19/03/14):
Kisah2 fiksi tentang 'Dystopia' selalu menarik untuk diikuti (IMO). Premisnya sendiri tak jauh dr pergolakan dlm sistem pemerintahan & kekuasaan, pemberontakan, diskriminasi sosial dsb. Sedikit mengingatkan 'The Hunger Games'-nya Suzanne Collins, walaupun ide & konsep 'Divergent' sendiri berbeda. Nuansa coming of age-nya cukup terasa, dibumbui romansa & aksi2 menegangkan dgn plot yg bergerak perlahan. Menempatkan 'Tris' Prior di garda terdepan sbg sosok hero yg kuat disatu sisi dan rapuh disisi lainnya. Dlm filmnya nanti, Shailene Woodley yg akan berperan sbg Tris. Tentang apa itu 'Divergent' memang masih menjadi misteri disini. Tapi salut buat Veronica Roth yg nulis buku ini waktu ia masih kuliah.
Skor: 2,75 / 5



The Lord of the Rings: The Return of the King (2003) (27/03/14)


Short review:
Peraih 11 piala Oscar. Film terlaris ke-7 sepanjang masa. imdb rating: 8.9, tomatometer: 94% & metascore: 94. Epic, setidaknya itulah kata yg menggambarkan film ini. Penutup spektakuler dr rangkaian trilogi LOTR bahkan lebih baik dr seri sebelumnya. Hal yg jarang dilakukan trilogi2 film yg lain. Adanya 'The Return of the King' semakin menasbihkan LOTR sbg salah satu trilogi film terbaik dan terhebat yg pernah ada. Bahkan 'The Hobbit' pun, walau dibuat orang yg sama dan dibuat dimasa yg lebih canggih tdk sanggup menandinginya. Kado terindah dr Peter Jackson buat semua penikmat & pecinta film di seluruh dunia. Tak terkecuali buat saya.

Skor: 4,5 / 5
 

0 comments