Friday, April 4, 2014

Tentang Film The Raid 2: Berandal (2014)



 You apologize! In their language, in our land!
Where is your honor?
 - Uco -

Pada awalnya ‘Berandal’ adalah sebuah proyek ambisius seorang Gareth Evans pasca ‘Merantau’ (yg sesungguhnya) tidak ada sangkut pautnya dengan ‘The Raid’ a.k.a. ‘Serbuan Maut’. Bahkan naskah film ini sudah selesai berikut sebuah teaser yg sudah dirilis jauh sebelum ‘The Raid’ dibuat. Hanya saja karena berbagai kendala produksi yg dialami, ‘Berandal’ mengalami proses penundaan. Hingga akhirnya Merantau film memutuskan membuat film lain yg lebih simple & minim budget, dan kita tahu itu adalah ‘The Raid’. Hasilnya?
2 tahun lalu, ‘The Raid’ adalah sebuah fenomena dalam perfilman Indonesia. Tak disangka plot yg begitu sederhana, set yg hanya disatu tempat, mampu tampil spektakuler dan menghentak perfilman tanah air bahkan dunia. Hingga Sony Pictures Classics-pun tak ragu membeli hak edar film ini. Segenap prestasi dan kesuksesan yg diraih ‘The Raid’ seakan memberi lampu hijau buat proyek Gareth Evans yg sempat tertunda. And this is it, ‘Berandal’. A sequel of The Raid.
Mengambil setting 2 jam setelah kekecauan yg terjadi dalam ‘The Raid’, Rama (Iko Uwais) kembali harus berhadapan dengan kenyataan bahwa saat ini ia tak bisa hidup normal lagi. Demi keselamatan dirinya terutama keluarganya, ia menerima saran kakaknya Andi (Doni Alamsyah) utk menemui Bunawar (Cok Simbara), seorang polisi veteran yg berniat menggali informasi mengenai para polisi2 korup yg terlibat dengan sindikat mafia kelas kakap di Jakarta dibawah pimpinan Bangun (Tio Pakusadewo) dan Goto (Kenichi Endo). Tugas yg awalnya terlihat mudah karena Rama hanya menyamar dan masuk ke sindikat mafia Bangun dgn mendekati anaknya, Uco (Arifin Putra) justru menjadi begitu rumit. Ditambah lagi ada Bejo (Alex Abbad) seorang pimpinan gangster lain yg berniat menguasai dunia hitam tersebut



Dengan konsep yg sudah tersedia dan tinggal menyambungkan dengan benang merah ‘The Raid’ sepertinya pekerjaan Gareth Evans kali ini akan cukup mudah. Dan seperti yang telah ia gembar-gemborkan sebelumnya, bahwa sekuel ‘The Raid’ akan jauh lebih kompleks dari sebelumnya ditambah skala yg lebih besar di semua aspek. Ya, kenyataannya memang demikian.
Kalau dulu, kita hanya menganggap plotnya biasa-biasa saja dan terkesan dangkal. Sekarang Evans menyuguhkan sebuah plot lebih kompleks. Ada nafas-nafas ala ‘The Godfather’ dan ‘Infernal Affairs’ disana. Melibatkan perebutan kekuasaan, revenge, dad-son relationship dan dilema seorang undercover. Dosis ceritanya memang telah ditingkatkan. Awalnya saya masih meraba-raba arah cerita film ini tapi ternyata setelah ditilik lebih jauh ceritanya bisa dibilang sederhana, justru terkesan dragging dibeberapa bagian. Mungkin aspek ceritanya tidak menyentuh level yang spektakuler tetapi tetap mampu menghadirkan sebuah drama kriminal yang menyenangkan. Temanya sendiri terbilang jarang diangkat oleh film-film Indonesia.
Mungkin aspek ceritanya tidak memuaskan, tapi percayalah untuk yang ini, ekpektasi tinggi kita dilampaui begitu saja. Ya, inilah DNA-nya ‘The Raid’, fighting scene. Kalau dulu, kita hanya melihat baku hantam didalam sebuah apartemen tua. Sekarang sudah merambah ke berbagai lokasi dan tidak terbatas hanya disitu saja. Lapangan penjara, toilet, jalanan, bar, pabrik film porno, dapur dan masih banyak lagi. Ditambah sebuah adegan car chase (yg jujur saya bilang itu keren banget!). Shelter busway yg rusak di trailernya, sepertinya tidak ada apa-apanya disini. Benda apapun bisa dipakai untuk membunuh, darah darah dimana-mana, tulang-tulang retak dan patah, sayatan-sayatan yang merobek kulit dsb disajikan dengan sangat brutal dan ekstrim. Pertarungan-pertarungan epik dan memompa spot jantung yg lebih brutal dari sebelumnya. Sampai tiba di bagian final fight antara Rama dan The Assasins dgn kerambitnya (Karambiak: Minang) yg mengingatkan kita pertarungan threesome ‘The Raid’ dulu (Rama, Andi & Mad Dog).


Selain itu, karakter-karakter yg ada juga lebih beragam. Yang paling ikonik tentu duo kaki tangan Bejo yg jadi scene stealer, Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat-Man (Veri Tri Yulisman). Gareth Evans pun juga menghadirkan unsur drama yang kental kali ini. Bahkan sosok menyeramkan Mad Dog pun dikasih porsi drama disini lewat perannya sbg Prakoso. Tapi seberapa hebat apapun sebuah karakter tidak akan berarti apa-apa jika tidak diisi penampilan gemilang ensemble cast-nya.
Dukungan aktor-aktor baru, baik junior maupun senior tampil cukup memukau, baik itu peran yang penting maupun cuma numpang lewat. Iko Uwais memberi peningkatan dalam memerankan Rama. Julie Estelle juga mampu memberi teror yg kuat walau tidak berbicara. Veri Tri Yulisman tampil cool dengan pemukul baseball-nya (Sini, bolanya!). Cecep Arif Rahman sbg The Assasin mampu menampilkan kemampuan silat terbaiknya. Pertarungan terakhirnya dgn Iko menjadi pertarungan silat paling memorable kali ini. Dan yang patut diapresiasi lebih tentunya Arifin Putra yg berperan sebagai Uco yg mampu mengekplorasi karakternya sebagai sosok anak bos mafia ambisius, berwajah dingin sekaligus kejam.
Aspek teknis disini juga mengalami peningkatan yg besar. Cinematografinya lebih dahsyat. Lebih cantik, kalau saya bilang. Angle-angle kamera yg diambil entah yg bergerak lambat atau cepat mampu menyajikan ketegangan yg intens. Scoringnya juga bekerja dengan baik. Dan semakin menambah kekayaan film ini. Film action paling cantik yg pernah saya tonton.
Kalau dalam ‘The Raid’ yg memang tersaji pure non-stop action sehingga membuat kita tidak bisa bernafas lega, dalam ‘Berandal’ tidak demikian. Jadi tidak usah khawatir buat penonton yg suka shock kalau nonton film beginian. Kita masih bisa bernafas lega dalam waktu yg cukup lama. ‘Berandal’ mempunyai unsur dramatisasi yang coba digali kali ini dan yang lebih mengejutkan banyak kekonyolan disini. Semakin konyol karena penonton lain saat itu begitu ekpresif merespon scene-scene tadi bahkan yang tidak patut ditertawakan sekalipun. Bagaimana tidak, sempat-sempatnya mereka bilang “Ciye! Ciye!” waktu Rama membunuh Uco. Dan begitu lepasnya tawa mereka melihat acara makan malamnya Mamang Yayan Ruhiyan dengan Marsha Timothy. Padahal menurut saya itu usaha yang sangat bagus dari seorang Yayan Ruhiyan yg mencoba untuk tampil lebih dramatis daripada hanya sekedar bak-bik-buk saja. Tapi saya cukup terhibur juga dgn kelakuan para penonton waktu itu, setidaknya itu mampu mengendurkan urat saraf para penonton yg menegang saat adegan aksi yg di tampilkan di layar & mengganti kata-kata umpatan dgn tawa. Buat saya, moment lucu itu muncul dari scene salju waktu Prakoso mati. Scene salju itu memang manis sekaligus melankolis tapi Evans dgn beraninya menampilkan gerobak dorong jualan abang2 khas di Indonesia + ada tulisannya saya lupa lagi, entah mie ayam, lomie ayam atau apa itu (LOL). 


Selain hal-hal tadi, yg cukup annoying dalam ‘Berandal’ buat saya adalah saya masih bisa menemukan formula-formula klise khas film action disini. Dalam arti, sosok pahlawan yg terlalu tangguh dan sulit sekali dibuat mati. Ya, Rama terlalu tangguh kali ini. Ambil contoh [SPOILER!], sebelum melakukan aski penerobosan ke sarang Bejo. Rama sudah terluka terlebih dulu bahkan lengannya sempat robek waktu dia bertarung dengan para polisi. Tapi setelah itu, dia masih bisa bertarung sekan tidak terjadi apa-apa dan malamnya dia beraksi sendirian menghabisi musuh-musuhnya. Kurang hebat apalagi coba? Memang bukan problem besar dan sepertinya hal lumrah utk genre action, tapi menurut saya Rama yg dulu jauh realistis dari yang ini bahkan saya dibuat peduli pada nasib karakternya ini. Saya berharap semoga saja detail-detail seperti ini bisa diperhatikan Evans di film selanjutnya.
Finally, ‘Berandal’ adalah sebuah film yg memuaskan. Seorang Gareth Evans memang tahu sekali cara memperlakukan sebuah sekuel yg sudah sangat ditunggu orang-orang dengan berbagai ekpektasinya. Menaikkan kelas dan levelnya jauh lebih tinggi dari predesesornya. Terlepas dari berbagai kekurangan (yg sesungguhnya) tidak begitu menjadi masalah, ‘Berandal’ mampu membuat saya bangga nonton film Indonesia. Sehingga ketika film ini berakhir, saya tidak tahan untuk tidak bertepuk tangan (hal yang jarang saya lakukan di bioskop). Cukup sulit juga menerima kenyataan bahwa credit scene telah bergulir dan film ini telah usai. Rasanya ingin terus melihat pertarungan lewat seni beladiri silat ini lagi, lagi dan lagi.

0 comments