Tuesday, April 8, 2014

Tentang Film Captain America: The Winter Soldier (2014)




This isn’t freedom. This is fear!
- Steve Rogers -

Cukup banyak ternyata yg masih memberi nada negatif kehadiran superhero satu ini diawal kemunculannya. Secara, ‘Captain America: The First Avenger’ yg dirilis 2011 lalu tidak cukup memuaskan ekpektasi mereka mengenai bagaimana seorang superhero beraksi disebuah layar.  Tidak seperti superhero Marvel yang lainnya, ‘Captain America: The First Avenger’ hadir dgn setting jadul, adegan aksi yg terasa masih kurang spektakuler dan tentunya karakter Captain America sendiri yg masih disangsikan letak superheronya dimana. Dalam arti, dibanding superhero Marvel lain macam Iron Man atau Thor, Captain America mungkin sosok yg paling tidak punya kekuatan istimewa kecuali perisai supernya itu. Kecuali anda penggemar Marvel, hal-hal itu tentu tidak akan menjadi masalah. Tapi ternyata tidak buat para penonton yg beranggapan demikian. Saya sendiri tidak mempermasalahkan hal-hal seperti diatas, asalkan ketika menonton film bertema superhero saya mengalami pengalaman nonton yg baru saya tidak mempedulikan superhero ini punya kekuatan apa, superhero itu punya kekuatan apa. Dan kali ini saya berani bilang bahwa apa yg orang-orang katakan mengenai Captain America di ‘The First Avenger’ salah besar disekuelnya ini, ‘The Winter Soldier’.


Dua tahun pasca pertarungan dahsyat dlm ‘The Avengers’, Captain America (Chris Evan) dibantu agen Natasha Romanoff aka Black Widow (Scarlett Johansson) menjalankan sebuah misi S.H.I.E.L.D. dlm sebuah kapal yg disinyalir mengalami pembajakan. Keberhasilan misi tsb ternyata hanyalah awal dari sebuah kekacauan baru, sebuah konspirasi hitam didalam tubuh S.H.I.E.L.D. sendiri, keraguan sang Captain atas apa yg dirahasiakan darinya ditambah munculnya sosok masa lalu yg mengerikan, villain baru (yg pada saat melihat trailer saya sudah jatuh hati sama karakter ini), The Winter Soldier. Nick Fury (Samuel L. Jackson) yg tengah diburu sang villain menaruh kepercayaan pada Steve Rogers utk mengungkap tabir dibalik semua konspirasi itu. Ditengah menghilangnya kepercayaan, Steve beruntung karena masih ada Natasha Romanoff dan teman berlarinya, Sam Wilson aka Falcon (Anthony Mackie) yg membantu menyingkap konspirasi tersebut. Apa yg terjadi, siapa dalangnya dan apa bahayanya.


Apa yg membuat line-up superhero Marvel menjadi begitu hebat ketika dijadikan live action adalah bahwa Kevin Feige (Presiden Marvel Studio) bersama semua jajaran2ya sudah punya konsep dan visi yg jelas mengenai adaptasi komik yg mereka buat. Dgn embel-embel Marvel Cinematic Universe-nya (dan digadang-gadang akan berlangsung sampai 2028 kelak), mereka semua sudah tahu apa yg harus mereka lakukan ke depan. Hal ini berbanding terbalik dgn pesaing utamanya, DC Comics. Yang walaupun sempat menghentak lewat ‘The Dark Knight’, namun sehabis itu Marvel justru semakin jauh didepan meninggalkan pesaingnya itu.
Semenjak Marvel Cinematic Universe fase ke-2 bergulir, diawali dgn kemunculan Iron Man 3, Thor 2: The Dark World sampai Captain America: The Winter Soldier (dan masih menyisakan 'Guardians of the Galaxy' Agustus nanti), perubahan tone sangat, sangat terasa dlm film2 Marvel. Kalau ditanya siapa yg terbaik, saya akan bilang filmnya Steve Rogers yg baru ini. Bahkan dgn superhero solo Marvel lainnya. Dan kita tidak akan menyangka bahwa orang dibalik kehebatan ‘The Winter Soldier’ adalah dua kakak-beradik, Anthony Russo & Joe Russo yg justru tidak punya track record menggarap film sci-fi apalagi superhero.


Sangat berbeda dengan prekuelnya, dgn bantuan naskah Christopher Marcus & Stephen McFelly, ‘The Winter Soldier’  dibawa Russo bersaudara dlm ranah spy thriller, espionage ala-ala Bourne & Bond lengkap dengan segala intrik politik dan konspirasi didalamnya, fighting scene ala-ala ‘The Raid’ (dan memang diakui sendiri oleh mereka bahwa film ini terinspirasi ‘The Raid’). Tanpa menghilangkan signature-nya sbg superhero, hal-hal tadi sangat berpengaruh terhadap gaya bercerita Captain America kali ini. Semakin kompleksnya cerita + nuansa kelam yg coba dihadirkan menjadi tontonan yg segar sekaligus menegangkan. Dan jangan aneh (walaupun tidak sampai hilang) bila ‘The Winter Soldier’ meminimalisir  humor-humor yg sering kita saksikan dlm film-filmnya Marvel.
Dengan penampilan barunya (yg pasti lebih segar dibanding yg dulu), Chris Evan (ditengah gonjang-ganjing isu pensiunnya) kembali membawa kharisma sang Captain dgn aura soldier & leadership yg dimilikinya ke tingkat yg lebih tinggi dari sebelumnya. Kehadiran Scarlett Johannsson yg memang mendapat porsi lebih disini, makin membuat saya betah nonton film ini. Sosok Nick Fury juga mendapat porsi yang lebih. Kalau Iron Man punya Tony Stark yg nyeleneh dan Thor punya Loki sbg pemancing tawa, maka dlm Captain America ada sosok Falcon yg diperankan cukup baik oleh Anthony Macki. Cukup mencairkan suasana ditengah tampilan Steve Rogers yg senderung serius. Sang villain, The Winter Soldier juga berhasil diperankan Sebastian Stan. Walaupun tidak sebesar namanya yg dipakai judul utama (karena ternyata perannya memang tidak sebanyak yg saya perkirakan) tapi sosoknya tetap mampu mencuri perhatian buat saya apalagi dia juga berperan sbg villain dramatis yg sedikit banyak memberi dampak emosional yg lain.


Kalau dulu, di film pertama kita masih menganggap aksinya kurang greget maka tidak kali ini. Dan jangan ragukan kemampuan Russo bersaudara yg memang lebih banyak mengarahkan komedi, krna adegan aksi Captain America ini sangat spektakuler. Kombinasi adegan aksi, ledakan dan special efek dihadirkan secara konsisten dan proporsional. Ya, itulah kunci keberhasilan film ini. Keputusan meminimalisir efek CGI juga menjadi alasan kuat. Hasilnya, koregorafi cantik dgn teknik shoot dan editing yg ok punya. Bukan hanya dosis dan skalanya yg sudah ditingkatkan, ‘Captain America: The Winter Soldier’ adalah sebuah hiburan superhero yg akan memberi kesan lain dan berbeda. Cool!
P.S. jangan beranjak dulu sampai credit scene berakhir karena ada dua scene tambahan khas Marvel yg menanti.

0 comments