Tuesday, June 23, 2015

Anime Review: Assasination Classroom (2015)


Kelas 3-E adalah mimpi buruk bagi para siswa SMP Kunugigaoka. Kelas yang notabene diisi para siswa “yang terbuang” ini harus terpisah dari kemegahan sekolah. Aura depresif tergambar begitu jelas dari para siswa penghuni kelas 3-E yang bermasalah. Namun semua perlahan berubah ketika satu mahkluk berwarna kuning berwujud gurita yang entah darimana datangnya menjadi guru mereka. Makhluk yang belakangan dipanggil Koro-Sensei tersebut punya rencana ekstrim akan menghancurkan bumi dalam jangka waktu setahun ke depan. Sebelumnya ia telah sukses menghilangkan 70% bentuk bulan. Kelas 3-E mengemban misi berat untuk membunuh makhluk tersebut sebelum aksinya dapat terealisasi. Dibawah arahan guru sekaligus mentor mereka, Karashuma, mereka pun belajar menjadi pembunuh. Tentu itu semua tidak mudah, karena Koro-Sensei bukanlah makhluk biasa.
Unik. Mungkin salah satu kata yang tepat untuk mendefinisikan anime yang memulai masa penayangannya sejak 9 Januari 2015  ini. ‘Assasination Classroom’ atau dalam bahasa Jepang disebut Ansatsu Kyoushitsu memang sudah terlihat unik dari luarnya. Berlatar kehidupan sekolah, ‘Assasination Classroom’ memang tidak seperti school anime pada umumnya. Membawa setnya pada satu kelas terasing di sebuah sekolah yang diisi oleh sekumpulan siswa-siswa bermasalah mulai dari akademik, prestasi sampai sikap mereka sehari-hari. ‘Assasination Classroom’ jelas sesuai judulnya. Satu kelas yang terletak jauh didalam hutan itu dicetak menjadi kelas pembunuh. Pembunuh untuk gurunya sendiri. Guru yang dimaksud disini jelas bukan guru biasa. Ia adalah sesosok makhluk nyentrik berwarna kuning super cepat yang mesum. Yang mendedikasikan dirinya untuk mengabdi dikelas 3-E sebagai guru sebelum menuntaskan misinya menghancurkan bumi.
Koro-Sensei yang punya tawa khas ini memang menjadi tajuk utama. Sosoknya yang kelewat unik adalah faktor utamanya. Sebagai seorang guru, dia berada dalam taraf ideal sebagai seorang guru. Tidak hanya pengetahuannya yang luas, metode mengajarnya pun mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Cara mengajarnya juga sangat efektif untuk memunculkan potensi yang dimiliki masing-masing anak didiknya. Hal ini sangat terlihat dari cara ia berkomunikasi dengan siswa, mendekati siswa dan memotivasi mereka. Artificial intelligence macam Ritsu pun kena cipratan tangan dingin Koro-Sensei selaku guru. Disisi lain, Koro-Sensei sendiri hampir seperti badut dimata para muridnya. Gerak-geriknya seringkali memunculkan kebodohan-kebodohan yang tak pernah kita duga. Disitulah letak keunikannya.


Seperti halnya Koro-Sensei yang penuh warna berdasarkan emosi didalamnya, ‘Assasinantion Classroom’ pun hadir dengan berbagai ledakan setiap episodenya. Semua jenis hiburan dalam tontonan ada disini. Kita bisa melihat adegan aksi, kita bisa merasakan ketegangan, kita bisa merasakan drama penuh emosi, kita juga bisa merasakan humor yang begitu menggelitik. Tak ketinggalan pula sempilan kritik sosial yang kental terasa. Setiap episode yang memulai judul dengan “Waktunya...” ini sukses menghadirkan senyuman, ketegangan, haru, kehangatan, gregetan, bahan pemikiran sampai sajian humor penuh tawa.
Sebagai anime yang menghadirkan pelatihan membunuh sebagai premisnya, ‘Assasination Classroom’ cukup lugas dalam menghadirkan sisi tersebut. Berbagai metode tentang cara membunuh pun telah banyak diungkap. Strategi, persiapan, perencanaan, proses, antisipasi sampai memunculkan naluri serta insting membunuh dari dalam diri masing-masing. Pelatihan pembunuhan inipun perlahan tapi pasti membawa mereka pada fase pengembangan kemampuan diri. Pelatihan pembunuhan ini sendiri tidak berbeda jauh dengan pembelajaran sekolah seperti biasanya. Malah jika dilihat lebih dalam, ada visi yang mengarahkannya kesitu. Namun disamping berbicara tentang pembunuhan, sesungguhnya ada isu besar yang cukup berat yang coba diangkat disini. Isu yang terasa sangat familiar yang mungkin saja terjadi juga disekitar kita terutama terkait dengan pendidikan. Meskipun porsinya tidak terlampau besar tapi sedikit banyak hal itu membawa perenungan dan pemikiran tersendiri. Pendidikan adalah hak paling dasar yang dimiliki semua orang, tapi bagaimana jika pendidikan itu sendiri dibuat untuk melemahkan para peserta didiknya? Bagaimana jika sistem yang dianutpun turut memberi kontribusi untuk itu?
Diskriminasi menjadi isu kentara ketika kita melihat sebuah kelas yang harus terisolasi dari sekolahnya sendiri. Isu diskriminasi ini menjadi semakin pelik ketika dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pihak yang maunya menang sendiri. Kepentingan-kepentingan tertentu merekalah yang akhirnya melahirkan konspirasi besar guna mewujudkan misi membunuh harapan para siswa dengan melemahkan sikap mental mereka dari segala aspek. Sehingga dimasa depan mereka hanya akan menjadi kumpulan manusia lemah yang tak memiliki harapan. Lebih parahnya lagi, seluruh siswa SMP Kunugigaoka selain kelas 3-E di doktrin untuk membenci siswa-siswa kelas 3-E yang dianggapnya sebagai kumpulan para pecundang. Dan menjadi aib paling kotor apabila mereka harus terlempar ke kelas 3-E. Sistem pendidikan yang seperti inipun hanya akan melahirkan manusia-manusia korup yang tak bertanggung jawab dimasa depan. Profesi guru pun tak lepas dari objek satirikal-nya. Ya, pada faktanya memang masih banyak oknum guru yang kadang tak sesuai dengan keagungan profesi mereka. Pahlawan tanpa tanda jasa.


Sedikit beralih pada karakter, ada begitu banyak karakter disini yang berpotensi menghasilkan karakter kosong. Dan dalam perjalananannya, meski tidak sampai seluruhnya terekspos tetapi cukup banyak karakter yang muncul dan menciptakan moment-nya sendiri. Dengan kata lain, meski kapasitasnya berbeda-beda tapi masih ada kesan loveable dan memorable lewat kehadiran mereka. Mungkin perkembangannya tidak sampai yang taraf maksimal tetapi sudah cukup menghindarkannya dari kesan kosong tersebut. Khusus untuk Nagisa, dia memiliki peran yang cukup sentral ditengah keambiguannya.
‘Assasination Classroom’ masih memiliki banyak waktu untuk memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya di season kedua nanti. Beberapa hal yang masih sebatas sub-plot di season pertama sangat bisa dimunculkan guna memperkaya konflik dan menjawab sisi misterinya. Seperti motif Koro-Sensei yang sampai saat ini masih menjadi misteri walaupun kilatan-kilatan masa lalunya sudah sempat kita saksikan. Dan sejauh ini, ‘Assasination Classroom’ hadir sebagai salah satu dari anime paling memuaskan di tahun ini. Anime paket komplit yang tidak hanya menyajikan hiburan maksimal tapi juga memberi sentuhan emosional dan perenungan.
Skor: 8/10

0 comments