Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Monday, November 30, 2015

Catatan Nonton #November’15

Catatan Nonton bulan November ini sudah memasuki edisi ke-23. Sebentar lagi, post bulanan di blog saya ini akan genap dua tahun. Tak terasa juga ternyata sudah hampir dua tahun saya membuat post berisi kumpulan review pendek dari film yang saya tonton dalam satu bulan.  Walaupun mood nonton kadang kali naik turun terutama akhir-akhir ini, tapi saya tetap mempertahankan post Catatan Nonton ini seperti biasa. Movie of the month untuk edisi ini jatuh pada ‘The Man from U.N.C.L.E.’ Dan berikut short review film yang masuk edisi Catatan Nonton bulan November 2015. Check this out!
Gambar dari sini.

Mission: Impossible – Rogue Nation (2015) (01/11/15)


Short review:
Setelah dibuat terpesona Brad Bird di ‘Ghost Protocol’, Ethan Hunt melanjutkan petualangannya ditangan Christopher McQuarrie. Memang menjadi beban tersendiri mengingat Brad Bird pernah menghentak dunia lewat adegan fenomenal Ethan Hunt memanjat gedung tertinggi dunia, Burj Khalifa ditambah pula kualitas ‘Ghost Protocol’ yang diakui. Namun bukan berarti McQuarrie tanpa amunisi. Adegan pembuka dipesawat sedikit masih kalah dengan adegan memanjat gedung, tapi ‘Rogue Nation’ punya cara tersendirinya untuk menghibur dengan berbagai adegan aksi penuh ketegangan. Semuanya dihadirkan dengan begitu intim dan efektif. Berbagai element yang sudah menjadi ciri khas ‘Mission Impossible’ sebagai salah satu franchise espionage terkenal tidak hilang. Ada pula Rebecca Ferguson yang begitu mencuri perhatian.
Skor: 4/5

The Man from U.N.C.L.E. (2015) (01/11/15)


Short review:
Tahun 2015 bisa disebut sebagai tahunnya film spionase karena begitu banyaknya film spionase yang rilis tahun ini. Salah satu diantaranya adalah ‘The Man from U.N.C.L.E.’ garapan Guy Ritchie yang merupakan serial TV populer di era 60-an. Meski tidak menawarkan formula spionase yang baru tapi ‘The Man from U.N.C.L.E.’ muncul sebagai salah satu film spionase paling menyenangkan tahun ini. Setting asli yang dipilih Ritchie sangatlah tepat. Dengannya, kita seolah dibawa rasa dejavu kenapa kita menyukai film spionase. ‘The Man from U.N.C.L.E.’ juga mempunyai cast yang mentereng, ada Henry Cavill, Armie Hammer dan Alicia Vikander (my fav). Interaksi ketiganya turut memberi sumbangsih besar yang membawa nuansa segar ‘The Man from U.N.C.L.E.’ Terlebih Napoleon Solo (Cavill) dan Illya Kuryakin (Hammer) merupakan karakter yang bertolak belakang. Ada pula Gabriella Teller (Alicia Vikander) yang manis. Lengkap lah sudah!
Skor: 4/5

Ich Seh Ich Seh / Goodnight Mommy (2014) (02/11/15)


Short review:
Film horor Austria ini begitu ramai dibicarakan dan disebut-sebut sebagai salah satu yang terseram tahun ini. ‘Ich Seh Ich Seh’ sesungguhnya tidak memunculkan satu sosok makhluk astral pun untuk menciptakan suasana horor. Bahkan sepanjang 70 % durasinya tidak ada kengerian yang nyata untuk membuat saya begidik. Suasananya begitu tenang. Namun memunculkan aura misterius yang kental bersama sesuatu yang “tidak beres” antara si ibu dan dua orang anaknya. Ketegangan dengan rasa horor yang kentara memang baru muncul disisa durasinya. Tapi pabila ditelaah lagi, rasa horor itu sendiri sudah dibangun sejak awal lewat atmosfer-nya yang creepy, dingin dan misterius itu.  Twist yang dihadirkan disini memang bukan sesuatu yang sulit ditebak. Tapi tidak lantas menjadikannya sebuah kekurangan untuk film yang juga didaftarkan pada ajang Oscar ini.
Skor: 3,75/5

Seventh Son (2014) (03/11/15)


Short review:
Salah satu film terburuk tahun ini. Entahlah tak ada satupun aspek film yang benar-benar menarik disini. Setidaknya, ‘Fantastic Four’-nya Josh Trank yang juga dianggap film gagal masih bisa saya menikmati. Berbeda dengan ‘Seventh Son’ yang dilihat dari berbagai sisipun benar-benar tak menarik sama sekali. Membosankan. Durasinya benar-benar terasa sangat melelahkan. Jikalau ada satu hal yang saya nikmati dan menjadi nilai plus buat ‘Seventh Son’ adalah kehadiran Alicia Vikander. Itupun bukan karena penampilannya. Melainkan karena sosoknya yang manis. Sebuah alasan kenapa saya mau nonton film ini.
Skor: 1,75/5

Ant-Man (2015) (07/11/15)


Short review:
‘Ant-Man’ seperti ajang perjudian berikutnya dari Marvel. Namun Marvel yang sekarang adalah Marvel yang sudah punya nama. Dengan kata lain, meski karakter yang akan dibuatkan filmnya terkesan asing tapi nama Marvel sendiri sudah menjadi jaminan bahwa filmnya akan berhasil. Setidaknya menghibur. Begitu pula yang terjadi pada ‘Ant-Man’. Bagian menarik dari ‘Ant-Man’ adalah eksplorasi dunia mikroskopis yang jarang kita temukan dalam film superhero. ‘Ant-Man’ seperti sebuah antitesis dari kebanyakan film superhero yang selalu membawa arena pertarungan pada set yang megah, tempat terbuka, tengah kota sampai luar angkasa. Lain dengan ‘Ant-Man’, kamar tidur anak kecil pun bisa jadi arena pertarungan yang seru. Namun secara keseluruhan, formula ‘Ant-Man’ masih sama dengan film-film Marvel lainnya. Bukannya apa, ada sedikit kekhawatiran jika formula yang sama ini dipakai terus-terusan, film-film Marvel dimasa depan akan berpotensi membosankan.
Skor: 3,5/5

American Ultra (2015) (10/11/15)


Short review:
Apapun filmnya, jika ada ada nama Kristen Stewart disana sudah pasti akan saya tonton. Termasuk ‘American Ultra’ yang menandai duet kedua kalinya K-Stew dengan sang Lex Luthor baru, Jesse Eisenberg, setelah sebelumnya mereka bermain bersama di ‘Adventureland’. Beruntung saya masih bisa merasakan chemistry yang kuat antara Stewart dan Eisenberg disini. Namun jika melihat plot ‘American Ultra’ secara keseluruhan, terdapat berbagai kekurangan yang terasa sangat mengganjal. Kritik orang-orang yang sempat dialamatkan pada Nima Nourizadeh selaku sutradara film ini pun sepertinya tidak salah tempat. Karena memang ada rasa seperti itu setelah menontonnya. Namun apabila mengesampingkan hal-hal mengganjal di film ini, ‘American Ultra’ sendiri sudah cukup untuk menjadi penghibur.
Skor: 3/5

Thursday, November 5, 2015

Resensi Buku: Hypnotic Killer


Wahyu membeli sebuah mesin ketik kuno yang disebut-sebut sebagai peninggalan seorang penulis terkenal. Entah kenapa, dengan mesin ketik tersebut, Wahyu berhasil menyelesaikan cerpen-cerpen misteri yang luar biasa. Sementara itu, kematian demi kematian terjadi secara misterius hanya berselang satu pekan. Polisi kesulitan mengungkap identitas pelakunya karena tidak adanya sidik jari dan jejak serta saksi mata. Hanya ada satu petunjuk, yakni kesamaan kronologi kejadian pembunuhan dengan cerpen misteri yang ditulis oleh Wahyu.
Sebuah premis menarik berhasil dihadirkan Eko Hartono dari sinopsis yang dihadirkan. Ada indikasi kisah misteri kuat dibalut thriller dan suspense yang menyeruak disana. Sebuah genre yang memang saya sukai. Bagian menariknya memang terlihat ketika Eko menyandingkan karya tulisan berupa cerpen yang notabene merupakan karya fiksi dengan peristiwa dikehidupan nyata yang keduanya seolah memiliki keterkaitan satu sama lain. Berbagai pertanyaan pun bermunculan dan membuat penasaran, akan seperti apa Eko Hartono meramu kisah yang cukup potensial ini? Tagline bukunya yang berbunyi “Hati-hati dengan apa yang kau tulis...” pun cukup menggelitik. Lalu seperti apakah jadinya?
Sedari awal sudah saya akui bahwa premis ‘Hypnotic Killer’ itu menarik. Namun menurut saya ada satu kesalahan besar Eko Hartono yang ia buat di bagian Kata Pengantar. Disana, Eko seolah sangat percaya diri dengan kisah misterinya ini dengan menulis “pembaca akan menemukan kejutan demi kejutan”. Dengan kata lain, ada twist berlapis yang potensial mengejutkan dan mengecoh pembaca. Saya membayangkan Eko Hartono akan menebar kepingan-kepingan puzzle yang harus dirangkai para pembaca. Kemudian setelah dirangkai sedemikian rupa oleh pembaca, Eko menghancurkan rangkaian puzzle tersebut dengan twist cerdas dan gila yang tak pernah diduga sebelumnya. Tentunya hal seperti ini akan memberikan sensasi yang luar biasa buat para pembaca.
Sesungguhnya tidak terlalu bermasalah jika penulis sangat percaya diri dengan tulisannya dan memberi clue bahwa bukunya ini akan memberi kejutan demi kejutan. Namun bagaimana jika kejutan demi kejutan tersebut tidak mengejutkan dan terlampau mudah ditebak? Inilah yang terjadi dengan ‘Hypnotic Killer’. Twist-nya teramat mudah ditebak. Bahkan tak perlu pusing merangkai kepingan puzzle untuk menebak dalang dari segala kasus yang ada. Karena jika kita seksama, melihat judulnya + membaca bagian keempat buku ini (sesungguhnya) kita sudah dapat menerka-nerka jawabannya. Twist kedua yang berhubungan dengan tokoh perempuan disinipun juga sangat mudah ditebak. Sampai motif para karakternya pun mudah ditebak. Kalau sudah begitu, apakah kejutan masih disebut kejutan jika teramat mudahnya kejutan itu ditebak?
Memang (masih di bagian Kata Pengantar), Eko juga menulis, “Ada kejutan di akhir cerita yang tidak terduga”. Dan itu yang terjadi ketika cerita melompat ke masa sepuluh tahun dari setting sebelumnya. Jujur, untuk yang satu ini sayapun tidak bisa menerkanya. Namun kalau boleh saya bilang, bagian yang ini (yang disebut penulis sebagai sebuah kejutan tak terduga) tidaklah terlalu esensial dengan cerita. Karena ceritanya sendiri sudah berakhir. Dengan kata lain, siapapun bisa saja membuat alternatif cerita dengan kejutan atau apalah secara sekenanya ketika plot utamanya sendiri sudah berakhir. Dan buat saya itu bukanlah sebuah twist atau kejutan. Twist yang baik adalah ketika si penulis memberikan clue yang telah ditebar baik pada plot, set, tokoh, karakterisasi dan bagian intrinsik lainnnya, kemudian setelah pembaca mulai percaya diri terhadap dugaannya, penulis membelokan dugaan pembaca dengan cara yang tak pernah terduga, sampai akhirnya BOOM!!! Pembaca pun melongo. That’s twist!
Daripada menyebut akhir cerita ‘Hypnotic Killer’ sebagai sebuah kejutan yang tak terduga atau twist, saya lebih senang menyebutnya sebagai sebuah open ending. Biasanya ending seperti ini merupakan indikasi akan adanya cerita lanjutan atau sekuel. Atau hanya sekedar untuk mengumbar pertanyaan yang akan menjadi bahan diskusi buat para pembaca setelahnya. Atau hanya akal-akalan penulisnya saja untuk membuat pembacanya gregetan. Hehe.
Mungkin akan lain ceritanya jika penulis tidak pernah mengungkapkan bahwa bukunya ini akan mengejutkan pembaca. Karena jika melihat genre-nya, twist itu sendiri sudah sepaket dengan cerita (biasanya, walaupun tidak semua). Dengan begitu, twist atau kejutan itu tidak akan menjadi sebuah ekspektasi melainkan sebuah bonus bagi pembaca. Seandainya kejutan itu mudah ditebak pun tetap akan terasa menyenangkan, apalagi jika tidak mudah ditebak. Dan disini, penulis menyatakan dengan lugas bahwa bukunya ini akan menyajikan rangkaian kejutan. Tak ayal, hal ini menimbulkan ekspektasi dan imajinasi liar dari pembacanya. Tak akan jadi masalah jika twist itu benar-benar berhasil mengelabui pembaca. Masalahnya adalah twist ‘Hypnotic Killer’ itu sangat tidak berhasil dan membuat kita berujar, “Hah? Segitu doang?” Itulah kenapa diawal saya sebut Eko Hartono telah melakukan satu kesalahan besar.
Biarpun begitu, saya tetap mengapresiasi penulis yang secara implisit mengakui bahwa menulis cerita misteri seperti ini tidaklah mudah. Karena memang begitulah adanya. Ini bisa terlihat dari ucapan tokoh Wahyu tatkala bercakap-cakap dengan Mang Darman. Wahyu berujar bahwa tema misteri atau detektif dalam sebuah karya tulisan itu sulit. Tema-tema seperti ini butuh pemikiran yang cerdas dan cerdik.  Karena mayoritas tema seperti ini memiliki alur yang berliku, penuh teka-teki, berselimut rahasia tanpa meninggalkan rasio dan logika (hal. 32). Statement Wahyu kepada Mang Darman ini menurut saya merupakan manifestasi dari pikiran penulis ‘Hypnotic Killer’ sendiri yaitu Eko Hartono.
Element kejutnya yang sangat tidak berhasil berbanding terbalik dengan element suspense-nya. Tiga perempat bagian awal atau sebelum konklusi dihadirkan, saya merasakan ketegangan yang cukup kentara dan seolah masuk kedalam cerita ini. Hal ini tak lepas dari pengenalan karakter utama ‘Hypnotic Killer’ yang menurut saya cukup berhasil. Karakter Wahyu berhasil menghadirkan aura simpatik sehingga pembaca peduli dengan karakter ini. Deskripsi karakter Wahyu sendiri cukup related dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa dan diksi yang sederhana tapi tepat sasaran menjadikan ‘Hypnotic Killer’ juga mudah diikuti.
Overall, ‘Hypnotic Killer’ gagal total memberikan aspek kejut (twist) yang sudah sangat percaya diri ditulis sang penulis di Kata Pengantar karena terlampau mudahnya ditebak. Tapi mengesampingkan hal itu, ‘Hypnotic Killer’ cukup berhasil menggulirkan kisah misterinya yang enak diikuti. Ketegangan pun cukup terasa terutama sebelum konklusinya dihadirkan. Penggambaran karakter Wahyu sebagai tokoh utama cukup menarik simpati sehingga pembaca peduli dengan karakternya. Dan sekali lagi, bagian ending sebelum tamat itu bukanlah sebuah kejutan. That’s not twist, that’s open ending.

Saturday, October 31, 2015

Catatan Nonton #Oktober’15

Setelah beberapa waktu agak mulai menurun, sepertinya bulan ini saya mulai menemukan kembali mood menonton film seperti biasanya. Terbukti di edisi ke-22 dari ‘Catatan Nonton’ kali ini jari tangan saya sudah tak bisa menghitungnya. Triwulan terakhir dalam setahun biasanya selalu menghadirkan film-film yang worhted buat ditonton. Dengan kata lain, banyak film-film bagus (yang tidak hanya sekedar hiburan) yang rilis di periode ini. Film-film ramah Oscar pun selalu bermunculan diperiode ini. Khusus bulan Oktober saja, ada cukup banyak film-film yang nongol di bioskop. Sebut saja The Martian, Sicario, The Walk, Crimson Peak dan Bridge of Spies. Film-film tersebut sebenarnya juga muncul dalam daftar film yang saya tunggu tahun ini dipostingan awal tahun. Meski begitu, kenyataannya saya tidak bisa menyaksikan semua film-film itu. Tentunya ada berbagai alasan kenapa itu bisa terjadi. Tapi apapun itu, ini adalah ‘Catatan Nonton’ yang berisi review-review pendek film yang saya tonton selama sebulan ini. Movie of the Month kali ini adalah Crimson Peak-nya Guillermo del Toro yang sukses menyajikan tontonan tercantik sekaligus termegah tahun ini. Dan seperti biasa gambar diambil dari sini.

Tomorrowland (2015) (01/10/15)


Short review:
Diilhami dari salah satu wahana Disneyland, 'Tomorrowland' memang terasa begitu ambisius dengan segala remeh temeh tentang masa depan dan dunia futuristik. Dari luar, 'Tomorrowland' tampak begitu megah dengan visual futuristik yang memanjakan mata. Menghibur? Ya. Menyenangkan? Ya. Namun ketika kita melihat lebih dalam lewat caranya bercerita. 'Tomorrowland' seperti terseok-seok dalam bertutur soal konsep dan ide yang imajinatif yang digelontorkan bersama isu kehancuran bumi dimasa depan. Pesan besarnya mungkin kurang begitu tersampaikan, walaupun Brad Bird telah banyak menceramahi penonton dengan berbagai pikiran positif dan optimis. Eksekusi memang menjadi permasalahan disini.
Skor: 3,25/5

Terminator: Genisys (2015) (01/10/15)


Short review:
Bukan salah penonton jika harus kebingungan sendiri menyaksikan installment terbaru sekaligus reboot dari franchise yang melambungkan nama Arnold Schwarzenegger. Mengusung elemen time travel dan alternate timeline yang bertabrakan menjadi sebuah paradoks memang terlihat cerdas dan rumit disaat bersamaan. Namun itu hanya akan jadi omong kosong belaka jika skrip yang ditulis tidak sebagaimana mestinya. Duo Laeta Karogridis dan Patrick Lussier terlihat malas dalam menjelaskan hukum sebab-akibat yang pasti guna memaparkan bla-bla-bla tersebut. Dan terkesan menggampangkan semuanya dengan dalih "masa lalu telah berubah, begitupun masa depan". Beruntung Alan Taylor masih menyisakan unsur hiburan yang cukup bekerja (meski tidak istimewa) dan menebar homage-homage kecil yang membawa kita bernostalgia dengan ‘Terminator’. Setidaknya, itu menyenangkan (ditambah Emilia Clarke tentunya).
Skor: 3,25/5

Paper Towns (2015) (04/10/15)


Short review:
Ada kehangatan yang begitu kentara melihat adaptasi novel young adult John Green ini. 'Paper Towns' tidak hanya berbicara tentang kisah cinta masa SMA saja, ada kisah persahabatan yang diulik disini. Jika itu belum cukup, tenang, karena 'Paper Towns' memberi selipan misteri dan sebuah perjalanan menyenangkan bersama iringan musik indie yang catchy. Seperti kisah young adult pada umumnya, 'Paper Towns' pun akan membawa unsur pendewasaan yang kalau saya bilang lebih related disini. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tapi ada muatan filosofis yang membuat kitapun ikut merenungkannya bersama ending bittersweet itu. Moment-moment yang terjadi disinipun sedikit banyak membawa kita ikut berkontemplasi ke masa putih-abu dulu. Pun ketika mereka menyanyikan opening song ‘Pokemon Indigo League’ yang seru, lucu dan bikin kangen.
Skor: 3,5/5

The Martian (2015) (05/10/15)


Short review:
‘The Martian’ mungkin agak kurang sesuai dengan ekspektasi awal saya, dimana saya mengharapkan ini akan menjadi tontonan serius dan kelam layaknya ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Dan kalau mau dibandingkan pesona ‘The Martian’ memang masih kalah dari keduanya menurut saya. Tapi jalan berbeda yang ditempuh Ridley Scott adalah jalan yang sangat tepat, terlepas dari novelnya yang juga demikian atau tidak. Setidaknya itu bisa membuat ‘The Martian’ berdiri sendiri tanpa harus terus dikaitkan dengan ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Caranya itu pula yang membuat ‘The Martian’ menyisakan perasaan puas di benak penontonnya. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 3,75/5

Pixels (2015) (10/10/15)


Short review:
Premis ‘Pixels’ memang sudah menjanjikan sesuatu yang menarik ketika pertama kali film ini diumumkan. Meski ada kekhawatiran ketika nama Adam Sandler didapuk sebagai pemeran utama. Maklum akhir-akhir ini nama Adam sudah terdengar sangat ‘membosankan’ melalui judul-judul yang dibintanginya. Dan ditangan Chris Colombus nama Adam Sandler (sepertinya) mulai agak naik lagi nih. Hehe. ‘Pixels’ memang bukanlah tipikal tontonan yang bagus di cerita ataupun karakter, tapi Chris Colombus berhasil menyulap premisnya yang sudah menarik itu menjadi sajian menghibur dan menyenangkan. Terlebih saya belum pernah menyaksikan versi short movie yang menjadi dasar pembuatan film ini. Visualnya juga sangat layak diapresiasi. Dan satu hal lagi (mungkin ini point-nya) bahwa ‘Pixels’ sukses menyajikan moment nostalgia yang manis untuk siapapun yang pernah hidup dengan arcade game.
Skor: 3,5/5

Minions (2015) (11/10/15)


Short review:
I think, siapapun sudah tahu jika ‘Minions’ adalah perwujudan kebiasaan hollywood yang suka mengekploitasi karakter pendukung yang mencuri perhatian penonton. Dan setelah jadi scene stealer di dua seri ‘Despicable Me’ (yang kedua malah mendapat porsi lebih) Minion pun akhirnya mendapat jatah peran utama. Sesungguhnya, selalu ada kekhawatiran terkait hal-hal seperti ini. Menjadikannya sebuah prekuel sekaligus spin-off, ‘Minions’ hadir membawakan origin story-nya. Lantas apalagi yang ingin ditawarkan Illuminations Studios dari si kuning imut ini? Kekhawatiran yang sebelumnya ada memang menjadi terbukti dan beralasan. Pada akhirnya, ‘Minions’ pun tidak menawarkan sesuatu apapun. Kemunculan film inipun semakin menyiratkan secara tegas jika para pembuatnya sengaja meraup pundi-pundi dolar dari makhluk kecil tersebut. Selain memperpanjang usia franchise-nya tentunya.
Skor: 2,75/5

Me and Earl and the Dying Girl (2015) (11/10/15)


Short review:
‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang bukan seperti drama remaja pada umumnya yang menjadikan penyakit mematikan sebagai premisnya. Sebenarnya semua elemen khas tema seperti ini masih ada, hanya caranya saja yang berbeda dan tak biasa. Dan itu menyenangkan, sekaligus menghangatkan. Terlebih ‘Me and Earl and the Dying Girl’ membawa aura positif dibalik semua getir yang ada. Sisi gloomy kematian dibawanya pada sebuah pelajaran berharga buat karakternya. Menjadikannya lebih dewasa dalam menghadapi hidup dan menghargainya. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 4/5

Cop Car (2015) (13/10/15)


Short review:
Opening yang teramat menarik disebuah padang gersang membawa dua bocah yang sedang berjalan-jalan. Melontarkan kata-kata umpatan yang terasa salah tapi juga menggelikan disaat bersamaan. Sebuah mobil polisi tergeletak begitu saja, lengkap dengan kuncinya. Namanya juga anak-anak mereka langsung saja bermain-main dengannya. Membawa mereka pada perjalanan mengemudi pertama yang mungkin juga menjadi yang terakhir. Di tempat lain ada seorang polisi yang sedang melakukan perbuatan yang juga terasa salah dan akhirnya harus kehilangan mobilnya. Dan mulailah pencarian si polisi akan mobilnya sementara para bocah asyik bermain dengan mobil yang ditemukannya. Semua yang terasa salah tapi juga menggelikan disaat bersamaan seperti menjadi fokus utama disini. Dan Joan Watts cukup efektif dalam mengungkapnya. Filmnya memiliki tempo yang lambat tapi entah kenapa tiba-tiba sudah mendekati ujungnya saja. Dengan kata lain, saya menikmatinya.
Skor: 3,75/5

Assasination Classroom (2015) (14/10/15)


Short review:
Apa yang dilakukan Eiichiro Hasumi pada ‘Assasination Classroom’ terbilang cukup tepat. Dia tak sampai hati untuk memodifikasi secara ekstrim fokus dan tone-nya. Menyederhanakannya, mungkin kata yang lebih tepat. Walaupun diluar sana masih banyak yang merasakan perbedaan, itu tidak terlalu bermasalah. Karena memang diperlukan beberapa penyesuaian dari serial 22 episode menjadi film berdurasi 110 menit. Saya pikir, versinya ini masih bisa diterima (dan disukai) baik oleh kalangan fans maupun non-fans. Apalagi modal “menyenangkan” sudah dipunyai ‘Assasination Classroom’ sedari awal. Sayapun menikmatinya. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 3,75/5

Crimson Peak (2015) (19/10/15)


Short review:
Terlepas dari rasa horornya yang kurang menggigit atau romansanya yang kurang emosional, saya sangat menikmati ‘Crimson Peak’ secara utuh. Nama Guillermo del Toro sebenarnya sudah sangat mengisyaratkan bahwa ini bukanlah film horor komersil macam ‘Insidious’ atau ‘The Conjuring’. Lagipula, saya juga tidak pernah mengharapkan tontonan seperti itu saat menonton ‘Crimson Peak’. Justru ‘Crimson Peak’ berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Walaupun memang harus diakui ada beberapa bagian yang kurang. Tapi semua itu seolah begitu mudahnya termaafkan ketika tak henti-hentinya kecantikan dan kemegahan tersaji indah dilayar. Kembali saya terhipnotis oleh karya del Toro seperti yang pernah saya rasakan dalam ‘Pan’s Labyrinth’. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Skor: 4/5

Fantastic Four (2015) (27/08/15)


Short review:
Permasalahan internal yang menimpa reboot ‘Fantastic Four’ memang berimbas penuh pada hasil akhir filmnya. Josh Trank yang pernah mengejutkan dunia lewat ‘Chronicle’ ternyata membuat para fanboy naik pitam dengan merevolusi penuh ‘Fantastic Four’. Mulai dari pemilihan cast, pembuatan origin story, sampai tone yang dibuat berbeda. Pun dengan kesenangan yang selalu hadir pada warna bendera Marvel yang kita kenal tak kita temukan disini. Sesungguhnya separuh awalnya masih bisa dinikmati oleh saya ketika Trank membawa sisi drama berbau sci-fi dalam penceritaannya (terlepas dari berbagai kekurangan yang masih terasa). Namun setelahnya adalah sebuah kesalahan yang membuat film ini seolah terpisah antara bagian awal dan bagian akhirnya. Parahnya lagi, bagian akhir inilah yang paling fatal. Bagaimana tidak, Dr Doom yang notabene adalah salah satu villain terkuat dijagat Marvel dibuat lemah tak berdaya dengan membuat pertarungan bodoh semacam itu? Selebihnya, tonton sendiri saja! Karena masih banyak kekonyolan dan kebodohan lainnya.
Skor: 2,25/5

Tuesday, October 20, 2015

Crimson Peak (2015): A Beautiful-Gothic "Love" Story

“Ghosts are real, that much I know. I’ve seen them all my life...”
– Edith Cushing –

Hantu itu nyata. Setidaknya itu yang dipercaya Edith Cushing (Mia Wasikowska). Semenjak kematian sang ibu selagi ia kecil, Edith mulai bisa merasakan kehadiran “mereka” disekitarnya. Keberadaan “mereka” tidak hanya mengganggu ketenangan hidup Edith, lebih dari itu, ada peringatan besar yang sayangnya tak diindahkan Edith. Peringatan yang belakangan akan diketahui berhubungan dengan Sir Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) dan Lady Lucille Sharpe (Jessica Chastain), kakak beradik misterius asal Inggris. Penghuni kastil tua bernama Crimson Peak.
Guillermo del Toro adalah sekian dari sutradara yang memiliki ciri khas dalam karyanya. Film-filmnya selalu diisi dengan desain produksi yang kaya imajinasi bersama karakter-karakter yang unik. Diawal karirnya, ia banyak menampilkan film-film horor yang dipenuhi fantasi imajinatif dengan sentuhan gothic yang kental. Tidak hanya sajian horor pembawa rasa takut semata, ada tema lain yang selalu dihadirkan del Toro dalam film-filmnya. Rasa gothic del Toro memang seperti sudah mendarah daging, ini juga menular pada film-film non-horor del Toro seperti Blade II (2002), Hellboy I & II (2004 & 2008).


Setting dan sinematografi adalah dua hal yang selalu saya suka dari del Toro. Entah kenapa, dua hal ini ditangan del Toro selalu membawa cita rasa yang lain daripada yang lain. Gelap, kelam, gothic, old-fashioned, klasik, unik, aneh, absurd tapi cantik, secantik-cantiknya. Pan’s Labyrinth (2006) adalah contoh paling mudah untuk mendefinisikan itu. Memang selain itu, del Toro pernah membuat Pacific Rim (2013) yang sejujurnya tidak terlalu saya sukai. Tapi aspek visualnya jelas sangat tak layak disebut buruk. Dan seperti ingin kembali ke masa dimana orang-orang mulai mengenal dirinya. Del Toro kembali membawa unsur horor dengan mengedepankan dua aspek tadi dalam ‘Crimson Peak’.
‘Crimson Peak’ jelas bukan sajian horor seperti yang orang-orang umum duga. Ini bukanlah ‘The Conjuring’-nya James Wan yang bisa meneror dan mengejutkan anda dengan beragam jump scare. Walaupun memiliki formula yang sama sebagai haunted house movie dalam wujud kastil tua misterius di Allardale Hall,  tapi sekali lagi ditekankan ini bukanlah horor yang seperti itu. Bahkan unsur horornya sendiri tidak sampai mendominasi walaupun kesannya masih sangat terasa. Bisa dibilang, unsur horor bukanlah tajuk utama disini. Berkaca pula pada dialog Edith yang memuat cerita hantu yang ditulisnya hanya berupa metafora untuk masa lalunya. Dari jauh-jauh hari pun del Toro sudah berujar bahwa ‘Crimson Peak’ lebih tepat disebut sebagai gothic-romance dibandingkan pure horor.


 Kesan yang langsung terlintas dibenak setelah menonton ‘Crimson Peak’ adalah betapa cantik dan megahnya film ini. Bahkan hal ini sudah tercium sedari awal. Lagi dan lagi, Guillermo del Toro sukses menghipnotis mata dengan sajian visual termanis di tahun ini. Dimulai dengan New York abad 19 yang dihiasi temaram kuning keemasan yang terasa begitu melankolik mengiringi permulaan kisah. Kemudian ketika lokasi berpindah ke Cumbria yang semakin mengejawantahkan kata cantik dan megah tadi. Kemegahan terpancar jelas dari kastil tua yang tidak hanya menyimpan aura gelap dan misterius yang kuat tapi juga keindahan disaat bersamaan. Rasa horor pun terpancar jelas dari berbagai simbolisme yang disajikan sisi visualnya. Seperti halnya warna merah pekat yang seringkali bercampur dengan putihnya salju. Bersanding bersama atmosfer kelamnya yang turut diisi lantunan musik yang menghantui.
Sama seperti karya-karya del Toro yang lain, ‘Crimson Peak’ pun masih setia menampilkan karakter-karakter unik dari makhluk rekaannya. Dan yang kebagian jatah kali ini adalah para hantu. Desain para hantu yang memang didominasi CGI ini terasa berbeda dengan hantu versi film horor yang biasanya. Terlihat lebih keren dan saya menyukainya. Apalagi ada satu moment yang mengingatkan saya pada detik terakhir pertarungan Ichigo Kurosaki dan Ulquiorra Schiffer di ‘Bleach’ (anime). Ketika akhirnya Ulquiorra berdispersi menjadi butiran debu sesaat sebelum tangan Inoue menyentuhnya.
Maksimal dan gila-gilaan disisi visual ternyata tidak berbuah manis pada narasi dan plotnya. Seolah dikorbankan, aspek yang satu ini memang seperti terpinggirkan. Tidak buruk sebenarnya, saya pun masih menikmatinya. Namun untuk yang berekspektasi lebih, mungkin akan sedikit kecewa. Terlebih aura horor yang mungkin sudah terpatri dibenak penonton diawal (mengingat film inipun berlabel horor) terasa kurang menggigit. Sisi drama yang terjalin lewat romansanya sebenarnya tidak terlalu buruk juga, hanya kurang maksimal saja. Sehingga emosi yang ingin dihadirkan kurang begitu mengena dihati. Twist psikologis-nya juga sedikit mudah ditebak. Dan tak seperti yang saya kira, Mia Wasikowska dan Tom Hiddleston ternyata tidak menunjukkan performa terbaiknya. Beruntung, Jessica Chastain menambalnya dengan penampilan memukau penuh kesan.


Tiga perempat babak ‘Crimson Peak’ memiliki tempo dan tone yang cukup lambat. Faktor ini pula yang (mungkin) membuat para penonton lain teralihkan fokusnya dari layar dengan tak sungkan berlalu lalang, ngobrol atau main smartphone. Mungkin mereka mulai sadar bahwa ‘Crimson Peak’ bukanlah film horor yang diekspektasikan mereka. Tentu, ini tidak berlaku buat saya yang sedari awal sudah terhipnotis oleh ini. Pace yang lumayan lambat itu akhirnya berubah haluan diseperempat babak akhirnya. Simbol merah pekat yang sedari awal muncul mulai bertransformasi menjadi tragedi menegangkan penuh darah. Unsur gore dan kesadisan sangat terasa lewat tusukan-tusukan benda tajam yang cukup memberi perasaan ngeri dalam benak. Anak-anak dibawah umur tidak disarankan menonton film ini.
Terlepas dari rasa horornya yang kurang menggigit atau romansanya yang kurang emosional, saya sangat menikmati ‘Crimson Peak’ secara utuh. Nama Guillermo del Toro sebenarnya sudah sangat mengisyaratkan bahwa ini bukanlah film horor komersil macam ‘Insidious’ atau ‘The Conjuring’. Lagipula, saya juga tidak pernah mengharapkan tontonan seperti itu saat menonton ‘Crimson Peak’. Justru ‘Crimson Peak’ berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Walaupun memang harus diakui ada beberapa bagian yang kurang. Tapi semua itu seolah begitu mudahnya termaafkan ketika tak henti-hentinya kecantikan dan kemegahan tersaji indah dilayar. Kembali saya terhipnotis oleh karya del Toro seperti yang pernah saya rasakan dalam ‘Pan’s Labyrinth’.

Wednesday, October 14, 2015

Assasination Classroom (2015): Belajar Membunuh Guru Sendiri


Tahun 2015 semakin menambah daftar panjang manga dan anime yang dibuatkan versi live action. Ada ‘Attack on Titan’, ‘Bakuman’ dan ‘Assasination Classroom’. ‘Assasination Classroom’ merupakan seri manga populer rekaan Yusei Matsui. Bercerita tentang misi pembunuhan makhluk aneh kuning berwujud gurita oleh kelas 3-E. Kelas yang terisolasi di SMP Kunugigaoka. Seri animenya telah menuntaskan musim pertamanya dalam dua cour dan berakhir pada bulan Juni lalu. Review lengkapnya bisa dilihat disini.
Versi live action manga/anime Jepang seperti dua sisi mata uang. Selalu menghadirkan ekpektasi berbeda dikalangan fans dan non-fans. Disatu sisi memang kurang adil jika terus menerus membandingkan manga/anime dengan versi live action. Karena jelas medianya berbeda. Tapi disisi lain, cukup sulit juga membiasakan diri untuk melepas bayang-bayang manga/anime yang kadung melekat. Menyaksikan versi live action bagi yang sudah akrab dengan manga ataupun animenya bagaikan perjudian besar. Terlebih jika manga/ anime itu begitu disukai. Yang paling terasa adalah ketika beberapa waktu lalu muncul versi live action ‘Attack on Titan’ yang dimodifikasi hampir disemua aspek. Mulai dari plot, set sampai karakter. Tak pelak kritikan pun begitu tajam dialamatkan pada film garapan Shinji Higuchi ini. Karena dianggap melenceng terlalu jauh dari sumber aslinya. Lantas bagaimana dengan ‘Assasination Classroom’ sendiri?
Harus saya akui menit-menit awal film adalah moment adaptasi buat saya. Terutama mengenai penggambaran karakter. Secara penampilan, Koro-Sensei tidak terlalu bermasalah, sosoknya pun berhasil divisualisasikan dengan cukup halus sehingga tampak menyatu dengan karakter lain yang notabene adalah manusia. Kecuali suaranya yang diisi Kazunari Ninomiya. Maklum dalam anime suara Koro-Sensei itu begitu khas dan masih terngiang sampai sekarang. Kemudian berlanjut ke Nagisa (yang kurang feminin, haha), Karashuma, Irina (Bitch-Sensei), Karma, dan yang lainnya. Selang beberapa saat saya pun mulai terbiasa dan menerima penggambaran karakter yang ada. Beralih ke cerita, dan...
Harus diakui juga jika banyak konten-konten manga/anime yang hilang disini. Plot hole pun mulai bermunculan dan cukup terasa, terutama bagi yang belum bersentuhan sama sekali dengan manga/animenya. Tapi Eiichiro Hasumi sanggup membawa ‘Assasination Classroom’ versinya sendiri dengan tetap berpegang teguh pada inti ‘Assasination Classroom’ yang sudah kita kenal. Beberapa moment penting dan khas yang tercatut dalam manga/anime pun kembali dibawa. Sekaligus memberi ruang bagi beberapa karakternya untuk tampil bersinar dan meninggalkan kesan seperti di manga/animenya. Walaupun porsinya sendiri tidak terlalu banyak. Tapi itu sudah lebih dari cukup.
 Apa yang dilakukan Eiichiro Hasumi pada ‘Assasination Classroom’ terbilang cukup tepat. Dia tak sampai hati untuk memodifikasi secara ekstrim fokus dan tone-nya. Menyederhanakannya, mungkin kata yang lebih tepat. Walaupun diluar sana masih banyak yang merasakan perbedaan, itu tidak terlalu bermasalah. Karena memang diperlukan beberapa penyesuaian dari serial 22 episode menjadi film berdurasi 110 menit. Saya pikir, versinya ini masih bisa diterima (dan disukai) baik oleh kalangan fans maupun non-fans. Apalagi modal “menyenangkan” sudah dipunyai ‘Assasination Classroom’ sedari awal. Sayapun menikmatinya.

Me and Earl and the Dying Girl (2015): Kematian yang Mendewasakan


Dari judulnya tertulis kata “dying”. Dari premisnya terpatri sebuah penyakit mematikan. Sepintas, kita sudah bisa menebak film ini akan berjalan seperti apa. Polanya mungkin tak jauh dari eksploitasi rasa sakit si penderita yang mengharap belas kasih penonton. Berdepresif ria menunggu ajal menjemput. Formula khas tearjaker pun rasanya sudah pasti dalam genggaman. Namun tenanglah karena sang pencuri perhatian Sundance sebagai Grand Jury Prize dan the Audience Award ini berbeda dari yang kita kira.
Sebagaimana judulnya, film yang disadur dari novel karya Jesse Andrews ini akan lebih banyak bercerita tentang ketiga tokoh utamanya yaitu Greg, Earl dan Rachel dan bagaimana relasi diantara ketiganya. Semenjak scene dibuka pertama kali, kesan yang terlintas adalah quirky. Buat yang akrab dengan karya-karya Wes Anderson, tak ragu rasanya menambatkan film garapan Alfonso Gomez-Rejon pada nama Wes Anderson. Karena memang begitulah adanya. ‘Me and Earl and the Dying Girl’ seperti versi ringan film-film Wes Anderson tanpa menghilangkan jati diri si sutradara.
Ke-quirky-an di awal rupanya berlanjut pada ke-quirky-an lainnya. Yang paling nyata terlihat adalah pada karakter-karakternya. Terutama Greg Gaines (Thomas Mann) sebagai “Me” sang karakter utama yang notebene adalah siswa SMA tingkat akhir yang terlalu takut dengan kehidupan sekolahnya. Punya permasalahan dengan diri sendiri (insecure, self-loathing, socially awkward) dan hubungan sosialnya. Sampai ia terlalu paranoid untuk menyebut teman sebagai “teman”. Greg menjalin persahabatan dengan Earl (Ronald Cyner II) yang tidak terlalu mempermasalahkan sebutan rekan kerja yang disandang Earl dari Greg. Tapi pastinya kita tahu bahwa mereka berdua sahabat baik yang bisa menerima satu sama lain. Kemudian ada Rachel Kusnher (Olivia Cooke) si penderita leukimia stadium empat yang tak sungkan menertawai nasibnya bersama Greg daripada harus terus meratapinya. Karakter pendukung lainpun tak kalah quirky-nya.
Karakter nyentrik Greg turut berkontribusi pada selera menonton filmnya yang anti-mainstream. Bersama Earl ia sering menghabiskan jam makan siangnya menonton film-film klasik dan arthouse. Bersama Earl pula ia sering membuat film-film nyentrik yang merupakan versi sweded dari film-film klasik lainnya. Menyenangkan sekaligus menggelitik melihat judul-judul macam ‘Anantomy of a Murder’ dirubah menjadi ‘Anatomy of a Burger’, ‘A Clockwork Orange’ menjadi ‘A Sockwork Orange’, ‘Eyes Wide Shut’ menjadi ‘Eyes Wide Butt’ dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal ini menjadi hiburan tersendiri terutama buat yang akrab dengan film-film tersebut.
Alih-alih menyajikan tontonan yang depresif, ‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang lebih banyak menyoroti potensi itu dengan cara yang lain. Seringnya malah kita tersenyum dan tertawa melihat celotehan-celotehan masing-masing karakter beserta tingkah polah mereka. Namun disamping itu, film ini tidak sedikitpun kehilangan emosi dan moment dramatisnya. Malah Alfonso Gomez-Rejon memiliki cara yang elit dalam memberi koneksi emosi kepada penontonnya. Dan berhasil menyajikan moment mengharu biru tanpa harus mendramatisirnya secara over. Tapi semuanya terjadi begitu saja, mengalir apa adanya dan kitapun terhanyut akannya. Ditambah scoring Brian Eno dan Nico Muhly yang begitu mengena dalam menghidupkan setiap scene-nya.
‘Me and Earl and the Dying Girl’ memang bukan seperti drama remaja pada umumnya yang menjadikan penyakit mematikan sebagai premisnya. Sebenarnya semua elemen khas tema seperti ini masih ada, hanya caranya saja yang berbeda dan tak biasa. Dan itu menyenangkan, sekaligus menghangatkan. Terlebih ‘Me and Earl and the Dying Girl’ membawa aura positif dibalik semua getir yang ada. Sisi gloomy kematian dibawanya pada sebuah pelajaran berharga buat karakternya. Menjadikannya lebih dewasa dalam menghadapi hidup dan menghargainya.

Monday, October 5, 2015

The Martian (2015): Humanisme Dibalik Misi Penyelamatan dan Bertahan Hidup


Waktu kecil seringkali kita diajukan pertanyaan dari sekitar tentang cita-cita jika sudah dewasa nanti mau jadi apa? Astronot mungkin menjadi salah satu profesi yang paling diidolakan zaman anak-anak dulu. Astronot itu keren, bisa menjelajahi angkasa raya. Menggapai bintang-bintang. Namun setelah kita mulai besar dan mulai agak mengerti, kita pun tahu dan sadar bahwa menjadi astronot itu tidak semudah seperti yang dibayangkan. Sisi kerennya memang masih ada. Tapi ada konsekuensi mahaberat yang siap menanti tanpa pernah bisa diprediksi. Beberapa film sci-fi telah banyak mengungkapkan kengerian bernama luar angkasa tersebut. Sebut saja Gravity (2013) Alfonso Cuaron dan Interstellar (2014) Christopher Nolan [Review].
Dua film yang saya sebut diatas adalah dua film yang sanggup membawa sisi lain luar angkasa dengan pendekatan yang realistis. Dari keduanya, saya menjadi semakin sadar bahwa menjadi astoronot bukanlah pekerjaan mudah. Teramat sangat mengerikan malah. Kadang saya suka berpikir bagaimana jika harus terombang-ambing di antah berantah itu, sendirian, dengan berbagai kemungkinan buruk yang masih bisa terjadi. Bahkan jika harus meninggal pun entah akan kemana mayatnya nanti.
‘Gravity’ dan ‘Interstellar’ adalah dua film yang sama-sama mengagumkan lewat tangan dingin sutradaranya. Dan setelah berturut-turut dari ‘Gravity’ ke ‘Interstellar’, tahun ini kitapun disuguhi menu yang hampir sama. Ada Ridley Scott, sutradara gaek yang punya track record bagus dalam film sci-fi bertema luar angkasa yang kali ini meminjam kisah dari novel Andy Weir, The Martian. Bukan tentang kecelakaan luar angkasa lagi. Bukan pula tentang perjalanan melintasi galaksi mencari planet yang bisa dihuni manusia. Scott akan menyoroti perjuangan survival seorang manusia yang harus terdampar di planet Mars seorang diri.
Diantara delapan planet dalam tata surya kita, planet Mars mungkin menjadi planet terdepan yang dianggap paling bisa ditinggali setelah bumi. Sejumlah ilmuwan dan peneliti telah acap kali mengemukakan berbagai konsep dan teori yang berkaitan dengan itu. Mulai dari struktur planet Mars yang diperkirakan hampir sama dengan bumi, adanya kehidupan di Mars lewat ditemukannya cairan yang diperkirakan sebagai air, dsb. Walaupun sesungguhnya itu semua masih harus perlu dikaji lebih dalam lagi, tapi kita semua sudah sering berimajinasi dan bertanya-tanya tentang kehidupan disana. Seorang Bob Dylan pun tak ketinggalan mempertanyakannya dalam salah satu lirik lagunya yang berbunyi, is there ilfe on Mars? Dan dalam medium film, sudah bukan hal baru jika planet merah telah mendapat tempat tersendiri dimata mata para sineas.


‘The Martian’ memulai semuanya tanpa basa-basi. Kita langsung diperlihatkan pada sejumlah awak tim dalam misi bernama Ares 3 di Mars yang gersang. Tanpa diduga sebuah badai besar menghadang mengharuskan sang komandan Melissa Lewis (Jessica Chastain) membatalkan misi seketika. Mark Watney (Matt Damon) yang punya pendapat berbeda soal keputusan sang komandan malah mengalami kecelakaan yang membuat dirinya dianggap tewas oleh seluruh rekannya. Dengan berat hati para awak pun meninggalkan mayat Watney terdampar di Mars. Namun apa yang terjadi setelahnya, kita tahu bahwa Mark Watney masih hidup, lebih ironis lagi karena masih hidupnya Mark adalah berkat kecelakaan yang menimpanya.
Dalam pembukaannya, Ridley Scott seolah ingin menunjukkan kembali betapa kejam dan mengerikannya kehidupan diluar bumi. Adegan dalam badai tersebut sangat bisa mendefinisikan pernyataan tadi. Kengerian, keriuhan, hadir bersama dentuman keras dan visual yang ikut membawa suasana menegangkan. Bahkan sampai saat Mark Watney selamat pun kita masih harus menyaksikan pemandangan yang tak menyenangkan. Tak pelak lagi ingatan saya langsung dibawa pada ‘Gravity’ dan ‘Interstellar’. Dan harus saya akui sedikit banyak hal itu membawa ekspektasi yang sama. Meski kenyataannya film ini sangatlah berbeda dengan keduanya.
Mungkin sedari awal Ridley Scott memang sudah sadar bahwa filmnya yang bertema luar angkasa, berurutan pula dengan ‘Gravity’ dan ‘Interstellar’ (yang sudah punya standar sendiri), akan di-compare penonton dengan karya Cuaron dan Nolan. Maka dari itu, terlepas dari sumber aslinya, Ridley memillih mengambil jalan berbeda dengan para pendahulunya. Meninggalkan kesan kelam dan serius yang dilakukan Cuaron dan Nolan, ‘The Martian’ dibawanya pada sajian yang ringan, santai, lucu, sarkastik tanpa sedikitpun menghilangkan unsur sains dan ketegangannya.
Keberhasilan Ridley Scott yang paling terasa disini adalah bagaimana ia bisa membuat timing yang tepat dalam menciptakan setiap moment yang sanggup menarik atensi penonton sebelum jatuh pada jurang kebosanan. Moment-moment santai yang ia ciptakan langsung ditimpa suasana mencekam penuh ketegangan sebelum benar-benar membosankan. Pun begitu ketika urat nadi mulai menegang, Ridley Scott membawanya pada suasana canda penuh tawa yang datang tanpa kita duga. Berulang kali silih berganti. Semuanya terasa tepat waktu. Dan itu menyenangkan.
Matt Damon ternyata tidak sedepresif itu ketika harus tertinggal sendiri di Mars. Berbekal kepintarannya, Mark Watney memang bisa hidup sol demi sol (hari versi Mars) lebih dari dugaan awalnya. Namun dibalik itu, ia adalah seseorang yang selalu berpikir positif, gaya bicara dan guyonannya selalu bisa membuat suasana menjadi sedikit lebih menenangkan. Ia masih sanggup menari-nari disko tatkala orang bumi begitu mengkhawatirkan keadaannya. Ia juga masih sempat berpose ketika diminta Annie Montrose memberikan gambarnya. Performa Matt disini juga layak mendapat apresiasi walaupun ia masih kurang memberi koneksi emosi yang dalam bagi penonton.


‘The Martian’ tidak hanya melulu tentang perjuangan bertahan hidup seorang anak manusia di Mars. Kita juga bisa melihat bagaimana kondisi yang terjadi dibumi ketika tahu bahwa ada saudara mereka yang tertinggal 35 juta km jauhnya dari mereka. Bagaimana mereka juga ikut memperjuangkan keselamatan Mark di Mars sampai bisa kembali ke bumi dengan berbagai cara serta upaya. Meski mereka sendiri sadar bahwa masih ada resiko besar menanti dibalik itu. NASA, media sampai masyarakat luas pun ikut memberi dukungannya. Tak ketinggalan pula rekan Mark di Hermes ikut ambil bagian dalam ini. Pada akhirnya kitapun akan berkesimpulan bahwa ‘The Martian’ itu sangat kaya akan sisi humanisme didalamnya. Menurut saya, malah itulah fokus utamanya.
Berjubelnya karakter disini sedikit banyak memang memberi nilai minus buat ‘The Martian’. Yang paling terasa adalah peran karakter pendukung yang kurang begitu mengena. Saya kadang suka lupa nama mereka siapa dan kepentingan mereka disitu untuk apa. Interaksi yang terjalin antar karakter pun masih kurang mengena menurut saya. Beruntung di bumi masih ada Jeff Daniels, Sean Bean dan Chiwetel Ejiofor, ditambah Donald Glover yang lumayan mencuri perhatian. Sementara di Hermes ada lima orang yang hampir tidak memberikan koneksi apapun ketika mereka berinteraksi satu sama lain. Bahkan saat mereka membuat keputusan untuk menjemput kembali Mark. Sedangkan di garda terdepan kita memiliki Matt Damon yang tanpa performa baiknya, mungkin ‘The Martian’ akan menjadi sajian yang kosong semata.
So, ‘The Martian’ mungkin agak kurang sesuai dengan ekspektasi awal saya, dimana saya mengharapkan ini akan menjadi tontonan space-thriller serius dan kelam layaknya ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Dan kalau mau dibandingkan pesona ‘The Martian’ masih kalah dari keduanya menurut saya. Tapi jalan berbeda yang ditempuh Ridley Scott adalah jalan yang sangat tepat, terlepas dari novelnya yang juga demikian atau tidak. Setidaknya itu bisa membuat ‘The Martian’ berdiri sendiri tanpa harus terus dikaitkan dengan ‘Gravity’ atau ‘Interstellar’. Caranya itu pula yang membuat ‘The Martian’ masih bisa menyisakan perasaan menyenangkan di benak penontonnya.