Tentang ‘RADIOHEAD’

Radiohead Bukan Hanya Sekedar Band. Karena perlu lebih dari sekedar mendengarkan lagunya untuk bisa memahami musiknya.

Review Album Noah “Seperti Seharusnya”

Album “Seperti Seharusnya” ini seakan menjawab semua pertanyaan yang ada selama masa hiatus mereka dari industri musik Indonesia. Sekaligus sebagai hadiah bagi semua sahabat yang telah lama menantikan karya-karya mereka.

Cerpen: Aku, Kamu dan Hujan

"Hujanpun tak lagi turun disini seakan tak mengizinkan kami untuk bertemu lagi seperti dulu. Hari-hari begitu kelam terasa"

Lagu yang Berkesan Selama 2012

Lagu pada dasarnya bukan hanya untuk sekedar didengarkan. Kadang ada lagu yang berkesan dalam kehidupan saat ada moment-moment tersendiri dalam hidup kita.

Tentang Film Animasi di Tahun 2012

Dibalik kesederhanaan cerita, tema atau apapun, film animasi ternyata menyajikan banyak pesan tersirat, sarat akan makna dan banyak hal yang bisa kita ambil dari apa yang disampaikan dari kesederhanaan yang diungkap dalam film animasi.

Friday, September 2, 2016

Corat-Coret One Piece Chapter 838: Bropper


Cover Story Manusia 500 Juta Berry diakhiri dengan kemunculan Shanks yang ditemani Benn Beckman dan Rockstar. Mereka sedang berada ditengah pernikahan. Pernikahan siapa? Tidak ada petunjuk pasti soal ini. Tapi dimana Lucky Roo? Apakah dia pengantin prianya? Wkwkwk. Shanks dan bajak laut Akagami. Hal menarik nan misterius dalam jagat One Piece. Shanks dkk adalah bajak laut pertama yang diperkenalkan dalam cerita (chapter 1). Dan sampai saat ini (838 chapter), bisa dibilang kita tidak tahu banyak tentang mereka. Jangan bicara kemampuan atau kekuatan dulu, nama anggotanya saja, hanya lima yang kita tahu (Shanks, Benn Beckman, Yasopp, Lucky Roo dan Rockstar). Selebihnya, ya begitulah. Dan khusus untuk sang kapten memang sedikit lebih spesial. Bukan hanya tentang hubungannya dengan Luffy. Bila kita lihat setiap volume One Piece, Shanks selalu muncul dalam setiap halaman perkenalan karakter, padahal Shanks hanya muncul sesekali dalam cerita. Apakah ini sebuah kebetulan? Saya rasa tidak. Ini seperti sebuah clue bahwa keberadaan Shanks dalam plot One Piece mempunyai peran yang sangat besar bahkan lebih dari yang kita perkirakan. Namun untuk sampai pada titik itu kita masih harus menunggu sedikit lebih lama lagi.
Cukup logis ketika kita meragukan kekalahan Cracker hanya dengan satu pukulan Kong Gun (yang juga tak cukup untuk mengalahkan Doflamingo). Bukan tanpa alasan, yang kita bicarakan disini adalah pemilik bounty terbesar kedua, salah satu tangan kanan Yonkou. Dan kenyataan bahwa satu Sweet Commanders berhasil memukul mundur rekan Luffy sesama Supernova sudah cukup untuk mengejawantahkannya. Di Corat-Coret Chapter 836, saya sempat menulis beberapa kemungkinan tentang kemampuan Cracker, salah satunya adalah tentang konsep membelah diri dengan analogi biskuit yang akan terus bertambah menjadi beberapa bagian ketika kita patahkan. Itu memang memaksa, seperti yang saya bilang disitu. Dan ketidaktahuan itu mulai terjawab disini. Kejutannya, ternyata Cracker adalah biskuit itu sendiri. Di Jepang, ada lagu anak-anak berjudul Fushigina Poketto (The Magic Pocket). Bila dicermati bait demi bait, liriknya hampir seperti gambaran kemampuan Cracker. Cracker juga terlihat bernyanyi sambil menepuk tangannya saat memunculkan biskuit-biskuitnya. Kemampuannya ini mungkin memang terinspirasi dari lagu tersebut.
Cracker memakan buah Bisu Bisu no Mi yang memungkinkan ia memproduksi biskuit dalam jumlah tak terbatas yang bisa ia bentuk sesukai hati. Ia mampu membuat pasukan yang sangat kuat dibawah kontrolnya dengan kreasi biskuit miliknya. Cracker bilang hanya Luffy yang berhasil membuatnya memperlihakan wujud aslinya. Kekuatan buah iblis bila berada di tangan yang tepat memang akan menjadi kekuatan yang mengerikan. Tak terkecuali Cracker. Sepertinya Luffy akan kesulitan dengan pertarungan ini. Apalagi mode Gear 4th sangat menguras tenaga. Ia pun terlihat lebih banyak terdesak saat pertarungan. Tapi tekadnya untuk membawa Sanji kembali tak pernah terpatahkan. Kemampuan Cracker seolah tak terbatas tapi kelemahan itu pasti ada. Pasti ada. Lalu, apa yang harus dilakukan Luffy untuk mengalahkannya? Begini saja, Cracker adalah biskuit, bagaimana kalau Luffy memakannya saja? Haha. Menarik juga ketika Cracker berbicara tentang rasa sakit. Apa sebenarnya yang ia maksud? Mungkin itu sedikit dari petunjuk untuk mengalahkannya. Pukulan hewan-hewan yang menemani Luffy latihan juga belum ia gunakan.
Nami sudah seperti bos saja di Seducing Woods sekarang. Hahaha. Sementara Chopper dan Carrot mulai menyadari sesuatu tentang dunia cermin yang tengah menjeratnya. Dunia cermin Brulee memang terhubung dengan dunia nyata, lebih tepatnya pada setiap cermin yang ada di Whole Cake Island. Ini bisa jadi senjata makan tuan bagi Brulee. Chopper dan Carrot harus bisa memanfaatkan kesempatan langka ini. Siapa yang tahu, rencana penjemputan Sanji dan penyalinan Road Poneglyph akan lebih mudah berkat mereka berdua. Brook dan Pedro juga tampak sukses dengan agenda penyusupannya sejauh ini.
Si nomor 1 dan 2 sudah tiba. Sudah bukan rahasia lagi bila melihat pola nama keluarga Vinsmoke, mereka adalah Ichiji dan Niji. Dan untuk pertama kalinya, mereka diperkenalkan secara resmi sebagai Ichiji (Sparking Red) dan Niji (Electric Blue). Sanji tampak gemetar mengetahui kedatangan mereka. Trauma mendalam rupanya masih menghantui dirinya. Lengkap sudah anak-anak Vinsmoke Judge, lima bersaudara yang dilahirkan di hari yang sama. Lima nama yang mengandung unsur angka didalamnya. Mungkin urutannya seperti ini, Reiju lahir pada pukul 00.00, Ichiji pada pukul 01.00, Niji pada 02.00, Sanji pada pukul 03.00 dan Yonji pada pukul 04.00. Lima nama yang memiliki unsur warna pada julukannya. Mungkin mereka adalah titisan Power Rangers yang diutus sang “Garuda”. Ichiji: Ranger Merah “Sparking Red”, Niji: Ranger Biru “Electric Blue”, Sanji: Ranger Hitam “Black Leg”, Yonji: Ranger Hijau “Winch Green” dan Reiju: Ranger Pink “Poison Pink”.
Pesta teh semakin dekat. Waktu semakin menyempit. Sementara Luffy masih berkutat dengan pertarungannya. Big Mom sangsi dengan omongan sesumbar Luffy saat menantangnya dulu via Den Den Mushi. Ya, mau bagaimanapun memang sulit bahkan kemungkinannya sangatlah kecil untuk mengalahkan seorang Yonkou dikandangnya sendiri hanya dengan enam orang saja. Belum lagi ada Germa 66 disana. Pasukan militer yang sudah tak perlu diragukan kekuatannya. Tapi sedari awal, tujuan Luffy cs memang bukan untuk bertarung dengan Big Mom. Mereka hanya mau menjemput Sanji dan menyalin Road Poneglyph. Tapi seperti yang sudah-sudah, pekerjaan ini tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Biar begitu, harapan masih ada pada sisi yang lain. Sisi yang tengah coba dijalani Nami (ditambah Pound), Chopper & Carrot serta Brook & Pedro. Luffy masih sibuk bertarung, tapi langkah mereka selanjutnya akan menentukan sekaligus membawa titik terang pada ‘Mission Impossible’ ini. 
Minggu depan libur. Dan tak biasanya, saya senang dengan pengumuman ini.

Friday, August 26, 2016

Corat-Coret One Piece Chapter 837: Luffy vs Commander Cracker


Sang ayah tertawa bahagia. Mungkin ia sedang melihat gambar anaknya yang sedikit menyedihkan itu. Dalam hatinya (mungkin) ia merasa bangga. Anak yang tak pernah ia jumpai setelah sekian lama menjadi terkenal sebagai buronan 200.000.000 berry. Naik hampir tujuh kali lipat dari sebelumnya. Bahkan julukannya tak kalah mentereng, “God”. Ayah mana yang tidak bangga melihat anaknya terkenal sebagai..... penjahat? Ehhh, emang ada? Walaupun tak pernah saling bertemu, darah sang ayah tetap mengalir pada anaknya. Tak sabar menanti reuni duo sniper ayah dan anak ini di masa depan. Kru pertama bajak laut Akagami menjadi pusat perhatian pada Cover Story kali ini. Tapi dimana sang kapten? Mungkin ia sedang minum-minum. Haha. Ya, setidaknya melihat ekspresi Yasopp dkk yang tampak santai, sepertinya sang Kapten dan seluruh krunya pun baik-baik saja.
Pertarungan Luffy dan Cracker memang tak terelakkan. Pertarungan yang cukup menegangkan karena Kapten kita beberapa kali terdesak. Meski sempat kewalahan, Luffy berhasil memukul jatuh Cracker dengan Kong Gun dalam mode Gear 4th. Mode Gear 3rd Busho yang digunakan di awal memang cukup sulit untuk menjatuhkan Cracker. Hal yang wajar mengingat Luffy sedang berhadapan dengan salah satu eksekutif Yonkou. Tapi, itu juga berarti bahwa level kekuatan seorang Yonkou sangat berbeda jauh dengan musuh-musuh yang pernah dihadapi Luffy selama ini. Luffy pun cukup sadar akan besarnya kekuatan musuh dan mencoba tidak mengulur-ngulur waktu pada pertarungan ini. Mungkin ini juga disebabkan karena Luffy tak terima dengan apa yang dikatakan Cracker. Penjemputan Sanji adalah tugas yang berat dilaksanakan. Tapi kita tahu, hanya dia yang mampu melaksanakannya. Apakah Cracker yang jatuh, tak bisa bangkit lagi? Apakah ia tenggelam dalam lautan luka dalam? Ataukah dari sini pertarungan baru dimulai?
Di sudut lain, Nami pun  berhasil memukul mundur Brulee untuk sementara. Konsep dunia cermin yang pernah dibahas di Corat-Coret Chapter 836 sebelumnya hampir mendekati kebenaran. Ini terlihat dari perkataan Pound bahwa Brulee masih bisa muncul kapan pun selama masih ada cermin disana. Artinya dia masih baik-baik saja. Mungkin sekarang Brulee sedang menyembuhkan diri di dunia cermin miliknya. Berikutnya adalah Vivre Card. Sekarang Nami sudah 100% yakin Vivre Card itu adalah milik Big Mom. Ia pun mulai tahu apa yang harus dilakukan dengan kertas tersebut. Kita lihat saja bagaimana Nona Navigator mejadikan Vivre Card pemberian Lola sebagai bahan negosiasi. Seperti yang kita tahu, dalam perkara negosiasi tidak ada yang lebih lihai selain Nami. Kita pun sudah beberapa kali melihat Nami berhasil melakukan negosiasi yang menguntungkan buat kru (atau lebih tepatnya buat dirinya sendiri). Big Mom sendiri cukup praktis orangnya. Namun seperti yang pernah disinggung pada Corat-Coret Chapter 835 lalu bahwa membuat Big Mom berubah haluan dan menjadi aliansi tidaklah mudah. Bagaimana Nami memanfaatkan kartu truf yang dimiliknya ini?
Fokus chapter ini memang mengarah pada pertarungan Luffy dan Cracker, sehingga hanya sedikit hal yang bisa dibahas untuk didiskusikan. Satu hal yang menarik dari sini adalah mengenai keempat nama yang pernah memasuki teritori Mama yang disebutkan Brulee. Keempat nama tersebut adalah Eustass Kid, Scratchmen Apoo, Capone Bege dan Urouge. Mereka adalah teman seangkatan Luffy yang disebut sebagai The Worst Generations, The Eleven Supernova. Selain Luffy, Zoro dan Law, tidak banyak yang kita ketahui tentang sepak terjang 11 Supernova yang lain. Kita hanya tahu sekilas dari gambaran-gambaran kecil yang dibuat oleh Oda. Fakta bahwa mereka pernah berurusan dengan Big Mom dan mengalami kekalahan menjadi poin menarik pada chapter ini.
Semenjak Time-Skip, Eustass ‘Captain’ Kid menjadi anggota 11 Supernova yang paling banyak mengalami perubahan fisik. Luka di wajah dan dadanya, bahkan lengan kirinya sudah berganti dengan logam. Luka seperti ini tentu didapat dari pertarungan dengan lawan yang kuat. Tamago pernah bilang bahwa Kid pernah menghancurkan beberapa kapal aliansi milik Big Mom. Brulee bilang bahwa Kid pun termasuk kapten yang dikalahkah eksekutif Big Mom tanpa pernah melihat Big Mom sama sekali. Apakah luka Kid didapat dari sini? Sejauh yang kita tahu, Kid pernah dua kali dikalahkan oleh Yonkou yaitu Big Mom dan Kaido. Lalu bagaimana Yonkou yang tengah diincar Kid, Shanks? Apakah Kid akan dikalahkan juga? Tapi sebelum itu, ada hal yang harus dilakukan Kid terlebih dulu, melarikan diri dari Kaido. 
‘Roar of the Sea’ Scratchmen Apoo menjadi nama berikutnya yang disebut Brulee. Di arc Punk Hazard, kita diperlihatkan pembentukan aliansi Kid – Apoo – Hawkins. Alasan Apoo mau beraliansi dengan Kid dan Hawkins mungkin karena ia pun sadar bahwa menumbangkan Yonkou sangat sulit bila dilakukan sendiri. Setidaknya, pengalaman dengan armada Big Mom menjadi dasar pemikirannya. Dan bila pada akhirnya Apoo malah tunduk pada Kaido juga bukan tanpa alasan. Dibanding Kid, apa yang dilakukan Apoo terdengar lebih logis bila melihat kekuatannya saat ini masih belum cukup untuk menumbangkan Yonkou. Apoo tak mau mengalami pengalaman kalah dari Yonkou untuk kedua kalinya. Tunduk dan berlindung dibawah payung Yonkou adalah jalan dan pilihan terbaik. Setidaknya untuk saat ini.
Capone ‘Gang’ Bege menjadi yang paling tahu diri diantara yang lain. Tanpa pikir panjang, ia memilih menjadi bagian dari bajak laut Big Mom daripada menentangnya. Ini dibuktikan dengan menikahi Charlotte Chiffon dalam pernikahan politik sebagai simbol keterikatan satu sama lain. Kemampuan bertarung Bege mungkin tidak sampai sekuat “itu”, tapi ia juga tidak selemah “itu”. Langkah yang diambil Bege memang terbilang cerdas. Saya pikir ia juga orang yang cerdas atau lebih tepatnya licik. Sepak terjang Bege sebagai bawahan Big Mom masih misterius. Meskipun ia cukup loyal menjalankan perintah Mama, tapi di sisi lain ia tampak memiliki niat lain yang terselubung dibalik itu. FYI, Capone Bege adalah satu-satunya Supernova (selain Luffy dan Zoro) yang namanya diambil dari seorang mafia terkenal, Al Capone, bukan bajak laut seperti yang lainnya. Penggambaran karakter Bege pun sangat kental unsur mafianya. Kehidupan mafia sendiri memang memiliki banyak intrik. Dan Bege tampak sedang menjalankan peran itu. Mungkin ia tak bisa mengalahkan Big Mom secara langsung, tapi dengan masuk ke dalam dan mengikisnya sedikit demi sedikit, hal itu bukan mustahil untuk dilakukan. Saya menantikan drama mafia dari Bege selanjutnya setelah terakhir ia menembak Pekoms.
Yang paling mengejutkan dari keempat nama disini adalah Urouge. Atau bagi saya pribadi adalah ajang pembuktian atas apa yang pernah saya pikirkan. Bounty Urouge ketika pertama kali diperkenalkan adalah yang terkecil dibanding 11 Supernova yang lain. Hal ini menyiratkan anggapan bahwa Urouge adalah yang terlemah diantara yang lainnya. Namun tidak bagi saya. Saya berpikir bahwa meski nilai bounty Urouge paling kecil tapi melihat bahwa ia pun termasuk satu dari The Worst Generation cukup membuat namanya tak bisa dianggap remeh. Kenyataan bahwa dia tidak beraliansi dengan siapapun, tidak pula tunduk dibawah payung Yonkou, sudah membuktikan bahwa Urouge itu cukup kuat untuk bertahan di Dunia Baru. Dan pada chapter ini, kekuatan Urouge terbukti cukup ampuh untuk meniadakan salah satu Sweet Commander Big Mom. Meski tak mampu mengusik Big Mom, apa yang dilakukan Urouge bisa dianggap prestasi yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh Kid yang mempunyai bounty tertinggi di awal perkenalan. Bukan berarti Kid lemah, hanya saja, Urouge tak boleh diremehkan begitu saja hanya karena memiliki nilai bounty terkecil. Kondisi terakhir yang terlihat, Urouge sedang terluka dan beristirahat di Ballon Terminal. Mungkin luka itu didapat dari hasil dari bentrokannya dengan eksekutif Big Mom.
Kehidupan Dunia Baru memang lebih sulit dibandingkan separuh awal Grand Line yang bahkan disebut “Paradise” tersebut. Seperti yang pernah Law bilang, cara bertahan di Dunia Baru hanya ada dua, berlindung dibawah payung Yonkou atau menentangnya. Kedua pilihan tersebut bisa dibilang susah-susah-mudah. Kaido sebagai salah satu Yonkou sekaligus makhluk terkuat menganggap bahwa apa yang dilakukan mereka, The Worst Generation, hanyalah permainan bajak laut-bajak lautan. Terlalu cepat 100 tahun untuk mengalahkan bajak laut sekaliber Yonkou. Saat ini, kita cukup tahu siapa yang memilih beraliansi dan siapa yang memilih menentang. Sangat layak dinantikan bagaimana selanjutnya mereka, para rookie begundal yang pernah mengacak-mengacak Grand Line menjalani kehidupannya di Dunia Baru. Kita lihat saja nanti.

Saturday, August 20, 2016

Corat-Coret One Piece Chapter 836: The Vivre Card Lola Gave


Cover Story kali ini menjadi milik Aokiji aka Kuzan bersama Camel yang setia menemani. Kelihatannya mereka berdua tidak ketinggalan berita tentang kemenangan aliansi Luffy dan Law dari Doflamingo. Banyak hal yang menarik ketika berbicara mengenai sosok Kuzan. Terutama mengenai sepak terjangnya setelah keluar dari angkatan laut. Apa motif tersembunyi dibaliknya? Kenyataan bahwa ia bergabung dengan Blackbeard Pirates semakin menunjukkan gelagat tak biasa dari mantan Admiral ini. Seperti apa perannya kelak masih cukup misterius, tapi keberadaannnya akan cukup vital dimasa depan (IMO). Sekarang, yang dia lakukan hanya berjalan-jalan. Dan tunggu! Apakah dipojok kolom adalah Boa Hancock? Apa gerangan Hancock sampai muncul di surat kabar? Semoga bukan karena Hancock ketahuan memasang poster Luffy yang besar di kerajaannya. Haha. Cover Story selanjutnya? Entahlah. Lola? Sepertinya boleh juga dimunculkan.
Lola. Nama yang santer digunjingkan semenjak Arc WCI berlangsung dan semakin mencuat gaungnya akhir-akhir ini. Nama yang sudah tertinggal ratusan chapter tersebut ternyata berperan sangat vital berkat sepucuk kertas peninggalannya. Rasanya sudah tak dapat terbantahkan lagi bahwa Lola adalah anak Big Mom dari suami bernama Pound, si pria yang terkubur. Lola bersaudara dengan Chiffon, istri Capone. Meski Nami sempat ragu akan semua itu, tapi fakta sudah sangat jelas berbicara. Kertas pemberian Lola adalah Vivre Card milik Big Mom. Dari sini, sedikit arah mulai terlihat meski sudut gelapnya masih terasa.
Chapter kali ini bisa dibilang lebih pendek dari biasanya. Secara keseluruhan masih belum menyajikan informasi yang lebih mendalam. Memasang judul “The Vivre Card Lola Gave” pun tidak lantas memastikan secara gamblang ke arah mana Vivre Card Lola membawa nasib Luffy dkk. Meski begitu, dengan perlahan dan sendirinya, Vivre Card tersebut mulai menunjukkan sinyal keberpihakan bagi SHP. Vivre Card tersebut cukup menolong Nami dari kejaran Homies di Seducing Woods. Bahkan King Baum selaku penguasa Seducing Woods pun tak kuasa melakukannya. Aura Big Mom terpancar begitu kuat dari Vivre Card dan tak sanggup dilawan para Homies. Vivre Card memang mendeskripsikan keadaan dan keberadaan pemiliknya. Vivre Card sendiri dibuat dari sedikit bagian kuku seseorang untuk kemudian dibuat menjadi kertas. Alasan kenapa para Homies tidak bisa mendekati Vivre Card tersebut sepertinya disebabkan dalam Vivre Card Lola tertanam jiwa Mama. Para homies mungkin terlalu takut kepada Big Mom bahkan hanya dari bagian terkecilnya. Sehingga mereka tidak dapat mendekat apalagi melawan. Hal ini cukup menguntungkan bagi Nami. Setidaknya hal ini bisa menghemat tenaga dan waktu untuk hal yang tidak perlu. Tinggal bagaimana Nami memanfaatkan Vivre Card tersebut untuk keuntungan SHP kelak. Ingat tujuan mereka datang ke WCI untuk apa! Tapi apakah Brulee akan diam saja melihat hal ini? Tidak maukah ia menghadang Nami? Atau ia tidak bisa melakukannya?
Jati diri Charlotte Cracker mulai terungkap. Dia adalah salah satu dari “Tiga Komandan Manis” dengan bounty sebesar 860.000.000 berry. Posisinya dalam struktur organisasi Yonkou mengingatkan kita pada sosok Jack yang merupakan salah satu dari “Tiga Bencana” Kaido. Ini berarti posisi Cracker di bajak laut Big Mom setara dengan Jack di Bajak laut Hundred Beast Kaido. Indikasi ini sudah cukup menjelaskan bahwa Cracker adalah orang kepercayaan Big Mom. Diutusnya Cracker untuk menghentikan Luffy yang mungkin tak bisa dilakukan Brulee adalah buktinya. Besar kekuatannya tak perlu dipertanyakan, bounty kedua terbesar sejauh ini (setelah Jack) sudah cukup mengejawantahkannya. Bahkan auranya (yang disangsikan Luffy sebagai Haki) sudah cukup untuk membuat para Homies ketakutan dan tak berdaya. Dan sekarang ia berhadapan dengan Luffy. Pertarungan sepertinya tak akan terindahkan lagi, tapi saya berpikir bahwa ini hanya terjadi untuk sementara waktu. Lalu seperti apa kekuatan Cracker?
Berbicara tentang kemampuan Cracker, saya masih belum yakin tentang ini. Melihat kemampuannya yang bisa menduplikasi lengan dan kakinya, apakah ini berarti dia mampu menduplikasi objek juga? Sepertinya tidak. Saya pikir Cracker hanya bisa menggandakan tangan dan kakinya saja. Lalu apakah kemampuannya seperti Robin? Saya tidak yakin tentang ini. Pada dasarnya, kemampuan DF tergantung pada kreatifitas pemakainya. Tangan dan kaki yang diciptakan Robin adalah hasil kreasi DF miliknya. Dengan kata lain, tangan dan kaki yang diciptakan Robin bukanlah tangan dan kaki yang sebenarnya. Itu adalah wujud interpretasi dari kekuatan Hana Hana no Mi (bunga) miliknya. Berbeda dengan Cracker, tangan dan kaki yang digandakan dari sentuhannya adalah asli. Julukan Cracker sendiri adalah Seribu Lengan. Seribu lengan memang mudah kita dekatkan dengan hewan berkaki seribu. Apakah ini berarti Cracker adalah pemakan DF Zoan hewan berkaki seribu? Entahlah, ini terlalu menggelikan buat saya. Haha. Mencoba membuat cocokologi Cracker dengan mahkluk mitologi yang mempunyai banyak lengan (Hekantonkheires: raksasa bertangan seratus dalam mitologi Yunani) atau semacamnya tidak juga membuat saya yakin walaupun ini yang paling mendekati. 
Atau mungkin seperti ini. Penggandaan tangan Cracker memiliki konsep seperti proses membelah diri. Cracker adalah biskuit. Biskuit ketika kita belah maka akan menjadi dua. Dibelah lagi maka akan menjadi tiga. Begitu seterusnya sampai bagian terkecil. Cracker menggandakan tangan adalah dengan cara mengetuknya tangannya sekali. Kemudian tangannya menjadi dua. Ketuk sekali lagi menjadi tiga. Begitu seterusnya. Apakah hal ini berhubungan? Entahlah, yang pasti ini terkesan memaksa sekali. Haha. Ya, memang sulit menerka kemampuan karakter kuat seperti Cracker hanya dengan melihat 1-2 panel saja. Ini seperti menebak kemampuan terbang Doflamingo sebelum kita tahu tentang DF miliknya yaitu Ito Ito no Mi. Itu pula harus ditambah konfirmasi Law tentang bagaimana cara Doffy dapat terbang. Ya, saat ini masih sulit menebak kemampuan Cracker, tapi jika ia pemakan DF, dugaan saya adalah DF tipe paramecia. Entah kenapa saya berpikir seperti itu.
Dunia cermin milik Brulee memang efektif untuk menahan tim penyelamat Sanji. Tapi bila dilihat lagi, dunia cermin tersebut tidak cukup efektif untuk menghancurkan musuh. Carrot dan Chopper yang terjebak dalam cermin Brulee tampak baik-baik saja walaupun cerminnya sudah pecah. Spekulasi sederhanya adalah cermin Brulee memiliki dimensi lain yang persis sama dengan dunia nyata. Dengan catatan bahwa dunia cermin tersebut adalah versi mirror dari dunia nyata. Sehingga, selama masih ada cermin didunia nyata dan dunia nyata baik-baik saja, mereka yang berada dalam dunia cermin pun akan baik-baik saja. Konsepnya mungkin mirip seperti dunia cermin dalam salah satu film Doraemon yang bertajuk “Nobita and the Platoon of Iron Men”. Chopper tampak menyadari sesuatu tentang dunia cermin ini. Apakah ia sudah tahu jalan keluar? Bila diingat kembali, semenjak mendarat di WCI, Chopper tampak lebih sigap, waspada dan teliti dari biasanya. Ini tak seperti Chopper anggota "Trio Penakut" bersama Nami dan Usopp. Ya, apapun itu, ini sebuah kemajuan pada diri Chopper.
Kekhawatiran saya terhadap para suami Big Mom mulai terjawab. Dan seperti yang saya perkirakan, mereka semua telah dibuang oleh Big Mom. Cracker sebagai salah satu anak Big Mom mengamininya disini. Menurut Cracker, ke-43 suami Big Mom tak lebih dari sekedar orang luar yang bahkan tak mempunyai ikatan darah sama sekali. Hal yang sejatinya cukup bertentangan dan kontradiktif dengan impian Big Mom yang ingin membuat sebuah keluarga dari seluruh ras di seluruh dunia diamana mereka bisa duduk sejajar dalam satu meja. Lalu apa arti keluarga baginya? Apa arti suami buat Big Mom jika hanya dimanfaatkan kemudian dibuang begitu saja? Sedari awal kita tahu bahwa Big Mom melakukan poliandry tingkat dewa, saya berpikir bahwa Big Mom menganut Absolute Feminisme yang kuat. Dan ini bukan masalah tentang emansipasi atau kesetaraan gender lagi. Ini sudah berarti bahwa Big Mom lah yang menguasai segalanya. Dia berdiri di puncak tertinggi sebagai satu simbol kekuasaan yang absolut diatas segalanya. Mungkin ini berhubungan dengan masa lalu Big Mom yang juga berimbas pada “kegilaan” sifat Big Mom. (Catatan: Mengenai ini ada sedikit imajinasi liar yang iseng banget saya tulis di extras. Jika berkenan, boleh koq dibaca. Tidak juga, tidak apa-apa. Hehe).
Lalu, genderang perang telah ditabuh. Luffy sudah sangat serius akan melawan Cracker. Semantara Vivre Card yang dipegang Nami berpotensi menjadi kartu truf yang menolong perjalanan mereka. Kartu truf kedua pun muncul pada diri pria yang terbuang. Benang kusut pun mulai tersambung satu sama lain. Masih belum terurai sempurna namun tak menutup kemungkinan itu akan segera terhubung. Cepat atau lambat. Kita lihat saja nanti.

Extras:
Sebuah dogeng dari antah berantah...
Alkisah, disuatu tempat dan masa, hiduplah seorang perempuan muda sederhana lagi baik hatinya. Dia hidup sendiri di gubuk kecilnya yang jauh dari pemukiman. Kondisi fisiknya yang berbeda membuatnya terkucil dari tempat ia tinggal. Semua yang hidup di tempat tersebut sangat membencinya, dan berharap dia enyah dari kehidupan mereka. Keberadaannya dianggap sebagai kutukan yang akan menghancurkan kedamaian tempat tersebut. Dicaci, dimaki, diludahi, dipukul, ditendang, sudah menjadi makanannya sehari-hari. Namun, hal itu tidak pernah ia anggap sebagai penderitaan. Justru sebaliknya, semua itu ia anggap sebagai ganti kebaikan yang kelak akan ia dapatkan dimasa depan. Kesabaran, ketulusan dan kebaikan hatinya tidak pernah patah sedikitpun oleh perbuatan jahat mereka.
Waktu demi waktu berlalu, ada satu hal yang mengganjal dalam hati perempuan tersebut. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ia menginginkan seorang teman hidup yang bisa bahagia bersama-sama, saling melengkapi dan menerima dia apa adanya. Hingga pada suatu hari, ia bertemu seorang pria yang begitu ramah padanya. Tak ada sedikitpun rasa curiga pada pria tersebut. Betapa bahagia hati perempuan itu karena untuk pertama kalinya ada orang yang mau berbicara dengannya. Karena sejauh yang ia ingat, orang-orang hanya membencinya dan tak mau berbicara padanya. Bahkan para pria adalah makhluk yang paling sering berbuat kasar padanya. Kehadiran pria tersebut teramat berarti bagi kehidupannya. Hatinya yang kosong perlahan-lahan mulai terisi. Sekian waktu ia habiskan bersama dengan pria tersebut. Hatinya berbunga. Ia tersenyum dan berharap mimpinya akan segera terwujud dengan pria tersebut. Hidup bahagia bersama-sama.
Hingga pada suatu malam, sang pria mengajaknya berjalan-jalan. Di suatu tempat mereka berhenti. Si perempuan sedikit heran karena tak biasanya tempat tersebut sepi. Tapi ia tak peduli karena genggaman tangan si pria adalah anugerah terindah baginya. Suasana terasa begitu hening, ingin sekali ia mengucapkan terima kasih sekaligus mengungkapkan perasaan bahagia karena bersamanya. Namun sebelum kata tersebut terucap, si pria melepaskan genggamannya. Sedetik kemudian, ia berteriak dengan lantang, “Sekarang!” Tanpa pernah diduga, orang-orang bermunculan dari setiap sudut yang gelap dengan membawa pemukul dan senjata tajam. Beberapa diantaranya tampak membawa kobaran api.
Dalam keterkejutan, perempuan tersebut dihantam amarah manusia. Sekejap, sekujur tubuhnya sudah dipenuhi luka lebam dan sayatan. Ia tak berdaya. Sejenak ia menatap mata si pria dan tercengang karena matanya berbeda dengan yang selama ini ia lihat. Mata yang menyeramkan. Air mata mulai menetes dan semakin menjadi ketika si pria untuk kedua kalinya berteriak dengan lantang tepat didepannya. Si pria tertawa dalam kemenangan dan dengan tegas berkata bahwa dia adalah perempuan tak berguna yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Sikap baiknya selama ini hanyalah omong kosong yang bahkan ia anggap dosa besar karena harus berbicara pada perempuan sepertinya. Sikap baiknya hanyalah kebohongan untuk menjerumuskan si perempuan pada rencana besar penduduk untuk menyingkirkan perempuan itu. Hatinya tersentak. Seakan tak percaya, orang yang selama ini ia percaya adalah pengkhianat yang membuangnya. Hatinya terluka begitu dalam. Disayat-sayat sampai bagian terkecil. Ia marah semarah-marahnya. Luka fisik yang sedari tadi ia terima dari siksaan orang-orang tak dirasakannya lagi. Luka hatinya jauh lebih sakit.
Di sisa kekuatan terakhirnya, ia mencoba menyelamatkan diri dan lari dari siksaan. Meskipun lemah, tubuh besarnya cukup menolong pelariannya dari kerumunan. Ia tak terkejar. Setelah berlari cukup jauh dan merasa dirinya aman, si perempuan berhenti. Rasa lelah dan sakit masih menggerogoti tubuhnya. Perasaannya bercampur aduk, yang tersisa adalah luka hati tak terobati. Amarah tak berujung. Luka dan amarah bersatu menjadi dendam membara yang melahap seluruh kebaikan hatinya. Tak ada lagi perempuan yang baik hatinya. Yang ada hanya seorang perempuan penuh amarah dan dendam. Ia bertekad dalam hatinya. Suatu saat ia aka menciptakan dunia dimana semua ras tunduk padanya. Tunduk dibawah kekuatannya. Tak ada diskriminasi dan benci karena perbedaan fisik. Karena ia akan merubah bentuk mereka seperti dirinya. Dan para pria, mereka hanyalah alat yang bisa dimanfaatkan sebelum akhirnya dibuang layaknya sampah tak berguna. Si perempuan sudah bertekad pada ambisinya itu. Kebaikan hati yang dulu berubah menjadi amarah dan dendam yang berujung kegilaan. Mimpi sederhana tentang bahagia bersama seseorang menjadi mimpi gila tentang sebuah keluarga yang menyimpan kegelapan. Dunia ideal yang hanya bisa ia ciptakan sendiri. Belakangan diketahui nama perempuan tersebut adalah Charlotte Lin Lin.
Sekian.
....
 Tunggu! Kenapa saya jadi berkhayal jauh ya???

Thursday, August 18, 2016

Suicide Squad (2016): A Melancholic Bad Guys


“We’re bad guys, it’s what We do.”
– Harley  Quinn –

Rasanya semua setuju jika ‘Suicide Squad’ adalah film yang paling dinantikan kehadirannya semenjak teaser trailer-nya mulai diperkenalkan ke publik pada ajang comic-con. Selepas itu, berturut-turut trailer keren yang diiringi lagu klasik dari Bee Gees dan Queen yang seakan membuncahkan antusiasme itu. Tak ketinggalan sosok Joker versi Jared Leto yang ditengarai mampu melanjutkan estafet pemeran Joker berikutnya setelah Heath Ledger. Harapan dan ekspektasi tinggi membumbung tinggi disematkan pada Suicide Squad agar menjadi titik balik DCEU yang dianggap kurang berhasil dalam membangun universe-nya.
Awalnya, semua terlihat baik-baik saja. Sampai akhirnya ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ yang dianggap tidak berhasil menggoyahkan idealisme mereka. Pihak studio kalang kabut melihat respon masyarakat pada ‘BvS’. Mereka menjadi tidak percaya diri dengan apa yang mereka buat dan rencanakan pada DCEU sebelumnya. ‘Suicide Squad’ pun jadi tumbalnya. Proses syuting ulang dilakukan untuk menambahkan adegan-adegan yang dianggap mampu menjaring animo masyarakat lebih banyak. Rating R pun dirubah menjadi PG-13 agar semakin memperluas jangkauan pasarnya. Hasilnya?
Bertubi-tubi kritikan menghujam film arahan David Ayer ini. Saking gerahnya, para fans fanatik sampai tak terima dan sempat membuat petisi untuk menutup situs rottentomatoes yang dikenal tanpa ampun melempar tomat busuk untuk film yang tak disukainya. Banyak desas-desus tentang permasalahan yang mengiringi proses produksi ‘Suicide Squad’. Seperti deadline script yang terlalu mepet dengan proses syuting, test screening, editing dsb. Gosipnya, setidaknya ada 6 (enam) versi cut dari Suicide Squad. Pada saat test screening, pihak studio menguji dua versi Suicide Squad (versi dark dan versi fun). Daripada memilih salah satu versi, pihak studio malah menyatukan dua versi tersebut secara paksa dengan proses editing yang terburu-buru. Entah berita ini benar atau tidak, tapi editing yang sedikit kacau cukup terasa saat filmnya sudah rilis. Bahkan tak sedikit yang menyebut bila editing trailer-nya jauh lebih baik daripada editing versi bioskopnya.
Ditengah tempaan kritik yang menghujam, perolehan boxoffice ‘Suicide Squad’ justru cukup menjanjikan. Selama dua minggu berturut-turut tangga boxoffice pertama masih diduduki oleh ‘Suicide Squad’. Apakah ini yang diinginkan pihak studio? Mungkin saja. Bila dilihat sekilas, memang ‘Suicide Squad’ punya kans besar untuk menjaring penonton lebih banyak. Filmnya sendiri ringan dan fun. Tipikal film hiburan seru-seruan yang tak perlu pusing berpikir mengenai hukum sebab akibat atau logika. Cukup lihat bagaimana para penjahat yang menjadi jagoan melawan ancaman yang mengancam bumi. Tapi sebaliknya, bila dilihat lebih dalam, kritikan yang disematkan pada ‘Suicide Squad’ sepertinya bukan tanpa alasan.
Secara konsep, ‘Suicide Squad’ punya keunikan yang tak dimiliki film sejenis. Membuatnya menjadi antitesis dari film-film bertema superhero yang sudah jamak kita saksikan. Ke-nyelenehan-nya dalam menjadikan para supervillain DC menjadi pasukan yang akan menyelamatkan dunia dari ancaman sangat dinanti. Menjanjikan. Namun konsep hanyak tinggal konsep jika tak mampu mengolah atau mengembangkannya dengan benar. Dan inilah yang terjadi dengan ‘Suicide Squad’. David Ayer selaku nahkoda utama seolah kebingungan meramu racikan yang tepat dalam memperlakukan Task Force X secara layak. Yang terasa adalah kelabilan yang begitu terasa disemua aspek. Agak disayangkan sebenarnya, mengingat Ayer pernah menyajikan film perang keren sekelas ‘Fury’ tahun lalu.
Introducing awal ‘Suicide Squad’ pada dasarnya sangat menarik. Masalah muncul justru setelahnya. Kelabilan memang menjadi akar permasalahan dari ‘Suicide Squad’. Entah itu pada tone cerita, editing sampai karakterisasi para karakternya. Nomor-nomor lagu klasik nan populer hanya sekedar nyanyian yang hanya terlihat keren semata, tapi tidak memiliki esensi dengan adegan dan cerita secara utuh. Adegan-adegan yang pernah ditampilkan di trailer banyak dibuang. Joker yang paling dinantikan kehadirannya tak lebih dari sekedar pengganggu yang annoying. Bahkan apa yang diperihatkan Jared Leto pada kita sejatinya bukanlah Joker musuh bebuyutan Batman. Joker disini hanya seorang penjahat gila dan menakutkan saja tapi tidak pernah menjadi Joker yang sebenarnya. Dan ya, screen-time Leto sebagai Joker banyak yang dibuang karena satu dan lain hal. Tapi itu bukan alasannya.
Membawa banyak karakter dalam satu frame membuatnya terlihat gemuk. Dan sudah lumrah bila semua individu harus berbagi satu sama lain dan menonjolkan beberapa diantaranya. Hal ini yang juga coba ditampilkan disini. Ada karakter yang diekspos lebih seperti Harley Quinn dan Deadshot. Sementara sisanya tampil sebagai pelengkap. Pada dasarnya, bukan masalah seberapa besar porsi karakter yang banyak itu berperan, melainkan tingkat keberkesanan mereka. Dan inilah yang tidak didapat karakter lain selain Harley Quinn dan Deadshot. Terlepas dari sedikit atau tidaknya peran mereka, karakter mereka benar-benar tidak memberi kesan yang dalam. Bahkan ada yang kehadirannya tidak terlalu berguna sama sekali. Untuk ukuran film yang memasang karakter yang sudah memiliki karakteristik unik sedari awal, ‘Suicide Squad’ amat mengecewakan.
Barisan Task Force X sendiri tampil cukup melankolis untuk ukuran supervillain. Padahal mereka adalah penjahat-penjahat kelas kakap yang bahkan harus ditangani superhero seperti Batman dan The Flash untuk memenjarakannya. Dan lebih menggelikan lagi, perubahan karakter mereka yang terlalu berubah drastis. Bahkan mereka terlihat seperti hero yang bersahabat daripada supervillain yang jahat. Padahal dalam komiknya, mereka tetaplah villain badass yang tak kehilangan jati dirinya sebagai penjahat. Ucapan para karakternya bahwa mereka adalah “bad guys” hanya bentuk penegasan yang kosong agar kita sebagai penonton tidak salah paham. Tapi ujung-ujungnya, kita seolah dibuat harus memihak mereka sebagai pahlawan. Terlepas bahwa sebenarnya mereka adalah penjahat. 
Adalah kelabilan yang sedang dialami DCEU ditangan Warner Bros dan DC saat ini. DCEU terlalu ambisius untuk segera menyusul MCU. Terlalu ambisius agar filmnya disukai semua orang. ‘Suicide Squad’ adalah korban dari kelabilan mereka sendiri. Beruntung mereka memiliki ensemble cast yang tampil teramat baik. Yang mampu menolong kualitas 'Suicide Squad' secara keseluruhan. Tanpa mereka, entah akan seperti apa hasilnya. Padahal, apa salahnya membangun DCEU sedikit demi sedikit? Setahap demi setahap? Apa salahnya tetap berpegang pada niat awal untuk membuat DCEU yang berbeda dengan MCU? Apa salahnya jika film-film DCEU lebih kelam dan dewasa? Sejujurnya, saya sangat ingin menyukai DCEU melebihi MCU. Saya sangat ingin menyukai ‘Suicide Squad’ melebihi film lain yang rilis tahun ini. Tapi melihat keadaan bertolak belakang seperti ini. Apa mau dikata. Semoga ‘Wonder Woman’ dan ‘Justice League’ tahun depan tak berakhir sama seperti ini. Dan ‘Suicide Squad’ bukanlah misi bunuh diri DC  dan Warner Bros.

Friday, August 5, 2016

Corat-Coret One Piece Chapter 835: The Nation of Souls


One Piece mendapat Color Spread lagi (lagi?). Sejak chapter 832-835 One Piece sudah mendapat Color Spread sebanyak 3 kali. Artinya, dalam 4 chapter saja, sudah ada 3 Color Spread. Hal yang bisa dibilang istimewa untuk sebuah manga. Mungkin kita bisa sebut itu wajar, mengingat manga yang kita bicarakan adalah One Piece. Terlebih momentumnya pun tepat, One Piece tengah merilis movie terbarunya, One Piece Film Gold. Selain itu, periode ini pun menjadi peringatan sekaligus perayaan One Piece yang sudah berjalan 19 tahun. Mengenai Color Spread sendiri, saya tidak akan bicara banyak. Pada intinya, Color Spread akhir-akhir ini selalu memiliki tema makanan dan hewan (kali ini es serut, penguin dan beruang). Apakah ada clue tentang plot atau tidak berkaitan dengan Color Spread? Menurut saya, sangat jarang Color Spread memuat clue soal plot One Piece secara utuh, CMIIW. Ya, walaupun tema hewan tersebut seringkali menyiratkan pada karakter tertentu.
Chapter kali ini banyak mengkonfirmasi hal-hal yang selama ini mengganggu pikiran kita. Misteri yang menyelimuti Totto Land perlahan mulai terungkap. Sebelumnya, kita (lebih tepatnya saya) masih menduga-duga dan berspekulasi tentang keanehan yang terjadi selama arc WCI berlangsung. Benda-benda yang hidup dan bernyanyi, hutan perayu, kloning yang mengganggu Luffy, perlahan mulai menunjukkan titik terangnya. Perihal benda-benda yang hidup dan bernyanyi. Semenjak kekuatan Big Mom mulai diperlihatkan, kita sepakat bahwa dalang dari semua ini adalah Big Mom. Namun bagaimana detailnya masih belum dijelaskan secara pasti. Chapter ini mengkonfirmasi setiap spekulasi yang ada. Pada corat-coret chapter 829, saya sempat menulis begini, “Big Mom pun tidak hanya menjadikan usia orang yang direnggutnya untuk konsumsi pribadinya, melainkan bisa diberikan pula buat orang lain atau bahkan benda mati. Jika demikian adanya, maka bisa diprediksikan bahwa makhluk-makhluk fantasi itu adalah manusia yang telah diambil jatah hidupnya oleh Big Mom.” Dan kenyataannya memang demikian.
Chapter ini menegaskan hal tersebut dengan menunjukkan bahwa setiap masyarakat Totto Land wajib menyerahkan setiap jiwa yaitu masa hidupnya dalam satu bulan kepada Big Mom setiap enam bulan sekali. Dalam satu tahun berarti masyarakat Totto Land kehilangan dua bulan masa hidupnya. Ini semacam upeti atau pajak yang dipungut Big Mom untuk seluruh masyarakat Totto Land sebagai ganti tempat tinggal, keamanan dan perlindungan yang mereka dapat. Bolehkah ini disebut kegelapan dari negeri utopia ini? Jika boleh, Totto Land semakin menambah daftar panjang negeri yang tampak makmur dari luar tapi memiliki sisi gelap dari dalam. Melihat bahwa hidup masyarakat Totto Land tidak gratis seolah menunjukkan bahwa Big Mom seolah menganut paham simbiosis mutualisme. Hal ini juga terlihat ketika Jinbe hendak memutuskan ikatan dengan Big Mom. Perlindungan Big Mom terhadap Fishman Island pun terjadi karena Fishman Island harus membayar upeti berupa permen. Cara kerja Big Mom ini menurut saya cukup praktis, selama kedua pihak saling menguntungkan tidak terlalu masalah. Jika satu pihak harus kehilangan atau dirugikan maka pihak yang lain pun harus mengalami kehilangan atau kerugian. Masalah adil atau tidaknya itu relatif.
Lalu apa yang terjadi bila masyarakat Totto Land memilih pergi? Saya memikirkan dua hal mengenai ini. Pertama, mereka bisa pergi tanpa syarat apapun. Kedua, mereka pergi dengan syarat. Misalnya begini, jika ada masyarakat yang memilih pergi maka mereka harus menyerahkan setengah masa hidupnya untuk Big Mom. Cukup menyeramkan bukan? Mungkin itulah alasan kenapa masyarakat tampak sukarela menyerahkan upeti berupa masa hidup mereka. Atau mungkin mereka yang berniat pergi harus mengikuti permainan dart roulette seperti halnya Jinbe. Kenyataan bahwa Lola lari untuk mencari pria idamannya sendiri bisa jadi alasan kuat bahwa memang tidak mudah untuk pergi dari Totto Land. Bahkan Jinbe pun mengurungkan niatnya memutus ikatan dengan Big Mom.
Devil Fruit (DF) Big Mom pun akhirnya dikonfirmasi. Bukan Life Fruit seperti banyak diperbincangkan melainkan Soul Fruit (Soru Soru no Mi = Buah Jiwa). Buah ini memang memiliki kekuatan yang mengerikan. Kualitas DF Big Mom inipun berdampak pada pula kuantitasnya. Maksudnya, Big Mom bisa membentuk pasukan sebanyak-sebanyaknya dengan jiwa orang-orang yang telah ia renggut. Apalagi jika Big Mom bisa menyuntikkan kekuatan tertentu sehingga pasukan tersebut memiliki daya tempur yang mumpuni. Karena repot juga bila semua benda (termasuk hewan dan tumbuhan) yang diberi jiwa oleh Big Mom memiliki kemampuan bertarung seperti Randolph misalnya. Bayangan hitam misterius yang muncul di chapter 830 untuk mengurusi mayat Moscato pun telah diketahui. Mereka adalah "inkarnasi" yang merupakan jiwa Big Mom sendiri dan bertugas untuk mengumpulkan serta memberdayakan semua "homies" (jiwa yang telah direnggut Big Mom).  
Tentang kloning karakter yang semenjak mendarat di Whole Cake sudah mengganggu Luffy. Benar bahwa itu adalah kekuatan Brulee tapi bukan karena dia telah memakan DF Kaca Kaca no Mi, wkwkwk, melainkan Mira Mira no Mi. Dari yang bisa kita lihat, kekuatan Brulee adalah mampu membuat dirinya sendiri menjadi duplikat orang lain dengan menjadi versi mirror dari orang tersebut (terjadi pada Luffy, chapter 831). Selain membuat duplikat versi mirror dari dirinya sendiri, Brulee juga tampak bisa melakukan hal tersebut pada objek lainnya. Kemampuannya mungkin hampir mirip dengan Mane Mane no Mi dimana ia tinggal menyentuh sebuah objek (atau mungkin lebih sederhana, cukup dengan melihatnya saja). Selanjutnya, Brulee merefeleksikan objek tersebut pada objek lainnya. Pada chapter 834, kita bisa melihat tiruan Nami, Sanji, Chopper, Carrot dan Purin yang sesungguhnya hanyalah hewan liar yang ada di hutan tersebut.
Berbicara mengenai cermin, hal yang paling mudah untuk menghancurkannya adalah memecahkannya atau setidaknya membuat cermin itu retak. Namun pada kasus Brulee, memecahkan cermin tersebut tidak semudah kita memecahkan cermin biasa. Bahkan Carrot harus terjebak didalam cermin Brulee. Chopper, entah ia berada dimana dia sekarang. Kemampuan Brulee ini cukup merepotkan. Dan akan lebih merepotkan lagi bila Brulee membuat tiruan Luffy cs yang harus bertarung melawan Luffy cs yang asli. Ini cukup efektif menahan mereka untuk berlama-lama berada di Seducing Woods. Jawaban saya cukup mudah mengenai ini, Luffy cs yang asli hanya harus lebih kuat dibanding saat mereka bertemu pertama kali dengan tiruannya. Tapi tunggu, bukankah itu Naruto?
Si kepala besar yang kita kira adalah raksasa yang terkubur memang sudah diprediksikan akan menjadi petunjuk bagi Luffy. Dan yang mengejutkan dari itu adalah dia suami Big Mom (atau lebih tepatnya mantan). Lebih mengejutkan lagi dia adalah ayah dari Charlotte Chiffon (ya, kalau dilihat-lihat karakter mereka mirip sih!) dan Lola. Tunggu, Lola? Lola yang itu? Ya, sepertinya memang benar bahwa Lola yang kita temui di Thriller Bark adalah anak Big Mom. Setidaknya chapter ini semakin mengkonfrimasi hal ini. Lola sendiri menyebut bahwa ibunya adalah bajak laut hebat di New World. Lalu mengapa nama Lola tidak seperti nama makanan? Ya, mungkin asal nama Lola adalah Lolli/Lollipop. Haha. Bagian menariknya adalah jika Lola benar-benar anak Big Mom dan kenyataan bahwa Luffy cs telah menolong Lola serta Nami yang membawa Vivre Card yang tertuju pada Big Mom, mungkinkah dari sini ceritanya akan berubah? Lola sendiri berpesan jika Nami dkk mengalami masalah, mereka tinggal menemui ibunya dan bilang kalau dia baik-baik saja. Singkatnya, mereka tinggal meminta bantuan pada Big Mom. Dan bukankah saat ini mereka sedang berada dalam masalah? Lalu apakah Vivre Card ini akan menjadi jalan yang memudahkan Luffy dkk pada misi kali ini? Bisa jadi demikian. Dan bila pada akhirnya, Big Mom berbalik haluan dengan membantu Luffy sebagai ucapan terima kasih karena pernah menyelematkan anaknya. Spekulasi liarnya, Big Mom dan Luffy bersekutu. Selanjutnya mereka melawan Germa 66 untuk menyelamatkan Sanji. Kenapa seperti terlihat begitu mudah ya? Yup, pada dasarnya apapun bisa terjadi. Tapi menurut saya, hal itu tidaklah mudah seperti yang dibayangkan.
Alasan kenapa Big Mom ingin menjalani pernikahan politik dengan keluarga Vinsmoke adalah karena teknologinya. Hal ini tentu sangat menguntungkan buat Big Mom dari segi kekuatan. Rasanya sulit untuk melepas kekuatan sebesar ini hanya untuk mengucapkan terima kasih. Lola pergi tanpa persetujuan Big Mom (baca: kabur). Ini yang jadi pertanyaan saya, apakah Big Mom akan memaafkan anaknya yang kabur begitu saja? Bukankah perintah Big Mom itu mutlak. Memang, Purin pernah berkata karena ia anaknya maka ia akan baik-baik saja. Tapi lihat yang terjadi dengan Moscato. Dia dibunuh tanpa ampun bahkan tidak ada penyesalan sama sekali setelahnya. Kenyataan bahwa ayah Lola juga dicampakkan semakin menegaskan bahwa sepertinya Big Mom tidak terlalu mempedulikan hal itu. Dengan kata lain, jika ada sesuatu yang tidak menguntungkan buat Big Mom atau menentang kehendaknya maka ia akan membuangnya. Tapi disisi lain, seperti yang saya bilang diatas bahwa Big Mom menganut paham simbiosis mutualisme. Karena Luffy telah menolong Lola setidaknya Big Mom akan membalasnya. Toh dia adalah anaknya. Apalagi bila Big Mom sangat menyayangi Lola. Kecuali bila Big Mom sudah tidak menganggap Lola sebagai anaknya lagi karena dianggap tidak berbakti pada orang tua. Wkwk. Disitu menurut saya permasalahannya kenapa Vivre Card tersebut tidak cukup untuk memudahkan misi Luffy dkk kali ini.
...dan ya, semua nampak semakin rumit tapi kepingan puzzle-nya mulai tersusun sedikit demi sedikit. Setidaknya, ada empat afiliasi besar yang terlibat disini. Big Mom, Germa 66, Luffy serta Capone. Keempat pihak ini mempunyai tujuan dan motifnya sendiri-sendiri. Kita lihat saja nanti. Siapa akan melawan siapa? Siapa yang akan mengkhianati siapa?

Friday, July 22, 2016

Corat-Coret One Piece Chapter 833: Vinsmoke Judge


Bisa dibilang promosi One Piece Film Gold sedang gencar-gencarnya termasuk di WSJ Issue 34. Ya, maklum saja tanggal 23 besok OPFG akan rilis di Jepang. Untuk penonton Indonesia memang harus sedikit bersabar karena filmnya baru akan rilis september nanti. Color Spread kali ini bertema musim panas. Tampak seluruh kru SHP memakai yukata dan melihat kembang api bersama. Unsur hewan dan makanan juga masih dimunculkan. Jika pada dua Color Spread sebelumnya unsur hewan tersebut (koala dan burung flamingo) seolah merujuk pada karakter tertentu, untuk sekarang.., entahlah, lagipula Color Spread jarang memberi petunjuk untuk isi cerita.
Kemunculan ayah Sanji pada chapter lalu cukup mengejutkan banyak pihak, termasuk saya. Bukannya kenapa-kenapa, penampakan Vinsmoke Judge tidaklah seperti yang dibayangkan. Oda memang susah ditebak. Saya jadi ingat bagaimana imajinasi kita tentang ninja pun ditelanjangi oleh Oda lewat sosok Raizou. Haha. Tapi dalam kasus ini, Judge berbeda dengan Raizou yang berakhir konyol. Selain itu, Oda tampak masih main kucing-kucingan dengan pembaca. Wajah ayah Sanji belum terlihat sepenuhnya. Image alis keriting yang kental dengan keluarga Vinsmoke kadung melekat dibenak kita. Agak kurang memuaskan dahaga sebenarnya. Namun sesuatu yang masih misterius kadang lebih menarik. Saya menantikan kejutan itu, Oda!
Apa yang telah dilakukan Sanji pada Yonji berujung pada “percakapan pria” antara ayah dan anak. Yonji sendiri harus menerima kekalahan dari kakaknya. Yang unik dari sini adalah muka Yonji yang babak belur harus diobati atau lebih tepatnya diperbaiki dengan cara yang tidak lazim untuk manusia. Jika manusia biasa ketika terluka harus diobati sesuai prosedur ala dokter, yang terjadi pada Yonji adalah restorasi selayaknya kita mereparasi barang. Dipukul-pukul memakai palu, bahkan tidak cukup dengan itu. Muka Yonji dihimpit dua benda keras serupa baja sampai wajahnya kembali seperti semula. Well, Germa 66 memang terkenal dengan teknologinya yang sangat maju namun yang jadi pertanyaan adalah manusia seperti apa Yonji sebenarnya? Apakah dia robot atau cyborg seperti halnya Franky? Meski saya sendiri tidak begitu yakin Yonji adalah cyborg. Atau mungkin metode penyembuhan ala reparasi ini memang dikhususkan untuk Yonji seorang (tidak berlaku buat anggota Germa 66 yang lain) mengingat kekuatan Yonji adalah Winch Green.
Pertarungan antara ayah dan anak memang tidak bisa dihindarkan. Pertarungan ini sendiri pada dasarnya bukanlah pertarungan sesungguhnya. Dengan kata lain, saling mengalahkan bukanlah tujuan utama dari pertarungan ini. Pertarungan ini hanyalah sekedar media agar ayah dan anak ini bicara satu sama lain. Pada akhirnya mereka saling berbicara meski satu sama lain saling menghujamkan serangan. Melihat cara bertarung Vinsmoke Judge yang dijuluki sebagai Garuda semakin menegaskan bahwa Germa 66 memang mendewakan teknologi. Perlengkapan tempur, pakaian sampai senjata yang digunakan semuanya tak lepas dari teknologi. Vinsmoke Judge bisa terbang dan mengeluarkan listrik dari tombaknya juga buah dari teknologi. Tak begitu mengherankan, toh Germa 66 terkenal karena teknologinya. Judge sendiri berujar bahwa peranglah yang menyebabkan kemajuan teknologi. Apakah ini ada hubungannya dengan Germa 66 yang juga dijuluki sebagai Warmonger (pencetus perang)? Berkaitan dengan teknologi yang melekat dengan Judge memang cukup ironis bila dihubungkan dengan Sanji yang hanya bermodalkan tangan kosong. Bahkan Judge berlindung dibalik tameng anak buahnya. Padahal Sanji sendiri dianggap paling lemah diantara anggota keluarga Vinsmoke. Bagaimana bila Judge bertarung dengan tangan kosong? Apakah Sanji yang akan menang?
Saya senang dengan chapter ini karena tabir mengenai Sanji sedikit demi sedikit mulai terkuak. Sudah menjadi menjadi pertanyaan besar bagi semua orang, kenapa Sanji sebegitu bencinya pada keluarganya sampai harus melarikan diri dan memutuskan tali ikatan tersebut? Dari sini, pertanyaan sedikit demi sedikit mulai terjawab. Sebelum chapter ini muncul, banyak yang bilang bahwa Sanji adalah anak emas yang disayang ayahnya dan ini yang membuat saudaranya yang lain iri. Makanya Judge lebih memilih Sanji untuk dinikahkan dengan Purin daripada dengan saudaranya yang lain. Kenyataannya, anggapan itu salah besar. Yang ada malah sebaliknya. Baik saudara maupun ayahnya sangat tidak menginginkan keberadaan Sanji. Apakah karena arah alisnya yang beda sendiri? Ketika ketiga saudara laki-lakinya mem-bully Sanji (secara fisik dan verbal), Reiju sebagai saudara perempuan hanya menertawakan, Judge sebagai ayah membiarkannya. Bahkan ketika Sanji meminta tolong, Judge malah mengamini perbuatan ketiga anaknya dan dengan tegas berujar bahwa Sanji adalah anak tak berguna yang tak diinginkannya. Tak mengherankan bila Sanji sangat membenci keluarganya. Alasan yang cukup masuk akal sebenarnya.
Perkataan Judge sendiri terdengar cukup dilematis. Terlebih untuk Sanji. Judge mengakui bahwa ia adalah ayah Sanji dan Sanji memiliki darahnya sebagai anak. Tapi disaat bersamaan, terucap pula bahwa sampai saat ini Sanji tetaplah anak bodoh yang tak diharapkannya. Kasarnya, Sanji tak dianggapnya lagi sebagai anak. What the...? Bahkan pada saat terakhir pun Sanji masih berharap keluarganya sudah berubah barang sedikit. Faktanya, Sanji hanya sebatas alat untuk mewujudkan ambisi besar Judge yang ingin menguasai North Blue kembali. Bersekutu dengan Big Mom seolah membuka jalan tersebut selebar-lebarnya. Tapi bersekutu dengan Big Mom juga memiliki resiko tersendiri. Dan inilah yang tak diinginkan Judge. Judge sadar betul bahwa Big Mom adalah wanita yang cukup gila. Kegilaan ini tentu tak mau berimbas pada keluarganya terutama anak-anaknya. Dan ketika dia sadar bahwa diluar sana masih ada alat tak berguna yang bisa dimanfaatkan, kenapa tidak memanfaatkan alat tersebut sebagai tumbal. Dengan memanfaatkan pernikahan politik, kekuatan yang diinginkan Germa 66 tetap bisa didapat tapi kerugian pada keluarga Vinsmoke pun bisa diminimalisir.
Melihat posisi Sanji di keluarganya memang terasa memilukan. Jika keluarga sendiri saja sudah tak menginginkan kita, kemana lagi tempat yang akan kita tuju? Sedikit membahas tentang Sanji (dan ini juga jadi pembahasan dimana-mana) berkaitan dengan sosok ibu. Sosok ibu sendiri sebenarnya jarang dihadirkan sebagai latar belakang karakter pria. Namun mungkin ada pengecualian untuk kali ini. Kita tahu bahwa Sanji sangat menghormati perempuan bahkan ia tak mau bertarung dengan perempuan meski taruhannya adalah nyawa. Prinsip ini sangat dipegang teguh oleh Sanji. Bukan tidak mungkin tekad ini adalah peninggalan ibunya. Dengan kemungkinan seperti ini, diantara seluruh anggota keluarga Vinsmoke, hanya sosok ibu lah yang menyayangi Sanji sepenuhnya. Sampai pada suatu waktu, ia harus meregang nyawa karena apa yang dilakukan ibu Sanji tidak disukai ayahnya. Mungkin juga sosok ibu lah yang berhasil membuat Sanji melarikan diri dari keluarganya ini. Dengan begini, motif Sanji menjadi jelas kenapa ia sampai memiliki prinsip seteguh itu terhadap perempuan. Teori ini cukup berkembang di kalangan fans. Namun bagaimana bila kenyataannya justru bertolak belakang. Bagaimana bila sosok ibu Sanji pun tak jauh berbeda dengan keluarganya yang lain? Sanji! Malang sekali nasib mu, nak!
Pada akhirnya, Sanji tetap tak bisa berbuat apa-apa dengan gelang ditangannya. Sebuah gelang yang cara kerjanya mirip dengan kalung yang dipasangkan para bangsawan pada budaknya. Jalan keluarnya ada pada Big Mom sebagai pemegang kunci. Memang tidak mudah tapi dari sini plot besarnya mulai sedikit bermuara. Saya berpikir bahwa konfrontasi akhir arc ini adalah Luffy dengan Germa 66, tentunya untuk menyelematkan Sanji. Luffy tentu tidak akan diam. Demi menyelamatkan teman, pemerintah dunia pun dilawannya. Tak terkecuali untuk Germa 66. Saya pikir ini cukup logis, mengingat Oda sendiri yang bilang bahwa tahun ini adalah tahunnya Sanji. Apakah ini berarti Luffy tidak akan melawan Big Mom? Tidak juga. Mungkin Luffy dan Big Mom masih berkonfrontasi tetapi tidak sampai pada tahap klimaks. Yang jadi masalah adalah bagaimana Luffy dkk melawan mereka semua dengan tim kecil seperti saat ini? Tapi siapa yang tahu, kita lihat saja nanti. Btw, chapter 833 ini menjadi salah satu chapter yang tidak memuat Luffy pada panel-nya. Dimana hal ini, sangat jarang terjadi.

Saturday, June 25, 2016

Corat-Coret One Piece Chapter 830: He Who Gets Bet On


Cover Story yang sudah banyak diprediksikan akhirnya muncul juga, Sabaody Archipelago. Seperti yang kita duga, kita melihat guru sekaligus mentor Luffy selama menjalani latihan, Si Raja Kegelapan, Sang Mantan Wakil Raja Bajak Laut, Silvers Rayleigh. Tak ada Shakky disana. Karena Rayleigh tengah asyik bermain judi dengan beberapa orang yang entah siapa. Kemungkinan mereka hanyalah lawan bermain Rayleigh saja. Karena agak sulit menyebut mereka sebagai rekan sesama kru di Oro Jackson. Walaupun masih ada kemungkinan kesana tapi rasanya sangat kecil sekali. Rayleigh sudah muncul, selanjutnya Boa Hancock. Chapter depankah?
‘He Who Gets Bet On’ menjadi judul besar yang mengejawantahkan bahwa chapter ini akan berbicara banyak tentang pertaruhan. Di awal , kita sudah melihat orang-orang yang bermain judi. Bukankah itu sebuah permainan tentang pertaruhan? Lalu ada seseorang yang mempertaruhkan masa depan pada tangan seorang bocah pembuat onar? Seseorang yang juga harus mempertaruhkan hidupnya pada sebuah Roulette?
Jinbe adalah orang yang sangat mempercayai dan menghormati Luffy. Bukan karena Luffy adalah adik Ace. Tapi karena Luffy memang sosok yang dipercaya dan dihormatinya sebagai seorang pribadi selayaknya Jinbe menghormati Shirohige dan Ace. Perjuangan di Impel Down, pertempuran di Marineford sampai peristiwa di Fishman Island, sudah menjadi bukti konkret yang merekatkan ikatan kepercayaan Jinbe pada Luffy. Pesona serta tekad kuat sang pemuda yang selalu berbicara akan menjadi Raja Bajak Laut tersebut telah membuatnya luluh dan merubahnya menjadi sebuah keyakinan kuat nan bulat bagi Jinbe untuk mempertaruhkan apapun untuk Luffy. Touching!
Pertaruhan yang dilakukan Jinbe bukan tanpa alasan. Ia sangat yakin bahwa Luffy yang akan membawa perubahan bagi dunia di masa depan. Dalam hal yang bersifat lebih pribadi, Jinbe percaya jika suatu saat Luffy-lah yang akan memberi jalan kebebasan seutuhnya bagi seluruh ras manusia ikan. Seperti yang kita tahu, manusia ikan sendiri mendapat perlakuan diskriminasi yang parah di kalangan dunia atas. Dipandang rendah, dijadikan budak dan diperlakukan semena-mena. Sudah menjadi impian juga bagi seluruh ras manusia ikan agar dapat hidup di dunia atas dan berdampingan dengan manusia lainnya tanpa melibatkan isu rasisme yang berujung kebencian. Hal ini juga yang diperjuangkan Fisher Tiger dan Otohime, orang-orang yang cukup berpengaruh bagi Jinbe.
Saat masih di Fishman Island, Madam Sharly pernah membuat ramalan tentang Luffy yang akan menghancurkan Fishman Island. Ramalan itu sendiri bisa berlaku cepat atau lambat. Menurut Chaime hampir 100% ramalan Madam Sharly akurat dan berujung kenyataan berapapun jangka waktunya. Lalu apakah Luffy akan benar-benar menghancurkan Fishman Island? Untuk alasan apa Luffy menghancurkannya? Menghancurkan disini bisa diartikan secara harfiah tapi tidak berarti bahwa kehancuran ini berujung pula pada kehancuran ras manusia ikan. Justru sebaliknya, Luffy akan membebaskan dan membawa seluruh ras manusia ikan ke dunia atas. Bukankah ramalan Madam Sharly tidak pernah menyebut kehancuran ras manusia ikan? Kehancuran Fishman Island sendiri bisa dimaksudkan sebagai simbol yang menghapus sejarah kelam serta luka pulau tersebut. Hal yang hampir sama pernah dilakukan Luffy saat ia menyelamatkan Nami. Ia menghancurkan kamar pribadi yang ditempati Nami saat masih menjadi bawahan Arlong hanya untuk menghapus semua luka masa lalu yang pernah diterima Nami saat berada disana. Bahkan bukan hanya kamar Nami yang hancur, seluruh Arlong Park pun hancur ditangan Luffy. Apakah inipun akan terjadi pada Fishman Island?
Masih ingat dengan Poneglyph yang ada di Fishma Island? Poneglyph tersebut tidak hanya mengklarifikasi senjata kuno kedua, Poseidon, tapi juga tertera pemintaan maaf Joy Boy yang tak bisa memenuhi janjinya pada seorang putri duyung.  Raja Neptune sendiri tidak begitu tahu tentang janji itu, tapi kita bisa sedikit berasumsi bahwa janji Joy Boy adalah membawa Sang putri bersama seluruh orang yang tinggal di Fishman Island ke dunia atas. Namun karena satu dan lain hal, janji itu tidak bisa dipenuhi. Darisana berkembanglah ramalan Joy Boy yang menyebut bahwa suatu saat akan ada orang yang dapat memenuhi janji itu. Tak berlebihankah jika menyebut Luffy adalah orang yang akan menunaikan Janji Joy Boy sekaligus mewujudkan ramalan tersebut? Luffy juga pernah berjanji akan mengajak Shirahoshi jalan-jalan didunia atas? Mungkin nanti Luffy akan menggunakan Noah untuk mengangkut seluruh manusia ikan yang ada di Fishman Island ke dunia atas. Dengan demikian, simbol kebebasan ras manusia ikan telah tercipta seutuhnya.
Chapter kali ini membuat saya mengerti kenapa Jinbe sempat menolak ajakan Luffy. Bukan hanya Jinbe harus melepas ikatan dengan Big Mom terlebih dulu, tapi Jinbe juga harus mendapat izin serta persetujuan dari seluruh anggota Bajak Laut Matahari. Sebagai tipikal orang yang lebih mementingkan kepentingan bersama, Jinbe memang cenderung menyingkirkan egonya untuk kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingannya sendiri. Maka muncul sedikit kekhawatiran baginya jika harus meninggalkan Bajak Laut Matahari apalagi ia menjabat sebagai kapten. Tapi sikap Jinbe yang tanpa ia sadari sering menyebut nama Luffy dihadapan awak Bajak Laut Matahari sudah cukup menjadi tanda bahwa Jinbe sangat ingin bergabung dengan Luffy. Hal yang langsung diamini oleh Aladine dan seluruh kru agar Jinbe segera meluluskan keinginannya sendiri tanpa harus memikirkan tentang mereka. Mereka berjanji akan baik-baik saja, toh Jinbe sendiri sudah banyak berkorban demi kepentingan ras manusia ikan. Sudah saatnya ia memikirkan diri sendiri dan keinginannya. Secara tersirat ini adalah izin dari Bajak Laut Matahari untuk melepas kepergian Jinbe. Lihatlah betapa bahagianya Jinbe karena ini.
Pada post Prediksi Next Nakama SHP yang sempat saya buat, saya menyebut Jinbe punya kans sebesar 85% untuk bergabung dengan SHP bila dilihat dari analisa teori yang ada. Dengan hadirnya chapter ini, saya pikir kans Jinbe untuk bergabung dengan SHP semakin kuat. Setidaknya saya memberi persentase sebesar 98% Jinbe akan bergabung dengan SHP. Dengan kata lain, ada sisa 2% yang menyebabkan Jinbe tidak jadi bergabung dengan SHP. 1% adalah bagaimana nasib Jinbe ditangan Big Mom yang harus berhadapan dengan Roulette. Karena jika Jinbe mati, bagaimana ia bisa bergabung dengan SHP? Sisa 1% lagi adalah bagaimana pena Oda menggoreskan takdir untuk Jinbe kelak jika ia selamat dari Roulette. Karena Oda sendiri suka memberi twist yang tak pernah kita duga.
Berbicara mengenai Roulette yang disebut Big Mom memang terlihat lebih mirip papan dart dibandingkan Roulette. Mungkin cara kerjanya seperti ini, papan dart diputar dan Jinbe tinggal melempar anak panah “dart” pada papan tersebut. Yang menarik disini adalah simbol yang tertera pada papan tersebut. Ada angka 10, 100 dan 1000 yang entah apa maksudnya. Arthur menyebut bahwa angka tersebut adalah “lifespan” yang akan diambil Big Mom dari korbannya. Artinya, jika anak panah menuju angka 10, maka Lifespan Jinbe selama 10 tahun akan diambil oleh Big Mom. Bagaimana jika 1000? Tebak sendiri lah. Angka tersebut juga bisa berarti adalah sejumlah nyawa manusia yang punya hubungan dengan Jinbe sebagai tumbal atas kepergiannya. Tapi, entahlah. Lalu ada pula gambar tangan, kaki, kepala dan simbol wajah Big Mom (atau itu simbol raja yang mengarah pada Raja Neptune). Jika Big Mom menyebut bahwa Jinbe pun harus kehilangan sesuatu seperti halnya Big Mom yang kehilangan Jinbe, maka simbol-simbol tersebut sudah mengejawantahkan apa yang akan hilang dari Jinbe. Tidak hanya tangan atau kaki bahkan nyawa Jinbe sendiri bisa hilang. Satu-satunya titik yang aman dan bisa membuat Jinbe selamat adalah tepat ditengah namun nampak sulit dibidik karena sangat kecil. Usopp? Mana Usopp?
Kebiasaan Big Mom untuk memperkuat armada dengan pernikahan politik berlaku juga bagi Bajak Laut Matahari. Disini kita melihat Aladine yang terlihat melakukan ikatan pernikahan politik dengan putri ke-29 Big Mom, Charlotte Praline. Praline adalah setengah duyung dari golongan hiu kepala martil. Ini berarti ayah Praline berasal dari ras manusia ikan yaitu duyung. Dibeberapa kalangan fans sendiri berkembang teori bahwa anak-anak Big Mom sebenarnya adalah adopsi dari berbagai ras, yang berarti anak-anak tersebut bukanlah anak yang dilahirkan Big Mom. Ya, untuk hal ini memang harus menunggu konfirmasi lebih lanjut. Nama Praline yang diambil dari nama makanan semakin menasbihkan bahwa nama anak-anak Big Mom sangat berhubungan dengan makanan terutama makanan manis.
Kematian Muscat masih menyisakan sesuatu. Pria bernama Mont d’Or yang kemungkinan adalah anak Big Mom (karena namanya juga berasal dari makanan) tampak memberi perintah pada makhluk hitam misterius. Makhluk hitam misterius inilah yang masih belum diketahui apa berikut tugas mereka. Perintah yang diberikan Mont d’Or pada mereka juga masih belum diketahui maksudnya dengan jelas. Ya, kita harus sedikit bersabar untuk mengetahui hal ini.
Perjalanan Luffy menuju Whole Cake Island masih berlanjut. Mereka sedang terdampar di lautan Mizuame (sirup manis) yang membeku. Mereka juga berhadapan dengan semut pemangsa yang siap menerkam mereka kapanpun. Beruntung Brook membuat semut-semut tersebut tak sadarkan diri untuk sementara waktu. Bukan Mizuame atau semut pemangsa yang menjadi pembahasan disini, melainkan Pedro. Setelah beberapa chapter Pedro bermain kucing-kucingan tentang masa lalunya (bahkan sempat dianggap pengkhianat oleh beberapa fans karena tingkah lakunya yang sedikit berbeda dengan mink lain) akhirnya sedikit terjawab disini. Yang masih menganggap Pedro pengkhianat, sepertinya harus segera membuang jauh-jauh anggapan itu. Karena Pedro adalah orang kepercayaan Nekomamushi yang memiliki niat untuk membantu Luffy dkk. Adapun karakternya yang misterius sudah bawaannya sebagai mink jaguar. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana akhirnya sampai Pedro dan Pekoms berpisah (Pedro kembali ke Zou sedangkan Pekoms bergabung dengan Big Mom) sementara sebelumnya mereka berlayar bersama?
Tugas mencuri poneglyph menjadi milik Pedro, sisanya berfokus pada penyelamatan Sanji. Tugas yang memang pantas diambil oleh Pedro yang pandai dalam urusan penyusupan. Hal yang telah terbukti bahkan oleh Luffy sendiri. Terlebih Pedro akan lebih bebas jika bekerja sendirian. Hal menarik lainnya yang ditemukan disini adalah mengenai pertanyaan yang diajukan Pedro pada Luffy terkait Kaido. Apa yang akan dilakukan Luffy setelah mengalahkan Kaido. Luffy menjawab itu masih sangat lama, masih jauh. Apa ini pertanda bahwa ending One Piece pun masih sangat jauh? Hanya Oda yang tahu. Beberapa fans menyebut ini adalah isyarat akan adanya Time Skip untuk kedua kali.
Perjalanan hampir bermuara di tujuan. Sebuah pulau berbentuk kue raksasa tampak didepan mata. Itulah goal utama perjalanan ini, Whole Cake Island. Luffy melihat ada seseorang yang berdiri di pesisir. Banyak spekulasi mengenai siapa yang berdiri disana. Jika dikerucutkan, kemungkinanannya hanya ada dua, dia teman atau musuh. Tapi siapa? Pertama, kita bisa menyebut dia adalah Charlotte Purin. Sejak memberi peta perjalanan ke WCI Purin berjanji akan menemui mereka disana. Tapi yang masih menjadi misteri adalah tentang perkataannya, apakah dia berbohong atau tidak? Dia kawan atau lawan? Kedua, dia adalah Pekoms. Ketiga, dia adalah Aladine. Keempat, dia adalah anak buah Big Mom ditugaskan menghadang Luffy dkk. Kelima, dia adalah Jinbe. Kemungkinan besar dia selamat dari permainan Roulette mematikan dan datang dengan keadaan tangan atau kaki yang hilang atau lifespan yang berkurang. Keenam, dia adalah Big Mom sendiri (kemungkinannya memang sangat kecil). Terakhir, dia adalah anggota Germa 66.
Entah siapa yang sedang berdiri di pesisir pantai yang dimaksud Luffy. Apakah salah seorang dari yang saya sebut diatas? Atau justru orang lain? Apa gerangan berikutnya yang menanti Luffy dkk di depan? Bagaimana nasib Jinbe? Apakah ia akan benar-benar bergabung dengan SHP? Kita lihat saja nanti. 

Saturday, June 18, 2016

The Conjuring 2 (2016): Believe Me! Even If You Called “It” a Joke


Nama James Wan dan film horor menjadi kombinasi paling klop dalam satu dekade terakhir. Diawali dengan menukangi Saw (2004), kemudian Dead Silence (2007) sampai akhirnya menemukan kepopulerannya lewat Insidious (2011), nama James Wan sudah jadi pertaruhan paling menjanjikan ketika berbicara film horor. The Conjuring (2013) dan Insidious Chapter 2 (2013) adalah bukti nyata yang semakin mengukuhkan namanya sebagai filmmaker horor paling handal di era modern sekarang. Maka tak beralasan jika sekuel The Conjuring yang bertajuk ‘The Enfield Poltergeist’ disambut begitu hangat oleh khalayak.
The Conjuring sendiri adalah sebuah fenomena dalam genre horor di era sekarang. James Wan sukses membuat sebuah presentasi memikat dalam balutan formula horor klasik yang khas namun tetap berkelas. Hal yang sangat jarang ditemui dalam horor modern konvensional di zaman sekarang, dimana kualitas cerita berbanding lurus dengan tampilan visualnya. Tidak hanya itu, karena James Wan pun piawai memainkan rasa horor yang sanggup menakuti penontonnya lewat rangkaian jump scares yang tepat dan efektif. Tapi lebih dari itu, bagi saya pribadi, The Conjuring adalah alasan terbesar kenapa saya mau menengok kembali film-film horor supranatural. Sebuah genre yang sempat saya tinggalkan karena begitu membosankannya. Ya, kalau mau jujur, film horor supranatural konvensional (khususnya haunted house) hanya begitu-begitu saja. Dan The Conjuring mematahkan kebosanan itu.
Banyak yang bilang The Conjuring itu benar-benar menakutkan tapi sejauh yang saya ingat, saya tidak pernah benar-benar dibuat takut saat menontonnya. Well, ini hanya masalah persepsi saja, tapi harus saya akui bahwa The Conjuring punya kualitas yang mampu memberi pengalaman menonton film horor yang menyenangkan. Terlebih konklusi The Conjuring begitu masuk di logika saya ketika si arwah jahat yang merasuki tubuh manusia harus dilawan dengan jiwa dari dalam manusia itu sendiri. Hal seperti ini relatif jarang ditemui, karena mayoritas film horor kadung melekat dengan image perilaku bodoh para karakternya. Seperti saat ketakutan si karakter malah seringkali lari ke tempat yang lebih sepi dan gelap. Atau yang paling mudah, lihat saja bagaimana konklusi Annabelle (2014) yang tak kalah bodohnya.
Pada dasarnya, definisi menakutkan atau menyeramkan dari sebuah film horor itu sangatlah relatif dan subjektif. Kadar horor yang menakutkan atau menyeramkan bagi setiap orang pun berbeda-beda. Mungkin satu film bisa sangat horor buat sebagian orang, tapi kadang itu tidak berlaku buat sebagian yang lain. Alasan saya malas nonton film horor khususnya horor supranatural adalah karena saya tidak pernah benar-benar dibuat takut oleh film horor tersebut. Horor itu sendiri sebenarnya lebih kompleks daripada sekedar penampakan menakutkan, teror pembunuh sadis atau bentuk lainnya. Buat saya, horor itu lebih menitikberatkan pada masalah psikis dimana kita merasa tidak nyaman akan sesuatu yang mengganggu dengan sebab tertentu. Bentuknya beragam. Saya pribadi, jarang sekali merasakan sensasi horor saat menonton film horor bahkan oleh The Conjuring sekalipun. Bukan karena saya tak kenal takut, mungkin saya yang tidak sadar, atau mungkin saya memang tidak peduli dengan “hantu-hantu” begitu. Meski demikian, sensasi horor pernah benar-benar saya rasakan saat menonton We Need To Talk About Kevin (2011). Uniknya, film tersebut bukanlah film horor melainkan sebuah drama keluarga.
Secara umum, The Conjuring 2 masihlah sama dengan film-film horor James Wan yang kita kenal. Disana masih ada rumah berhantu. Disana masih ada keluarga yang diteror makhluk tak kasat mata. Disana masih bertebaran jump scares yang siap memberi kejutan. Disana masih ada penampakan-penampakan yang siap menghantui. Disana masih ada warna-warna kelam yang membuat gerah. Dengan kata lain, The Conjuring 2 masih sangat repetitif dengan horor James Wan yang lain. Namun bukan berarti The Conjuring 2 ini film yang jelek. Tidak sama sekali. Memang saya sendiri lebih menyukai The Conjuring dibanding sekuelnya. Namun diantara jeda waktu semenjak Insidious Chapter 2 rilis sampai sekarang, hampir tidak ada film horor supranatural konvensional yang memiliki kualitas cukup ok. Dan The Conjuring 2 masuk mengisi kekosongan itu.
Embel-embel kisah nyata masih melekat dengan The Conjuring 2 tatkala Wan meminjam peristiwa supranatural terseram yang menimpa keluarga Hodgson di London. Peristiwa yang begitu terkenal sekitar tahun 1977-1979 dan tercatat sebagai peristiwa supranatural yang paling banyak didokumentasikan hingga saat ini. Yang membuatnya menarik adalah bahwa rumah Hodgson sendiri bukanlah bangunan yang terletak sendirian ditengah hutan. Tak seperti rumah keluarga Perron di seri sebelumnya atau Amityville House yang jadi segmen pembuka, rumah Hodgson terletak dalam lingkungan yang cukup ramai dalam sebuah komplek perumahan. Dari sini, The Conjuring 2 sudah punya pembeda dibanding predesesornya.
The Conjuring 2 memberi ikatan drama yang lebih emosional pada hubungan Ed dan Lorraine sebagai pasangan suami istri. Hal yang belum sempat di-push lebih dalam dari seri sebelumnya. Beruntung, chemistry Patrick Wilson dan Vera Farmiga masih sangat ampuh sebagai pasangan. Dan disaat Patrick Wilson dan Vera Farmiga mempertontonkan chemistry apik, Madison Wolfe menjelma menjadi bintang dari The Conjuring 2. Berperan sebagai Janet yang dalam kisah aslinya menjadi anak yang paling sering mengalami kejadian gaib, Madison Wolfe berhasil memberi penampilan menawan dengan jangkauan dimensi yang luas. Mulai dari senang, sedih, tertawa, menangis, takut sampai marah sukses ia tampilkan. Penampilannya sedikit mengingatkan saya pada karakter Regan MacNeil (The Exorcist) meskipun tidak sampai seekstrim itu. Fokus yang begitu kuat terhadap karakter Janet sedikit banyak berpengaruh terhadap porsi dan relasi antarkarakter. Terutama ikatan keluarga Hodgson sendiri yang masih kalah bila dibanding ikatan keluarga Perron. 
Diawali dengan cukup menarik, The Conjuring 2 memilih menurunkan tensinya di pertengahan. Durasi yang lebih panjang dari sebelumnya terasa lama yang berujung melelahkan dan membosankan. Mungkin plotnya akan lebih padat dan berisi jika durasinya sedikit dipangkas. Hal ini pun sedikit berimbas terhadap klimaksnya yang terasa kurang menggigit. Terlebih karakter film horor James Wan sudah mudah ditebak karena terasa sangat repetitif. Untungnya, karakter hantu The Conjuring 2 itu menarik dan ikonik. Meski akhirnya Valak malah jadi bulan-bulanan netizen dalam buaian meme-meme lucu. Haha. Satu hal yang tak dipunyai The Conjuring adalah The Conjuring 2 memiliki lagu klasik populer yang begitu menyenangkan setiap kali terdengar. Seolah memberi warna ceria ditengah suasana yang suram. Sebut saja London Calling dari The Clash atau I Started a Joke dari Bee Gees. Patrick Wilson malah sempat menyumbangkan suaranya lewat lagu Can’t Help Fallin’ in Love with You. Salah satu moment manis ditengah teror Bill Wilkins.
Untuk kadar horornya saya tidak bisa berbicara banyak karena ini amatlah relatif dan subjektif. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya lebih menyukai The Conjuring dibanding sekuelnya ini. Seperti yang sudah-sudah, saya sendiri pun belum benar-benar merasakan sensasi horor yang benar-benar kuat saat menonton film ini. Mungkin ini efek menonton siang-siang di bulan ramadhan atau bagaimana, saya kurang tahu. Mungkin akan lain ceritanya jika saya menontonnya malam-malam. Ah, saya tidak tahu. Sensasi horornya mungkin tidak berada dalam taraf maksimal tapi moment mengangetkannya masih cukup bekerja. Dan ditengah sepinya horor supranatural konvensional yang mampu memberi kesenangan menonton film horor akhir-akhir ini, The Conjuring 2 muncul ke permukaan sebagai salah satu alternatif jawaban di garda paling depan.