Saturday, October 5, 2013

When You Love Movies

Film adalah salah satu karya seni yang telah berkembang menjadi sebuah industri. Hampir setiap negara memproduksi puluhan bahkan ratusan film setiap tahunnya. Tak heran kalau industri film merupakan salah satu industri hiburan terbesar didunia selain musik.
Sama seperti musik, berbicara tentang film tentu tidak akan jauh dari hollywood. Maklum. Karena saat ini, tanpa meng-under-estimate-kan pihak manapun bisa dibilang industri film hollywood-lah yang merajai industri perfilman dunia. Dengan berbagai hal, kita pasti sudah tahu alasannya kenapa.
Orang menonton film tentu dengan berbagai alasan. Ada yang hanya sekedar nyari hiburan ditengah kepenatan, ada yang cuma senang lihat aktor atau aktrisnya yang kece-kece, ada yang bingung mau ngabisin uangnya dengan cara apa, ada juga karena memang orang tsb suka nonton. Dan tentunya ada orang yang memang cinta banget sama film, butuh bahkan gak bisa hidup tanpa film.
Menonton film pun bisa dengan berbagai cara. Tak hanya di bioskop, DVD original pun bisa jadi pilihan. Bisa juga lewat download-an. Paling parah lewat DVD bajakan. Ya, karena faktor ekonomipun berperan disini. Haha.
Sama seperti mencintai hal-hal lainnya didunia ini, mencintai film pun bisa sampai pada tahap gila, addict, maniac & freak. Sampai-sampai menasbihkan diri sebagai pecinta film sejati, bahkan mungkin lebih dari itu. Master-nya lah. Dan kalau ada orang yang seperti itu, saya ingin belajar lebih banyak tentang film pada anda.
Mencintai adalah naluri manusia dan memutuskan menjadi seorang pecinta film adalah hak semua orang. Ketika kita mulai mencintai film, tentu kita akan selalu update seputar dunia film. Lihat perkembangan beritanya setiap hari, baca-baca review diberbagai situs film dan mulai mencoba me-review sendiri film yang sudah ditonton. Melihat perolehan Box Office-nya, melihat rating setiap film, melihat trailer-trailer film terbaru, hafal sutradara, produser dan daftar pemain filmnya, tahu jadwal rilis dan tayang film di bioskop, tahu studio-studio yang memproduksi film, mengoleksi film-film favorit dsb. Mereka sangat menyukai semua hal yang berhubungan dengan film baik fisik maupun non-fisik. Orang-orang seperti ini akan sangat  senang dan antusias ketika berbicara tentang film apalagi dengan tipe orang yang sama. Tapi sayangnya tidak semua orang demikian alias tak banyak orang seperti ini. Ambil contoh lingkungan kelas, tentu tak banyak orang yang mau ngobrol seluk beluk tentang film bahkan sampai berdebat soal film, paling cuma 2 atau 3 orang. Itupun kalau ada. Kalau tidak, anda harus terima kalau anda sendirian. Poor YOU, Im!
Seorang pecinta film tentu tidak akan pilih-pilih, stuck ataupun mengkotak-kotakan sebuah genre film. Dia tidak akan menganggap bahwa satu genre akan lebih baik dari genre lainnya. Karena belum tentu demikian. Banyak orang yang beranggapan bahwa film bergenre action lebih bagus dan lebih layak tonton daripada film genre drama. Oh man, please! It’s wrong. Anda salah besar kalau punya pemikiran seperti ini. Saya ambil contoh, Trilogy Transformers garapan Michael Bay. Bagi sebagian orang mungkin film itu adalah film keren. Bagaimana tidak, dengan adegan spektakulernya Transformers mampu membuat mata penonton melongo apalagi kalau lihat versi 3D-nya (terutama yang ke-3). Ya, bisa saja begitu karena secara komersilpun film ini memang cukup berhasil meraup keuntungan. Tapi hal itu bukanlah hal utama. Saya sendiri bukanlah orang yang terkesan dengan trilogy Transformers. Bukan berarti film tsb jelek, saya lebih menyukai film seperti The Tree of Life-nya Terrance Malick daripada film si Michael (Le)Bay ini. Yang sudah nonton pasti tahu alasannya kenapa.
Intinya, bahwa dalam sebuah film tidak hanya satu aspek saja yang menjadi pertimbangan, banyak aspek lainnya yang membuat film menjadi terlihat kuat. Dalam hal ini, adegan aksi, ledak-ledakan dsb tidak lantas menjadikan sebuah film terlihat bagus. Aspek-aspek seperti penokohan, dialog, naskah, plot, akting, penyutradaraan dsb juga turut memberi andil kekuatan sebuah film. Sederhananya, tidak hanya cover-nya yang bagus, isinyapun harus bagus. Tidak hanya cantik luarnya, tapi inner beauty-nya juga. Satu hal yang pasti adalah ketika kita tidak mengkotak-kotakan genre film, secara tidak langsung dan dengan sendirinya, dalam setiap genre film kita akan tahu sendiri mana film yang bagus dan tidak. Mana film yang kuat dan tidak.
Ketika kita mulai mencintai film, kita juga tidak hanya mempertimbangkan hype sebuah film untuk ditonton. Maksudnya, menonton film bukan hanya karena film tersebut sedang ramai dibicarakan. Hal-hal seperti sutradara, jajaran cast, produser, komposer dsb juga jadi bahan pertimbangan dalam menonton film.
Sutradara misalnya. Sutradara (Director) adalah orang yang bertugas mengarahkan sebuah film sesuai dengan manuskrip. Dialah orang yang bertanggung jawab atas aspek-aspek kreatif pembuatan film, baik interpretatif maupun teknis (wikipedia). Gaya penyutradaraan setiap Director berbeda-beda. Seorang pecinta film, tanpa memperhatikan genre, jajaran cast atau apapun ketika tahu film tsb di-direct sutradara favoritnya maka tanpa ragu film tsb sudah ada dalam list film yang akan ditontonnya. Dan setiap orang punya sutradara favoritnya masing-masing.
Jajaran cast + akting di film juga jadi perhatian bagi para pecinta film. Mereka akan lebih senang dengan aktor atau aktris berkualitas yang mampu memerankan sebuah karakter dan menghidupkan tokoh tsb sehingga berkesan dihati penonton dibandingkan aktor/aktris yang hanya bermodalkan tampang. Dengan sendirinyapun, kita akan tahu bagaimana aktor/aktris memerankan dan menghidupkan seorang tokoh dengan baik atau tidak. Saya ambil contoh film Before Sunrise (1995) yang menurut saya jajaran cast-nya tampil dengan kuat. Kita pasti tahu bagaimana akting Ethan Hawke dan Julie Delpy dalam memerankan tokoh Jesse dan Celine yang mampu menjalin chemistry yang sangat solid sehingga mereka terlihat benar-benar natural, bahkan tidak seperti sedang berakting. Penontonpun tak dibuat bosan dengan kehadiran mereka yang hampir merampok semua durasi film ini. Tak heran pula kalau Before Sunrise adalah salah satu film paling romantis yang pernah ada.
Ketika anda mencintai film, tentu anda tidak akan ragu untuk menonton film-film klasik alias jadul. Tak peduli film itu rilis tahun beberapa. Jangan dulu skeptis terhadap nuansa hitam-putih, oldest, klasik dsb. Adapun pada zaman itu teknologi film belum secanggih sekarang, itu bukanlah menjadi alasan karena film-film tsb mampu memberi kenikmatan menonton lewat jalan cerita, akting, dialog, naskah dll. Kecuali jika anda adalah orang yang lebih mementingkan action dan visual effect film seperti di zaman sekarang dibandingkan hal-hal tadi. Yang jelas dan yang saya tahu film-film zaman dululah yang menginspirasi film-film zaman sekarang. Selain itu, kalau kita lihat daftar film-film terbaik sepanjang masa (versi manapun), urutan teratas hampir dipastikan diisi oleh film yang rilis sebelum tahun 2000-an. Ini membuktikan bahwa film jadul lebih ngena dan berkesan dihati penonton. Agree?
Hal-hal lain tentang ‘When You Love Movies’ adalah ketika kita sedang nonton di bioskop. Ya, tak peduli bila kita harus nonton sendiri, tentunya sebisa mungkin kita sudah nangkring di kursi bioskop beberapa menit sebelum film diputar karena kita tidak mau melewatkan sedetikpun moment film yang akan kita tonton. Yang paling membuat risih adalah orang yang seenaknya datang telat dan JELAS-JELAS itu mengganggu padangan kita. Hal lain yang membuat risih ketika nonton di bioskop adalah ketika orang malah asyik-asyikan ngobrol, keras lagi (mau ngerumpi, Neng?), teriak, ketawa-ketawa gak jelas apalagi orang-orang yang SOK-SOK-an tahu tentang alur ceritanya. Belum lagi, orang-orang yang sibuk sama gadget-gadget-nya yang super ribet itu. Bisa kali ya, sebentar saja disimpan dan mari kita menonton film dengan penuh konsentrasi dan fokus pada setiap adegan yang tertera di layar yang lebar itu.
Dan, ketika anda mulai mencintai film, mungkin anda pernah mengalami hal-hal seperti diatas (setidaknya itu yang saya rasakan).

0 comments