Monday, November 30, 2015

Catatan Nonton #November’15

Catatan Nonton bulan November ini sudah memasuki edisi ke-23. Sebentar lagi, post bulanan di blog saya ini akan genap dua tahun. Tak terasa juga ternyata sudah hampir dua tahun saya membuat post berisi kumpulan review pendek dari film yang saya tonton dalam satu bulan.  Walaupun mood nonton kadang kali naik turun terutama akhir-akhir ini, tapi saya tetap mempertahankan post Catatan Nonton ini seperti biasa. Movie of the month untuk edisi ini jatuh pada ‘The Man from U.N.C.L.E.’ Dan berikut short review film yang masuk edisi Catatan Nonton bulan November 2015. Check this out!
Gambar dari sini.

Mission: Impossible – Rogue Nation (2015) (01/11/15)


Short review:
Setelah dibuat terpesona Brad Bird di ‘Ghost Protocol’, Ethan Hunt melanjutkan petualangannya ditangan Christopher McQuarrie. Memang menjadi beban tersendiri mengingat Brad Bird pernah menghentak dunia lewat adegan fenomenal Ethan Hunt memanjat gedung tertinggi dunia, Burj Khalifa ditambah pula kualitas ‘Ghost Protocol’ yang diakui. Namun bukan berarti McQuarrie tanpa amunisi. Adegan pembuka dipesawat sedikit masih kalah dengan adegan memanjat gedung, tapi ‘Rogue Nation’ punya cara tersendirinya untuk menghibur dengan berbagai adegan aksi penuh ketegangan. Semuanya dihadirkan dengan begitu intim dan efektif. Berbagai element yang sudah menjadi ciri khas ‘Mission Impossible’ sebagai salah satu franchise espionage terkenal tidak hilang. Ada pula Rebecca Ferguson yang begitu mencuri perhatian.
Skor: 4/5

The Man from U.N.C.L.E. (2015) (01/11/15)


Short review:
Tahun 2015 bisa disebut sebagai tahunnya film spionase karena begitu banyaknya film spionase yang rilis tahun ini. Salah satu diantaranya adalah ‘The Man from U.N.C.L.E.’ garapan Guy Ritchie yang merupakan serial TV populer di era 60-an. Meski tidak menawarkan formula spionase yang baru tapi ‘The Man from U.N.C.L.E.’ muncul sebagai salah satu film spionase paling menyenangkan tahun ini. Setting asli yang dipilih Ritchie sangatlah tepat. Dengannya, kita seolah dibawa rasa dejavu kenapa kita menyukai film spionase. ‘The Man from U.N.C.L.E.’ juga mempunyai cast yang mentereng, ada Henry Cavill, Armie Hammer dan Alicia Vikander (my fav). Interaksi ketiganya turut memberi sumbangsih besar yang membawa nuansa segar ‘The Man from U.N.C.L.E.’ Terlebih Napoleon Solo (Cavill) dan Illya Kuryakin (Hammer) merupakan karakter yang bertolak belakang. Ada pula Gabriella Teller (Alicia Vikander) yang manis. Lengkap lah sudah!
Skor: 4/5

Ich Seh Ich Seh / Goodnight Mommy (2014) (02/11/15)


Short review:
Film horor Austria ini begitu ramai dibicarakan dan disebut-sebut sebagai salah satu yang terseram tahun ini. ‘Ich Seh Ich Seh’ sesungguhnya tidak memunculkan satu sosok makhluk astral pun untuk menciptakan suasana horor. Bahkan sepanjang 70 % durasinya tidak ada kengerian yang nyata untuk membuat saya begidik. Suasananya begitu tenang. Namun memunculkan aura misterius yang kental bersama sesuatu yang “tidak beres” antara si ibu dan dua orang anaknya. Ketegangan dengan rasa horor yang kentara memang baru muncul disisa durasinya. Tapi pabila ditelaah lagi, rasa horor itu sendiri sudah dibangun sejak awal lewat atmosfer-nya yang creepy, dingin dan misterius itu.  Twist yang dihadirkan disini memang bukan sesuatu yang sulit ditebak. Tapi tidak lantas menjadikannya sebuah kekurangan untuk film yang juga didaftarkan pada ajang Oscar ini.
Skor: 3,75/5

Seventh Son (2014) (03/11/15)


Short review:
Salah satu film terburuk tahun ini. Entahlah tak ada satupun aspek film yang benar-benar menarik disini. Setidaknya, ‘Fantastic Four’-nya Josh Trank yang juga dianggap film gagal masih bisa saya menikmati. Berbeda dengan ‘Seventh Son’ yang dilihat dari berbagai sisipun benar-benar tak menarik sama sekali. Membosankan. Durasinya benar-benar terasa sangat melelahkan. Jikalau ada satu hal yang saya nikmati dan menjadi nilai plus buat ‘Seventh Son’ adalah kehadiran Alicia Vikander. Itupun bukan karena penampilannya. Melainkan karena sosoknya yang manis. Sebuah alasan kenapa saya mau nonton film ini.
Skor: 1,75/5

Ant-Man (2015) (07/11/15)


Short review:
‘Ant-Man’ seperti ajang perjudian berikutnya dari Marvel. Namun Marvel yang sekarang adalah Marvel yang sudah punya nama. Dengan kata lain, meski karakter yang akan dibuatkan filmnya terkesan asing tapi nama Marvel sendiri sudah menjadi jaminan bahwa filmnya akan berhasil. Setidaknya menghibur. Begitu pula yang terjadi pada ‘Ant-Man’. Bagian menarik dari ‘Ant-Man’ adalah eksplorasi dunia mikroskopis yang jarang kita temukan dalam film superhero. ‘Ant-Man’ seperti sebuah antitesis dari kebanyakan film superhero yang selalu membawa arena pertarungan pada set yang megah, tempat terbuka, tengah kota sampai luar angkasa. Lain dengan ‘Ant-Man’, kamar tidur anak kecil pun bisa jadi arena pertarungan yang seru. Namun secara keseluruhan, formula ‘Ant-Man’ masih sama dengan film-film Marvel lainnya. Bukannya apa, ada sedikit kekhawatiran jika formula yang sama ini dipakai terus-terusan, film-film Marvel dimasa depan akan berpotensi membosankan.
Skor: 3,5/5

American Ultra (2015) (10/11/15)


Short review:
Apapun filmnya, jika ada ada nama Kristen Stewart disana sudah pasti akan saya tonton. Termasuk ‘American Ultra’ yang menandai duet kedua kalinya K-Stew dengan sang Lex Luthor baru, Jesse Eisenberg, setelah sebelumnya mereka bermain bersama di ‘Adventureland’. Beruntung saya masih bisa merasakan chemistry yang kuat antara Stewart dan Eisenberg disini. Namun jika melihat plot ‘American Ultra’ secara keseluruhan, terdapat berbagai kekurangan yang terasa sangat mengganjal. Kritik orang-orang yang sempat dialamatkan pada Nima Nourizadeh selaku sutradara film ini pun sepertinya tidak salah tempat. Karena memang ada rasa seperti itu setelah menontonnya. Namun apabila mengesampingkan hal-hal mengganjal di film ini, ‘American Ultra’ sendiri sudah cukup untuk menjadi penghibur.
Skor: 3/5

0 comments