Sunday, December 14, 2014

Selamat Jalan, Bu Een!


Kamis malam kemarin, seorang teman mengirim sms ke saya dan memberi kabar bahwa Bu Een sedang dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit di Sumedang. Dalam sms tersebut dia mengajak saya beserta teman-teman yang lain untuk menjenguk Bu Een ke Sumedang. Dengan berat hati, saya menolak. Bukan tanpa alasan memang, saya juga sedang tidak sehat saat itu. Ingin rasanya mengamini ajakan teman tadi, namun apa daya kondisi sedang tidak memungkinkan. Jum’at sorenya, teman saya mengirim sms lagi dan mengabarkan kalau Bu Een telah dipanggil Yang Maha Kuasa.
Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un
Antara percaya dan tidak ketika mendengar kabar tersebut, namun saya pikir tidak ada hal yang lebih baik selain saya mengirim doa untuk almarhumah yang sempat saya kenal selama 40 hari tersebut (kurang lebih).
Saya mengenal beliau kira-kira setahun yang lalu, waktu saya sedang menjalani program KKN di Sumedang. Nah kebetulan, kelompok saya kebagian lokasi di tempat Bu Een berada. Bahkan rumah yang kita tempati waktu itu cukup dekat dengan rumah Bu Een. Jadinya tetanggaan. Dan karena tetanggaan itulah kelompok kami sering berjumpa dengan Bu Een dan mulai mengenal pribadi beliau secara perlahan.
Sebenarnya, jauh sebelum program KKN dimulai saya tidak pernah tahu tentang Bu Een, sama sekali. Sedikitpun. Siapa Bu Een? Saya juga tidak tahu. Padahal disaat bersamaan, Bu Een pernah ngasih kuliah umum gitu di kampus dan dapat penghargaan dari salah satu stasiun TV swasta yang membuat namanya menggaung dan menebar jutaan inspirasi dan semangat di tanah air. Lalu waktu itu saya kemana aja? Hingga ketika program KKN sudah mulai mendekat, saya mulai mencari tahu tentang beliau di google. Dan ternyata ada sesuatu yang berbeda ketika membaca tentang beliau atau melihat foto beliau di internet dengan bertemu dan berbincang langsung dengan beliau. Ada kesan yang lain.
Singkat saya mengenal sosok Bu Een, beliau itu merupakan pribadi yang hangat. Pribadi lembut khas wanita yang religius dan berpegang teguh pada agamanya. Berjiwa dan berhati besar, penuh semangat, pantang menyerah, tak mudah putus asa, tak pernah mengeluh walaupun dengan kondisi yang tidak baik. Senantiasa bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Tanpa sedikitpun berburuk sangka dengan takdir-Nya.
Sebagai seorang guru, sosok Bu Een buat saya adalah tipikal ideal dari seorang guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa. Jiwa yang dalam hatinya menyadari bahwa guru adalah profesi mengabdi bukan profesi mencari rezeki. Jiwa dengan segenap hatinya yang tulus memberikan ilmu yang dimiliki kepada murid-muridnya tanpa pernah mengharapkan imbalan apapun. Terlebih beliau juga tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Nah ini yang suka dilupakan sama guru-guru zaman sekarang. Mendidik. Guru memang dituntut tidak hanya harus bisa mengajar tapi juga harus pandai mendidik. Dan ternyata mendidik anak itu memang bukan pekerjaan mudah. Dan kalau saya boleh berpendapat, mendidik itu justru lebih sulit daripada mengajar.
Secara fisik, Bu Een mungkin kurang ideal untuk jadi seorang guru. Tapi beliau punya semangat, tekad dan niat yang kuat untuk jadi seorang guru, yang memang telah menjadi cita-cita beliau sejak kecil. Tanpa mengenal lelah, sekuat yang beliau mampu memberi pendidikan buat anak-anak disekitarnya. Bahkan Bu Een sampai bela-belain belajar materi pelajaran lagi, supaya bisa memberi pengajaran kepada anak-anak yang bertanya kepada beliau. Tujuannya sederhana, agar anak-anak bisa.
Satu hal lagi yang melekat dari sosok Bu Een adalah kasih sayangnya. Buat Bu Een kasih sayang itu penting dalam pendidikan. Itu juga jadi hal paling mendasar yang harus dimiliki seorang guru. Satu kalimat yang terngiang-ngiang sampai sekarang ditelinga saya adalah perkataan beliau, bahwa pendidikan itu harus berbasis kasih sayang. Kenapa tidak katanya kalau kurikulum pendidikan kita berbasis kasih sayang. Nah Pak Kemendikbud, kalau masih bingung nentuin kurikulum 2006 atau 2013, kenapa tidak dicoba saja saran Bu Een untuk menggunakan kurikulum berbasis kasih sayang dalam pendidikan di Indonesia. Hehe.  
Mungkin rentang waktu 40 hari (kurang lebih) mengenal beliau bukanlah waktu yang lama untuk benar-benar secara deskriptif menjelaskan kebaikan-kebaikan beliau. Tapi kesempatan mengenal yang sebentar itulah justru yang terasa berharga. Seperti menampar sisi diri saya yang masih kurang bersyukur dengan apa yang telah dikasih Tuhan. Yang masih suka suka malas-malasan padahal kondisi fisik baik-baik saja. Yang bisanya cuma bicara, tanpa pernah ada tindakan nyata yang benar-benar bermanfaat buat sekitar.
Tapi lihat Bu Een, apa yang telah diperbuatnya selama ini? Ditengah kondisinya yang tidak seperti kita-kita yang sehat wal’afiat ini. Beliau justru mampu berbuat lebih banyak dari kita. Lebih dari sekedar lebih. Mungkin pernah mendengar salah satu istilah bunyinya seperti ini, bahwa salah satu ciri manusia yang baik adalah ia mampu bermanfaat untuk sekitarnya. Dan Bu Een adalah salah satu contoh diantaranya.
Saat ini, mungkin jasad beliau telah tiada. Dan tak bisa kita sapa lagi secara langsung lewat ucapan "Assalamu’alaikum!" Tapi namanya, semangatnya, jasanya takkan pernah terlupakan. Apa yang telah diperjuangkannya selama ini. Petuah-petuah bijak khas seorang guru yang selalu terurai lembut dari beliau kala berbincang dengannya. Semoga memberi aura-aura positif untuk semua orang. Senantiasa memberi inspirasi untuk seluruh guru di Indonesia.
Selamat jalan, Bu Een!


P.S. Beberapa potret yang sempat terdokumentasikan ketika saya sedang menjalani program KKN bersama teman-teman setahun yang lalu.

Ini kunjungan pertama kita ke kediaman Bu Een, tepatnya di kamarnya. Sebuah ruangan yang tidak begitu luas sebenarnya, tapi disinilah semangat dan inspirasi dari sosok yang terbaring lemah ini berasal.

Beberapa anak yang sering main sekaligus belajar ke tempat Bu Een. Sedang berfoto ria bersama kakak-kakak mahasiswa didepan rumah Bu Een.


 
Percaya atau tidak, bersamaan dengan gambar ini, ada mata kamera yang meliput kegiatan mengobrol kita dengan Bu Een disini. Dan memang adegan ini beneran muncul di salah satu TV nasional (saya lupa nama acaranya). Walaupun sebenarnya, kemunculannya sendiri tidak lebih dari 30 detik. LOL.
  
Anak-anak didik Bu Een sedang mempersembahkan lagu di pembukaan acara peletakkan batu pertama renovasi kamar belajar dan pembangunan rumah pintar Bu Een.

Acara peletakan batu pertama renovasi kamar belajar dan pembangunan rumah pintar Bu Een yang dinamai Al Barokah ini, turut dihadiri Ustadz Yusuf Mansyur (yang pake peci, pegang mic) sebelahnya ada Retno Pinasti (News Anchor Liputan6) yang juga meliput acara tersebut.

0 comments