Friday, October 28, 2016

Corat-Coret One Piece Chapter 844: Luffy vs Sanji


“Kembalilah, Sanji! Tanpamu, AKU TAKKAN PERNAH BISA JADI RAJA BAJAK LAUT!!!”
- Luffy -
Seperti yang diperkirakan sebelumnya, pertarungan Luffy dan Sanji benar-benar terjadi. Ini menambah daftar panjang anggota SHP yang bertarung dengan sang kapten. Sebelumnya, sudah ada Zoro, Usopp dan Franky. Meski begitu, pertarungan Luffy dan Sanji kali ini berbeda dengan yang lainnya. Alasannya berbeda. Jalannya pertarungan pun berbeda. Skenario terburuk tentang kekalahan Luffy pun benar-benar terjadi. Tapi dalam pertarungan ini, menang dan kalah tak berarti apa-apa. Duel ini bukan tentang siapa yang menang atau kalah. Bukan tentang siapa yang paling banyak terluka karena saling serang. Duel ini tentang begitu kuatnya ikatan sebuah persahabatan. Kuatnya ikatan yang terjalin setelah sekian lama berpetualang bersama. Sebuah ikatan kepercayaan.
Di satu pihak, Sanji sudah tak tahu lagi bagaimana caranya menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi. Ya, salah satu anggota paling tenang ini tengah jatuh dalam jurang keputusasaan. Di lain pihak, Luffy tahu bahwa apa yang dilakukan Sanji bukan benar-benar berasal dari hatinya. Baik kata maupun tendangan yang ia lancarkan, semata-mata bukan karena kehendak lubuk hatinya. Luffy mungkin menderita luka fisik yang cukup akibat pertarungan, bahkan giginya patah. Tapi Sanji, menderita luka hati yang begitu dalam karenanya. Pertarungan ini amatlah bias. Yang dibutuhkan mereka saat ini hanya saling bicara. Luffy butuh Sanji berkata jujur sejujur-jujurnya. Tapi mustahil pula bagi Sanji. Sulit bagi Sanji untuk meminta tolong agar diselamatkan seperti halnya Nami. Sulit pula berkata ingin kembali mengarungi lautan bersama-sama lagi seperti halnya Robin. Keduanya saling memahami, hanya sedang tak berada dalam kondisi tepat untuk berbicara jujur satu sama lain. 
Di chapter 843 minggu lalu, saya sempat berujar bahwa Nami cukup mengerti dengan situasi dan kondisi Sanji saat ini. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Luffy lah yang paling paham dan mengerti situasi dan kondisi saat ini. Luffy memang bodoh, tapi pada situasi tertentu, ia bisa menjadi orang yang paling paham akar sebuah permasalahan. Beruntung kali ini, ia menunjukkan kedewasaannya sebagai seorang kapten, sebagai seorang teman yang mempercayai sahabatnya. Sedangkan Nami, ya, selayaknya wanita, Nami terbawa suasana dan tak sanggup menahan kekecewaan mendalam atas apa yang dilakukan Sanji. Cukup masuk akal, mengingat Sanji begitu brutal menghajar Luffy tanpa sedikitpun belas dan ragu. Seolah apa yang telah terjadi selama ini hanyalah semilir angin yang berlalu. Siapapun tak akan rela, kapten nya dihajar habis-habisan seperti itu. Belum lagi kata-kata kasar nan merendahkan yang dilontarkan sebelumnya. Sanji telah membuat hati seorang wanita terluka. Tamparan selamat tinggal sudah cukup mengejawantahkan perasaan Nami. Hati Nami sudah tertutup untuk Sanji. Lihat! Bahkan Sanji tak kuasa menatap mata Nami. Artinya, Sanji paham bahwa Nami benar-benar serius melakukannya. Jika bukan karena Luffy yang bersikeras, mungkin Nami benar-benar sudah tak mau Sanji ada di kru lagi.
Dan seperti yang kita lihat, Sanji melanjutkan perjalanannya menuju istana, berusaha menghiraukan sahabatnya di belakang. Sementara Luffy bersikukuh tetap menunggu Sanji kembali. Nami hanya bisa meratap sedih, tak bisa berbuat apa-apa atas semua yang terjadi. Ini memang menyakitkan. Tapi setidaknya kita tahu, bahwa Sanji masihlah Sanji. Hatinya masih tersentuh mendengar semua kata-kata Luffy. Dengan kata lain, tak sedikitpun Sanji menghilangkan mereka dari hatinya. Sekasar-kasarnya sikap Sanji, tak sepatah katapun ia ucapkan tentang meninggalkan kru. Ingatan-ingatan tentang mereka masih hinggap di kepala Sanji. Bahkan Sanji meneteskan air mata saat pergi meninggalkan Luffy dan Nami.
Sejatinya, tak banyak yang bisa dibahas dari chapter ini, karena secara umum memang tidak menyajikan banyak informasi yang berbuah teori atau spekulasi bagi fans. Meski begitu, chapter ini sukses membuat speechless. Sukses membuat beberapa kali menahan nafas. Terdiam. Rasanya semua emosi bercampur aduk jadi satu. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan rasa itu masih terjaga, bahkan setelah selesai membaca. Saya tak mau memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya masih mau menikmati setiap moment emosional di chapter ini.
Touching!

0 comments