Thursday, April 9, 2015

Anime Review: Tokyo Ghoul (2014)


Dan akhirnya.., saya jadi keterusan mereview anime. Btw, sudah sekitar 8 (delapan) buah anime yang sudah saya review di blog ini (bisa dicek ada apa saja). Pokoknya setiap bulan pasti ada dua anime yang saya review (terhitung sejak bulan Desember 2014). Dan yang kebagian jatah direview kali ini adalah ‘Tokyo Ghoul’, yang memang cukup ramai juga dibicarakan tahun lalu. ‘Tokyo Ghoul’ sendiri merupakan manga yang ditulis Sui Ishida dan telah mempunyai 14 (empat belas) volume antara periode September 2011 sampai September 2014. Season pertama animenya telah tayang pada 3 Juli 2014 dengan jumlah 12 episode. Season keduanya juga sudah tayang dan berakhir pada 26 Maret lalu.
‘Tokyo Ghoul’ mengisahkan tentang Tokyo yang didominasi dua makhluk, yakni manusia dan ghoul. Dilihat dari segi fisik, manusia dan ghoul tidak ada bedanya. Walaupun begitu, ghoul ternyata bukanlah makhluk yang bersahabat bagi manusia. Bahkan dianggap berbahaya karena makanan ghoul adalah daging manusia. Maka tak heran bila manusia dan ghoul saling bermusuhan dan saling menghancurkan satu sama lain. Seorang mahasiswa bernama Kaneki Ken terkena sial karena harus berhadapan dengan maut. Perkenalannya dengan seorang wanita bernama Rize menjadi titik awal perubahan hidupnya.
Secara cerita, ‘Tokyo Ghoul’ tidak menawarkan sesuatu yang baru buat saya. Seorang pria kikuk nan polos yang tak tahu apa-apa, harus dihadapkan pada kenyataan yang tak pernah ia kira sebelumnya. Mengharuskannya menjadi makhluk diantara dua dunia, yakni manusia dan ghoul. Menurut pengalaman yang sudah-sudah, biasanya kita tinggal menunggu waktu saja sampai pada saatnya dia akan menjadi hero kuat yang bertujuan melindungi orang-orang yang harus dilindunginya. Jelas, template cerita seperti itu bukanlah formula baru dalam dunia anime.
Namun dalam perjalanannya, ‘Tokyo Ghoul’ memberi pendekatan yang sedikit berbeda dengan template usang tersebut. Saya cukup karena senang karena hal itu. Terlebih karena karakter Kaneki tidak terlalu cepat menjadi seorang heroine. Bisa dibilang bahwa season pertama ‘Tokyo Ghoul’ adalah tentang dilema dan konfrontasi dalam diri Kaneki. Sedari awal kita memang sudah diperlihatkan hal itu. Secara sadar, ia tak bisa menerima fakta bahwa dirinya adalah seorang ghoul yang mengkonsumsi daging manusia sebagai makanan. Namun disisi lain, ada sosok Rize dalam dirinya yang selalu kelaparan dan membuatnya menderita. Sisi manusia dan ghoulnya saling bertarung dalam diri Kaneki. Konflik seperti ini justru terasa lebih menyenangkan buat saya, daripada melihat Kaneki menjadi sosok yang kuat dan mengalahkan musuh-musuhnya. Perjalanan dilematis sang karakter utama itulah yang membuat ‘Tokyo Ghoul’ tidak jatuh menjadi tontonan membosankan.


Ditengah kegalauan seorang Kaneki, ada sosok perempuan yang cukup mencuri perhatian. Dia adalah Touka Kirishima. Sosoknya sedikit mengingatkan saya pada Misaki Mei di ‘Another’ dan Mikasa Ackerman di ‘Attack on Titan’. Seorang karakter perempuan kuat, dingin dan misterius tapi juga menyimpan kerapuhannya sebagai seorang perempuan. Dalam dunia anime, saya memang selalu suka dengan tipikal karakter perempuan seperti itu.
Sebagai anime bergenre action, ‘Tokyo Ghoul’ sanggup menunjukkan gen action-nya dengan rasa yang cukup kuat. Buat saya, adegan aksi dan pertarungan yang terjadi disini lumayan asyik dan enak dinikmati. Bahkan ‘Tokyo Ghoul’ mampu menawarkan sesuatu yang berbeda dengan efek gambar negatif yang dihadirkan dibeberapa pertarungan. Entah dimaksudkan untuk menutupi bagian-bagian sadisnya atau bukan tapi saya sangat menyukainya. Pun begitu, ketika jiwa Rize dalam diri Kaneki hadir bersama visual abstrak yang ok.
Mungkin sudah menjadi kebiasaan jika anime-anime zaman sekarang tak malu mengumbar adegan sadis. Tak terkecuali buat ‘Tokyo Ghoul’ yang juga menjadikan gore dan darah sebagai salah satu jualannya. Bahkan ada praktik kanibalisme didalam ‘Tokyo Ghoul’ yang terbilang jarang dilakukan oleh anime lain. Meski dibeberapa bagian hanya tampil secara implisit, tapi tetap saja hal itu memicu imajinasi liar bagi penonton. Episode dimana Kaneki ditawan kemudian dijadikan objek psikopatnya seorang “Jason” terasa begitu mengerikan. Adegan-adegan pada saat itu merupakan cerminan perilaku seorang psikopat akut. Adegan-adegan penuh pesakitan beriringan bersama dentingan piano yang menghantui.
Selain kebiasaan mengumbar adegan sadis, salah satu kebiasaan anime yang lain adalah kita selalu dihadapkan pada keadaan/kondisi yang sudah seperti itu. Misalkan dalam kasus ‘Tokyo Ghoul’ ini, kita sebagai penonton juga dipaksa untuk menerima keadaan/kondisi bahwa Tokyo memang sudah dihuni manusia dan ghoul. Tidak ada latar belakang atau penjelasan kenapa mahkluk bernama ghoul itu bisa berada dibumi. Harapannya kita sebagai penonton memang diberi sedikit penjelasan mengenai hal itu, namun terkadang kita tidak menemukannya. Atau memang sebaiknya kita sudah harus memakluminya sedari awal?
Masih banyak hal yang belum diungkap di season pertamanya ini. Kehadiran beberapa karakter yang ada juga masih menyisakan misteri (seperti kelompok yang menamai dirinya Aogiri). Secara keseluruhan, ‘Tokyo Ghoul’ memang tidak sampai pada tahap yang bagus sekali. Atau dengan kata lain masih berada dalam level standar (baca: lumayan). Namun dengan teknik presentasi yang cepat dan alur penuh pertanyaan yang belum dijawab, membuat 'Tokyo Ghoul' tetap terlihat menarik untuk diikuti. Apalalagi muatan adegan action-nya yang ok. Dan sebuah ending penuh kejutan yang menggantung telah disiapkan guna menggiring penonton untuk menyaksikan kembali season keduanya.
Skor: 8.0/10

0 comments