Wednesday, February 4, 2015

Kapan Wisuda?

    Dan entah kenapa mahasiswa tingkat akhir yang sudah kadaluarsa, abal-abal pula menjadi sensitif banget sama semua hal. Bawaannya sensi melulu seperti perempuan yang lagi PMS (tahu apa saya soal ini). Bahkan tingkat sensitifitasnya semakin tinggi dan naik drastis tatkala dikasih sebuah pertanyaan sederhana, jumlahnya 2 (dua) kata saja: KAPAN WISUDA?
Well, pertanyaan sesederhana itu, 2 (dua) kata pula, menjadi berat sekali untuk dijawab. Beban sekali bawaannya. Alih-alih menjawab, ditanya KAPAN WISUDA? justru membuat mahasiswa tingkat akhir yang sudah kadaluarsa, abal-abal pula menjadi sakit sekali rasanya. Dan lebih nyeseknya lagi, pertanyaan itu tidak hanya ditujukan oleh satu orang, melainkan semua orang. Seperti orang-orang telah berkonspirasi untuk mengajukan pertanyaan yang sama pada mahasiswa tingkat akhir yang sudah kadaluarsa, abal-abal pula tatkala bertemu dengannya. Mulai dari keluarga (ayah, ibu, kakak, ade, nenek, paman, bibi), saudara, kerabat dekat, kerabat jauh, tetangga A-Z, rekan A-Z, teman (dari SD, SMP, SMA sampai kuliah), ibu kost sampai tukang parkir minimarket nanya: KAPAN WISUDA?
Tak bisa dipungkiri memang ditanya: KAPAN WISUDA? bikin hati sakit sekali. Rasanya ingin bilang ke semua orang yang nanya buat ngambil pisau terus teriak sambil megang dada, “Tusuk aja nih! Tusuk!” Kalau kata Kemal Palevi, sakitnya ditanya KAPAN WISUDA? itu sudah kayak nembak cewek, tapi ditolak melulu. Eh, ternyata dia udah jadian sama sahabat sendiri. Oh man, sakitnya tuh disini!
Terus-terusan dijejali pertanyaan yang sama seolah membuat hidup tak tenang. Di kosan gak tenang, di kampus gak tenang, di rumahpun gak tenang. Bahkan ikut nimbrung didunia mayapun sama, gak tenang. Menengok foto-foto teman-teman pakai toga dengan begitu sumringahnya. Semakin nyesek rasanya hidup di dunia ini. Ternyata hidup itu kejam, bro!
Namun sesungguhnya, kalau kita tarik sedikit perspektif lain, tingkat sakit hati ditanya KAPAN WISUDA? itu nggak ada apa-apanya. Karena masih banyak pertanyaan “KAPAN LAIN” yang level sakitnya semakin sadis. Misalkan nanti sudah wisuda, itu juga tidak akan membuat hidup menjadi tenang. Karena ada pertanyaan “KAPAN LAIN” yang membuat sakit sampai ubun-ubun: KAPAN KERJA? Sesudah kerja dan dapat pekerjaan yang nyamanpun tidak lantas membuat hidup menjadi lebih tenang. Karena masih ada pertanyaan “KAPAN LAIN” lagi yang menunggu: KAPAN KAWIN/NIKAH? Sesudah itupun pertanyaan masih tak berhenti dan tak kalah menyakitkan: KAPAN PUNYA ANAK? Tapi tenang saja, nggak bakalan ada koq yang nanya: KAPAN MATI? LOL
Intinya, ditanya KAPAN WISUDA? itu bukanlah masalah yang berarti. Hidup memang kejam, tapi ini bukanlah akhir dunia. Kalau ditanya KAPAN WISUDA? saja sudah jatuh, bagaimana nanti kalau dicecar pertanyaan “KAPAN LAIN” yang levelnya sudah masuk level gore fisik dan psikis tingkat tinggi?
Bukankah setiap orang selalu punya kesempatan dan bisa mulai dari awal lagi? Jadi kenapa tidak untuk mulai berdamai dengan pertanyaan KAPAN WISUDA? Balikan lagi sama skripsi yang sudah dicampakan. Baikan lagi sama M.Word yang sudah terlupakan sama film, anime, game dan lainnya. Tak perlu harus selalu sempurna, mulai saja dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil dan mulai saat ini. Seperti kata AA GYM.
Jadi, KAPAN WISUDA, im?
___@##%**&#()@*$@^^##*__


0 comments